Yamashita, Si “Macan Malaya”

Dengan sikap angkuh, Jenderal Jepang yang memiliki tinggi badan 6 kaki itu, yang dikenal sebagai “Macan Malaya” berdiri tak bergerak sewaktu mendengarkan hakim memutuskan hukum gantung sampai mati kepadanya. Ia diadili di suatu tempat di Manila di hadapan sebuah komisi militer pada bulan November 1945. Jabatan terakhir Jenderal itu, Jenderal Tomoyuki Yamashita adalah komandan balatentara Dai Nippon di Filipina.

Jenderal Yamashita dalam seragam lengkap.

Kehidupan awal

Tomoyuki Yamashita dilahirkan pada tahun 1885 di dusun Osugi Mura di Shikoku, pulau terkecil dari 4 pulau yang merupakan kepulauan Jepang. Ia adalah putra seorang dokter dusun. Osugi Mura berarti pohon besar. Memang, dusun itu dikelilingi pohon-pohon tinggi besar bagaikan raksasa yang menjaga dusun tersebut. Pohon-pohon yang tingginya sampai 200 kaki ini menimbulkan suatu khayalan pada diri Yamashita muda bila ia sedang merangkai puisi. Ia menggunakan nama samaran “Pohon Besar” untuk hasil2 karya puisinya. Dan ia masih tetap menulis puisi2 dekat sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Kakak lelakinya belajar keras untuk menjadi seorang dokter seperti ayah mereka, tetapi Yamashita, pada umur 11 tahun, dikirim ke sebuah lembaga militer. Yamashita telah memilih bidang militer itu sebagai sebuah karier. Itu adalah ide dari ayahnya sejak sang ayah melihatnya tumbuh sebagai remaja sehat dan kuat.Yamashita sempat menimba ilmu kemiliteran di Central Military Academy di Tokyo. Tak lama setelah meletusnya Perang Rusia-Jepang, ia diperintahkan mengikuti pendidikan pada War College, suatu lembaga militer Jepang yang setaraf dengan British Staff College. Pada hari sebelum ia tamat dari War College itu, ia menikah dengan putri seorang Jenderal Jepang. Dari situ ia ditempatkan di Bern, Swiss, sebagai seorang asisten atase militer pada kedutaan Jepang. Salah seorang diantara rekan-rekannya adalah Kapten Hideki Tojo, yang belakangan menjadi menteri peperangan dan kemudian menjabat sebagai Perdana Menteri selama Perang Dunia II.

Golongan memukul ke utara vs selatan

Hindia Belanda yang kaya akan bahan baku menjadi target ekspansi Kekaisaran Jepang.

Selama tahun 1933 dan 1934, menteri peperangan Sadao Araki muncul sebagai penentang paling gigih ide memukul ke Selatan ini. Dengan berani ia menghadap Hirohito sendiri. Araki melawan ambisi memukul ke Selatan (Nanshin Ron) karena adanya kemungkinan terjadinya perang bunuh diri melawan Amerika Serikat. Untuk menyelamatkan Jepang dari nasib buruk, ia menganjurkan dikobarkannya suatu peperangan dengan Uni Soviet yang menurut perhitungannya risikonya lebih kecil. Kelompok yang menyokong gagasan ini disebut golongan memukul ke utara (Hokushin Ron).Setelah berlangsung perselisihan2 dan kerusuhan2, Araki dan “golongan memukul ke utara” terdesak dan suatu keputusan dibuat oleh kabinet untuk mengukuhkan pandangan “memukul ke Selatan” sebagai kebijakan nasional. Araki dipaksa meletakkan jabatan sebagai menteri peperangan pada tanggal 22 Januari 1934.

Kudeta

Ketika matahari merekah pada tanggal 26  Februari 1936, serdadu-serdadu dari resimen pertama dan ketiga dimana diantaranya terdapat 2 orang kapten dan 19 orang letnan, berbaris keluar barak, mereka bermaksud untuk membunuh “setan2 sekeliling singgasana”. Beberapa orang terbunuh dan mereka menguasai pusat kota Tokyo selama 3 hari sebelum menyerah.Kaisar menolak untuk memberikan pengampunan kepada para pemberontak yang kebanyakan berasal dari golongan memukul ke utara, sehingga banyak diantara mereka yang memilih untuk bunuh diri atau menghadapi regu tembak. Dengan demikian berakhirlah perselisihan antara dua golongan yang berseteru itu (yang kemudian makin dikuatkan dengan perang singkat di Khalkin Gol 3 tahun kemudian).

26 Februari 1936 terjadi kudeta di Jepang.

Sementara itu, karena dianggap dekat dan bersimpati dengan kelompok ultra nasionalis yang terlibat dalam pemberontakan, Yamashita, yang saat itu berpangkat Mayor Jenderal, termasuk jadi Jenderal yang kena getahnya. Sebagai “hukuman” pada bulan Februari 1936, Yamashita ditugaskan di tanah jajahan Jepang di Korea, memegang jabatan sebagai komandan suatu brigade. Merasa jabatannya diturunkan, karena suatu kecurigaan bahwa dirinya ikut ambil bagian dari pemberontakan yang gagal itu. Dengan hati pedih Yamashita bermaksud untuk mengundurkan diri dari militer dan mencari pekerjaan non-militer. Namun hal ini berhasil dicegah oleh atasannya. Penugasan di Korea ini memberinya kesempatan untuk merefleksikan perilakunya selama kudeta 1936 dan pada saat yang sama mempelajari ajaran Zen Buddhisme, sesuatu yang menyebabkan melunaknya dalam karakter Yamashita, walau tetap menanamkan disiplin tingkat tinggi untuk dirinya sendiri.

Menjelang perang

Setelah menetap selama 18 bulan, Yamashita dinaikkan pangkatnya menjadi Letnan Jenderal dan memegang komando suatu divisi bala tentara Jepang di Front China. Dari daratan China ia kembali ke Tokyo tahun 1940 dengan jabatan baru-sebagai Inspektur Jenderal Kekuatan Udara Jepang. Pada saat itu yang menjabat sebagai menteri peperangan adalah Hideki Tojo dan demi lebih mengukuhkan ikatannya dengan dua negara Axis lainnya, Tojo membujuk perdana menteri Fumimaro Konoye untuk mengirimkan suatu misi militer Jepang ke Eropa untuk studi peralatan perang modern dan taktik perang di Jerman dan Italia. Yamashita kemudian ditunjuk menjadi bagian dari 40 orang perwira dan penasehat2 tinggi militer lainnya. Rombongan atau misi militer itu melakukan peninjauan selama 7 bulan di Jerman dan Eropa. Pada 16 Juni 1941, Yamashita bertemu dengan Hitler dan Mussolini di Berlin.

Yamashita saat berkunjung ke Eropa jelang pecah Perang Pasifik.

Selama peninjauan di Eropa ia mempelajari tentang penyesuaian antara pasukan infanteri dengan pasukan tank dan kekuatan udara, tentang taktik Blitzkrieg, tentang peluru yang bisa menembus baja, dan penggunaan pasukan payung. Setelah melakukan peninjauan di Eropa, Yamashita kembali ke tanah airnya dan mengutarakan bahwa dengan penangguhan perang selama 2 tahun, angkatan bersenjata akan menjadi modern. Namun karena waktu yang semakin genting dan memburuknya hubungan Jepang dengan USA khususnya, membuat perang menjadi semakin tidak terhindarkan.

Persiapan Perang

Yamashita kemudian ditunjuk sebagai panglima tentara ke-25 yang ditugaskan untuk menaklukkan wilayah Malaya. Dari bagian intelijen, Yamashita memperoleh laporan bahwa terdapat kelemahan dalam pertahanan Inggris di Malaya yang tidak memiliki pasukan lapis baja dan kekuatan udara yang memadai (kebanyakan armadanya telah usang), juga adanya kelemahan pada posisi2 pasukan Amerika di Filipina, serta Belanda di Hindia Belanda. Yamashita yakin bahwa pasukan Jepang pasti memperoleh kemenangan yang gilang-gemilang di Selatan bila mereka menggunakan taktik kejutan dan serangan kilat.

Serangan Jepang ke Malaya diperkirakan Yamashita akan berlangsung secara kilat karena lemahnya pertahanan Inggris di wilayah ini.

Pada bulan Januari 1941, rencana serbuan ke selatan dimatangkan oleh unit khusus, unit 82. Di formosa, dalam sebuah barak kayu dengan papan nama bertuliskan “Taiwan Army No.82 Unit”, suatu peperangan di daerah tropis tengah disiapkan. Letnan Kolonel Masanobu Tsuji dibebani tugas merencanakan kampanye paling sulit dari operasi militer ke selatan, yakni menaklukkan Malaya dan menyapu Singapura. Ia dan bawahannya mempelajari setiap keterangan yang ada hubungannya dengan geografi, adat istiadat dan struktur politik negeri-negeri itu. Banyak keterangan mereka peroleh langsung dari orang-orang yang pernah mengunjungi daerah itu. Antara bulan juli 1940 sampai musim semi 1941 Amerika Serikat memutuskan perdagangan dengan Jepang. Sebelum ini, Amerika mensuplai sebagian besar kebutuhan Jepang akan minyak tanah, mobil, pesawat, besi baja, tembaga, dan berbagai jenis barang komoditi lainnya. Blokade ini memaksa Jepang untuk beraksi secepat mungkin.

Serangan ke Selatan dan kemenangan 

Yamashita sebagai panglima Tentara Darat ke-25 diperintahkan menyerbu Malaya sekaligus menaklukkan Singapura. Jepang menyadari bahwa penaklukan Singapura adalah penting untuk menaklukkan wilayah selatan. Jepang menganggap Singapora adalah tonggak kemaharajaan Inggris di ujung timur. Yamashita telah melatih pasukannya di pulau Hainan dan hutan barat laut Indochina yang kondisinya tidak jauh beda dengan Malaya. Mereka mempraktekkan teknik2 perang rimba, operasi pendaratan di pulau-pulau karang, digembleng hidup serba kekurangan dan dilatih melakukan perjalanan jauh dengan bekal seminim mungkin.Pada tanggal 7 Desember 1941, Yamashita memulai invasinya ke Malaya melalui titik sempit dari semenanjung Malaya, yakni di tanah genting Kra. Sewaktu mereka mendarat, mereka membawa serta suatu senjata rahasia, yakni sepeda. Barisan serdadu itu menggenjot pedal-pedal sepeda mereka melalui jalan-jalan, sementara pasukan tank mengikuti dari belakang sambil melepaskan tembakan2 pada saat-saat kritis. Yamashita juga mendaratkan kapal-kapal kecil di garis belakang pertahanan pasukan Inggris, Australia, dan Malaya yang membuat mereka terkejut dan panik. Gerakan pasukan Yamashita yang mendadak dan cepat berhasil memecah Divisi2 musuh. Mereka terus melaju dengan bantuan perbekalan dari udara setelah pangkalan-pangkalan udara musuh direbut, bahkan juga menggunakan perbekalan peninggalan tentara sekutu yang ditinggalkan.

Sepeda “senjata rahasia” pasukan Jepang yang mendukung mobilitas dan gerak cepat mereka dalam mengejar pasukan sekutu yang bergerak mundur.

Dalam pertempuran di hutan-hutan dan lembah, sedikit demi sedikit daerah-daerah yang dikuasai pasukan Inggris, Australia dan India jatuh ke tangan pasukan penyerbu. Meskipun mereka memberikan perlawanan sekuat tenaga, namun pasukan Jepang dengan mudah melindas mereka. Jalur yang dilalui prajurit Jepang melewati hutan2 yang dalam peta2 Inggris diberi tanda “tidak mungkin ditembus”. Lapangan-lapangan terbang Inggris direbut dan pesawat2 Jepang mulai beroperasi dari tempat2 itu, menggunakan bahan bakar dan menjatuhkan bom2 buatan negeri Albion itu.

Disposisi pasukan sekutu dan gerak maju pasukan jepang dalam kampanye pertempuran merebut Malaya.

Dengan jatuhnya setiap daerah yang dipertahankannya, Inggris terpaksa meninggalkan timbunan makanan dan barang2 kebutuhan hidup lainnya, bahkan amunisi. Jepang menyebut barang2 yang jatuh ke tangan mereka sebagai “tunjangan Churchill”. Pasukan Jepang terus mendesak maju tanpa menunggu suplai dari negeri mereka sendiri. Jenderal Arthur Ernest Percival membuat suatu kesalahan fatal dalam menilai kekuatan Yamashita. Ia menduga pasukan musuh tak akan bisa melewati hutan rimba Malaya yang ditandai tidak mungkin ditembus. Dengan tergesa-gesa pasukannya meninggalkan Malaya menuju ke selatan, Singapura.

Jenderal Percival, lawan Yamashita di Malaya dan Singapura 1942.
Kombinasi firepower dan mobilitas ringkas: tekidanto dan sepeda
Pasukan Jepang yang didukung tank ringan melindas pertahanan sekutu di Malaya.

Di selat yang memisahkan Malaya dan Singapura, Yamashita memerintahkan pasukannya untuk berhenti sesaat. Pada waktu itu perbandingan jumlah prajuritnya dengan pihak musuh adalah 3:1 untuk keunggulan lawan. Yamashita menyadari bahwa pesawat-pesawatnya yang membawa suplai terhalang dan berada di belakangnya ratusan mil. Pasukannya mengalami kekurangan makanan dan amunisi. Dalam situasi ini tidak mungkin menyeberang ke selatan kecuali Singapura segera menyerah.

Pendaratan Jepang di Singapura dengan melintasi selat Johor yang segera berhadapan dengan brigade asal Australia.

Tapi Yamashita tidak mau membuang waktu. Ia memerintahkan pasukan artilerinya menghujani kota pulau itu dengan peluru. Setelah itu dengan cepat ia menyeberangkan pasukannya dan berlindung di pesisir berhadapan dengan Divisi Australia yang tidak terorganisir dengan baik, karena Percival justru mengkonsentrasikan pasukannya pada sisi yang tidak berhadapan langsung dengan selat Johor. Percival mengira serangan Jepang akan datang dari arah laut.

Beberapa kali Jepang melakukan pendaratan dibelakang garis musuh selama kampanye pertempuran di Malaya.

Kemudian dalam waktu singkat pasukan Jepang bisa membuat pijakan di daratan Singapura dan mulai mendesak pasukan sekutu. Kota Singapura makin intens dihujani bom dan artileri, banyak warga dan orang-orang eropa lari menggunakan semua transportasi yang ada untuk keluar Singapura menuju Hindia Belanda yang belum dikuasai Jepang dan Australia.Pada tanggal 15 Februari 1942, Jenderal Percival menyerah. Pada saat pasukan Jepang berbaris memasuki Singapura pada hari berikutnya, Yamashita dinobatkan menjadi pahlawan Jepang untuk selama-lamanya.  

Lt. Gen. Tomoyuki Yamashita (seated, center) insists upon the unconditional surrender of Singapore as Lt. Gen. Percival, seated between his officers, demurs (photo from Imperial War Museum)
Pasukan Jepang berderap maju menuju medan perang, semangat tempur mereka selalu tinggi di awal perang, selain mereka adalah pasukan yang terlatih baik.

Dalam periode ini terjadi pembersihan sistematis atas unsur-unsur yang dianggap bermusuhan di antara orang Cina di Singapura oleh militer Jepang. Pembersihan berlangsung dari 18 Februari hingga 4 Maret 1942 di berbagai tempat di wilayah tersebut. Operasi itu diawasi oleh polisi rahasia Angkatan Darat Kekaisaran Jepang Kenpeitai dan kemudian diperluas untuk memasukkan penduduk China di Malaya, setidaknya sekitar 10.000–25.000 pria keturunan China dibantai oleh tentara Jepang.

Setidaknya 25.000 orang-orang keturunan China menjadi korban pembantaian tentara Jepang setelah Singapura jatuh ke tangan Yamashita. Peran Yamashita sendiri dalam tragedi ini terus menjadi perdebatan.

Yamashita kemudian meminta maaf kepada beberapa orang yang selamat, dan menyuruh beberapa tentara yang kedapatan menjarah setelah membantai dieksekusi. Akashi Yoji, bawahan Yamashita mengklaim bahwa hal ini sejalan dengan kepribadian dan kepercayaan Yamashita. Menurutnya, perintah pertama yang diberikan oleh Yamashita kepada tentara adalah “tidak menjarah; tidak memperkosa; dan tidak melakukan pembakaran”, dan bahwa setiap prajurit yang melakukan tindakan seperti itu akan dihukum berat dan atasannya bertanggung jawab. Meskipun kesalahan karena pembantaian Sook Ching diarahkan ke Yamashita, namun kemudian diketahu bahwa ia tidak terlibat secara langsung di dalamnya dan bahwa sebenarnya bawahannya lah yang berada di balik insiden itu.

Barisan tank ringan jepang yang amat mendukung gerak cepat pasukan Jepang melintasi rimba Malaya, apalagi lawannya saat itu tidak memiliki armada tank dan kendaraan lapis baja yang sepadan.
Troops of the Imperial Japanese Army crouch on a street in Johor Bahru in the final stages of the Malayan Campaign.

Sementara itu berita tentang kebebatannya melindas semenanjung malaya dengan hanya 3 divisi pasukannya yang terlatih baik (sekitar 30.000 prajurit) melawan sekitar 80.000 prajurit sekutu dan kemenangannya yang gilang gemilang atas Singapura tersebar ke seluruh dunia. Yamashita mulai mendapat predikat sebagai “Macan Malaya”. Pada saat itu ia menjadi “pahlawan perang jepang terbesar” (berbeda dengan nasib jenderal Homma yang dicibir karena gagal merebut Filipina dalam waktu cepat). Tetapi di Tokyo hal itu menerbitkan rasa dengki dari Hideki Tojo, rivalnya yang telah menjadi perdana menteri sejak Oktober 1941.

Dibuang

Tojo mengkhawatirkan kesuksesan Yamashita itu dapat membahayakan posisinya. Karena itu ia tidak membiarkan Yamashita menikmati kemenangannya. Selagi sang pahlawan menuliskan tentang laporan kemenangannya, yang diharapkan akan mendapat pujian langsung dari sang Kaisar, seorang utusan datang membawa perintah langsung kepadanya untuk segera menempati pos nya di Manchuria yang alamnya bengis dan membeku. Dengan hati terluka, Yamashita langsung pergi ke Manchuria tanpa singgah di negerinya, Jepang. Di Manchuria dia membawahi komando grup pasukan darat kesatu pada 17 Juli 1942.

Tidak ada yang tahu pasti kenapa Yamashita dibuang, namun ada satu pendapat yang menyatakan bahwa Tojo memanfaatkan kesalahan Yamashita yang pada awal 1942, setelah Singapura ditaklukkan berbicara kepada pemimpin sipil disana, bahwa ia menganggap warga lokal disana sebagai: “warga dari Kekaisaran Jepang”. Hal ini dianggap melampaui sikap pemerintah Jepang yang tidak pernah berencana menjadikan rakyat jajahan memiliki hak yang sama dengan warga jepang asli.

Pada bulan Februari 1943, Yamashita dipromosikan sebagai jenderal penuh, banyak spekulasi yang menyatakan bahwa ini adalah persiapan penyerangan ke Soviet sewaktu-waktu bila Stalingrad jatuh. Namun waktu itu tidak kunjung datang, lenyap di “air yang membeku”, Si Macan Malaya itu diam membisu menyaksikan bukit2 dan padang2 Soviet di seberang Manchuria sambil mengawasi negeri seterunya, Russia. Di Jepang sendiri namanya mulai kabur dan dilupakan orang.

Kembalinya si Macan tua

Kemudian bukan Russia yang menjadi medan tempur Yamashita selanjutnya. Pada bulan Juli 1944, ketika rezim Tojo jatuh. Pemerintah baru yang terbentuk pada 26 September 1944 memanggil kembali si “Macan Tua” itu untuk memegang komando utama tentara ke-14 pasukan Jepang di Filipina, bukan di Malaya tempat ia menjadi legenda. Disana posisi pasukan Jepang terpukul hebat dan mengalami kemunduran dan dipilihlah Yamashita untuk melakukan serangan balasan agar keadaan berbalik. Setelah mendapat perintah penugasan, Yamashita kembali mengunjungi keluarganya secara singkat, ia kemudian meninggalkan Jepang untuk terakhir kalinya.

Invasi Leyte oleh Amerika 20 Oktober 1944.

Mengingat Luzon adalah pulau terbesar di Filipina, Yamashita berencana untuk memusatkan pasukannya yang berjumlah sekitar 262.000 dan memimpin perlawanan dari sana. Ia mengatur strategi untuk menahan lajunya pasukan Amerika yang hendak ke utara selama berbulan-bulan di kepulauan Filipina itu. Tak lama setelah Yamashita tiba di pulau Luzon, bulan Oktober 1944, Jenderal Douglas MacArthur menepati janjinya, “Saya akan kembali”, yang diucapkannya 31 bulan sebelumnya.

Yamashita mengunjungi medan perang.

Walaupun dalam hati ia tidak menyetujui kebijakan dari Tokyo, namun Yamashita tetap mematuhi perintah dengan menerjunkan 80.000 pasukannya ke pulau Leyte yang akan “becek” oleh darah serdadu2nya. Pertempuran Leyte menjadi pertempuran yang tidak seimbang, Jepang telah kehilangan supremasinya di udara dan Laut, akibatnya di Leyte mereka kehilangan 49.000 prajurit nya gugur dibanding 3.500 di pihak Amerika, kebanyakan di pihak Jepang meninggal karena penyakit dan kelaparan (salah satu film Jepang yang menggambarkan nestapa serdadu Jepang di Filipina dalam melawan kelaparan dan penyakit dapat disaksikan dalam film buatan Jepang 1959, Fire On The Plain). Pada hari natal 1944 perlawanan Jepang berakhir di Leyte.

The first wave of troops approaching the beaches of Luzon.

Pertempuran terakhir memperebutkan kepulauan Filipina dimulai pada 9 Januari 1945 sewaktu pasukan ke-VI Amerika menggempur Pantai Teluk Lingayen Di Luzon. Tak diragukan lagi babak2 terakhir segera tiba, yang menjadi tanya hanyalah berapa lama Yamashita dapat menahan tibanya hari kemenangan Amerika. Setelah menyingkir, berbalik dan menyerang, akhirnya Yamashita mengundurkan diri ke pegunungan-pegunungan. Dibelakangnya, ia meninggalkan Manila dengan pasukan kecil untuk menjaga kota.

Kota Manila yang hancur oleh pemboman Amerika dan oleh kampanye penjarahan dan penghancuran oleh tentara Angkatan Laut Jepang Februari-Maret 1945.

Dengan cepat Rear Admiral Sanji Iwabuchi membawa 16.000 orang pasukan angkatan laut untuk menghambat tentara Amerika masuk Manila sekaligus menghancurkan fasilitas Angkatan Laut di dalam kota itu, ia juga mengambil alih komando 3.750 pasukan darat yang ditinggal Yamashita, serta menolak perintah Yamashita untuk tidak membawa prajurit Jepang bertempur didalam kota. Pasukan Iwabuchi kemudian menjadikan kota itu sebagai rumah pembantaian selama 3 Februari-4 Maret 1945. 100.000 rakyat Filipina meninggal dunia akibat pembantaian tentara Jepang dan pemboman Amerika. Yamashita tidak bisa mengontrol pasukan Jepang yang menentang perintahnya ini, bukan dia pula yang memutuskan aksi pasukan Angkatan Laut ini.

Photo of a Filipino woman and child killed by the Japanese forces in Manila.

Sementara itu di hutan-hutan dan pegunungan Luzon, walaupun persediaan makanan dan amunisi minim dan menghadapi pasukan Amerika yang mengejarnya, Yamashita tetap bertahan dengan gigih. Selama lebih dari 6 bulan, sampai 2 September 1945, Yamashita tetap bertahan di pegunungan-pegunungan Luzon, beberapa minggu setelah Jepang menyerah kepada sekutu. Saat itu pasukan Yamashita tinggal 50.000 orang dari awalnya 400-500.000 prajurit.Robert Ross Smith, ahli sejarah militer Amerika, menulis bahwa Yamashita merupakan salah seorang militer yang paling berhasil mengulur-ulur waktu dalam sejarah perang.

Akhir nasib si Macan Tua

Setelah mengetahui jepang menyerah, beberapa mil dibawah pegunungan Prog di bagian utara Luzon tengah, Yamashita berjalan kaki memasuki Kiangan dan menyerahkan diri pada Divisi Infanteri Amerika ke-32. Ia bersama serombongan bawahannya segera dibawa ke Baguiao dan disana tanggal 3 September, bersama Admiral Okochi dengan resmi menyerah kepada Jenderal Willian Styer, yang juga disaksikan oleh 2 Jenderal yang dikalahkan Jepang di Malaya dan Filipina pada awal perang, yakni Jenderal Percival dan Wainwright.

General Yamashita and his staff surrender on September 2, 1945.

Pada 29 Oktober 1945 Yamashita diadili sebagai seorang penjahat perang dengan melakukan 123 kejahatan perang secara terpisah, termasuk Sook Ching Massacre dan Manila Massacre. Pada tanggal 7 Desember 1945 pengadilan militer menyatakan Yamashita terbukti bersalah melakukan perbuatan seperti yang dituduhkan dan dijatuhi hukuman mati.

Yamashita (second from right) at his trial in Manila, November 1945.

Yamashita menerima tuduhan dan putusan tersebut yang dianggapnya sebagai tanggung jawabnya. Yamashita sebenarnya bisa saja melakukan bunuh diri layaknya seorang Samurai, namun ketika ia melihat anak buahnya, ia merasa bahwa harus ada orang yang mau bertanggung jawab atas kekalahan militer Jepang beserta tuduhan kejahatan perangnya, disinilah dia mengambil tanggung jawabnya.

Yamashita is removed from the courtroom by military police immediately after hearing the verdict of death by hanging.

Pada jam 03.27 pagi 23 Februari 1946 Yamashita digiring keluar, dibawa ke bangsal tempat pelaksanaan hukuman matinya di New Bilibid Prison, di Los Banos 30 km ke Selatan di luar Manila, dan dengan langkah mantap ia menaiki tangga menuju ke panggung. Ia menundukkan kepalanya ke arah utara dan Istana Kaisar. Kepada pendeta Buddha yang mendampinginya ia berkata: saya berdoa semoga Kaisar panjang umur dan jaya untuk selama-lamanya.”

Setelah itu, maka tamatlah riwayat Yamashita, Si Macan Malaya.

Dikutip dan ditulis dan ditambahkan kembali dari:

Yamashita “Macan Malaya”, Rubrik Liku-liku Perang, Koran Sinar Harapan Minggu, 7 Juni 1981 oleh Sumartono.

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Tomoyuki_Yamashita

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Malayan_Campaign

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Singapore

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Manila_massacre

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Sook_Ching

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Leyte

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Luzon

3 thoughts on “Yamashita, Si “Macan Malaya”

  • 28 August 2020 at 8:48 pm
    Permalink

    This website was… how do you say it? Relevant!! Finally I’ve found something that helped me. Thanks a lot!

    Reply
    • 28 August 2020 at 9:05 pm
      Permalink

      Tks, I really appreciate if you can share this blog to the others

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *