29 April 1975: Kisah perjuangan hidup Mayor VNAF yang menyelamatkan keluarganya dengan Chinook curian

Pada April 1975, Saigon yang sudah hampir jatuh ke tangan Tentara Vietnam Utara, mengejutkan semua orang. Kepanikan terjadi ketika orang Amerika dan Vietnam Selatan berupaya melarikan diri. Bagi mereka yang pernah bertugas di pemerintah, militer Vietnam Selatan, atau Amerika, ancaman kematian sepertinya tidak bisa dihindari, setidaknya itulah yang ada di pikiran mereka. Begitu banyak yang melakukan apa saja yang bisa mereka lakukan untuk meninggalkan Vietnam. Seorang pilot helikopter Vietnam Selatan kemudian mencatat sejarah unik mengenai bagaimana dia bisa melakukannya – dengan hampir saja menghancurkan sebuah kapal Amerika.

April 1975, Warga sipil berlomba-lomba melompati pagar Kedutaan Amerika di Saigon untuk lari dari Tentara Komunis yang mengepung ketat Saigon. (Sumber: https://www.usnews.com/)

Meskipun keterlibatan resmi militer Amerika di Vietnam berakhir pada tahun 1973 dengan penandatanganan Kesepakatan Damai Paris, Amerika membutuhkan waktu untuk benar-benar mengundurkan diri secara total keterlibatannya dalam perang di Vietnam. Pada awal 1975, pemerintah Vietnam Utara mulai melakukan ofensif militer ke Vietnam Selatan, setelah selama 2 tahun memperkuat kembali kekuatan militernya yang berantakan setelah ofensif gagal mereka di tahun 1972 dan pemboman besar-besaran AS di akhir tahun tersebut. AS masih berharap untuk dapat memenangkan Perang Dingin di wilayah tersebut, atau setidaknya bisa mempertahankan keberadaan sekutunya, Vietnam Selatan. Untuk memperkuat harapan mereka, CIA dan Intelijen Angkatan Darat AS menerbitkan sebuah laporan pada 5 Maret 1975 yang mengklaim bahwa mereka dapat dengan mudah mempertahankan Vietnam Selatan sampai akhir tahun dan mungkin sampai akhir 1976. Ketika laporan itu dirilis, Vietnam Utara sedang bersiap untuk menyerang Vietnam Selatan.

Saigon yang terkepung

Invasi Vietnam Utara itu terjadi pada 10 Maret, dimana dengan cepat mereka menguasai kota Ban Me Thuột di Vietnam Selatan. Dengan cepat jatuhnya kota itu, militer Vietnam Selatan mulai mundur dengan kacau. Amerika saat itu merasa sudah cukup berurusan dengan kedua Vietnam dan memutuskan untuk tidak memberikan bantuan lebih lanjut. Menyadari bahwa “permainan” sudah berakhir, presiden Vietnam Selatan mengundurkan diri di televisi nasional pada 21 April. Pada saat itu, musuh-musuhnya hanya berjarak 26 mil dari ibukota di Saigon. Semua orang menjadi panik dan kekhawatiran mereka bukannya tanpa alasan. Pada 1968, selama ofensif Tet, tentara Vietnam Utara sempat menduduki kota Hue, Vietnam Selatan. Ketika kota itu akhirnya direbut kembali sebulan kemudian, para pemimpinnya, personel militer, intelektual, pengusaha, umat Katolik Roma, dan banyak lainnya telah dibantai.

Serbuan cepat Vietnam Utara membuat Vietnam Selatan terbelah dua dan Saigon segera terkepung. (Sumber: history.army.mil)

Meskipun orang Amerika dan orang asing lainnya sudah mulai beranjak pergi sejak awal Maret, namun kepergian mereka tidak dalam suasana terburu-buru. Mereka yang memiliki teman-teman, istri-istri, dan anak-anak Vietnam menolak untuk meninggalkan mereka tinggal di negara yang hampir kolaps itu. Tetapi Kantor Atase Pertahanan Amerika (DAO) mengharuskan diikutinya sejumlah protokol, yang sangat memperlambat proses legalitas emigrasi. Namun, pada bulan April, DAO mulai mengabaikan protokol mereka sendiri dan membagikan visa ilegal kepada ribuan orang Vietnam Selatan. Mereka yang tidak mampu membeli tiket diterbangkan ke Pangkalan Angkatan Udara Clark di Filipina, lagi-lagi secara ilegal, karena mereka tidak memiliki izin untuk melakukannya dari pejabat Amerika atau Filipina.

Pelarian keluarga Ba Van Nguyen

Ba Van Nguyen adalah seorang mayor di Angkatan Udara Vietnam Selatan yang memiliki seorang istri dan tiga anak. Tidak ada seorangpun diantara mereka yang bisa berbicara bahasa Inggris atau punya teman di antara orang Amerika, jadi visa tidak mungkin mereka dapatkan. Pada 27 April, Vietnam Utara telah mengepung Saigon dengan 100.000 tentara. Tepat sebelum fajar pada 29 April, Bandara Tan Son Nhut di kota itu diserang. Dengan landasan pacu dan fasilitas yang hancur, melarikan diri dengan pesawat menjadi hal yang mustahil. Hanya ada satu jalan untuk keluar dari kota – yakni dengan helikopter. Operasi Frequent Wind saat itu telah dimulai, dengan tujuan utamanya adalah untuk menyelamatkan sebanyak mungkin dari mereka-mereka “yang terancam” untuk keluar dari Vietnam Selatan. Mayor Nguyen tahu bahwa jika dia sampai tertangkap tentara Komunis, ia akan dipisahkan dari keluarganya dan mungkin bisa dieksekusi, kalaupun tidak dieksekusi dia akan dikirimkan ke kamp kerja paksa.

Saigon yang terkepung, satu-satunya cara paling cepat untuk keluar dari Saigon adalah dengan menggunakaan Helikopter Amerika. Seperti tampak pada ilustrasi, AL Amerika menyediakan perlindungan udara, diantaranya dengan Jet tempur F-14 Tomcat yang masih baru. (Sumber: https://vietnambyblake.weebly.com/)

Nguyen waktu itu sudah putus asa. Keluarganya tinggal di pinggiran kota Saigon, jadi dia tahu dia tidak akan pernah bisa membawa mereka ke titik evakuasi Amerika tepat pada waktunya lewat jalur darat. Ada terlalu banyak kepadatan lalu lintas yang harus dilewati ketika orang berbondong-bondong masuk ke kota, berharap untuk bisa melarikan diri bersama dengan orang-orang Amerika. Dia hanya mengatakan kepada istrinya untuk mengemas apa yang dia bisa bawa dan untuk bersiap-siap sewaktu-waktu untuk pergi – dia berjanji akan kembali. Ia mengatakan pada istrinya: “jika kamu mendengar suara Chinook datang, bersiaplah”. Miki, putra tertua Nguyen, tidur di bawah tempat tidurnya pada malam sebelum keluarganya melarikan diri. Dia bisa mendengar desingan senapan mesin dan peluru beterbangan saat tentara Vietnam Utara semakin dekat, tetapi dia tetap percaya diri. “Aku tahu ayahku akan datang,” katanya dalam film dokumenter “The Last Days of Vietnam.”

Ba Van Nguyen adalah pilot CH-47 Chinook, helikopter terbesar milik Angkatan Udara Vietnam Selatan. Nampak pada gambar yang diambil dari komik strip tentang pelarian dramatis ini yang dipublikasikan di New York Times, 28 November 2017 (Sumber: https://www.nytimes.com/)
Saat-saat hari terakhir Saigon, Ba mendapati satuannya dalam keadaan kacau, namun setidaknya dia masih memiliki Chinook nya. (Sumber: https://www.nytimes.com/)
Nguyen berpesan kepada istrinya untuk mengemas barang-barang berharga mereka secukupnya sambil berjanji akan kembali sewaktu-waktu. (Sumber: https://www.nytimes.com/)
Malam sebelum keluarganya melarikan diri, Miki, putra tertua Nguyen dan adiknya tidur dibawah tempat tidurnya, sementara di luar rumah neneknya terdengar suara desingan peluru senapan mesin. (Sumber: https://www.nytimes.com/)

Miki mendengar suara Chinook keesokan paginya sekitar pukul 10:30. Dia mengambil beberapa pakaian dan susu bayi untuk saudara perempuannya yang berusia 10 bulan, Mina, dan berlari ke Chinook (CH-47A Chinook, helikopter terbesar di Angkatan Udara Vietnam Selatan) dari Squadron 237 yang diterbangkan ayahnya bersama keluarganya dan beberapa teman ayahnya yang sudah bersiap di rumah mertua Nguyen. Begitu masuk, dia mendengar ayahnya berkata bahwa dia melihat helikopter A.S. menuju ke laut. Mereka harus mendarat di suatu tempat, sayangnya, ayahnya tidak bisa mengerti apa yang dikatakan orang Amerika di radio. Tidak tahu ke mana harus pergi, Nguyen membuat tebakan berdasarkan pengetahuannya dan terbang menuju ke arah laut. Ditengah perjalanan sekitar setengah jam terbang Nguyen berhenti sebentar untuk mengisi perbekalan dan bertemu dengan rekan-rekan satu squadronnya.

Pagi harinya 29 April 1975, Miki mendengar suara gemuruh Chinook, ayahnya telah menepati janjinya. (Sumber: https://www.nytimes.com/)
Istri Nguyen dan anak-anaknya segera naik ke dalam Chinook, dimana crew Nguyen sudah bersiap di dalam. (Sumber: https://www.nytimes.com/)

Jauh di Laut Cina Selatan, Operation Specialist, James Bongaard sedang duduk di ruang radar USS Kirk (FF 1087) menatap dengan mata terbelalak ke layarnya. Dia melihat begitu banyak tanda “blips” di layar, yang bergerak tidak menentu. Air Warfare 3 Donald Cox mengerti apa yang terjadi. Misi USS Kirk saat itu adalah untuk melindungi evakuasi Amerika dari ancaman angkatan udara Vietnam Utara, jadi ia menyadari mengapa blip itu polanya aneh. USS Kirk saat itu dipimpin oleh Kapten Paul Jacobs, dijuluki “Big Jake” oleh krunya. Dia adalah seorang New Englander yang suka terus terang dan tanpa basa-basi dengan tubuh tinggi besar 6-kaki-3. Dia mendapat perintah untuk menembak jatuh setiap pesawat tak dikenal yang mungkin mengancam evakuasi udara dari Saigon, kalau mau, dia bisa saja menembak jatuh pesawat-pesawat atau objek udara yang mendekat, namun dia memilih untuk mengandalkan akal sehatnya, “selama mereka tidak menembaki kita, kita tidak akan menembak”, demikian katanya. Di dalam kapal, Donald Cox, meminta salah satu anak buahnya yang bisa berbicara bahasa Vietnam dasar untuk berbicara pada frekuensi darurat dan berkata, “1087 mendaratlah di sini.”

Nguyen sebenarnya tidak memiliki rencana yang pasti, namun dia mengarahkan Chinooknya menuju lautan setelah mendengar kapal-kapal AL Amerika berada disana. (Sumber: https://www.nytimes.com/)

Dalam dua puluh menit, helikopter pertama datang penuh dengan pengungsi. Karena USS Kirk memiliki dek pendaratan yang sangat kecil, mereka harus “membuang” helikopter lain dari kapal untuk memberikan ruang bagi yang mendarat berikutnya. Tetapi geladak kapal memiliki permukaan anti selip yang biasa digunakan oleh helikopter yang memiliki skid (seperti Huey), sedangkan bantalan pendaratan helikopter Chinook memiliki alur karet, jadi itu bukan tugas yang mudah. Helikopter Nguyen adalah helikopter kelima yang tiba, saat itu bahan bakarnya sudah hampir habis, tetapi ketika mereka melihatnya, mereka melambaikan tangan padanya. Chinook itu terlalu besar. Jika mendarat, rotornya akan menghancurkan bagian atas kapal dan melukai atau membunuh banyak lainnya. Jadi Nguyen menjulurkan kepalanya. Saat mengemudikan helikopter, ia berhasil menyampaikan dalam bahasa isyarat kasar bahwa ia ingin melayang di atas geladak. Dan bisakah beberapa pria membantu menangkap penumpangnya ketika mereka melompat?

Kapten kapal USS Kirk, Paul Jacobs yang ditugaskan untuk menembak jatuh objek-objek udara yang dinilai membahayakan kapal-kapal AL Amerika, memilih menggunakan akal sehatnya dan membiarkan helikopter-helikopter yang membawa pengungsi mendarat di kapalnya. (Sumber: https://www.nytimes.com/)

Para pelaut bergegas ke geladak belakang sementara Nguyen memegangi kendali Chinook nya agar stabil. Dia harus menjaga ketinggian sekitar 12 sampai 15 kaki dari geladak kapal yang bergoyang. Jika dia terbang terlalu tinggi, penumpangnya (dan kru yang menangkap mereka) akan terluka. Terlalu rendah, rotor helikopter akan menghancurkan kapal. Kopilot Nguyen, kemudian membuka pintu helikopter. Dia memberi isyarat kepada istri Nguyen, Nho, bahwa wanita dan anak-anak harus pergi dulu. Miki melompat lebih dulu, diikuti oleh adik laki-lakinya. Kemudian Nho meraih bayi perempuannya, mengulurkan tangannya, dan menjatuhkannya ke para pelaut di bawah sebelum melompat juga. Pelaut Kirk menangkap mereka semua; tidak ada yang terluka. Yang terakhir melompat adalah kopilot, meninggalkan Nguyen sendirian.

Para Crew USS Kirk memberi tanda kepada Nguyen, bahwa mendaratkan Chinook di kapal itu akan membahayakan banyak orang. (Sumber: https://www.nytimes.com/)
Hanya ada satu cara, yaitu dengan melompat dari Chinook (Sumber: https://www.nytimes.com/)
Mina, putri Nguyen yang masih berusia beberapa bulan saat diselamatkan oleh Crew USS Kirk. (Sumber: https://www.dailymail.co.uk/)

Dia kemudian berbelok menjauh dari Kirk dan menempatkan roda helikopter beberapa meter di atas air. Sambil masih mengemudikan helikopter, ia perlahan menanggalkan pakaian, sepatu, dan pistolnya. Nguyen kemudian membelokkan helikopter ke kanan saat dia melompat keluar dari pintu kiri. Dia mencoba untuk tetap di bawah ketika helikopter itu jatuh, putus asa untuk menghindari pecahan peluru yang meledak dan rotor yang berputar. Tapi daya apung terus memaksanya untuk muncul ke permukaan. Chinook berbalik, menjulang di atas Nguyen sebelum membanting kembali dengan roda yang sekarang mengarah ke atas.

Entah bagaimana caranya sambil melepas pakaian, Nguyen mempertahankan kontrol Chinooknya sebelum melompat. (Sumber: https://www.nytimes.com/)
Nguyen kemudian diselamatkan oleh perahu penyelamat dari USS Kirk. (Sumber: https://www.nytimes.com/)

Sebuah kapal penyelamat meluncur dari Kirk bahkan sebelum Chinook benar-benar tenggelam. Ketika para pelaut mencapai tempat dimana mereka terakhir melihat Nguyen, mereka menemukan pemandangan yang mengerikan – noda merah menggelembung dari bawah. Kemudian mereka melihat Nguyen, dia tidak terluka, ternyata warna merah itu hanyalah cairan hidrolik yang berasal dari helikopter yang jatuh. Nguyen saat diselamatkan hanya mengenakan celana boxer yang dibuat oleh istrinya dan kaus warna putih, batangan emas yang disimpan di kantungnya sudah hilang. “Dia ingin segera bersatu kembali dengan keluarganya, “kata Doyle, yang pada saat itu kepala teknisi kapal. Potongan cuplikan film yang direkam oleh berbagai anggota kru menunjukkan Nguyen tepat setelah pelariannya yang nyaris merenggut nyawanya. Dia berdiri di sebelah Jacobs, dengan tenang mengangguk ketika keduanya berbicara ringan. Tubuhnya diam dan sikapnya tenang; orang yang melihat cuplikan film itu tidak akan pernah membayangkan kalau dia baru saja lolos dari kematian dan telah menyelamatkan keluarganya.

Meski kehilangan segalanya, namun yang utama Nguyen berhasil menyelamatkan keluarga kecilnya. (Sumber: https://www.nytimes.com/)
Nguyen yang tenang saat diwawancarai oleh crew USS Kirk. (Sumber: https://www.dailymail.co.uk/)
Aksi Nguyen dinilai layaknya pesulap “Houdini” (Sumber: https://www.nytimes.com/)

USS Kirk kemudian akan lebih banyak lagi menyelamatkan armada compang-camping kapal-kapal angkatan laut Vietnam Selatan, kapal-kapal dagang dan kapal-kapal nelayan. Jacobs dan krunya akhirnya tercatat menyelamatkan 30.000 pengungsi Vietnam Selatan. Belakangan, Jacobs mengatakan bahwa krunya selain terampil, juga beruntung. Laut Cina Selatan terkenal keras; memiliki ombak setinggi 20 kaki dan angin kencang biasa terjadi. Namun laut amat tenang hari itu. “Tuhan memperhatikan kita, karena selama beberapa hari kita mendapati lautan yang tenang seperti flounder,” katanya. Kent Chipman seorang awak kapal yang turut menyelamatkan keluarga Nguyen, tidak pernah melupakan ketenangan Nguyen di bawah tekanan dan kelegaan yang dia rasakan ketika dia berhasil menangkap anak perempuan dan istri pilot itu. “Saya pikir ini adalah akhir yang bahagia dari perang yang menyebalkan ini,” katanya.

Berjuang hidup di negeri yang baru

Dalam waktu enam bulan setelah tiba di Amerika, Nguyen dan keluarganya tidak mengambil tunjangan kesejahteraan, mereka ingin membayar kembali kepada Amerika untuk apa yang telah dilakukan kepada keluarganya. Meninggalkan tanah kelahirannya adalah kenyataan pahit, bagi Nguyen. Dia telah menyelamatkan keluarganya tetapi kehilangan segalanya – uang, status, keluarga besar dan negaranya. Dia pindah ke Seattle bersama keluarganya dan akhirnya menemukan pekerjaan sebagai teknisi di Boeing. Dia menjalani kehidupan barunya dengan keuletan dan akal yang sama dengan yang dia andalkan di Laut Cina Selatan. Dia dengan susah payah mempelajari bahasa Inggris. Dia bekerja sebagai petugas kebersihan di malam hari setelah pergi ke sekolah elektronik di siang harinya.

Nguyen bukanlah pria yang menunggu belas kasihan orang, ia mendisiplinkan diri dan keluarganya untuk dapat menjadi warga negara yang baik bagi negeri barunya. Dengan kerja keras ia dan keluarganya dapat survive di Amerika. (Sumber: https://www.wowamazing.com/)

Ketika dia mendapat pekerjaan di Boeing, dia bangun jam 4 setiap pagi dan keluar dari pintu setengah jam kemudian. Sebuah keluarga di sebuah gereja Lutheran membantu mensponsori keluarganya. Meski begitu, enam bulan setelah dia tiba di Amerika Serikat, dia dan keluarganya tidak lagi ingin mengambil bantuan dari pemerintah, ia mengatakan kepada mereka bahwa Amerika Serikat adalah negeri yang penuh dengan kesempatan. Dia tidak hanya mau menerima; tapi dia juga ingin memberi kembali. Dia memberi tahu keluarganya bahwa mereka akan menjadi warga negara AS dalam waktu lima tahun agar mereka dapat membayar pajak dan memberikan suara. Dari anak-anaknya, ia mengharapkan nilai yang terbaik dan mengatakan kepada mereka bahwa sekolah hingga jenjang perguruan tinggi adalah hal yang mutlak dan tidak dapat dinegosiasikan. Dia akan menghadiahi mereka jika mereka mendapat nilai bagus. Kadang-kadang, dia melatih anak-anaknya seperti seolah-olah mereka adalah awak helikopter di Chinook-nya.

” Lihat di mana kita hari ini. Kita tidak kaya. Tapi kita tidak juga miskin. ” Nguyen bersama keluarganya. (Sumber: https://www.wowamazing.com/)

Dia membangunkan mereka dari tempat tidur mereka setiap Sabtu pagi dengan daftar tugas pembersihan rumah. Jika mereka menyelesaikan pekerjaan rumah mereka lebih awal, dia akan memberi mereka soal matematika baru untuk mengajar mereka memanfaatkan waktu luang. “Jika kita salah mengerjakannya, dia akan menghapus seluruh halaman dan kita harus mulai lagi dari awal,” kata Mina, bayi perempuan yang dijatuhkan dari Chinook. Dia sangat protektif terhadap putri bungsunya seperti ketika dia menyelamatkannya hari itu. Ketika Mina mulai berkencan dengan seorang musisi, yang akhirnya akan menjadi suaminya, Nguyen berbicara dengan calon menantunya itu. “Kau tidak cukup baik untuk putriku,” katanya. “Mengapa kamu tidak memiliki gelar doktor? Dia memiliki gelar doktor.”

Namun Nguyen bukanlah seorang yang tidak fleksibel. Dia suka bersenang-senang. Anak-anaknya mengatakan bahwa dia menikmati kehidupan yang sepenuhnya, mengetahui bahwa dia telah diberi kesempatan kedua. Dia suka memancing, bermain piano, dan menyelenggarakan pesta karaoke di rumahnya. Dan dia bisa bermanuver di lantai dansa sebaik yang dia bisa di helikopter. Dia suka menari rhumba dan cha-cha. Dan jika anak-anaknya mengeluh akan kerasnya pengajarannya, mereka akan mendengar ceramah: Ibumu dan aku datang ke Amerika Serikat tidak membawa apa-apa kecuali alat gambarku, “dia akan memberi tahu anak-anaknya.” Lihat di mana kita hari ini. Kita tidak kaya. Tapi kita tidak juga miskin. ” Perjalanan keluarga yang nyaris mustahil ke Amerika Serikat bukan hal mudah, tetapi menghasilkan nilai-nilai berharga yang mereka kagumi. “Ini kisah Pulau Ellis (pulau tempat pertama kali imigran lama masuk ke Amerika) kami,” kata Miki.

Hadiah dari putranya yang mengingatkan kepahlawanan dirinya. Nguyen tidak bereaksi berlebihan, dia sadar bahwa itu adalah tanggung jawab dirinya sebagai kepala keluarga. (Sumber: https://www.wowamazing.com/)

Ketika Nguyen pensiun dari Boeing pada tahun 2000, Miki tahu apa yang harus diberikan kepada ayahnya. Dia memberinya etalase yang memajang celana pendek merah yang dikenakan ayahnya saat menyelamatkan keluarga mereka. Reaksi Nguyen terhadap hadiah itu tidak berlebihan. Dia menerima kotak itu tanpa sepatah kata pun. Dia memang pernah menulis kisah tentang perjalanan keluarganya di surat kabar berbahasa Vietnam, tetapi hanya dari sudut pandang orang ketiga. Dia tidak memberi tahu pembaca bahwa dia adalah pilotnya. “Dia tidak ingin menyombongkan diri,” kata Miki. “Tapi dia tahu dia melakukan hal yang sangat berani dan gila.”

Reuni dengan crew USS Kirk

Beberapa pihak lain sebenarnya juga tahu, dan mereka bertekad untuk menceritakan kisah pahlawan Vietnam yang sederhana ini. Selama bertahun-tahun, kapten USS Kirk sesekali bertanya-tanya tentang pilot yang membuang Chinook di laut itu. Pertanyaan itu kemudian berubah menjadi sebuah misi. Pada tahun 2009, Jacobs menghadiri acara televisi orang-orang Vietnam dan bertanya apakah ada yang tahu tentang kisah pilot itu. Pencarian kemudian dimulai. Diketahui bahwa Komunitas Vietnam Selatan di Amerika Serikat sangat erat, dan pada suatu hari, Miki menerima email berantai yang mengutip pertanyaan Jacobs. Dia menjawab melalui email: “Jika kamu mencari pilot Chinook, itu mungkin ayahku.”

Miki menyadari bahwa crew USS Kirk mencari identitas ayahnya lewat email (Sumber: https://www.nytimes.com/)

Kemudian terjadi kesibukan komunikasi telepon. Jacobs dan mantan krunya mengadakan reuni pada 10 Juli 2010, di sebuah pusat konferensi di Springfield, Virginia. Mereka mengundang Nguyen. Dia bukanlah orang yang sama dengan dia pada tahun 1975. Dia menderita kesedihan setelah kehilangan putranya, Mika, yang meninggal karena pendarahan otak pada tahun 2003. Dan setelah pensiun dari Boeing, Nguyen menderita Alzheimer. Dia menggunakan kursi roda dan tidak bisa bicara, kecuali erangan dan suara parau. Ketika Nguyen bertemu kembali dengan kru Kirk, istrinya menemani. Dia mendorongnya di kursi roda ke ruang dansa hotel, ditemani putra dan putri mereka. Ketika mereka berjalan menyusuri lorong, awak kapal Kirk pertama yang dilihatnya adalah “Chippy” Chipman, pelaut yang menangkapnya dan anak perempuannya saat mereka melompat keluar dari helikopter bertahun-tahun yang lalu.

Nguyen saat bereuni dengan Chippy Chipman, yang langsung segera mengenalinya. (Sumber: https://www.wowamazing.com/)

Nguyen melihat Chipman juga. Matanya berbinar; dia hampir menangis. “Dia menatapku dan aku menatapnya. Dia tahu dan aku juga baru tahu,” kata Chipman. Chipman mendekati Nguyen dan memberi hormat. Dia mengatakan kepadanya siapa dia dan apa yang dia lakukan. Dia memandang Miki, yang sekarang menjadi pria dewasa yang periang. “Aku orang yang menangkapmu,” katanya dalam aksen Texas-nya. Miki terlalu terpana untuk mengatakan apa pun. Kemudian dia memandang Mina yang ceria, berdiri di samping ayahnya. Dia mengatakan kepadanya bahwa dia bertekad untuk menangkapnya ketika dia jatuh dari helikopter bahkan jika itu membahayakan nyawanya sendiri. “Aku bangga,” kata Chipman melihat Mina. “Aku tidak punya anak, tapi ini rasanya seperti melihat anak perempuanmu yang sudah lama hilang dan sekarang sudah dewasa. Dia (Mina) telah hidup dengan amat baik.”

Chippy Chipman yang tidak pernah mempunyai anak, bangga dan bahagia melihat Mina, bayi kecil yang diselamatkannya telah dewasa dan hidup dengan baik. (Sumber: https://www.wowamazing.com/)

Reuni itu berubah menjadi penghargaan untuk Nguyen. Awak Kirk menunjukkan cuplikan film berwarna tentang pelarian Nguyen. Berbagai anggota kru Kirk mengambil foto dan film amatir hari itu. Mina memandangi foto-foto wajah bayi gemuknya yang menempel di Plexiglas Chinook ketika mengitari Kirk. Dia melihat foto dirinya mendarat di lengan Chipman. “Menggigil hingga dinginnya naik ke tulang punggungku,” katanya. Dia kemudian menyaksikan rekaman pelarian ayahnya. “Ini seperti Tom Cruise,” katanya. “Memikirkan itu adalah ayahku sendiri. Memikirkan keluargaku sendiri yang melompat keluar satu per satu. Itu membuat perasaanku campur aduk.”

Miki punya pendapat sendiri. Selama bertahun-tahun, dia mengagumi kesederhanaan ayahnya. Dia memahaminya. Banyak orang Vietnam Selatan yang datang ke Amerika Serikat setelah perang hanya ingin melupakan trauma masa lalu. Mereka kehilangan status, pangkat, keluarga, uang mereka, dimana mereka hanya ingin fokus pada masa depan. Namun, akibatnya, keluarga-keluarga terancam kehilangan memori di masa lalunya. Anak-anak mereka tumbuh di Amerika Serikat tanpa belajar tentang bagaimana perjuangan keluarga mereka hingga bisa sampai Amerika. Dan sekarang kisah-kisah itu memudar ketika generasi ayahnya mulai menua dan meninggal dunia.

“Satu-satunya perbedaan antara keluarga saya dan orang lain adalah kami memiliki film dan video ini,” kata Miki. “Setiap pengungsi Vietnam lainnya datang ke sini dan memiliki kisah yang penuh warna dan sangat sulit.” Miki memperhatikan ketika Jacobs berjalan di depan orang banyak di ballroom hotel. “Kami menyimpan yang terbaik untuk yang terakhir,” katanya sambil memandang Nguyen. Jacobs membaca kutipan untuk menghormati Nguyen atas keahliannya yang menakjubkan, yang memuji keterampilan luar biasa sebagai pilot, “ketenangan di bawah tekanan luar biasa,” dan mengatakan tindakannya tercermin dengan baik di Vietnam Selatan dan “sesuai dengan tradisi tertinggi Angkatan Laut Amerika Serikat.” Nguyen tidak bisa berkata apa-apa saat dia memperhatikan dari kursi rodanya.

Pada saat reuni Nguyen mendapat penghargaan dari Crew USS Kirk. (Sumber: https://www.wowamazing.com/)

Seorang perwira Angkatan Laut membungkuk dan menempelkan medali udara untuk keberanian di jaketnya. Nguyen mulai menggeliat di kursi rodanya. Miki, yang ada di belakang ayahnya, bertanya-tanya apa yang dia coba lakukan. Nguyen yang kemudian akan meninggal karena Alzheimer tiga tahun kemudian (pada usia 73, meninggal dalam tidurnya pada suatu malam di musim panas, 17 Juni 2013). Tetapi pada saat reuni itu, memorinya kembali ke peristiwa di April 1975. Miki menyaksikan ayahnya melakukan sesuatu yang tentunya akan mengingatkannya bahwa, meskipun tubuh ayahnya sudah lemah, Nguyen bangkit berdiri dari kursi rodanya, meluruskan jaketnya ketika dia memandang Jacobs, dan, dengan tangan kanan yang bergetar, dia memberi hormat.

Dengan tubuh lemahnya, Nguyen bangkit dari kursi rodanya setelah menerima penghargaan, dia sadar meski dia telah menderita Alzheimer, namun dulu dia pernah menjadi perwira AU Vietnam Selatan yang berdedikasi. (Sumber: https://www.wowamazing.com/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

How a South Vietnamese Pilot Stole A Chinook, Rescued His family Out Of Saigon And Crashed It Next To A Carrier by Shahan Russell, 3 May 2016

https://m.warhistoryonline.com/vietnam-war/south-vietnamese-pilot-stole-chinook.html

A father goes ‘badass’ to save his family By John Blake, CNN, 29 April 2015

https://www.google.com/amp/s/amp.cnn.com/cnn/2015/04/29/us/vietnam-sea-rescue/index.html

This VNAF Chinook’s pilot jumped out of his CH-47A after having saved his family. And he made it out alive by Dario Leone, May 20, 2018

https://www.google.com/amp/s/theaviationgeekclub.com/this-vnaf-chinooks-pilot-jumped-out-of-his-ch-47a-after-having-saved-his-family-and-he-made-it-out-alive/amp

The incredible rescue story of how a South Vietnamese pilot stole a Chinook, flew his family out to sea as Saigon fell and crashed next to a US aircraft carrier By Chris Spargo, 30 April 2015

https://www.google.com/amp/s/www.dailymail.co.uk/news/article-3063140/amp/Unbelievable-tale-father-embarked-impossible-mission-piloting-military-helicopter-save-family-death-city-Saigon-fell-1975.html

4 thoughts on “29 April 1975: Kisah perjuangan hidup Mayor VNAF yang menyelamatkan keluarganya dengan Chinook curian

  • 27 December 2019 at 1:56 pm
    Permalink

    Hi there, just wanted to say, I loved this article.
    It was funny. Keep on posting!

    Reply
    • 14 August 2020 at 1:29 pm
      Permalink

      Tks

      Reply
  • 13 November 2020 at 4:59 am
    Permalink

    I simply want to tell you that I’m all new to blogs and certainly liked your web-site. Most likely I’m going to bookmark your blog . You absolutely have beneficial article content. Bless you for sharing with us your webpage.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *