Tank Tempur Utama AMX-30: Konsep Mengutamakan Kelincahan Diatas Faktor Perlindungan Ala Prancis
AMX-30 adalah tank tempur utama yang dirancang oleh Ateliers de construction d’Issy-les-Moulineaux (disingkat AMX, kini GIAT) dan pertama kali dikirimkan ke Angkatan Darat Prancis pada bulan Agustus 1965. Lima tank pertama digunakan oleh Régiment de Chars ke-501 de Combat (Resimen Tank) pada bulan Agustus tahun itu. Versi produksi AMX-30B memiliki berat 36 metrik ton (40 short ton), dan dirancang dengan mengorbankan kemampuan proteksi untuk meningkatkan mobilitas. Prancis percaya bahwa menambahkan terlalu banyak lapisan baja untuk proteksi dari ancaman senjata anti-tank terbaru, pada akhirnya akan mengurangi kemampuan manuver tank. Perlindungan, sebaliknya, diberikan oleh kecepatan dan dimensi yang kompak kendaraan, termasuk ketinggiannya yang hanya 2,28 meter. Tank ini memiliki meriam kaliber 105 mm, yang menembakkan hulu ledak anti-tank berdaya ledak tinggi yang kemudian dikenal sebagai Obus G. Obus G menggunakan selongsong luar, yang dipisahkan dari selongsong utamanya oleh bantalan bola, untuk memungkinkan peluru distabilkan oleh meriam dengan tanpa mempengaruhi akurasi hulu ledak di dalamnya. AMX-30 ditenagai oleh mesin diesel berkekuatan 720 tenaga kuda (540 kW) HS-110, sayangnya sistem transmisi yang bermasalah kemudian mempengaruhi kinerja tank secara keseluruhan. Pada tahun 1979, karena masalah yang disebabkan oleh sistem transmisi, Angkatan Darat Prancis mulai memodernisasi armada tanknya ke standar AMX-30B2, yang mencakup pemakaian sistem transmisi baru, mesin yang kemampuannya ditingkatkan, dan diperkenalkannya munisi penembus baja OFL 105 F1 berenergi kinetik dengan sirip penstabil baru.

AMX-30 dibuat ke dalam sejumlah varian, termasuk kendaraan pemulihan lapis baja AMX-30D, sistem senjata anti-pesawat AMX-30R, pemasang jembatan, peluncur rudal nuklir taktis Pluton, dan peluncur rudal permukaan-ke- udara. Desain AMX-30 didahului oleh dua desain tank medium Prancis pasca-perang. Yang pertama, ARL 44, adalah tank sementara. Penggantinya, AMX 50, dibatalkan pada pertengahan tahun 1950-an demi mengadopsi tank M47 Patton buatan Amerika. Pada tahun 1956, pemerintah Prancis mengadakan program pengembangan kerjasama dengan Jerman Barat dan Italia dalam upaya merancang sebuah tank standar. Meskipun ketiga negara ini menyetujui serangkaian karakteristik khusus yang harus dimiliki tank baru buatan mereka, dan Prancis serta Jerman mulai mengerjakan prototipe khusus dengan tujuan mengujinya dan menggabungkan yang terbaik dari desain keduanya, program tersebut gagal karena Jerman memutuskan untuk tidak mengadopsi meriam tank baru kaliber 105-milimeter (4,1 in) buatan Prancis dan Prancis sendiri menyatakan bahwa mereka akan menunda produksi tank hingga tahun 1965. Akibatnya, kedua negara memutuskan untuk mengadopsi tank berdasarkan prototipe mereka sendiri. Tank Jerman kemudian dikenal sebagai Leopard 1, sedangkan prototipe Prancis menjadi AMX-30. Pada awal tahun 1969, AMX-30 dan variannya dipesan oleh Yunani, yang segera diikuti oleh Spanyol. Di tahun-tahun mendatang, AMX-30 akan diekspor ke Arab Saudi, Venezuela, Qatar, Uni Emirat Arab, Siprus, dan Chili. Hingga akhir produksinya, 3.571 unit AMX-30 dan variannya telah diproduksi. Baik Spanyol dan Venezuela kemudian memulai program modernisasi ekstensif untuk memperpanjang umur AMX-30 mereka dan meng-upgrade tank mereka ke standar yang lebih modern. Dalam Perang Teluk 1991, AMX-30 dikerahkan oleh tentara Prancis dan Qatar. AMX-30 Qatar diketahui beraksi melawan pasukan Irak di Pertempuran Khafji. Kini Prancis dan sebagian besar negara lain telah mengganti AMX-30 mereka dengan tank yang lebih mutakhir pada akhir abad ke-20.
LATAR BELAKANG
Meskipun pendudukan Prancis oleh Jerman selama Perang Dunia II untuk sementara mengganggu pengembangan kendaraan tempur lapis baja Prancis, penelitian rahasia telah memungkinkan Prancis untuk segera memulihkan ketertinggalan setelah pembebasannya pada pertengahan tahun 1944. Selama pendudukan, Prancis diam-diam mengerjakan program pembuatan tank, yang pada tahun 1944, diambil alih oleh bengkel negara Atelier de Construction de Rueil (ARL), yang menghasilkan desain dan produksi tank ARL 44. ARL 44 mulai diproduksi pada tahun 1946. Tank ini ditenagai oleh mesin Maybach HL-230 berkekuatan 575 tenaga kuda (429 kW), dan dipersenjatai dengan meriam tank kaliber 90 milimeter (3,5 in). Meskipun bobot kendaraan sebesar 48-metrik-ton (53-short-ton) sebanding dengan tank tempur kontemporer dalam hal daya tembak dan tenaga mesinnya, ia menderita masalah yang berbeda, termasuk desain penggeraknya yang kuno. Akibatnya dari 600 unit yang direncanakan, hanya 60 yang akhirnya benar-benar diproduksi pada tahun 1950. Tahun itu juga, tank ini digunakan oleh Resimen Tank ke-503 Angkatan Darat Prancis. Mengingat bahwa ARL 44 dianggap hanya sebagai kendaraan stop-gap untuk pasukan lapis baja Angkatan Darat Prancis sejak awal, pengerjaan tank baru telah dimulai pada awal bulan Maret 1945. Pengembangan tank baru ditawarkan kepada lima produsen terpisah, yakni: Atelier de Construction d’Issy-les-Moulineaux (AMX), Forges et Chantiers de la Méditerranée (FCM), Renault, Societe Lorraine de Dietrich (SLD-Lorraine) dan Societé d ‘Outillage Mécanique et d’Usinage d’Artillerie (SOMUA). Kendaraan baru didasarkan pada spesifikasi tank tempur baru pasca-perang. Kendaraan baru tersebut diberi nama AMX 50. Lambung dan suspensinya mirip dengan tank Panther asal Jerman, yang telah digunakan oleh Angkatan Darat Prancis segera setelah perang. Spesifikasi pemerintah Prancis untuk tank baru sangat dipengaruhi oleh tank Panther dan Tiger I yang lebih berat; dimana secara khusus, Angkatan Darat Prancis sedang mencari tank dengan menempatkan faktor perlindungan menjadi yang utama dibandingkan dengan daya tembak.


Meskipun desainnya diambil dari tank Jerman, termasuk pemakaian mesin Maybach berkekuatan 1,000 tenaga kuda (750 kW), dan torsion bar sprung road wheels berdasarkan model sebelumnya, AMX 50 juga menyertakan sejumlah fitur unik. Misalnya, tank ini menampilkan turret berosilasi, dipasang pada trunnion, yang merupakan yang pertama dari jenisnya. Turret berosilasi terdiri dari dua bagian, salah satunya dipasang pada trunnion bagian bawah, melekat pada cincin turret. Meriam utama dipasang di bagian atas, memfasilitasi elevasi dan depresi dari meriam, serta menyederhanakan peralatan pengendalian penembakan dan pemasangan sistem pemuatan munisi secara otomatis. Dari ketiga kontraktor tersebut, Renault kemudian menarik diri dari program tersebut, sementara pada awal tahun 1946 pemerintah Prancis memilih AMX dan SOMUA untuk melanjutkan pengembangan tank ini. Prototipe ini lalu diberi nama M4, dan AMX menyelesaikan prototipe-nya pada tahun 1949, sementara SOMUA tidak akan menyelesaikannya sampai tahun 1956. Prototipe pertama AMX dipersenjatai dengan meriam kaliber 90 milimeter (3,5 in), sementara prototipe kedua dilengkapi dengan meriam kaliber 100 milimeter (3,9 in) yang lebih besar pada bulan Juli 1950. Meskipun AMX 50 awalnya akan diproduksi sebagai tank medium standar di negara-negara Eropa Barat, tetapi karena alasan finansial dan datangnya bantuan militer dari Amerika Serikat berupa 856 tank M47 Patton telah menyebabkan program awal tank ini terbengkalai. Pada tahun 1951 lalu diputuskan untuk mengubah program tersebut menjadi proyek tank berat dengan meriam kaliber 120 milimeter (4,7 in) yang lebih besar. Walau tiga prototipe sempat dibangun, program ini akhirnya ditinggalkan juga pada tahun 1956, terutama karena kegagalan untuk merancang mesin yang cukup kuat.


Dengan berakhirnya program AMX 50 bermeriam kaliber 100-milimeter (3,9 in) pada tahun 1951, Prancis untuk sementara secara resmi mengabaikan pemikiran untuk memproduksi tank medium. Lagi pula disaat yang sama diperkirakan bahwa Jerman Barat akan segera diizinkan untuk mempersenjatai dirinya kembali, dan Jerman tampaknya ingin melengkapi pasukan mereka dengan sejumlah tank ringan, tetapi bersenjata yang relatif kuat, dimana kuantitasnya diharapkan mampu mengimbangi kelemahan lainnya, sehingga bisa menghadapi tank medium terbaru. Prospek pengiriman ribuan tank jenis ini ke Jerman, kemudian mendorong Prancis untuk mengadopsi ide dan rencana untuk membuat divisi lapis baja tank ringan “Tipe 67“, dimana AMX-13/105 dirancang secara khusus untuk memenuhi kebutuhan ini. Sebuah perusahaan swasta kemudian membuat desain baru sedikit lebih besar, yang ditujukan untuk memenuhi persyaratan yang sama yang diberi nama Batignolles-Châtillon Char 25T. Prototipe tank menengah ini, dibuat pada tahun 1955, membuktikan bahwa adalah mungkin untuk memproduksi tank dengan meriam berkemampuan tinggi dan dilindungi dari depan dengan baja setara ketebalan 80 milimeter (3,1 in) sembari tetap memenuhi batasan berat 30 metrik ton ( 33 short ton). Hal ini kemudian menghidupkan kembali minat pada konsep tank medium. Pada tahun 1956, kelompok kerja pertahanan WEU FINBEL (dinamai menurut kepanjangan dari Perancis, Italia, Belanda, Belgia dan Luksemburg), didirikan pada tahun 1953 dan terdiri dari perwakilan dari berbagai Staf Umum, merancang satu set spesifikasi untuk tank medium baru untuk nantinya mengganti tank buatan Amerika dan Inggris yang dimiliki mereka. Pada tahun yang sama, Jerman bergabung dengan kelompok kerja ini, sehingga mengubahnya menjadi FINABEL (tambahan “A” adalah singkatan dari Allemagne, atau “Jerman” dalam bahasa Prancis) dan pada tanggal 27 Oktober 1956 di Colomb-Béchar kesepakatan bilateral dihasilkan antara Prancis dan Jerman untuk berkolaborasi dalam membuat tank. Meskipun negara-negara FINABEL lainnya tidak berpartisipasi secara resmi, jenis tank yang akan dibuat disebut sebagai Europa-Panzer untuk menunjukkan proyek ini berasal dari Eropa, dan para ahli dari semua negara terlibat dalam proses desainnya.


Spesifikasi (FINABEL 3A5) untuk tank baru ini adalah sebuah tank tempur yang ringan dan mobile, dengan batasan berat hingga 30 metrik ton (33 short ton) dan memilih mengorbankan kemampuan proteksi kendaraan dengan mengurangi bobotnya secara keseluruhan. Para Insinyur Prancis dan Jerman, selama konferensi di Bonn pada tanggal 12 Februari 1957, lalu menetapkan persyaratan untuk tank masa depan ini. Ini termasuk lebar maksimumnya 3,15 meter (10,3 kaki), tinggi 2,15 meter (7,1 kaki) dan menggunakan meriam tank berkaliber 105-milimeter (4,1 inci), yang akan dikembangkan oleh lembaga penelitian militer Prancis-Jerman di Saint Louis. Tank baru yang dibuat akan menggunakan mesin bensin berpendingin udara, suspensi batang torsi dengan peredam kejut hidrolik, rasio power-to-weight minimal 30 tenaga kuda (22 kW)/metrik ton dan jangkauan operasional di jalanan setidaknya 350 kilometer (220 mil). Pada bulan Mei, Italia bergabung dengan proyek tersebut, meskipun hanya secara terbatas, tanpa kontribusi yang material, karena setelah perang mereka tidak memiliki biro desain tank. Pada tahun yang sama, di tanggal 28 November, kementerian pertahanan Prancis dan Jerman di Paris menyetujui kontrak yang memungkinkan kedua negara memproduksi dua prototipe tank secara terpisah. Tahun berikutnya, bagaimanapun, proyek tersebut mengalami kemunduran pertama ketika Charles de Gaulle mengambil alih kekuasaan di Prancis, dan menciptakan Republik Kelima, dimana perjanjian Paris memiliki poin utama untuk mengembangkan senjata nuklir bersama. Pada tanggal 17 Juni 1958 de Gaulle memutuskan untuk menolak Jerman dan Italia kemungkinan memiliki bom atom, untuk menghindari konflik dengan AS dan Inggris. Hal ini kemudian membuat Jerman kehilangan banyak minat dalam proyek tank bersama juga. Prototipe Prancis tank lalu dikembangkan dan diproduksi oleh Atelier de Construction d’Issy-les-Moulineaux, di bawah arahan Jenderal Joseph Molinié dari Direction des tudes et Fabrications d’Armements (DEFA, kemudian Direction Technique des Armements Terrestres) dan insinyur kepala AMX Heissler. Prototipe pertama selesai dibuat pada bulan September 1960 dan diuji mulai bulan Februari 1961; yang kedua, dengan perlengkapan range finder dan roda rantai yang lebih baik diuji pada bulan Juli 1961. Kendaraan pertama ini memiliki turret yang sangat bulat, seperti meniru tank T-54 Soviet dan menggunakan mesin bensin Sofam. Tujuh prototipe lainnya, dengan turret yang lebih ramping, diproduksi antara tahun 1961 dan 1963. Sementara itu prototipe Jerman dikerjakan oleh dua tim, termasuk Tim A terdiri dari Porsche, Maschinenbau Kiel, Luther & Jordan dan Jung-Jungenthal. Tim B terdiri dari Ruhrstahl, Rheinstahl-HANOMAG dan Henschel. Maket kayu desain tank ini selesai pada tahun 1959, sedangkan dua prototipe pertama selesai pada tahun 1961 (diselesaikan oleh Tim A).
RIWAYAT PENGEMBANGAN DAN DESAIN
Presiden De Gaulle memutuskan bahwa Prancis, meskipun secara resmi tetap menjadi anggota, tetapi tidak akan lagi berpartisipasi dalam organisasi militer NATO. Hal ini menyebabkan keretakan hubungan antara Perancis dan Jerman Barat, yang mana Jerman kemudian mulai menekankan standarisasi perlengkapan tempurnya sesuai dengan standar Amerika, terutama dalam hal persenjataan, dan mengikuti kebijakan NATO baru untuk menggunakan mesin diesel multifuel. Dengan perkembangan ini, Menteri pertahanan Jerman Barat, Franz Josef Strauss mulai menentang proyek tank bersama dengan Prancis. Pada bulan Juli 1963, komite pertahanan Bundesrat Jerman memutuskan untuk membeli tank buatan dalam negeri. Sebagai tanggapan, pada bulan yang sama pemerintah Prancis memutuskan hal yang sama. Meski demikian uji coba perbandingan tetap diadakan di Mailly-le-Camp, Meppen, Bourges dan Satory antara lima prototipe Prancis dan lima prototipe Jerman antara bulan Agustus dan Oktober 1963, di bawah pengawasan Italia, Belanda, Belgia dan Amerika. Prototipe Perancis saat itu telah menerima kode terpisah sebagai AMX 30. Uji coba menunjukkan bahwa prototipe Jerman, yang pada tanggal 1 Oktober diberi nama sebagai Leopard, memiliki mobilitas dan akselerasi yang lebih baik. Pemerintah Prancis lalu memutuskan bahwa mereka tidak dapat membeli tank baru sampai tahun 1965, sementara Jerman menolak untuk mengadopsi meriam tank desain Prancis-Jerman kaliber 105-milimeter (4,1 in), dan sebagai pengganti meriam British Royal Ordnance L7, dipesan 1.500 unit pada musim gugur tahun 1962. Rencana Rheinmetall untuk memproduksi di Jerman jenis amunisi dengan kualitas yang memadai gagal dilakukan. Saran untuk menyelamatkan proyek dengan menggabungkan turret Prancis dengan sasis tank Jerman juga gagal. Akibatnya, program itu dibatalkan dan Prancis serta Jerman lalu memutuskan untuk mengadopsi dua tank yang berbeda.


Prototipe AMX-30 memiliki berat 32,5 metrik ton (35,8 short ton), berukuran kompak, dengan lebar 3,1 meter (10 kaki), sebanding dengan Panzer 61 asal Swiss, dan tinggi 2,28 meter (7,5 kaki), setara dengan tank T-55 Soviet. Berbeda dengan AMX 50, AMX-30 memakai turret konvensional, karena ditemukan bahwa lebih sulit untuk melindungi turret berosilasi dari debu radioaktif dan terhadap air ketika tank terendam. Turret berosilasi juga memiliki kelemahan balistik yang besar di area skirt dan cincin turret. Awalnya, dua prototipe pertama ditenagai oleh mesin spark ignition engine berkekuatan 720 tenaga kuda (540 kW), bernama SOFAM 12 GSds. Kemudian, mesin diesel multi-fuel diadopsi, yang dikembangkan oleh Hispano-Suiza. Tujuh prototipe AMX-30 tahun 1963 kemudian dimodifikasi kembali dengan mesin diesel baru. Dua prototipe lebih lanjut, yang dimaksudkan sebagai kendaraan pra-produksi, dikirim pada bulan November 1965. Selain mesin diesel, mereka telah mengubah desin cetakan lambung dan turret dan mantel meriam yang berbeda; yang terakhir akan kembali diubah dalam kendaraan versi produksi. Versi produksi pertama dari AMX-30, diberi nama AMX 30B untuk membedakannya dari versi prototipe AMX 30A, diselesaikan pada bulan Juni 1966, serta diproduksi dengan lambung yang dilas dan dicor dan turret yang sepenuhnya dicor. Versi produksi tank kemudian memiliki berat tempur 36 metrik ton (40 short ton). Kemampuan bertahan dari AMX-30 didasarkan pada mobilitasnya; para Insinyur Prancis percaya bahwa mobilitas tank akan terganggu jika mereka menambahkan lapisan baja yang cukup untuk melindungi dari ancaman senjata anti-tank modern, termasuk hulu ledak anti-tank eksplosif tinggi (HEAT). Akibatnya, tipe tank ini memiliki lapisan baja tertipis dari tank tempur utama yang diproduksi pada saat itu. Turretnya memiliki ketebalan lapisan baja maksimum 50 milimeter (2,0 in), lapisan baja pada kemiringan 70 derajat di pelat depan dan 23 derajat di samping, menawarkan perlindungan terhadap proyektil penembus lapis baja kaliber 20 milimeter (0,79 in). Secara umum ketebalan lapis bajanya adalah: 79-milimeter (3,1 in) untuk bagian depan lambung; 59-milimeter (2,3 in) untuk sisi depan lambung; 30-milimeter (1,2 in) untuk bagian sisi dan belakang lambung; 15-milimeter (0,59 in) untuk bagian atas dan bawah lambung; 80,8-milimeter (3,18 in) untuk bagian depan turret; 41,5 milimeter (1,63 in) untuk sisi turret; 50 milimeter (2,0 in) untuk bagian belakang turret dan 20 milimeter (0,79 in) untuk bagian atas turret. Perlindungan lebih lanjut ditawarkan oleh lapisan pelindung ancaman nuklir, biologi dan kimia (NBC), termasuk sistem ventilasi. Pada masanya AMX-30 adalah tank tempur utama yang paling tipis lapis baja dari tank di generasinya (Seri tank M-60 dari Amerika memiliki lapisan baja 3 kali lebih tebal). Ini merepresentasikan doktrin Prancis pada saat itu, bahwa dengan tidak menambahkan lapisan baja berat maka bobot kendaraan dapat ditekan, dan dengan demikian meningkatkan mobilitas kendaraan itu sendiri. Ketika tank dapat bergerak cukup cepat melintasi medan perang, diharapkan ia akan menjadi target yang lebih sulit untuk ditembak musuh (doktrin ini yang tidak lagi efektif sekarang berkat adanya sistem kontrol penembakan/FCS modern yang dapat melacak gerak kendaraan dengan cepat) dan inilah sebabnya mengapa AMX -30 beratnya hanya 36 ton. Jika tertembak, pelindung armor depan tank ini tidak menawarkan banyak perlindungan yang efektif terhadap amunisi HEAT dan anti-tank lainnya, meskipun memiliki sistem NBC yang efektif.


Salah satu fitur unik dari AMX-30 adalah proyektil Obus Charge Creuse de 105 mm Modèle F1 (Obus G) HEAT dan meriam utamanya, Modèle F1, jenis meriam baja monoblok berkaliber 105-milimeter (4,1 in). Hulu ledak HEAT diketahui menderita masalah stabilitas putaran, karena efek dari laras meriam, menyebabkan Prancis mengembangkan Obus G (Gresse). Proyektil ini terdiri dari dua bagian utama, termasuk selongsong luar dan selongsong dalam yang dibatasi dengan bantalan bola. Hal ini kemudian memungkinkan proyektil menjadi stabil, dan karena itu bisa lebih akurat daripada peluru HEAT biasa dengan sirip penstabil, sementara selongsong peluru bagian dalam tidak bergerak, memungkinkan hulu ledak bekerja dengan efisiensi maksimum. Hulu ledaknya, yang mengandung 780 gram hexolite, dapat menembus pelindung baja hingga ketebalan 400 milimeter (16 in) dan efektif melawan tank hingga jarak 3.000 meter (3.300 yd). Karena menggabungkan akurasi yang baik dengan kemampuan penetrasi yang tidak bergantung pada jangkauan, proyektil ini telah dianggap sebagai “peluru ideal” pada zamannya. AMX-30 juga dirancang untuk bisa menembakkan proyektil eksplosif tinggi jenis OCC F1 Mle.60, hulu ledak pelatihan F1 SCC dan peluru asap OFUM PH-105 F1. Pada meriam ini tidak ada muzzle brake atau ekstraktor asap. Udara yang terkompresi akan melepaskan asap dari laras meriam. Meriam ini dilengkapi dengan selubung termal magnesium alloy. Meriam utama tank ini dipasangkan dengan rem penahan recoil 380 milimeter (15 in), yang bisa memanjang maksimum hingga 400 milimeter (16 in), dan dapat turun hingga 8 derajat atau naik hingga 20 derajat. Daya tembak pada turret tank ditambah dengan senapan mesin koaksial kaliber 12,7 milimeter (0,50 in) M2 Browning. Komandan tank juga menggunakan senapan mesin antipesawat kaliber 7,62-milimeter (0,300 in) di atap turret. AMX-30 membawa 47 proyektil (19 di antaranya berada di turret (18 dalam bustle) dan 28 di lambung di sebelah kanan pengemudi) kaliber 105-milimeter (4,1 in), 748 peluru kaliber 12,7-milimeter (0,50 in) dan 2.050 peluru kaliber 7,62-milimeter (0,300 in).


Kanon koaksial kemudian digantikan dengan kanon Giat Industries kaliber 20 mm Model F2 (Type M693), yang dapat berelevasi dengan meriam utama dan juga dengan sendirinya hingga maksimum +40° untuk digunakan melawan pesawat terbang dan helikopter yang terbang lambat. Kanon ini memiliki jangkauan efektif maksimum 1.500 m dan dapat ditembakkan oleh penembak atau komandan tank. Kanon 20 mm dapat menembakkan dua jenis peluru (dengan peluru HEI dengan kecepatan 1.050 m/s dan peluru penembus lapis baja dengan kecepatan 1.250 m/s), atau peluru tunggal yang menembakkan amunisi tipe M56 standar Amerika. Secara total 480 butir amunisi siap pakai dibawa, dengan 550 butir lagi disimpan sebagai cadangan. Sementara itu senapan NF1 kaliber 7.62 mm itu memiliki elevasi +45 ° dan depresi -10 °. Total 2.050 butir amunisi 7,62 mm dibawa, 550 di antaranya siap digunakan segera. Kartrid kosongnya dikeluarkan secara otomatis di luar tank. Jangkauan efektif maksimum dari senapan mesin 7,62 mm adalah 700 m. Terdapat dua pelempar granat asap yang dipasang di kedua sisi turret yang dapat menutupi tank dengan asap dalam 8 detik. Jarak tembak efektif AMX-30 itu sendiri terhadap MBT lawan adalah sekitar 1.800 meter. Ruang internal di AMX-30 terbagi menjadi tiga kompartemen: pengemudi di bagian depan, kompartmen tempur di bagian tengah dan mesin di belakang. Pengemudi duduk di bagian depan kendaraan di sebelah kiri dengan penutup palka yang terbuka ke kiri dan tiga periskop. Periskop tengah, tergantung pada model tank, dapat berupa periskop siang hari yang dapat diganti dengan periskop malam untuk intensifikasi gambar (Thomson-CSF TH 9478), atau periskop SOPELEM OB-16A.

Tank ini memiliki sistem teropong untuk cahaya inframerah di malam hari dan sistem teropong untuk mengemudi di siang hari. Sistem infra merah memiliki perbesaran x1 dan bidang pandang 35° dan sistem siang hari memiliki perbesaran serupa dan bidang pandang 24°. Tiga anggota kru lainnya duduk di turret, dengan komandan dan penembak di sebelah kanan dan loader, yang juga mengoperasikan radio, ada di sebelah kiri. Cupola komandan dilengkapi dengan 10 periskop untuk melihat ke segala arah dan penutup palka yang terbuka ke belakang. Di bagian depan cupola komandan dipasangi dengan prisma SOPELEM M 270. Perangkat ini terdiri dari rumahan berlapis baja dan kaca tebal di belakangnya terdapat prisma, yang berputar tinggi dan mampu mencerminkan gambar medan ke perangkat day sight M 267 atau teleskop inframerah OB-23A (perbesaran x4, dengan bidang pandang 9°), lensa objek yang masuk ke bagian bawahnya. Di sebelah kanan prisma terdapat lengan putar yang menopang senapan mesin kaliber 7,62 mm dan lampu sorot inframerah PH-9-A-nya, yang memiliki jangkauan 500 m saat digunakan dalam mode inframerah dan jangkauan 700 m dalam mode cahaya putih. Prisma juga dapat digunakan untuk mengarahkan kanon koaksial kaliber 20 mm, dalam hal ini kepala (prisma) dikontrol secara elektrik oleh perangkat servo elevasi dari kaliber 20 mm. M 270 memiliki perbesaran x10 dan memungkinkan komandan tank untuk menemukan dan mengidentifikasi target dan mengarahkan turret ke sasaran. Komandan tank juga mengoperasikan perangkat pencari jarak SOPELEM M 208 dengan perbesaran x6 dan jangkauan 600 hingga 3.500 m. Dipasang di sisi kiri turret, koaksial dengan meriam utama, adalah lampu sorot SOPELEM PH-8-B, yang memiliki jangkauan maksimum 2.000 m saat digunakan dalam mode cahaya putih dan jangkauan 1.000 m dalam mode inframerah.


Penembak, yang duduk di bawah dan di depan komandan, memiliki perangkat penglihatan siang hari M 271 dengan perbesaran x8 yang dapat diubah untuk penglihatan malam OB-17A. Ini dipasang di atap turret dan memiliki graticule bercahaya, perbesaran x5.4 dan bidang pandang 7°. Saat digunakan dengan lampu sorot inframerah PH-8-B, lampu ini memiliki jangkauan 800 m. Penembak juga memiliki dua periskop. Loader, sementara itu ditempatkan di sebelah kiri turret dan dilengkapi dengan dua periskop dan penutup palka yang terbuka ke belakang. Lubang palka melingkar kecil di sisi kiri turret digunakan untuk mengisi ulang amunisi dan mengeluarkan kartrid bekas secara manual. Versi produksi dari tank AMX-30 dilengkapi dengan mesin diesel HS-110 Hispano-Suiza, yang terletak di bagian belakang lambung. Mesin berkapasitas 28,8 liter (1.760 cu in) ini dapat diganti di medan tempur dalam waktu 45 menit oleh tiga orang, dan menghasilkan kekuatan 720 tenaga kuda (540 kW), yang memampukan tank mencapai kecepatan maksimum 65 kilometer per jam (40 mph) di jalanan. Mesin ini terhitung hemat bahan bakar, yang bersama dengan total kapasitas angkut bahan bakar 970 liter (260 US gal), memberikan AMX-30 jangkauan di jalan maksimum hingga 600 kilometer (370 mil). Sistem gerak mesin dikerjakan melalui kopling sentrifugal pelat kembar Gravina G.H.B.200C. Gearboxnya adalah tipe AMX 5-SD-200D, dengan lima gigi untuk maju dan lima gigi mundur. Desain transmisi ini sangat dipengaruhi oleh desain pada tank Panther Jerman dan didasarkan pada proyek yang dimulai pada tahun 1938. Transmisi adalah salah satu kelemahan utama AMX-30 dan menyebabkan berbagai masalah mekanis, termasuk pengemudi yang harus mengubah gigi secara manual pada waktu tertentu, bahkan saat tank bergerak di medan yang kasar. Bobot tank didistribusikan melalui lima roda ganda, dari aluminium alloy, dengan ban karet di kedua sisi, dan bergerak pada trek selebar 570 milimeter (22 in). Tank ini dapat mengarungi rintangan air sedalam 1,3 meter (1,4 yd) tanpa persiapan, hingga 2 meter (2,2 yd) dengan persiapan kecil, dan hingga 4 meter (4,4 yd) dengan persiapan penuh. Persiapan penuh untuk pengoperasian di air terdiri dari penambahan tabung snorkel, pemasangan pelat kosong, yang dibawa di bagian depan lambung, di atas kisi-kisi asupan udara kompartemen mesin, dan pemasangan peralatan penggerak inframerah, termasuk lampu sorot. Pada tahun 1969 satu kendaraan pelatihan menyelam khusus diadaptasi, yang diberi nama AMX 30 Gloutte (dari bahasa Prancis faire glouglou, “gurgle“), tanpa dilengkapi mesin dan trek, yang di atas ramp dapat dengan cepat diturunkan ke reservoir dengan winch. Tipe ini dilengkapi dengan tabung untuk menyelamatkan diri.
MODERNISASI
Selama proses produksi, banyak perbaikan yang dilakukan pada desain AMX-30. Ini tidak termasuk program stabilisasi meriam dari tahun 1971, dan dari tahun 1972 Prancis menggantikan senapan mesin berat koaksial asli dengan kanon otomatis kaliber 20-milimeter (0,79 inci) yang memiliki fungsi ganda, sebagai senjata anti lapis baja ringan dan helikopter, dengan kemampuan untuk elevasi antara -8 derajat dan +40 derajat. Semua tank yang digunakan tentara Prancis akhirnya dimodifikasi ke standar yang lebih baru ini; dengan penamaan ulang sebagai AMX 30B. Dimulai pada awal tahun 1973, hanya tujuh tahun setelah tahun awal produksi, Prancis memulai program penelitian untuk modifikasi tank-nya di masa depan. Proyek ini menghasilkan AMX 30 Valorisé (“AMX-30 yang kemampuannya ditingkatkan”). Pada bulan Juni 1979, Angkatan Darat Prancis memutuskan untuk membuat dan memodernisasi AMX-30 yang ada dengan sistem pengendalian penembakan dan transmisi baru, dan menamainya sebagai AMX-30B2. Tank produksi baru pertama mulai beroperasi pada bulan Januari 1982. Perbaikan sistem pengendalian penembakan COTAC (Conduite de Tir Automatique pour Char) APX M-508. ini termasuk pemasangan perangkat laser pengukur jarak dan TV berpencahayaan rendah (LLTV). Sistem kontrol penembakan otomatis COTAC memungkinkan AMX-30B2 untuk menembakkan amunisi dengan kecepatan Vo 1525 m/s. Sistem COTAC yang mencakup perangkat laser rangefinder dan komputer balistik elektronik. Sistem televisi, dengan kamera yang dipasang di bagian kanan depan turret, digunakan untuk dapat melakukan penembakan hingga jarak 1000 meter saat malam hari. Kemampuan mematikan dari meriam utama-nya ditingkatkan dengan diperkenalkannya peluru sabot penembus baja baru yang distabilkan dengan sirip (APFSDS). Mesin asli kemudian diganti dengan varian yang kemampuannya telah ditingkatkan, dikenal sebagai HS-110.2, yang menghasilkan kekuatan 680 tenaga kuda (510 kW). Sistem transmisi yang buruk lalu diganti dengan sistem transmisi semi-otomatis SESM ENC200 (sekarang RENK France), dengan perangkat konverter torsi.



Suspensi ditingkatkan dengan mengadopsi batang torsi dan perangkat penanggulangan guncangan baru, yang meningkatkan rentang defleksi vertikal roda, sehingga meningkatkan mobilitas off-road dari tank. Dari tahun 1998, tentara Prancis mulai mengganti mesin tank AMX-30 yang tersisa dan variannya dengan mesin 500 Renault Mack E9 berkekuatan 750 hp. Pada tahun sembilan puluhan, paket lapisan armor reaktif, bernama BRENUS atau Brennus, dikembangkan untuk AMX-30B2, tetapi digunakan hanya oleh dua resimen tank, yang di masa damai digabungkan menjadi 1er/2e Chasseurs, yang merupakan bagian dari Pasukan reaksi cepat Prancis. Dua resimen lainnya yang menggunakan AMX-30, 2e/5e Dragons, hanya mempersiapkan tank dapat di-upgrade dalam waktu relatif cepat, dalam keadaan darurat. Sistem BRENUS menggunakan 112 kotak peledak reaktif GIAT BS (Brique de Surblindage) G2 dengan berat total 1,7 metrik ton (1,9 short ton), menawarkan perlindungan yang setara dengan lapisan baja setebal 400 milimeter (16 in) pada kemiringan 60° versus munisi shaped charged dan lapisan baja lebih dari 100 milimeter (3,9 in) untuk melawan proyektil energi kinetik seperti APFSDS. Selama tahun 1990-an, AMX-30 juga telah digunakan sebagai testbed untuk beberapa teknologi siluman yang diterapkan pada, termasuk penggunaan sistem pendinginan udara pada permukaan lambung dan penggunaan kamuflase visual. Prototipe ini dikenal sebagai Démonstrateur Furtif Chenille. Lambung dan turretnya sepenuhnya tertutup oleh superstruktur yang dibangun dari pelat miring yang terbuat dari bahan penyerap radar.
VARIAN


AMX-30 memiliki sejumlah variasi yang berbeda, termasuk sejumlah kendaraan lapis baja lainnya berdasarkan sasis yang sama. Sebuah versi sederhana dari tank, tanpa lampu sorot inframerah dan periskop dan turret komandan yang tidak begitu kompleks dikembangkan untuk ekspor, yang dikenal sebagai “AMX-30 versi dasar”. Versi ini juga hadir tanpa sistem penyaringan udara bertekanan, dan memindahkan senapan mesin 7,62 milimeter (0,300 in) yang lebih kecil ke posisi senapan mesin koaksial dan senapan mesin M2 kaliber 12,7 milimeter (0,50 in) yang lebih besar ke atap turret. Versi lain sempat dipertimbangkan untuk dipakai Angkatan Darat Prancis, dengan mengadopsi meriam tank kaliber 142-milimeter (5,6 in) yang mampu menembakkan rudal supersonik anti-tank berpemandu ACRA (Anti-Char Rapide Autopropulsé), serta peluru berdaya ledak tinggi. Sebuah prototipe selesai dibuat pada tahun 1967 dengan turret cor baru, cukup lebar untuk menampung persenjataan yang jauh lebih besar. Namun, biaya rudal yang tinggi memaksa Angkatan Darat Prancis untuk meninggalkan program tersebut pada tahun 1972. Kendaraan yang dibuat berdasarkan sasis AMX-30 termasuk kendaraan pemulihan lapis baja, bridgelayer, kendaraan anti-pesawat self-propelled, peluncur rudal nuklir taktis dan artileri self-propelled. Berikut adalah tipe-tipe yang dimaksud:
AMX-30D – Dépanneur-Niveleur
Kendaraan pemulihan lapis baja, yang dikenal sebagai AMX-30D (AMX-30 Dépanneur-Niveleur), dirancang untuk memulihkan atau membantu merawat kendaraan di lapangan. Pengerjaan AMX-30D dimulai pada tahun 1966, ketika Angkatan Darat Prancis meneliti pengembangan kendaraan pemulihan yang akan dibagikan pada unit-unit yang akan menerima tank AMX-30. Sebuah prototipe diproduksi dan dikirim untuk menjalani pengujian pada tahun 1971, dan pada bulan Februari 1973 yang pertama dari lima kendaraan pra-seri dikirimkan. Pada tahun yang sama, 100 AMX-30D lainnya dipesan, dan kendaraan ini mulai diproduksi pada tahun 1975. Kendaraan pemulihan ini dilengkapi dengan peralatan termasuk winch yang digerakkan oleh mesin kendaraan, dengan kemampuan untuk menarik beban maksimum 35 metrik ton (39 short ton). Kendaraan ini juga memiliki kabel penarik beban berat sepanjang 80 meter (87 yd), sedangkan derek tambahan memiliki kabel penarik sepanjang 120 meter (130 yd), yang mampu menarik beban hingga 20 metrik ton (22 short ton) saat digunakan di depan AMX-30D. Dalam kasus terakhir, kendaraan harus didukung oleh penyangga yang dapat dilepas, yang dibawa pada kendaraan, dan bilah buldoser harus diturunkan di tanah. Derek yang dipakai dapat mengangkat paket seberat 3,29 metrik ton (3,63 short ton) dan turret seberat 10 metrik ton (11 short ton). Menggantikan turret, AMX-30D dilengkapi dengan superstruktur, yang beratnya 36 metrik ton (40 short ton), meskipun dengan paket daya ekstra dapat mencapai berat 40 metrik ton (44 short ton). Kendaraan ini dapat melindungi dirinya sendiri dengan senapan mesin kaliber 7,62 milimeter (0,300 in). Visibilitas dari pengemudinya dibantu dengan tiga episkop M-223. AMX-30D memiliki kecepatan di jalan raya maksimum 60 kilometer per jam (37 mph) dan jangkauan di jalan maksimum 500 kilometer (310 mil).

AMX-30H – Poseur de pont
AMX-30H peletak jembatan (Bridgelayer), atau Poseur de pont, terdiri dari sasis AMX-30 dengan superstruktur seperti kotak, yang menopang jembatan lipat tipe gunting. Jembatan sepanjang 22 meter (24 yd) dapat menjangkau celah selebar 20 meter (22 yd). Jembatan ini memiliki lebar 3,1 meter (3,4 yd), tetapi dapat ditingkatkan menjadi 3,95 meter (4,32 yd) melalui penggunaan panel applique. Jembatan ini dapat menopang berat hingga 46 metrik ton (51 short ton). Pengembangan Bridgelayer ini dimulai pada awal tahun 1963, meskipun baru pada bulan Juni 1967 pengembangan dimulai pada fase prototipe. Prototipe yang diberi nama AMX-30H selesai pada tahun 1968, akan tetapi baru pada tahun 1971 kendaraan tersebut dievaluasi. Pada akhir evaluasi di bulan September 1971, lima kendaraan pra-seri dipesan, yang kemudian dilanjutkan dengan periode evaluasi baru, yang dimulai pada tanggal 16 Oktober 1972. Pada tahun 1975, AMX-30H menjadi standar di Angkatan Darat Prancis, meskipun tidak ada kendaraan ini pernah dipesan, 12 kendaraan tercatat dibeli oleh Tentara Arab Saudi.

AMX-30 DCA – défense contre aviion
Senjata anti-pesawat berpenggerak mandiri (self-propelled) mulai dikembangkan pada tahun 1969 untuk menyediakan kendaraan jenis ini kepada Angkatan Darat Prancis dan guna pasaran ekspor. Meskipun akhirnya tidak ada yang dipesan oleh Prancis, pada tahun 1975 Arab Saudi memesan versi perbaikannya (53 unit), yang diberi nama sebagai AMX-30SA (pertama dikenal sebagai AMX-30 DCA, untuk kepanjangan dari “défense contre avion“.) Dikembangkan untuk menghadapi serangan udara di ketinggian rendah, sistem ini dilengkapi dengan dua kanon otomatis Hispano-Suiza 831 A kaliber 30-milimeter (1,2 inci), digabungkan ke sistem kontrol penembakan Oeil-noir. Sistem ini telah dipasang pada sasis AMX-13, sebagai pengganti sasis yang lebih berat, dengan menggunakan turret yang diberi nama S 401 A. Meskipun kendaraan khusus ini mulai diproduksi pada tahun 1962, AMX-30 menawarkan sasis yang lebih besar dari turret S 401 A dapat dipasang, dan memberikan mobilitas yang unggul. AMX-30 yang lebih berat juga menyediakan platform yang lebih stabil untuk kanon, dan memungkinkan sistem ini untuk membawa lebih banyak amunisi (1.200 peluru, dibandingkan dengan 600 yang bisa dibawa oleh versi AMX-13). Kanon pada senjata ini dirancang untuk bisa menembak dalam semburan 5 peluru atau 15 peluru, dengan laju penembakan 650 peluru per menit. Mereka dikendalikan oleh komputer analog, yang menerima informasi dari radar Doppler, yang dapat dilipat dalam kotak lapis baja saat tidak digunakan untuk melindunginya dari kerusakan. Sayangnya kontrol penembakan bergantung pada pelacakan secara visual, sehingga hanya bisa bekerja di siang hari dan cuaca cerah.

AMX-30R dan Rudal Pluton
Tiga sistem rudal kemudian dikembangkan untuk dipasang pada sasis AMX-30. Menyadari kebutuhan akan peluncur rudal nuklir taktis yang mobile, Angkatan Darat Prancis mulai mengembangkan rudal Pluton pada tahun 1963. Pada tahun 1964, program tersebut ditangguhkan dan sebagai gantinya Angkatan Darat Prancis memilih rudal dengan jangkauan yang lebih jauh, yang dapat dipasang di AMX- 30. Sebuah kontrak untuk mengembangkan sistem rudal mobile dibuat pada tahun 1968. Prototipe pertama segera dikirimkan dan menjalani pengujian terjadi antara bulan Juli dan Agustus 1970, yang diikuti oleh produksi prototipe kedua pada tahun 1971. Dua prototipe lagi dibuat pada tahun 1972. Tahun berikutnya, kendaraan ini dimasukkan ke dalam produksi massal dan pada tanggal 1 Mei 1974 empat kendaraan telah dikirim ke Resimen Artileri ke-3. Rudal itu sendiri memiliki berat 2,4 metrik ton (2,6 short ton) dan panjang 7,6 meter (8,3 yd). Menggunakan sistem pemandu inersia yang disederhanakan dan motor roket propelan padat, Pluton memiliki jangkauan maksimum 120 kilometer (75 mil). Sistem rudal kedua adalah sistem peluncuran rudal permukaan-ke-udara AMX-30R (Roland), yang mulai dikembangkan pada tahun 1974. Lima kendaraan pra-seri diselesaikan pada tahun 1977 dan kemudian dievaluasi, yang mendorong datangnya pesanan 183 kendaraan pada tahun yang sama. Roland memiliki superstruktur berbentuk persegi panjang, lebih tinggi dari AMX-30D dan Pluton, yang menampung sistem radar dan memasang dua tabung peluncuran di kedua sisi, dengan sistem autoloading bagi delapan rudal cadangan di dalam superstruktur. Radar Roland memiliki jangkauan deteksi 16 kilometer (9,9 mil). Sistem rudal ketiga, yang disebut AMX-30SA SAM, dikembangkan pada tahun 1975 untuk Arab Saudi, untuk menembakkan rudal SA-10 Shahine, yang dikembangkan dan diproduksi oleh Thomson-CSF; kendaraan peluncur rudal ini berbasis pada AMX-30R.



AMX 30 AuF1 canon automoteur
Canon automoteur de 155 GCT (kepanjangan dari Grande Cadence de Tir, kemampuan tembak cepat) dikembangkan berdasarkan sasis AMX-30 untuk memberikan dukungan artileri taktis kepada unit-unit di Angkatan Darat Prancis, yang lalu menyebutnya sebagai AMX 30 AuF1. Howitzer kaliber 155-milimeter (6,1 in) yang dipasang pada kendaraan ini memiliki panjang laras 40 kaliber, dan dimuat secara otomatis sehingga memungkinkan laju penembakan delapan peluru per menit, dengan jangkauan maksimum 30 kilometer (19 mil) saat memakai peluru LU211. Turret yang dipasang memungkinkan meriam memiliki elevasi hingga 66 derajat, dan memungkinkannya berputar 360 derajat penuh. Kendaraan ini membawa 42 butir amunisi, dengan selongsong peluru yang mudah terbakar sendiri. Asal-usul keputusan untuk merancang howitzer self-propelled ini dapat ditelusuri kembali ke tahun 1969, dengan prototipe pertama selesai pada tahun 1972. Pada tahun 1979, tujuh prototipe telah diproduksi, dan enam kendaraan pra-seri, sebelum diikuti oleh produksi 110 kendaraan. Pesanan ini kemudian ditingkatkan menjadi 190 unit.

AMX-32
Prototipe pertama dari AMX-30 yang kemampuannya ditingkatkan untuk pasar ekspor, yang dikenal sebagai AMX-32, diresmikan pada bulan Juni 1979. Awalnya dimaksudkan sebagai alternatif untuk AMX-30B2, dan dengan sengaja meniru konsep spaced armor yang telah berhasil diterapkan oleh Jerman. pada tank Leopard 1A3 dan A4. AMX-32 memasang perlindungan lapis baja yang lebih besar untuk menawarkan peningkatan kemampuan bertahan melawan peluru kendali anti-tank. Sebuah meriam otomatis kaliber 20 milimeter (0,79 in) kemudian disertakan sebagai senjata koaksial dari meriam utamanya, dan senapan mesin kaliber 7,62 milimeter (0,300 in) yang dipasang di bagian atap. Namun, tidak ada pesanan yang pernah didapat.

PRODUKSI
Produksi AMX-30 dikerjakan di Atelier de Construction de Roanne di kota Roanne. Pabrik manufaktur berat ini dibangun selama Perang Dunia I untuk memproduksi peluru artileri, meskipun pada tahun 1952 pabrik tersebut telah mulai memproduksi kendaraan tempur lapis baja. Sebelum memproduksi AMX-30, misalnya, pabrik ini telah membuat 1.900 unit AMX-13 dan variannya. Pabrik Roanne bertanggung jawab untuk perakitan akhir, sebagian besar komponen dibuat di tempat lain: mesinnya dibuat oleh Atelier de Construction de Limoges, lapisan bajanya dibuat oleh Ateliers et Forges de la Loire, turret oleh Atelier de Construction de Tarbes, meriam oleh Atelier de Construction de Bourges, cupola dan senapan mesin oleh Manufacture d’Armes de Saint-Étienne serta perangkat optik oleh Atelier de Construction de Puteaux. Semua ini lagi-lagi masih menggunakan banyak subkontraktor. Dalam serangkaian proses merger perusahaan di bawah bimbingan negara, sebagian besar perusahaan ini akhirnya akan terkonsentrasi ke GIAT. Awalnya, 300 AMX-30 dipesan oleh Angkatan Darat Prancis, dan pada tahun 1971 pesanan telah ditingkatkan menjadi 900, yang dibagi antara delapan batch, termasuk semua varian berdasarkan tipe sasisnya. Mulai tahun 1966, sepuluh AMX-30 dirakit per bulan, dan lima yang pertama diluncurkan pada bulan Agustus 1966 untuk digunakan oleh Régiment de Chars de Combat ke-501. Produksi bulanan dari tank ini kemudian berkembang menjadi 15-20 tank perbulan karena pabrik baru mulai memproduksi komponen kendaraan dan pabrik yang sudah ada turut meningkatkan kapasitas produksinya. Namun, pada bulan April 1969, produksi kembali dikurangi menjadi sepuluh unit per bulan. Pada tahun 1971, sekitar 180 kendaraan telah beroperasi; pada tahun 1975 pengiriman dimulai dari 143 unit terakhir dari batch kedelapan terakhir dari pesanan aslinya. Pada tahun 1985, jumlah AMX-30 telah meningkat menjadi 1.173. Pada akhir produksinya, Prancis telah menerima 1.355 AMX-30, termasuk 166 tipe AMX-30B2 baru. 493 tank lainnya dibongkar kembali dan dimodernisasi sesuai dengan standar AMX-30B2; yang awalnya direncanakan dibuat 271 kendaraan baru dan 820 kendaraan lainnya diupgrade dari yang sudah ada. Angkatan Darat Prancis juga menerima sejumlah besar varian lainnya, termasuk 195 howitzer self-propelled, 44 peluncur rudal nuklir taktis AMX-30 Pluton, 183 AMX-30R, 134 AMX-30D dan 48 kendaraan zeni (AMX-30EBG). 35 tank tempur baru terakhir dipesan pada tahun 1989 oleh Siprus dan kendaraan varian baru terakhir, sejumlah dua puluh GCT, pada tahun 1994 dipesan oleh Prancis. Pada akhir tahun 1990-an, Angkatan Darat Prancis mulai menerima tank tempur utama Leclerc yang baru untuk menggantikan AMX-30 tua-nya. Unit pertama yang dilengkapi dengan tank baru adalah resimen tank ke-501 dan ke-503, diikuti oleh Resimen Cuirassier ke-6 dan ke-12.

EKSPOR
Setelah pada bulan Februari 1964 memutuskan untuk memproduksi tank tempurnya sendiri, Israel pada awalnya mempertimbangkan untuk memproduksi secara lisensi lambung tank AMX-30, sementara mengimpor turret dari Prancis. Lebih menyukai lapisan baja yang lebih berat daripada mobilitas, Mayor Jenderal Israel Tal kemudian menghentikan negosiasi dengan Prancis ketika Inggris setuju untuk mengizinkan produksi berlisensi dari tank Chieftain, pada tahun 1966. Prancis akhirnya juga gagal mendapatkan pesanan dari dua negara FINABEL yang tersisa, Belgia dan Belanda: Belanda bahkan tidak menguji AMX-30 dan Belgia memesan Leopard Jerman ketika Prancis menolak untuk mengizinkan produksi sebagian dari komponen AMX-30 di Belgia, karena khawatir itu akan meningkatkan biaya per unitnya. Lebih murah dan lebih mudah dirawat, AMX-30 ternyata lebih disukai daripada Leopard 1 oleh negara-negara yang kurang makmur atau maju. Pada tahun 1969, junta militer Yunani setuju untuk membeli total 190 tank AMX-30 dan 14 AMX-30D, yang lalu menjadikan Yunani sebagai negara asing pertama yang membeli tank Prancis ini. Sepanjang tahun 1960-an, Spanyol telah mempertimbangkan mengadopsi AMX-30 dan Leopard 1 untuk melengkapi armada tank M47 dan M48 Patton mereka yang sudah ada. Pada akhirnya, Spanyol memilih AMX-30 karena berbagai alasan, termasuk keengganan Inggris untuk menjual meriam tank L7 kepada rezim fasis Spanyol dan tawaran Prancis untuk mengizinkan AMX-30 diproduksi di Spanyol. Spanyol memesan 19 tank pada tahun 1970, dan kemudian setuju untuk memproduksi 180 tank lagi di Spanyol. Pada tahun 1979, Spanyol memulai produksi batch kedua dari 100 tank, dan menyelesaikan total 299 AMX-30 untuk digunakan oleh Angkatan Darat Spanyol. Tank versi ini dinamai sebagai AMX-30E. Spanyol juga membeli 10 AMX-30D dan 18 AMX-30R. Karena produksi AMX-30E berakhir pada 1979, Angkatan Darat Spanyol sudah mencari program modernisasi untuk meningkatkan kualitas mobilitas dari tank AMX-30 yang dimilikinya. Pada tahun 1987, Angkatan Darat Spanyol memulai program modernisasi selama enam tahun yang membawa 150 tank ke standar AMX-30EM2 dan memodifikasi 149 tank lainnya ke standar AMX-30EM1. Yang pertama adalah peningkatan yang jauh lebih lengkap, yang menampilkan peningkatan mobilitas tank melalui adopsi mesin dan gearbox baru, serta daya tembak tank, dengan pengembangan peluru penetrator energi kinetik baru dan pengenalan yang jauh lebih banyak sistem pengendalian penembakan yang kompleks dan akurat untuk penembak tank. Sebaliknya AMX-30EM1 disebut sebagai “program rekonstruksi” dan hanya meningkatkan mobilitas tank dengan mengadopsi sistem transmisi baru dan merenovasi banyak sistem kendaraan yang sudah usang, seperti rem, indikator, dan perangkat kontrolnya. AMX-30 yang dibangun kembali ini segera digantikan oleh tank M60 Patton yang dibeli dari Amerika Serikat pada awal tahun 1990-an, sementara armada AMX-30EM2-nya kemudian digantikan oleh kendaraan anti-tank B1 Centauro.


Pada tahun 1972, Prancis berhasil mendapatkan kontrak dengan Arab Saudi untuk pembelian 190 tank AMX-30S, yang dirancang untuk lingkungan gurun di kawasan Timur Tengah. Dinamakan Palmier Contract, tank varian Arab Saudi ini dikirimkan antara tahun 1973 dan 1979, sementara 59 AMX-30D diekspor ke Arab Saudi antara tahun 1975 dan 1979, 12 AMX-30P antara tahun 1977 dan 1979, dan akhirnya 51 howitzer self-propelled, dikirim antara tahun 1979 dan 1980. Antara tahun 1979 dan 1981, Arab Saudi juga menerima 52 AMX-30SA dan kemudian 50 AMX-30C1 Shanine-2 dikirim dalam dua gelombang, antara tahun 1980 dan 1989. Pada abad ke-21, 50% armada AMX-30 Arab Saudi telah berada di tempat penyimpanan, mengingat AMX-30 tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi ancaman yang lebih modern, seperti melawan tank T-62 dan T-72 Irak, dan Tank Merkava Israel. Mereka sebagian besar kemudian digantikan oleh pesanan 315 tank M1A2 Abrams pada tahun 1989, dan akuisisi 450 tank M60A3 Patton. Meskipun Arab Saudi berencana untuk membeli lebih banyak tank M1, hal itu tidak dapat dilakukan karena alasan keuangan dan oleh karenanya AMX-30 masih belum dipensiunkan.


Sementara itu Venezuela awalnya memesan 142 tank pada tahun 1972, meskipun kemudian pesanannya dikurangi menjadi 82 dan empat jenis AMX-30D. Pada pertengahan tahun 1980-an, Venezuela mengadopsi rencana modernisasi untuk AMX-30 yang sudah tidak digunakan lagi, dan memilih untuk mengganti mesin aslinya dengan mesin diesel Continental AVDS-1790-5A baru, yang menghasilkan 908 tenaga kuda (677 kW) dan mengganti transmisi yang ada dengan transmisi Allison CD-850-6A. AMX-30 Venezuela menerima tangki bahan bakar baru, yang meningkatkan jangkauan tank di jalanan menjadi sejauh 720 kilometer (450 mil), sementara daya tembak ditingkatkan melalui pengadopsian sistem kontrol penembakan Lansadot MkI yang modern dan komputer Balistik lansiran Elbit Systems. Pada tahun 1977, Prancis dan Qatar menandatangani perjanjian penjualan 24 AMX-30, yang kemudian akan meningkat menjadi 54 unit ketika Qatar memesan 30 AMX-30B2 lagi pada 1987. Uni Emirat Arab memesan pada tahun 1977 64 tank AMX-30 dan satu kendaraan lapis baja pemulihan, untuk melengkapi sebuah brigade lapis baja, pada tahun 1977. Karena masalah politik antara Chili dan Argentina, Chili lalu memesan 46 tank AMX-30, meskipun ini kemudian dikurangi menjadi cuma 21 ketika kontrak dibatalkan oleh pemerintah Prancis pada tahun 1981. Pada tahun 1982, Siprus memperoleh total 16 AMX-30B2 dan satu AMX-30D, dan kemudian memesan 36 tank AMX-30B2 lainnya. Total produksi dari AMX-30 dan variannya mencapai 3.571 unit. Kemudian banyak AMX-30 bekas dijual kembali ke negara lain: pada tahun 2005 Siprus memiliki 102 AMX-30 (diperoleh dari Yunani) dan 52 AMX-30B2; Bosnia memperoleh 32 AMX-30 (dari UEA). Saat itu armada tank ini Prancis telah menyusut menjadi sekitar 250 AMX-30B2 yang masih tersisa. Meskipun MBT Leclerc bermeriam kaliber 120 mm buatan Giat Industries sudah diperkenalkan ke dalam dinas operasional Angkatan Darat Prancis, AMX-30 B2 yang lebih tua masih tetap beroperasi hingga tahun 2010.
PENGALAMAN TEMPUR
AMX-30 Qatar bertempur selama Perang Teluk di Pertempuran Khafji, di mana pada tanggal 30 Januari 1991 mereka melakukan serangan balik dalam upaya untuk merebut kembali kota Khafji dari pasukan Irak yang telah mendudukinya malam sebelumnya. Selama pertempuran tersebut, AMX-30 Qatar melumpuhkan tiga T-55 Irak dan merebut empat tank lagi. Dua AMX-30 Qatar diketahui hancur selama pertempuran. Sementara itu, partisipasi Prancis dalam Perang Teluk Persia, dengan nama sandi Opération Daguet, telah menyebabkan pengerahan Divisi 6e Légère Blindée (“Divisi Lapis Baja Ringan ke-6”), yang selama konflik disebut sebagai Divisi Daguet. Selama operasi sebagian besar komponen kekuatan lapis bajanya Prancis disediakan oleh kendaraan tempur AMX-10RC dari resimen pengintai kavaleri, tetapi unit lapis baja berat, 4e Régiment de Dragons (“Resimen Dragoon ke-4”) juga dikirim ke wilayah tersebut dengan tambahan kekuatan 44 tank AMX-30B2. Secara eksperimental, struktur organisasi resimen baru digunakan, dengan tiga skuadron yang terdiri dari tiga belas tank, satu tank komando dan enam kendaraan cadangan, bukannya 52 unit tank seperti kekuatan normalnya saat itu. Juga enam unit AMX-30B yang lebih tua dikerahkan, yang dilengkapi dengan roller ranjau buatan Soviet yang disediakan oleh Jerman dari stok bekas Jerman Timur, dan oleh karenanya tipe ini diberi nama AMX 30 Demin. Semua kendaraan diawaki oleh kru profesional, tanpa personel wajib militer. Divisi Daguet ditempatkan di sebelah Barat dari pasukan Koalisi, untuk melindungi sayap kiri dari Korps Lintas Udara ke-XVIII AS. Disposisi ini memberi komandan Prancis otonomi yang lebih besar, dan juga mengurangi kemungkinan mereka untuk bertemu dengan tank T-72 Irak, yang lebih unggul baik terhadap AMX-10RC maupun AMX-30B2.



Dengan dimulainya serangan darat tanggal 24 Februari 1991, pasukan Prancis bergerak untuk menyerang target pertamanya, “Objective Rochambeau“, yang dipertahankan oleh sebuah brigade dari Divisi Infanteri ke-45 Irak. Sebuah serangan oleh helikopter-helikopter Gazelle membuka jalan bagi serangan oleh 4e Régiment de Dragons. Demoralisasi oleh pemboman berat pasukan koalisi, membuat tentara Irak yang bertahan dengan cepat menyerah. Hari berikutnya, 4e Dragons melanjutkan perjalanan ke tujuan mereka berikutnya, “Objective Chambord“, di mana mereka melaporkan menghancurkan sepuluh tank, tiga BMP, lima belas truk dan lima unit mortir dengan bantuan dari pesawat-pesawat A-10 Thunderbolt II USAF, dan menangkap banyak tahanan. Tujuan terakhir adalah pangkalan udara As-Salman (“Objective White“), yang dilaporkan telah direbut pada pukul 18:15, setelah melancarkan serangan dari berbagai arah, dengan 4e Dragons menyerang dari arah selatan. Secara keseluruhan, armada tank AMX-30 Prancis menembakkan 270 peluru meriam utamanya dalam perang itu. Pada 2015, AMX-30 Arab Saudi bersama dengan tank-tank M1 Abrams telah dikerahkan di perbatasan dengan Yaman. Dua di antaranya diketahui hancur pada tahun 2015.

SPESIFIKASI
Bobot : 36 ton (40 short ton; 35 long ton)
Panjang : 9.48 m (31 ft 1 in) (meriam mengarah kedepan)
Lebar : 3.1 m (10 ft 2 in)
Tinggi : 2.28 m (7 ft 6 in)
Kru : 4 (komandan, penembak, pengisi peluru, pengemudi)
Lapisan Armor : 80 mm (3.1 in) maksimum
Meriam utama : Meriam tank kaliber 105 mm Modèle F1
Persenjataan tambahan :
1× kanon otomatis F2 kaliber 20 mm
1× senapan mesin NF1 kaliber 7.62 mm
Mesin : Hispano-Suiza HS-110 multi-fuel berkekuatan 680 hp (510 kW)-720 hp (540 kW)
Perbandingan tenaga/bobot : 18.9 hp/ton
Sistem Transmisi :
Manual pada AMX30B
SESM ENC200 Semi-otomatis pada AMX-30B2
Suspensi : Torsion bar dengan shock absorbers
Jangkauan Operational : 600 km (370 mi)
Kecepatan Maximum : 65 km/h (40 mph)
Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
https://en.m.wikipedia.org/wiki/AMX-30
AMX-30
http://www.army-guide.com/eng/product146.html
The French AMX-30 Tank, tanknutdave
AMX-30 Main battle tank
http://www.military-today.com/tanks/amx_30.htm
AMX 30
https://www.globalsecurity.org/military/world/europe/amx-30.htm
AMX-30 Main Battle Tank
