White Rose Of Stalingrad, Lidya “Lilya” Litvyak: Kisah Epik Pilot Tempur Wanita Terbaik Russia Dalam Perang Dunia II

Ketika pasukan panzer dan infanteri Jerman bergemuruh melintasi perbatasan menuju ke Rusia pada tanggal 22 Juni 1941, Angkatan Udara Soviet sangat tidak siap untuk berperang. Marsekal Josef Stalin sebelumnya telah memutuskan untuk “membersihkan” korps penerbangan militernya, seperti pada Tentara Merah, yang korps perwira-nya dia eliminasi secara brutal pada tahun 1930-an, kekuatan udara Soviet saat Jerman menyerang sedang mengalami masa transisi dan berada dalam keadaan yang menyedihkan. Selama minggu pertama penuh bencana dalam Operasi Barbarossa, para penyerang Nazi telah menghancurkan 4.000 lebih dari 7.700 pesawat Rusia. Rusia saat itu terpaksa menerbangkan pembom-pembom tua untuk melakukan serangan bunuh diri terhadap Wehrmacht. Dari 800 pembom yang operasional saat serangan Jerman, hanya 266 yang masih bisa terbang pada bulan Desember 1941. Pesawat/pesawat tempur Messerschmitt yang lebih cepat dan lebih bagus dalam bermanuver menembak jatuh pesawat-pesawat tempur Soviet sebebas-bebasnya dan pilot-pilot Rusia yang tidak berpengalaman menggunakan berbagai taktik putus asa seperti mencoba menabrak pesawat-pesawat Jerman.

Reruntuhan pesawat-pesawat tempur Polikarpov I-16 Soviet di bandara dekat Minsk, Belarusia (Juni, 1941). Serangan Jerman benar-benar mengejutkan, dan kerugian awal Soviet merupakan bencana besar. Setelah 9 hari pertama perang, Luftwaffe menghancurkan 1.400 pesawat Soviet di udara dan 3.200 di darat (40% dari seluruh angkatan udara Uni Soviet), sementara hanya kehilangan 330 pesawat. (Sumber: https://www.quora.com/)

STALIN MEMANGGIL MARINA RASKOVA UNTUK MEREKRUT PILOT-PILOT WANITA

Hitler sebelumnya telah menganggap rakyat Uni Soviet sebagai bukan manusia (Untermensch), dimana dalam melawan mereka kemenangan tentu adalah sebuah kepastian. Tapi Untermensch yang seharusnya gampang ditaklukkan ternyata adalah lawan yang ganas, yang diperkeras oleh pengalaman selama beberapa dekade hidup berkekurangan dan didorong oleh rasa cinta negara mereka yang tak tergoyahkan. Di antara para patriot itu ada setidaknya delapan ratus ribu wanita yang menjadi sukarelawan untuk beraksi garis depan, dalam peran seperti penembak jitu, penembak senapan mesin, dan pengemudi tank, serta pilot. Hampir dua ratus ribu wanita Russia diketahui bertugas di unit-unit pertahanan udara. Meski demikian, diawal-awal perang, balatentara Hitler telah meremukkan kekuatan udara Soviet dalam waktu singkat, karena itu setelah menderita kerugian besar dalam hal personel pria dan pesawat selama serangan Jerman ke Ukraina pada musim panas itu, komando tinggi Soviet terpaksa memanggil salah satu penerbang wanita paling berpengalaman di negara itu, yakni Marina Raskova, yang dikenal sebagai “Amelia Earhart-nya Rusia”. Berkat serangkaian penerbangan jarak jauh berani yang dilakukannya pada akhir tahun 1930-an, dia adalah salah satu wanita paling terkenal di Uni Soviet, dan teladan bagi jutaan wanita muda. Raskova kemudian pada bulan Oktober 1941 ditunjuk untuk membentuk tiga resimen pilot wanita menjadi Grup Udara ke-122. Dari armada udara sipil dan klub terbang yang telah dibentuk di seluruh Rusia pada tahun 1930-an, Mayor Raskova memilih 200 rekrutan berusia antara 18 dan 22 tahun. Pada bulan Oktober 1941, ia mulai membentuk Resimen Tempur ke-586, Resimen Pengebom ke-587 dan Resimen Pengebom Malam ke-588. Yang terakhir kemudian akan mendapatkan nama yang didambakan sebagai Resimen Pengawal Malam ke-46.

Marina Raskova yang dikenal sebagai “Amelia Earhart-nya Rusia”. Dalam keadaan terdesak serangan Jerman, komando tinggi Soviet memanggil Raskova untuk membentuk unit tempur udara wanita Soviet. (Sumber: http://thefemalesoldier.com/)

Selain bertempur bersama dengan yang semuanya wanita, pilot wanita lainnya juga terbang dengan skuadron pria. Resimen udara wanita bertugas di Ukraina, Kaukasus utara, Semenanjung Taman, Krimea, di Stalingrad dan bahkan di Berlin, untuk membom kereta perbekalan Jerman, persimpangan rel kereta api, dan penimbunan amunisi di sepanjang jalan. Resimen Tempur ke-586 bertempur dalam 125 pertempuran udara selama dua setengah tahun. Pilot-pilot wanita ini menunjukkan keberanian dan stamina yang luar biasa yang dengan cepat memenangkan kekaguman dari atasan pria mereka yang awalnya skeptis. Karena semangat agresif mereka ditengah kondisi yang buruk dan seringkali melawan musuh yang jauh lebih unggul di Front Timur, orang-orang Jerman menjuluki mereka dengan sebutan “Penyihir Malam”. Mereka adalah satu-satunya unit wanita yang terbang dalam pertempuran di Perang Dunia II. 254 wanita muda dari Resimen Pengebom Malam ke-588 dipilih untuk melakukan serangan malam di garis pertahanan Jerman di utara Krimea. Terbang melalui musim dingin yang menggigit di Rusia di kokpit terbuka pesawat biplane Polikarpov Po-2 yang tua, lambat, dan terbuat dari kayu serta kanvas yang hanya dapat membawa empat bom, para wanita itu rata-rata melakukan 15 hingga 18 perjalanan bolak-balik dalam semalam melewati tembakan antipesawat musuh yang intens. Didukung oleh mekanik dan pemuat bom yang terampil, yang sebagian besar juga perempuan, awak Resimen ke-588 menyelesaikan 24.000 misi serangan selama perang dan menjatuhkan 23.000 ton bom. 

Foto bersama beberapa anggota Penyihir Malam, yang semuanya menjadi dianugerahi gelar Pahlawan Uni Soviet. Kiri ke kanan: Tanya Makarova, Vera Belik, Polina Gelman, Yekaterina Ryabova, Yevdokiya Nikulina, dan Nadezhda Popova. (Sumber: https://allthatsinteresting.com/)
Pesawat biplane tua Polikarpov Po-2 yang lambat dan terbuat dari kayu serta kanvas yang digunakan oleh para “Penyihir Malam” Russia dalam melawan AU Jerman yang perkasa. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Itu adalah perang udara yang brutal. Suatu malam, Jerman menembak jatuh empat pesawat Po-2, yang menewaskan delapan crew wanita dalam waktu 15 menit. Pada malam lainnya, dua penerbang wanita dijatuhkan di belakang garis musuh. Mereka berhasil, selama tiga hari untuk berjalan kembali ke unit mereka, dengan menghindari patroli Jerman di sepanjang jalan. Personel “The Night Witches”, yang terkenal adalah Tamara, Katya, Polina, Valentina, Shenya, Nina, Alexandra, Galina dan Katerina, yang kerap membawa bunga liar di kokpit mereka sebagai pernyataan kewanitaan mereka di tengah semua kematian dan penderitaan. Mereka tidak pernah ragu untuk terjun ke formasi pesawat-pesawat Jerman, tidak peduli betapa berisikonya. Pada suatu kesempatan, dua pesawat tempur Yak dari Resimen ke-586 mencegat 42 pembom musuh dalam perjalanan mereka menuju persimpangan rel. Dua pilot wanita segera menyerang, dan menembak jatuh empat pembom musuh sebelum pesawat mereka sendiri lumpuh. Awak udara Jerman tidak percaya ketika mereka menemukan bahwa banyak pilot Soviet yang menyerang mereka adalah wanita. Pada bulan Juni 1943, sekelompok pesawat-pesawat tempur Messerschmitt terbang berlindung di atas posisi artileri Jerman di kaki bukit Kaukasia. Tiba-tiba, pilot-pilot Luftwaffe melihat sembilan pengebom tukik Soviet mendekat, diapit oleh sebuah wing pesawat tempur. Saat tentara Jerman bersiap untuk menyerang, mereka kagum mendengar suara-suara wanita memanggil satu sama lain di radio mereka. Orang Jerman yang malang itu lalu terlibat dalam pertempuran udara dan dalam beberapa detik empat pesawat tempur Messerschmitt jatuh. Sementara itu Marina Raskova tewas dalam tugas pada tahun 1943. Dalam pemakaman kenegaraan pertama yang dilakukan di Rusia sejak awal perang, abunya ditempatkan di tembok Kremlin dengan penghormatan penuh.

PILOT TEMPUR WANITA RUSSIA PALING TERKENAL

Pilot tempur wanita Russia yang paling terkenal adalah Lilya Litvyak, seorang gadis pirang cantik setinggi lima kaki dengan mata abu-abu dan kepribadian yang menyenangkan. Dia terbang baik dengan Resimen Tempur ke-586 maupun dengan Resimen Tempur ke-73 yang sebagian besar personelnya adalah laki-laki. Lilya kemudian menjadi ace wanita terkemuka dengan menghancurkan 12 pesawat Jerman. Kehebatannya dalam kokpit pesawat tempur Yak-1 dan Yak-9 membuatnya mendapat “Mawar Putih Stalingrad”. Lilya (beberapa sumber menyebutnya Liliia dan Lydia) adalah satu dari ratusan wanita muda dari klub terbang yang menjawab panggilan putus asa negara mereka pada musim gugur tahun 1941. Leningrad saat itu telah dikepung, tentara Jerman mendekati Moskow dan lebih dari tiga juta orang Rusia telah ditawan. Kini tidak ada banyak waktu lagi yang tersisa. Lydia “Lilya” Vladimirovna Litvyak yang lahir tanggal 18 Agustus 1921, awalnya dibesarkan di rumah sederhana namun bahagia di dekat stasiun kereta bawah tanah di Jalan Nova Slobodskaya (Gedung nomor. 14, Apartemen nomot. 88) di Moskow. Ayahnya adalah seorang pekerja kereta api dan ibunya bekerja di sebuah toko. Menjadi terpesona dengan penerbangan saat remaja, Lilya membaca setiap buku yang bisa dia dapatkan tentang desain pesawat, navigasi, aerobatik, dan meteorologi. Pada usia 14 tahun, Lilya mendaftar di klub terbang lokal. Dia tahu bahwa orang tuanya akan ngeri jika mereka tahu dia menerbangkan pesawat, jadi dia menyelundupkan buku pelajarannya ke rumahnya dan memberi tahu ibu dan ayahnya bahwa dia menghadiri perkumpulan drama sekolah menjelang malam. Pada saat akhirnya rahasianya terbongkar, dia sudah menjadi seorang pilot yang handal.

Lydia “Lilya” Vladimirovna Litvyak, pilot tempur wanita Soviet yang paling terkemuka. (Sumber: https://airpowerasia.com/)

Sepanjang tahun 1930-an, pemerintah mendorong wanita di Uni Soviet untuk memasuki bidang yang didominasi pria sebagai bagian dari reformasi pertanian dan industri. Antara tahun 1934 dan 1941, pembersihan Stalin yang terkenal membawa para tersangka lawan ideologis nya sebanyak dua puluh juta orang ke Gulag atau kuburan. Ayah Litvyak adalah salah satunya. Seperti banyak korban Teror Besar saat itu, tidak jelas mengapa dia menjadi sasaran atau apa yang sebenarnya terjadi padanya. Meskipun tuduhan spesifik terhadapnya masih belum diketahui, keluarga tersebut diberitahu pada tahun 1956 bahwa ia meninggal karena sakit jantung di penjara pada tahun 1943; beberapa bulan kemudian, namanya secara resmi “direhabilitasi”. Sementara itu, sulit bagi Litvyak untuk melanjutkan karir barunya di penerbangan setelah ayahnya ditangkap. Dia tidak hanya harus mengatasi kekhawatiran dan stres dari kejadian tersebut, tapi dia juga harus menanggung stigma sebagai putri dari orang yang “di-blacklist”. (Setelah perang, saudara laki-lakinya, Yuri, dipecat dari serangkaian pekerjaan setiap kali diketahui bahwa ayahnya adalah bekas “musuh negara”; ia akhirnya mengganti nama belakangnya ketika menikah pada tahun 1951.), namun Lilya tidak menyerah. Dia melakukan penerbangan solo pertamanya pada usia 15 tahun dan dia kemudian lulus di sekolah terbang militer Kherson pada bulan Mei tahun 1940. Dia segera membuktikan bahwa dia memiliki bakat alami dan cepat belajar. Lilya mampu terbang solo dalam pesawat biplane Po-2 setelah hanya mengikuti instruksi selama empat jam dan segera menjadi tutor penerbangan. Pada saat perang dengan Jerman pecah, Lilya sudah melatih 45 pilot. Setelah membuat rekor selama 8 jam 40 menit mengajar dalam satu hari, dia dipilih sebagai salah satu pilot instruktur top di Moskow oleh majalah Samolyot (Airplane) pada tanggal 5 Mei 1941.

Jelang perang melawan Jerman pecah tahun 1941, Lilya yang usianya belum genap 20 tahun telah menjadi instruktur pilot yang handal. (Sumber: https://airpowerasia.com/)

Di samping pemberani dan penuh semangat, Lilya juga punya semangat kebebasan yang cenderung memberontak. Pada saat dalam pelatihan, para pejabat partai yang ada di mana-mana tinggal di antara para calon pilot. Salah satunya, seorang pejabat politik bernama Nina Ivakina, yang ditugaskan untuk menemukan tanda-tanda kelemahan ideologis. Setiap minggu, Ivakina melaporkan beberapa contoh pemberontakan dan ketidakdisiplinan baru. Suatu malam, seminggu sebelum Natal, Litvyak melakukan pelanggaran serius dengan menyelinap keluar dari asrama setelah jam malam untuk pergi berdansa dengan tentara laki-laki dari garnisun tetangga. Menjadi AWOL (absen tanpa alasan) selama pelatihan dasar terbukti adalah awal yang buruk untuk karir militer Litvyak. Ivakina berpikir bahwa hal itu konsisten dengan perilaku sembrono, sering terlambat, dan tidak patuh lainnya dalam diri Lilya. “Dia tidak sadar telah bersalah,” kata Ivakina dengan keheranan yang nyata ketika Litvyak didakwa di hadapan Pengadilan Komandan Tentara Merah dan tidak menyatakan penyesalan atas tindakannya. Litvyak menggunakan setiap kesempatan untuk menegaskan individualitasnya.

Selain memiliki sifat feminin yang kuat dalam hal penampilan, Lilya juga cenderung berjiwa bebas, yang kerap mengundang teguran dari atasannya. (Sumber: https://airpowerasia.com/)

Pertama, dia menolak rambut ikal coklat mudanya dipotong pendek seperti semua rekrutan lainnya. Ketika akhirnya dia mengalah, dia mendapatkan peroksida untuk mengecat rambutnya yang pirang-putih. Ketika diberikan seragam standar, dia menyesuaikannya dengan kerah bulu yang glamor, sebuah pelanggaran yang mana dia dengan cepat ditegur. Mungkin tampak aneh, namun Litvyak merasa begitu bebas untuk mengekspresikan perasaannya mengingat dia selamanya diawasi, tidak hanya oleh atasan militernya, tetapi oleh agen partai dan negara. Namun, terlepas dari kengerian yang ditimbulkannya, banyak warga Soviet yang mengalami perang, menganggap perang sebagai oasis kebebasan (relatif), ketika seseorang dapat berbicara dan bertindak tanpa khawatir harus terlalu ketat mengikuti garis kebijakan partai. Namun meski beberapa kali melakukan pelanggaran, Lilya memang memiliki kemampuan sekaligus populer. Larissa Rasanova, seorang rekan instruktur, berkata, “Lily adalah salah satu dari orang-orang yang pandai dalam segala hal yang dia coba. Dan dia sangat populer di kalangan pria. Saya pikir setiap pria di klub terbang itu jatuh cinta padanya. “

BASIS PELATIHAN ENGELS UNTUK PENERBANG WANITA

Pada bulan Oktober 1941, Lilya adalah satu dari seribu wanita muda, kebanyakan dari mereka hampir belum beranjak remaja, naik kereta ke arah timur menuju pangkalan pelatihan di Engels, kota kecil di Sungai Volga beberapa ratus mil di utara Stalingrad dan 500 mil tenggara Moskow. Di bekas lapangan udara masa damai yang dengan cepat diubah menjadi pangkalan udara yang dipertahankan dengan baik, Lilya dan rekan-rekannya akan menjadi pilot, navigator, penembak, operator radio, dan awak darat. Pelatihan selama tujuh bulan itu dijadwalkan akan dimulai pada tanggal 15 Oktober. Para rekrutan tersebut ditempatkan di sebuah gedung sekolah tua di perimeter lapangan terbang. Mereka menempelkan foto pacar dan keluarga mereka di dinding kosong di belakang ranjang kayu keras mereka dan, dengan gunting, jarum dan benang, mereka bekerja untuk membuat rompi wol, tunik, dan celana panjang longgar mereka yang besar menjadi seragam yang lebih menarik. Lilya menarik ikat pinggang dengan erat di pinggang mungilnya yang menekankan sosok rampingnya dan menambahkan bunga ke topinya. Para wanita, banyak di antaranya akan bertugas bersama selama empat tahun, saling membantu dan hanya ada sedikit kecemburuan diantara mereka. Karena Uni Soviet sangat membutuhkan penerbang garis depan, jadwal pelatihan di Engels sangat ketat dan padat. Pada beberapa hari, para gadis bisa menghabiskan sebanyak 14 jam di dalam kelas dan di udara. Kursus yang akan berlangsung hingga dua tahun di masa damai dikompresi menjadi hanya enam bulan. Para wanita itu mempraktikkan pengeboman dari berbagai ketinggian pada jarak yang dekat dengan lapangan terbang dan mempelajari teori dogfighting (pertempuran udara jarak dekat). Mereka menggunakan pesawat biplane Po-2, sebuah desain kuno dari tahun 1927 yang kecil dan lambat. Mesin lima silindernya hanya mampu melaju 60 mil per jam. Itu adalah pesawat primitif sehingga ketika membom, pilot akan menarik kawat di kokpit untuk melepaskan bom kecil yang dibawa di rak di bawah sayap. 

Para pilot wanita Soviet didepan deretan pesawat Po-2. Dalam pelatihan pilot-pilot wanita Soviet bisa berlatih 14 jam sehari baik di dalam kelas maupun di udara. Kursus yang biasanya berlangsung hingga dua tahun di masa damai dikompresi menjadi hanya enam bulan. (Sumber: http://worldwartwo.filminspector.com/)

Po-2 adalah pesawat andalan yang digunakan untuk bermacam tugas. Selain berfungsi sebagai pesawat latih utama dan pembom malam, pesawat itu juga digunakan sebagai pesawat pengintai, ambulans udara, dan pesawat transport kecil untuk membawa kurir dan tahanan penting. Karena konstruksi kayu dan kanvasnya, Po-2, yang menyerupai pembom torpedo Fairey Swordfish yang terkenal bersama Armada Udara Angkatan Laut Inggris, yang dapat lolos dari deteksi radar Jerman. Serangan-serangan pesawat Po-2 menimbulkan lebih banyak kerusakan psikologis daripada kerusakan fisik pada musuh, yang menjulukinya “Duty Sergeant” karena banyak malam tanpa tidur yang ditimbulkannya. Lilya Litvyak dan rekan-rekannya berlatih terbang malam dengan instruktur dan kemudian sendiri. Mereka belajar menavigasi dengan stopwatch dan “komputer” manual kasar yang diikat ke lutut mereka dan tanpa memanfaatkan komunikasi radio. Kembalinya mereka ke lapangan terbang setelah penerbangan pelatihan seringkali lebih merupakan masalah keberuntungan daripada sekedar penilaian, tetapi tidak ada korban jiwa sejauh itu. Semua wanita yang dipilih untuk pelatihan pilot ingin menerbangkan pesawat tempur dan tidak ada yang lebih bertekad dalam hal itu selain Lilya, yang kecewa dengan pesawat Po-2 yang sudah usang. Dia melihat satu skuadron jet tempur berkursi tunggal Yak-1 berhidung panjang yang diparkir di pangkalan udara Engels dan memutuskan bahwa salah satu dari mereka akan menjadi miliknya (nanti). Dia ingin bertempur dengan Luftwaffe.

Yakovlev Yak-1, tipe pesawat tempur yang digunakan oleh Lilya Litvyak. (Sumber: https://www.ebay.co.uk/)

Saatnya kemudian tiba bagi para wanita untuk lulus dari pelatihan menggunakan Po-2 dan memulai pelatihan di pesawat yang akan mereka gunakan untuk bertempur. Penerbang yang ditugaskan ke resimen pembom sekarang belajar terbang baik Po-2 yang dikonversi atau pembom ringan Petylakov PE-2 bermesin ganda. Lilya dan yang lainnya memilih untuk menerbangkan pesawat tempur akhirnya mendapatkan Yak-1 mereka. Mereka dengan bersemangat berlatih taxi, terbang sirkuit, latihan dogfights (pertempuran jarak dekat), dan terbang berpasangan, yang merupakan manuver standar dalam kelompok tempur Angkatan Udara Tentara Merah. Kokoh, mudah diterbangkan serta bersenjata senapan mesin di sayap serta kanon yang dipasang di poros baling-baling, Yak didasarkan pada desain seperti Supermarine Spitfire Inggris dan Messerschmitt 109 dari Jerman. Desainer Aleksandr Yakovlev tanpa lelah kemudian meningkatkan kemampuan Yak-1 standar, dan akhirnya mampu menghasilkan Yak-3, yang bisa mengalahkan pesawat tempur musuh terbaik sehingga pilot-pilot Jerman diperintahkan untuk menghindarinya. Uni Soviet akhirnya membuat lebih dari 30.000 yak, sekitar 58 persen dari pesawat tempurnya di masa perang. Lilya dan wanita lainnya yang telah menguasai kemampuan menerbangkan Yak-1 ingin segera beraksi. Pelatihan mereka akhirnya berakhir dan pesta besar di gedung sekolah Engels pada tanggal 17 Mei 1942 menandai kelulusan mereka. Akordeon dan banjo dimainkan, vodka mengalir dengan bebas, lilin berkedip di atas meja dan tepian jendela, dan para wanita muda yang bahagia menari bersama instruktur mereka.

RESIMEN TEMPUR KE-586 AKAN DIKIRIM KE GARIS DEPAN

Pada pemeriksaan keesokan paginya, Mayor Raskova mengumumkan bahwa Resimen Tempur ke-586 akan maju ke garis depan. Gadis-gadis itu bersorak liar dan saling berpelukan. Yak mereka dikirim pada hari itu juga. Sambil berbicara dengan penuh semangat, Lilya dan rekan-rekannya mengeluarkan pistol otomatis dari gudang senjata, mengenakan helm terbang dari kulit dan berjalan ke barisan pesawat tempur yang menunggu. Dalam formasi terbang berempat, mereka lepas landas dan terbang ke barat melintasi dataran Volga yang luas ke pangkalan tempat mereka ditugaskan di Saratov. Mereka menguji senjata pesawat mereka di jalan. Resimen tempur wanita itu ditugaskan untuk mempertahankan Saratov, tempat pabrik amunisi dan rel kereta api berada. Setelah mendarat, para penerbang membongkar barang-barang mereka di barak, menyesap teh, dan menulis surat ke rumah. Mereka sekarang berada di garis depan dan beberapa anggota resimen menerima pengalaman tempur pertama pada malam kedua mereka di Saratov. Satu skuadron lepas landas untuk mencegat armada pembom Jerman dan salah satu gadis Rusia, Galia Boordina, dengan berani terjun ke dalam formasi musuh dan memaksa mereka untuk berbalik. 

Pilot Wanita dari Resimen Tempur ke-586 di Anise saratov skaya oblast September 1942. (Sumber: https://www.flickriver.com/)

Hari demi hari, para wanita dari Resimen ke-586 menjalankan berbagai misi terbang dan segera menjadi veteran perang. Itu adalah kehidupan yang sulit dan ketegangan mulai terlihat pada gadis-gadis itu. Rambut mereka sekarang kusut dan mata mereka berbingkai merah dan mereka menjatuhkan diri dengan kelelahan di tempat tidur setelah menerbangkan misi. Mereka mengusir pesawat-pesawat Jerman dan mengganggu formasi-formasi pembom, namun kemampuan mereka masih menjadi faktor yang dipertanyakan di benak banyak perwira senior Angkatan Udara Tentara Merah. Mereka masih harus membuktikan diri. Pada musim gugur 1942, resimen itu dipindahkan ke lapangan terbang dekat Voronezh, sebuah jalan utama dan persimpangan kereta api yang mengontrol penyeberangan ke Sungai Don. Kota itu adalah titik kunci dalam serangan musim panas Jerman di selatan. Tumbuh dengan membenci musuh mereka karena penderitaan dan kehancuran yang ditimbulkan di negara mereka, Lilya dan rekan-rekannya telah mengusir banyak formasi pembom di sekitar Voronezh dan bertempur dengan pesawat-pesawat Me-109 yang mengawal. Resimen itu tidak menjatuhkan satu pun pesawat tempur Jerman, tetapi juga tidak kehilangan satupun pilot. Disini nilai para penerbang wanita mulai diperhatikan oleh komando tertinggi Soviet.

MENUJU KE STALINGRAD

Bulan September itu, Lilya dan sahabat dekat-nya, Katya Budanova serta Raisa Belyaeva, dan Mariya Kuznetsova, diberi tahu bahwa mereka akan dipindahkan ke Resimen Tempur ke-437 dari Angkatan Darat Udara ke-8 yang semua personelnya laki-laki di Stalingrad, di mana salah satu pertempuran paling berat dan menentukan dalam Perang Dunia II sedang dilancarkan. Kota yang luas di Volga itu adalah lubang neraka yang terbakar, berasap, dengan puing-puing berserakan, dihajar siang dan malam oleh pembom-pembom Jerman, pembom tukik, dan pesawat-pesawat tempur. Musuh memiliki superioritas udara, namun para penyerang telah terjerumus dalam perang yang melebihi kemampuan mereka dan gelombang arah perang berubah perlahan-lahan menguntungkan pihak Rusia. Lilya sangat senang dengan tugas barunya dan merindukan kesempatan untuk bertempur dengan orang-orang “Hun” yang dibencinya. Dia mengemas beberapa barang miliknya, kaus kaki, sarung tangan, helm wol, mug timah, saputangan sutra dan buku hariannya, ke dalam ransel dan duduk untuk menulis surat kepada ibunya. “Memenka tersayang,” tulisnya, “Saya menulis ini sambil duduk di kokpit sebagai persiapan. Aku sedang berpikir untuk duduk bersamamu di rumah tercinta kami. Saya makan gorengan favorit saya dalam mimpi saya…. ” Lilya meminta ibunya untuk mengirimkan beberapa sarung tangan dan kaos kaki hangat, pasta gigi dan foto ayahnya. Kemudian, pada suatu sore di bulan September 1942, dia naik ke Yak-nya dan terbang ke arah tenggara menuju Stalingrad. Setelah satu jam penerbangan, dia mendarat di salah satu lapangan terbang baru yang dengan tergesa-gesa dibangun oleh para penjaga kota di sisi jauh Volga. Saat turun dari pesawatnya, Lilya mendengarkan gemuruh dan dentuman artileri dan senjata kecil di seberang sungai. Ada asap di udara. Di ruang pengarahan pusat operasi bawah tanah, Lilya menghangatkan dirinya di depan kompor tua berperut buncit sementara pilot-pilot dari Resimen Tempur ke-437 sedang ditanyai setelah menjalankan misi serangan mereka. Akhirnya, para pria menyadari bahwa ada seorang wanita muda yang menarik di tengah-tengah mereka. “Halo, saya Letnan Lily Litvyak”, katanya riang, sambil berdiri dan merapikan tuniknya. “Aku pilot barumu.”

Yekaterina Budanova dan Lydia Litvyak. Pada bulan September 1942, keduanya dipindahkan ke Resimen Tempur ke-437 dari Angkatan Darat Udara ke-8 yang semua personelnya laki-laki di Stalingrad. (Sumber: https://airpowerasia.com/)

MUSUH BARU LILYA: CHAUVINISME PRIA

Lilya dan temannya, Katya Budanova, yang terbang keesokan paginya, segera mengetahui bahwa mereka memiliki musuh lain yang harus dihadapi selain orang-orang Jerman: yakni chauvinisme pria. Rekan-rekan baru mereka dan para perwira mereka tidak menyukai gagasan agar wanita terbang bersama mereka. Komandan resimen telah kehilangan banyak teman dan pilot yang baik dan mengatakan kepada Lilya dan Katya bahwa dia tidak siap untuk mempertaruhkan nyawa “pemburu bebas” —pasangan pilot pesawat tempur — dengan mengirimkan gadis-gadis. Komandannya, mengakui bahwa para Penyihir Malam telah dengan berani mempertaruhkan diri mereka sendiri dalam mempertahankan Saratov, tetapi takut Lilya dan Katya tidak akan setara kemampuannya dalam perang udara tanpa ampun yang berkecamuk di Stalingrad. Lydia Litvyak sendiri memang tidak terlihat seperti pilot pesawat tempur. Dia cukup kecil dan membutuhkan bantal pengganjal di kursi kokpitnya untuk bisa melihat ke luar jendela dan harus ada balok kayu di pedal kemudinya karena kakinya tidak akan bisa menjangkau tanpa balok tersebut. Lilya sedih, tapi dia tidak menyerah. Dia akan membuktikan kepada komandannya bahwa dia dan Katya sudah siap dan dia berencana untuk melakukan apapun jika diperlukan. Kedua penerbang dan Ina Pasportnikova, mekanik Lily, ditempatkan di sebuah rumah di perimeter lapangan terbang, jauh dari tempat tinggal pria. Seorang penjaga telah ditugaskan untuk “melindungi gadis-gadis itu dari orang-orang Jerman.” Saat mereka berjalan melintasi lapangan menuju tempat tinggal mereka, para wanita melewati pesawat-pesawat. Lilya Yak diparkir di samping pesawat Katya dan mereka sedang mengisi bahan bakar dan senjata mereka diisi amunisi. Pesawat Lilya memiliki ciri khas tulisan “No. 3 ” yang dilukis di badan pesawat. Dia menyebutnya “Troika” (tiga). Dia ingin sekali naik dan lepas landas dengannya. Bagaimanapun akhirnya Troika diterbangkan ke medan pertempuran dan yang bisa dilakukan Lilya hanyalah menunggu dan menonton dengan lega saat pesawatnya kembali dengan selamat. Seorang pilot pria muda menolak menerbangkannya karena mekanik wanita, Ina, telah merawatnya. Lilya tidak bisa membiarkan sikap semacam itu berkembang dan tidak ada aktivitas membuatnya kesal sementara dia terus berteman dengan beberapa pilot. Pada akhirnya para pilot wanita itu diijinkan pula untuk bertempur.

Lilya diantara para pilot-pilot pria. Di resimen barunya, Lilya mendapat tantangan dari para personel pria yang meragukan kemampuan pilot-pilot wanita. (Sumber: https://www.theparisreview.org/)

AKHIRNYA, KESEMPATAN UNTUK BERTEMPUR

Pada tanggal 13 September Lilya diberi tahu bahwa ia akan mendapat kesempatan untuk menembak jatuh orang Jerman dengan menerbangkan salah pesawat tempur Yak-1 yang baru. Dengan kecepatan puncaknya 368 mil per jam, kemampuan menanjak cepat dan dipasangi sebuah kanon kaliber 20 mm dan sepasang senapan mesin kaliber 12,7mm, Yak-1 hampir setara dengan Messerschmitt Bf-109 andalan Jerman. Setelah mendapat pengarahan pagi hari, Lilya memasang sabuk pengaman di samping, mengambil peta dan parasut, dan berjalan ke pesawat mereka. Dia naik ke kokpitnya dan Ina membantunya memasang sabuk pengaman di parasutnya. “Dia penuh dengan humor dan semangat” kenang Ina kemudian. “Dia seperti hewan kecil yang cantik, sedang mengikatkan tali kekang.” Dia terbang sebagai wingman dalam formasi tempur standar, dengan pesawatnya diposisikan di belakang dan di samping pesawat pilot pria yang memimpin, yakni Mayor S. Danilov. Pada ketinggian 10.000 kaki, mereka bersembunyi di balik awan untuk berburu mangsa. Kemudian Danilov mengirim pesan radio, “Ikuti aku.” Mereka lalu menukik ke dalam formasi pembom Junker Ju-88 dan Danilov itu berhasil merusak pesawat terdepan. Lilya menekan tombol senjatanya dan terbang melebar untuk menghindari mengenai tailplane dari Junker, tapi ia telah kehilangan jejak rekannya. Jadi dia berguling kembali ke arah formasi Jerman, yang sekarang tersebar, dengan pemimpin formasi Jerman menukik di luar kendali. Tiba-tiba, Lilya mendengar suara pilot Danilov berderak di headphone-nya: “Troika, Troika, di belakangmu! beloklah kekanan! “

Bomber Junker Ju-88 yang kerap menjadi lawan sekaligus korban dari Lilya Litvyak. Menurut catatan bomber ini juga yang menjadi korban pertama Lilya. (Sumber: https://www.theparisreview.org/)

Sebuah Messerschmitt 109 ternyata sudah berada di ekornya, meluncur dalam slipstreamnya dan menembak. Lilya merasakan peluru menghantam di belakang kokpitnya, jadi dia mengayunkan pesawatnya dengan keras ke kanan, menukik dan berguling. Orang Jerman itu terus mengikuti, tetapi gadis itu tidak merasakan tembakan lagi. Kemudian Me-109 meledak dalam bola api oranye; rekan Lilya telah menghabisinya. Hanya satu menit telah berlalu sejak terbang menukik mereka melalui formasi musuh. Sekarang, pesawat Jerman telah pergi. Terjun melalui awan yang pecah, dua pemburu Russia itu melihat mangsa lainnya, sebuah pembom Ju-88 yang tersesat. Danilov tertinggal dan memerintahkan Lilya untuk menyerang. Melonggarkan Yak-nya di bawah ekor pembom dan bergoyang-goyang di slipstreamnya, dia melepaskan tembakan ke perutnya. Api menelan pesawat Jerman itu, dan pesawat itu menukik ke sebuah lapangan. Itu hampir seperti latihan target dan Lilya tiba-tiba merasa mual. Kemudian dia melihat bahwa komandan skuadronnya, Raisa Beliaeva, yang kehabisan amunisi, sedang diserang oleh pesawat tempur Bf 109G-2 nomor 13556 black 8, yang dikemudikan oleh Erwin Maier (Ace dengan 11 kemenangan udara). Lilya kemudian menyerang pesawat jerman itu dan menembaknya jatuh. Maier berhasil menyelamatkan diri, namun segera ditangkap oleh pasukan Soviet. Belakangan pada hari itu, para penangkap Maier memperkenalkannya ke Litvyak. Butuh waktu lama untuk meyakinkannya bahwa wanita pirang mungil ini — tidak lebih dari seorang gadis —lah yang mengakhiri karir tempurnya. Lilya kemudian tercatat sebagai pilot tempur wanita pertama yang menjatuhkan pesawat musuh dalam perang. Bagi seorang pilot baru yang bisa membukukan dua kill dalam satu penerbangan pada hari ketiga pertempurannya, itu adalah pencapaian yang luar biasa.

ARAH PERANG BERUBAH DAN LILYA MENJADI TERKENAL

Pada tanggal 14 September, Lilya menembak jatuh sebuah Bf 109 lainnya. Korbannya kemungkinan adalah pemegang medali Knight’s Cross, Letnan Hans Fuss, ace dengan rekor “71 kill” (Adj.II./JG-3), yang tercatat terluka dalam pertempuran udara dengan sebuah pesawat tempur Yak-1 pada 14 September 1942 di daerah Stalingrad, ketika tangki bahan bakar pesawat tempur Bf-109 G-2-nya tertembak. Pesawatnya jungkir balik saat mendarat ketika dia kehabisan bahan bakar terbang kembali ke pangkalan. Dia terluka parah, kehilangan satu kaki dan meninggal karena luka-lukanya pada tanggal 10 November 1942. Sementara itu, pada 27 September, Litvyak mencetak lagi kemenangan udara melawan sebuah bomber Ju-88, yang mana penembak pada bomber itu telah menembak komandan resimen Lilya, Mayor M.S. Khovostnikov. Kemungkinan yang ditembak jatuh Lilya adalah Ju 88A-4 “5K + LH” yang dikomandani oleh pemegang Iron Cross, Oblt. Johann Wiesniewski, 2./KG 3, yang tercatat hilang bersama dengan seluruh krunya. Hari-hari semakin pendek dan semakin dingin saat musim dingin tahun 1942-43 tiba. Menjelang Natal, Lilya telah menembak jatuh lima pesawat, tiga pesawat tempur, dan dua pesawat pembom, seiring berlanjutnya kampanye militer sengit di Stalingrad. Saat ini, pasukan darat dan penerbang Soviet sedang berjuang untuk mencegah Angkatan Darat Keenam Jerman yang terperangkap pimpinan Jenderal Friedrich Paulus disuplai melalui udara.

Pemegang medali Knight’s Cross, Letnan Hans Fuss, ace dengan rekor “71 kill”, yang mungkin menjadi salah satu korban Lilya Litvyak pada tanggal 14 September 1942. (Sumber: http://www.luftwaffe.cz/)

Lilya terbang bersama rekan-rekannya pada hari-hari ketika cuaca memungkinkan. Penerbang-penerbang Rusia kini mendapatkan keunggulan udara di atas langit Stalingrad yang terkepung, dan berita tentang kisah kepahlawanan pilot-pilot wanita menyebar. Nama Lilya muncul di beberapa surat kabar, tapi dia pemalu dan menjauhi publisitas. Dia menolak untuk berbicara dengan seorang koresponden yang berkunjung dan menyuruhnya untuk mewawancarai mekaniknya saja. Namun, ada sentuhan flamboyan dalam dirinya. Dia meminta salah satu mekanik lapangan terbang untuk mengecat gambar bunga bakung putih (Lily sesuai dengan namanya) besar di setiap sisi badan pesawat Yak dan sederet bunga kecil di sepanjang hidung untuk menandakan kemenangannya di udara. Namun orang-orang Jerman mengenalinya sebagsi bunga mawar, jadi Lilya Litvyak kemudian dikenal sebagai “Mawar Putih Stalingrad”. Dia sekarang juga dikenal oleh pihak Jerman dan dalam banyak kesempatan para pengawas darat mendengar pilot musuh saling memperingatkan: “Achtung, Litvyak!” . Sementara itu dii udara dan di darat, tentara, penerbang, dan warga sipil Soviet yang keras kini kepala unggul di dalam dan sekitar Stalingrad, yang sekarang menjadi hamparan puing-puing yang menghitam. Unit infanteri, artileri, dan lapis baja Rusia menyerang Angkatan Darat Keenam, yang kehabisan amunisi, ransum, dan persediaan medis. Angkatan Udara Tentara Merah mendapatkan kekuatan baru karena pabrik-pabrik di Russia mampu memproduksi ribuan pesawat dan ratusan pesawat tempur asal Inggris dan Amerika juga berdatangan ke Rusia. Pada pertengahan tahun 1943, Angkatan Udara Tentara Merah akan memiliki 8.300 pesawat tempur garis depan dan didukung oleh setengah juta pria dan wanita. Ribuan orang Jerman tewas di musim dingin yang menggigit dan Rusia menghentikan upaya untuk membebaskan tentara Paulus yang sudah putus asa. Pada bulan Januari 1943, dia dan lebih dari 94.000 anak buahnya menyerah. Diperkirakan 147.000 orang Jerman telah tewas di Stalingrad dan 100.000 lainnya di sekitar kota. Itu adalah titik balik peperangan dan Jerman sekarang terpaksa mundur.

SATUAN BARU

Litvyak, Beliaeva, Budanova, dan Kuznetsova hanya berada di Resimen ke-437 untuk waktu yang singkat, terutama karena Resimen tersebut kemudian dilengkapi dengan pesawat tempur Lavochkin-Gorbunov-Gudkov/LaGG 3 dan bukan Yak-1, yang biasa para wanita itu terbangkan. Jadi keempat wanita itu kemudian dipindahkan ke Resimen Tempur Pengawal ke-9. Dari bulan Oktober 1942 hingga Januari 1943, Litvyak dan Budanova bertugas, masih di daerah Stalingrad, dengan unit terkenal ini, yang dipimpin oleh Lev Shestakov, pemegang medali Pahlawan Uni Soviet. Pada tanggal 8 Januari 1943, Resimen ke-9 dilengkapi kembali dengan pesawat tempur Bell P-39 Airacobra dan Litvyak dan Budanova kembali dipindahkan. Lilya akhirnya menemukan markas tempur sejatinya ketika dia dan Budanova dipindahkan ke Resimen Penerbangan Tempur ke-296. Resimen Ke-296, dari Angkatan Darat Udara ke-8, adalah resimen garis depan. Komandan resimen itu adalah Nikolai Ivanovich Baranov, yang telah berperang sejak hari pertama perang pecah melawan Jerman, dan lebih dikenal sebagai “Batya” (“Ayah”) bagi para pilot-pilotnya. Baranov-lah yang akhirnya memberi kesempatan Litvyak dan Budanova untuk membuktikan keahlian mereka.

Lev Shestakov, yang pernah menjadi komandan Lilya di daerah Stalingrad. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Di resimen itu banyak pilot tempur terkenal, seperti komandan skuadron Alexei Solomatin, yang berpartisipasi dalam pertempuran udara terkenal beberapa bulan sebelumnya, ketika tujuh pesawat tempur Soviet melawan 25 pesawat musuh. Solomatin (dengan 39 kemenangan udara, 22 diantaranya kemenangan bersama)) lalu mengambil Litvyak sebagai wingman-nya, dan Budanova terpilih untuk terbang bersama Baranov. Dengan cara ini, para wanita bisa mendapatkan keuntungan dari terbang bersama para pemimpin yang sangat berpengalaman. Pada tanggal 11 Februari 1943, Litvyak adalah salah satu dari 4 pesawat tempur dari Resimen itu yang terlibat dalam pertempuran udara dengan 29 pesawat musuh. Terbang bersama Baranov, Solomatin, dan pilot keempat, Litvyak secara pribadi menembak jatuh sebuah Ju-87 dan berbagi “kill” dengan Baranov saat menembak jatuh pesawat tempur Focke-Wulf 190. Belakangan bulan itu, dia dipilih untuk bergabung dengan barisan elit, “pemburu bebas” —pilot tempur yang, karena keahlian mereka, dikirim berpasangan untuk menemukan dan menghancurkan pesawat-pesawat musuh. Dia menjadi komandan penerbangan dan dipromosikan dari sersan menjadi letnan junior. Pada tanggal 8 Maret 1943, Resimen ke-296 diubah namanya menjadi Resimen Penerbangan Tempur Pengawal ke-73 sebagai pengakuan atas kinerja tempurnya. Bulan Maret itu, Resimen Tempur ke-73 dipindahkan ke sebuah lapangan terbang di Rostov di Don Basin, tempat pasukan Jerman berkumpul kembali setelah mundur dari wilayah Kaukasus Utara. Lilya sekarang telah menerbangkan misi tempur selama 10 bulan. Dia adalah seorang pilot yang baik dan seorang petempur yang agresif dan sangat beruntung. 

Alexei Solomatin, pria yang mencintai Lilya dan sempat menjadi satu tim penerbang pemburu. (Sumber: https://livelongandprosper28.wordpress.com/)

Namun, peruntungannya hampir habis. Suatu hari pada tanggal 22 Maret, sebagai bagian dari formasi enam pesawat tempur Yak, dia mendekati untuk menyerang selusin pesawat pembom Ju-88. Dia merusak dan menjatuhkan bomber musuh, tetapi 6 pesawat Bf-109 yang mengawal menembakinya. Dalam pertarungan udara yang tidak menguntungkan itu, Litvyak menggunakan taktik yang sering digunakan oleh pilot Soviet yang memiliki saraf yang sangat kuat. Dia mendorong throttle ke depan dan melesat langsung ke sekelompok pesawat tempur musuh. Pada menit terakhir, mereka membelok, dan Lilya bisa mendapatkan posisi menembak yang bagus serta bisa menembak jatuh sebuah Messerschmitt lawan, tapi tembakan pesawat tempur musuh menghancurkan penutup mesin Yak miliknya. Mesin pesawat mati dan Lilya dengan panik menarik diri. Lilya telah menjatuhkan pesawat musuhnya yang kesembilan, tapi dia dalam masalah. Saat melakukan pendaratan paksa, Lilya merasakan sakit yang luar biasa di kaki kirinya. Peluru yang mematikan mesinnya ternyata juga mengenai kakinya. Berjuang untuk tetap sadar, Lilya menghantam padang rumput dengan roda pendaratannya masih terlipat. Yak itu menabrak rerumputan, berbalik dan tersentak berhenti. Dengan darah mengalir dari kakinya, Lilya terhuyung-huyung ke pinggir jalan terdekat. Ketika Kolonel Baranov berkendara beberapa menit kemudian untuk menjemputnya, Lilya pingsan. Setelah menerima perawatan lapangan, Litvyak dikirim ke rumah sakit di Moskow untuk dioperasi. 

PENYEMBUHAN LALU KEMBALI BERTEMPUR

Ketika dia telah pulih, Lilya dikirim untuk cuti pemulihan ke rumahnya. Dia tidak suka meninggalkan resimen tempurnya, tapi dia sangat senang bisa bertemu kembali dengan ibunya dan adik laki-lakinya yang berusia 14 tahun, Yuri. Meskipun Moskow mengalami kekurangan makanan yang parah, ibu Lilya memasak beberapa makanan favoritnya. Kaki gadis itu sembuh perlahan dan dia bisa berjalan jarak pendek tanpa tongkat. Dia merasa sulit untuk bersantai, dan setelah berada di rumah kurang dari dua minggu dia memutuskan untuk kembali ke Rostov. Pada malam terakhirnya di Moskow, Lilya mengenakan gaun biru dan putih yang cantik dan pergi bersama ibunya dan Yuri ke Teater Bolshoi, tempat Ulanova memainkan Odette dalam balet Tchaikovsky, Swan Lake. Sebagai veteran yang terluka, Lilya berhasil mendapatkan tiket. Setelah perpisahan yang penuh air mata keesokan paginya, penerbang kecil yang pemberani itu tertatih-tatih untuk menumpang pesawat kembali ke Rostov. Dia tidak akan pernah melihat keluarganya lagi. Sementara itu kurang dari enam minggu setelah cederanya, Lilya kembali ke mencatat skor. Dia telah menembak jatuh dua pesawat musuh pada bulan Maret; lalu akan melakukan tiga “kill” di bulan Mei, dan empat “kill” lainnya di bulan Juli — semua dibukukannya sendiri. Litvyak menembak jatuh sebuah pesawat tempur Me-109 pada tanggal 5 dan 7 Mei. Kabarnya, dia belum sepenuhnya mendapatkan kembali kekuatannya saat pertama kali kembali terbang; dia sangat lemah setelah penerbangan tanggal 5 Mei sehingga Baranov menolak untuk membiarkannya terbang lagi hari itu. Namun bulan Mei membawa tragedi sekaligus kemenangan bagi Litvyak. Pada tanggal 6 Mei, Nikolai Baranov meninggal ketika dia berusaha menyelamatkan pesawatnya yang terbakar; meskipun parasutnya terbuka, ia sudah terbakar. Pilotnya melihatnya jatuh hingga tewas, dengan parasut yang terbakar melayang di udara.

Messerschmitt Bf-109. Lilya pertama kali ditembak jatuh dengan pesawat tipe ini, meskipun ia juga menjatuhkan beberapa pesawat tipe ini. (Sumber: https://www.flightlineweekly.com/)

KEHILANGAN ALEXEI

Suatu sore saat jeda dalam pertempuran pada tanggal 21 Mei, Lilya, Katya, dan beberapa pilot lainnya bermalas-malasan di rumput dan menyaksikan Alexei mengajarkan taktik dogfighting kepada pendatang baru skuadron. Saat kedua petempur Yak berputar dan mengejar satu sama lain pada ketinggian yang sangat rendah, Alexei berbelok tajam yang menyebabkan dia kehilangan ketinggian. Sayapnya turun dan pesawat menghantam tanah dengan benturan keras. Semua orang berlari dengan panik melintasi lapangan. Dampak dari tabrakan itu telah mendorong bagian depan pesawat Alexei ke badan pesawat, menghancurkan kokpit. Ketika Alexei akhirnya ditarik dari reruntuhan, dia hampir tidak bisa dikenali, tubuhnya telah dikompresi menjadi sebagian kecil dari ukuran normalnya. Hanya dua minggu sebelumnya, dia telah menerima penghargaan militer tertinggi, medali Pahlawan Uni Soviet. Banyak kemudian telah ditulis tentang kisah cinta antara Litvyak dan Alexei Solomatin, yang sempat terbang bersama di Resimen ke-73. Tetapi menurut surat Litvyak, dia tidak menyadari bahwa dia mencintai Solomatin sampai hari kematiannya. Dia menulis surat yang memilukan kepada ibunya pada akhir bulan Mei, beberapa hari setelah pemakaman Solomatin: 

Pahlawan Uni Soviet dan “ace” Aleksey Frolovich Solomatin. Kematian Solomatin pada tanggal 21 Mei 1943 sangat memukul Lilya, yang baru menyadari bahwa Solomatin adalah cinta sejatinya. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

“Nasib telah merenggut sahabatku Lyosha Solomatin. … Dia adalah favorit semua orang dan dia sangat mencintaiku, tapi pada saat itu dia bukan pria ideal buatku. Karena hal ini, maka ada banyak ketidaknyamanan diantara kami. Aku dipindahkan ke skuadron lain dan mungkin itu sebabnya aku ditembak jatuh di atas Rostov.” Dalam surat yang sama, Litvyak menggambarkan sebuah mimpinya: “Sungai itu bergolak, tidak aku mungkin berenang menyeberang; (Solomatin) berdiri di tepi seberang dan dia memanggilku, hanya untuk menangis, dan dia berkata, “Lagi pula, Batya (Baranov) berhasil mendapatkanku untuk dirinya sendiri, dia tidak bisa mengelola (Resimen) tanpaku.” Dan lagi Alyosha memanggilku dan bertanya: “Lilya, kamu tidak (mau) ikut?” Dan aku mengatakan kepadanya, “Jika mereka mengizinkanku.…” Tetapi aku tahu bahwa aku toh tidak bisa berenang menyeberangi sungai ini. Dan aku terbangun. Kini sangat menyedihkan bagiku untuk bisa tetap bertahan, dan aku yakin, mamochka (ibunya), bahwa aku baru menghargai persahabatan ini hanya pada saat kematiannya. Jika dia tetap hidup, maka tampaknya persahabatan ini akan menjadi sangat indah dan kuat. Kamu tahu, dia adalah pria yang tidak sesuai dengan seleraku, tetapi ketekunan dan cintanya kepadaku mendorongku untuk mencintainya, dan sekarang… tampaknya bagiku bahwa aku tidak akan pernah lagi bisa bertemu orang seperti dia”.

Balon observasi artileri Jerman. Menyerang balon semacam ini yang dilindungi oleh berbagai senjata anti pesawat adalah misi yang sangat berbahaya. Pada tanggal 31 Mei 1943, Lilya menjatuhkan sebuah balon observasi. (Sumber: https://www.flightlineweekly.com/)

Lilya berduka selama berbulan-bulan. Dia tidak banyak bicara tentang Alexei, tapi dia membawa foto Alexei kemana-mana. Tragedi itu memberinya dedikasi baru dan mekaniknya mengamati bahwa dia “telah menjadi hampir obsesif dalam kebenciannya.” Kesedihan itu tidak menghentikan Lilya, karena ingin terbang lagi, dia mengajukan diri untuk melaksanakan misi berbahaya melawan balon observasi Jerman yang dipertahankan dengan baik yang telah berfungsi untuk memanggil tembakan artileri akurat ke posisi pasukan Rusia di sektor tersebut. Satu pesawat Soviet telah jatuh saat mencoba menghancurkan balon tersebut. Lilya mempelajari petanya, dengan tertatih-tatih menuju Yak-1 nya dan lepas landas. Terbang di ketinggian 200 kaki melintasi garis pertahanan musuh, dia mengabaikan tembakan darat dan mengenai badan pesawat sebelum menukik ke ketinggian 100 kaki. Dengan matahari sore di belakangnya, dia mendekati balon yang sedang ditarik turun untuk malam itu. Pada jarak 500 yard, dia mengirimkan aliran tembakan kanon dan senapan mesin ke dalam perut balon dan melihatnya hancur dalam kilatan oranye yang cemerlang. Dengan gembira, dia meluncur ke markasnya dan melakukan manuver roll kemenangan terbalik melintasi lapangan pada ketinggian 50 kaki. Dia tetap tidak kehilangan sentuhannya. Sekembalinya ke resimennya, dia telah dipromosikan menjadi letnan senior, dan beberapa minggu kemudian — pada usia dua puluh satu — dipromosikan lebih lanjut menjadi pemimpin skuadron. Pada tanggal 13 Juni 1943, Lilya diangkat menjadi komandan penerbangan di Skuadron Penerbangan ke-3 dari Resimen Penerbangan Tempur Pengawal ke-73. Beberapa hari kemudian, dia terbang sebagai wingman dari komandan resimen baru yang, I.V. Golyshev, ketika mereka berangkat untuk mencegat pesawat pengintai musuh dan bertemu dengan empat pesawat tempur Me-109. Golyshev terluka; Litvyak berhasil melindungi jalan keluarnya dari pertempuran, tetapi pesawatnya ditembak dengan buruk dalam prosesnya. Meskipun ada sepuluh lubang di Yak-1-nya, dia berhasil mendaratkan pesawat. Litvyak terluka sekali lagi pada 16 Juli 1943, ketika 6 pesawat Yak-1 bertempur melawan 30 bomber Ju-88 yang dikawal oleh 6 pesawat tempur Me-109. Meskipun terluka di awal pertempuran, dia tetap bertahan dalam pertarungan dan menembak jatuh satu pembom dan satu pesawat tempur. Dipaksa meninggalkan daerah itu setelah mengalami kerusakan serius pada pesawatnya, dia diserang lagi saat kembali ke pangkalan dan terluka untuk kedua kalinya. Litvyak menerima perawatan medis setempat untuk bahu dan kakinya, tetapi menolak dikirim ke rumah sakit lapangan, dengan alasan lukanya tidak serius. Ia ditembak jatuh dua kali dalam tiga minggu dan kemudian terpaksa melakukan pendaratan darurat. Keesokan harinya, Rose of Stalingrad telah terbang tinggi lagi, dengan pesawat pengganti. Semangat agresif dan keterampilan para pemburu bebas, baik pria maupun wanita, sekarang menjadi legenda di langit Front Timur. Dekat Orel pada tahun 1943, Mayor D.B. Meyer dari Luftwaffe melaporkan bahwa unitnya sedang berjuang melawan “pemberani yang tak kenal takut, penerbang yang terlatih baik dan hebat, dengan memahami kelemahan  pihak Jerman.” meskipun superioritas udara Rusia telah meningkat, namun para pemburu bebas Russia masih kalah jumlah saat mereka menyerang formasi pesawat musuh. 

Katya Budanova (kiri), kawan dekat Lilya. Budanova gugur pada tanggal 19 Juli 1943. Kematiannya membuat Lilya merasa makin kesepian karena kehilangan rekan-rekan terpentingnya. (Sumber: https://www.flightlineweekly.com/)

Lilya bertempur terus menerus dan kematian banyak memakan korban temannya. Dia masih memiliki tekad yang sama, tapi dia bukan gadis periang yang sama yang telah meninggalkan Moskow beberapa tahun sebelumnya. Dia menulis kepada ibunya, “Kehidupan pertempuran telah menelanku sepenuhnya. Sepertinya aku tidak bisa memikirkan apa pun kecuali pertempuran … aku mencintai negaraku dan kamu, ibuku tersayang, lebih dari apa pun. Aku ingin sekali mengusir orang Jerman dari negara kita sehingga kita bisa hidup bahagia dan normal bersama lagi. ” Dia harus mendiktekan suratnya karena tangan kanannya terluka oleh peluru. Lilya dihibur oleh temannya dan sesama pemburu bebas, Katya Budanova, seorang wanita muda bertampang kekanak-kanakan yang memiliki catatan kemenangan empat pesawat Jerman. Katya suka menyanyi dan bernyanyi dan pada pagi hari tanggal 19 Juli 1943, dia berangkat pada misi tempur terakhirnya. Setelah berhadapan dengan beberapa pesawat Bf-109 dan menembak jatuh 2 diantaranya (kemenangan ke-5 dan 6) dia terpaksa melakukan pendaratan darurat. Budanova terluka parah dan pesawatnya rusak berat. Dia berhasil mendarat di lapangan terdekat, tetapi sudah sekarat ketika penduduk desa setempat menariknya dari pesawat. Pada hari itu juga, saat mengawal pesawat-pesawat serang darat Il-2, Litvyak menembak jatuh satu Me-109. Namun kehilangan Katya, membuat Lilya kembali hancur. Dia telah kehilangan Alexei, Kolonel Baranov, dan sekarang Katya. Dia merasa hampir sendirian sekarang setelah kehilangan rekan-rekan yang paling ia penting baginya. Keesokan harinya, Litvyak nyaris tewas dari pertempuran udara yang sengit ketika dia dan Golyshev bertemu dengan sepuluh pesawat tempur musuh. Litvyak berhasil menyelamatkan pesawatnya yang terbakar; tapi Golyshev tewas. Sekarang, untuk menambah daftar motivasinya, dia memiliki keinginan yang sangat pribadi untuk membalas dendam kepada teman-temannya yang telah gugur.

MAWAR PUTIH MENGHILANG

Sekitar matahari terbit pada hari Minggu, tanggal 1 Agustus 1943, Lilya berjalan-jalan melintasi lapangan terbang dekat kota Krasny Luch di Donets Basin. Dia berhenti sejenak untuk memetik bunga liar dan mengobrol dengan Ina, mekaniknya yang setia, yang telah menyiapkan Yak Lilya untuk melakukan misi tempur pertamanya hari itu. Lilya mengangkat dirinya ke dalam kokpit dan menyematkan bunga di samping panel instrumen. Dia merasa lebih baik daripada sebelumnya. Dia melambaikan selamat tinggal kepada Ina, menyalakan mesinnya dan pergi. Sepuluh mil dari garis depan, Lilya dan lima rekan pemburu bebas melihat buruan mereka, formasi besar pembom Junkers 88 yang dikawal oleh pesawat-pesawat Me-109. Pada penerbangan ketiganya hari itu, dia berbagi “kill” atas sebuah Bf-109. Sementara pada penerbangan keempatnya yang naas, ia berpartisipasi dalam pertempuran udara massal yang melibatkan 6 pesawat Yak-1 melawan 12 pesawat tempur Me-109 dan 30 pembom Ju-88. Litvyak kemudian bisa menembak jatuh sebuah Me-109. Para pilot Rusia lalu mendekati musuh yang tersisa, tetapi Lilya tidak melihat melihat adanya pesawat Jerman, dua di antaranya ternyata menyerangnya. Dia berbalik untuk menghadapi mereka dan dia serta pesawat-pesawat Jerman itu menghilang ke dalam awan. Kemudian, Ivan Borisenko, wingman Lilya, merasa ngeri melihat asap mengepul dari Yak yang terlukis mawar putih. Dia kemudian melaporkan bahwa delapan Me-109 telah menyerang Lilya. Sebuah pertempuran yang tidak seimbang bahkan untuk Lilya yang berpengalaman. 

Pesawat tempur Yak-1 yang digunakan oleh Lilya pada misi terakhirnya saat ditembak jatuh pada 1 Agustus 1943. (Sumber: https://www.pinterest.ca/)
Monumen untuk memperingati kepahlawanan Lilya Litvyak. (Sumber: https://www.etoretro.ru/)

Mawar Putih itu telah menghilang di wilayah musuh. Ketika pasukan Soviet merebut kembali daerah itu beberapa hari kemudian, resimennya melakukan pencarian ekstensif tetapi tidak dapat menemukan jejak pesawat Litvyak. Tidak ada juga yang melihat kecelakaannya, tapi tidak ada keraguan bahwa dia sudah gugur. Ina berkata, “Ketika kami menyadari bahwa Lily tidak akan kembali, orang-orang di resimen itu putus asa dan menangis. Mereka tidak pernah menemukan pesawat atau tubuhnya, jadi tidak ada pemakaman. ” Rekannya kemudian berkata, “Semua orang tanpa kecuali mencintainya. Sebagai pilot dan sebagai pribadi, dia cantik. ” Lilya, yang dicatat sebagai “hilang tanpa jejak,” telah direkomendasikan untuk mendapat medali Pahlawan Uni Soviet, tetapi peraturan memutuskan bahwa medali itu tidak dapat diberikan kepada siapa pun yang menghilang dalam pertempuran. Tetapi beberapa peneliti tidak pernah berhenti mencarinya selama tiga puluh enam tahun. Ina Pasportnikova bersumpah bahwa dia tidak akan beristirahat sampai tubuh Litvyak ditemukan dan namanya dihapus dari daftar orang hilang. Dia bekerja selama bertahun-tahun dengan berbagai kelompok yang mencari dan mengidentifikasi korban perang. Pada tahun 1979, para peneliti menemukan lebih dari 90 lokasi kecelakaan pesawat, 30 pesawat, dan banyak pilot yang hilang tewas dalam pertempuran. Mereka juga menemukan bahwa seorang pilot wanita tak dikenal telah dimakamkan di desa Dmitrievka. Kemudian disimpulkan bahwa ini adalah Lydia Litvyak dan dia telah terbunuh dalam pertempuran yang diakibatkan oleh luka di kepala yang mematikan. Catatannya kemudian diubah menjadi “kill in action” dan Ketua Partai Komunis Soviet Mikhail Gorbachev menandatangani penghargaan Pahlawan Uni Soviet bagi Lilya pada bulan Mei 1990. Medali itu diberikan kepada saudara laki-laki Lilya, Yuri. Sebagai wanita pertama dalam sejarah yang menembak jatuh pesawat musuh, Lilya Litvyak telah menyelesaikan 268 misi tempur dan menjadi pilot pesawat tempur wanita dengan skor tertinggi dengan 12 kemenangan udaranya, ditambah tiga catatan kemenangan bersama, yang didapatnya dalam waktu kurang dari satu tahun dalam misi penerbangan tempur yang dijalaninya. Sebuah tugu peringatan, dengan patung heroik dirinya, kini didirikan baginya di Krasny Luch.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

The Red Air Force’s Female Fighter Ace Lilya Litvyak by Michael D. Hull

Litvyak, Lidiya (1921–1943)

https://www.encyclopedia.com/women/encyclopedias-almanacs-transcripts-and-maps/litvyak-lidiya-1921-1943

The Short, Daring Life of Lilya Litvyak By Edward White; October 6, 2017

https://www.theparisreview.org/blog/2017/10/06/short-daring-life-lilya-litvyak-white-rose-stalingrad/

Pilot Profile: Lydia Litvyak, the World’s First Female Fighter Ace By Aviation Oil Outlet on Apr 13th 2018

https://aviationoiloutlet.com/blog/lydia-litvyak-first-female-fighter-ace/

Fighter Ace Lydia Litvyak “White Lily” – Highest Aerial Victories by a Female Fighter Pilot by Anil Chopra

https://www.google.com/amp/s/airpowerasia.com/2020/06/14/fighter-ace-lydia-litvyak-white-lily-highest-aerial-victories-by-a-female-fighter-pilot/amp/

GREAT EUROPEAN LIVES: Lydia Litvyak by  Charlie Connelly

https://www.theneweuropean.co.uk/brexit-news/great-european-lives-lydia-litvyak-52884

Lydia Litvyak – First Female Fighter Ace

https://www.flightlineweekly.com/post/2019/09/11/lydia-litvyak-first-female-fighter-ace

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *