Woodfill, the America’s Greatest Doughboys

Samuel Woodfill sudah memiliki karir yang panjang di Angkatan Darat AS pada saat Amerika Serikat mendeklarasikan perang terhadap Jerman pada tahun 1917 dimana ia akan mencatat prestasi fenomenal. Sebagai putra seorang veteran Perang Meksiko-Amerika dan Perang Sipil, ia mendaftar pada tahun 1901 pada usia 18 dan meninggalkan kampung halamannya di Indiana.

Master Sgt. Samuel Woodfill, wearing his Medal of Honor.

Karir awal

Samuel Woodfill lahir 6 Januari 1883 di Bryantsburg, Indiana, putra John H. Woodfill. Ayahnya adalah seorang veteran Perang Meksiko-Amerika dan Perang Saudara Amerika, yang bertugas di Resimen Infantri ke-5 Indiana. Woodfill belajar berburu sejak usia dini dan sudah bisa menembak tepat pada usia sepuluh tahun. Dia menerima pendidikan dasar di sekolah-sekolah lokal dan mendaftar di Infanteri ke-11 Angkatan Darat Amerika Serikat pada 8 Maret 1901.

American soldiers battling with Moro fighters

Setelah pelatihan dasar, Pvt. Woodfill mendapati dirinya ditugaskan di Resimen Infantri ke-11 yang ditempatkan di Filipina. Dia terlibat dalam berbagai kampanye militer melawan orang-orang Moro yang memberontak dan mendapatkan banyak pujian sebagai prajurit “yang jujur dan dan dapat dipercaya dalam tugasnya.” Pada tahun 1910, Woodfill meninggalkan Filipina ke sejumlah pos penugasan lainnya. Selama tujuh tahun berikutnya, ia akan bertugas di Alaska, Kentucky, dan di perbatasan Meksiko. Tapi dia tidak terlibat pertempuran lagi saat itu.

Great War

Kemudian semua berubah pada saat Amerika mendeklarasikan perang melawan Jerman. Woodfill, yang saat itu adalah seorang sersan, mengikuti kursus pelatihan perwira dan menerima pangkat letnan dua sementara pada masa perang. Segera setelah itu, dia diberi komando sebuah kompi senapan mesin bagian dari Resimen Infantri ke-60, Divisi ke-5. Akhirnya, pada bulan April 1918, unitnya berlayar ke Prancis.

Pasukan Amerika dalam Ofensif Meuse-Argonne September 26 –November 11, 1918

Namun, Divisi ke-5 tetap berada di garis belakang hingga tanggal 12 Oktober 1918 ketika mereka dikirim ke garis depan untuk mengambil bagian dalam Serangan besar di Meuse-Argonne. Woodfill memimpin kompinya dalam serangan di dekat desa Cunel ketika mereka diserang tembakan senapan mesin Jerman yang gencar dari berbagai posisi. Dia memerintahkan kompinya untuk berlindung sementara dia bergerak maju sendirian untuk melakukan pengintaian.

Aksi legendaris

Dia dengan cepat melihat adanya tiga kubu senapan mesin Jerman yang menembaki pasukannya. Dengan menggunakan keterampilan menyelinap yang ia pelajari dari berburu di hutan belantara Indiana, ia mendekati posisi pasukan Jerman tanpa terlihat dan bersiap untuk menghabisi mereka semua.

Gun crew from Regimental Headquarters Company, 23d U.S. Infantry, firing 37mm gun during an advance against entrenched German positions.

Tiga posisi Jerman masing-masing tersembunyi dengan baik di semak-semak, gudang tua, dan gereja kosong. Woodfill membidik penembak mesin yang menembaki anak buahnya di menara gereja sekitar 300 yard jauhnya. Tidak dapat melihat penembak, dia hanya membidik posisi di belakang kilatan tembakan dan menarik pelatuk. Senapan mesin itu kemudian terdiam. Hal ini diulangi hingga empat kali lagi, karena setiap saat ada anggota kru Jerman lainnya yang melangkah maju untuk mengambil posisi tembak di belakang senapan mesin.

Senapan Springfield, tipe senapan standar militer Amerika dalam Perang Dunia I. Dengan senapan seperti inilah Woodfill menorehkan prestasinya di medan tempur.

Setelah posisi senapan mesin itu berhasil dibungkam, Woodfill memasukkan klip lima peluru lainnya di senapan Springfield-nya dan pindah ke target berikutnya. Satu tembakan ke arah seorang prajurit Jerman di kubu senapan mesin yang ada di gudang mengakhiri penembakan dari posisi itu.

Dia selanjutnya bermanuver untuk mencapai posisi tembak terbaik terhadsp kubu senapan mesin ketiga. Dengan melakukan itu, ia berlindung di lubang bekas tembakan meriam yang penuh berisi dengan gas mustard yang masih ada. Dia mendekat ke jarak sepuluh meter dari posisi itu. Kemudian dengan cepat, ia menembak mati tiga anggota kru senapan mesin dengan senapannya. Yang keempat, seorang perwira Jerman, menyerbu Woodfill dan segera terlibat dalam pertarungan tangan kosong. Dia mengalahkan perwira itu dan membunuhnya dengan pistol M1911.

The fighting in the Meuse-Argonne area was muddy and brutal.

Dengan kubu-kubu senapan mesin ini berhasil dibungkam, kompi Letnan Woodfill melanjutkan gerak maju mereka sampai mereka kembali ditahan oleh kubu senapan mesin Jerman lainnya. Woodfill sekali lagi berlari ke depan untuk menyerang posisi itu sendirian. Dia membunuh seluruh awak senapan mesin dengan senapannya dan menangkap tiga orang pembawa amunisi dari posisi ini.

American “doughboys” fighting in the Meuse-Argonne

Ketika kemajuan berlanjut, pasukan Woodfill kembali mendapat tembakan senapan mesin Jerman. Dan sekali lagi pemimpin mereka maju ke depan untuk menangani situasi. Woodfill menembak mati kru senapan mesin ini dengan lima tembakan dari senapannya lalu kemudian ia menarik pistolnya dan menyerang kubu pertahanan itu untuk membereskan orang-orang yang tersisa. Dia membunuh satu orang dengan pistolnya sebelum mengambil kapak yang ada di dekatnya dan membunuh yang lainnya sampai mati.

Pada saat ini, Woodfill telah menderita akibat paparan gas mustard dan pincang dari luka pecahan peluru. Dia dievakuasi dari garis depan dan dikirim ke Bordeaux untuk dirawat. Woodfill tidak lagi bertugas hingga perang berakhir dan tetap dalam perawatan medis selama beberapa minggu untuk penyembuhan efek gas beracun. Kepahlawanannya menghasilkan sejumlah penghargaan, tetapi ia akan menderita sakit paru-paru selama sisa hidupnya.

Penghargaan

Pada 22 Januari 1919, Woodfill dianugerahi Medal of Honor untuk aksinya pada musim gugur tahun sebelumnya. Bulan berikutnya, 9 Februari 1919, komandan Pasukan ekspedisi Amerika di Eropa, Jenderal John “Blackjack” Pershing secara pribadi menyerahkan penghargaan kepada letnan muda itu. Selain itu, dia juga memperoleh penghargaan dari negara2 lain seperti the French Légion d’honneur in the degree of Chevalier, the French Croix de guerre with bronze palm, the Montenegrin Order of Prince Danilo I in the degree of Knight dan Italian Croce al Merito di Guerra. Begitu legendarisnya Woodfill dengan kisahnya yang terkenal, sehingga hampir 11 tahun setelah perang berakhir, sebuah delegasi Angkatan Darat Polandia memberinya dua medali. Penganugerahan tersebut dilakukan selama Konvensi Nasional Legiun Amerika ke-11 yang diadakan di Louisville, Kentucky yang berlangsung dari tanggal 30 September – 3 Oktober 1929.

Medal of Honor Presentation Ceremony – February 9, 1919, at Chaumont, France.
Jenderal John J. Pershing pengagum Samuel Woodfill.

Pada tahun 1921, Jenderal Pershing menganugerahi dua penghargaan lagi di Woodfill. Ketika ditanya tahun itu untuk menyebut tentara Amerika yang hebat dari Perang Dunia I, Pershing mengejutkan semua orang dengan menyebut nama Letnan Samuel Woodfill, dan mengaku bahwa dia selalu menganggapnya sebagai “America’s Greatest Doughboy,” menyingkirkan nama-nama besar seperti Alvin York, Charles Wittlesey dari satuan “Batalyon yang Hilang”, dan bahkan Eddie Rickenbacker, Ace terbesar Amerika selama perang.Pershing kemudian menunjuk Woodfill sebagai pengusung jenazah, kali ini bersama dengan Alvin York, dalam event penerimaan sisa-sisa jasad Prajurit Tidak Dikenal korban PD I.

Akhir hidup

Prajurit legendaris, setelah dikembalikan ke pangkat tetapnya sebelum perang, pensiun dari Angkatan Darat sebagai Sersan Kepala pada tahun 1923. Selama masa jeda perang, Woodfill harus berjuang keras untuk menghidupi keluarganya dalam kehidupan yang serba pas-pas an karena bisnisnya seusai perang gagal, hingga dia harus bekerja sebagai petugas security Andrews Steel plant di Newport saat PD II pecah. Namun kecintaannya terhadap negara tidak pernah luntur, ia kembali mengabdi ke negaranya lagi selama Perang Dunia II. Bertugas sebagai seorang mayor, ia melatih dan menginspirasi para perwira muda sebelum mereka bersiap untuk menghadapi tantangan besar di medan PD II.

Maj. Samuel Woodfill at his home in Vevay, November 11, 1940

Pengabdian terakhir Woodfill ke negaranya adalah sekali lagi ia bertindak sebagai pengusung jenazah, kali ini untuk mantan komandan dan pengagumnya, Jenderal Pershing. Woodfill sendiri kemudian meninggal pada usia 68 tahun pada bulan Agustus 1951.

Diterjemahkan dari:

https://www.wearethemighty.com/history/this-is-how-general-pershings-favorite-doughboy-earned-the-medal-of-honor

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Samuel_Woodfill

https://themedalofhonor.com/medal-of-honor-recipients/recipients/woodfill-samuel-world-war-one

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *