21 Januari 1968: Saat Komando Korea Utara berupaya membunuh Presiden Korea Selatan di Seoul

Tiga puluh satu bayangan merayap mendekati pagar perbatasan di malam musim dingin, memotong dan menyelinap, berjalan masuk ke sisi Amerika dari zona demiliterisasi yang membatasi Korea Utara dan Korea Selatan. Saat itu adalah bulan Januari 1968 dan pasukan operasi khusus Korea Utara itu segera bergerak menuju ke arah selatan. Orang-orang itu berasal dari Unit Tentara ke-124, sebuah organisasi militer elit yang ditugaskan melakukan operasi gerilya melawan musuh bebuyutan Korut di selatan. Mereka mengenakan baju dengan seragam militer Korea Selatan di bawah pakaian yang mereka kenakan dan bersenjata lengkap, masing-masing prajurit membawa sub machine gun, pistol, granat dan ranjau anti-tank. Misi mereka, dapat dirangkum dalam satu kata seperti yang dikenang salah satu anggota pasukan itu, adalah untuk “memotong kepala (Presiden Korea Selatan) Park Chung-hee dan, setelah itu, untuk menembak para pejabat penting Korsel lainnya sampai mati.” Upaya unit ke-124 untuk membunuh diktator Korea Selatan Park Chung-hee kemudian menjadi tindakan paling dramatis dalam kampanye Kim yang berlangsung sekitar tiga tahun untuk memenuhi janjinya menjadi duri bagi pihak Amerika Serikat dan sekutunya. Sejak musim gugur 1966, ia telah melancarkan kampanye perang gerilya dan subversi yang bertujuan untuk menabur kekacauan di dalam wilayah Korea Selatan. Misi di belakang garis pertahanan musuh seperti ini sangat berisiko dan pada akhir 1967 Korea Selatan telah membunuh 130 penyusup dan menangkap 43 lainnya.

Diktator Korea Selatan Park Chung Hee menjadi target pembunuhan Komando Korea Utara. (Sumber: https://www.nbcnews.com/)

Latar belakang dan Unit Komando 124

Park Chung-hee merebut kekuasaan dalam kudeta tahun 1961 dan memerintah sebagai orang kuat militer sampai pemilihan dan pelantikannya sebagai Presiden Republik Ketiga Korea Selatan pada tahun 1963. Serangan di Gedung Biru pada tahun 1968, terjadi dalam konteks Konflik di sekitar DMZ Korea (1966–1969), yang pada gilirannya dipengaruhi juga oleh kondisi Perang di Vietnam. Setelah pemilihan presiden Korea Selatan tahun 1967 dan pemilihan legislatif, kepemimpinan Korea Utara menyimpulkan bahwa oposisi domestik atas kepemimpinan Park Chung-hee tidak bisa diharapkan lagi. Pada tanggal 28 Juni – 3 Juli, Komite Sentral Partai Buruh Korea mengadakan pleno panjang di mana pemimpin Korea Utara Kim Il-sung meminta para kader “untuk bersiap memberikan bantuan bagi perjuangan saudara-saudara Korea Selatan kita.” Pada bulan Juli 1967, sebuah pasukan khusus dari Unit 124 Tentara Rakyat Korea (KPA) yang baru dibentuk dipercayakan dengan tugas membunuh Park. Keputusan ini mungkin dipengaruhi oleh fakta bahwa pada tahun 1967, Perang Vietnam memasuki tahap eskalasi baru, di mana dengan keadaan pasukan militer AS yang sibuk di Vietnam, diperkirakan mereka tidak dapat dengan mudah mengambil tindakan balasan terhadap Korea Utara. Pada tahun 1965–1968, hubungan Korea Utara dan Vietnam Utara sangat dekat, dan Korea Utara memberikan bantuan militer dan ekonomi yang substansial kepada Vietnam Utara. Propaganda Korea Utara juga berusaha untuk menggambarkan upaya-upaya militer komando Korut pasca-1966 itu sebagai gerakan gerilya Korea Selatan yang mirip dengan Viet Cong.

Pada tahun 1968 hubungan antara Korea Utara dan Vietnam Utara yang sedang berperang melawan AS sangat dekat. Nampak pada gambar Pilot-pilot Korea Utara di Vietnam Utara tahun 1968. (Sumber: https://www.wilsoncenter.org/)

Tiga puluh satu orang yang kemudian dipilih sebagai anggota Unit 124 dipilih dari satuan elit perwira KPA. Unit komando operasi khusus ini dilatih selama dua tahun dan menghabiskan 15 hari terakhir mereka berlatih dalam maket skala penuh dari Blue House. Orang-orang yang dipilih secara khusus ini dilatih dalam teknik infiltrasi dan exfiltrasi, persenjataan, navigasi, operasi via udara, infiltrasi amfibi, pertempuran tangan kosong (dengan penekanan pada pertempuran pisau), dan kamuflase. Menurut Kim Shin-jo, salah satu dari hanya dua survivor unit itu, “Latihan telah membuat kami tidak takut apapun – dan tidak ada yang akan berpikir untuk mencari kami di kuburan.” Pelatihan mereka ketat dan sering dalam kondisi buruk, seperti berlari di kecepatan 13 km / jam (8 mph) dengan ransel berbobot 30 kg (66 pon) termasuk senapan mesin ringan, pistol dan delapan granat tangan, di atas medan yang berat dan tak kenal ampun, yang terkadang mengakibatkan berbagai cedera yang dapat menyebabkan jari kaki dan kaki harus diamputasi akibat radang dingin. Mereka dipilih khusus karena memiliki kekuatan fisik dan kesetiaan politik, memiliki keahlian menembak dan menguasai beladiri jiujitsu, mereka juga diajari untuk berbicara dengan aksen selatan dan dipaksa menjalani tes ketahanan yang mengerikan, termasuk menjalani berhari-hari tanpa makanan dan tidur bersama mayat di kuburan.

Tampilan Komando Unit 124 saat menyerang Gedung Biru pada tahun 1968 menurut display pada Korean National Police Heritage Museum. (Sumber: https://imgur.com/)

Misi mereka cuma satu, yakni: untuk membunuh presiden Korea Selatan Park Chung-hee di kediamannya di Seoul. Seperti yang dikatakan salah seorang anggota komando itu, “Kami pikir presiden Korsel ada antek dan kolaborator Amerika. Saya membencinya”. Setelah mereka membunuh Park, rencananya unit komando lainnya akan menyerang, mengambil alih berbagai instalasi penting Korea Selatan, dan menyiarkannya ke masyarakat dan membuka penjara-penjara. ” Akan ada demonstrasi dan protes dan pemerintah akan runtuh, ” kata Kim. ” Itu akan seperti revolusi yang bergerak dari dalam. ” Ini mungkin operasi khusus yang paling berani sejak penggunaan Kuda kayu dalam Perang Troya. Namun, segala sesuatunya kemudian akan terbukti tidak berjalan sesuai rencana.

Menyusup ke Perbatasan

Pada tengah malam 17 Januari 1968, tigapuluh satu pria dengan seragam overall gelap diam-diam menyelinap ke wilayah zona demiliterisasi yang memisahkan Korea Utara dari Korea Selatan pada jam 11 malam dari pangkalan mereka di Yonsan. Sektor ini, yang terletak tiga puluh mil tepat di utara Seoul, dipagari dengan kawat berduri dan ladang ranjau yang padat, dan dijaga ketat oleh para penjaga dan sarang senapan mesin dari Divisi Infanteri Kedua A.S. Tetapi para penyusup berhasil menembus pagar kawat berduri, memotong serta menetralisir ranjau, dan merayap melewati pos penjagaan musuh, yang sangat terbantu dengan adanya api yang digunakan penjaga untuk memerangi dinginnya musim dingin. Ketika tim menyeberangi DMZ, radio propaganda Korea Utara bergemuruh dengan siaran himbauan dari presiden Korea Utara Kim Il-sung untuk menyerang Amerika Serikat dan “memecah belah pasukan mereka ke tingkat maksimum.” Kepada Dunia, ia memohon, untuk “mengikat AS ke mana pun mereka meletakkan kakinya sehingga mereka tidak bisa bergerak bebas. ” Unit ke-124 kemudian berkemah hanya beberapa mil dari markas divisi Amerika. Malam berikutnya, mereka menembus lebih dalam lagi ke wilayah Korea Selatan. Menjelang jam 2 pagi hari berikutnya mereka telah mendirikan kemah di Morae-dong dan Seokpo-ri. Pada 19 Januari, jam 5 pagi, setelah menyeberangi Sungai Imjin. Dihadapkan dengan Sungai Imjin yang membeku, mereka yang mengenakan kain putih untuk penyamaran meluncur ke sisi lain. Mereka kemudian mendirikan kemah di Gunung Simbong.

Pasukan Amerika berpatroli di sepanjang garis DMZ. (Sumber: https://militaryhistorynow.com/)

Para tim pembunuh itu melakukan perjalanan lintas negara melalui hutan dan gunung di malam hari dan tidur di siang hari. Tetapi pasukan komando elit ini memiliki kelemahan: mereka sangat terdoktrinasi oleh superioritas Korea Utara sehingga mereka secara naif menganggap bahwa warga Selatan siap untuk melakukan revolusi — dan bahwa membunuh Presiden Park, yang telah berkuasa lewat kudeta militer, akan berfungsi sebagai katalis dari revolusi yang mereka yakini akan muncul. Faktanya tidak begitu, meskipun Park adalah seorang diktator yang bertanggung jawab atas kematian ratusan demonstran dan lawan politiknya, namun ia juga telah memprakarsai program industrialisasi yang diarahkan oleh negara untuk orientasi ekspor yang telah mengubah Korea Selatan yang sebelumnya dilanda kemiskinan parah menjadi negara yang mulai berkembang ekonominya. Pada 19 Januari pukul 2 siang, empat penebang kayu yang masih muda — semuanya bersaudara bernama Woo dari Beopwon-ri — menemukan perkemahan komando Korea Utara itu di wilayah pegunungan 50 km utara dari Seoul. Debat pecah diantara pasukan komando: haruskah mereka membunuh para penebang kayu itu? Pemimpin mereka Kim Jong-moon, veteran dari tujuh infiltrasi sebelumnya, akhirnya memutuskan untuk menceramahi mereka tentang kebajikan rezim Komunisme. Anak-anak lelaki dari desa ini mengaku mereka telah mengkonversi pemikiran mereka ke ideologi Marxisme dan berjanji untuk tidak memberi tahu pihak berwenang. Reaksi para penebang kayu ini yang curiga terhadap para anggota unit ke-124 sebenarnya mulai membuat beberapa anggota Komando meragukan ajaran yang selama ini mereka terima. Kim Shin Jo, survivor diantara mereka mengatakan kepada wartawan bahwa ia (awalnya) berpikir “beberapa (warga Korea Selatan) akan setuju dengan misi kami dan membantu kami” tetapi para penebang kayu itu malah menunjukkan kecurigaan dan permusuhan seperti yang ditunjukkan oleh sebagian besar tentara Korea Selatan terhadap para penyusup.

Menyerbu ke Gedung Biru

Benar saja, kelegaan untuk Unit 124, ini hanya berumur pendek. Setelah dibebaskan, para petani itu segera menghubungi polisi di Changhyeon di kawasan Beopwon-ri. Tentara Korea Selatan kemudian memobilisasi beberapa divisi infantri untuk memburu pasukan komando ini. Tetapi para penyusup ini segera mempercepat langkah mereka menjadi tujuh mil per jam melintasi gunung Nogo dan berhasil lebih dulu melewati penghalang jalan yang digalang tentara Korea Selatan sebelum sempat didirikan, dan dalam 2 hari berhasil mendekati lokasi target mereka. Mereka memasuki Seoul dalam kelompok-kelompok kecil pada malam 20 Januari mereka sampai ke Gunung Bibong pada jam 7 pagi. Pada malam harinya mereka bergerak ke Seoul dengan kelompok berdua atau bertiga, lalu berkumpul kembali di sebuah kuil Seungga-sa pada hari berikutnya hanya satu mil jauhnya dari kediaman presiden. Sementara itu, Komando Tinggi ROK (Tentara Republik Korea) menambahkan Divisi Infanteri ke-30 dan Korps Lintas Udara ke dalam pencarian dan polisi mulai mencari di sepanjang daerah Hongje-dong, Jeongreung, dan Gunung Bukak. Sekarang, Seoul telah dipenuhi dengan patroli militer. Mengingat peningkatan pengamanan yang telah diterapkan di seluruh kota dan menyadari rencana awal mereka memiliki sedikit peluang untuk sukses, pemimpin tim melakukan improvisasi dan membuat rencana baru: mereka menanggalkan pakaian mereka, mengenakan seragam tentara Korea Selatan yang dirangkap di bawah pakaian luar mereka dengan tanda pengenal Divisi Infanteri ke-26.

Rute yang ditempuh Komando Korea Utara untuk mencapai Blue House, Januari 1968. (Sumber: https://medium.com/war-is-boring/)
Blue House, target komando pembunuh Korea Utara. (Sumber: https://medium.com/war-is-boring/)

Mereka kemudian berbaris dengan berani di Samcheong-dong Road, menyamar menjadi salah satu unit yang memburu mereka! Siasat berani ini tampaknya berhasil. Komando Korea Utara ini melewati beberapa patroli dan pos pemeriksaan tanpa mendapat hambatan serius. Pukul sepuluh malam tanggal 21 Januari 1968, mereka hanya beberapa ratus meter dari lapangan berumput di depan Gedung Biru kepresidenan, kompleks dimana beberapa bangunan besar bergaya tradisional dengan atap ubin biru berada. Pada pukul 10.00 malam Choi Gyu-sik, kepala polisi untuk Distrik Jongno, mengendarai sebuah jip. Komandan polisi berusia tiga puluh tujuh tahun itu telah berangkat untuk menyelidiki setelah seorang penjaga menyebutkan adanya peleton yang mencurigakan kepadanya. Choi segera menghentikan rombongan komando Korut itu hanya sekitar 100 meter dari Gedung Biru. Sekarang dia meminta agar anggota kelompok komando Korea Utara itu menunjukkan dokumen identitas mereka. Anggota Komando itu berusaha memberikan respon yang terbaik yang mereka bisa, sementara di bawah mantel, mereka masing-masing terdapat sebuah sub machine gun, 320 peluru, 14 granat, pistol dan pisau. Ada yang bilang keributan pecah begitu Choi mencabut pistolnya. Sementara yang lain mengklaim bahwa Komando Korea Utara itu dikejutkan oleh bus yang mendekat. Entah bagaimana sebenarnya yang terjadi, para tim pembunuh Korea Utara itu kemudian mengeluarkan senjata mereka dan membunuh Choi dan sopirnya.

Segeomjeong-Jahamun checkpoint pada Juli 2011. Pada 21 Januari 1968, pada lokasi inilah para Komando Korea Utara dihentikan oleh Choi Gyu-sik, kepala polisi untuk Distrik Jongno. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Patung peringatan Choi Gyu-sik (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Namun, satu peleton pasukan infanteri Korea Selatan yang terdekat segera menuju ke arah suara tembakan dan segera terlibat baku tembak dengan pasukan Komando Korut itu. Segera di sekitar kompleks Gedung Biru terdengar tembakan senjata otomatis. Sebuah bus sekolah secara tidak sengaja masuk ke tengah arena baku tembak yang penuh dengan desingan peluru, kemudian meledak oleh granat, menewaskan atau melukai lebih dari dua puluh warga sipil. Kemudian tank-tank Patton mulai bergemuruh ke arah para Komando Korut. Menyadari perlawanan mereka sudah tidak ada harapan, mereka berpencar, berusaha untuk melakukan melarikan diri kembali melintasi perbatasan. Anggota unit ini berpencar, dengan beberapa menuju Gunung Inwang, Gunung Bibong, dan Uijeongbu. Selama sembilan hari berikutnya, pasukan Amerika dan Korea Selatan mengalami beberapa pertempuran kecil berdarah saat mereka memburu pasukan komando yang melarikan diri. Sebagian besar berusaha membawa sebanyak mungkin pengejar mati bersama mereka. Satu komando yang ditangkap dibawa ke markas polisi untuk diinterogasi oleh Direktur Polisi Nasional Chae Won-shik. Di tengah interogasi, ia meledakkan granat yang disembunyikannya, membunuh dirinya dan melukai Chae.

Berita tentang ledakan granat Komando Korut yang melukai Direktur Polisi Chae Won-shik. (Sumber: https://www.rokdrop.net/)

Pada 22 Januari 1968, Korps ke-6 Angkatan Darat ROK memulai operasi penyisiran besar-besaran untuk menangkap atau membunuh anggota unit Komando Korut yang melarikan diri itu. Tentara dari Resimen ke-92, Divisi Infanteri ke-30 menangkap Kim Shin-jo, yang bersembunyi di rumah warga di dekat Gunung Inwang. Batalion ke-30, Komando Pertahanan Ibu Kota, menewaskan empat pasukan komando di Buam-dong dan di Gunung Bukak. Dan pada tanggal 23 Januari, Batalyon Zeni Divisi Infanteri ke-26 membunuh satu komando di Gunung Dobong. Sementara pada 24 Januari 1968, pasukan Divisi Infanteri ke-26 dan prajurit Divisi Infanteri ke-1 membunuh 12 pasukan komando di dekat Seongu-ri. Pada 25 Januari, tiga pasukan komando lainnya tewas di dekat Songchu. Pada 29 Januari, enam pasukan komando tewas di dekat Gunung Papyeong.

Kim Shin Jo saat ditangkap. (Sumber: https://www.rokdrop.net/)
Pasukan Korea Selatan memindahkan mayat Komando Korea Utara di lereng gunung Pugak-San setelah upaya pembunuhan yang gagal, Januari 1968. (Sumber: https://www.rokdrop.net/)
Prajurit Amerika yang terlibat dalam pengejaran Komando Korea Utara. (Sumber: https://www.rokdrop.net/)

Secara keseluruhan, dua puluh enam tentara dan warga sipil Korsel tewas dalam baku tembak di depan Gedung Biru dan perburuan yang terjadi kemudian, sementara enam puluh enam enam lainnya terluka. Selain itu, empat tentara Amerika terbunuh oleh pasukan Korea Utara saat menyisir DMZ untuk mencari para penyusup. Pada 22 Januari, Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNC) meminta agar pertemuan Komisi Gencatan Senjata Militer (MAC) diadakan untuk membahas serangan itu. UNC meminta pertemuan untuk 23 Januari, tetapi Korea Utara meminta penundaan satu hari. Namun hanya dua hari setelah baku tembak, pasukan angkatan laut Korea Utara merampas USS Pueblo, sebuah kapal intelijen yang berlayar di perairan internasional di lepas pantai Korea, menewaskan satu anggota awak Amerika dan menangkap delapan puluh dua tawanan. Langkah ini kemudian dilihat sebagai upaya untuk mengalihkan perhatian dari serangan komando mereka yang gagal di Gedung Biru, dan memberikan kepada Pyongyang sandera berharga untuk mencegah pembalasan atas upaya pembunuhan yang gagal itu. Akibatnya, pertemuan MAC yang diadakan pada 24 Januari harus membahas tidak hanya dengan serangan itu tetapi juga dengan penangkapan USS Pueblo. Hingga taraf tertentu, perampasan Pueblo berhasil mengalihkan perhatian AS dan dunia internasional dari serangan komando di Gedung Biru.

Perampasan USS Pueblo hanya 2 hari setelah upaya pembunuhan Park Chung Hee gagal telah mengalihkan perhatian Amerika dan Dunia dari aksi Komando Korut tersebut. (Sumber: https://www.nbcnews.com/)

Akhir kisah

Serangan Blue House terjadi pada hari yang sama ketika pecahnya pertempuran di markas Marinir di Khe Sanh-Vietnam dan pada tanggal 31 Januari Serangan Tet meletus di Vietnam Selatan, membuat upaya A.S. untuk melakukan pembalasan di Korea Selatan tidak mungkin dilakukan. Di Saigon, gerilyawan Viet Cong berusaha membunuh Presiden Nguyễn Văn Thiệu di Istana Kemerdekaan tetapi dengan cepat dipukul mundur. Beberapa penulis berpendapat bahwa karena kesamaan kedua serangan dengan jumlah pasukan yang sama (31 di Seoul dan 34 di Saigon, masing-masing) diperkirakan bahwa para pemimpin Korea Utara memiliki informasi tertentu mengenai rencana operasi militer Komunis di Vietnam, dan ingin mengambil keuntungan dari perkembangan yang terjadi di Vietnam. Presiden Johnson menganggap perampasan Pueblo dan waktu Serangan Tet telah dikoordinasikan untuk mengalihkan sumber daya AS dari Vietnam dan memaksa Korea Selatan untuk menarik dua Divisi dan Brigade Marinir mereka dari Vietnam Selatan. Namun tidak seperti Presiden Johnson, Jenderal Bonesteel, komandan militer AS di Korea tidak melihat adanya hubungan seperti itu. Dia menganggap Penyerangan di Gedung Biru telah direncanakan pada level tertinggi di Korea Utara, sementara perampasan Pueblo tampaknya hanya bersifat oportunistik dan Serangan Tet sebagai sesuatu yang meski bermanfaat (buat Korut) namun cuma sekedar kebetulan saja.

Aksi komando Korut di Seoul bertepatan dengan dimulainya pengepungan markas marinir Amerika di Khe Sanh-Vietnam Selatan. Presiden Johnson menduga Korea Utara mengetahui langkah Vietnam Utara jelang Serangan Tet 1968. (Sumber: https://www.dallasnews.com/)
Pada akhir bulan Januari 1968 pecah serangan Tet di seluruh Vietnam Selatan. Hal ini membuat Amerika tidak dapat berbuat banyak dalam menghadapi Korut, sekaligus mempertebal rasa curiga Presiden Johnson bahwa Korut turut memanfaatkan dan mengambil untung dari situasi genting di Vietnam Selatan. (Sumber: https://www.moaa.org/)

Park Chung-hee sangat terguncang oleh fakta bahwa tigapuluh satu tim pembunuh telah sampai hanya beberapa ratus meter dari tempat tinggalnya. Dia kemudian mengundurkan diri ke sebuah kediaman yang aman, dengan banyak minum dan mengamuk bahwa orang-orang Amerika tampaknya lebih peduli dengan upaya tawar-menawar untuk menyelamatkan awak Pueblo daripada mengambil tindakan agresif untuk mempersiapkan diri menghadapi invasi yang dia yakini akan segera terjadi. Para diplomat AS berupaya keras untuk mencegah Park memulai perang dan menarik puluhan ribu pasukan ROK (Korea Selatan) yang tengah ditempatkan di Vietnam Selatan, yang kemudian akan segera terlibat dalam memerangi ofensif Tet akhir Januari 1968, sambil menawarkan $ 100 juta bantuan ekonomi tambahan. Tetapi Park masih menginginkan balas dendam, dan memerintahkan militernya untuk merencanakan serangan berani mati dengan tujuan membunuh Kim Il-sung. Tentara ROK kemudian merekrut tiga puluh satu orang pasukan bunuh diri yang disebut Unit 684 dari sekelompok penjahat kecil (sebagai ganti pengampunan mereka) dan pemuda pengangguran, melatih mereka di sebuah kamp pelatihan brutal di pulau Silmido (di pantai sebelah barat Korsel) yang menewaskan tujuh dari mereka. Tetapi pada tahun 1971, hubungan antara kedua Korea membaik, sehingga menyebabkan Seoul membatalkan rencana serangan itu. Para Operator yang dilatih dengan brutal kemudian memberontak, menewaskan delapan belas instruktur, membajak sebuah bus dan bergerak menuju Gedung Biru. Terpojok oleh tentara, sebagian besar ditembak atau bunuh diri dengan granat tangan dalam insiden mengerikan yang kemudian digambarkan dalam film Silmido (2003) yang sukses. Semua kecuali empat dari kelompok itu tewas dalam baku tembak berikutnya. Mereka yang selamat kemudian diadili oleh pengadilan militer dan dijatuhi hukuman mati pada tahun 1972. Setelah itu, pemerintah Korea Selatan menutupi seluruh kisah memalukan ini, tetapi rincian kisahnya muncul pada tahun 1990-an. Keluarga anggota tim akhirnya menuntut negara untuk kompensasi. Pada tahun 2010, pengadilan memerintahkan pemerintah Seoul untuk membayar ganti rugi hampir $ 300 juta kepada para kerabat anggota unit ini.

Poster film Silmido tahun 2003 (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Setahun kemudian, Kim Il-sung bertemu dengan direktur Badan Intelijen Pusat Korea dan mengklaim – secara tidak masuk akal – bahwa serangan Gedung Biru telah diinisiasi diluar keinginannya oleh golongan “ekstrim kiri” dalam pemerintahannya. Tetapi Park memiliki lebih banyak musuh lain yang harus ia hadapi. Pada tahun 1974, seorang simpatisan Korea Utara dari Jepang berupaya atas inisiatifnya sendiri untuk menembak Park saat dia memberikan pidato di teater nasional. Park lolos, namun serangan itu membunuh istri Park, Yuk Young-soo sebagai gantinya. Keberuntungan sang diktator habis pada tahun 1979, ketika para aktivis prodemokrasi memprotes pemerintahannya yang represif. Selama jamuan makan di rumah persembunyian Park, direktur intelijennya, Kim Jae Gyu  marah karena kritik yang dilontarkan oleh pengawal Park bahwa ia tidak cukup brutal dalam menekan para pendemo, dan menembak mati seketika sang presiden dan pengawalnya itu.

15 Agustus 1974 terjadi percobaan pembunuhan yang ditujukan pada Park Chung Hee. Park lolos dari maut sementara istrinya tidak. (Sumber: https://www.timetoast.com/)
Park sendiri akhirnya terbunuh pada 26 Oktober 1979 oleh Direktur Intelijennya sendiri. (Sumber: http://www.koreaherald.com/)

Sedangkan untuk Unit 124, hanya ada dua anggotanya yang selamat dari tiga puluh satu personel yang berhasilmelintasi perbatasan. Hanya Park Jae-Kyung yang berhasil menyelinap kembali ke Korea Utara. Mantan infiltrator yang dulu siap dikorbankan ini naik jabatan menjadi Wakil Menteri Pertahanan pada tahun 2007. Dia dua kali kembali ke Korea Selatan sebagai anggota delegasi diplomatik, kehadirannya dimaksudkan untuk membuat jengkel Seoul. Sementara itu rekan Park, Kim Shin-jo (saat itu berusia 27 tahun) mengikuti jalan hidup yang sangat berbeda. Dia melarikan diri tanpa melepaskan tembakan dan ditangkap oleh tentara Korea Selatan di Gunung Inwang. “Saya punya keinginan untuk hidup, ” kenang Kim dalam sebuah wawancara tahun 2008. ” Itu adalah keinginan dasar manusia.” lanjutnya. Yang mengejutkan, Kim diperlakukan dengan hormat oleh interogatornya, dimana perlakuan ini membuat Kim kagum. Dia kemudian menjadi warga negara Korea Selatan pada tahun 1970, sehingga menyebabkan Pyongyang mengeksekusi orang tuanya dan 6 saudaranya di hadapan orang banyak. Dia kemudian berkeluarga dan menjadi pendeta Presbyterian di Seoul. Pada wawancara dengan CNN pada tahun 2010, Kim menyatakan: “Saya berupaya membunuh Presiden, saya adalah musuh mereka, tapi orang-orang Korea Selatan menunjukkan rasa simpati dan memaafkanku, hati saya tergerak oleh sikap mereka”.

Persenjataan yang digunakan Kim Shin Jo dan rekan-rekannya saat menyerang Blue House, SMG PPS-43 dan pistol TT. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Kim Shin Jo (kanan) diinterogasi tentara Amerika dan Korea Selatan. (Sumber: https://medium.com/war-is-boring/)
Kim Shin Jo di masa tua (Sumber: https://www.nbcnews.com/)

Kim Shin-jo adalah contoh yang menunjukkan bahwa beberapa orang dapat mengatasi indoktrinasi fanatik ketika diperlakukan secara manusiawi dan hal ini mampu memberikannya perspektif baru dalam memandang dunia. Namun sayangnya, kisah ini terulang kembali. Lima belas tahun setelah penyerbuan di Gedung Biru, Pyongyang melakukan upaya pembunuhan kedua terhadap seorang presiden Korea Selatan yang hampir berhasil di Rangoon 9 Oktober 1983, kali ini targetnya Presiden Chun Doo Hwan lewat pemboman. Meskipun Chun selamat, 21 orang tewas dalam serangan itu dan 46 lainnya terluka. Dua dari tiga tersangka pembom ditangkap, salah satunya mengaku sebagai perwira militer Korea Utara. Belakangan pada bulan Desember 2016, media Korea Utara merilis foto-foto Kim Jong-un yang sedang bergembira ketika pasukan khususnya menampilkan latihan meledakkan maket skala penuh dari Gedung Biru. Nampaknya Korea Utara masih belum kapok dalam membuat masalah!

Berita mengenai pemboman di Rangoon tahun 1983. (Sumber: Youtube)
Pasukan Payung Korut dari Unit ke-525 saat mengadakan latihan menyerang Gedung Biru sekitar tahun 2016. (Sumber: https://www.independent.co.uk/)
Mock Up Gedung Biru dibakar pada saat latihan. (Sumber: https://www.independent.co.uk/)
Kim Jong Un tampak menikmati pertunjukan latihan tentara-tentaranya. Jika ini dianggap lelucon, maka ini adalah lelucon yang tidak lucu. (Sumber: https://www.independent.co.uk/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

That Time North Korea Sent Commandos to Assassinate South Korea’s President by Sebastien Roblin, 17 April 2019

https://nationalinterest.org/blog/buzz/time-north-korea-sent-commandos-assassinate-south-koreas-president-53047?page=0%2C1

The Blue House Raid – North Korea’s Failed 1968 Commando Assault on Seoul

https://www.google.com/amp/s/militaryhistorynow.com/2013/09/20/the-blue-house-raid-north-koreas-failed-1968-commando-assault-on-seoul/amp/

North Korea simulates special forces attack on South Korea’s by Samuel Osborne; 12 December 2016

https://www.independent.co.uk/news/world/asia/north-korea-special-forces-attack-simulate-south-korea-presidential-office-blue-house-a7470506.html

January 1968: Assassins Storm Seoul; US Spyship Seized by Andrew Salmon

http://m.koreatimes.co.kr/pages/article.asp?newsIdx=59604

North Korean ex-assassin recalls 1968, when the Korean cold war ran hot By Mac William Bishop

https://www.google.com/amp/s/www.nbcnews.com/news/amp/ncna840511

North Korea’s Special Operations Assassins by Adam Rawnsley; 26 May 2016

https://medium.com/war-is-boring/north-koreas-special-operations-assassins-b9ae884bc12

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Blue_House_raid

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Rangoon_bombing

2 thoughts on “21 Januari 1968: Saat Komando Korea Utara berupaya membunuh Presiden Korea Selatan di Seoul

  • 13 December 2019 at 11:00 pm
    Permalink

    Dua kali upaya korut utk mmbunuh presiden korsel ditahu 68 & 83, walau target gagal tpi sudh ada yg mati disekitar lokasi target, tpi amerika tdk bisa mmbuat upaya yg berarti utk korsel sbgi sekutunya, sementara kim jong un trtawa tawa

    Reply
    • 13 December 2019 at 11:19 pm
      Permalink

      Masalahnya menindak negara bandel macam Korut itu benefitnya buat Amerika terhitung minim, ini beda dengan ketika Amerika menindak diktator macam Saddam, dimana di Timur Tengah jelas kepentingan mereka untuk mengamankan ketersediaan pasokan minyak agar tidak jatuh ke rezim-rezim yang tidak bersahabat. Sedangkan Korut sedikit sekali mempengaruhi kehidupan masyarakat Amerika, khususnya di bidang ekonomi.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *