Tomcat Killer: Dassault Mirage F1, Seri Mirage Yang Terlupakan

Pesawat tempur bersayap delta Dassault Mirage III dan 5 asal Prancis adalah pesawat yang sangat baik dan dibuat dalam jumlah besar, tetapi konfigurasi sayap delta mereka memberi mereka batasan kemampuan yang jelas, seperti jarak lepas landas yang panjang dan kelincahannya yang terbatas. Pada akhir tahun 1960-an, perusahaan Dassault memutuskan untuk mengembangkan pesawat baru setelah seri Mirage III / 5 dengan pesawat tempur berteknologi baru namun berkonfigurasi lebih konvensional. Hasilnya adalah pesawat tempur “Mirage F1″, yang terbukti berhasil dan 720 pesawat Mirage F1 telah diproduksi (426 diantaranya diekspor ke negara lain). Meskipun tidak selaku pendahulunya yang bersayap delta, Mirage F1 tetap tercatat menjadi salah satu desain pesawat tempur yang paling teruji dalam pertempuran di masa Perang Dingin.

Meskipun tidak seterkenal dan sesukses Mirage III / 5 dari sisi ekspor, namun Mirage F1 tercatat sebagai salah satu desain pesawat tempur yang paling teruji dalam pertempuran di masa Perang Dingin. (Sumber: https://www.flying-tigers.co.uk/)

LATAR BELAKANG DESAIN

Pada awal tahun 1960-an ditengah rencana untuk Prancis mengumumkan niatnya menarik diri dari organisasi militer terintegrasi NATO tahun 1966, angkatan udara Prancis, Armee de l’Aire (AA), mulai mencari penerus pesawat tempur bersayap delta Dassault Mirage III, dengan mencoba mengkreasi sebuah pesawat pencegat berkecepatan tinggi dan pesawat serang yang mampu terbang di ketinggian rendah, atau kalau mungkin bisa melakukan kedua pekerjaan itu sekaligus. Kebutuhan Angkatan Udara Prancis saat itu adalah sebuah pesawat untuk menggantikan Mirage III, dan sekaligus mampu mendarat dengan kecepatan yang lebih lambat. Pihak Angkatan Udara merancang spesifikasinya untuk mampu menyusup di ketinggian rendah dalam segala cuaca pada tahun 1963. Pesawat itu, mereka tetapkan untuk memiliki kemampuan intersepsi supersonik, dapat menggunakan landasan pendek dan kasar dengan kecepatan kurang dari 140 knot (260 km / jam). Pesawat itu juga perlu mengakomodasi dua faktor operasional mendasar, yakni: memiliki radius tempur lebih jauh, dan jarak lepas landas dan pendaratan yang lebih pendek sehingga membebaskannya dari keharusan menggunakan landasan pacu yang mudah dikenali dan terbuka yang lebih besar – dengan biaya serendah mungkin. Saat itu keluarga pesawat tempur sayap delta Mirage III mengharuskan pilot harus mendekat dan mendarat dengan kecepatan tinggi. Untuk memenuhi spesifikasi itu, dibuatlah beberapa konstruksi prototipe oleh perusahaan Dassault, termasuk pesawat tempur bersayap delta “Mirage IIIT” dengan mesin turbojet bypass baru yang secara substansial meningkat kemampuannya;”Mirage IIIV” sebuah pesawat yang bisa lepas landas vertikal, yang tidak lain adalah turunan dari pesawat sayap delta Mirage III dengan ditambahi tidak kurang dari delapan mesin liftjet Rolls-Royce selain menggunakan mesin bypass turbojet; dan pesawat tempur dengan sayap geometri variabel “Mirage G8″, dengan badan pesawat seperti Mirage III yang diperkecil, tetapi permukaan ekor konvensionalnya menyudut dan memiliki “sayap ayun” yang dipasang tinggi. Tak ada satu pun dari desain ini yang kemudian diproduksi. Mirage IIIV akan menjadi proyek gagal. AU Prancis sendiri memiliki harapan besar pada prototype Mirage G8, tetapi program tersebut akhirnya dihentikan pada pertengahan tahun 1970-an karena peningkatan biaya dan kecurigaan, yang berdasar pada kenyataannya, bahwa teknologi sayap variabel geometri sudah tidak lagi relevan. Meskipun AA sempat berfokus pada prototype Mirage G8, tapi AU Prancis ini juga memiliki alternatif solusi yang lebih sederhana, yakni “Mirage F2″ (aslinya “Mirage IIIF2”), yang pada dasarnya adalah G8 tanpa sayap ayun, yang menampilkan sayap sayung yang dipasang tinggi dengan perangkat high lift. Penerbangan pertama dari F2 dilakukan pada tanggal 12 Juni 1966, dengan Jean Coreau sebagai pilotnya. Mirage F2 adalah semacam jawaban Prancis untuk pesawat serang British BAC TSR.2, yang sedang dalam pengembangan, tetapi tidak seambisius pesawat Inggris itu. F2 didukung oleh mesin turbojet bypass afterburning P&W TF30 buatan AS, yang menyediakan daya dorong afterburning sebesar 82,4 kN (8.400 kgp / 18.520 lbf).

Mirage IIIV, salah satu prototype buatan Dassault yang mampu lepas landas secara vertikal. (Sumber: https://www.dassault-aviation.com/)
Prototype Mirage G8 yang memiliki desain sayap ayun. (Sumber: https://www.dassault-aviation.com/)

Mesin varian produksi akan didukung oleh varian mesin TF30 buatan SNECMA yang kemampuannya telah ditingkatkan, yakni TF306. Prototipe itu kemudian dipasang kembali dengan mesin TF306, yang memberikan kekuatan dorong afterburning sebesar 88,3 kN (9.000 kgp / 19.845 lbf). Kemudian pada tahun 1966, pesawat prototype ini segera menembus kecepatan Mach 2 dalam penerbangan mendatar. Dassault juga melakukan diversifikasi mereka sendiri, dengan merancang versi pencegat F2 yang agak diperkecil, yakni “Mirage F3″, dan versi multiperan ringan, “Mirage F1”. Dassault mendanai pembangunan prototipe awal F1, yang melakukan penerbangan pertamanya pada tanggal 23 Desember 1966 dengan Rene Bigand sebagai pilotnya. Pesawat ini memecahkan rekor kecepatan Mach 2 pada awal bulan Januari 1967. Pada saat itu, petinggi AA telah memutuskan bahwa mereka sudah memiliki banyak pesawat serang dan tidak membutuhkan tipe F2, tetapi ada kebutuhan besar untuk sebuah pesawat pencegat. Secara sepintas lalu, Mirage F3 mungkin dianggap sebagai solusi yang tepat, tetapi pada bulan Februari keputusan diambil untuk mendapatkan seratus tipe F1, dengan keputusan tersebut diresmikan pada bulan Maret dan kemudian diumumkan pada akhir Mei di Paris Air Show. Sayangnya, Dassault tidak dapat memamerkan prototipe F1 di pameran udara tersebut, karena prototype-nya telah rusak dalam penerbangan akibat flutter pada tanggal 18 Mei, dan Bigand terbunuh dalam peristiwa itu. Bagaimanapun tragedi itu tidak banyak menunda program F1, dengan kontrak untuk tiga pesawat praproduksi F1 diberikan pada bulan September. Persisnya alasan mengapa AA akhirnya memilih mengakuisisi F1 dan bukan F3 masih belum jelas – mungkin karena memiliki harga yang lebih menarik, tetapi mungkin juga merupakan pengakuan di kalangan pemerintah bahwa pesawat F1 yang berkemampuan multiperan memiliki fleksibilitas dan potensi ekspor yang lebih besar daripada yang versi pesawat yang kemampuannya spesifik seperti pencegat F3.

Prototype pesawat serang Mirage F2. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Prototype pesawat multiperan Mirage F1 01. (Sumber: https://www.dassault-aviation.com/)

Bagaimanapun, meskipun prototipe F3 masih dalam proses pembuatan, program ini ditinggalkan pada tahun 1967. Yang pertama dari tiga pesawat praproduksi, yang dinamai “Super Mirage F1”, melakukan penerbangan pertamanya pada tanggal 20 Maret 1968, dengan Jean-Marie Saget sebagai pilot. Yang kedua mengudara pada tanggal 18 September 1969, dengan yang ketiga menyusul pada tanggal 17 Juni 1970. Pesawat F1 praproduksi pertama sekarang disimpan di Musee de l’Air di Le Bourget. AA menempatkan pesanan produksi untuk varian pencegat “Mirage F1C” pada tahun 1969, “C” adalah singkatan dari “chasse (pesawat pemburu)”. Jenis ini memasuki dinas operasional awal pada tahun 1974. Meskipun F1C di AU Prancis terutama ditujukan sebagai pesawat pencegat, pesawat ini juga memiliki kemampuan serang darat sekunder. AA akhirnya memperoleh 162 unit F1C. Skuadron ke-71 memperkenalkan perangkat penerima peringatan radar (RWR) Thomson-CSF BF dengan antena di bagian belakang F1-nya, sedangkan Skuadron ke-84 memperkenalkan perangkat plug pada badan pesawat sepanjang 8 sentimeter (3,15 inci) yang dipasang langsung di depan kokpit untuk mengakomodasi probe pengisian bahan bakar udara tetap yang dapat dilepas, yang ada di sebelah kanan. F1C dengan probe pengisian bahan bakar kemudian diberi nama “Mirage F1C-200”. Mereka dimaksudkan untuk dapat dikerahkan dalam jarak jauh. AA kemudian juga memperoleh 64 pesawat pengintai “Mirage F1CR”, dengan tipe ini mulai beroperasi pada tahun 1983, dan 20 pesawat latih “Mirage F1B” dengan kursi tandem, dengan “B” berarti “biplace (dua tempat duduk)”.

DESKRIPSI DESAIN MIRAGE F1

“Euro-jokes” cenderung beredar tentang kekhasan dari teknologi Prancis, tetapi hanya sedikit yang bisa mencela Mirage F1 dari penampilan, garisnya yang bersih dan pendekatan desainnya yang sederhana, atau efektivitasnya. F1 sendiri didasarkan pada badan pesawat Mirage 5, dengan beberapa penyempurnaan, yang dikawinkan dengan sayap swept wing baru yang dipasang tinggi dan dilengkapi dengan ekor (bukan pure delta wing seperti Mirage III / 5). Badan Mirage F1C sebagian besar dibuat dari paduan aluminium alloy, dengan penggunaan substansial dari konstruksi sandwich “sarang lebah”, serta beberapa menggunakan baja dan titanium. Pesawat ini ditenagai oleh mesin turbojet afterburning tunggal SNECMA Atar 09K50, yang berasal dari Atar 09K yang digunakan pada pembom bermesin ganda Dassault Mirage IV. Atar 09K50 memberikan daya dorong maksimum 49,03 kN (5.000 kgp / 11.025 lbf) dan daya dorong afterburning 70,21 kN (7.160 kgp / 15.785 lbf); mesin ini lebih dapat diandalkan dan memiliki daya dorong dan penghematan bahan bakar yang lebih baik daripada mesin seri Atar 09C yang digunakan pada Mirage III / 5. Intake mesin memiliki konfigurasi bentuk “dee”, dengan perangkat berbentuk setengah kerucut yang terpasang pada saluran masuk udara yang dapat digerakkan dan dikenal sebagai “souris (tikus)” . Perangkat ini dapat ditemukan pada jenis Mirage lainnya (seperti Mirage 2000) untuk menyediakan saluran masuk udara variabel. Terdapat juga saluran masuk pegas kecil tambahan di bawah setiap inlet mesin. Penempatan tangki bahan bakar internal diatur di sekitar ruang mesin. Kemudahan perawatan rupanya tidak menjadi prioritas dalam desain, karena mesin F1 hanya dapat dibagi menjadi beberapa modul untuk perawatan di tingkat depo, sehingga membatasi kemampuan perawatannya di lapangan.

Mesin SNECMA Atar 09K50, yang menjadi sumber tenaga Mirage f1. (Sumber: https://www.aeronautique.ma/)

F1C menampilkan sayap sayung dengan spar ganda yang dipasang tinggi dengan aileron, flap tepi bagian depan terbelah, dengan penutup pada tepi belakang berlubang ganda, dan terdapat spoiler berlubang kembar di bagian atas sayap di depan flap tepi trailing. Flap terdepan dapat digunakan untuk meningkatkan kelincahan terbang pesawat, serta untuk menurunkan kecepatan saat lepas landas dan mendarat. Sayapnya juga memiliki tangki bahan bakar internal, yang membantu meningkatkan kapasitas bahan bakar dari pesawat. Bagian ekor F1 menggunakan konfigurasi konvensional, dengan ekor tunggal yang dapat bergerak, ditambah sirip kembar di bawah ekor. Sirip ekor kembar ini tidak dipasang pada prototipe pertama yang bernasib buruk atau, pada versi praproduksi pertama. Terdapat rem udara berlubang ganda yang digerakkan secara hidraulik di bawah intake engine dan ditambah parasut rem di fairing pada bagian dasar sirip ekor. Roda pendaratan pada bagian hidung dapat ditarik ke belakang sementara roda utama ditarik arah ke depan, berputar dan menyelip dengan rapi ke dalam badan pesawat. Kedua roda utama semuanya memiliki roda ganda, yang membantu memberikan F1C kemampuan beroperasi dengan baik di medan kasar. Pilot duduk di bawah cangkang kanopi yang berengsel ke belakang, dengan kursi lontar Martin-Baker Mark 4 buatan Prancis, yang dapat beroperasi di atas permukaan tanah tetapi membutuhkan kecepatan pesawat minimum 167 KPH (90 KT) untuk bisa terlontar dengan aman. Kursi lontar ini ditembakkan menembus kanopi. Versi Mark 4 ini nantinya akan ditingkatkan ke standar Mark 6 atau Mark 10 dengan memasang sistem pendorong roket untuk memberikan kemampuan “zero-zero” (bisa digunakan di ketinggian nol, dan kecepatan nol). Pandangan pilot ke arah depan dari kokpit cukup memadai, tetapi penglihatan ke arah belakang kurang begitu bagus.

Cutaway dari desain Mirage F1. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Avionik di kokpit F1 terhitung primitif menurut standar era sekarang. Perangkat dasarnya termasuk sistem navigasi TACAN, radar altimeter, datalink sederhana untuk intersepsi yang dikendalikan darat darat, sistem instrumen pendaratan, radio VHF-UHF, dan transponder identifikasi kawan atau lawan (IFF). Sebuah radar monopulse multimode Thomson-CSF Cyrano IV dipasang. Radar Cyrano IV ini adalah versi perbaikan dari radar Cyrano II yang digunakan dalam Mirage III, dengan jangkauan sekitar dua kali lipat lebih jauh. Varian radar Cyrano IV-0 yang awalnya dipasang ke F1C hanyalah radar untuk pertempuran udara, dengan kemampuan menjejak target tunggal, tetapi secara berturut-turut kemampuan radar ini ditingkatkan menjadi: 

  • Cyrano IV-1, dengan kemampuan menjejak target bergerak (MTI) untuk memberikan kemampuan “melihat ke bawah” untuk mendeteksi pesawat terbang rendah dalam tanah yang berkontur. Namun, pilot Mirage F1 melaporkan bahwa radar tersebut rentan saat mengalami panas berlebih, yang mengurangi efisiensinya.
  • Cyrano IV-2, dengan kemampuan tempur udara-ke-darat yang terbatas. 
  • Terakhir, radar multiperan Cyrano IVM dengan kemampuan track-while-scan dan kemampuan serangan darat yang ditingkatkan. Cyrano IVM memiliki jangkauan deteksi antara 0,4-111,11 km.
Unit Radar Thomson CSF Cyrano IV. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

F1C dipasangi dengan radome hidung panjang seperti yang ada pada pesawat tempur bersayap delta Mirage 50; sementara prototipe awalnya menampilkan radome seperti pada Mirage IIIE. BF RWR yang dipasang pada F1C produksi selanjutnya memiliki fairing berbentuk “pena” di bagian depan dan di belakang sirip ekor. BF memberikan peringatan audio dan memberikan arahan umum mengenai adanya ancaman dengan menggunakan satu set lampu pada tampilan dasbor. Perangkat ini memiliki kemampuan terbatas untuk menunjukkan indentifikasi umum dari kelas radar. Tidak ada sistem countermeasures built-in yang disertakan pada desain pesawat ini sejak awal, tetapi terdapat dispenser flare chaff Phimat yang dapat dibawa di bawah satu sayap, dengan pod jammer aktif dibawa di bawah sayap lainnya. Pod flare chaff Phimat bisa, dan tampaknya sering digunakan, kemudian diganti dengan dispenser flare Lacroix yang dipasang pada fairing parasut rem, menggantikan parasut yang ada. Dispenser flare chaff yang kemampuannya ditingkatkan kemudian diperkenalkan, terutama seperti dispenser Matra Corail, dalam bentuk gondola yang dapat dipasang di bawah sayap di sebelah badan pesawat. Berbagai pod jammer juga dibawa, meskipun tipe detailnya kurang begitu jelas. Tampaknya pesawat yang dioperasikan AA awalnya membawa pod jammer Dassault Barax, yang kemudian digantikan oleh pod Barracuda Thomson-CSF yang lebih mumpuni. 

Kanon DEFA 30 mm. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Persenjataan built-in yang dipasang pada pesawat terdiri dari kanon kembar jenis revolver DEFA 30 kaliber milimeter, yang menembakkan dari bawah perut agak di belakang intake mesin. Kanon ini memuat maksimum 135 peluru per senjata. Ada tiang pylon di bagian tengah badan yang dapat membawa beban hingga 2.100 kilogram (4.630 pon), dan pylon di bawah setiap sayap yang masing-masing bisa membawa beban hingga 1.300 kilogram (2.865 pon). Ketiganya memungkinkan untuk mengangkut tangki bahan bakar eksternal. Sementara itu Pylon pendek yang mampu membawa beban berbobot 550 kilogram (1.215 pon) dapat dipasang di bawah setiap sayap luar, dengan pylon ini sering membawa pod countermeasures seperti yang telah dijelaskan di atas, selain itu ada juga rel peluncuran yang mampu membawa beban hingga 150 kilogram (330 pon) untuk rudal udara-ke-udara pencari panas (AAM) Matra 550 Magic (jangkauan rudal 0.3 sampai 15 km) di ujung sayap, yang kemudian secara total memberikan tujuh tempat di pesawat untuk menggotong muatan eksternal. Beberapa rak ejektor dapat dipasang pada pylon tengah badan dan pylon sayap utama untuk meningkatkan jumlah amunisi yang dibawa. Beban eksternal maksimum yang dapat dibawa oleh F1 adalah sebesar 4.000 kilogram (8.800 pon). Bawaan tipikal yang bisa dibawa termasuk: Tangki bahan bakar eksternal yang dibawa di sayap / bagian tengah tengah badan berkapasitas 1.200 liter (317 galon AS), atau tangki yang dipasang di pylon tengah berkapasitas 2.200 liter (580 galon AS).

Konfigurasi muatan tempur Mirage F1. (Sumber: http://www.airvectors.net/)
Berbagai bom pintar yang bisa dibawa Mirage F1. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Rudal Matra 550 Magic. (Sumber: http://www.loneflyer.com/)

Dua rudal Matra 550 Magic AAM, dengan satu di setiap rel ujung sayap. Dua AAM jarak jauh pada pylon underwing utama, rudal ini awalnya adalah AAM radar semi-aktif tipe Matra 530 tetapi kemudian diganti dengan tipe Matra Super 530 (jangkauan 25-40 km tergantung varian), yang pada dasarnya merupakan senjata yang sama sekali baru dan jauh lebih mumpuni dan tidak memiliki kemiripan nyata dengan versi 530 asli. Serangkaian amunisi serangan darat tanpa pemandu juga dapat dibawa, seperti pod roket standar SNEB kaliber 68 milimeter, berbagai bom “besi”, bom cluster Belouga dengan parasut di bagian belakang, bom penghancur landasan pacu yang diperkuat dengan roket tipe Durandal, bom penghancur landasan pacu BAT 100, bom fragmentasi anti-armor BAP 120, dan seterusnya. Salah satu bawaan yang sangat menarik adalah multistore CEM-1, yang menampilkan peluncur roket tanpa pemandu 18 peluru kaliber 68 milimeter di bagian depan dan di bagian belakang untuk membawa dua bom Durandal atau enam bom BAT 100. Munisi “pintar”, yang dapat dibawa adalah seperti rudal anti-radar AS-37 ARMAT, yang diangkut di pylon tengah; atau bom berpemandu laser (LGB) atau rudal berpemandu laser AS-30L (jangkauan 3-11 km), yang memerlukan panduan dari pod penjejakan target laser ATLIS yang dipasang pada pylon tengah. Pod penargetan biasanya dibawa oleh pesawat dua kursi, dengan awak di kursi belakang bertugas memandu munisi pintar sementara pilot menerbangkan pesawat, tetapi pod ATLIS menampilkan kemampuan penguncian target yang memungkinkan pilot untuk memilih target dan kemudian berfokus dalam menerbangkan pesawat sementara pod itu sendiri akan mengarahkan rudal ke sasaran. Pod pengintai, seperti RP-35P, yang merupakan tangki bahan bakar dengan kamera film di bagian hidung juga dapat dibawa. Karena AA memiliki varian pengintaian F1CR, F1C biasanya hanya membawa pod pengintai ketika ditempatkan di luar negeri dalam jumlah kecil.

Rudal jarak menengan Matra Super 530. (Sumber: https://combatace.com/)
Rudal anti radar AS-37 ARMAT. (Sumber: http://www.loneflyer.com/)
Rudal berpemaandu laser AS-30L. (Sumber: http://aviateurs.e-monsite.com/)
Bom penghancur landasan Durandal. (Sumber: https://elements.envato.com/)

F1C dirancang agar mudah dirawat dan memiliki kemampuan sortie pengoperasian tinggi. Awalnya, tingkat kesiapan terbang dari tipe ini tidaklah mengesankan tetapi masalah yang ada berhasil diselesaikan dalam beberapa tahun, dan tipe pesawat ini kemudian memperoleh reputasi yang baik dalam hal keandalannya. Dalam dinas operasional AA, F1C umumnya dicat dengan skema warna superioritas udara, dengan warna abu-abu biru tua di bagian atas dan abu-abu muda di bagian bawah. Selama pengoperasiannya di wilayah Afrika, warna abu-abu biru tua diganti dengan pola warna kamuflase pasir / cokelat di bagian atas, sementara tetap mempertahankan warna abu-abu terang di bagian bawah. Dalam perjalanannya Mirage F1 benar-benar dapat mengungguli kemampuan Mirage III, dengan kemampuan manuver yang lebih baik, jarak lepas landas yang 30% lebih pendek, dan approach speed yang 25% lebih lambat. F1 juga memiliki kapasitas bahan bakar internal 43% lebih besar dan bobot lepas landas maksimum 2,5 ton (5.510 pound) lebih besar dibanding Mirage III. Mirage F1CR yang digunakan AU Prancis umumnya mengikuti konfigurasi F1C-200 versi akhir, dengan probe pengisian bahan bakar, BF RWR, dan kursi lontar Martin Baker Mark 10 zero-zero yang telah dipasang sejak awal. Tipe pengintai (recon) ini menampilkan palka dengan port di bawah hidung untuk membawa kamera film panorama atau vertikal, dan imager SAT SCM2400 Super Cyclope infrared linescan (IRLS), yang dipasang di bagian bawah nacelle mesin kanan; untuk ini salah satu kanon DEFA harus dilepas untuk bisa menampungnya. IRLS dapat memberikan citra gambar real-time ke stasiun bumi melalui line-of-sight datalink. Dari tahun 1984, semua skuadron F1CR AA dilengkapi dengan stasiun analisis darat SARA (Systeme d’Aerotransportable de Reconnaissance Aerienne) yang dapat dipindah-pindahkan, dan terdiri dari delapan shelter. Mirage F1CR sering juga membawa pod radar udara tampak samping (SLAR) Thomson-CSF RAPHAEL-TH (RAdar de Photographie Aerienne ELectrique a Transmission Hertzienne) di pylon tengah, yang juga dapat menyampaikan data real time ke stasiun bumi. F1CR awalnya dilengkapi dengan radar Cyrano IVM, yang kemudian ditingkatkan ke varian Cyrano IVMR – yang mirip dengan Cyrano IVM tetapi dengan kemampuan mendukung seranganan darat yang telah ditingkatkan dan memiliki kemampuan navigasi penerbangan rendah – dan sebuah perangkat sistem navigasi inersia (INS) SAGEM ULISS 47. Sistem serang dan navigasi yang ditingkatkan memberi F1CR kemampuan serang darat sekunder yang cukup kuat, yang akan dimanfaatkan dengan baik oleh AA. F1CR awalnya diterbangkan dengan pola cat kamuflase berwarna hijau tua / abu-abu tua di bagian atas dan abu-abu terang di bagian bawah, meskipun untuk pengoperasian di Afrika mereka dicat ulang dengan warna kamuflase gurun yang sama digunakan pada F1C.

Mirage F1B yang berkursi ganda. (Sumber: https://www.airteamimages.com/)
Prototype Mirage F1.M53. (Sumber: http://www.aviastar.org/)

Pesawat latih konversi Mirage F1B memiliki kursi tandem, masing-masing di bawah kanopi clamshell berengsel belakang; badan pesawat diperpanjang 30 sentimeter (satu kaki) untuk mengakomodasi kokpit kedua. Selain tangki bahan bakar pesawat yang juga harus dikurangi, persenjataan kanon juga dilepas, meskipun pod kanon Dassault CC-420, dengan kanon DEFA kaliber 30 milimeter dan 180 pelurunya, pada prinsipnya dapat dibawa pada pylon di bawah sayap. Pesawat latih ini dilengkapi dengan radar Cyrano IV dan tipe ini juga dianggap mampu digunakan untuk bertempur. Awak udara duduk di kursi lontar Martin-Baker Mark 10 zero-zero. Mirage F1B tidak memiliki kemampuan pengisian bahan bakar di udara, tetapi bisa dilengkapi dengan probe tiruan untuk pelatihan dengan pesawat tanker. F1B tampaknya selalu dicat dengan skema kamuflase superioritas udara biru tua / abu-abu muda. Salah satu catatan yang menarik dari kisah Mirage F1 adalah bahwa pada tahun 1970-an salah satu pesawat ini dipasangi dengan mesin turbojet bypass afterburning SNECMA M53, yang menyediakan daya dorong afterburning 83,4 kN (8.500 kgp / 18.740 lbf). Pemasangan mesin M53 menuntut perubahan struktural, dengan lubang masuk udara yang lebih besar, dan roda pendaratan yang lebih kuat. Tampilan luarnya secara umum sama dengan F1 lainnya, meskipun badan pesawat lebih panjang sebesar 23 cm (9 inci) dan berat kosongnya meningkat sedikit di atas 8%. Tipe ini awalnya diberi nama “Mirage F1E” sampai kode ini digunakan sebagai kode varian ekspor multiperan dan kemudian versi unik ini diberi nama sebagai “Mirage F1.M53”. Penerbangan awal dari pesawat satu-satunya ini dilakukan pada tanggal 22 Desember 1974. Mirage F1.M53 mungkin awalnya hanya digunakan sebagai pesawat uji, tetapi pesawat ini juga dilihat sebagai pesaing yang mungkin digunakan untuk memenuhi persyaratan yang telah dikeluarkan oleh sejumlah negara Eropa Barat untuk mendapatkan pengganti pesawat tempur Lockheed F-104 Starfighter, yang saat itu telah digunakan secara luas tetapi sudah mulai menua. Namun, “kesepakatan besar yang mungkin bisa didapat ini” akhirnya digagalkan oleh kehadiran General Dynamics F-16, dan pengerjaan prototipe Mirage F1.M53 kedua, yang akan dilengkapi dengan kit avionik tempur multiperan penuh, dibatalkan. Sementara itu mesin M53 kemudian digunakan dalam seri pesawat tempur delta generasi kedua buatan Dassault, yakni Mirage 2000.

UPGRADE & OPERATOR MIRAGE F1

Mirage F1C milik AU Prancis. (Sumber: https://www.jetphotos.com/)

Karena Dassault telah punya pengalaman ekspor yang bagus dalam seri Mirage III / 5, tentu saja varian ekspor dari Mirage F1 juga ditawarkan. Penjualan yang didapat juga cukup baik, tetapi tidak dalam skala seperti yang dinikmati oleh seri Mirage III / 5. Mirage F1 adalah pesawat yang bagus dengan harga yang menarik, tetapi diikuti sedikit terlalu cepat oleh produk Dassault berikutnya, yakni Mirage 2000, yang jelas lebih unggul dalam banyak hal, dan dengan demikian menjadi lebih menarik bagi para pelanggan. Mirage F1 yang diekspor mencakup varian pencegat Mirage F1C standar dan F1B yang berkursi dua, serta pesawat tempur serang “Mirage F1A” dan pesawat multiperan “Mirage F1E”. Varian F1A ditujukan untuk digunakan di iklim tropis yang cerah di mana cuaca jarang menjadi penghalang untuk misi terbang tempur. Varian ini menampilkan karakteristik sebagai berikut:

  • Hidung ramping dengan radar Dassault Electronique Aida II yang ringan, biasanya digambarkan sebagai “ranging radar” – meskipun sebenarnya radar ini cukup mumpuni, dengan beberapa mode untuk pertempuran udara-ke-udara dan udara-ke-darat. Cuma radar itu dibatasi oleh antena tetap dengan bidang pandang yang sempit, dan hanya punya jangkauan sedang.
  • Probe pengisian bahan bakar dalam penerbangan yang dapat ditarik hingga ke sisi kanan hidung.
  • Sistem “Systeme d’Attaque au Sol (Sistem Serangan Darat)” yang dipadukan dengan penjejak laser Thomson-CSF TMV-630 dalam fairing yang rapi di bawah hidung dengan avionik navigasi inersia, prosesor digital, ditambah tampilan head-up-display ( HUD) dan tampilan head-down moving map display.
Mirage F1E AU Spanyol. (Sumber: https://commons.wikimedia.org/)

Karena F1 pada awalnya dirancang sebagai pesawat tempur multiperan dan ditugaskan di AU Prancis sebagai pesawat pencegat, tidak banyak perbedaan antara F1C dan seri F1E varian ekspor, kecuali untuk radar Cyrano IVMR yang kemampuannya ditingkatkan yang dipasang pada varian pengintaian F1CR . Faktanya, beberapa negara pengguna ekspor memperoleh versi F1E yang merupakan F1C, dan yang lebih membingungkan, beberapa pesawat ekspor dengan sebutan F1A juga merupakan F1E. Beberapa pengguna juga mendapatkan “F1D” versi dua tempat duduk yang mirip dengan F1B, tetapi dilengkapi dengan radar Cyrano IVMR. Biasanya ada variasi kecil (terkadang bisa cukup banyak juga) dalam beberapa perangkat untuk setiap negara pengguna, karena Dassault mengadopsi sikap “pelanggan selalu benar”. Misalnya, Mirage F1 yang diadopsi oleh beberapa pengguna, termasuk Libya dan Irak, memiliki ekstensi pada sirip ekor depan untuk pemasangan antena radio HF yang terlihat pada beberapa versi ekspor Mirage III / 5. Variasi lain dalam bidang avionik termasuk Thomson-CSF SHERLOC digital RWR yang canggih, dengan fairing antena persegi panjang yang khas pada tailfin. Pengguna ekspor juga sering mendapatkan pod pengintai – AA adalah satu-satunya pengguna yang mendapatkan varian pengintaian khusus Mirage F1, dalam bentuk F1CR – yang termasuk diantaranya adalah sebagai berikut: 

  • Pod Dassault HAROLD dengan kamera film optik jarak jauh (LOROP).
  • Pod Dassault NORA, dengan pencitraan elektro-optik, dan pod Syriel Thomson-CSF TMV 018 yang setara. 
  • Pod Dassault COR-2, yang berisi satu set kamera film, termasuk kamera panorama, dan Super Cyclope IRLS.
Versi pengintai khusus milik AU Prancis Mirage F1CR. (Sumber: https://www.pinterest.ch/)

Beberapa pengguna mendapatkan perangkat Intertechnique buddy tanker pod, versi buatan Prancis dari desain rancangan Douglas AS (yang tampaknya tidak digunakan oleh Mirage F1 AU prancis), sehingga dapat menjalankan peran sebagai pesawat tanker. Meskipun para pengguna ekspor sering membeli persenjataan asal Prancis seperti rudal Magic dan Super 530 AAM, mereka juga bisa menggunakan persenjataan buatan negara lain, seperti rudal Sidewinder asal Amerika, atau amunisi buatan mereka sendiri. Sementara itu, negara pembeli dari Mirage F1 termasuk negara berikut ini: 

Ekuador: 16 versi multiperan F1JA + 3 F1JE dengan dua tempat duduk (total 19 pesawat). Varian F1JA Ekuador sebenarnya adalah versi dari F1E, bukan F1A; pengiriman awal pesawat pesanan dilakukan pada tahun 1978, dengan pengiriman terakhir pada tahun 1980. F1 Ekuador dicat dengan skema kamuflase disruptif berwarna coklat tua / hijau tua, dengan perut abu-abu. F1JA telah ditingkatkan kemampuannya dengan bantuan Israel pada akhir 1980-an dan awal 1990-an, dan mampu membawa perlengkapan serang asal Israel. Ekuador sendiri telah kerap bertikai di perbatasan dengan Peru selama beberapa dekade, tetapi setelah perjanjian damai yang memuaskan pada tahun 1998, Ekuador mulai mengurangi kekuatannya; Mirage F1 negara itu berhenti beroperasi pada tahun 2011. 

Mirage F1JA Ekuador selama latihan bersama AS / Ekuador “Blue Horizon ’86”. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Yunani: 40 pesawat versi F1CG. Mirage F1CG Yunani dikirim pada tahun 1975 dan 1978. Mereka diperoleh dalam keadaan mendesak karena ketegangan tinggi dalam konflik mereka dengan Turki, sehingga beberapa Mirage F1C yang dimaksudkan untuk AU Prancis telah dialihkan ke Yunani sebagai gantinya. F1 Yunani tidak dikirim bersama dengan sistem RWR, tetapi kemudian dipasangi peralatan AN / ALR-66 RWR buatan AS. F1 Yunani mampu membawa rudal Sidewinder, pada pylon sayap luar, memungkinkan total empat rudal yang dapat dibawa. AU Yunani tidak mendapatkan versi dua kursi. F1 Yunani terakhir dipensiunkan pada tahun 2003. 

Mirage F1CG AU Yunani. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Irak: 93 versi multiperan F1EQ + 15 F1BQ versi dua tempat duduk (total diterima 108 pesawat). Pesawat-pesawat ini dikirim dari tahun 1980 hingga 1988, untuk digunakan oleh Irak dalam perang Iran-Irak. Lebih banyak lagi telah dipesan tetapi tidak dikirim karena Irak tidak punya uang pada saat itu, dengan akhirnya yang tidak terkirim ini diembargo setelah Krisis Teluk tahun 1990-1991. F1EQ Irak dikirim dalam lima versi/blok dan tidak semuanya memiliki spesifikasi yang sama. Dua blok pertama, yang terdiri dari 32 pesawat, tidak memiliki probe pengisian bahan bakar di dalam pesawat, sedangkan sisanya, 61 pesawat, memilikinya. 38 pesawat terakhir telah dikonfigurasi untuk mampu membawa rudal antikapal buatan Prancis Aerospatiale AM39 Exocet. Beberapa sumber mengklaim bahwa pesawat ini dilengkapi dengan radar Agave yang dioptimalkan untuk menembakkan rudal Exocet, tetapi yang lain bersikeras bahwa hal ini tidak benar dan mereka tetap mempertahankan radar Cyrano IVM, dengan beberapa perubahan kecil untuk kompatibilitas penggunaan Exocet. 18 pesawat terakhir dari seri ini memiliki SHERLOC digital RWR, bukan BF RWR seperti yang dipasang pada F1EQ lainnya. Semua Mirage F1 Irak, termasuk versi dua tempat duduk, memiliki fillet sirip ekor untuk pemasangan antena HF, dan umumnya dicat dengan kamuflase cokelat-pasir di bagian atas, dengan abu-abu terang di bagian bawah. F1EQ yang kompatibel dengan Exocet adalah pengecualian, namun, menampilkan skema warna maritim yang rapi dari biru batu di atas dan abu-abu muda di bawah. Mirage F1 Irak umumnya membawa persenjataan buatan Prancis, seperti rudal Matra Magic dan Super 530; pod roket kaliber 68-milimeter dan 100-milimeter; Rudal Exocet dan ARMAT; dan rudal AS-30L, bersama dengan pod penargetan ATLIS. Prancis telah menghentikan pengiriman rudal AS-30L pada tahun 1988 untuk sementara waktu, dengan Irak kemudian memodifikasi F1EQ & pod ATLIS untuk bisa membawa rudal berpemandu laser buatan Soviet X29L (NATO AS-14 “Kedge”) yang setara. Dikatakan bahwa Irak juga memasang probe pengisian bahan bakar penerbangan dari F1C-200 ke Mikoyan MiG-23 Flogger mereka! Armada F1EQ Irak kemudian berakhir di tangan Iran pada 1991. 

Mirage F1BQ AU Irak. (Sumber: https://www.kaskus.co.id/)

Yordania: 17 F1CJ + 17 pesawat multiperan F1EJ + 2 F1BJ dua tempat duduk (total 35 pesawat). Semua pembelian pesawat ini didanai oleh Arab Saudi, dengan pengiriman awal dilakukan pada tahun 1981 dan pengiriman terakhir pada tahun 1983. F1CJ dicat dengan skema abu-abu superioritas udara dua warna, sedangkan F1EJ dicat dengan pola kamuflase gurun tiga warna yang. Bersama dengan rudal Matra Magic dan Super 530 AAM, Yordania juga memperoleh rudal berpemandu laser AS-30L. 

Sebuah Mirage F1EJ Yordania terbang formasi dengan F-16 Fighting Falcon Amerika di atas Irak, 1996. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Kuwait: 27 pesawat multiperan F1CK + 6 F1BK dua tempat duduk (total 33 pesawat). Mirage F1 Kuwait disediakan dalam dua batch, satu dengan pengiriman awal pada tahun 1977 setelah bentrokan perbatasan dengan Irak pada tahun 1973, dan yang kedua dengan pengiriman awal pada 1983. Pesawat pada batch pertama dicat dengan skema kamuflase gurun, dengan Pola kamuflase pasir / coklat muda di bagian atas dan abu-abu muda di bawahnya, sedangkan kelompok kedua memiliki warna abu-abu superioritas udara yang rapi. F1CK Kuwait pada dasarnya adalah F1E, bukan F1C. Mereka umumnya mengganti BAC Lightning buatan Inggris di Kuwait, yang menurut orang-orang Kuwait terlalu sulit untuk dirawat dan sebenarnya tidak semuanya sesuai dengan kebutuhan mereka. F1 Kuwait dipensiunkan setelah Perang Teluk, untuk digantikan oleh McDonnell Douglas F / A-18 Hornet. 

Mirage F1CK Free Kuwait. (Sumber: http://miragec14.blogspot.com/)

Libya: 16 jet tempur F1AD + 16 versi multiperan F1ED + 6 F1DD dua kursi (total 38 pesawat). Libya adalah satu dari dua negara, bersama dengan Afrika Selatan, yang mendapatkan pesawat tempur F1A untuk digunakan di cuaca cerah. Semua F1 Libya dikirim pada tahun 1978-1979, dan dicat dengan kamuflase disruptif berwarna cokelat / hijau di bagian atas dan abu-abu muda di bagian perut. 

Mirage F1AD AU Libya. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Maroko: 30 versi multiperan F1CH & 20 F1EH (total 50 pesawat). Pengiriman pesanan dilakukan dari tahun 1977 hingga 1980, dengan pesawat menampilkan kamuflase gurun pasir dan hijau dengan pola disruptif di bagian atas, dengan abu-abu muda di bagian bawah. Maroko tidak mendapatkan versi dua kursi. F1 Maroko umumnya dipersenjatai dengan amunisi dan rudal Prancis, tetapi mereka memiliki beberapa keunikan, termasuk pemasangan pod pengintai di pylon tengah yang dikembangkan secara lokal, dan pod peluncur granat dengan 152 peluru, yang dibawa dalam tanki bahan bakar eksternal. Mereka mampu dipasangi dengan dispenser flare chaff AN / ALE-40 dan telah ditingkatkan kemampuannya serta masih beroperasi hingga kini 

Mirage F1CH AU Maroko. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Qatar: 13 versi multiperan F1EDA + 2 F1DDA versi dua tempat duduk (total 15 pesawat). Pesawat-pesawat ini dikirim pada 1980-an dan menampilkan skema kamuflase gurun pasir gelap dan hijau tua di atasnya dalam pola disruptif, dengan biru muda di bagian bawah. Mereka dipersenjatai dengan persenjataan asal Prancis, termasuk pod pengintai COR. Sebagian besar pesawat dijual kembali ke Spanyol pada pertengahan tahun 1990-an. 

Mirage F1EDA AU Qatar. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Afrika Selatan: 32 day light fighter F1AZ & 16 F1CZ (total 48 pesawat). Bersama Libya, Afrika Selatan adalah satu-satunya negara yang mendapatkan varian pesawat tempur multiperan F1A. Ke-48 Mirage F1 Afrika Selatan dikirim pada tahun 1974-1976 dan menampilkan kamuflase warna zaitun kusam / cokelat di bagian atas, dengan abu-abu terang di bagian bawah. Tidak ada versi dua kursi yang diperoleh. Persenjataannya termasuk rudal Magic AAM dan, mungkin, amunisi serangan darat buatan Israel atau Afrika Selatan. F1 Afrika Selatan dipastikan mampu membawa Rudal Armscor Kukri V3 AAM buatan lokal, yang sangat mirip dengan Matra Magic, dan Armscor Darter AAM yang kemampuannya telah ditingkatkan. Dispenser flare chaff yang dikembangkan secara lokal dan pod jammer juga mampu dibawa, disamping penambahan Radar Warning Receiver (karena pengalaman beberapa F1 nya dijatuhkan lawan di konflik Angola). Afrika Selatan memang memperoleh lisensi untuk membuat F1 dan mesin Atar 09K50; namun tidak ada F1 yang pernah dibuat di sana, walau mesin 09K50-nya tetap diproduksi, kemungkinan digunakan untuk penggantian pada F1, dan pasti digunakan sebagai mesin untuk mengupgrade Mirage III mereka secara ekstensif yang disebut “Cheetah”. Rupanya pihak Afrika Selatan memiliki ide untuk memperbaiki Mirage F1 mereka dengan mesin turbojet bypass Klimov / Isotov RD-33 Rusia dan kemungkinan penambahan membawa rudal R-73 AAM buatan Russia. Versi ini diberi kode sebagai “Super Mirage F1,” tetapi tidak pernah diterapkan lebih luas selain dari pada prototipe pesawat no. 216.

Formasi empat Mirage F1CZ Afrika Selatan, terbang di atas Pangkalan Angkatan Udara Ysterplaat, sekitar tahun 1982. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Spanyol: 45 F1CE & 22 versi multiperan F1EE + 6 F1BE versi dua tempat duduk (total 73 pesawat). Pengiriman Mirage F1 Spanyol dilakukan dari tahun 1975 hingga 1983, dengan pesawat-pesawatnya diperoleh dalam tiga batch terpisah. Dalam dinas operasional Spanyol, F1CA diberi nama “C-14A”, F1EE “C-14B”, dan F1BE “CE-14”. F1CE awalnya dikirim dengan warna kamuflase disruptif pasir / coklat / hijau di bagian atas dan abu-abu terang di bawahnya, sedangkan F1EE (dan, tampaknya, F1BE) dikirim dengan warna biru sedang di bagian atas dan abu-abu muda di bagian bawah. Kemudian armada F1 Spanyol distandarisasi dengan warna abu-abu muda, dengan kokpit palsu dicat di bagian bawah (seperti CF-188 milik AU Kanada). Semua pesawat memiliki BF RWR. F1EE menampilkan suite nav-attack dan probe pengisian bahan bakar. F1 Spanyol mampu membawa rudal Matra Super 530 dan Sidewinders, dan mereka juga bisa membawa pod kanon CC-420 kaliber 30 milimeter, LGB, dan pod Syrel ELINT. Mereka diupgrade dengan perangkat countermeasures defensif yang lebih baik. AU Spanyol sangat menyukai F1 mereka, dan seperti yang disebutkan di atas pada pertengahan 1990-an mereka memperoleh sepuluh versi kursi tunggal lagi dan dua versi kursi dua dari Qatar (masing-masing F1EDA dan F1DDA). Disamping itu mereka juga memperoleh lima F1C bekas dari AU Prancis.

Mirage F1CE Spanyol di Pangkalan RAF Coltishall, Inggris, tahun 1988. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Kongo: Empat F1A diberikan ke Republik Kongo oleh Afrika Selatan antara tahun 2010 dan 2012. Pesawat ini tetap beroperasi sejak saat itu dan menjadi satu-satunya pesawat tempur sayap tetap yang saat ini tersedia untuk Angkatan Udara Kongo.

Gabon memperoleh delapan F1A bekas Angkatan Udara Afrika Selatan dari Aerosud pada awal tahun 2000-an. Dua dikirim pada tahun 2006, dan dua lagi menyusul pada tahun 2006. Dua yang terakhir tiba pada tahun 2010, tetapi dua sisanya tidak pernah terkirim. Keenam pesawat tersebut tetap dalam dinas operasional hingga hari ini dan mewakili sebagai pesawat taktis utama Angkatan Udara Gabon.

Mirage F1AZ AU Gabon. (Sumber: https://aviationsmilitaires.net/)

Iran: 25 Mirage F1 eks-Iraqi Air Force dimasukkan ke dalam dinas operasional Angkatan Udara Republik Islam Iran (IRIAF) setelah pesawat tersebut diterbangkan ke Iran selama Perang Teluk. 18 di antaranya adalah pesawat tipe F1EQ, dan tujuh sisanya adalah F1BQ. Dari tipe F1EQ, tiga adalah F1EQ1, dua adalah F1EQ2, satu adalah F1EQ4, tiga adalah F1EQ5, dan sembilan sisanya adalah F1EQ6. Salah satunya, dua F1EQ dan satu F1BQ diketahui jatuh, meninggalkan 16 F1EQ sisanya dan enam F1BQ tersedia untuk IRIAF hingga hari ini.

Mirage F1BQ AU Iran. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Mirage F1 produksi terakhir diluncurkan pada tahun 1990. Sejak saat itu banyak Mirage F1 telah menerima upgrade untuk mempertahankannya tetap dalam dinas operasional. Pada tahun 1991, sebuah program dimulai untuk mengubah 55 pesawat Mirage F1C-200 AU Prancis menjadi pesawat tempur “Mirage F1CT” yang dimodernisasi, yang dimaksudkan sebagai pesawat tempur sementara sampai pesawat tempur Dassault Rafale yang tertunda memasuki dinas operasional penuh. Pengiriman ulang awal versi upgrade ini dilakukan pada tahun 1992. Perubahan eksternal yang paling mencolok dari perangkat yang dipasang pada F1CT adalah pemasangan penjejak laser Thomson-TRT TMV630A dalam fairing kecil di bawah hidung. RWR digital SHERLOC juga dipasang, dan dispenser flare chaff Matra Corail dipasang di bawah pangkal sayap. Beberapa F1CT juga dilengkapi dengan kamera film oblique. Secara internal, badan pesawat yang di-upgrade dan diperkuat, dan avioniknya diperbarui dengan prosesor digital baru, SAGEM ULISS 47 INS, dan perangkat radio yang aman. Sementara itu kanon kiri harus dilepas untuk mengakomodasi perangkat avionik baru. Radar Cyrano IVM juga rencananya diperbarui ke  versi Cyrano IVMR, tetapi tampaknya hal ini tidak dilakukan. F1CT dicat ulang dalam skema kamuflase disruptif hijau tua / abu-abu tua secara keseluruhan. Beberapa F1C-200 juga dilengkapi dengan perangkat penerima satelit navigasi Global Positioning System (GPS) pada awal 1990-an, tetapi ini tampaknya merupakan program terpisah, dan tidak jelas apakah F1CT memiliki peralatan GPS. Sementara itu Mirage F1CR AA juga diupgrade pada awal tahun 1990-an agar tetap bisa berfungsi memenuhi perkembangan teknisi, dengan dilengkapi imager inframerah (FLIR) dalam pod yang dipasang di bawah nacelle mesin kiri, menggantikan kanon DEFA yang tersisa dan menampilkan citra pada perangkat HUD yang baru. Tidak seperti IRLS lama, FLIR dapat dilihat secara real time oleh pilot dan dapat digunakan untuk navigasi, yang selanjutnya meningkatkan kemampuan serangan F1CR. Dispenser flare chaff Matra Corail dipasang, dan pod electronic intelligence (ELINT) Thomson-CSF ASTAC (Analyseur de Signal TACtiques) yang dapat dipasang di pylon garis tengah badan. Pod RAPHAEL-HT juga di-upgrade, dengan sistem radar apertur sintetis / indikator target bergerak (SAR-MTI) modern. Belakangan pada dekade ini, F1CR dilengkapi dengan pod Thomson-CSF Optronics PRESTO (Pod REconnaissance STand Off) dengan kamera film LOROP, yang kemudian ditingkatkan ke konfigurasi DESIRE (DEmonstrateur Simplife de Reconnaissance Electro-optique), yang membawa kamera elektro optik LOROP dan perekam data berkecepatan tinggi. 

MIrage F1CT. (Sumber: https://www.jetphotos.com/)

Jumlah F1 yang dioperasikan AA mulai berkurang sejak akhir 1980-an, namun berkat upgrade yang dilakukan, membuatnya mampu bertahan hingga abad berikutnya. Tipe ini akhirnya dipensiunkan sepenuhnya pada tahun 2014. Pada 2017, 63 unit dijual ke perusahaan ATAC AS, anak perusahaan dari Textron Corporation yang menerbangkan pesawat tempur tua di bawah kontrak militer untuk digunakan dalam penerbanhan pelatihan agresor. Sejumlah besar pesawat ini akan digunakan sebagai persediaan suku cadang; mereka yang dioperasikan dalam dinas pelatihan akan diberi upgrade avionik. Empat unit versi dua tempat duduk juga dijual ke Paramount Aerospace Systems of South Africa. Sementara Paramount juga merupakan organisasi pelatihan, seperti ATAC, ada spekulasi bahwa keempat F1 itu sebenarnya dimaksudkan untuk dioperasikan pada dinas militer di negara Afrika lain. Sebanyak 53 unit F1 Spanyol – terdiri dari 49 berkursi tunggal dan 4 berkursi dua – di-upgrade oleh Thomson Detexis menjadi standar “Mirage F1M” yang dimodernisasi, dengan pengiriman ulangnya dilakukan dari tahun 1997 hingga 2001. Upgrade yang dilakukan ini menampilkan: 

  • Peningkatan pada radar Cyrano IVM.
  • Perangkat HUD baru dan layar panel datar untuk tampilan radar, menggantikan CRT lama. 
  • Sistem navigasi GPS-INS. 
  • Lampu kokpit yang kompatibel dengan kacamata night vision, kontrol “hands on throttle and stick (HOTAS)”, Memiliki radio Quick II, databus MILSTD-1553B, dan peningkatan perangkat countermeasures defensif.
Mirage F1 di tangan pihak sipil. (Sumber: http://www.airvectors.net/)

Peningkatan tersebut membuat Mirage F1 Spanyol dapat terus diterbang selama satu dekade lagi. Mirage F1 terakhir digunakan dalam dinas operasional Spanyol pada 2013, 16 unit dijual ke Argentina untuk menggantikan pesawat tempur Mirage 5 / Dagger Argentina. Namun deal ini sepertinya dibatalkan karena tekanan Inggris. Pada tahun 2017, 22 Mirage F1 Spanyol lainnya – 20 F1M kursi tunggal, 2 F-1BM kursi ganda – dijual ke Draken International, perusahaan AS lain yang menerbangkan pesawat-pesawat tua di bawah kontrak dengan pihak militer. Draken bermaksud untuk memperbarui F1 dengan perangkat avionik yang lebih modern. Sementara itu Sagem dan Thales juga telah melakukan program peningkatan kemampuan Mirage F1 untuk Maroko yang dianggap sebagai pembuka jalan untuk bisa melakukan penawaran upgrade secara global, serta membantu penjualan kembali Mirage F1 yang dipensiunkan dari AA. Program upgrade versi Maroko melibatkan 27 pesawat dan menampilkan perbaikan & peningkatan mesin; radar RDY400 modern; kokpit digital dengan kontrol HOTAS, layar multifungsi ganda, HUD baru, dan tampilan peringatan ancaman; sistem laser giro GPS-INS; sebuah databus MILSTD-1553B; sebuah jammer perlindungan diri PAJ-FA; ditambah dukungan untuk pod penargetan Thales Damocles, AAM yang dipandu radar dan pencari panas MICA, serta keluarga bom pintar AASM.

DINAS OPERASIONAL & PENGALAMAN TEMPUR

Meskipun penjualan Mirage F1 terbilang kurang begitu sukses dibandingkan dengan subfamili pesawat tempur Mirage lainnya, tipe tersebut tampaknya cenderung menolak untuk cepat dipensiunkan, dan digunakan dalam banyak pertempuran bersama dengan berbagai angkatan udara yang mengadopsinya. Hal ini sama sekali bukannya tidak disengaja: sebagian besar pelanggan yang membeli F1 kerap sedang terlibat atau akan terlibat dalam konflik, dan beberapa pengiriman dipercepat sehingga pesawat dapat dibawa ke dinas layanan garis depan secepat mungkin. Dalam kasus seperti itu, pelanggan sering kali sedang berada di bawah embargo senjata internasional – tetapi Prancis tidak pilih-pilih tentang siapa yang membeli senjata mereka, selama kredit pembelinya bagus, dan sangat bersedia untuk menjualnya ke negara-negara seperti rezim apartheid Afrika Selatan dan Irak-nya Saddam Hussein. Mirage F1 memasuki dinas operasional Angkatan Udara Prancis pada bulan Desember 1973, dengan skuadron EC 2/30 Normandie-Niemen, yang berbasis di Reims, di Prancis Utara pertama kali menerimanya. Awalnya dioperasikan sebagai pesawat pencegat segala cuaca, Mirage F1 membuktikan dirinya tidak hanya sebagai pesawat yang sangat mumpuni, tetapi juga yang sangat mudah beradaptasi – selama masa operasionalnya, ia akan digunakan dalam sejumlah peran berbeda. Peran tempur superioritas udara, serangan / serangan darat, serangan anti-pengiriman dan pengintaian semuanya bisa dilakukan oleh Mirage F1 yang handal. Pengirimam tempur pertama dari Mirage F1 AA dilakukan pada tahun 1983 di bawah Operasi MANTA, dengan empat pesawat SEPECAT Jaguar dan empat Mirage F1C-200 dikirim ke Chad, yang kemudian memerangi pemberontak yang didukung Libya, yakni Transitional Government of National Unity (GUNT). Pesawat-pesawat Jaguar digunakan untuk tugas-tugas serangan sedangkan F1C-200 digunakan untuk memberikan perlindungan udara. Satu unit Jaguar ditembak jatuh dan sebuah F1C-200 rusak pada awal bulan Januari 1984. Pengerahan kekuatan udara itu berakhir pada bulan September 1984, tetapi AA akan kembali lagi ke wilayah itu nantinya. Armada Jaguar dan Mirage F1 kembali dipindahkan ke Afrika pada tahun 1986 dalam Operasi Epervier, dengan jumlah F1 yang dikirimkan bervariasi selama beberapa tahun ke depan, tetapi mencapai puncaknya dengan total kekuatan 12 F1C-200 dan dua F1CR. AA mengambil sikap yang lebih agresif terhadap Libya pada pengerahan keduanya ini, dengan meluncurkan dua serangan di lapangan udara buatan Libya di Wadi Doum di Chad utara pada 16 Februari 1986. Seperti sebelumnya, Jaguar adalah merupakan elemen serang dan F1C-200 menyediakan perlindungan udara, sementara sepasang F1CR menyediakan pengintaian sebelum dan sesudah penyerangan. Seperti yang sering terjadi dengan perang kecil yang kotor, ceritanya tetap tidak jelas, tetapi pada akhirnya pemerintah Chad akhirnya digulingkan oleh pemberontak pada tahun 1992. Pasukan Prancis kembali dipulangkan.

Formasi pesawat tempur multinasional, dari kiri ke kanan, Mirage F-1 Qatar, Mirage F-1C ​​Prancis, F-16C Fighting Falcon Angkatan Udara AS, Hornet CF / A-18A Kanada, dan Alpha Jet Qatar, selama Operasi Desert Shield. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Uniknya Mirage F1 Angkatan Udara Libya kerap menerbangkan misi di atas Chad utara, tetapi tidak pernah ada konfrontasi antara F1 Libya dan F1 AA. Pada bulan Oktober 1990, 12 Mirage F1C dikirim ke Doha, Qatar untuk meningkatkan pertahanan udara di sana setelah Irak menginvasi Kuwait, sementara empat Mirage F1CR dari ER 33 dikerahkan ke Arab Saudi sebagai bagian dari Operasi Daguet pada September 1990. Meskipun AA ikut dikerahkan dalam Perang Teluk, namun Mirage F1 miliknya tidak pernah menjadi ujung tombak dikirimkan ke garis depan dalam Perang Teluk. Delapan F1C-200 dikirim ke Uni Emirat Arab untuk meningkatkan pertahanan udara disana, tugas ini dilakukan oleh tiga skuadron AA yang berbeda secara bergilir. Mereka melengkapi Mirage F1EDA Qatar yang juga terbang dalam peran pertahanan udara, Tak satu pun dari pesawat-pesawat ini ikut pertempuran aktif, tetapi empat F1CR sempat dikerahkan ke Arab Saudi untuk melakukan pengintaian hingga awal 1991, ketika mereka sementara ditarik dari tugas tempur untuk menghindari “kemungkinan salah tembak” karena potensi salah identifikasi dengan F1 Irak. Setelah serangan udara besar-besaran di awal, F1CR kembali bertempur, dengan menggunakan radar Cyrano IVMR mereka untuk memimpin serangan pesawat-pesawat Jaguar Prancis yang memiliki perlengkapan avionik nav-attack yang relatif kurang canggih, tidak setara dengan F1CR – sambil membawa dan menjatuhkan bom mereka sendiri. F1CR kemudian kembali ke misi-misi pengintaian. Semua Mirage F1 AA kembali ke Prancis pada musim semi tahun 1991. F1CR setidaknya menerbangkan 114 sortie, lebih dari setengahnya membantu misi serangan, dan kehilangan salah satu dari mereka dalam kecelakaan fatal.

Seorang pilot dari skuadron 1/33 Belfort Angkatan Darat Prancis, di atas pesawat Mirage F1 CR-nya, berbicara dengan tim mekanik, 29 November 2007 di Kandahar-Afghanistan, sebagai bagian dari misi militer Prancis di bawah komando ISAF (International Security and Assistance Force). (Sumber: Photo credit should read MARTIN BUREAU/AFP via Getty Images/https://www.gettyimages.com/)

Setelah berakhirnya Perang Teluk, Prancis mengerahkan sejumlah Mirage F1CR ke pangkalan di Turki sebagai bagian dari operasi untuk melindungi Kurdi dari agresi Irak. Pada bulan November 2004, sebagai tanggapan atas serangan udara Pantai Gading terhadap pasukan penjaga perdamaian Prancis, tiga jet Mirage F1 melancarkan serangan ke Bandara Yamoussoukro, yang menghancurkan total dua pesawat Su-25 dan tiga helikopter serang. Pada bulan Oktober 2007, tiga Mirage 2000 dan tiga Mirage F1 dikerahkan di Pangkalan Angkatan Udara Kandahar, di mana mereka menerbangkan misi bantuan udara jarak dekat dan misi pengintaian taktis untuk mendukung pasukan internasional di Afghanistan Selatan. Selama bulan Maret 2011, Mirage F1CR dari satuan 2/33 dikerahkan ke Solenzara Air Base, Corsica dan melakukan misi pengintaian di Libya (yang juga operator Mirage F1) sebagai bagian dari Operasi Harmattan. Pada tahun 2013 F1CR dari 2/33 juga berpartisipasi dalam Operasi Serval di Mali. Pada tanggal 10 Januari, diluncurkan dari pangkalan mereka di N’Djamena di Chad, dalam sebuah misi intervensi udara Prancis pertama melawan pemberontak Islam di Mali, armada F1CR dan Mirage 2000D, didukung oleh sebuah pesawat tanker C-135K Angkatan Udara Prancis. F1CR dari satuan 2/33 memberikan informasi foto yang berharga untuk pesawat serang yang terbang keesokan harinya dari Prancis. Kemudian pada tanggal 16 Januari, dua F1CR dari 2/33 dikerahkan dari Chad ke Bamako, Mali. Kedua pesawat dilengkapi dengan tangki ventral jarak jauh 2.200 liter; dan ketika beroperasi di Mali, mereka juga membawa dua bom tak berpemandu seberat 250 kg, ditambah satu meriam internal 30mm, berjaga-jaga jika mereka dipanggil untuk memberikan misi dukungan udara jarak dekat. Unit Angkatan Udara Prancis terakhir yang mengoperasikan Mirage F1 adalah Escadron de reconnaissance 2/33 ‘Savoie’, yang berbasis di Mont-de-Marsan, yang mendapat kehormatan dan catatan sebagai pengguna terakhir pesawat cantik ini, sekaligus menutup kiprahnya 40 tahunnya dalam dinas layanan AU Prancis pada tanggal 13 Juni 2014.

Libya membeli total 36 Mirage F1AD untuk melengkapi Angkatan Udara. Setelah perang saudara pecah tahun 2011, tidak ada yang tahu pasti berapa Mirage F1 Libya yang masih beroperasi. (Sumber: http://www.chinadaily.com.cn/)

Libya membeli total 36 Mirage F1AD untuk melengkapi Angkatan Udara Libya, yang berfungsi sebagai pesawat tempur superioritas udara. Model F1AD pada dasar adalah varian serang khusus yang tidak memiliki unit radar standar; pesawat itu malah dilengkapi dengan probe bahan bakar yang bisa ditarik yang dipasang di bagian hidung. Empat F1AD kemudian ditingkatkan menjadi konfigurasi pesawat tempur multiperan. Mirage F1 Libya turut berpartisipasi dalam perang di Chad secara intensif dan membuktikan nilainya selama kampanye militer Libya pada tahun 1981 dan 1983, namun, mereka tidak digunakan kemudian karena Angkatan Udara menghindari konfrontasi yang diperkirakan akan pecah dengan AS dan sekutunya. Pada bulan Agustus 1981, sekelompok besar 70 pesawat Libya, termasuk Mikoyan-Gurevich MiG-23, MiG-25, Sukhoi Su-20, Su-22M dan Mirage F1, mendekati grup tempur kapal induk Angkatan Laut AS sebagai aksi unjuk kekuatan, mereka kemudian dikawal sampai mundur dari sekitarnya oleh 14 pesawat tempur McDonnell Douglas F-4 Phantom II dan Grumman F-14 Tomcat. Saat beroperasi di Chad, Mirage F1.AD memiliki konfigurasi muatan tempur khas yang terdiri dari sepasang drop tank 1.300 liter dan sepasang Belouga CBU. Operasi mereka dilakukan hampir secara eksklusif selama siang hari dan dari ketinggian, yang mengakibatkan efektivitasnya terbatas. Sejak tahun 1981, satu detasemen dikerahkan di Marten es-Serra di Libya selatan, sementara sejak tahun 1983, Mirage F1 ini secara teratur dilepas juga ke Faya-Largeau, di bagian utara tengah Chad.

Pesawat tempur Mirage F1 CR Prancis, yang datang dari N’Djamena (Chad), terlihat di pangkalan udara militer 101 dekat Bamako pada tanggal14 Januari 2013. (Sumber: Photo credit should read ERIC FEFERBERG/AFP via Getty Images/https://www.gettyimages.fi/)

Bersama dengan Mirage 5, Mirage F1 berperan penting dalam kesuksesan besar yang dinikmati Libya selama berbagai kampanye militer mereka melawan pasukan Chad di awal tahun 1980-an, dengan beroperasi di daerah gurun yang terbuka dan tandus, mereka kerap menyebabkan kerusakan parah, yang membuat pergerakan satuan yang lebih besar menjadi sangat mahal, dengan tanpa mengalami kerugian sebagai gantinya. Armada Mirage F1 Libya diketahui ikut beraksi selama Perang Saudara Libya tahun 2011. Angkatan Udara Libya hanya menimbulkan sedikit ancaman bagi pasukan koalisi, sebagian karena peralatan yang tidak mencukupi dan sangat bergantung pada pesawat tua yang diperoleh dari Uni Soviet, tetapi tetap efektif melawan pemberontak anti-Gaddafi yang buruk persenjataannya. Pada tanggal 21 Februari 2011, sepasang pesawat Mirage Libya mendarat di Malta setelah mereka diperintahkan untuk membom pengunjuk rasa di Benghazi; kedua pilot tersebut kemudian meminta suaka politik. Menyusul kematian Muammar Gaddafi dan berakhirnya perang saudara, Prancis dan Libya membentuk perjanjian pada tahun 2012 untuk memodernisasi armada Mirage F1 yang tersisa, serta mencakup potensi pembelian Mirage F1 tambahan yang sebelumnya dioperasikan oleh Prancis. Selama perang saudara Libya, Angkatan Udara Libya hancur, dan tidak jelas berapa banyak F1 yang masih selamat, atau dalam kondisi seperti apa. Namun, baik Tentara Nasional Libya (LNA) dan Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) telah membawa beberapa pesawat kembali ke dinas operasional hanya untuk kehilangan beberapa segera setelah itu. Sejak awal konflik, GNA telah membawa setidaknya dua F1E dan satu F1A ke dalam dinas operasional. Kedua F1E itu diketahui ditembak jatuh dan F1A satu-satunya jatuh. F1E lain tercatat dari gambar satelit ada di lapangan terbang Misrata pada pertengahan 2019, tetapi tidak jelas apakah pesawat ini dapat diterbangkan. Di sisi LNA, memiliki satu F1A untuk dioperasikan pada tahun 2018 sebelum hilang pada bulan April 2019, dan satu F1E lainnya kembali dioperasikan pada tahun 2018. F1E ini tampaknya masih tetap beroperasi.

Mirage F1 Irak dalam dinas operasional IQAF pada tahun 1980-an. (Sumber: https://hushkit.net/)

Sementara itu, Mirage F1EQ Irak sangat sibuk melawan Iran selama Perang Iran-Irak tahun 1980-an, dengan F1EQ mengklaim menghancurkan setidaknya 35 pesawat Iran, sebagian besar McDonnell F-4 Phantom dan Northrop F-5E Tiger IIs , tetapi juga ada satu Grumman F-14 Tomcat, yang ditembak jatuh pada tanggal 24 November 1982. Menurut penelitian oleh jurnalis Tom Cooper, selama perang, 33 Mirage F1 Irak ditembak jatuh oleh F-14 Iran dan dua dijatuhkan oleh unit F-4 Phantom II Iran. Irak telah berperang dengan Iran sejak bulan September 1980. Saat itu angkatan bersenjata Iran yang telah dilengkapi dengan berbagai senjata asal barat yang dibeli hingga tahun 1979, yang diketahui lebih unggul atas yang dimiliki oleh militer Irak dalam hal kualitas peralatan dan pelatihan mereka. Saat perang pecah Angkatan Udara Iran setidaknya memiliki lebih dari 450 pesawat tempur (tipe F-14, F-4 dan F-5) yang dapat digunakan dan hampir semua awaknya telah menerima pelatihan di Amerika Serikat atau dari para penasihat AS, serta akrab dengan doktrin perang barat. Di pihak lain, Angkatan Bersenjata Irak telah menerima sebagian besar senjata mereka dari Rusia atau negara-negara Pakta Warsawa dengan disertai oleh awak pesawat yang kurang terlatih dan komandan-komandannya yang mengikuti doktrin perang ala Soviet. Secara kualitatif, Iran berada di depan. Tetapi semua keuntungan itu mulai terkikis ketika Prancis mulai memasok Irak dengan pesawat tempur, sistem pertahanan udara, dan melatih doktrin perang udaranya. Keunggulan teknologi Iran dalam kualitas peperangan udara, dan sampai batas tertentu keunggulan mereka dalam pertempuran udara terkikis parah dengan diperkenalkannya pesawat tempur Mirage F1EQ yang tangguh pada musim panas tahun 1981. Sementara itu pihak Iran sendiri juga menderita pembersihan yang tidak pandang bulu dari pihak rezim yang berkuasa sehingga menghilangkan beberapa awak pesawat yang terampil dan para perencana misi saat perang berlanjut. Selain itu, pilot Irak yang dilatih Prancis menunjukkan keberanian mereka melawan para penerbang Iran yang dulunya dilatih AS karena perang terus berlanjut dengan cara yang semakin agresif. Hari-hari dimana pilot Irak sangat bergantung pada perintah GCI (kontrol intersepsi dari awak di darat) untuk menyerang dan menembak pesawat penyusup Iran telah berlalu. Para pilot pesawat tempur Angkatan Udara Irak yang dilatih Perancis sekarang percaya diri dengan pelatihan luar biasa yang telah mereka jalani dan mulai berani melawan para pesawat-pesawat tempur Iran dengan lebih agresif. 

Pilot Irak merencanakan misi di belakang pesawat-pesawat tempur Mirage F1. Kehadiran teknologi dan pelatihan ala Prancis meningkatkan kepercayaan diri AU Irak dalam melawan keunggulan teknologi AU Iran. (Sumber: https://www.pinterest.jp/)

Meskipun terdapat beberapa catatan pertarungan sebelumnya antara F-14 Iran dan jet Mirage F1EQ Irak yang beredar pada beberapa buku harian online dan buku yang ditulis oleh para veteran perang, pertempuran pertama yang paling terkenal dari kedua jenis pesawat buatan barat tersebut terjadi 39 tahun yang lalu di langit barat daya Iran. Berdasarkan wawancara, buku dan buku harian dari para pilot, pukulan besar pertama bagi armada F-14 Iran terjadi pada tanggal 24 November 1981 ketika sepasang F-14 Tomcat dikejutkan dan dan ditembak jatuh oleh Mirage Irak dalam salah satu hari paling mematikan bagi armada pesawat tempur F-14. Dalam sebuah serangan penjepit dengan sebuah MiG yang bertindak sebagai umpan, kedua Mirage menjatuhkan dua F-14 menggunakan taktik tembak dan lari dengan rudal jarak menengah R.530. Seperti yang dijelaskan dalam wawancara dengan seorang pilot Tomcat Iran, kerugian ini sangat merusak moral satuan F-14 Iran. Sesuatu jelas harus segera dilakukan. Dalam waktu 24 jam, para perencana di pangkalan udara taktis ke-8 di Isfahan AB, Iran berkumpul untuk merencanakan aksi balas dendam pribadi mereka terhadap Mirage yang gesit. Seorang instruktur pilot F-14A yang brilian, Kapten F. Javidnia datang dengan rencana untuk memberi pelajaran kepada Mirage Irak, dan untuk membalas dendam atas kerugian besar yang terjadi pada hari-hari sebelumnya.

Pilot-pilot Irak berpose di samping Mirage F1BQ. (Sumber: https://falkeeinsgreatplanes.blogspot.com/)

Kapten Javidnia mengenang, “Saya berbicara dengan wakil komandan angkatan udara Kolonel Babaei yang juga seorang pilot F-14 yang handal. Dan memberitahunya dengan tegas bahwa untuk menembak jatuh Mirage pada hari itu, kita harus membersihkan langit bagian barat daya Iran dari lalu lintas udara, baik sipil atau militer. Dan para pilot harus mematikan radio mereka secara total di seluruh jaringan, dan untuk mengurangi risiko lebih lanjut, kami akan terbang dengan satu pesawat F-14 untuk memancing Mirage masuk ke ruang udara kami sendiri. ” kata Javidnia, yang sekarang adalah seorang pensiunan Brigadir Jenderal dengan lebih dari 11 “kill” yang terkonfirmasi melanjutkan: “Saya akan menyerang, dan menembak objek apa pun yang terbang dari Irak ke ruang udara Iran pada hari itu.” Dia berkata: “Kami membuat jalur oval di ketinggian 20.000 kaki dan hanya menunggu. Operator radar kami diberi pengarahan untuk mengeklik mikrofon tiga kali untuk memberi tahu kami jika mereka melihat adanya penyusup mendekat pada arah jam enam saat kami terbang dari barat ke timur. ” Javidnia dan RIO-nya 1st Letnan Khorshidi (kemudian KIA/gugur dalam tugas) memulai aksi CAP (Patroli Udara) mereka di dekat Ahvaz di Iran barat daya. Rencananya adalah untuk tidak lebih dekat dari 20 mil dari pesawat penyusup Irak, dan menembak dalam kondisi BVR (di luar jangkauan visual) dari jarak 20 mil. Dua Mirage F1 kemudian terlihat diarahkan dari pangkalan udara Shiabah dekat kota Basrah untuk mencegat apa yang tampak seperti pesawat F-14 yang terbang tanpa tujuan. Ketika dua Mirage dan F-14 yang jadi umpan itu semakin dekat, Javidnia menerbangkan jetnya dengan manuver Split S cepat, dan meminta Letnan Khorshidi untuk terus melacak lawannya di layar radarnya. Alih-alih berlari kembali ke arah timur pada bagian akhir manuver split-nya, Javidnia membawa jet keluar dari manuver menukik dan berguling kembali, serta mendapat kuncian radar dan segera menembakkan rudal AIM-54A Phoenix tepat ke salah satu Mirage yang menyebabkan menjadi bola api besar yang dilihat oleh pasukan dan pengamat di daratan. “Puing-puing dari Mirage pertama menghantam Mirage kedua yang memaksanya ke RTB (kembali ke pangkalan) sambil meninggalkan jejak asap dan api di atas langit”, kenang Javidnia dalam sebuah wawancara TV. Duel antara Tomcat dan Mirage terus berlanjut hingga hari-hari terakhir perang. 

Kolonel F. Javidnia di kursi depan F-14 3-6065 – BuNo 160363. Pertengahan tahun 1990-an. (Sumber: https://hushkit.net/)

Sementara itu pembom tempur Mirage F1 yang telah dibeli beraksi lebih luas sebagai pesawat serang jarak jauh, dan pada peran ini mereka unggul dalam melawan target infrastruktur, perkapalan, fasilitas minyak, dan instalasi militer Iran. Sebagai catatan mereka dilibatkan dalam serangan udara Irak yang menghancurkan terhadap pembangkit listrik tenaga panas Neka di Iran utara pada tahap akhir perang, dan serangan jarak jauh mereka terhadap anjungan minyak Iran di Teluk Persia di pulau Kharg dan Siri. Saat pilot-pilot Irak semakin ahli dalam mengoperasikan pesawat yang luar biasa ini dan kepercayaan diri mereka tumbuh, serangan mereka menjadi lebih mematikan. Seperti disebutkan di atas, angkatan udara Irak telah merancang dua misi serangan jarak jauh. Salah satu misi pengeboman paling jauh yang dilakukan IRQAF adalah menyerang fasilitas kapal tanker minyak pulau Siri, yang berjarak lebih dari 600 mil dari pantai Irak dekat Selat Hormuz pada 12 Agustus 1986. Pilot Mirage Irak terus menunjukkan fleksibilitas dan agresivitas yang belum pernah terlihat sebelumnya. Serangan terhadap pembangkit listrik tenaga panas ‘Neka’ pada 29 September 1987 mungkin merupakan serangan mendadak terlama bagi penerbang Irak di mana mereka harus terbang di atas wilayah musuh selama lebih dari dua jam dalam keheningan radio total sambil menghindari patroli udara dan pertahanan udara Iran, menjelajahi daerah pegunungan dan Laut Kaspia untuk mencapai target mereka di utara. Serangan penetrasi yang masuk ke dalam wilayah musuh ini meniru serangan jarak jauh yang pernah dilakukan Phantom Iran sebelumnya terhadap pangkalan udara H-3 di Irak barat pada bulan April 1981 di mana 8 jet F-4E Phantom II yang dipimpin oleh Mayor Baratpour (perencana misinya adalah Kolonel Fred Izadseta) menyerang fasilitas Pangkalan Udara H3 saat mereka harus melakukan pengisian bahan bakar di udara, serta masuk dan keluar dari wilayah udara Suriah untuk menyelesaikan misi mereka. 

USS Stark setelah dihajar rudal Exocet yang dilepaskan Mirage F1 AU Irak. (Sumber: https://www.wearethemighty.com/)

Dikatakan Tujuh F1EQ hilang dalam pertempuran selama Perang lawan Iran, dan sejumlah diterbangkan kembali ke Prancis dengan pesawat angkut Ilyushin Il-76 Irak untuk menjalani perbaikan besar atas kerusakan akibat pertempuran. Selain itu, F1EQ Irak melakukan juga serangan darat terhadap pasukan Iran, dan meluncurkan sejumlah besar rudal Exocet ke kapal tanker yang berlayar di Teluk Persia. Dalam berbagai kesempatan rudal Exocet terbukti agak mengecewakan; meski rudal itu akurat, tetapi tidak memiliki kekuatan yang dibutuhkan untuk menenggelamkan sebuah kapal tanker besar, dan angka “kill” nya kebanyakan atas kapal-kapal kecil. Meski demikian rudal ini masih bisa menimbulkan sedikit kerusakan. Pada tanggal 17 Mei 1987, dalam kasus kesalahan identifikasi, Mirage F1EQ Irak menembak fregat Angkatan Laut AS USS STARK dengan dua rudal Exocet, yang menewaskan 37 pelaut Amerika. Pemerintah Irak dengan cepat meminta maaf atas tindakan tersebut. Sementara itu pada tanggal 14 September 1983, sepasang jet tempur F-100F Super Sabre Angkatan Udara Turki dari skuadron 182 Filo “Atmaca” menembus wilayah udara Irak. Sebuah Mirage F-1EQ dari Angkatan Udara Irak mencegat kedua pesawat Turki itu dan menembakkan rudal Super 530F-1 ke arah mereka. Salah satu jet tempur Turki (s / n 56-3903) ditembak jatuh dan jatuh di lembah Zakho dekat perbatasan Turki-Irak. Pilot pesawat dilaporkan selamat dari kecelakaan itu dan dikembalikan ke Turki. Insiden itu tidak dipublikasikan oleh kedua belah pihak, meskipun beberapa detail muncul di tahun-tahun berikutnya. Insiden itu terungkap pada tahun 2012 oleh Menteri Pertahanan Turki İsmet Yılmaz, sebagai tanggapan atas pertanyaan parlemen oleh Anggota Parlemen Partai Rakyat Republik (CHP) Metin Lütfi Baydar setelah jatuhnya pesawat F-4 Phantom II Turki di Suriah, pada tahun 2012. Pembom tempur F1 Mirage Irak dan pilot-pilotnya yang dilatih oleh Prancis tampil sempurna selama perang dan seperti yang pernah dikatakan oleh ‘Jenderal USAF Chuck Horner’ dalam wawancara TV setelah Perang Teluk “Pilot-pilot Irak tidak jelek. Mereka melakukan beberapa misi yang fantastis dalam perang Iran-Irak. ” Namun hal berbeda terlihat dalam konflik yang pecah hanya 2 tahun setelah perang lawan Iran usai.

Mirage F1 AU Iran. Dalam Perang Teluk 1991, pilot-pilot Mirage F1 tidak berani meladeni kekuatan udara sekutu dan banyak yang memilih kabur ke Iran. Setelah Perang, Iran menolak mengembalikan pesawat-pesawat yang dibawa kabur ini. (Sumber: https://hushkit.net/)

Pada tahun 1990, Saddam Hussein menginvasi Kuwait, dan memicu Perang Teluk, yang berakhir dengan kekalahan besar pasukan Irak pada tahun 1991. Perang Teluk adalah titik puncak karir tempur Mirage F1, dengan jenis ini dioperasikan oleh kedua belah pihak di konflik itu. Sejumlah Mirage F1CK Kuwait dihancurkan dalam invasi awal, tetapi 15 lainnya berhasil melarikan diri, untuk dicat dengan tulisan “FREE KUWAIT” di samping hidung dan melakukan beberapa seranganan melawan Irak. Catatan pertempuran mereka tidak jelas, tetapi tidak ada yang jadi korban dalam pertempuran tersebut. Mirage F1EQ Irak sendiri mengalami banyak pertempuran – hingga kekalahan mereka. Tiga F1EQ Irak ditembak jatuh oleh F-15 Eagle Angkatan Udara AS (USAF) yang menembakkan rudal-rudal AIM-7 Sparrow AAM pada tanggal 17 Januari 1991, dengan satu lagi hilang dalam kecelakaan saat menghadapi pesawat serang F-111 Aardvark USAF di tempat dan hari yang sama. Mirage F1EQ juga merupakan pesawat Irak pertama yang hilang dalam pertempuran udara dalam perang tersebut. Dua F1EQ lagi ditembak jatuh oleh F-15 USAF pada tanggal 19 Januari, dan dua lainnya dijatuhkan satu F-15 Saudi pada tanggal 24 Januari. Sebenarnya saat itu ada pesawat USAF yang bisa diarahkan untuk melawan dua pesawat F1EQ Irak itu, tapi keputusan dibuat bahwa akan baik untuk moral Saudi jika pilot Saudi yang melakukan pekerjaan itu. Satu “kill” terakhir atas F1EQ Irak dicetak oleh F-15 USAF pada tanggal 27 Januari. Hal ini meninggalkan skor akhir F1EQ versus F-15 sebagai 0:8, tidak termasuk F1EQ yang hancur dalam kecelakaan. Dari 88 unit Mirage F1EQ milik Irak yang ada sebelum Perang Teluk 1991, 23 unit hancur dalam perang, enam lainnya rusak, 24 diterbangkan ke Iran dan diinternir; hanya 23 pesawat yang tetap beroperasi pada akhir Perang Teluk. Dari 23 Mirage F1EQ Irak yang hancur, 9 diklaim telah hancur dalam pertempuran udara. Pertarungan dalam Perang Teluk 1991 jelas tidak sebanding – tetapi pengerahan kekuatan udara Irak dalam konflik itu terlihat “luar biasa takut” untuk bertempur, dan F1EQ sebenarnya mungkin bisa berbuat sedikit lebih baik jika digunakan dan dipimpin dengan lebih baik. Sementara itu setidaknya satu F1EQ hancur di darat dalam serangan udara oleh pesawat-pesawat Tornado Angkatan Udara Kerajaan Inggris pada tanggal 17 Januari, dengan dihancurkan oleh bom cluster JP233. Pada akhir bulan, dalam sebuah tindakan yang aneh, sebagian besar pesawat-pesawat Angkatan Udara Irak, termasuk 24 Mirage F1, melarikan diri ke Iran, musuh bebuyutan Irak. Pesawat-pesawat Mirage F1 ini kemudian dirampas dan digunakan dalam dinas operasional Iran – tetapi program perbaikan dan upgrade bernama Project HABIBI dimulai pada tahun 2007 atau lebih, dengan sejumlah pesawat ini telah selesai di-upgrade.

Mirage F1 AU Maroko. Mirage Maroko kerap digunakan untuk melawan pemberontak Front Polisario. (Sumber: https://www.jetphotos.com/)

Pada awal 1979, pesawat Mirage F1 milik Maroko terlibat dalam misi tempur melawan pasukan pemberontak Front Polisario, yang beroperasi di Sahara Barat. RMAF kehilangan tujuh Mirage sebagai akibat dari tembakan musuh, bersama dengan enam lainnya yang jatuh karena kecelakaan yang berbeda. Tiga pilot Mirage tewas dan tiga lainnya ditangkap. Menurut penulis politik Anthony Cordesman, RMAF telah berjuang untuk secara efektif bisa mengoperasikan semua Mirage F1-nya, mungkin karena kurangnya dana untuk memperoleh suku cadang. Aksi tempur Mirage F1 lainnya termasuk Mirage F1 Afrika Selatan yang tampaknya mengalami cukup banyak pertempuran dengan negara tetangganya di utara selama tahun 1980-an, meskipun detailnya aksinya tidak begitu jelas. F1CZ dari Skuadron 3 diketahui menjatuhkan dua MiG-21 Angola pada tahun 1981 dan 1982. Pada tanggal 6 November 1981, selama Operasi Daisy, dua F1CZ diarahkan oleh GCI untuk mencegat dua MiG-21 yang terbang menuju ke selatan. Mayor Johan Rankin menembak jatuh pesawat wingman lawan dengan tembakan kanon, karena rudalnya gagal mengunci MiG. Pada tanggal 5 Oktober 1982, saat mengawal sebuah pembom Canberra dari Skuadron 12 pada misi pengintaian fotografis, Mayor Rankin dan wingman-nya menyerang dua MiG-21. Dia menembakkan dua rudal Magic AAM ke salah satu MiG, dan merusak pesawat lawan dengan rudal kedua. Rankin kemudian menyerang MiG kedua dan menghancurkannya dengan tembakan kanon. MiG pertama dapat kembali ke pangkalan, tetapi mengalami kerusakan tambahan yang membuat melakukan pendaratan dengan perut pesawat. Sementara itu pada Mei 1982, sebuah helikopter Mi-8 Angola yang diyakini SADF membawa perwira senior ditemukan dan dihancurkan di daerah Cuvelai. Helikopter itu ditemukan dengan kondisi rotor yang tengah berputar di tanah oleh sepasang F1CZ dan dihancurkan oleh tembakan kanon kaliber 30mm. Dua F1AZ dari Skuadron ke-1 diketahui hilang diatas Angola.

Mirage F1 SAAF banyak digunakan dalam Perang Perbatasan Namibia dan Angola tahun 1980-an. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Pada tanggal 20 Februari 1988, saat menerbangkan serangan mendadak dalam F1AZ nomor ‘245′ melawan konvoi di jalan raya selama Operasi Hooper, Mayor Ed Every ditembak jatuh oleh rudal SAM SA-13 Gopher. Diikuti oleh F1AZ nomor ‘223’ yang hilang hampir sebulan kemudian, pada 19 Maret, ketika Kapten Willie van Coppenhagen terbang menubruk ke tanah saat kembali dari aksi penyerangan di malam hari. Dewan Penyelidikan SAAF tidak dapat menentukan penyebab kecelakaan itu. Dua F1AZ dan F1CZ lainnya tercatat juga dirusak oleh aksi musuh, tetapi mampu kembali ke pangkalan. Pada tanggal 7 Juni 1980, saat menyerang Kamp Pelatihan Tobias Haneko milik SWAPO selama Operasi Skeptik (Smokeshell), Mayor Frans Pretorius dan Kapten IC du Plessis keduanya terkena rudal SA-3 Goa SAM. Pesawat Du Plessis tertembak saluran bahan bakarnya dan dia harus melakukan pendaratan di AFB Ondangwa. Pesawat Pretorius mengalami kerusakan yang lebih parah dan harus beralih ke landasan udara depan Ruacana, tempat ia mendarat dengan hanya roda utamanya terbuka. Kedua pesawat tersebut diperbaiki dan dikembalikan ke dinas operasional. Selama fase terakhir Bush War, 683 serangan mendadak diterbangkan oleh armada F1AZ, dan lebih dari 100 SAM ditembakkan ke arah mereka. Pada tanggal 27 September 1987, selama Operasi Moduler, sebuah upaya disiaplan untuk mencegat dua MiG-23ML FAR Kuba. Pesawat F1CZ Kapten Arthur Piercy rusak oleh tembakan rudal AA-7 Apex atau AA-8 Aphid AAM yang ditembakkan langsung oleh Mayor Alberto Ley Rivas. Ledakan tersebut menghancurkan drag chute pesawat dan merusak hidrolik. Piercy berhasil kembali ke AFB Rundu, tetapi pesawat melampaui landasan. Benturan dengan medan yang kasar menyebabkan kursi lontar Piercy aktif; ia sendiri gagal untuk memisahkan diri dari kursi dan menderita cedera tulang belakang yang parah.

MiG-21 Angola, beberapa ditembak jatuh oleh Mirage F1 Afrika Selatan. (Sumber: https://www.pinterest.co.uk/)

Pada Februari 1987, tiga F1AZ menembakkan beberapa rudal V-3B ke sekelompok pesawat MiG-23 tanpa hasil. Hal ini diulangi lagi pada bulan Februari 1988 ketika sebuah F1AZ menembakkan rudal ke MiG-23 dan menembakkan kanon 30mm, lagi-lagi tanpa hasil. Berbagai upaya lain yang gagal dilakukan selama periode 1987–88. Diluar operasi AU Afrika Selatan dari Namibia pada Juli 1981, seorang pilot Angkatan Udara Mozambik membelot dengan MiG-17 miliknya. Dia terbang dari markasnya di dekat Maputo menuju Afrika Selatan. Dua F1AZ yang kembali dari latihan mencegat MiG-17 itu. Pada bulan Maret 1981 dua F1AZ mencegat sebuah pesawat angkut CASA C-212 Angkatan Darat Zimbabwe dan memaksanya mendarat di Afrika Selatan setelah menyatakan bahwa pesawat itu tersesat ke wilayah udara Afrika Selatan. SAAF diketahui kehilangan enam F1AZ dan tiga F1CZ karena berbagai kecelakaan. F1CZ nomor ‘205’ terbakar setelah mendarat dan diperbaiki menggunakan bagian ekor F1CZ nomor ‘206’ (pesawat Piercy). Sementara itu di tempat lain Mirage F1JA Ekuador menerbangkan patroli tempur selama bentrokan singkat di perbatasan dengan Peru pada awal tahun 1981, dengan salah satunya menembakkan rudal Magic AAM ke Sukhoi Su-22 Peru tapi gagal mengenainya. Selama bentrokan perbatasan lainnya pada tahun 1995, Mirage F1JA Ekuador mengklaim dua “kill” atas Su-22M Peru, meskipun pihak Peru membantahnya. Sementara itu Mirage F1CG Yunani sesekali berhadapan dengan jet-jet tempur Turki, dengan beberapa F1CG Yunani dan F-4 Phantom Turki terlibat pertempuran tak berdarah di Laut Aegea. Satu F1CG dinyatakan hilang dalam kecelakaan pada tahun 1992 ketika mencoba mencegat dua F-16 Turki. Terakhir F1CR AA telah digunakan untuk operasi pengintaian di Afghanistan, dengan beroperasi dari Tajikistan, dan baik F1CR maupun F1CT bertugas dalam Perang Saudara di Yugoslavia tahun 1990-an.

Lukisan aksi Mirage F1 Ekuador yang menurut pihak Ekuador sukses menembak jatuh dua Sukhoi SU-22M Peru. (Sumber: http://www.airvectors.net/)

KARAKTERISTIK UMUM MIRAGE F1

  • Crew: 1
  • Panjang: 15.3 m (50 ft 2 in)
  • Lebar: 8.4 m (27 ft 7 in)
  • Tinggi: 4.5 m (14 ft 9 in)
  • Luas area sayap: 25 m2 (270 sq ft)
  • Bobot kosong: 7,400 kg (16,314 lb)
  • Bobot penuh: 10,900 kg (24,030 lb) (clean take-off weight)
  • Max bobot takeoff: 16,200 kg (35,715 lb)
  • Mesin: 1 × Mesin SNECMA Atar 9K-50 afterburning turbojet, dengan kekuatan 49.03 kN (11,020 lbf) thrust [118] dry, 70.6 kN (15,900 lbf) dengan afterburner


Performa

  • Kecepatan maximum: 2,338 km/h (1,453 mph, 1,262 kn) pada ketinggian 11,000 m (36,089 ft)/Mach 2.2
  • Jangkauan tempur: 425 km (264 mi, 229 nmi) hi-lo-hi pada kecepatan Mach 0.75/0.88 dengan 14 × bom 250 kg (551 lb)
  • Jangkauan ferry: 3,300 km (2,100 mi, 1,800 nmi) with maximum external fuel[119]
  • Ketahanan operasional: 2 jam 15 menir (patroli tempur, dengan 2 × rudal Super 530 dan tangki bahan bakar eksternal di tengah badan
  • Ketinggian operasional: 20,000 m (66,000 ft)
  • Kecepatan menanjak: 243 m/s (47,800 ft/min)
  • Daya dorong/bobot: 0.66

Persenjataan

  • Kanon: 2× 30 mm (1.18 in) DEFA 553 cannon dengan 150 peluru per senjata
  • Daya angkut: 1 pylon di tengah badan, 4 pylon di bawah sayap dan 2 pylon di ujung sayap dengan kapasitas angkut maksimum 6,300 kg (13,900 lb) (bobot standarnya adalah 4,000 kg (8,800 lb)),dengan senjata yang terdiri dari:
    • Rocket: 8× pod rocket Matra dengan konfigurasi 18× SNEB roket kaliber 68 mm tiap pod-nya
    • Bom: bervariasi
    • Lainnya: pod pengintai atau tangki bahan bakar tambahan
  • Rudal: 2× rudal AIM-9 Sidewinders atau Matra R550 Magic pada pylon ujung sayap, 2× rusak Super 530F dibawah sayap, 1× rudal anti kapal AM-39 Exocets, 2× rudal berpemandu laser AS-30L

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

The Dassault Mirage F1 v1.0.8 / 01 jun 19 / by greg goebel

http://www.airvectors.net/avmirf1.html

Mirage F1

https://www.dassault-aviation.com/en/passion/aircraft/military-dassault-aircraft/mirage-f1/

Dassault Mirage F1

https://aviationweek.com/node/3596#

Dassault Mirage F1 Multirole / Interceptor Aircraft

https://www.militaryfactory.com/aircraft/detail.asp?aircraft_id=231

Gallic Flair – The beautiful Mirage F1 – Flying Tigers Newsletter Edition 383 (12/12/14); 12/12/2014 By Flying Tigers

Mirage F1 (DASSAULT-BREGUET)

https://www.globalsecurity.org/military/world/europe/mirage-f1.htm

Mirage F1: The Tomcat killer by Hush Kit

https://www.google.com/amp/s/hushkit.net/2020/11/24/mirage-f1-the-tomcat-killer/amp/

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Dassault_Mirage_F1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *