Perang Timur Tengah

“Tragedi” Pembunuhan Anwar Sadat, 6 Oktober 1981

Sering digambarkan sebagai arsitek perjanjian damai antara negaranya dan Israel, pada tanggal 6 Oktober 1981 Presiden Mesir Field Marshall Anwar Sadat (salah satu politisi paling terkemuka dan menarik di Arab dan dunia secara keseluruhan pada saat itu) dibunuh, selama parade kemenangan tahunan di Kairo, mengenang Operasi Badr, yakni aksi penyeberangan tentara Mesir di Suez tahun 1973. Sadat telah menjadi korban sebuah konspirasi, yang menurut versi pemerintah, direncanakan oleh kelompok fundamentalis agama. Sadat menjadi presiden ketiga Mesir pada tahun 1970, setelah menjabat sebagai wakil presiden Presiden Gamal Abdel Nasser. Kemenangan tentara Mesir dalam Perang Yom Kippur tahun 1973 (setidaknya di fase awal perang) memberinya prestise untuk memulai perubahan kebijakan besar-besaran, mulai dari meninggalkan kebijakan Nasserisme dan meluncurkan kebijakan ekonomi Infitah yang mendorong investasi swasta hingga menerapkan kembali sistem multipartai.

Semenjak “kesuksesannya” dalam Perang Yom Kippur, Sadat membuat dirinya menjadi “musuh” bagi sebagian orang Arab karena kebijakannya berdamai dengan Israel. (Sumber: https://danratherjournalist.org/)

PARADE KEMATIAN

Sebelumnya memimpin Mesir, Sadat adalah tangan kanan Gamal Abdel Nasser. Dia dan Nasser telah memimpin Mesir ke dalam perang yang membawa bencana di Yaman pada tahun 1960an, sebuah konflik di mana Kairo terjebak ketika negara tersebut mengalami bencana perang tahun 1967 dengan Israel. Pada tahun 1973, Sadat dan militer Mesir telah menebus rasa malu mereka atas kekalahan sebelumnya dengan Israel. Pada hari di musim gugur, tanggal 6 Oktober 1981, parade militer tahunan diadakan di ibu kota Mesir, Kairo, yang didedikasikan untuk peringatan perang Arab-Israel tahun 1973. Perlu diingat konflik bersenjata yang tercatat dalam sejarah sebagai “Perang Kiamat”, juga dimulai pada tanggal 6 Oktober tahun 1973 dan hanya berlangsung selama 18 hari. Selama periode ini, tentara Israel mampu menimbulkan kekalahan telak terhadap angkatan bersenjata Mesir dan Suriah, namun pada akhirnya, seperti dicatat banyak sejarawan, perang inilah yang mengawali proses perdamaian di Timur Tengah. Untuk mengenang peristiwa tersebut, delapan tahun kemudian, pada tahun 1981, diadakan parade militer. Acara tersebut dihadiri oleh seluruh pimpinan politik dan militer Mesir, termasuk Presiden Anwar Sadat, Wakil Presiden Marsekal Udara Hosni Mubarak, dan Menteri Pertahanan dan Industri Militer Marsekal Muhammad Abd Al-Halim Abu-Ghazala. Dalam parade, para pejabat tinggi dibuat kagum dengan barisan unit dan formasi militer Mesir yang lewat. Ini bukan tanpa alasan, sebab tentara Mesir secara tradisional dianggap sebagai salah satu yang terkuat di Timur Tengah. Ketika lima pesawat tempur Mirage muncul di langit, pandangan dari para pemimpin dan sebagian besar tamu, serta mereka yang hadir pada parade tersebut melesat ke arah langit. Memang menarik untuk menyaksikan bagaimana para pilot Mesir menunjukkan keahliannya. Pada saat ini, di dekat tribun utama, tempat Presiden Sadat berada, sebuah truk penarik artileri berhenti. Tidak ada yang memperhatikan hal ini. Petugas keamanan memutuskan bahwa truk tersebut rusak dan tidak menganggap penting berhentinya kendaraan tersebut. Ternyata saat melewati tribun, Letnan Khalid Ahmed Showky El Islambouli memaksa pengemudi di bawah todongan senjata untuk berhenti. Dari sana, para pembunuh turun dari kendaraannya dan Islambouli mendekati Sadat dengan tiga granat tangan yang disembunyikan di bawah helmnya. Sadat lalu berdiri untuk menerima hormatnya; Keponakan Anwar, Talaat El Sadat kemudian berkata, “Presiden mengira para pembunuh adalah bagian dari pertunjukan ketika mereka mendekati tribun penonton sambil menembak, jadi dia berdiri memberi hormat kepada mereka”, lalu Islambouli melemparkan semua granatnya ke arah Sadat, hanya satu yang meledak (tapi gagal). Ledakan kemudian menggelegar. Granat itu meledak sebelum mencapai tujuan akhirnya. Pada titik ini, sang letnan melepaskan tembakan dari senapan serbu ke arah tribun. Pada saat yang sama, beberapa prajurit melompat keluar dari truk, menembaki orang-orang di tribun dan mulai melemparkan granat ke arah mereka.

Nasser (kiri) dan Anwar Sadat (kanan). Meski sama-sama memiliki tujuan serupa dalam membalas rasa malu Bangsa Arab dan Mesir, khususnya atas kekalahan memalukan melawan Israel dalam Perang 6 hari, namun Sadat memiliki konsep yang berbeda dengan Nasser dalam merumuskan hubungan Mesir dengan Israel di masa depan. (Sumber: https://www.atlanticcouncil.org/)
Di bawah pimpinan Sadat pasukan Mesir memperoleh kesuksesan besar di hari-hari awal Perang Yom Kippur, Oktober 1973. (Sumber: https://boardgamegeek.com/)
Presiden Mesir Anwar Sadat tersenyum saat dimulainya parade militer di Kairo. Kemudian, dalam parade tersebut, Sadat terbunuh ketika orang-orang bersenjata melepaskan tembakan pada tanggal 6 Oktober 1981. (Sumber: https://www.theafricareport.com/)

Seorang tentara lain yang masih berada di dalam truk lalu melakukan penembakan terhadap Presiden Anwar Sadat. Ia adalah penembak terbaik tentara Mesir, juara angkatan bersenjata dalam menembak jitu, yakni Hussein Abbas Mohammed. Field Marshall Sadat, yang mengenakan seragam lengkap berwarna cerah, adalah sasaran empuk bagi Hussein Abbas Mohammed. Para pembunuh tambahan lalu menembak ke arah tribun sampai amunisi mereka habis. Setelah Sadat tertembak dan terjatuh ke tanah, orang-orang melemparkan kursi ke sekelilingnya untuk melindunginya dari hujan peluru. Semua peristiwa ini berakhir dalam waktu kurang dari dua menit. Empat puluh detik setelah dimulainya pelemparan granat, Anwar Sadat sudah tergeletak penuh lubang peluru. Meski dilindungi empat lapis pengamanan dan delapan pengawal, Sadat tewas. Sepuluh peserta lainnya tewas di tribun, dan dua puluh delapan lainnya luka-luka. Mereka yang tewas termasuk termasuk Mayor Jenderal Hassan Allam, Khalfan Nasser Mohammed (jenderal dari delegasi Oman), Insinyur Samir Helmy Ibrahim, Al Anba’ Samuel, Mohammed Yousuf Rashwan (fotografer kepresidenan), Saeed Abdel Raouf Bakr, insinyur China Zhang Baoyu, serta duta besar Kuba untuk Mesir, dan seorang uskup Ortodoks Koptik, Anba Samuel dari Pelayananan Sosial dan Ekumenis. Sekutu terdekat Sadat, Hosni Mubarak juga terluka di lengannya, bersama Menteri Pertahanan Irlandia James Tully, dan empat perwira penghubung Angkatan Bersenjata Amerika Serikat. Pasukan terjun payung yang menembaki tribun berlari ke arahnya, memastikan bahwa Sadat sudah tewas, dan segera mundur dari tempat kejadian. Pasukan keamanan Mesir tertegun sejenak, namun segera bereaksi dalam waktu 45 detik. Duta Besar Swedia Olov Ternström berhasil melarikan diri tanpa cedera. Televisi pemerintah Mesir, yang menyiarkan parade tersebut secara langsung, dengan cepat segera beralih menyiarkan musik militer dan bacaan Alquran. Salah satu penyerang tewas, dan tiga lainnya terluka dan ditangkap. Anwar Sadat kemudian dibawa ke rumah sakit militer dengan menggunakan helikopter. Namun presiden Mesir itu meninggal dunia dua jam kemudian tanpa pernah sadar kembali. Jalan hidup seorang politisi Arab yang berpengaruh itu terputus pada usia 63 tahun. Kematian Sadat menurut laporan disebabkan oleh “kejutan saraf yang hebat dan pendarahan internal di rongga dada, di mana paru-paru kiri dan pembuluh darah utama di bawahnya robek.”

Para pembunuh menyamar sebagai tentara Mesir menembaki Presiden Anwar Al-Sadat di Kairo pada tanggal 6 Oktober 1981. (Sumber: https://www.nbcnews.com/)
Empat puluh detik setelah dimulainya pelemparan granat, Anwar Sadat sudah tergeletak penuh lubang peluru. Meski dilindungi empat lapis pengamanan dan delapan pengawal, Sadat tewas. (Sumber: https://en.topwar.ru/)
Tentara Mesir merawat yang terluka setelah serangan terhadap tribun yang menewaskan Presiden Mesir Anwar Sadat. (Sumber: https://rarehistoricalphotos.com/)

PELAKU

Pembunuhan Sadat bagi badan intelijen Mesir merupakan kegagalan yang luar biasa. Namun, mereka berusaha segera mengambil tindakan. Tiga pelaku ditangkap tepat di TKP, dan tiga orang lainnya ditangkap beberapa hari kemudian. Ternyata, pelaku langsung dan pemimpin pembunuhan Anwar Sadat adalah letnan senior Khalid Ahmed Showky El Islambouli, berusia 24 tahun, yang memimpin unit artileri. Ia terlibat dalam konspirasi bersama tiga prajurit. Namun tiga tentara lainnya yang bertugas di unit tersebut tidak “terlibat” dalam konspirasi tersebut. Oleh karena itu, Khalid Ahmed Showky El Islambouli telah mengambil langkah yang sangat berbahaya namun efektif. Dia memecat tiga tentara itu, dan sebagai gantinya dia menggantikannya dengan tiga warga sipil yang mengetahui rencana tersebut. Mereka dirancang sebagai unit cadangan yang dipanggil untuk dinas militer, sehingga bisa mendapatkan seragam dan senjata. Nama-nama peserta lain dalam upaya tersebut lalu dipublikasikan. Mereka adalah perwira cadangan pertahanan udara berusia 28 tahun Abdel Hamid Abdel Ali, letnan zeni senior Ata Tail berusia 26 tahun, dan sersan dinas aktif Hussein Abbas Mohammed, yang berusia 27 tahun. Dari investigasi, ternyata rencana pembunuhan tersebut dikembangkan oleh insinyur elektro berusia 30 tahun Mohammed Abdel Salam Farrag, yang merupakan bagian dari salah satu organisasi fundamentalis agama – Al-Jihad.

Pelaku langsung dan pemimpin pembunuhan Anwar Sadat, letnan senior Khalid Ahmed Showky El Islambouli, yang berusia 24 tahun. (Sumber: https://en.topwar.ru/)

BERBAGAI MOTIF

Penyelidikan yang dilakukan otoritas Mesir mengutamakan narasi resmi dari apa yang terjadi – Field Marshall Anwar Sadat adalah korban konspirasi ekstremis agama, yang tidak puas dengan konsep pemerintahan sekuler di Mesir, kerja sama Mesir dengan pihak Barat dan penolakan konfrontasi lebih lanjut dengan Israel. Menurut versi resmi, para pelaku upaya tersebut bersimpati dengan organisasi fundamentalis bawah tanah Takfir wal-Hijra. Gerakan ini diciptakan pada awal tahun 1970-an di Mesir oleh ahli agronomi Shukri Mustafa (1942-1978). Setelah memutuskan bahwa masyarakat Mesir modern tidak sesuai dengan aturan Islam, Shukri Mustafa dan para pengikutnya pada tahun 1973 meninggalkan masyarakat umum, pindah ke daerah berpenduduk jarang di Mesir. Awalnya, pengikut Shukri Mustafa adalah organisasi yang damai, namun kebijakan keras pemerintah yang berupaya menetralisir organisasi fundamentalis agama sebagai sumber potensi bahaya bagi sistem yang ada, menyebabkan radikalisasi di organisasi ini. Pada tahun 1977, kelompok takfiri menyandera mantan menteri agama Mesir Muhammad Husayn al-Dhahabi, dan membunuhnya sebagai protes terhadap kebijakan represif rezim Sadat. Ini adalah salah satu tindakan ilegal pertama gerakan ini. Husayn al-Dhahabi dekat dengan Presiden Anwar Sadat, sehingga pemerintah tidak bisa memaafkan kaum fundamentalis atas pembunuhan ini. Pada tahun yang sama, badan intelijen Mesir menangkap Shukri Mustafa, dan pada tahun berikutnya, 1978, dia dieksekusi. Namun, gagasannya tetap berakar pada sebagian besar masyarakat Mesir. Hal ini didukung oleh kesulitan ekonomi yang dialami Mesir. Anwar Sadat terpaksa membatalkan tunjangan tambahan bagi masyarakat miskin Mesir, yang menyebabkan ketidakpuasan sebagian besar masyarakat. Karena fundamentalisme agama di negara-negara Arab berperan mirip dengan kelompok radikal sayap kiri di Eropa, maka dengan banyak orang yang tidak puas dengan kebijakan Sadat , mereka kemudian mengambil mengalami radikalisme dan mulai memberikan kritik keras kepada pemerintah, terutama karena dianggap mengabaikan prinsip-prinsip Islam.

Ahli agronomi Mesir, Shukri Mustafa (baju hitam), pencipta organisasi fundamentalis bawah tanah Takfir wal-Hijra. (Sumber: https://twitter.com/)
Mohammed Abdel Salam Farragh, insinyur elektro berusia 30 tahun yang mengembangkan rencan pembunuhan Anwar Sadat. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Sebuah versi lain dikemukakan tentang keterlibatan pembunuhan Sadat oleh dua organisasi fundamentalis paling radikal Mesir – El Gama’a El Islamiyya (Jamaat Islam) dan kelompok Jihad Islam Mesir. Menariknya, pada suatu periode, Anwar Sadat memperlakukan kaum fundamentalis agama dengan cukup baik. Dia memandang mereka sebagai sekutu alami dalam konfrontasi dengan golongan Nasserist (nasionalis Arab sekuler sosialis) dan kaum Marxist. Pada masa kepresidenan Sadat, kelompok Islam mendapat manfaat dari “revolusi rektifikasi” dan pembebasan para aktivisnya yang dipenjarakan di bawah pemerintahan Gamal Abdel Nasser. Pihak berwenang Mesir juga cukup netral terhadap kegiatan El Gama’a El Islamiyya, yang muncul pada tahun 1975 sebagai hasil penggabungan beberapa jamaah mahasiswa – Universitas Assiut, Universitas Ain Shams dan Universitas Al-Azhar. Jamaah mahasiswa menganjurkan Islamisasi dalam cara hidup pemuda Mesir, yang menurut mereka tidak hanya mencakup kepatuhan terhadap persyaratan Syariah, tetapi juga membebaskan lingkungan pemuda dari pengaruh pandangan dunia ateis kiri. Assiut menjadi salah satu pusat kegiatan organisasi ini, yang gubernurnya Muhammad Usman Ismail sangat mendukung kaum fundamentalis agama, menganggap mereka sebagai penentang paling konsisten dari gerakan komunis Mesir. Namun, setelah kelompok fundamentalis meningkatkan aktivitasnya dan mulai memberikan ancaman serius kepada pihak berwenang, Sadat mengubah kebijakannya mengenai organisasi keagamaan dan politik. Aktivis mereka dipersekusi, yang pada gilirannya berkontribusi pada meningkatnya radikalisasi di lingkungan keagamaan, khususnya kaum muda. Sebagai tanggapan, sebuah rencana konspirasi muncul di kalangan pemuda radikal. Di bawah kepemimpinan insinyur Farragh, yang mengembangkan rencana untuk membunuh presiden. Organisasi Al-Jihad al-Jadid lalu muncul, yang menjatuhkan hukuman mati kepada Sadat. 

ALASAN PEMBUNUHAN

Versi resmi yang menyatakan pembunuhan Sadat semata-mata akibat konspirasi fundamentalis agama bukanlah satu-satunya versi. Selama lebih dari tiga puluh tahun terakhir, berbagai materi telah berulang kali muncul dalam literatur sejarah dunia dan pers, sehingga versi ini diragukan. Secara khusus versi lain menyoroti, bahwa meskipun Letnan Islambouli dan kaki tangannya benar-benar tergabung dalam salah satu organisasi radikal, mereka bisa menjadi sekedar “alat” di tangan kekuatan yang lebih serius yang berkepentingan untuk melikuidasi Anwar Sadat. Sadat seperti diketahui diperlakukan dengan dingin di dunia Arab. Dia membuat banyak musuh untuk dirinya sendiri, yang terutama disebabkan oleh konsekuensi dari “Perang Kiamat”/Yom Kippur tahun 1973. Sadat adalah pemimpin yang tidak dapat diprediksi, dimana hal ini dilakukannya dengan sengaja dan penuh pertimbangan. Pada tahun 1977, Anwar Sadat mengumumkan bahwa dia siap datang ke Yerusalem dan membahas syarat perdamaian dengan pimpinan Israel. Pada bulan November 1977, dia benar-benar tiba di Israel, di mana dia tampil di Knesset. Sebagai tanggapan, Perdana Menteri Israel Menachem Begin tiba di Mesir. Kunjungan Sadat ke Israel menimbulkan pukulan yang sangat besar terhadap citra Mesir di dunia Arab. Sebagian besar negara-negara Arab lalu memutuskan hubungan diplomatik dengan Mesir, dan mencoba memberikan tekanan pada Sadat. Namun presiden Mesir tidak mengubah posisinya, dengan terus mengupayakan perdamaian, dimana dia terlibat aktif dalam negosiasi dengan Israel, yang membuatnya mendapat label “pengkhianat” dari kaum radikal Arab. Perjanjian Camp David kemudian ditandatangani pada tahun 1978 dan Perjanjian Perdamaian Mesir-Israel, diresmikan di Washington, D.C., pada tanggal 26 Maret 1979. Menachem Begin dan Anwar Sadat lalu menerima Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1978. Namun ‘kesuksesan’ Sadat ini menimbulkan kebencian terhadapnya di kalangan nasionalis Arab semakin meningkat. Perjanjian Israel-Mesir ditolak oleh banyak pihak di dunia Arab, termasuk kelompok Ikhwanul Muslimin di Mesir, yang merasa bahwa presiden mereka telah mengabaikan upaya untuk menjamin berdirinya negara Palestina. Pemimpin gerakan Pembebasan Palestina (PLO) Yasser Arafat sendiri kemudian berkata, “Biarkan mereka menandatangani apa pun yang mereka suka. Perdamaian palsu tidak akan bertahan lama.” Penolakan Sadat untuk berkonsultasi dengan negara-negara Arab lainnya sebelum membuat perdamaian terpisah dengan Israel mengakibatkan Mesir diskors dari Liga Arab dari tahun 1979 hingga tahun 1989. 

Presiden Sadat berpidato di Knesset selama kunjungannya ke Israel. Kunjungan Sadat ke Israel menimbulkan pukulan yang sangat besar terhadap citra Mesir di dunia Arab. (Sumber: https://israeled.org/)
Presiden Mesir Anwar Sadat (kiri) bersama Presiden AS Jimmy Carter (tengah) dan Perdana Menteri Israel Manachem Begin (kanan) saat membahas Perjanjian Camp David. (Sumber: https://indopolitika.com/)
Yasser Arafat. Atas manuver damai Anwar Sadat kepada Israel, pemimpin gerakan Pembebasan Palestina (PLO) Yasser Arafat sendiri kemudian berkata, “Biarkan mereka menandatangani apa pun yang mereka suka. Perdamaian palsu tidak akan bertahan lama.” (Sumber: https://yaf.ps/)

Sementara itu, meski sebelumnya bersimpati pada upaya Sadat untuk mengintegrasikan mereka ke dalam masyarakat Mesir, kelompok Islamis Mesir kini merasa dikhianati, dan secara terbuka menyerukan penggulingan presiden Mesir dan penggantian sistem pemerintahan negara dengan pemerintahan berdasarkan teokrasi Islam. Ketegangan kemudian meningkat di Mesir ketika kelompok Islam menyerukan penggulingan presiden, dan negara itu tenggelam dalam kerusuhan. Bulan-bulan terakhir masa kepresidenan Sadat ditandai dengan berbagai pemberontakan internal. Dia kemudiam menampik tuduhan bahwa kerusuhan tersebut dipicu oleh masalah dalam negeri, dan justru percaya bahwa Uni Soviet sedang merekrut sekutu regionalnya di Libya dan Suriah untuk memicu pemberontakan yang pada akhirnya akan memaksanya turun dari kekuasaan. Sadat lalu memerintahkan tindakan keras besar-besaran terhadap para pemimpin oposisi setelah kudeta militer yang gagal pada bulan Juni 1981. Meskipun ia masih mempertahankan popularitasnya yang tinggi di Mesir, dikatakan bahwa ia dibunuh “pada puncak” ketidakpopulerannya. Menurut wawancara dan informasi yang dikumpulkan oleh jurnalis Lawrence Wright, kelompok Jihad Islam Mesir telah merekrut para perwira militer dan mengumpulkan senjata, menunggu saat yang tepat untuk melancarkan “penggulingan total terhadap tatanan yang ada” di Mesir. Kepala strategi El-Jihad adalah Abbud al-Zumar, seorang kolonel di unit intelijen militer memiliki “rencana membunuh para pemimpin utama negara, merebut markas tentara dan Keamanan negara, gedung pusat telepon, dan tentu saja gedung radio dan televisi, di mana berita tentang revolusi Islam kemudian akan disiarkan, diharapkan akan memicu—yang ia perkirakan—pemberontakan rakyat melawan otoritas sekuler di seluruh negeri.” Pada bulan Februari 1981, pihak berwenang Mesir diberitahu tentang rencana El-Jihad dengan menangkap seorang agen yang membawa informasi penting. Pada bulan September, Sadat memerintahkan penangkapan yang sangat tidak populer terhadap lebih dari 1.500 orang, termasuk tidak hanya banyak anggota Jihad, tetapi juga Paus dari agama Kristen Koptik dan pendeta Koptik lainnya, intelektual dan aktivis dari semua garis ideologi. Semua ulasan pers non-pemerintah juga dilarang. Penggerebekan tersebut bagaimanapun gagal mengenai sel jihad di militer yang dipimpin oleh Letnan Khalid Islambouli, yang nantinya akan berhasil membunuh Anwar Sadat pada bulan Oktober itu. Menurut Tala’at Qasim, mantan ketua Gama’a Islamiyya yang diwawancarai di Middle East Report, bukan Jihad Islam namun organisasinya, yang dikenal dalam bahasa Inggris sebagai “Kelompok Islam”, yang mengatur pembunuhan dan merekrut si pembunuh ( Islambouli). Anggota “Majlis el-Shura” (“Dewan Permusyawaratan”) kelompok yang dipimpin oleh “syekh buta” yang terkenal, ditangkap dua minggu sebelum pembunuhan, tetapi mereka tidak mengungkapkan rencana yang ada, dan Islambouli berhasil membunuh Sadat.

PEMAKAMAN YANG “SEPI” DI DUNIA ARAB

Pasca terbunuhnya Anwar Sadat, sejumlah besar tokoh politik dari berbagai negara berkumpul dalam upacara pemakamannya di Memorial Pahlawan Tak Dikenal, di Distrik Nasr City, Kairo. Prasasti di makamnya berbunyi: “Pahlawan (dalam) perang dan perdamaian”. Amerika Serikat, yang secara aktif bekerja sama dengan Sadat dalam proyek perdamaian di Timur Tengah, diwakili Menteri Luar Negeri Alexander Haig, Menteri Pertahanan Caspar Weinberger, dan Duta Besar untuk PBB Jeane Kirkpatrick. Stevie Wonder dan Walter Cronkite juga hadir. Beberapa mantan Presiden Amerika turut datang dalam pemakaman, seperti mantan presiden Jimmy Carter, Gerald R. Ford, dan Richard M. Nixon. Presiden AS saat itu, Ronald Reagan, yang selamat dari upaya pembunuhan beberapa bulan sebelumnya, memilih untuk tidak hadir karena situasi politik yang tegang. Pemimpin negara lain yang datang adalah Perdana Menteri Israel Menachem Begin, Presiden Prancis François Mitterrand, Kanselir Jerman Barat Helmut Schmidt, Presiden Italia Sandro Pertini, Presiden Irlandia Patrick Hillery, Perdana Menteri Spanyol Leopoldo Calvo-Sotelo, dan Raja Baudouin dari Belgia. Namun, negara-negara Arab mengabaikan peristiwa ini. Satu-satunya pemimpin Arab yang tiba di pemakaman Sadat adalah Presiden Sudan Jafar Nimeiri. Presiden Siad Barre dari Somalia bersama dengan Putra Mahkota Iran yang digulingkan Reza Pahlavi, adalah satu-satunya pemimpin politik Muslim yang menghadiri pemakaman Sadat. Dari 24 negara yang tergabung dalam Liga Negara Arab saat itu, hanya tiga negara yang mengirimkan wakilnya ke pemakaman tersebut. Jadi jelas bahwa negara-negara Arab menunjukkan sikap negatifnya terhadap presiden Mesir itu.

Peti mati mendiang Presiden Mesir Anwar al-Sadat diangkut dengan kereta meriam saat pemakamannya 10 Oktober 1981 di Kairo. (Sumber: https://www.gettyimages.com/)
Mantan Menteri Luar Negeri AS Henry Kissinger (tengah), mantan Presiden AS Gerald Ford (kiri) dan mantan Presiden AS Richard Nixon (kanan) turun dari pesawat angkatan udara saat kedatangan mereka di Kairo, untuk menghadiri pemakaman Presiden Mesir Anwar Sadat pada 10 Oktober. 1981. Negara-negara Arab cenderung mengabaikan peristiwa ini. (Sumber: https://www.gettyimages.com/)
Penanda di Unknown Soldier Memorial, tempat Sadat dimakamkan. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Terdapat kemungkinan bahwa para teroris yang mengorganisir pembunuhan Sadat mendapat dukungan dari dinas rahasia negara mana pun di dunia Arab, yang tidak puas dengan kebijakan Sadat dan tertarik untuk melanjutkan konfrontasi antara Mesir dan Israel. Beberapa pengamat cenderung mengatakan bahwa para pejabat tinggi Mesir bisa saja terlibat dalam pembunuhan Sadat, termasuk wakil presiden Mubarak, yang bisa bertahan dan memimpin negara itu selama tiga puluh tahun setelah kematian Sadat. Setidaknya, mudahnya para konspirator membunuh sang presiden sangatlah mencurigakan. Lagi pula, Letnan Senior Islambuli, pada kenyataannya, secara sengaja mengganti awak unit artileri, dan bahkan pergi ke parade, dengan menyertakan warga sipil – ternyata para perwira senior Mesir tidak memeriksanya, atau malah mengizinkannya melakukannya. Para konspirator tersebut juga ternyata bisa membawa senjata mematikan, meski hanya petugas keamanan yang melindungi presiden dan pejabat tinggi lainnya yang ikut dalam parade yang diperbolehkan membawa senjata. 

MESIR SETELAH PEMBUNUHAN SADAT

Sehubungan dengan pembunuhan tersebut, pemberontakan kemudian diorganisir di Asyut di Mesir Hulu. Para pemberontak berhasil menguasai kota selama beberapa hari, dan 68 polisi dan tentara tewas dalam pertempuran tersebut. Kontrol pemerintah tidak dapat dipulihkan sampai pasukan terjun payung dari Kairo tiba. Sebagian besar militan yang dihukum karena berkelahi menerima hukuman ringan dan hanya menjalani hukuman tiga tahun penjara. Pembunuhan tersebut secara umum disambut dengan antusias oleh pemerintah di dunia Islam, yang menganggap Sadat sebagai pengkhianat perjanjian perdamaian Mesir-Israel. Surat kabar pemerintah Suriah, Tishreen, memuat tajuk utama “Mesir Hari Ini Mengucapkan Selamat Tinggal kepada Pengkhianat Utama”, sementara Iran menamai sebuah jalan di Teheran dengan nama Islambouli. Sadat awalnya digantikan oleh Sufi Abu Taleb, Ketua Majelis Rakyat, sebagai Penjabat Presiden Mesir selama delapan hari hingga tanggal 14 Oktober 1981. Pada tanggal itu juga, sekitar seminggu setelah pembunuhan Sadat, Wakil Presiden Hosni Mubarak diangkat sebagai Presiden Mesir. Hosni Mubarak, seperti Sadat, adalah seorang prajurit profesional. Pada tahun 1973, Mubarak, yang saat itu memimpin Angkatan Udara Mesir, diberi gelar Marsekal Udara Angkatan Udara Mesir. Segera setelah berkuasa, Mubarak mulai menerapkan kebijakan keras yang bertujuan untuk menekan lawan. Keadaan darurat diumumkan segera setelah pembunuhan Sadat, dan akan tetap berlaku hingga tahun 2012. Mubarak tetap menjabat sebagai Presiden selama hampir 30 tahun sampai pengunduran dirinya akibat revolusi Mesir tahun 2011.

Hosni Mubarak dan Anwar Sadat. Segera setelah berkuasa untuk menggantikan Sadat, Mubarak mulai menerapkan kebijakan keras yang bertujuan untuk menekan lawan. (Sumber: https://en.topwar.ru/)
Mubarak mengakhiri kekuasaannya dengan dipenjara atas kasus korupsi. Mubarak menjabat sebagai Presiden selama hampir 30 tahun sampai pengunduran dirinya akibat revolusi Mesir tahun 2011. (Sumber: https://www.csmonitor.com/)

Pada tanggal 15 April 1982 pelaku pembunuhan Sadat dieksekusi. Letnan Senior Khaled Islambuli dan seorang anggota militer lainnya, Hussein Abbas Mohammed, ditembak, dan tiga konspirator sipil, termasuk insinyur Mohammed Abdel Salam Farragh, digantung. Salah satu yang terlibat dalam upaya tersebut, Karam Zohdi, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Namun, setelah menangani para pelaku, Mubarak tidak membiarkan orang-orang di lingkaran terdekat Sadat bertahan. Beberapa orang yang berada di “lingkaran dekat” presiden yang terbunuh itu kemudian diadili atas tuduhan korupsi. Jadi Mubarak dengan ini menunjukkan kekuatannya dan menekankan bahwa negaranya akan menerapkan kebijakan tangan besi. Tentu saja, arah politik Mubarak tidak menyenangkan organisasi-organisasi radikal yang beroperasi di Mesir. Presiden Mubarak juga dijatuhi hukuman mati oleh kelompok-kelompok ini, dia berupaya dibunuh sebanyak enam kali, namun ternyata Mubarak jauh lebih sukses dibandingkan pendahulunya sebagai kepala negara. Hanya setelah pecahnya Arab Spring pada tahun 2011, Mubarak terpaksa meninggalkan kursi Presiden. Namun mantan presiden Mesir itu, dibiarkan hidup hingga usia 91 tahun.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

An attempt on the president. How thirty-five years ago Anvar Sadat was killed; October 6 2016

https://en.topwar.ru/101653-pokushenie-na-prezidenta-kak-tridcat-pyat-let-nazad-ubili-anvara-sadata.html

Anwar Sadat’s Assassination

https://danratherjournalist.org/anchorman/breaking-news/anwar-sadats-assassination

What Anwar Sadat’s murder 40 years ago meant for the Middle East by Bruce Riedel; October 1, 2021

https://www.brookings.edu/articles/what-anwar-sadats-murder-40-years-ago-meant-for-the-middle-east/

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Assassination_of_Anwar_Sadat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *