Kiprah Pesawat Tempur Spitfire dalam Perang Kemerdekaan Israel (15 Mei 1948-7 Januari 1949)

Sekitar tengah hari pada tanggal 7 Januari 1949, dua pilot Angkatan Udara Israel (IAF) yang berpatroli dengan menggunakan pesawat tempur Supermarine Spitfire melihat asap hitam membumbung dari daerah Al-Auja-Rafah di Gurun Sinai. Semakin terbang mendekat, mereka melihat deretan kendaraan bermotor Angkatan Pertahanan Israel (IDF) diserang oleh apa yang mereka duga adalah pesawat Spitfire dari Angkatan Udara Kerajaan Mesir (REAF). Meskipun satu Spitfire musuh telah ditembak jatuh oleh tembakan IDF, tiga lainnya masih berputar-putar di udara. Duo pilot IAF segera terbang bergegas untuk menyelamatkan pasukan IDF yang ada di darat. Beberapa menit kemudian, ketiga pesawat “musuh” yang tersisa telah ditembak jatuh. Fakta yang mengejutkan kemudian, ternyata pesawat-pesawat itu bukanlah pesawat-pesawat Mesir. Pilot-pilot IAF terlambat menyadari bahwa musuh-musuh mereka sebenarnya adalah pesawat pengintai Spitfire milik Angkatan Udara Britania Raya (RAF) yang pilotnya juga tertarik oleh keberadaan asap di tengah gurun itu — kebingungan pada akhirnya menyebabkan kesalahan identifikasi yang fatal. Seperti kebanyakan yang terjadi di Timur Tengah pada saat ini, keadaannya jauh lebih kompleks daripada yang pertama nampak terlibat. Yang tidak kalah penting adalah fakta bahwa salah satu Spitfire Israel diterbangkan oleh ace Perang Dunia II asal Kanada dan yang lainnya oleh mantan pilot uji dari Amerika, keduanya sukarelawan IAF yang pernah bertugas bersama Inggris! Insiden itu terjadi pada hari terakhir Perang Kemerdekaan Israel. Jejak Spitfire dalam perang Kemerdekaan Israel, jelasnya bukan hanya terkait insiden diatas, bagaimanapun Spitfire telah menjadi bagian penting dalam kekuatan udara Israel yang baru dibentuk yang amat membantu militer negara baru itu dalam menghadapi tetangga-tetangganya yang bermusuhan di tengah embargo senjata dari negara-negara barat, khususnya Amerika, berikut adalah kisah tersebut.

Spirfire Mk.IX AU Israel yang berjasa besar dalam mewujudkan supremasi udara AU Israel dalam perang kemerdekaan negara itu. (Sumber: Pinterest)

LATAR BELAKANG

Insiden diatas sebenarnya diakibatkan oleh kompleksnya politik di Timur Tengah, yang benang merahnya dapat ditarik dari rangkaian kejadian yang terjadi sebelum dan setelah berakhirnya Mandat Inggris di Palestina pada tengah malam tanggal 14 Mei 1948, yang kemudian diikuti dengan rekomendasi dari komisi PBB yang menyarankan berdirinya negara-negara Arab dan Yahudi yang terpisah di wilayah tersebut. Lelah oleh peperangan yang terus-menerus selama bertahun-tahun yang mereka lalui dan baru saja melepaskan kekuasaan mereka di India, Inggris tidak berminat untuk bertahan di wilayah Timur Tengah yang bergejolak dengan mengorbankan lebih banyak nyawa. Tetapi mereka perlu mengatur penarikan mundur pasukan Inggris dengan teratur. Periode pasca perang dunia II, wilayah Mandat Inggris di Palestina pada tahun 1946-47 jauh dari kedamaian, terutama untuk RAF yang kekuatannya menurun setelah demobilisasi besar-besaran. Selain itu, tugas RAF yang tidak mereka sukai adalah untuk menemukan dan mengidentifikasi kapal yang mengangkut imigran “ilegal” Yahudi, terutama yang selamat dari Holocaust di Eropa, agar Angkatan Laut Kerajaan dapat melakukan pencegatan, menyebabkan pangkalan-pangkalannya RAF menjadi target serangan gerilyawan Yahudi. Pada periode itu sebuah stasiun radar diledakkan dan senjatanya dicuri dari gudang senjata RAF. Kemudian, pada malam 25-26 Februari 1946, selama serangan serentak di tiga pangkalan RAF, gerilya Yahudi menghancurkan atau merusak 22 pembom Handley Page Halifax, tujuh Spitfire dan empat Avro Anson.

Penembak jitu Arab menjauh dari sebuah truk Yahudi yang terbakar di perempatan Sheik Jarrah di Yerusalem setelah menyeret tubuh pengemudi dari truk berlapis baja dan membuangnya di jalan pada 7 Maret 1948. Truk itu terperangkap dalam tembakan penembak jitu, menabrak dinding dan terbakar. Ref #: PA.2539510 Tanggal: 07/03/1948. Setelah berakhirnya mandat Inggris di Palestina, wilayah itu segera membara dengan pertikaian terbuka Arab-Israel.(Sumber: https://flashbak.com/)

Setelah serangan-serangan ini dan serangan lainnya, kehadiran RAF di Palestina pada pertengahan 1947 telah dikurangi menjadi cuma lima skuadron, termasuk Skuadron No. 32 dan 208 yang menerbangkan Spitfire. Unit lain telah dipindah ke Siprus atau Zona Terusan Suez. Ketika permusuhan orang-orang Arab terhadap orang-orang Yahudi meningkat, pasukan Inggris yang telah sepenuhnya difokuskan untuk mempertahankan diri mereka terhadap serangan-serangan Yahudi, juga harus siap ikut campur dalam konflik antara pihak Arab-Yahudi. Jauh sebelum kepergian Inggris, organisasi paramiliter Yahudi, Haganah telah membentuk kekuatan udaranya, Sharut Avir (SA), yang menerbangkan bermacam-macam pesawat sipil tua untuk mendukung pemukiman Yahudi yang terisolasi. Salah satu pilotnya adalah Ezer Weizman yang kelahiran Palestina, dan telah belajar terbang dengan RAF tetapi belum pernah terlibat dalam pertempuran. Meskipun Inggris tidak melakukan upaya serius untuk mengganggu kegiatan SA, mereka terus mengawasi perkembangannya. Sementara itu, untuk mengantisipasi perang dengan calon tetangga Arab mereka, agen-agen Yahudi dan pendukung mereka di AS dan Eropa untuk mencari pesawat modern dan terutama awak pesawat yang berpengalaman dalam pertempuran, lebih disukai orang-orang Yahudi. Banyak yang datang, termasuk banyak orang non-Yahudi, atau biasa disebut sebagai “Machal,” yang mengajukan diri secara sukarela karena alasan ideologis atau karena mereka merindukan pertempuran.

Sukarelawan asing (Machal) asal Prancis di Negev selama Operasi Horev. Para “Machal,” ini mengajukan diri secara sukarela karena alasan ideologis atau karena mereka merindukan pertempuran. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Diperintahkan oleh penguasa mereka, yakni Soviet untuk melepaskan diri dari penggunaan peralatan militer buatan Barat, pihak berwenang Komunis Ceko setuju untuk menjual 25 buah pesawat tempur Avia S-199, yang merupakan versi Messerschmitt Me-109G buatan Ceko yang dilengkapi dengan mesin Junkers Jumo 211 (mesin yang biasanya digunakan oleh pesawat pembom taktis seperti Ju-87 dan He-111) bukan mesin Daimler Benz DB 605 yang biasa digunakan Me-109G buatan Jerman (kombinasi yang pada akhirnya menghasilkan karakteristik terbang yang tidak menyenangkan dan punya nama panggilan “Mule”). Ceko juga setuju untuk melatih sejumlah pilot Yahudi, dimana Weizman termasuk di antara mereka. Di Amerika, agen-agen Israel membeli secara diam-diam empat pesawat tempur P-51 Mustang, tiga bomber B-17 (kisah mengenai ini dapat dibaca pada artikel tentang B-17 Israel di blog ini) dan kemudian sejumlah pesawat latih North American T-6 Texan yang dikonversi untuk menjalankan peran pesawat serang, ditambah dengan bermacam-macam pesawat angkut, yang awalnya digunakan untuk mengangkut beberapa S-199 dari Cekoslovakia. Perang dengan negara-negara Arab, yakni Mesir, Libanon, Transjordan (Yordania), Irak dan Suriah dimulai segera setelah berakhirnya Mandat Inggris dan deklarasi kemerdekaan negara Israel pada tanggal 14 Mei 1948. Orang-orang Arab telah menolak Rencana Pemisahan PBB tahun 1947 untuk wilayah Palestina, yang dimaksudkan untuk menciptakan negara-negara Arab dan Yahudi untuk hidup berdampingan. Konflik ini memiliki beberapa fase, deskripsi terperincinya ada di luar ruang lingkup artikel ini. Pada akhirnya, dengan IAF mampu secara cepat membangun supremasi udara, kemenangan militer Israel di daratan berlangsung dengan cepat di semua lini, yang mengarah ke perluasan wilayah negara baru tersebut. Meskipun lawan utama mereka, orang-orang Mesir yang unggul secara numerik, dilatih dan diperlengkapi oleh Inggris, mereka tidak memiliki pengalaman tempur dan tidak pernah memberikan perlawanan serius kepada para veteran pilot IAF. Sementara itu, RAF yang akan segera pergi tidak bisa lepas begitu saja dari konflik.

AWAL MULA SPITFIRE ISRAEL

Setelah deklarasi kemerdekaan Israel oleh David Ben-Gurion pada 14 Mei 1948, orang-orang Israel di Pangkalan udara Sde Dov di Tel Aviv menghabiskan malam itu dengan menggali tempat berlindung dan mendirikan pertahanan di pangkalan itu. Pada fajar tanggal 15 Mei, dua gelombang pesawat-pesawat Spitfire REAF menyerang lapangan udara, tanpa mendapat perlawanan oleh para penembak anti-pesawat yang sedang tidur. Orang-orang Mesir berhasil membunuh beberapa orang, merusak beberapa pesawat, membakar gudang amunisi, dan merusak fasilitas lainnya. Gelombang ketiga Spitfire Mesir menyerang pada pukul 08:00 dan gelombang keempat datang pada pukul 10:00. Sam Rose, sukarelawan asal Inggris, salah satu penembak dari enam senjata AA 20 mm di pangkalan itu berhasil mengenai salah satu pesawat gelombang keempat. Ketika Spitfire yang tertembak itu memuntahkan glikol, ia kemudian terbang ke utara – menjauh dari posisi pasukan Mesir – di sepanjang garis pantai dan mendarat darurat di pantai dekat Hertzliya. Sekelompok orang Israel kemudian menangkap pilot Mesir itu, Letnan Mahmoud Barakat, yang, di bawah interogasi, mengungkapkan apa yang dia ketahui tentang REAF dan pangkalan mereka di Al Arish. Pesawat Barakat lalu akan menjadi bagian dari Spitfire yang operasional pertama kali dalam Kekuatan Udara Israel. Pesawat Itu bukan Spitfire REAF terakhir yang akan melengkapi armada udara Israel.

Spitfire dengan tanda pengenal AU Kerajaan Mesir. Israel berulang kali mendapatkan Spitfire rongsokan Mesir yang berhasil ditembak jatuh untuk dikanibalisasi dan diterbangkan kembali untuk AU Israel. (Sumber: https://forums.eagle.ru/)

Sementara Inggris secara resmi meninggalkan Wilayah Mandat mereka pada tanggal 14 Mei, pasukan kecil mereka berencana untuk tetap mempertahankan pelabuhan Haifa sampai tanggal 1 Agustus. Dua skuadron tempur RAF – Skuadron 32 dan 208, keduanya dilengkapi dengan Spitfire FR.18- yang akan meninggalkan Pangkalan RAF di Ramat David untuk menuju markas baru mereka di Siprus masih dalam proses perpindahan ketika Mandat Inggris berakhir. RAF kemudian memberi tahu intelijen REAF bahwa mereka masih menduduki Ramat David, tetapi badan intelijen REAF tidak meneruskan informasi itu ke bagian operasional lainnya di REAF. Pada pagi hari 22 Mei, Spitfire Mark IX LF milik Mesir menyerang pangkalan udara Ramat David, dekat pertahanan Inggris di Haifa (yang sedang disiapkan oleh RAF untuk dievakuasi). Dua Spitfire RAF hancur di tanah dan delapan lainnya serta sebuah pesawat Dakota rusak. RAF segera menghentikan semua operasi penarikan – bahkan, menarik pasukan dari Siprus – dan membentuk patroli udara tempur (CAP) untuk menjaga pangkalan. Selama serangan kedua, sebuah pesawat transport Douglas Dakota dihancurkan saat mendarat, yang menjalankan misi pemindahan awak dan personel ke Siprus, menewaskan dua orang awak dan dua pilot. Serangan REAF ketiga tidak menimbulkan banyak kerusakan, karena RAF saat itu telah melakukan patroli dengan pesawat-pesawat Spitfire dari Skuadron No. 208 terbang di atas lapangan udara. Lima Spitfire Mesir kemudian ditembak jatuh, satu ditembak jatuh oleh tembakan dari darat, masing-masing oleh Flying Officers Geoff Cooper dan Roy Bowie dan dua oleh Flying Officer Tim McElhaw. REAF kemudian mengatakan pilotnya telah salah mengira Ramat David sebagai “lapangan terbang Zionis Israel di Megiddo,” yang — karena IAF saat itu belum memperoleh pesawat Spitfire — menunjukkan bahwa pilot-pilot Mesir lemah dalam mengidentifikasi pesawat. Dua pesawat REAF jatuh di wilayah Israel dan pasukan Israel menangkap salah satu pilot, Flight Officer Abed Al-Rahman Aiman, yang telah berhasil mendarat darurat. Pesawat Spitfire Mk IX-nya, dengan nomor 624, juga akan dikanibalisasi bagian-bagiannya.

Orang-orang Israel memeriksa Spitfire Mk.IX dari Skuadron No. 2, Angkatan Udara Kerajaan Mesir, yang dijatuhkan oleh tembakan darat saat melakukan penyerangan di di Tel Aviv pada 15 Mei 1948, dan pesawat ini mendarat di pantai di Hertzliya. Pilot,nya Letnan Penerbangan Mahmoud Barakat, ditangkap. ( Sumber: israel defense force/ http://espritdecorps.ca/)

Ketika Mandat Inggris berakhir, RAF pergi dengan semua pesawat yang bisa digunakan. Namun, mereka meninggalkan beberapa bangkai pesawat, yang tidak dapat digunakan dengan hanya menghancurkan komponen-komponen utama secara acak. Namun demikian, RAF tidak secara sistematis merusak puing-puing pesawat itu dan sifat acak dari kerusakan tersebut menyebabkan Israel berusaha untuk memperbaiki kembali pesawat-pesawat terbang yang ditinggalkan RAF – sebuah Mosquito, dua Wellington, dan beberapa Spitfire – dari campuran beberapa bagian komponen yang tersisa. Mereka sukses memperbaiki Mosquito tetapi tidak untuk Wellington. Orang-orang Israel menemukan sebuah rongsokan Spitfire di Ekron dan mengangkutnya ke pusat perawatan Sherut Avir di (Sde Dov?), Di mana Freddie Ish-Shalom mengorganisir upaya untuk memperbaiki pesawat-pesawat terbang dari bagian-bagian yang masih tersisa. Upaya ini termasuk menggunakan bagian-bagian dari berbagai tipe Spitfire yang berbeda. Dua mesin Merlin fungsional, dari keluarga Spitfire IX, ditemukan di Ekron dan di bekas markas RAF Ein Shemer (sebelah timur Hadera, dekat perbatasan Lebanon), yang telah menjadi tuan rumah bomber Lancasters RAF yang bermesin Merlin dan, sebelumnya, Mosquito bermesin Merlin . Pada tanggal 16 Mei, Spitfire yang baru saja terdampar di tepi pantai ditambahkan ke dalam kombinasi unik itu.

MEMBAWA SPITFIRE DARI CEKOSLOVAKIA

McElhaw mengenang sebuah insiden di Ramat David ketika seorang penjual telur dari kibbutz Yahudi secara diam-diam menawarkan uang sebesar £ 8.000 di mess perwira bagi siapa saja yang akan menerbangkan Spitfire ke lapangan terbang Tel Aviv. Rencananya bahwa pilot nantinya akan dibawa ke laut, dijatuhkan ke dalam air, diselamatkan dengan cerita bahwa ia telah jatuh di laut. Para pilot tersenyum dengan tawaran itu, tetapi akhirnya tidak ada yang mengambil tawaran itu. Sepanjang musim panas, mekanik Israel telah bekerja untuk membangun kembali dua pesawat dari bangkai Spitfire REAF dan RAF. Pada akhirnya mereka berhasil. Spitfire “Frankenstein” pertama telah siap yang diberi kode D-130, dikonfigurasikan sebagai pesawat pengintaian fotografis. Spitfire kedua segera menyusul, D-131. Setelah melewati musim panas tahun itu dengan menggunakan S-199 yang sulit dikendalikan, para pilot Skuadron 101 menerima Spitfire itu seperti hadiah yang tampak seperti manna dari Surga. Ketika misi pengintaian foto semakin intensif hingga September, orang-orang Arab mulai menembaki orang-orang Israel dengan sungguh-sungguh. Dalam satu perjalanan ke Gaza, semburan tembakan antipesawat mengejar pesawat D-130 di atas Mediterania. Meski cukup puas dengan Spitfire “Frankenstein” mereka, namun Israel jelas butuh pesawat tempur berkualitas dalam jumlah mumpuni, bukan sekedar rongsokan, dan pesawat yang dinilai cocok saat itu adalah Spitfire. Israel akhirnya mendapatkan Spitfire mereka setelah pihak Ceko menyatakan tidak bisa lagi menjual Avia S-199 lagi melalui perjanjian dengan Ceko pada Agustus 1948 dan menawarkan penjualan 59 Spitfire LF Mk. IX bekas pesawat RAF yang sebelumnya pernah menjadi inti kekuatan angkatan udara Ceko yang baru, tetapi karena alasan politik (tekanan Soviet) diharuskan membuangnya pada tahun 1948. Pihak Ceko menjualnya seharga $23,000 ($168,500 dalam kurs dollar tahun 2001) sebuahnya. Pilot IAF akan menerbangkannya melintasi Eropa ke Israel secara bertahap. Tawaran ini tentunya tidak bisa dilewatkan begitu saja oleh Israel yang tengah dalam perjuangan mempertahankan Kemerdekaannya di tengah embargo senjata Amerika.

Pesawat tempur Avia S-199 dengan pengenal AU Israel dibayangi Spitfire Mesir. Meski menjadi pesawat tempur pertama AU Israel, namun Avia S-199 tidak memiliki karakteristik terbang yang baik, oleh karenanya AU Israel berusaha menggantikannya dengan Spitfire yang ditawarkan oleh pihak Cekoslovakia. (Sumber: Pinterest)

Spitfires yang baru dibeli bisa sampai ke Israel dengan tiga cara: lewat kapal, lewat angkutan udara, atau diterbangkan sendiri. Pengiriman lewat laut dinilai terlalu lama dan sementara transportasi udara lebih cepat, namun pesawat angkut lebih dibutuhkan untuk keperluan lain. Sam Pomerance, seorang tokoh penting yang menjabat sebagai pemimpin mekanik Israel di Cekoslowakia, menyarankan untuk mencopoti perlengkapan Spitfire yang kurang penting untuk mengurangi bobot, menambahkan beberapa tangki bahan bakar tambahan, dan menerbangkannya ke Israel. Dukungan penyelamatan dari laut akan disediakan oleh transportasi yang dilengkapi dengan perahu yang juga akan membawa peralatan yang dilepas dari Spitfires yang sudah diringankan. Rencana ini, yang diberi nama kode Operation Velvetta (menurut nama krim kulit), disetujui. Di Kunovice, Cekoslowakia, Sam Pomerance bertugas memodifikasi Spitfire yang akan diterbangkan ke Israel, dan Jack Cohen bertanggung jawab untuk melakukan penerbangan uji. Tapi masukan Cohen ternyata tidak sebatas pada menerbangkan pesawat.

Jack Cohen, sukarelawan AU Israel asal Afrika Selatan. (Sumber: https://deandangelo.wordpress.com/)

“Di Israel, orang-orang Arab semuanya menerbangkan Spitfire. Saya menyarankan kepada mereka bahwa mereka perlu menambahkan penanda merah dan garis merah – garis diagonal merah dan putih di ekor pesawat. Di SAAF (AU Afrika Selatan) kami biasa mengecat pesawat kami dengan cara itu. Itulah yang kami lakukan sehingga setidaknya kami tahu mana milik kami dan mana yang bukan. (Hyde 2000)”

Pomerance, bersama dengan Bob Dawn dan staf mekanik Cekoslowakia, melepas semua peralatan yang tidak penting, seperti senjata dan radio, dari Spitfire dan menambahkan tangki bahan bakar tambahan. Jack Cohen menjelaskan secara rinci:

“Sebuah Spitfire biasanya hanya memiliki tangki bahan bakar 85 galon yang membuat Anda bisa terbang sekitar satu setengah jam. Namun itu tidak akan membawa kita terbang terlalu jauh. Jadi kami memasang tank slipper, tanki bahan bakar panjang di bawah perut (dan) dua tanki jarak jauh, dua tanki berbentuk cerutu di rak bom di bawah sayap. Mereka masing-masing berkapasitas 62,5 galon, sementara tanki jarak jauh tentu saja bisa menampung 90 galon, dan kemudian kami melepas semua perlengkapan radio dan kemudian memasang tanki khusus yang dibuat agar muat di tempat radio berada, tepat di belakang kokpit kami. Semua tangki bahan bakar terhubung: pompa booster pada tangki sayap memompa bahan bakar ke tanki slipper, yang memiliki pengukur di kokpit. Tanki yang dipasang di tempat radio – yang merupakan tangki berukuran 79 galon – hanya dihubungkan ke tangki slipper jarak jauh. Biasanya Anda akan tinggal landas dengan menggunakan bahan bakar di tangki utama, kemudian akan beralih ke tanki jarak jauh sampai habis, dan kemudian kembali ke tanki utama. Total kami sekarang bisa membawa sekitar 370 galon bahan bakar, yang diperkirakan cukup untuk membawa kami terbang tanpa henti dari Cekoslovakia ke Israel. (Hyde 2000)”

Modi Alon, salah satu pilot yang terlibat dalam Operasi Velvetta mengangkut Spitfire dari Cekoslovakia. (Sumber: https://alchetron.com/)

Terlepas dari kapasitas bahan bakar ekstra, Israel mendapatkan izin Yugoslavia untuk mendarat dan mengisi bahan bakar di Niksic, ex pangkalan udara Luftwaffe yang ditinggalkan di provinsi Yugoslavia, Montenegro, dekat perbatasan Albania. Penerbangan dari Kunovice ke Niksic sangat mudah. Pada tahapan kedua, ke Israel, mereka akan melintasi 2.250 km perairan terbuka dan membutuhkan waktu tujuh jam untuk menyelesaikannya. Diperkirakan bahwa setiap Spitfire akan mendarat dengan cadangan bahan bakar yang cukup untuk 20 menit saja. Pada pagi hari 24 September, enam Spitfire Cekoslowakia meninggalkan Kunovice ke Niksic, 300 mil jauhnya, dengan Modi Alon, Boris Senior, Syd Cohen, dan Tuxie Blau bergabung dengan Pomerance dan Jack Cohen menerbangkan pesawat ini. Sam Pomerance pergi duluan, untuk memimpin grup. Tuxie Blau mengambil posisi pilot yang terbang terakhir setelah Arnold Ruch meskipun Ruch memiliki lebih banyak pengalaman. Tanpa adanya radio, pilot berkomunikasi sebaik mungkin dengan menggunakan walkie-talkie. Blau lupa menurunkan landing gear-nya di Niksic dan merusak pesawatnya tetapi tidak terluka. Peralatan yang dilepas dari pesawat Spitfire Velvetta 1 dibawa ke Niksic dengan sebuah pesawat C-54, yang mana para pilot Spitfire menyebutnya “Pesawat Induk” yang akan terbang memimpin flight Spitfire yang dikirim pada flight kedua dalam penerbangan panjang di atas Mediterania. Mereka akan membawa tambahan suku cadang Spitfire, ditambah dengan peralatan penyelamatan laut. Jika terjadi masalah, C-54 akan menjatuhkan sebuah perahu dan kemudian akan melanjutkan ke Israel. Dua kapal angkatan laut pergi ke laut untuk melindungi rute dan yang ketiga menunggu dalam keadaan siaga di pelabuhan Haifa. Sebuah C-47 yang sarat dengan lebih banyak peralatan penyelamat laut siap di Pangkalan Udara Ramat David. Semua Spitfire kemudian diangkut dalam 3 gelombang, dimana yang terakhir diangkut sebanyak 12 Spitfire dari Ceko ke Israel antara tanggal 19-26 Desember 1948.

DI MEDAN PERTEMPURAN

Kesalahan identifikasi juga menghinggapi personel kekuatan udara Israel saat melakukan serangan terhadap pangkalan RAF di Amman pada tanggal 31 Mei – 1 Juni. Mengetahui bahwa anggota Liga Arab akan bertemu di ibukota Trans-jordanian itu, Israel memutuskan untuk mengebom Amman untuk menunjukkan kemampuan mereka, dengan menggunakan pesawat-pesawat berbagai tipe yang terdiri dari Beech Bonanza, Fairchild Argus dan de Havilland Dragon Rapide. Bom yang mereka jatuhkan menewaskan enam warga sipil Arab dan melukai delapan lainnya. Entah karena kecelakaan atau kesalahan desain, empat bom buatan kasar dan tiga bom pembakar meledak di dalam perimeter pangkalan RAF, cuma sedikit merusak dua pesawat Avro Anson tetapi tidak menimbulkan korban. Pasukan Inggris di wilayah Transyordan kemudian disiagakan, dan pesawat komunikasi Percival Proctor dilucuti sementara untuk dikonversi menjadi “pesawat tempur malam.” Sementara pertempuran sengit berlanjut antara pasukan Israel dan Arab, dimana RAF berusaha untuk memantau perkembangan situasi dengan melakukan penerbangan pengintaian diatas Sinai dan Israel dengan menggunakan pesawat de Havilland Mosquito Mark PR 34 dari Skuadron No. 13, yang berbasis di pangkalan udara Kabrit di Zona Canal. Karena curiga bahwa setidaknya beberapa data intelijen yang diperoleh dari penerbangan ini kemungkinan diserahkan kepada orang-orang Mesir, IAF melakukan beberapa upaya intersepsi yang gagal, mereka gagal karena mereka tidak memiliki pesawat yang mampu mencapai ketinggian yang diperlukan — sampai empat P-51D tiba dalam peti dari AS pada akhir September. Setelah perakitan, pesawat-pesawat ini diintegrasikan ke 101 Fighter Squadron IAF yang berbasis di Hatzor, untuk menambah kekuatan pesawat S-199 dan Spitfire yang sudah ada sebelumnya.

Pesawat de Havilland Mosquito milik AU Mesir. Selama Perang Kemerdekaan Israel, Mosquito RAF sering melakukan penerbangan pengintaian memantau gerak-gerik militer Israel. (Sumber: https://www.flickr.com/)

Serangan pertengahan Oktober yang disebut Operasi Yoav menugaskan empat dari lima Spitfires Skuadron 101 untuk melakukan pengawalan pesawat-pesawat Beaufighter ke Al Arish. Salah satu Spitfire tidak berfungsi, tetapi tiga lainnya meninggalkan Herzliya pada 15 Oktober untuk bergabung dengan dua Beaufighter yang terbang dari Ramat David. Pesawat Israel menyerang pangkalan udara Al Arish pukul 17:40, dengan kedua Beaufighter melakukan pengeboman sementara Spitfire, yang dipiloti oleh Syd Cohen, Rudy Augarten, dan orang ketiga, memberondong landasan. Mereka menghancurkan empat Spitfire REAF di darat, menghancurkan hanggar, dan membuat landasan rusak sehingga tidak bisa terjadi digunakan take-off, sebelum tembakan AA memaksa orang-orang Israel untuk mundur. Keesokan harinya, sepasang Spitfire ditugasi untuk mengawal tiga B-17 Israel ke Al Arish pada pukul 09:00 dan ke Majdal pada pukul 13:30, tetapi karena alasan tertentu mereka tidak melakukannya. Satu Spitfire melakukan pengawalan B-17 ke Faluja pada pukul 16:00. Pada 19 Oktober, Jack Doyle dan pilot lain mengawal B-17 Israel dalam serangan pemboman ke Huleiqat dan dalam keterangannya, Doyle melaporkan bahwa pemboman dilakukan secara akurat dan mereka menghadapi sejumlah tembakan AA yang biasa saja. Pada 21 Oktober, Rudy Augarten dan Jack Doyle terbang dengan Spitfire untuk melakukan misi CAP (Combat Air Patrol) di wilayah antara Beersheva dan Al Arish. Mereka mencegat empat Spitfire REAF dan Augarten menembak dua jatuh diantaranya. Pesawat REAF ketiga berhasil dirusak. Pada 22 Oktober, Doyle menerbangkan Spitfire dalam upaya yang gagal untuk melakukan penyergapan. Spitfire pengintaian, D-130, semakin sering digunakan sepanjang musim gugur, ketika ancaman dari pesawat musuh menghilang. Pada bulan Oktober, ia memotret pangkalan udara Al Arish, konsentrasi Mesir di Negev, dan posisi Legiun Arab antara Latrun dan Ramallah. Dengan orang-orang Mesir dalam gerak mundur ke selatan, pada 28 Oktober, perhatian bergeser ke utara. Dua Spitfire Skuadron 101 mengawal tiga B-17 malam itu untuk membom markas besar Lebanon di Galilea, tetapi mereka membom kota yang salah. Pagi berikutnya antara pukul 07.00 dan 07.45, formasi yang identik berhasil mencapai target yang benar. Pada 11 November, Rudy Augarten dan Boris Senior membawa Spitfire untuk berpatroli dan mencegat sebuah Dakota REAF, yang mereka tembak jatuh. Pada 17 November, patroli Spitfire yang diterbangkan Augarten mencegat tiga Spitfire REAF pada ketinggian 7.500 kaki di atas orang-orang Mesir yang terkepung di Faluja. Augarten menembak jatuh satu diantaranya.

Bomber B-17 AU Israel nyaris tanpa senapan mesin standar yang bertebaran pada badannya. Selama periode Perang Kemerdekaan Israel, B-17 “rongsokan” milik Israel beberapa kali menjalankan misi pengeboman ke sasaran-sasaran lawan. (Sumber: Pinterest)

Pada 20 November, Pilot Eric Reynolds dan navigator penerbangannya Sgt. Angus Love ditugaskan menjalankan misi penerbangan pengintai, karena telah menerbangkan beberapa misi sebelumnya, mereka percaya bahwa penerbangan kali itu akan sama dengan sebelumnya. Mungkin karena terlalu percaya diri, mereka terbang di bawah ketinggian maksimum PR 34 yang bisa mencapai 43.000 kaki saat menuju pantai utara Palestina untuk memotret lapangan udara Israel. Melihat adanya pesawat Mosquito, Skuadron 101 mengirim sebuah pesawat tempur P-51 yang diterbangkan oleh veteran pilot satuan udara Angkatan Darat AS Wayne Peake, seorang sukarelawan non-Yahudi. Meskipun sistem oksigen Peake tidak berfungsi, ia berhasil membawa Mustangnya hingga ketinggian 30.000 kaki, sekitar 2.000 kaki di atas Mosquito RAF, dan kemudian melepaskan rentetan tembakan panjang yang awalnya tampaknya tidak berpengaruh pada penerbangan pesawat Inggris itu. Tetapi setelah terbang mengarah ke laut, pesawat RAF itu mulai kehilangan ketinggian, meledak dan jatuh, menewaskan Reynolds dan Love. Kembali ke Hatzor, Peake yang kekurangan oksigen pada awalnya mengklaim bahwa dia telah menembak jatuh sebuah pembom empat mesin Halifax. IAF mengirim Weizman terbang menggunakan sebuah pesawat amfibi untuk mencari apakah ada yang masih selamat, tetapi ia hanya menemukan puing-puing. Penerbangan lebih lanjut pengintaian dengan pesawat Mosquito kemudian ditangguhkan, dan pihak intelijen RAF menghadapi pertanyaan yang tidak menyenangkan karena kegagalannya untuk mendapatkan informasi bahwa IAF berhasil memiliki pesawat tempur yang bisa terbang di atas ketinggian 30.000 kaki.

Wayne Peake, sukarelawan asal Amerika yang menembak jatuh Mosquito RAF dengan menggunakan P-51 Mustang pada tanggal 20 November 1948. (Sumber: https://spyflight.co.uk/)

Serangan terakhir Israel dalam perang, yang diberi nama sandi “Chorev,” dimulai pada awal Desember 1948 dengan tujuan akhirnya adalah untuk mengusir orang-orang Mesir dari wilayah Negev, melindungi wilayah pemukiman paling selatan Israel dan memberi negara yang masih muda itu posisi negosiasi yang tak tergoyahkan dengan negara-negara Arab. IAF sekali lagi akan berada di garis depan ofensif, dengan Skuadron 101 mengerahkan lima Spitfires, dua P-51 dan enam S-199. Dalam perkembangannya, Operasi Chorev, turut meningkatnya aktivitas pesawat-pesawat Spitfire REAF dan pesawat lainnya yang berbasis di El-Arish, kemudian mendorong Israel untuk melakukan serangan komando yang berani terhadap lapangan udara dan tempat-tempat pendukung pendaratan. Di satu pangkalan kecil mereka berhasil merampas sebuah Spitfire LF Mk. IX yang tidak bisa digunakan mereka untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Israel. Karena khawatir, REAF mulai mengevakuasi markas utama mereka di El-Arish. Grup ke-205 RAF, yang berbasis di Zona Canal, mulai memantau kemajuan Israel lewat misi photorecon yang diterbangkan oleh skuadron No. 13 dan 208 di atas Sinai utara. Mosquito dari Skuadron 13 telah memulai kembali penerbangan di atas Israel pada awal Desember. Pada minggu terakhir perang, orang-orang Mesir memohon bantuan kepada Inggris. RAF telah mengizinkan REAF untuk menggunakan tiga set radar peringatan dini, jika IAF mencoba mencoba menyerang wilayah Mesir. Sekarang Inggris secara resmi setuju untuk menyediakan fasilitas pengisian bahan bakar di berbagai lapangan udara RAF di Zona Canal, dan juga memungkinkan pesawat Mesir untuk mendarat jika menghadapi risiko serius. Sementara itu, terpana oleh kecepatan kemajuan Israel, menteri luar negeri Inggris menyarankan rekan Amerika-nya memberi tahu Israel, bahwa jika Israel tidak menarik diri dari wilayah Mesir, Inggris akan mengambil tindakan terhadap mereka berdasarkan Perjanjian mereka dengan Mesir tahun 1936. Presiden AS, Harry S Truman kemudian meminta agar Perdana Menteri Israel David Ben Gurion memerintahkan pasukan Israel untuk mundur. Setelah melakukan protes singkat, pemimpin Israel kemudian memerintahkan IDF untuk mulai menarik pasukannya kembali ke garis perbatasan internasional. Tetapi semuanya belum rampung sampai gencatan senjata yang ditengahi oleh PBB akhirnya disetujui dan dimulai pada jam 1600 tanggal 7 Januari 1949.

Macchi 205V AU Kerajaan Mesir. Selama perang beberapa kali pilot-pilot Israel berjumpa dengan Macchi 205V milik Mesir. (Sumber: http://wp.scn.ru/)

Pada 28 Desember, sebagian besar dari sepuluh Spitfire yang diangkut lewat Operasi Velvetta 2 siap digunakan, dan aktivitas Skuadron 101 meningkat. Hari itu, Augarten lagi memimpin misi CAP Spitfire ketika, pada pukul 10:45, dua Macchi MC.205V REAF membom dan memberondong konvoi Israel di dekat Nitzana. Augarten dan wingman nya mencegat dan merusak keduanya. Satu diantaranya sedikit menukik sementara yang lain mengeluarkan asap hitam. Pada 29 Desember, Doyle memimpin dua Spitfire ketika dia memutuskan untuk menyerang apa yang dia yakini sebagai konvoi Mesir. Hanya setelah melakukan straffing singkat yang menewaskan satu prajurit dan melukai yang lain, para pilot menyadari bahwa mereka menyerang Brigade Negev Israel. Juga pada hari itu, Wilson (dalam Spitfire White 14) dan Arnie Ruch mengawal dua B-17 dari Skuadron 69 dalam serangan di Kantong Faluja. Setelah pembom menjatuhkan muatannya, kedua Spitfires terbang menuju Al Arish.

“Kami menemukan lima pesawat musuh di atas Al Arish. Tiga sedang kembali ke markas. Saya bertarung dengan dua lainnya. Kami pikir mereka diterbangkan oleh orang Amerika karena mereka melakukan perlawanan. (Cull at al 1994)”

Pilot pesawat tempur asal Kanada, John McElroy yang berjasa bagi di RAF dalam Perang Dunia II, tidak pernah bermimpi ia akan melawan RAF pada tahun 1949, saat terbang untuk unit tempur udara Israel. (Sumber: museum perang Kanada/ http://espritdecorps.ca/)

Sejauh yang diketahui, tidak ada orang Amerika terbang bagi Mesir, meskipun laporan intelijen yang salah pada saat itu menyatakan dua orang Amerika terbang untuk pihak Mesir. Wilson merusak salah satu dari dua Spitfire REAF yang tersisa, yang segera melarikan diri ke arah Al Arish, dan menyerang yang lain. Pada 30 Desember, McElroy dan wingman nya Jack Doyle (white 24) masing-masing menembak jatuh MC.205V yang telah menembaki pasukan Israel di dekat pangkalan udara Bir Hama REAF, menewaskan dua pilot Mesir, S / L Mustafa Kamal Abd al Wahib dan F / L Kahlil Jamal al Din al Arusi. Doyle menjelaskan:

“Johnny McElroy dan aku sedang melakukan penerbangan pengintaian di Bir Hama ketika aku melihat dua pesawat musuh menembaki pasukan kami. Saya memotong formasi mereka dan menembak jatuh pemimpinnya. Pesawat kedua segera kabur dengan Johnny membuntuti di ekornya. Tidak lama kemudian Johnny menghabisinya dan kami kembali ke markas. (Cull et al 1994)”

Hari terakhir 1948 diakhiri dengan Skuadron 101 menyerang Bir Hama, sebuah lapangan terbang Mesir yang baru ditemukan satu minggu sebelumnya. Denny Wilson, Syd Cohen, dan seorang pilot ketiga menyerang dengan menggunakan Spitfire, dua membawa bom dan satunya lagi memberikan perlindungan diatasnya. Catatan penerbangan Wilson menunjukkan bahwa ia menukik dengan bom sebelum berpatroli di wilayah udara dekat pangkalan Mesir.

“Pada 31 Desember 1948, ketika menerbangkan Spitfire (White 15) berpatroli di Sinai, saya melihat sebuah pesawat Mesir – Fiat Italia (Macchi) – kembali ke lapangan terbangnya di Bir Hama. Dia ada di bawah saya dan saya menembaknya jatuh – pilotnya berhasil menyelamatkan diri. (Bracken 1995)”

Spitfire AU Israel merontokkan Macchi 205V milik Mesir. (Sumber: Pinterest)

Dua Macchi REAF dihancurkan di darat. Dalam perjalanan kembali, Wilson dan wingman nya, Syd Cohen, berbelok ke Faluja.

“Di dekat kantong Faluja, saya melihat sebuah Spitfire Mesir terbang mengawal pesawat transport C-46, yang menjatuhkan perbekalan. Aku menyelinap di belakang Spitfire Mesir ini. Dia mulai berbelok dengan kencang, tetapi aku ketat menempel. Kami kekurangan amunisi, kami diminta untuk tidak menggunakan kanon kami. Jadi saya menembakkan senapan mesin. Dia berputar dan meledak. (Cull et al 1994)”

Faktanya, amunisi selalu menjadi masalah, sebagaimana dicatat oleh Wilson:

“Mereka selalu mengatakan kepada kami untuk tidak membuang amunisi dengan mudah. Satu tembakan dari meriam 20 mm berharga sekitar empat dolar. Bahkan harga peluru kaliber .50 bernilai sekitar 50 sen. (Arsip Bercuson)”

Setelah pertarungan ini, Wilson dan Cohen bergabung dengan sepasang Spitfire Israel yang menembaki konvoi truk di jalan Al Auja-Abu Ageila.

“Kami memberondong mereka berulang kali. Kami tidak tahu jumlah kendaraan yang kami hancurkan. (Cull et al 1994)”

Boris Senior, salah satu pilot sukarelawan asal Afrika Selatan yang turut membela AU Israel dalam Perang Kemerdekaannya. (Sumber: https://live.warthunder.com/)

Pada 1 Januari sepasang Spitfire dari Skuadron 101 mengebom persimpangan rel di Rafah dan hari berikutnya dua lagi menyerang kereta di Sinai utara, tetapi dua dari empat bom yang dijatuhkan tidak meledak. Sementara itu pada hari yang sama, pangkalan RAF Fayid telah mengirim sebuah Mosquito dari Skuadron 13 dan dua Spitfire dari Skuadron 208 untuk memantau perkembangan di sepanjang garis depan. Empat Spitfire dari Squadron 208 kemudian memotret sebuah Spitfire REAF yang dirampas oleh Israel di El-Arish sedang ditarik ke arah perbatasan di sepanjang jalan Abu Ageila-Al-Auja. Pada pukul 16:20 4 Januari, dua B-17 membom instalasi militer Mesir di Rafah – mereka rencananya akan dikawal oleh dua Spitfire Skuadron 101 tetapi kedua kelompok tidak bertemu, meskipun si wingman pada saat melakukan CAP melihat B-17 itu. Keesokan harinya melihat dua Spitfire darat Skuadron 101 membom dan memberondong kereta di selatan Khan Yunis, merusak mesinnya. Sekitar tengah hari, Boris Senior, sukarelawan asal Afrika Selatan dengan Mustangnya dan Sye Feldman di Spitfire bertemu dengan tiga MC.205V REAF. Pilot-pilot Israel membuang bom mereka, dan sebuah Macchi segera melarikan diri. Feldman mengklaim satu buah Macchi dihancurkan. Pada 4 Januari, Mesir mengirim pesan singkat ke PBB: negara itu akan menegosiasikan diakhirinya perang dengan Israel jika Israel mengakhiri semua permusuhan pada pukul 16:00 (waktu setempat) keesokan harinya. Israel baru menerima kabar tentang tawaran itu pada 5 Januari, tetapi setuju untuk melakukan gencatan senjata efektif jam 16:00, 7 Januari. Badai pasir membatasi aksi pada 6 Januari, tetapi Israel bertekad untuk terus bergerak maju ke selatan sampai batas waktu gencatan senjata yang disepakati, suatu hal yang akan menjadi kebiasaan militer Israel saat perang, dimana mereka akan memaksimalkan waktu menjelang gencatan senjata.

Badai pasir pada 6 Januari memang menghentikan operasi militer kedua belah pihak, tetapi pesawat-pesawat Mosquito RAF dan Spitfire terus melakukan pengintaian taktis di sepanjang perbatasan Mesir-Israel. Pilot mereka melaporkan aktivitas yang cukup besar di sepanjang jalan Al-Auja – Rafah, dan komandan Skuadron 208, kemudian memutuskan bahwa pengintaian lebih lanjut akan diperlukan pada hari berikutnya – sebuah keputusan yang pada akhirnya akan menyebabkan tragedi. Empat pilot Skuadron 208 kemudian ditugaskan dalam misi itu, yakni: Flying Officer Cooper dan wingman-nya, Sersan Frank Close, dan Flying Officer McElhaw dan Sersan Ron Sayers. (Cooper dan McElhaw telah menembak jatuh pesawat-pesawat Spitfire REAF di atas Pangkalan Udara Ramat David pada 22 Mei 1948). Singkatnya tugas mereka adalah untuk memastikan posisi pasukan Israel di Sinai timur laut dengan mensurvei jalanan antara Al-Auja-Rafah. Meskipun para pilot diperintahkan untuk tidak menyeberang ke wilayah Israel, komandan mereka menjelaskan bahwa informasi tentang keberadaan REAF Spitfire yang sedang diderek adalah informasi yang tidak disukai. Semua pesawat kemudian terbang dengan bersenjata lengkap.

Chalmers “Slick” Goodlin disamping X-1, pesawat yang memecahkan rekor menembus kecepatan suara. (Sumber: https://airandspace.si.edu/)

Terbang dari Fayid pada jam 1115 tanggal 7 Januari, pesawat-pesawat Spitfire FR Mk. XVIII kemudian terbang ke Abu Ageila, lalu berpisah menjadi dua bagian. Cooper dan Close terbang setinggi 500 kaki, sementara McElhaw dan Sayers memberikan perlindungan dari ketinggian 1.500 kaki, di atas hamparan gurun tanpa bentuk di sepanjang perbatasan antara Mesir dan Israel. Rute mereka termasuk sejumlah titik berbalik di mana akan mudah bagi formasi untuk menembus perbatasan — yang hampir pasti dilakukan oleh para pilot RAF selama pencarian mereka yang gagal atas Spitfire Mesir yang direbut Israel. Mereka kemudian berbalik ke arah Rafah di dalam wilayah Mesir, menuju barat ke Fayid. Patroli itu tidak menyadari bahwa, sekitar 15 menit sebelumnya di dekat Rafah, lima Spitfire LF IX REAF telah menyerang konvoi kendaraan bermotor Israel, dan membakar tiga buah truk. Melihat asap hitam, pesawat RAF berbelok ke arah kendaraan yang terbakar, Cooper dan Close turun ke dekat permukaan tanah untuk memotret apa yang ada disana. Orang-orang Israel di darat yakin bahwa mereka sedang menghadapi gelombang kedua penyerangan pesawat-pesawat Mesir, kemudian melepaskan tembakan dengan senapan mesin, mengenai kedua pesawat RAF. Spitfire Close langsung terbakar, tetapi ia berhasil melompat keluar dari terjun dari ketinggian 500 kaki, meskipun kakinya terjebak dalam tali parasut dan ia mendarat dengan kepala terlebih dahulu, sehingga mematahkan rahangnya. Pesawat Cooper tidak terlalu rusak parah, dan segera terbang keluar dari bahaya. Bingung, McElhaw dan Sayers turun untuk menyelidiki. Mereka yang juga tertarik oleh asap di daratan adalah dua Spitfire LF IX dari Skuadron 101 Israel yang sedang berpatroli diterbangkan oleh ace Angkatan Udara Kanada, John McElroy dan pilot asal American Chalmers “Slick” Goodlin, yang juga mantan pilot RCAF dan mantan pilot Angkatan Laut dan pilot uji coba pesawat Bell X-1 AS. Melihat adanya kehadiran empat Spitfire, mereka menganggap pesawat-pesawat ini adalah pesawat REAF yang bertanggung jawab untuk menembaki konvoi. Selain itu, karena biasanya pilot Israel hampir selalu terbang berpasangan, telah menjadi kebiasaan di kalangan IAF, bahwa mereka mengasumsikan bahwa setiap kelompok terbang yang lebih besar adalah milik musuh. Seperti yang dijelaskan oleh Weizman, “Jika Anda bertemu dengan empat pesawat, mereka jelas bukan milik kita — jadi tembak mereka jika Anda bisa.” Meskipun pesawat Spitfire IAF masih memiliki peralatan radio RAF dan McElroy dan Goodlin dapat mendengar percakapan dalam bahasa Inggris yang bersemangat membahas jatuhnya pesawat Close, mereka gagal menghubungkan percakapan tersebut dengan insiden yang terjadi. Mereka kemudian segera bersiap untuk menyerang.

Ruwetnya medan pertempuran dan kesamaan tipe pesaawat yang digunakan menyebabkan Spitfire AU Israel menembak jatuh Spitfire RAF yang disangka sebagai milik AU Kerajaan Mesir. (Sumber: Pinterest)

Tiga pilot RAF yang tersisa jelas tidak melihat adanya pesawat-pesawat Spitfire IAF yang mendekat, atau mungkin telah terbuai oleh rasa aman semu. Sebelum pilot-pilot Inggris menyadari adanya bahaya, McElroy telah menembakkan rentetan tembakan ke pesawat Sayers, membunuhnya sekaligus menjatuhkan Spitfire-nya. McElroy kemudian mengalihkan perhatiannya ke Spitfire McElhaw’s. Dia kemudian berkata, “Saya melihat sekali dan melihat itu bukan salah satu dari pesawat kita dengan tanda-tanda itu, ekor pesawat kita dicat dengan garis-garis merah dan putih besar…. jadi saya mengalihkan pandangan saya kepadanya, sekitar 400 yard, dan saya membiarkannya terbang. ” Korbannya mengingat: “Peringatan pertama yang saya terima adalah panggilan R / T [dari Cooper],” Awas, ada satu (musuh) di belakang Anda! “Saya melihat keluar dan melihat satu pesawat di belakang saya. Itulah akhirnya. Aku ditembak jatuh saat mengorbit diatas reruntuhan pesawat di darat. ” McElhaw berhasil melompat keluar, tidak terluka. Sementara itu Goodlin mengejar Cooper, yang lebih menunjukkan perlawanan. Orang Amerika itu kemudian menulis: “Saya tidak bisa mendekat ke Spit 18 milik Inggris karena kekuatan yang lebih rendah di Spit 9 milikku. Di sekitar ketinggian 16.000 kaki, Spit 18 berguling dan menukik kembali ke arah saya dengan sudut yang tidak mungkin, dengan senapan mesin menembak dan nyala api serta asap knalpot muncul di bawah kedua sayap. ” Mengambil keuntungan dari kemampuan manuver Spitfire IX yang lebih besar, Goodlin akhirnya berhasil menembak Cooper. Dia mengenang, “Saya hanya mengenali roundel RAF setelah Spit 18 menembaki saya, ketika kami berada di pertarungan saling terbang memotong dan saya tidak punya alternatif selain melawan untuk menyelamatkan saya sendiri.” (Cooper berhasil menghindari penangkapan, tetapi McElhaw dan Close jatuh ke tangan Israel. Mereka akhirnya diangkut dengan kapal ke Siprus).

Spitfire Mk. XVIII dari Skuadron 208 RAF yang meski lebih kuat, namun kemampuannya manuvernya tidak sebaik Spitfire Mk.IX AU Israel yang lebih tua. (Sumber: RAF Museum, Hendon/ https://www.historynet.com/)

Kedua pilot Spitfire Israel terbang kembali ke Chatzor di mana mereka melakukan aksi putaran kemenangan atas lapangan terbang. Hanya setelah mendarat, pada pukul 12:27, McElroy mengetahui dari Goodlin bahwa mereka telah menembak jatuh pesawat RAF. Weizman ingat bahwa tidak semua orang senang: “Kedua badut ini mungkin tidak terganggu, tetapi kami tidak. Kami terengah-engah karena gelisah. Lagipula, Inggris adalah Inggris. Mereka bukan orang Mesir. ” Tetapi Weizman segera mengesampingkan keraguannya untuk bertindak melawan Inggris dalam misi yang dimaksudkan sebagai demonstrasi kekuatan terakhir melawan REAF di wilayah El-Arish. Empat IAF Spitfire berpartisipasi dalam operasi ini. Khawatir karena tidak mendengar berita apa pun dari patroli yang dilakukan Skuadron 208, RAF mengirim tujuh Hawker Tempest VI dari Skuadron 213 dan delapan dari Skuadron 6 untuk mengawal empat Spitfire Skuadron 208 yang melakukan pencarian. Di atas Rafah, formasi RAF diamati oleh empat Spitfire Weizman, yang awalnya mengira Tempest sebagai “British Spits” dan drop tank yang mereka bawa sebagai bom. Weizman memberi perintah untuk menyerang. Dalam kebingungan pass pertama, pilot sukarelawan Bill “Sure Shot” Schroeder, seorang mantan Veteran tempur Angkatan Laut AS, menembak jatuh sebuah Tempest dari Skuadron 213 yang dipiloti Officer David Tattersfield, yang mati seketika. Baru pada saat itulah pilot Skuadron 213 menyadari bahwa senjata mereka, meskipun sudah diisi amunisi, belum dikokang oleh kru darat. Melihat serangan Spitfire IAF, empat Tempest Skuadron 6 — yang terbang memberi perlindungan di atas, Pimpinan komandan Skuadron Denis Crowley-Milling — melakukan pengejaran, dan meskipun senjata mereka ditembakkan, mereka tidak bisa membuang drop tank mereka (pin pelepas tuas jettison terlalu ketat). Weizman, sementara itu, telah menembaki Tempest Skuadron 6 yang diterbangkan oleh Sersan Douglas Liquorish, tetapi Spitfire-nya juga mengalami kerusakan kecil setelah ditembaki oleh Tempest Letnan Penerbangan Brian Spragg. Berkat pengenal mereka, yang identik dengan pesawat penyerang IAF, keempat Spitfire Skuadron 208 berada dalam bahaya ganda. Perwira Terbang Roy Bowie dari Skuadron 208 mengingat, “Dalam pertempuran jarak jauh kami sama sekali tidak aman karena Spitfire kami bisa dianggap sebagai musuh oleh Tempest sampai benar-benar diidentifikasi.” Kemenangan atas Tempest ini menjadi kemenangan terakhir Spitfire Israel dalam perang. Menurut catatan akhir pihak Israel, Spitfire milik mereka membukukan 16 kemenangan udara selama perang Kemerdekaan.

Spitfire yang dipiloti Ezer Weizman menembaki pesawat tempur Tempest RAF. Weizman nantinya akan menjadi komandan IAF dari tahun 1958-66 dan presiden Israel dari tahun 1993-2000. (Sumber: twitter)

CATATAN AKHIR

Saat itu bukan masa-masa terbaik RAF. Air Chief Marshal Sir David Lee kemudian menggambarkan peristiwa hari itu sebagai “konfrontasi yang dramatis dan memalukan dengan Israel.” Pilot-pilot RAF pulang untuk membalas dendam. Crowley-Milling ingat, “Ketika kami mendarat kembali, kami minta pesawat kami dipersenjatai dan memohon Markas Besar untuk mengizinkan kami menyerang Angkatan Udara Israel di pangkalan mereka.” Sementara itu Pilot IAF juga bersiap untuk membela diri. Tetapi yang mengejutkan orang Israel — dan yang mengecewakan orang Mesir — tidak ada balasan. Kantor Luar Negeri Inggris menampik permintaan maaf Israel dengan mengeluarkan tuntutan kompensasi atas peralatan dan personel yang hilang (yang tidak pernah dibayarkan), dan Kementerian Udara mengeluarkan pernyataan bahwa, untuk selanjutnya, setiap pesawat Israel yang ditemui di wilayah Mesir akan dianggap sebagai musuh oleh RAF dan akan ditangani sesuai kondisi tersebut. Keesokan harinya, pilot Skuadron 101 IAF mengirim pesan kepada rekan-rekan pilot Skuadron 208 Inggris: “Maaf atas kejadian kemarin, tetapi Anda berada di sisi yang salah di perbatasan. Datang dan minumlah bersama kami kapan-kapan. Anda akan melihat banyak wajah yang bersahabat. ” Pada akhir perang, ketika sebagian besar sukarelawan asing meninggalkan IAF, kepergian membuat perasaan Ezer Weizman campur aduk. Dia mencatat bahwa “pengalaman tempur mereka sebelumnya selalu memberi kita perasaan bahwa mereka memandang rendah kita karena merasa lebih superior, membiarkan diri mereka sesekali tersenyum pada ‘penduduk asli.’… Saya senang mereka datang ketika mereka melakukannya, tetapi saya Sama-sama senang mereka meninggalkan kami untuk membiarkan kami menghadapi masalah kami sendiri. ” Weizman sendiri akan mengemban tugas yang lebih besar, dengan bertugas sebagai komandan IAF dari tahun 1958-66 dan presiden Israel dari tahun 1993-2000. Pada tahun 1954, sebagian besar Spitfire Israel dijual ke Burma, tetapi beberapa pesawat tetap dipertahankan di Israel atas inisiatif Mayor Jenderal Ezer Weizman, yang menjadi Komandan Ramat David Airbase saat itu. Salah satu pesawat itu adalah Spitfire nomor 2057 (atau 57 singkatnya) yang tak lama kemudian menjadi pesawat pribadi Weizman dan dicat hitam atas perintahnya meniru pesawat Komandan Airbase Inggris di mana Weizman bertugas selama Perang Dunia II. Setelah absen selama empat tahun dan proses perombakan yang sangat rinci, Mei 2015 lalu “Black Spitfire of Ezer Weizman”, yang paling terkenal itu kembali diterbangkan.

Spitfire hitam nomor 57 yang pernah digunakan oleh Ezer Weizman. (Sumber: Pinterest)

Sementara itu selama perang itu, Skuadron 101 mencatat telah menembak jatuh 23 pesawat musuh di udara, dengan rincian: 16 pesawat Mesir, 5 Inggris, 1 Suriah, dan 1 Yordania; kemudian setidaknya merusak 6 pesawat, dengan rincian: 5 asal Mesir dan 1 Inggris. Pesawat-pesawat yang hancur termasuk 9 Macchi, 5 Spitfires, 3 C-47, 1 Tempest, 1 Mosquito, 1 Harvard, dan 1 Dragon Rapide. Beberapa pesawat Mesir juga berhasil dihancurkan di darat ketika pangkalan udara Mesir di El-Arish dan El-Hama diserang. Pilot dengan skor tertinggi adalah: John McElroy 4; Rudy Augarten 3.5; Modi Alon 3; Jack Doyle 3; Boris Senior 2.5; Gordon Levett 2, dan 7 pilot masing-masing memiliki 1 kill. Spitfire yang terkenal dan menjadi ikon Perang Dunia II, memainkan peran yang menentukan dalam Perang Kemerdekaan Israel. Tiga Angkatan Udara yang sama-sama menerbangkan Spitfires terlibat dalam perang itu – Angkatan Udara Israel, Angkatan Udara Kerajaan Mesir, dan Angkatan Udara Kerajaan Inggris. Ketika Israel memperoleh Spitfire-nya, IAF dengan cepat membangun superioritas udara di kawasan, dan tidak ada keraguan bahwa Spitfires-IAF memainkan peran penting dalam kemenangan Israel dalam Perang Kemerdekaan, yang pada 7 Januari 1949, berakhir di atas gurun tandus Sinai dengan catatan yang dramatis.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Spitfire vs. Spitfire: Aerial Combat in Israel’s War of Independence by Derek O’Connor Originally published in the November 2014 issue of Aviation History.

https://www.historynet.com/spitfire-vs-spitfire-aerial-combat-israels-war-independence.htm

Spitfires

http://101squadron.com/101real/spitfires.html

The Israel Air Force – Spitfires Over Israel

http://www.machal.org.il/index.php?option=com_content&view=article&id=122&Itemid=176&lang=en

Attributed Israeli Air Combat Victories

Last revised: November 19 2006

http://aces.safarikovi.org/victories/victories-israel.html

How did Spitfires end up in the IAF? By Eitam Almadon; 27.09.2016

https://www.iaf.org.il/4451-47045-en/IAF.aspx

Ezer Weizman’s Black Spitfire Back in The Air; November 27, 2015

http://warbirdsnews.com/warbirds-news/ezer-weitzmans-black-spitfire-air.html

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Operation_Velvetta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *