761st Tank Batalion “Black Panther”: Melawan Diskriminasi dengan Prestasi

Sebelum dan selama mobilisasi personel dalam Perang Dunia II, para pejabat di Washington, D.C., memperdebatkan apakah tentara keturunan Afrika-Amerika bisa ditugaskan dalam unit lapis baja atau tidak. Banyak pihak dalam militer dan politisi percaya bahwa orang kulit hitam tidak memiliki kecerdasan, kecepatan atau stamina moral untuk bertempur dalam perang lapis baja. Mengacu pada pengalaman Perang Dunia I, Kolonel James A. Moss, komandan Resimen Infanteri ke-367, Divisi ke-92, menyatakan, ‘Sebagai pasukan tempur, orang Negro (maaf disini kita gunakan istilah negro dan bukan kulit hitam, agar sesuai dengan konteks sosial di masa itu yang menunjukkan masih kuatnya diskriminasi rasial di Amerika) harus dinilai sebagai prajurit kelas dua, ini terutama karena kecerdasannya yang rendah dan kurangnya kualitas mental dan moral. “Kolonel Perry L. Miles, komandan Resimen Infanteri ke-371, Divisi ke-93, menyuarakan pendapat yang sama:” Dalam perang di masa depan, penggunaan utama orang Negro adalah lebih dalam tugas-tugas pendukung. ” Sementara itu, Jenderal George S Patton, Jr. (komandan tersohor psaukan tank Amerika), dalam sepucuk surat kepada istrinya, menulis bahwa ‘seorang prajurit kulit berwarna tidak bisa berpikir cukup cepat untuk bertarung dalam satuan lapis baja.’

Meski telah membuktikan diri mampu bertempur dengan baik dalam Perang Dunia I, seperti satuan Resimen 369, yang dikenal sebagai “The Harlem Hellfighter”, namun keberadaan prajurit kulit hitam Amerika masih dipandang sebelah mata pada saat Perang Dunia II pecah (sumber: Black Rattlers by Don Stivers)

Angkatan bersenjata masih percaya hal-hal diatas, meskipun orang-orang Afrika-Amerika telah berperang dengan penuh keberanian dan menunjukkan prestasinya dalam Perang Revolusi dan dalam setiap perang atau konflik lainnya yang pernah melibatkan militer Amerika Serikat. Mereka mengabaikan fakta bahwa empat resimen (salah satunya 369th Infantry Regiment yang dikenal sebagai “The Harlem Hellfighters”, kemudian diabadikan dalam Games “Battlefield 1”, yang dirilis pada tahun 2016) dari Divisi ke-93 telah bertugas di Perancis selama Perang Dunia I dan bahwa pemerintah Prancis telah memberikan medali Croix de Guerre yang bergengsi kepada tiga dari empat resimen dan ke kompi ke-4, serta ke Batalion 1, Resimen Infanteri ke-367, Divisi ke-92. Letnan Jenderal Leslie J. McNair (nantinya gugur dalam insiden ‘friendly fire’ di St. Lo-Prancis 25 Juli 1944), kepala pasukan darat AS, adalah pendukung utama yang memungkinkan orang Afrika-Amerika untuk bertugas di unit-unit lapis baja. Dia percaya bangsanya selama ini belum mampu mengeluarkan potensi sumber daya manusia orang Kulit Hitam Amerika yang dilihatnya akan sangat penting di masa depan. Pers kulit hitam, Asosiasi Nasional untuk Kemajuan Orang Kulit Berwarna, dan Kongres Kesetaraan Rasial juga memberi tekanan yang semakin besar pada Departemen Perang dan pemerintahan Presiden Franklin D. Roosevelt untuk mengizinkan tentara kulit hitam untuk bertugas dalam militer dengan kualifikasi yang setara dengan tentara kulit putih.

Pembentukan Satuan lapis baja kulit hitam

Pada awalnya sebelum perang dunia II, orang Afrika-Amerika, seperti yang sudah disinggung diatas, tidak dianggap mampu menghadapi tantangan dalam peperangan mekanis. Namun itu semua berubah setelah pemboman Pearl Harbor, dan unit-unit angkatan udara (seperti “Tuskegee Airmen”) serta komando tank kulit hitam didirikan. Pada Juni 1942, majalah Life memuat tajuk yang menuliskan curahan hati orang-orang kulit hitam Amerika “Yang mereka inginkan sekarang adalah kesempatan yang adil untuk bertarung,” ketika melaporkan tentang pelatihan pertama tentara kulit hitam dalam perang tank. Pada musim panas 1940, Kongres meloloskan Undang-undang Selective Training and Service Act, yang menyatakan, “Dalam pemilihan dan pelatihan calon prajurit di bawah ketentuan ini, tidak akan ada diskriminasi terhadap siapa pun karena alasan ras dan warna kulit.” Namun pada bulan Oktober, Gedung Putih mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa, meski ‘penugasan orang Negro akan digunakan secara adil dan merata,’ kebijakan pemisahan dalam angkatan bersenjata akan tetap berlanjut.

Awak tank kulit hitam Amerika berlatih dengan menggunakan tank ringan Stuart di Montford Point Camp tahun 1943 (Sumber: https://www.independent.co.uk/ )

Pada bulan Maret 1941, 98 orang tamtama kulit hitam melapor ke Fort Knox, Ky., Dari Fort Custer, Mich., untuk mengikuti pelatihan perang lapis baja dengan Batalyon Tank (ringan) ke-758. Awak tank kulit hitam mula-mula ini dilatih dalam operasi-operasi dalam menggunakan tank ringan, penguasaan mekanik, dan fase-fase perang mekanis terkait, ketika para prajurit dari unit-unit Angkatan Darat lain bergabung dengan satuan mereka. Prajurit-prajurit satuan 758 dilatih menggunakan tank ringan M-5, yang punya empat awak. Didukung oleh dua mesin Cadillac, tank itu dapat mencapai kecepatan maksimum 40 mph dan memiliki jarak jelajah jalanan 172 mil. Dengan dilengkapi dengan senapan mesin kaliber .30 yang dipasang coaxial dengan persenjataan utama tank, meriam 37mm. Ketika pelacak peluru dari senapan mesin kaliber .30 berhasil menghantam target, meriam utama akan ditembakkan, dan diharapkan akan mampu menghantam sasaran dengan tepat. M-5 juga dipersenjatai dengan dua senapan mesin kaliber .30 lagi, satu di turret dan satu di haluan. Tank ringan ini digunakan untuk memberikan dukungan tembakan, dengan kemampuan mobilitas dan perlindungan yang cukup bagi kru dalam misi penyerangan awal dan pengintaian.

Tank M-5 Stuart (Sumber: TANK ENCYCLOPEDIA)

Sementara itu Tentara kulit hitam pada masa itu menjadi sasaran banyak tindakan rasial yang dilakukan oleh tentara kulit putih, termasuk kerusuhan berdarah antara anggota-anggota batalion tank 761 dengan anggota Polisi Militer kulit putih di Alexandria, Louisiana pada 10 Januari 1942. Beberapa anggota batalion 761 bersumpah untuk membalasnya. Mereka siap menggunakan enam tank dan sebuah half track untuk melakukan pembalasan tetapi berhasil dibujuk untuk mundur oleh Letnan Kolonel Bates yang berjanji akan menyelesaikan masalah ini. Kembali ke tempat pelatihan lapis baja, Grup Tank ke-5, yang dikomandani oleh Kolonel LeRoy Nichols, kemudian didirikan dengan rencananya akan terdiri dari personil hitam dan perwira kulit putih. Dengan adanya Batalyon Tank ke-758, dua batalion tank lagi diperlukan untuk melengkapi Grup Tank ke-5. Pada tanggal 15 Maret 1942, Departemen Perang memerintahkan pengaktifan Batalyon Tank (ringan) 761 di Camp Claiborne, La., Dengan kekuatan yang terdiri dari 36 perwira dan 593 prajurit. (Batalion terakhir – 784 – baru akan diaktifkan pada 1 April 1943). Pada 15 September 1943, Batalyon 761 pindah ke Camp Hood, Texas, untuk pelatihan tingkat lanjut; di sana mereka tank yang mereka gunakan berubah dari tank ringan ke medium.

Jackie Robinson, perwira kulit hitam yang mendapat perlakuan rasialis saat mengendarai bus sipil dari Camp Hood ke kota Belton (Sumber: Mail Online)

Pada 6 Juli 1944, salah satu dari sedikit perwira kulit hitam Batalyon 761, Letnan Jackie Robinson, mengendarai bus sipil dari Camp Hood ke kota terdekat Belton. Dia menolak untuk pindah ke bagian belakang bus ketika disuruh oleh pengemudi. Dakwaan pengadilan militer yang kemudian muncul tidak dapat dilanjutkan karena komandan batalion, Letnan Kolonel Paul L. Bates, tidak menyetujui dakwaan tersebut. Petinggi di Camp Hood kemudian memindahkan Robinson ke Batalyon Tank ke-758, yang komandannya segera menandatangani persetujuan pengadilan militer. Sidang atas letnan ini dibuka pada 2 Agustus dan berlangsung selama 17 hari, di mana Batalyon 761 dipindah ke Camp Hood. Robinson didakwa melanggar Pasal 63 dan 64 undang-undang Perang. Tuduhan pertama menyatakan, ‘Letnan Robinson berperilaku tidak hormat terhadap Kapten Gerald M. Bear, Korps Polisi Militer, dengan (sengaja) merendahkan diri dengan membungkuk kepadanya dan memberikan beberapa penghormatan sambil mengulangi kalimat, O’kay Sir, O’kay Sir, dengan kurang ajar dan sikap kasar. “Tuduhan kedua menetapkan,” Letnan Robinson telah menerima perintah sah oleh Kapten Bear untuk tetap berada di ruang tamu di pos Polisi Militer tetapi tidak mematuhi perintah itu. “Robinson akhirnya dibebaskan, dan ia tidak didakwa atas tindakannya diatas bus. Pada November 1944, Robinson diberhentikan dengan hormat dari militer. Tiga tahun kemudian, Robinson mampu menembus liga utama setelah mendobrak batasan warna kulit di lapangan bisbol. Dari pengalaman Jackie Robinson ini, jelas menunjukkan bahwa jalan terjal masih harus ditempuh para prajurit kulit hitam untuk bisa mendapatkan pengakuan dan respek yang setara dengan prajurit Amerika lainnya, khususnya yang berkulit putih.

Aksi tempur

Pada Oktober 1944, setelah dua tahun pelatihan yang intens, Batalyon Tank ke-761, yang kemudian dikenal sebagai ‘Black Panthers,’ mendarat di Prancis. Batalion saat itu, terdiri dari enam perwira kulit putih, tiga puluh perwira kulit hitam dan 676 prajurit Afrika-Amerika. Para awak tank kulit hitam kemudian menerima sambutan dari komandan Angkatan Darat Ketiga, Letnan Jenderal George S. Patton, Jr., yang telah mengamati manuver pelatihan batalyon 761 di Amerika: ‘Kawan-kawan, Anda adalah awak tank Negro pertama yang akan berperang sebagai bagian dari prajurit Amerika yang saya bawahi. Saya tidak akan pernah meminta Anda (bertempur bagi saya) jika Anda tidak baik. Saya tidak menuntut apa-apa selain yang terbaik di Pasukan saya. Saya tidak peduli apa warna kulit Anda selama Anda pergi ke sana dan membunuh anak-anak keparat Kraut (sebutan Amerika terhadap tentara Jerman) itu. Setiap orang akan memperhatikan Anda dan mengharapkan hal-hal besar dari Anda. Kebanyakan dari rekan-rekan satu ras dengan Anda menantikan Anda (berprestasi). Jangan mengecewakan mereka dan (kemudian) mengutukmu, jangan biarkan aku (juga) kecewa! ” Patton sendiri meski pada dasarnya termasuk orang rasis, namun dia lebih mementingkan tercapainya tujuan Amerika untuk memenangkan perang, tidak peduli bagaimana dan dengan apa mereka memenangkannya.

Jenderal George S Patton menyematkan medali Silver Star pada Prajurit Ernest A Jenkins atas keberaniannya dalam membebaskan kota Chateaudun tahun 1944. Seperti perwira kulit putih lainnya, awalnya Patton meragukan kemampuan awak tank kulit hitam, namun dia tetap menerima dengan tangan terbuka satuan “Black Panther” bertugas bersama prajurit-prajuritnya (Sumber: history.com)

Kompi B dari Batalyon Tank ke-761 Angkatan Darat AS mendekati kota Prancis Morville-lès-Vic pada pagi hari tanggal 8 November 1944. Seharusnya itu menjadi perjalanan yang mudah bagi “Black Panthers”. Sebaliknya, perjalanan itu kemudian berubah menjadi neraka. Komandan kompi Kapten John D. Long mengatakan setelah kejadian bahwa ia sempat berpikir bahwa ia akan terbunuh, “tetapi saya bersumpah pada diri saya sendiri tidak akan pernah ada berita utama yang mengatakan bahwa orang-orang saya dan saya ketakutan.” Kapten John D Long, Komandan Kompi B, yang berasal dari Detroit, Michigan, tahu apa yang ia perjuangkan. “Bukan untuk Tuhan atau negara,” katanya kemudian, “Tapi aku berjuang untuk diriku dan bangsaku”. Ketika mereka bertemu dengan Divisi SS ke-11 dan Divisi Panzer ke-13, pasukannya tidak mengecewakannya. Selama serangan, Sersan Staf. Ruben Rivers, dari Kompi A yang memimpin konvoi, menghadapi barikade yang menghambat gerakan satuan tank mereka. Dengan sangat mengabaikan keselamatan pribadinya, ia dengan berani memanjat keluar dari tanknya di bawah tembakan gencar musung, memasang kabel ke penghalang jalan dan memindahkannya. Tindakannya yang cepat telah mencegah keterlambatan serius dalam ofensif dan sangat berperan dalam keberhasilan serangan.

Satuan Black Panther maju ke medan perang, motto mereka adalah “Come Out Fighting” (Sumber: Mail Online )

Hanya dua setengah mil (4 km) di sebelah timur adalah kota Marsal, di mana Jerman telah mendirikan Sekolah Calon Perwira Artileri. Prajurit-prajurit dari Sekolah ini bergabung untuk mempertahankan kota, dengan menghujani peluru deretan tank Amerika yang bergerak maju. Cuaca saat itu juga tidak menguntungkan bagi Black Panthers karena salju mulai turun dan mengendap, membuat garis gelap tank semakin terlihat saat bersembunyi dari ancaman peluncur roket anti tank Jerman. Tank milik Komandan Tank, Sersan Roy King menerima serangan langsung dari Panzerfaust di persimpangan jalan yang penting dan ditembak mati ketika ia berusaha melarikan diri dari kendaraannya yang terbakar. Saat itu muncul tembakan anti-tank dan senapan mesin yang datang dari segala arah. Dua anggota kru King terluka dalam serangan itu, tetapi mereka tidak mundur dari pertempuran.

Senjata antitank perorangan Panzerfaust menjadi momok bagi satuan tank Amerika, termasuk “Black Panther” (Sumber: Pinterest)

Prajurit John McNeil dapat menggunakan senapan SMG dengan baik, menahan serangan Jerman sementara rekan-rekan awaknya, teknisi James T. Whitby, kembali ke tanknya yang terbakar dan mulai menembakkan senapan mesin kaliber .30mm. Kedua pria itu mempertahankan posisi mereka selama tiga jam lagi, mengeliminasi sebuah pos senapan mesin musuh dan posisi menembak Jerman di sebuah jendela lantai dua. Pada akhirnya, orang-orang Jerman berhasil diusir dari kota. Salah seorang tahanan Jerman kemudian mengaku bahwa dia tidak pernah menghadapi lawan yang berani seperti itu sejak dia bertempur di front Timur. Seorang perwira Amerika dan sembilan orang tamtama terbaring mati di salju, tetapi kota itu berhasil direbut. “Setelah Morville-lès-Vic tidak ada prajurit kulit putih yang tidak senang bertempur bersama kita, “kata Kapten John D. Long, yang akan sering dipanggil sebagai ” The Black Patton. “

Kopral Charlton Chapman, sebelum Black Panther terjun ke medan perang pertama kali (Sumber: https://www.independent.co.uk/ )

Pada 9 November, Charlie Company bertemu dengan parit anti-tank di dekat Morville. Prajurit Divisi Panzer ke-11 Jerman mulai merontokkan tank Amerika satu per satu. Para awak tank kulit hitam merangkak menembus air berlumpur yang membeku di parit di bawah hujan deras dan salju, sementara serpihan peluru panas jatuh di sekeliling mereka. Ketika artileri Jerman mulai menembak ke arah parit, situasi para awak tank tampak sudah tidak ada harapan lagi. Sementara itu setelah keluar dari tanknya yang terbakar, Sersan satu Samuel Turley mengorganisasi tim tempurnya. Ketika timnya itu menemukan dirinya ditembaki oleh serangan balik tentara Jerman dan tidak dapat membalas tembakan, Turley memerintahkan anak buahnya untuk mundur, sementara ia memanjat keluar dari selokan dan menyediakan tembakan perlindungan yang memungkinkan mereka untuk melarikan diri. Koresponden Trezzvant Anderson menggambarkan aksi pengorbanan Turley tersebut sebagai berikut: ‘Berdiri di belakang parit, lurus ke atas, dengan senapan mesin dan sabuk amunisi tergantung di lehernya, Turley menyiram musuh dengan tembakan senapan mesin secepat peluru yang keluar dari larasnya yang merah-membara. Dia berdiri di sana melindungi anak buahnya, sebelum kemudian jatuh tertembak peluru senapan mesin Jerman yang merobek tubuhnya ketika dia berdiri di sana menembakkan senapan mesinnya sampai akhir. Begitulah Turley gugur dan sementara tubuhnya jatuh ke tanah, jari-jarinya masih mencengkeram pelatuk itu …. Tapi kami berhasil (menyelamatkan diri)! “

Lambang satuan Batalion Tank ke-761 “Black Panther” (Sumber: Wikipedia)

Pada 10 November, Sersan Warren G.H. Crecy bertarung melawan posisi musuh untuk membantu anak buahnya sampai tanknya sendiri hancur. Dia kemudian segera mengambil komando kendaraan lain, dan dipersenjatai hanya dengan senapan mesin kaliber .30, ia melikuidasi posisi musuh yang telah menghancurkan tanknya. Masih di bawah tembakan gencar, ia membantu mengeliminasi pengamat garis depan musuh yang mengarahkan tembakan artileri yang telah menembaki infanteri Amerika. Keesokan harinya, tank Crecy terhenti di medan lumpur. Dia turun dan tanpa takut menghadapi tembakan anti-tank, artileri dan senapan mesin untuk membantu tanknya keluar dari kubangan lumpur. Saat berusaha membebaskan tanknya, ia melihat bahwa infanteri yang menyertainya telah ditembaki dan bahwa musuh telah mulai melakukan serangan balik. Crecy naik ke bagian belakang tanknya yang tidak bisa bergerak dan menahan serangan Jerman dengan senapan mesin kaliber .50 sementara para prajurit infanteri mundur. Kemudian pada hari itu, dia sekali lagi mengekspos dirinya dibawah tembakan gencar musuh ketika dia berhasil memusnahkan beberapa sarang senapan mesin dan posisi anti-tank dengan hanya menggunakan senapan mesinnya. Semakin banyak tembakan musuh kearahnya, semakin keras dia bertarung. Setelah pertempuran, Crecy harus dipaksa melepaskan senapan mesinnya.

Trezzvant Anderson berkata tentang Sersan Crecy: ‘Ketika melihat Warren G.H. Crecy (G.H. singkatan dari Gamaliel Harding) Anda tidak akan pernah berpikir bahwa ini adalah ‘pembunuh,’ yang telah membunuh lebih banyak musuh daripada siapa pun di Batalion 761. Dia menghabisi musuh yang kira-kira akan mampu membentuk komposisi 3 atau 4 kompi, dengan senapan mesinnya sendirian. Namun, dia adalah lelaki yang pendiam, santai, dan tampak lemah lembut. Dan dia tidak akan pernah menggunakan kata makian yang lebih dari sekedar kata ‘sialan.’ Tapi dari sosok ini pula muncul seorang pemuda yang bisa menjadi sangat berbahaya di medan perang sehingga satu-satunya pikirannya adalah ‘membunuh, membunuh, membunuh,’ dan dia menebar kematian pada semua musuh batalion ke-761. Dan dia sekarang hidup dengan nyawa pinjaman. Normalnya Warren G.H. Crecy seharusnya sudah mati sejak lama, dan seharusnya dia juga sudah mendapat Medal Of Honor, setidaknya! “

Sersan Warren G.H. Crecy, salah satu prajurit “Black Panther” yang paling mematikan (Sumber: WW2 Live)

Batalion Black Panthers terus maju meski harus melewati hujan, lumpur, dingin dan hujan es, melawan musuh yang dengan sengit mempertahankan setiap inci tanah. Batalion 761 melewati kota-kota Perancis Obreck, Dedeline dan Chteau Voue dengan Sersan Rivers dari kompi A memimpin perjalanan. Rivers, yang seorang sersan peleton tank, menjadi mahir dalam melikuidasi musuh dengan senapan mesin kaliber .50-nya. Pemuda yang gagah dari Oklahoma ini segera menjadi legenda di batalion 751. Seorang letnan ingat sempat mengatakan kepada Rivers, melalui radio, “Jangan pergi ke kota itu Sersan, terlalu berbahaya di sana.” Rivers dengan hormat menjawab, “Maaf, pak, saya sudah melewati kota itu!”

Dalam perjalanan ke Guebling, Prancis, pada 16 November 1944, tank Rivers melindas ranjau anti-tank Teller. Ledakan itu meledak di rantai sebelah kanan tank, pegas volute dan bagian bawah tank, hingga melemparkan tank ke samping. Ketika tim medis tiba, mereka menemukan Rivers di belakang tanknya memegang satu kaki, yang robek ke tulang. Ada lubang di kakinya di mana sebagian lututnya berada, dan tulang menonjol keluar melalui celananya. Petugas medis membersihkan dan membalut luka dan mencoba menyuntikkan Rivers dengan morfin, tetapi dia menolak. Dia ingin tetap waspada. Para petugas medis memberitahu komandan River, Kapten David J. Williams II, bahwa Rivers harus segera dievakuasi. Rivers menolak. Sambil menarik diri, dia mendorong kaptennya dan mengambil alih tank kedua. Pada saat itu hujan tembakan musuh mulai berdatangan. Kapten memberi perintah untuk saling berpencar dan berlindung. Batalion 761 diperintahkan untuk menyeberangi sungai ke Guebling, setelah insinyur tempur membangun jembatan Bailey. Jerman berusaha mati-matian untuk menghentikan pembangunan, tetapi Black Panthers mampu menahan mereka. Jembatan itu selesai pada sore hari tanggal 17 November. Rivers memimpin didepan, dan Black Panthers berhasil mengambil posisi di dalam dan di sekitar Guebling. Dalam perjalanan ke kota, Rivers, meskipun menderita atas luka-lukanya, menghadapi dua tank Jerman dan melumpuhkan mereka keduanya. Masih dalam kesakitan, dia menghancurkan dua tank lagi dan memaksa mereka untuk mundur. Black Panthers menghabiskan malam itu dalam pertempuran terus-menerus. Sebelum fajar pada tanggal 18 November, kapten dan tim medis mengunjungi setiap tank. Ketika mereka menemui Rivers, jelas bahwa dia sangat kesakitan. Kaki Rivers diperiksa ulang dan ditemukan terinfeksi. Tim medis mengatakan bahwa jika dia tidak segera dievakuasi, kakinya harus diamputasi. Rivers masih bersikeras bahwa dia tidak akan meninggalkan anak buahnya. Sepanjang hari, kedua belah pihak mempertahankan posisi mereka.

Captain Ivan Harrison, Captain Irvin McHenry, and Second Lieutenant James Lightfoot, members of the 761st Tank Battalion, tolerate the mud in France. They were known as The Black Panthers  and were deployed onto Omaha beach on October 10 1944, the 761st tank battalion served in northern France, the Rhineland and mainland Germany, being instrumental in the Battle of the Bulge from December 1944 to January 1945 (Sumber: https://www.dailymail.co.uk/ )

Saat fajar pada 19 November, Batlion 761 memulai serangan di desa Bougaltroff. Ketika Black Panthers muncul dari perlindungan mereka, suasana pagi di luar Guebling “dimeriahkan” oleh peluru pelacak dari senjata musuh. Rivers melihat adanya senjata anti-tank dan mengarahkan serangan terkonsentrasi pada mereka, memungkinkan rekan-rekannya yang terjebak untuk melarikan diri. Rivers terus menembak sampai beberapa peluru pelacak terlihat masuk ke turret tank-nya. ‘Dari jarak 200 yard yang relatif dekat, tentara Jerman menembakkan dua tembakan H.E. [ledakan tinggi] yang tepat sasaran, “tulis Anderson. Tembakan pertama mengenai bagian depan tank, dan menembusnya dengan serpihan-serpihan yang memantul di dalam dinding baja. Yang kedua menembus hingga ke dalam tank. Tembakan pertama telah mengenai kepala Rivers, dan yang kedua tepat masuk ke kepalanya, menembus hingga belakang, dan pemimpin pemberani dan petarung, yang tak kenal takut, itu sudah tiada. ‘ Ruben Rivers sebenarnya tidak harus mati pada pagi November yang dingin dan suram di Prancis itu. Tiga hari sebelumnya, dia telah mendapatkan apa yang oleh para GI sering disebut sebagai ‘luka jutaan dolar’. Dia bisa saja dievakuasi ke garis belakang dan pulang ke rumah sebagai seorang pahlawan perang dengan Medali Silver Star dan Purple Heart, namun mengetahui bahwa rekan-rekan Black Panthers telah mencintai dan menghormati dirinya sebagai seorang prajurit dan kawan yang luar biasa, Rivers memilih bertahan – dan dia gugur pada usia 26 tahun.

Sersan Staff Ruben Rivers, menjadi Prajurit Kulit Hitam pertama dalam Perang Dunia II yang memperoleh Medal Of Honor (Sumber: Alchetron)

Black Panthers terus melaju mengikuti gerak maju pasukan sekutu. Dari tanggal 31 Desember 1944, hingga 2 Februari 1945, Batalion 761 mengambil bagian dalam serangan balasan Amerika setelah Pertempuran Bulge. Dalam pertempuran besar di Tillet, Belgia, Batalion 761 bertarung selama dua hari berturut-turut melawan panzer dan unit infanteri Jerman, yang mengundurkan diri saat menghadapi serangan Black Panthers. Kehadiran Batalion 761 di Bulge telah membagi posisi garis pertahanan musuh di tiga titik – jalan HouffalizeBastogne, jalan raya St. VithBastogne, dan jalan St. VithTrier – mencegah arus pasokan pasukan Jerman yang mengepung pasukan Amerika di Bastogne. Pada 9 Januari 1945 mereka mendesak Divisi Panzer ke-13 Jerman kembali ke jalur pasokan utama yang telah digunakan oleh musuh untuk membombardir Divisi Airborne ke-101 AS di Bastogne.

Awak tank kulit hitam Amerika dengan Tank M-24 Chaffee selama Pertempuran Bulge (Sumber: https://www.dailymail.co.uk/ )

Pengakuan

Mereka kemudian menembus garis Seigfried Line pada bulan Maret. Pada akhir perang, Black Panthers telah bertempur hingga jauh ke timur dibanding unit tempur AS lainnya, dengan memainkan peran kunci dalam Pertempuran Bulge dan melintasi Rhine. Kemudian, sebagai ujung tombak lapis baja untuk Divisi Infanteri ke-103, pasukan ke-761 mengambil bagian dalam serangan yang mengakibatkan jebolnya Garis Siegfried. Dari tanggal 20 hingga 23 Maret 1945, yang beroperasi jauh diluar jangkauan satuan artileri kawan serta harus menghadapi perlawanan keras dari pihak Jerman, unsur-unsur pasukan batalion 761 menyerang dan menghancurkan banyak posisi pertahanan musuh di sepanjang Garis Siegfried. Batalion ke-761 berhasil merebut tujuh kota di Jerman, lebih dari 400 kendaraan, 80 senjata berat, 200 kuda, dan ribuan senjata kecil. Selama periode tiga hari itu, batalion itu telah menimbulkan lebih dari 4.000 korban pada tentara Jerman. Kemudian diketahui bahwa batalion 761 telah bertarung melawan unsur-unsur dari 14 divisi Jerman. Black Panthers juga berada di antara unit Amerika pertama yang berhasil bertemu dengan pasukan Soviet dari satuan First Ukrainian Army. Pada 5 Mei 1945, Batalion 761 telah mencapai Steyr, Austria, di Sungai Enns, tempat mereka bertemu dengan Rusia. Mereka membebaskan Gunskirchen, yang merupakan sub-kamp dari sistem kamp konsentrasi Mauthausen. Seorang wanita tawanan yang dibebaskan oleh unit ini, Sonia Schreiber Weitz, 17 tahun (saat itu), mengabadikan prajurit-prajurit kulit hitam yang menyelamatkannya dalam sebuah puisi itu yang berbunyi:

“The Black Messiah”

A black GI stood by the door

(I never saw a black before)

He’ll set me free before I die,

I thought, he must be the Messiah.

A black Messiah came for me . . .

He stared with eyes that didn’t see,

He never heard a single word

Which hung absurd upon my tongue.

And then he simply froze in place

The shock, the horror on his face,

He didn’t weep, he didn’t cry

But deep within his gentle eyes

. . . A flood of devastating pain,

his innocence forever slain.

For me, with yet another dawn

I found my black Messiah gone

And on we went our separate ways

For many years without a trace.

But there’s a special bond we share

Which has grown strong because we dare

To live, to hope, to smile…and yet

We vow not ever to forget.

— Sonia Weitz

Batalion Black Panther di kota Coburg, Jerman jelang akhir perang (Sumber: https://www.independent.co.uk/ )

Anggota dari Batalyon tank ke- 761 kemudian menerima 391 penghargaan individu untuk kepahlawanannya selama perang. Antara akhir 1944 dan Mei 1945, Batalyon Tank ke-761 terlibat dalam pertempuran berkelanjutan selama 183 hari berturut-turut. Melalui enam bulan pertempuran, tanpa bantuan, Batalyon Tank ke-761 telah bertugas sebagai batalion terpisah dengan divisi Infanteri ke-26, 71, 79, 87, 95, dan 103 serta Divisi Lintas Udara ke-17. Bertugas selama beberapa periode untuk pasukan darat Ketiga, Ketujuh dan Kesembilan, Black Panthers bertempur di enam negara Eropa yang berbeda dan berpartisipasi dalam empat kampanye tempur utama Sekutu. Selama periode itu, unit tersebut menimbulkan 130.000 korban pada tentara Jerman dan menangkap, menghancurkan atau membantu pembebasan lebih dari 30 kota, beberapa kamp konsentrasi, empat lapangan terbang, tiga tempat pasokan amunisi, 461 kendaraan beroda, 34 tank, 113 senjata besar, dan ribuan senjata yang individu dan yang dilayani dengan kru. Semua ini dicapai meskipun kondisi cuaca sangat buruk, medan yang sulit yang tidak cocok untuk satuan lapis baja, melawan posisi musuh yang diperkuat dengan sangat banyak, denhan kondisi kekurangan personil dan peralatan pengganti, tingkat kerugian personil secara keseluruhan mendekati angka 50 persen dan kehillangan 71 tank.

Tentara Kulit Hitam Amerika dengan tawanan Jerman nya (Sumber: https://www.dailymail.co.uk/ )
Atas prestasi serdadu Kulit Hitam Amerika, Presiden Truman menghapus segregasi dalam militer Amerika di tahun 1948 (Sumber: https://www.dailymail.co.uk/ )

Catatan pertempuran mereka ini akhirnya membantu memberi Presiden Harry Truman alasan untuk mendorong desegregasi pasukan tempur AS pada tahun 1948 dengan menggabungkan unit kulit hitam dan satuan lainnya dalam satu unit tempur. Namun hal ini tidak berjalan mudah tentunya, hal ini tercermin dalam kejadian yang dialami oleh Staf Sersan Johnnie Stevens. Setelah mendapatkan pemberhentian dengan terhormat dari militer, Stevens mencoba naik bus dari Fort Benning, Georgia, dalam perjalanan pulang ke New Jersey, waktu itu pengemudi menolak untuk membiarkannya naik, dan memanggilnya “bocah” ketika ia mencoba melakukannya. Namun, Stevens setidaknya beruntung bahwa ia naik bus bersama dengan anggota-anggota Divisi Infanteri ke-26, yang merupakan satuan infanteri dalam pertempuran merebut Morville-lès-Vic bersama Black Panther. Seorang sersan kulit putih yang marah dengan cepat memastikan Stevens bisa naik bus, dan duduk di depan. Kisah kepahlawanan Batalion Black Panther dalam Perang Dunia II terus terkubur selama puluhan tahun, sebelum mendapatkan pengakuan resmi dari Pemerintah Amerika. Baru pada tahun 1978, 33 tahun setelah berakhirnya Perang Dunia II – Batalyon Tank ke-761 menerima penghargaan Presidential Unit Citation. Sementara pada tahun 1997, 53 tahun setelah memberikan nyawanya di medan perang, Sersan Ruben Rivers dan 6 rekannya secara anumerta dianugerahi Medal of Honor oleh Presiden Bill Clinton. Rivers dan kawan-kawannya itu menjadi yang pertama mendapatkannya, karena hingga saat itu belum ada prajurit kulit hitam yang mendapatkan Medal Of Honor dalam Perang Dunia II. Motto dari Batalyon Tank ke-761 selama Perang Dunia II adalah ‘Ayo Bertarung’ dan sejarah membuktikan bahwa hal itulah yang benar-benar dilakukan Black Panther, dan mereka melakukannya dengan amat baik.

Atas prestasinya dalam bertempur di berbagai medan berat dengan musuh yang kuat Batalion Tank ke-761 “Black Panther” memperoleh penghargaan Presidential Unit Citation dari Presiden Carter tahun 1978 (Sumber: https://www.independent.co.uk/ )

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

The Black Panthers, The Segregated 761st Tank Battalion Took on The SS 11th & 13th Panzer Divisions by George Winston, 11 January 2019.

https://m.warhistoryonline.com/news/the-pioneering-black-panthers.html

THE 761ST TANK BATTALION by Joseph E. Wilson, Jr.

https://www.historynet.com/world-war-ii-761st-tank-battalion.htm

The real Black Panthers: The soldiers who came out fighting against the Nazis and the race prejudice of white America by Adam Lusher; 27 March 2018

https://www.google.com/amp/s/www.independent.co.uk/news/world/americas/black-panther-panthers-african-american-716st-tank-battalion-soldiers-us-race-second-world-war-a8276281.html%3Famp

The REAL Black Panthers: How black tank squadron had the same name as the Hollywood blockbuster and helped to defeat the Nazis thanks to its brave servicemen including baseball star Jackie Robinson by By Gareth Davies For Mailonline, 12:28 07 Mar 2018

https://www.google.com/amp/s/www.dailymail.co.uk/news/article-5472355/amp/The-REAL-Black-Panthers-Story-Americas-black-tank-squadron.html

The Original Black Panthers Fought in the 761st Tank Battalion During WWII by RYAN MATTIMORE

https://www.google.com/amp/s/www.history.com/.amp/news/761st-tank-battalion-black-panthers-liberators-battle-of-the-bulge

The Black Messiah

https://www.facinghistory.org/for-educators/educator-resources/resource-collections/survivor-testimony/sonia-weitz/poetry

https://en.m.wikipedia.org/wiki/761st_Tank_Battalion_(United_States)#

6 thoughts on “761st Tank Batalion “Black Panther”: Melawan Diskriminasi dengan Prestasi

  • 21 June 2020 at 3:31 pm
    Permalink

    Thank you, I have just been looking for info approximately this subject for a long time and yours is the best I’ve came upon so far. However, what about the conclusion? Are you certain in regards to the source?

    Reply
    • 21 June 2020 at 8:17 pm
      Permalink

      I think the source is quite credible….for me racism is bad, but i don’t want counter racism with another racism.

      Reply
  • 5 July 2020 at 3:26 am
    Permalink

    Does your site have a contact page? I’m having trouble locating it but, I’d like to send you an e-mail. I’ve got some recommendations for your blog you might be interested in hearing. Either way, great blog and I look forward to seeing it expand over time.

    Reply
  • 7 July 2020 at 10:26 pm
    Permalink

    Greetings! I know this is kind of off topic but I was wondering which blog platform are you using for this site? I’m getting tired of WordPress because I’ve had problems with hackers and I’m looking at alternatives for another platform. I would be great if you could point me in the direction of a good platform.

    Reply
    • 8 July 2020 at 4:41 pm
      Permalink

      Sorry, the blog is use the same platform….WordPress

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *