Perang Vietnam

Lahirnya Vietminh, Awal Mula Perang Indochina Pertama & Perang Inggris di Vietnam

Pada akhir abad ke-18, Prancis mendirikan misi Khatolik di Indocina, dan sampai tahun 1820-an mereka menikmati perlindungan dari penguasa lokal, tetapi setelah itu penganiayaan terhadap umat Katholik dimulai dan terus meningkat, terutama di bawah Kaisar Tu-Duc, yang memerintah dari tahun 1847 hingga 1883 dan ingin membasmi Kekristenan. Kaisar Napoleon III dari Prancis dengan didorong semangat imperialisnya tidak bermaksud membiarkan hal itu terjadi, dan pada tahun 1858 ia mulai mengirim pasukan Prancis ke delta Saigon. Pada tahun 1862, Tu-Duc dipaksa untuk menandatangani sebuah perjanjian yang memberikan jaminan toleransi beragama dan menyerahkan beberapa wilayahnya, termasuk kota Saigon. Dari kepemilikan wilayah kecil inilah nantinya kekuasaan Prancis akan berkembang ke seluruh Indochina. Dengan berkembangnya kekuasaan Prancis, muncullah beberapa perlawanan dari orang-orang Vietnam. Perlawanan terhadap pendudukan Prancis terutama terkonsentrasi di provinsi paling utara, yakni provinsi Tonkin. Pada bulan Agustus 1883, Laksamana Prancis Courbet membombardir benteng-benteng yang dikuasai kaum pemberontak di muara sungai Hue. Dari sini sebuah perjanjian dipaksakan untuk mengangkat Prancis menjadi protektorat atas seluruh wilayah Indochina yang mencakup negara Vietnam saat ini (secara tradisional terdiri dari tiga wilayah terpisah, yakni Cochin Cina di selatan, Annam di tengah dan Tongkin di utara) serta Kamboja dan Laos. Prancis kemudian mengirim pasukan ekspedisi ke utara, tetapi hal ini kemudian mengundang Cina masuk ke dalam pertikaian, karena Peking mengklaim kedaulatan longgarnya atas Indochina dan tidak ingin musuhnya, Prancis (dari Perang China Kedua) ada di dekat perbatasannya. China lalu mulai merencanakan perang melawan Prancis.

Penganiayaan terhadap umat Katholik yang dimulai dan terus meningkat, terutama di bawah Kaisar Tu-Duc, yang memerintah dari tahun 1847 hingga 1883, telah mendorong Prancis untuk memanfaatkan hal ini sebagai alasan untuk ikut campur tangan dalam permasalahan di Indochina, sekaligus meluaskan ambisi imperialismenya. (Sumber: https://www.alamy.com/)
Perjanjian Tientsin membuat China mengakui protektorat Prancis atas wilayah Annam dan Tonkin. Sejak saat itu mereka memerintah Indochina dengan tangan besi, menumpas pemberontakan dengan kejam, dengan memanfaatkan Legiun Asing dan pasukan dari wilayah Afrika Utara Prancis sebagai pasukan pendudukan hingga pecahnya Perang Dunia II. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Laksamana Courbet sangat menginginkan dilancarkannya peperangan skala penuh, tetapi Prancis sendiri saat itu sedang merasa tidak aman di Eropa untuk dapat berperang langsung di Indochina dan lebih memilih untuk mencoba menumpas perang gerilya di kawasan utara Vietnam. Kemudian, pada bulan Juni, dalam pertempuran tiga hari di dekat Bacle, yang melibatkan pasukan China yang lebih besar, mengakibatkan kekalahan bagi Prancis. Tetapi Prancis terus mendesak, menaklukkan satu demi satu posisi lawan, dan memaksa para pemberontak mundur. Untuk menimbulkan teror, semua tahanan termasuk tentara dan warga sipil yang terluka, dieksekusi. Orang-orang Vietnam juga diminta bekerja secara paksa dan diperlakukan dengan kasar, yang mengakibatkan banyak kuli melarikan diri secara massal.  Hal ini menyebabkan krisis transportasi untuk membawa perbekalan dan amunisi ke unit-unit garis depan di medan pertempuran. Pada bulan Maret 1885, Jenderal Prancis Oscar de Negrier terluka dan dikalahkan di Langson dekat perbatasan China, dan tentara Prancis terpaksa mundur secara massal. Sayangnya tentara China tidak menindaklanjuti kemenangan ini, dan orang-orang Prancis bisa mendapatkan kembali wilayah yang sempat hilang. Pada bulan Juni, Perjanjian Tientsin memberi Prancis sebagian besar dari apa yang mereka inginkan. Sejak saat itu mereka memerintah Indochina dengan tangan besi, menumpas pemberontakan dengan kejam, dengan memanfaatkan Legiun Asing dan pasukan dari wilayah Afrika Utara Prancis sebagai pasukan pendudukan hingga pecahnya Perang Dunia II.

JATUHNYA PRANCIS DAN BANGKITNYA VIETMINH

Prancis jatuh ke tangan Nazi Jerman pada tahun 1940, dan Jepang, mengambil keuntungan dari situasi ini, dengan menyerbu perbatasan Indochina serta mengancam akan mengebom Hanoi sambil menuntut agar dapat membuat pangkalan militer di Indochina. Pemerintah Prancis menyerah, dan tentara Jepang bergerak masuk Indochina dengan leluasa. Mereka sementara meninggalkan pemerintahan lokal untuk dapat melanjutkan kekuasaannya seperti sebelumnya, sementara mereka berkonsentrasi membangun pangkalan udara, angkatan laut dan militer di seluruh wilayah sebagai persiapan untuk melakukan ekspansi lebih lanjut di wilayah tersebut. Jepang kemudian menjarah kekayaan pertanian dan mineral di Indochina, serta menutup rute pasokan darat ke kaum Nasionalis pimpinan Chiang Kai-shek di Cina, yang sebelumnya mengalir melalui Indochina dari pelabuhan Haiphong. Penghinaan Prancis di hadapan orang-orang Jepang, kemudian membuat kaum nasionalis Indochina memberanikan diri untuk menantang penguasa, kebanyakan dari mereka dipimpin oleh orang-orang komunis, yang memulai serangkaian pemberontakan melawan kekuasaan Prancis. Salah satu kelompok perlawanan adalah partai nasionalis yang didirikan pada tahun 1941 oleh Nguyen Ai Quoc, yang mengubah namanya menjadi Ho Chi Minh (“Dia yang Mencerahkan”). Pada konferensi yang dihadiri sejumlah kelompok nasionalis, ia membentuk Liga untuk Kemerdekaan Vietnam (Viet Nam Doc Lap Dong Minh Hoi), yang disingkat menjadi Viet Minh. Pada akhir tahun 1941, Viet Minh berhasil menguasai sepertiga dari pedesaan di wilayah Cao Bang di utara Vietnam. Menyusul perkembangan ini sebuah pusat pelatihan kemudian didirikan, yang mampu menyediakan partai itu, 40 petempur setiap 10 harinya.

Hitler di Paris, setelah tentara Jerman mengalahkan Prancis di tahun 1940. Kekalahan Prancis membuat Jepang mengambil keuntungan dari situasi ini, dengan menyerbu perbatasan Indochina serta mengancam akan mengebom Hanoi sambil menuntut agar dapat membuat pangkalan militer di Indochina. (Sumber: https://war-documentary.info/)
Pada tanggal 15 September 1941, pasukan Jepang mengendarai sepeda mereka memasuki kota Saigon. Setelah menduduki Indochina dan melucuti pasukan Prancis di sana, Jepang menyerahkan administrasi negara kepada pemerintah kolaborator Vichy Prancis hingga Maret 1945. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)
Orang-orang Vietnam ikut serta dalam pemberontakan rakyat pribumi melawan kekuasaan Prancis di Saigon, Vietnam Selatan, November 1940. Tanggal pastinya tidak diketahui. Untuk sementara Jepang membiarkan orang-orang Prancis berkuasa di Vietnam. (Sumber: https://hanfordsentinel.com/)

BAGAIMANA MENGEMBALIKAN TATANAN KOLONIAL? 

Dengan berakhirnya Perang Dunia II di Pasifik, niat Sekutu lama di wilayah itu adalah untuk kembali ke posisi kolonial mereka seperti sebelum invasi Jepang. Tujuan Inggris di Indochina saat itu adalah untuk mengusir Jepang dan mengembalikannya ke kekuasaan kelompok Prancis Merdeka, yang dipimpin oleh Jenderal Charles de Gaulle, tetapi ketika itu sikap Amerika sangat berbeda. Pada saat itu, Amerika secara umum menentang upaya restorasi kaum kolonial dan pemulihan kekuasaan kolonial Prancis di Indochina pada khususnya. Presiden Franklin D. Roosevelt menjelaskan bahwa dia tidak bersimpati pada Prancis dan kekaisaran mereka, “Prancis,” katanya, “telah menguasai Indochina dan 30 juta penduduknya selama hampir seratus tahun dan kondisi masyarakatnya menjadi lebih buruk daripada sebelum mereka datang.” Pada tahun 1943, Roosevelt mengatakan kepada putranya, Eliot, bahwa ia akan bekerja “dengan segenap tenaga” untuk menentang “rencana ambisius imperialis dari Prancis lebih lanjut”. Roosevelt mengusulkan bahwa pemerintahan Prancis harus diganti dengan perwalian yang akan mempersiapkan jalan menuju kemerdekaan bagi bangsa-bangsa di wilayah itu. Tetapi penentangan Amerika atas upaya restorasi kolonial di Asia Tenggara tidak berlangsung lama, terutama ketika menjadi jelas bahwa pemberontakan di Indochina, Malaya, dan Filipina, menggunakan metode perang revolusioner ala komunis China. Pada akhir 1946, di mata Amerika, penyebaran komunisme lebih berbahaya daripada kolonialisme bangsa-bangsa Barat di wilayah Timur Jauh.

Berbeda dengan rekannya dari Inggris, Presiden Franklin D. Roosevelt tidak tertarik mengembalikan tatanan kolonial barat di Indochina. Roosevelt menjelaskan bahwa dia tidak bersimpati pada Prancis dan kekaisaran mereka, “Prancis,” katanya, “telah menguasai Indochina dan 30 juta penduduknya selama hampir seratus tahun dan kondisi masyarakatnya menjadi lebih buruk daripada sebelum mereka datang.” (Sumber: https://www.liputan6.com/)

KAISAR BAO DAI, HO CHI MINH, DAN KUDETA JEPANG DI INDOCHINA 

Pada bulan Maret 1945, Jepang, dalam menanggapi situasi militer mereka yang memburuk di tempat lain dan takut akan adanya pendaratan pasukan Amerika di Indochina setelah jatuhnya Manila, melakukan kudeta di Indochina. Pada sore hari tanggal 9 Maret, setelah menempatkan pasukannya di tempat-tempat yang strategis, Jepang memerintahkan Gubernur Prancis untuk menempatkan tentaranya dibawah komando Jepang. Ketika respon yang ditunggu tidak kunjung datang, pasukan Jepang menyerang garnisun-garnisun Prancis. Mereka melucuti senjata dan memenjarakan pasukan Prancis dan memproklamirkan Indochina merdeka dari Prancis. Di Hanoi, Jepang secara seremonial menginternir tentara Prancis yang menyerah tanpa perlawanan. Aksi Jepang secara umum brutal namun efektif. Di Ha-Giang, mereka menggunakan wanita dan anak-anak Prancis sebagai “tameng” saat mereka menyerang perbentengan Prancis. Di benteng Briere de I’Isle, seluruh personel garnisun dibunuh dengan senapan mesin, sembari menyanyikan lagu kebangsaan Prancis, Marseillaise. Di tempat lain, beberapa tentara Prancis melawan dan mencoba berjuang mundur menuju ke China, dan meminta bantuan Sekutu. Inggris ingin membantu, tetapi Amerika, yang paling memungkinkan untuk melakukannya, menolak. Pihak Inggris sempat mengirimkan bantuan lewat udara, meski pesawat-pesawat angkutnya harus terbang sejauh 1.500 mil (2.414 km) dengan tanpa perlindungan dari pesawat-pesawat tempur. Sebaliknya, pesawat-pesawat Amerika, yang pangkalannya di selatan China, yang hanya sejauh 150 mil (241 km) menolak memberi bantuan pada garnisun Prancis yang terkepung. Pada akhirnya, sekitar 13.000 tentara Prancis yang tidak segera dapat ditaklukkan tentara Jepang dalam kudeta Jepang, 200 perwira dan 4.000 prajurit, menurut buku Memoires dari de Gaulle, terbunuh atau dibantai dalam upaya mereka mundur ke wilayah China. Total 320 perwira, baik orang Prancis atau Vietnam, dan 2.150 orang Eropa dan 3.300 tentara Vietnam selamat setelah menempuh perjalanan sejauh 800 mil (1.287 km) menuju ke Yunnan, China.

Pertemuan politik pro-Jepang di Hanoi setelah kudeta Jepang pada tanggal 9 Maret 1945. Kudeta Jepang benar-benar melucuti kekuasaan kaum kolonial Prancis di Indochina. Citra berkuasa Prancis di mata orang-orang Vietnam tidak pernah bisa pulih setelah peristiwa ini. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Bao Dai, Kaisar boneka Jepang, yang ditunjuk “memerintah” setelah kudeta Jepang di bulan maret 1945. (Sumber: https://alphahistory.com/)
Jenderal Vietnam Vo Nguyen Giap menginspeksi tentara Viet Minh selama perjuangan mereka melawan pendudukan Jepang pada tahun 1944. Giap dan Viet Minh kemudian mengubah nasionalisme mereka yang didorong oleh doktrin Komunis untuk melawan kolonial Prancis dan kemudian Amerika Serikat. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Di selatan, Jepang kemudian mendirikan pemerintahan boneka di bawah Kaisar Bao Dai, sementara di utara kelompok komunis mendirikan Pemerintah Revolusioner Sementara dan Tentara Pembebasan Nasional dengan maksud yang jelas untuk mengambil alih kekuasaan setelah Jepang dikalahkan. Pada musim panas 1945, pasukan Viet Minh telah membebaskan enam provinsi di bagian utara dan sebagian dari empat provinsi lainnya, serta telah membentuk pemerintahan lokal, dan membangun kekuatan militer mereka. Di selatan, partai-partai nasionalis yang dipimpin orang-orang komunis di Saigon dengan cepat bergerak untuk merebut organ-organ pemerintahan, melikuidasi atau mengintimidasi saingan mereka seperti biasa mereka melakukannya. Pihak Jepang yang sudah hampir pasti kalah tidak menentang pengambilalihan kekuasaan mereka di Vietnam karena mereka enggan membiarkan Prancis merebut kembali kendali atas koloni mereka ini. Sementara Sekutu resminya menyatakan bahwa Prancis memiliki kedaulatan atas Indochina, kebijakan Amerika dalam praktiknya adalah menentang pengembalian kepemilikan Prancis kepada mereka. Waktu itu tidak ada permusuhan resmi Amerika terhadap kelompok komunis yang dipimpin Viet Minh, dan Amerika benar-benar memberikan bantuan kepada mereka melalui Office of Strategic Services (OSS). Ketika kekalahan Jepang menjadi lebih jelas, Jenderal Vo Nguyen Giap, pemimpin gerilya Ho Chi Minh, menggerakkan pasukannya menuju delta Sungai Merah, dan ketika penyerahan Jepang datang pada bulan Agustus 1945, dia dan gerilyawannya adalah satu-satunya yang berada di tempat untuk mengambil keuntungan dari situasi yang ada. Pada tanggal 16 Agustus, dengan memanfaatkan momentum yang ada, Ho Chi Minh mengumpulkan 60 rekan-rekannya di Tran Tao, sebuah desa di Provinsi Thai Nguyen, utara Hanoi. Bagi Ho, waktunya sudah tiba untuk merebut kekuasaan dan bersiap menyambut pasukan sekutu ketika mereka datang. Ho lalu membentuk Komite Pembebasan Nasional, dengan mengangkat dirinya sendiri sebagai Presiden dan menyebut komite itu setara dengan “Pemerintahan Sementara”. Saat itu pasukan Prancis telah dilucuti oleh Jepang sejak Maret, dan karenanya, pada tanggal 17 Agustus, tidak ada yang bisa menghentikan Giap saat pasukannya untuk mengibarkan bendera merah dengan bintang kuningnya di seluruh Hanoi. Dia mengambil alih otoritas administratif atas nama Viet Minh dan juga merampasi persenjataan Jepang dan Prancis, yang memberinya sekitar 31.000 senapan, 700 senjata otomatis, 36 senjata artileri, dan 18 tank, serta persediaan amunisi yang besar untuk dibagikan pada tentaranya.

MEMBAGI INDOCHINA DALAM TATANAN PASKA PERANG

Bagi Sekutu, Indochina termasuk dalam Medan Operasi China-Burma-India di bawah kepemimpinan Jenderal Nasionalis China Chiang Kai-shek yang memiliki dua penasihat militer asal Amerika, Jenderal Albert C. Wedemeyer dan Joseph Stilwell, yang secara alami berbagi pandangan anti-kolonial dari pemerintah Amerika. Pada satu titik, tampak seolah-olah Tentara kolonial Prancis, sebelum dilucuti senjatanya pada tahun 1945, akan melakukan kudeta terhadap Jepang. Perwira Eksekutif Operasi Khusus Inggris (SOE), yang disebut sebagai Force 136 di Asia, mencoba menghubungi Angkatan Darat kolonial Prancis untuk memberi mereka nasihat, perbekalan, dan dorongan untuk beraksi. Wedemeyer lalu mendapat berita tentang itu dan mengatakan itu adalah penyalahgunaan dari peralatan Pinjam-Sewa Amerika dan jika operasi tidak berhenti, peralatan itu akan ditarik. Sementara itu, di Potsdam pada bulan Juli 1945, para pemimpin Sekutu membagi Indochina menjadi dua wilayah yang terbagi oleh garis paralel ke-16 derajat dan memutuskan bahwa Chiang Kai-shek akan menerima penyerahan Jepang di area utara dan kemudian mengembalikan wilayah itu ke otoritas Prancis, sedangkan Lord Louis Mountbatten, Panglima Tertinggi Inggris, di Komando Asia Tenggara, akan menerima penyerahan tentara Jepang di area selatan dan memulihkan kekuasaan Prancis di sana. Mountbatten lalu membentuk Komisi Kontrol Sekutu yang berbasis di Saigon. Komisi ini akan memiliki sebuah divisi infanteri untuk menjaga ketertiban sipil di dalam dan sekitar Saigon, sementara komisi itu sendiri akan mengurus terutama dengan membubarkan Markas Besar Angkatan Darat Kekaisaran Jepang di Asia Tenggara dan memberikan bantuan kemanusiaan dan bantuan kepada tawanan perang serta interniran Sekutu. Mayor Jenderal Douglas Gracey ditunjuk untuk mengepalai misi dan membawa serta 22.000 prajurit berpengalaman divisinya, yakni Divisi India ke-20.

Mayor Jenderal Douglas Gracey dari Inggris ditunjuk untuk mengepalai misi dan membawa serta 22.000 prajurit berpengalaman divisinya, yakni Divisi India ke-20 untuk memulangkan tentara Jepang di Vietnam bagian selatan dan membebaskan para tawanan sekutu. (Sumber: https://cdn.knightlab.com/)

“SEMUA MANUSIA DICIPTAKAN SAMA” 

Setelah Jepang menyerah, pasukan Viet Minh mengkonsolidasikan cengkeraman kekuasaan mereka di utara, dan dengan Hanoi di tangannya pada tanggal 2 September, Ho Chi Minh memproklamirkan berdirinya Republik Demokratik Vietnam. Ho lalu membacakan Deklarasi Kemerdekaan Vietnam kepada banyak orang di Hanoi. Dalam momen ini ia tidak ragu-ragu untuk mengutip Deklarasi Kemerdekaan Amerika dari tahun 1776, yang berbunyi: “Semua manusia diciptakan sama. Mereka diberkahi oleh Pencipta mereka dengan hak-hak tertentu yang tidak dapat dicabut, di antaranya adalah Kehidupan, Kebebasan, dan Pengejaran akan Kebahagiaan.” Dia melanjutkan: “Seluruh rakyat Vietnam, yang digerakkan oleh tujuan yang sama, bertekad untuk berjuang sampai akhir melawan segala upaya penjajahan dari Prancis untuk merebut kembali negara mereka. Kami yakin bahwa negara-negara Sekutu yang bertemu di Teheran dan San Francisco telah mengakui prinsip-prinsip penentuan nasib sendiri dan persamaan hak antar bangsa, tidak akan menolak untuk mengakui kemerdekaan Vietnam. Orang-orang yang dengan berani menentang dominasi Prancis selama lebih dari 80 tahun, orang-orang yang telah berjuang berdampingan dengan Sekutu melawan kekuatan Fasis selama tahun-tahun terakhir ini, orang-orang seperti itu harus bebas dan mandiri.”

Presiden Ho Chi Minh mendeklarasikan Kemerdekaan Vietnam pada tanggal 2 September 1945. Ho tidak ragu-ragu untuk mengutip Deklarasi Kemerdekaan Amerika dari tahun 1776 dalam momen tersebut. (Sumber: https://vietnamtimes.org.vn/)

REVOLUSI KOMUNIS DI SAIGON 

Sementara kekuatan komunis mengkonsolidasikan kekuasaan mereka di utara dan mendirikan pemerintahan yang stabil dengan dukungan masyarakat luas di Hanoi, di selatan pengaruh mereka tidak begitu kuat. Di Saigon ada sejumlah organisasi nasionalis dan sosialis yang bersaing untuk mendapatkan pengaruh dan kekuasaan. Pada tanggal 21 Agustus, Front Persatuan Nasional mengorganisir demonstrasi militan besar di Saigon, menyatukan organisasi Cao Dai dan Hoa Hao dan gerakan Trotskyis yang kuat di kota itu. Ini adalah unjuk kekuatan oleh mereka yang kritis terhadap kebijakan komunis dan menunjukkan bahwa di sini, di selatan, Viet Minh tidak akan memiliki semuanya dengan cara mereka sendiri. Pada tanggal 25 Agustus, Viet Minh mengorganisir demonstrasi mereka sendiri yang jauh lebih besar di Saigon dan membentuk Komite Selatan sebagai pemerintahan revolusioner. Komite tersebut, yang dipimpin oleh pemimpin komunis Tran Van Giau, yang berusaha membangun kendali atas Saigon dan memperluas pengaruhnya ke seluruh wilayah selatan Vietnam lainnya. Pada tanggal 2 September, selama demonstrasi komunis besar-besaran lainnya di Saigon, lima orang Prancis dan sejumlah orang Vietnam terbunuh. Beberapa tersangka asal Prancis ditangkap tetapi kemudian dibebaskan atas desakan Komite Selatan. Pihak komunis bertekad untuk menghindari apa pun yang dapat membuat pasukan Sekutu melawan mereka. Mereka tidak bersiap untuk melawan pasukan Inggris dalam perjalanan mereka untuk menduduki Saigon. Mereka berharap bisa bekerja sama dengan mereka.

Pemimpin komunis Tran Van Giau, yang berusaha membangun kendali atas Saigon dan memperluas pengaruhnya ke seluruh wilayah selatan Vietnam lainnya. (Sumber: https://hoangquang.wordpress.com/)
Liga Trotskis Vietnam di Saigon, 21 Agustus 1945. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Demonstrasi damai di Hanoi mendukung kemerdekaan Vietnam, Agustus 1945. (Sumber: https://www.quora.com/)

KETERLAMBATAN MACARTHUR

Beberapa pasukan Inggris sudah berada di laut, menuju Indochina ketika Jenderal Douglas MacArthur membuat kebingungan dengan melarang pendudukan kembali Indochina sampai dia secara pribadi menerima penyerahan tentara Jepang di Tokyo, yang ditetapkan akan dilaksanakan pada tanggal 28 Agustus. Namun angin topan menyebabkan upacara ditunda hingga tanggal 2 September. Perintah MacArthur ini berarti bahwa tawanan perang sekutu akan tetap berada dalam kondisi mengenaskan di kamp penjara mereka lebih lama dari yang diperlukan, dan penundaan tambahan sebelum pasukan Inggris tiba memungkinkan kelompok-kelompok revolusioner untuk mengisi kekosongan kekuasaan yang telah ada sejak pengumuman kapitulasi Jepang pada tanggal 15 Agustus. MacArthur kemudian mengadakan upacaranya di atas kapal tempur USS Missouri di Teluk Tokyo pada tanggal 2 September. Setelah itu tim medis Inggris mulai diterjunkan dengan parasut ke kamp-kamp penjara. Rombongan personel pendukung dengan pengawalan pasukan dari pasukan jenderal Gracey lalu tiba di Saigon untuk memeriksa kondisi dan melaporkan kembali situasi yang ada, dan pada tanggal 11 brigade pertama dari Divisi India ke-20 mulai terbang dari Burma melalui Bangkok. Ketika unit-unit Sekutu terdepan sekutu ini mendarat di Saigon, mereka mendapati diri mereka dalam posisi canggung saat disambut dan dijaga oleh tentara Jepang dan Viet Minh yang bersenjata lengkap. Kekuatan divisi penuh pasukan Inggris tidak akan bisa digelar di Vietnam sampai akhir bulan Oktober.

Upacara penyerahan Jepang di atas kapal tempur USS Missouri di Teluk Tokyo pada tanggal 2 September. Penundaan proses penyerahan tentara Jepang sebelum pasukan Inggris tiba memungkinkan kelompok-kelompok revolusioner untuk mengisi kekosongan kekuasaan di Vietnam yang telah ada sejak pengumuman kapitulasi Jepang pada tanggal 15 Agustus. (Sumber: https://www.youtube.com/)

MEMULIHKAN KETERTIBAN DI VIETNAM SELATAN

Jenderal Gracey tiba di Saigon pada tanggal 13 September. Dia segera dihadapkan pada anarki dan kekacauan di kota di mana pembunuhan adalah hal biasa. Layanan administrasi telah runtuh dan kelompok revolusioner yang dipimpin komunis secara longgar telah merebut kekuasaan—tentara mereka menjaga semua titik vital di kota termasuk gedung kantor Gracey sendiri. Orang-orang Jepang masih bersenjata lengkap, sementara cuaca buruk memperlambat penerbangan Divisi India Gracey, dan di atas semua itu, dia tidak dapat berkomunikasi dengan markas besarnya di Burma, karena pada saat terakhir, detasemen sinyal orang-orang Amerika miliknya, karena alasan politik telah ditarik pihak Amerika Serikat. Proses penggantiannya akan memakan waktu berminggu-minggu. Setibanya di sana, Gracey didekati oleh Komite Selatan, tetapi dia menolak untuk berurusan dengan mereka. Dia hanya tertarik dengan otoritas militer Jepang dan Prancis. Dia memperingatkan bahwa jika sesuatu tidak dilakukan dengan cepat, keadaan anarki akan memburuk dengan kurangnya kontrol Viet Minh atas beberapa kelompok sekutu mereka. Penolakan Gracey untuk mengakui keberadaan Komite Selatan benar-benar merusak potensi perdamaian, yang memaksa kelompok komunis untuk melakukan konfrontasi, dan memperkuat posisi mereka yang menganjurkan perlawanan bersenjata. Pada tanggal 17 September, komite mencoba memaksa Gracey untuk mengakuinya dengan memberlakukan boikot terhadap orang-orang Prancis, dan menyerukan serangkaian pemogokan serta memerintahkan penutupan pasar Saigon untuk memutus pasokan makanan ke kota. Gracey kemudian memutuskan bahwa komite tersebut harus dihancurkan, dan pada 19 September ia menutup pers Vietnam dan mengambil alih kontrol radio Saigon (meski ia membolehkan pers dan radio Prancis tetap beroperasi). Dia melarang semua demonstrasi dan pertemuan di Indochina selatan, melarang membawa senjata, menerapkan kembali peraturan jam malam Jepang, dan memperkenalkan hukuman mati untuk berbagai pelanggaran ketertiban umum. Sebagai lanjutan, ia menyatakan kondisi darurat militer.

Seorang perwira angkatan laut Jepang menyerahkan pedangnya kepada seorang letnan angkatan laut Inggris di Saigon pada tanggal 13 September 1945. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

KUDETA PRANCIS

Gracey kemudian dibujuk oleh orang-orang Prancis untuk mempersenjatai kembali tentara Resimen Infanteri Kolonial lokal mereka yang ditahan sebagai tahanan dan akan menggunakannya untuk mengusir Viet Minh dari cengkeraman kekuasaan mereka di Saigon. Gracey melihat ini sebagai cara tercepat untuk memungkinkan Prancis menegaskan kembali otoritas mereka, sementara membiarkan dia melanjutkan tugasnya dengan melucuti senjata dan memulangkan tentara Jepang, di antaranya ada sekitar 35.000 orang. Pada tanggal 22 September, hanya sehari setelah dibebaskan, pasukan Prancis ini bersama dengan komando 5th Colonial Infantry Regiment (RIC) yang baru dibentuk mulai bergerak. Mereka memasuki Hall kota Saigon, dan mengusir apa yang disebut Viet Minh sebagai Provisional Executive Committee. Selama beberapa hari berikutnya, Viet Minh didongkel dari cengkeraman mereka di Saigon. Gracey mengganti penjagaan mereka di titik-titik vital dengan pasukannya sendiri, yang memberi jalan kepada orang-orang Prancis karena Viet Minh tidak akan pernah menyerahkan posisi mereka langsung kepada pihak Prancis. Pada tanggal 23 September, Prancis telah mendapatkan kembali kendali atas kota, dan kemudian Gracey mengizinkan 1.000 mantan tahanan Prancis untuk dipersenjatai kembali. Dibantu oleh Resimen Infanteri Kolonial yang baru datang, mereka mengusir Viet Minh dalam kudeta di mana hanya dua tentara Prancis dan tidak ada orang Vietnam yang terbunuh. Komisaris Prancis, Kolonel Henri Cedile, sekarang memiliki sekitar 1.500 tentara bersenjata lengkap di bawah kendalinya, dan dia menggunakan mereka untuk melakukan kudeta. Para prajurit merebut gedung-gedung milik publik, menangkap sejumlah besar orang Vietnam (Komite Selatan berhasil melarikan diri dari mereka), mengibarkan bendera Tricolor Prancis di atas balai kota Saigon, dan memulai perayaan. Para prajurit dengan dibantu oleh beberapa warga sipil Prancis lalu menyerbu kota, memasuki rumah dan toko-toko orang Vietnam, dan dengan tidak pandang bulu memukuli pria, wanita, dan bahkan anak-anak. Sementara itu, dengan kudeta Prancis ini, Gracey mengakhiri keadaan darurat militer dan Jenderal Jacques Leclerc memberi tahu Lord Mountbatten, bahwa “Jenderal Gracey telah menyelamatkan Indochina Prancis.”

Tentara Prancis, merebut kembali kendali Saigon pada bulan September 1945, menangkapi para tokoh nasionalis Vietnam untuk dipenjara. (Sumber: https://www.quora.com/)

BENTROKAN ANTARA ORANG-ORANG INGGRIS DAN VIETMINH

Tidak terima, orang-orang Vietnam segera bereaksi. Pada malam tanggal 24 September, massa yang marah, menculik, membantai, memperkosa dan memutilasi lusinan pria, wanita, dan anak-anak keturunan Prancis dan Prancis-Vietnam. Episode paling brutal terjadi di Cite Herault, kawasan pemukiman di pinggiran kota. Pada saat fajar, para teroris kelompok Binh Xuyen yang dipimpin oleh para agen Viet Minh pimpinan tokoh komunis Vietnam Selatan, Tran Van Giau menyusup melewati para penjaga Jepang, yang menjaga kawasan itu. Dengan mendobrak pintu dan memecahi jendela, mereka memasuki kamar-kamar di perumahan dan membantai 150 warga sipil Prancis dan Eurasia, dengan tidak membiarkan wanita dan anak-anak. Mereka menyeret sekitar seratus lainnya sebagai sandera, memutilasi beberapa sebelum meninggalkannya kemudian. Seperti bisa diduga, para sejarawan komunis tidak pernah menyinggung kekejaman ini dalam catatan mereka mengenai periode kelam ini. Jika kemudian ada yang bertanya mengenai kapan dimulainya Perang Indochina Pertama, tanggal 24 September mungkin adalah hari yang dimaksud. Pada tanggal 25, Viet Minh menyerang dan membakar pasar pusat dan menyerang perimeter lapangan terbang Tan Son Nhut tetapi bisa dihalau oleh tentara Gurkha, di mana satu tentara Inggris tewas bersama dengan setengah lusin Viet Minh. Inggris sekarang menghadapi perang dengan Viet Minh, sesuatu yang Mountbatten coba hindari. Selama beberapa hari berikutnya pihak-pihak bersenjata Viet Minh bertempur melawan patroli tentara Inggris/India di seluruh kota dengan Viet Minh menderita kerugian yang makin meningkat. Mortir, meriam kaliber 25-pounder dan senapan mesin berat digunakan oleh tentara Inggris dalam pertempuran jalanan. Pasukan Inggris sudah sangat berpengalaman, karena telah bertempur melintasi Burma melawan tentara Jepang, dan banyak perwira serta prajurit lainnya memiliki pengalaman dalam membentuk keamanan internal dan perang gerilya di India dan di Perbatasan Barat Laut.

Pasukan Inggris tiba di Saigon pada tanggal 9 September 1945 bertugas untuk melucuti senjata tentara Jepang dan mengatur pemulangan mereka. Faktanya tentara Jepang untuk sementara waktu tidak dilucuti tetapi digunakan oleh Inggris untuk melawan Gerilyawan Vietnam, dan di bawah Pemerintah Partai Buruh Clement Atlee, untuk menyerahkan kendali Vietnam kembali kepada Prancis. (Sumber: https://www.alamy.com/)

Seorang perwira Inggris mengamati, ”Viet Minh adalah musuh yang berani, tetapi masih perlu belajar banyak tentang cara berperang.” Dalam situasi yang membingungkan inilah komandan OSS di Saigon, Letnan Kolonel Peter Dewey, dibunuh oleh Viet Minh. Dia mungkin dikira sebagai perwira Prancis. Yang menjadi ironi, beberapa waktu sebelumnya Dewey sempat bertentangan pendapat dengan Jenderal Gracey. Dewey, meski pro Prancis, namun tidak setuju dengan sikap bias Gracey terhadap Prancis, sebaliknya Gracey mencurigainya bekerja sama dengan Viet Minh, dan meminta Gracey untuk segera meninggalkan Vietnam. Sebelum kepergiannya, Dewey merangkum situasi chaos di Vietnam dengan kalimat yang terbukti profetik: “Cochinchina sedang terbakar, (petualangan) Prancis dan Inggris akan segera berakhir di sini, dan kita (merujuk pada Amerika serikat) harus segera pergi dari Asia Tenggara.”  Sehari setelah Dewey terbunuh, seorang perwira OSS menolak untuk campur tangan ketika pasukan Viet Minh menangkap seorang perwira Prancis dan mengeksekusinya. Orang Amerika itu menyatakan bahwa dia netral. Mountbatten memprotes Amerika, tetapi tampaknya mereka “berada di pihak lain dalam perang ini.”

“SAYA AKAN MENGARAHKAN MERIAM PADA MEREKA” 

Sebuah laporan oleh NCO unit artileri Inggris memberikan beberapa gambaran tentang situasi yang mungkin dihadapi seorang tentara Inggris yang berpatroli di Saigon pada saat itu: “Kadang-kadang kami menemukan pemberontak, kelompok campuran dari tentara Jepang dan Viet Minh. Satu kelompok telah mengambil alih sebuah bungalo dekat Saigon yang telah ditempati oleh seorang manajer perkebunan Prancis; mereka telah memotong leher pria itu dan istri serta anak-anaknya dan kemudian membuat pertahanan mereka sendiri di bawah bungalo yang dibangun di atas panggung sekitar dua kaki di atas tanah. Mereka adalah dua orang tentara Jepang dengan sebuah senapan mesin dan lima orang Viet Minh dengan senapannya menahan serangan dari batalion kolonial pimpinan orang-orang Prancis yang terdiri dari sekitar 450 personel. Orang Prancis dilatih dengan buruk, tidak disiplin—pasukan kolonial yang mengerikan. Mereka meminta kami untuk menggunakan meriam kami. “Kami menembakkan sepuluh peluru pada jarak 400 yard (365 meter), membuat bungalo itu menjadi puing-puing. Pada saat ini orang-orang Prancis telah memutuskan untuk masuk, jadi peluit ditiup dan semua orang berteriak dan menembak. Kami berdiri menatap mereka dengan takjub. Kami sudah terbiasa dengan tentara Gurkha yang datang seperti ular melewati rerumputan. Anda tidak akan pernah mendengar apa pun dari mereka. Di sini kontras, betapa banyak tentara ini, meniup terompet dan semua orang berteriak. Dalam huru-hara para pemberontak melarikan diri melalui bagian belakang bungalo. “Mereka meninggalkan seorang lelaki tua yang selamat dari penembakan. Dia jelas seorang pembawa pesan, dan dia ketakutan. Orang-orang Prancis itu menendang dan memukulinya. Mereka mengatakan mereka menginterogasinya, tetapi Anda bisa melihat dia tidak tahu apa-apa. Komandan baterai kami, yang berbicara bahasa Prancis, berlari dan mulai memberi tahu mereka apa yang dia pikirkan tentang ini. Dia didorong ke samping dan disuruh berperang dan membiarkan mereka berperang. Dia kembali dengan marah.” Sementara itu, seutas kabel telepon diikatkan di leher lelaki tua itu dan ujungnya dilemparkan ke dahan pohon. “Perwira kami mendatangi mereka lagi; dia marah karena frustrasi. Dia kembali dan menyuruhku untuk tidak mengendurkan diri. ‘Saya tidak akan tinggal diam dan menyaksikan pembunuhan berdarah dingin semacam ini’ katanya saat kami meninggalkan mereka. Kemudian pada hari itu, dia berkata: ‘Jika itu terus terjadi, saya akan mengarahkan meriam kepada mereka’. Jika dia melakukannya, dia akan didukung penuh oleh pasukannya. Itu adalah Indochina Prancis. Kami senang untuk pergi akhir tahun itu.” Sementara tentara Inggris berusaha untuk membersihkan Saigon, Viet Minh menyusup ke pinggiran kota dan membuat penghalang jalan yang secara efektif mengisolasi kota dari bagian wilayah lainnya.

Pasukan keturunan India dalam tentara Inggris. Gerilyawan Vietminh harus melawan pasukan semacam ini yang lebih berpengalaman. (Sumber: https://thediplomat.com/)

MENGHANCURKAN PERDAMAIAN YANG RAPUH

Pada awal bulan Oktober, Gracey melakukan kontak dengan Viet Minh dan pembicaraan gencatan senjata dimulai. Bagi Inggris, pembicaraan itu adalah cara untuk mengulur waktu agar lebih banyak pasukan dapat diterbangkan ke Vietnam. Pada tanggal 5 Oktober, Jenderal Jacques Leclerc tiba di Saigon untuk mengambil alih komando pasukan Prancis; dia dan pasukannya akan berada di bawah komando Gracey. Pada tanggal 10 Oktober, perdamaian yang rapuh dengan Viet Minh dirusak oleh serangan tak beralasan terhadap pasukan zeni Inggris yang memeriksa saluran air di dekat Tan Son Nhut. Semua anggota pasukan terbunuh atau terluka. Hal ini membuat Gracey menerima kenyataan bahwa tingkat pemberontakan bersenjata sudah sedemikian rupa sehingga dia harus terlebih dahulu menenangkan area-area kunci sebelum dia mampu untuk memulangkan tentara Jepang. Brigade kedua Gracey, Brigade ke-32 dari Divisi India ke-20 yang dipimpin oleh Brigadir E.C.V. Woodford, telah tiba untuk bergabung dengan brigade pertamanya bersama ini datang juga brigade ke-80, yanf dikomandani oleh Brigadir D.E. Taunton. Brigade ketiganya, yakni brigade ke-100, dipimpin oleh Brigadir C.H.B. Rodham, dijadwalkan tiba pada tanggal 17 Oktober. Sehari setelah serangan terhadap kelompok pasukan zeni-nya, Gracey mengerahkan Brigade ke-32 ke pinggiran utara Saigon yang bermasalah, di Gò Vấp dan Gia Định, serta mereka mengusir orang-orang Viet Minh keluar dari pinggiran kota. Kekuatan yang dikerahkan Inggris, termasuk dukungan dari mobil-mobil lapis baja dari Resimen Kavaleri Ringan ke-16 India. Pengintaian udara oleh pesawat-pesawat Spitfire mengungkapkan bahwa jalan-jalan yang mendekati Saigon telah diblokir. Viet Minh jelas berusaha mengepung kota. Pada tanggal 13 Oktober, Lapangan Udara Tan Son Nhut diserang oleh Viet Minh yang datang dalam jarak 275 meter dari menara kontrol, dan mereka berada di pintu stasiun radio sebelum serangan itu ditangkal oleh pasukan India dan Jepang dengan kerugian besar bagi pihak Viet Minh. Saat Viet Minh didorong mundur dari perimeter lapangan terbang, tentara Jepang, di bawah perintah Inggris, mengejar mereka sampai malam, membunuhi lebih banyak dari mereka. Pertempuran di dalam dan sekitar Saigon berkembang menjadi karakteristik yang kemudian menjadi umum—penyergapan, pembunuhan, serangan tembak lari, penyisiran oleh pasukan keamanan, dan sebagainya. Ini adalah yang pertama dari perang modern yang tidak konvensional dan, meskipun Viet Minh memiliki pasukan yang cukup untuk mempertahankan kampanye militer yang panjang, mereka dipukul mundur oleh pasukan profesional yang dipimpin dengan baik, yang tidak asing dengan situasi Asia. Pada pertengahan bulan Oktober, lebih dari 300 orang Viet Minh dipastikan tewas oleh pasukan Inggris, India, dan Gurkha dan 225 lainnya oleh tentara Jepang, termasuk 80 lebih Viet Minh di Da Lat. Korban di pihak Inggris, Prancis, dan Jepang sebaliknya sangat kecil.

Dalam penugasannya di Vietnam tentara Inggris mengerahkan juga personel Gurkha yang tangguh untuk melawan gerilyawan Vietminh. (Sumber: https://www.forces.net/)

Viet Minh kemudian memusatkan serangan di titik-titik vital Saigon, di pembangkit listrik, dermaga, lapangan terbang, dan sumur artesis kota. Listrik di Saigon secara berkala padam di malam hari, dan suara senjata kecil, granat, ranjau, mortir, dan artileri menjadi akrab terdengar. Pada satu kesempatan tentara Jepang memukul mundur serangan terhadap markas mereka di Phu Lam, yang menewaskan lebih dari 100 personel Viet Minh. Tidak dapat menaklukkan pertahanan kota, Viet Minh lalu mengintensifkan taktik pengepungan mereka ketika pasukan pertama tiba dari Prancis. Mereka digunakan untuk membantu memecahkan pengepungan, sementara patroli Inggris yang agresif membuat Viet Minh kewalahan. Pada tanggal 25 Oktober, satu-satunya bukti yang diketahui tentang keterlibatan langsung personel Soviet di daerah itu muncul, ketika patroli Jepang menangkap seorang penasihat asal Rusia di dekat Thủ Dầu Một. Dia diserahkan kepada Letnan Kolonel Cyril Jarvis, komandan 1/1 Gurkha Rifles. Jarvis mencoba melakukan beberapa upaya interogasi, tetapi tidak membuahkan hasil, sehingga penyusup Russia itu diserahkan ke Sûreté, departemen investigasi kriminal Prancis (setara dengan CID). Dari sana kisah mengenai sosok “misterius” ini menghilang dari catatan sejarah.

LETNAN KOLONEL GATES DAN ‘GATEFORCE’ PIMPINANNYA

Pada tanggal 29 Oktober Inggris membentuk satuan tugas dengan tujuan mendesak unit utama kekuatan Viet Minh lebih jauh dari Saigon. Satuan ini dinamai Gateforce, sesuai nama komandannya, Letnan Kolonel Gates berasal dari satuan 14/13 Frontier Force Rifles. Gateforce terdiri dari pasukan infanteri India, artileri dan mobil lapis baja dan batalyon infanteri asal Jepang. Dalam operasi di Xuan Loc, timur Saigon, antara 160 dan 190 Viet Minh dibunuh oleh tentara India dan 50 dibunuh oleh Jepang, semua yang terakhir tewas dalam pertempuran singkat ketika Viet Minh dikejutkan saat sedang dalam pelatihan. Dalam operasi lain, pada bulan November, unit Gurkha berangkat ke Long Kien di selatan Saigon untuk menyelamatkan para sandera Prancis yang ditahan di sana. Dalam perjalanan mereka diserang oleh unit-unit Viet Minh, beberapa di antaranya dipimpin oleh pembelot dari tentara Jepang. Pada satu titik pasukan Gurkha ditahan oleh kekuatan Viet Minh yang menduduki benteng tua Prancis. Tentara Gurkha kemudian mendobrak pintu dengan bazooka dan masuk diam-diam hanya dengan bersenjata kukri, membunuhi semua yang bertahan dengan pisau. Mereka mencapai Long Kien pada hari yang sama tetapi terlambat – para sandera Prancis telah dibawa pergi.

Dalam foto dari bulan Oktober 1945 ini, sepasang tentara Jepang bersenjata duduk di jalanan Saigon, membantu Inggris dalam upaya mereka untuk menjaga ketertiban selama pemberontakan oleh berbagai faksi politik di Indochina. Pertempuran terlihat berkecamuk di kejauhan. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

PERTEMPURAN TERAKHIR TENTARA INGGRIS DENGAN VIET MINH

Pada awal bulan Desember, Gracey menyerahkan pinggiran utara kota Saigon ke tangan pasukan Prancis dengan Brigade ke-32 menyerahkan tanggung jawab kepada Divisi Infanteri Kolonial ke-9  pimpinan Jenderal Jean-Etienne Valluy. Pada hari Natal, Brigade ke-32 berangkat ke Kalimantan. Banyak dari tentara Prancis yang baru tiba adalah mantan Maquis (Gerakan Perlawanan Prancis terhadap Jerman saat Perang Dunia II), yang tidak terbiasa dengan disiplin yang ketat, dan banyak dari mereka mengabaikan orang-orang Asia. Hal itu menyebabkan Gracey menulis surat yang pedas kepada Jenderal Leclerc, mengecam orang-orang Prancis yang memandang rendah tentara India-nya. Dia menulis: “Para prajurit kami, apa pun warna kulitnya, adalah teman kami dan tidak dianggap sebagai laki-laki ‘kulit hitam’. Mereka mengharapkan dan pantas diperlakukan dalam segala hal sebagai tentara profesional kelas satu, selayaknya mereka diperlakukan, dan, persis sama seperti tentara kulit putih…. jelas tradisi Angkatan Darat India kami tidak dipahami (oleh orang-orang Prancis).” Sementara itu, penggunaan pasukan Jepang dalam jumlah besar melawan Viet Minh membuat marah banyak tentara Inggris dan menyebabkan kemarahan di Inggris, tetapi Gracey merasa perlu untuk menambah jumlah pasukannya yang tidak memadai dan untuk meminimalkan korban di pihak Inggris. Seringkali, ketika perlawanan Viet Minh yang sengit ditemukan, pasukan Jepang segera dikirim untuk menghadapinya. Selama pertempuran di Dataran Tinggi Tengah Vietnam Selatan, Viet Minh memaksa pasukan Prancis meninggalkan banyak desa dan posisi yang baru direbut di Dataran Tinggi Tengah. Orang-orang Vietnam kemudian merebut kembali kota Buôn Ma Thuột pada pertengahan Desember.

Spitfire Mk. XIV dari 273 Sqn RAF di Pangkalan Udara Tan Son Nhut, Saigon. Skuadron mulai menerima pesawat ini pada bulan November 1945. Keterlibatan Inggris di Vietnam semakin jauh sehingga memaksa mereka untuk mengerahkan kekuatan udaranya dalam memerangi gerilyawan Vietminh. (Sumber: https://www.keymilitary.com/)
Tawanan perang Jepang di bawah pengawasan Inggris memperbaiki landasan di lapangan terbang Saigon. Di belakang mereka terdapat pesawat de Havilland Mosquito RAF, Desember 1945. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Personel Komando Prancis Merdeka di Saigon diberi hormat oleh Personil Jepang yang Menyerah pada bulan November 1945. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Pada tanggal 11 Desember pesawat-pesawat tempur Spitfire dari Skuadron ke-273 RAF diketahui menyerang posisi-posisi Viet Minh. Pada akhir bulan Desember, Inggris siap untuk mulai menyerahkan area selatan Vietnam ke tangan Prancis. Pertempuran terakhir antara pasukan Inggris dan Viet Minh terjadi pada tanggal 3 Januari 1946, ketika sekitar 700 orang Viet Minh, termasuk 200 kader dari utara menyerang posisi Pasukan 14/13 Frontier Force Rifles di Bien Hoa. Pertempuran berlangsung sepanjang malam, dan ketika itu lebih dari 80 Viet Minh telah tewas tanpa kehilangan seorangpun dari tentara India. Pada pertengahan bulan Januari, dengan Viet Minh sekarang menghindari serangan besar-besaran terhadap pasukan Inggris, Brigade ke-80 menyerahkan wilayah yang didudukinya kepada Prancis dan Brigade ke-100 mundur ke Saigon. Gracey pergi dari Vietnam pada tanggal 28. Pada saat keberangkatannya, kendali atas semua pasukan Prancis diserahkan kepada Jenderal Leclerc. Pada tanggal 30 Maret 1946, dua batalyon Inggris/India terakhir meninggalkan Indochina dengan menumpang kapal SS Islami, dan hanya menyisakan satu kompi Punjab 2/8 untuk menjaga Komisi Kontrol Sekutu di Saigon dan beberapa pasukan khusus untuk membantu pihak Prancis. Pada tanggal 15 Mei, komisi dibubarkan dan tentara Punjab pergi. Tentara Inggris terakhir yang tewas di Indochina adalah enam tentara yang tewas dalam penyergapan pada bulan Juni. Menurut Inggris dalam Perang di Vietnam, angka korban resmi menyebutkan bahwa 2.700 Viet Minh tewas. Sekitar 600 tewas oleh pasukan Inggris/India, sisanya oleh tentara Jepang dan Prancis. Mengingat efisiensi Viet Minh dalam mengevakuasi korban tewas dan terluka, angkanya mungkin dua atau tiga kali lipat dari angka tersebut. Empat puluh tentara Inggris/India tercatat tewas dalam periode ini. Sementara itu, angka kematian orang-orang Prancis dan Jepang jauh lebih tinggi.

OPERASI BRUTAL INGGRIS

Operasi militer Inggris melawan Viet Minh dilakukan dengan kejam—itu adalah penaklukan dengan kekuatan bersenjata atas musuh yang berdedikasi di dalam area perkotaan. Dalam instruksi operasi ke Divisi ke-20, para perwira diperingatkan bahwa mereka akan kesulitan untuk membedakan teman dari musuh dan mereka harus selalu menggunakan kekuatan maksimum yang tersedia untuk memastikan pemusnahan musuh. “Jika satu pihak terlalu banyak menekan, tidak ada pembatasan yang perlu dilakukan.” Bagi Inggris, Indochina bukanlah operasi untuk merebut “hati dan pikiran rakyat”. Mountbatten merasa ngeri ketika dia mengetahui bahwa tentara Inggris membakar rumah-rumah warga sebagai pembalasan atas serangan gerilya, dan dia mengeluh kepada Gracey, “Tidak bisakah kamu memberikan pekerjaan yang tidak menyenangkan (jika itu benar-benar dibutuhkan secara militer) kepada orang-orang Prancis?” Gracey menjawab bahwa dia menganggap tentara Prancis terlalu tidak disiplin dan tidaj dapat diandalkan. Tanpa Gracey dan pasukannya, Prancis mungkin akan mustahil untuk bisa membangun kekuatan mereka kembali di Indochina. Tanggung jawab atas intervensi Inggris di Indochina terletak pada pemerintahan Partai Buruh di London, yang saat itu terlibat dalam perjuangan untuk mempertahankan kolonialisme bangsa Eropa di jajahannya. Dari sudut pandang ini Inggrislah yang layak disebut memulai Perang di Vietnam dan memungkinkan Prancis untuk melanjutkannya, dengan bantuan Amerika, hingga kekalahan mereka pada tahun 1954. Pertempuran dari bagian akhir intervensi Inggris hingga upaya Prancis untuk memulihkan kekuasaan mereka sebelumnya memiliki beberapa ciri-ciri yang tidak biasa. Yang pertama terletak pada demografi Vietnam yang tidak umum. Sebagian besar populasi terkonsentrasi di dua wilayah delta, yaitu Sungai Merah di utara dan Sungai Mekong di selatan. Ada sekelompok kecil penduduk yang cukup padat di sepanjang pantai timur, tetapi sebagian besar dataran tinggi tengah sangat jarang penduduknya, dan terutama dihuni oleh suku-suku pegunungan yang secara tradisional memusuhi orang-orang Vietnam kebanyakan. Sehingga upaya untuk mengontrol rakyat Vietnam terkonsentrasi di dua wilayah yang berjauhan.

Dibawa ke Saigon dari provinsi utara Indochina Prancis, sekitar 50 anggota Kempeitai (polisi rahasia) Jepang menyerahkan pedang mereka kepada tentara Inggris di Saigon, Vietnam Selatan, 13 Desember 1945. (Sumber: https://hanfordsentinel.com/)
Pasukan Inggris di Saigon, 1945. Bagi Inggris, Indochina bukanlah operasi untuk merebut “hati dan pikiran rakyat”, sehingga mereka bertindak keras dan menindas. (Sumber: https://www.quora.com/)

DARI RESTORASI KEKUASAAN KOLONIAL HINGGA KE DIEN BIEN PHU

Aspek kedua adalah situasi yang dialami Prancis. Mereka, seolah-olah, tidak berjuang untuk mempertahankan kendali kolonialisme tetapi untuk mendirikan negara-negara otonom di dalam lingkup Uni Prancis. Tujuan tetap mereka adalah untuk menemukan kelompok pribumi Vietnam yang dapat mereka andalkan untuk melawan Viet Minh namun setuju untuk tetap berada di dalam kontrol Uni Prancis. Ada banyak tokoh nasionalis yang tidak memiliki alasan untuk mencintai Viet Minh, dan banyak dari mereka yang siap untuk bernegosiasi dengan pihak Prancis. Ada banyaknya kelompok anti-Viet Minh membuat situasi jauh lebih kompleks daripada konflik langsung antara pihak Prancis dan kaum komunis. Ada juga elemen Katholik yang sangat signifikan di Vietnam dengan sekitar 1,7 juta pengikutnya. Para pemimpin mereka mencoba menunjukkan bahwa mereka tidak harus pro-Prancis, dan mereka perlu mempertahankan kemerdekaan mereka dengan bantuan milisi bentukan mereka sendiri. Ditambah dengan beragam campuran kelompok nasionalis dan agama, serta suku pegunungan seperti orang-orang Montagnards dan berbagai kelompok besar bajak laut sungai yang berkembang di Mekong, situasi di Indocina pada akhir Perang Dunia II sangatlah kacau balau. Di Prancis, Republik Keempat terkenal tidak stabil, dan kehadiran minoritas komunis yang kuat di legislatif berkontribusi pada ambivalensi kebijakan Paris tentang masa depan Indochina. Sebuah komentar yang populer di Prancis pada saat itu adalah bahwa “wilayah kecil Indochina yang kumuh hampir tidak layak untuk diperjuangkan untuk dilestarikan.” Perang Indochina yang dimulai dengan kemenangan bagi pasukan Barat pada tahun 1946 kemudian berlanjut hingga tahun 1954 ketika Dien Bien Phu ditaklukkan Viet Minh setelah melalui pengepungan epik selama 55 hari. Bencana militer bagi Prancis akhirnya mengakibatkan ditandatanganinya Konferensi Jenewa, di mana Prancis dengan enggan mengakui kemerdekaan untuk semua wilayahnya di Indochina. Tetapi baik pemerintah baru Vietnam Selatan maupun Amerika Serikat tidak menjadi pihak dalam perjanjian tersebut, dan Perang Vietnam akan terus berlanjut hingga tahun 1975 ketika perdamaian akhirnya datang ke negeri yang hancur itu.

Jenderal Leclerc dari Prancis meninjau pasukan Divisi India ke-20, Saigon, Indochina Prancis, 22 Desember 1945. (Sumber: https://www.wearethemighty.com/)
Prajurit Divisi India ke-20 menaiki kapal pasukan saat mereka bersiap untuk meninggalkan Indochina pada bulan Mei 1946. Tanpa pasukan Persemakmuran Inggris untuk membantu menjaga ketertiban sipil, kekerasan semakin meningkat di negara itu. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)
Dua tentara Uni Perancis-Indochina menodongkan senjata mereka di belakang benteng karung pasir yang dilemparkan ke jalan Hanoi, saat mereka berperang melawan pasukan Komunis Viet Minh, pada tanggal 24 Januari 1947, selama Perang Indochina Pertama. Kepergian tentara Inggris, sekaligus menandai ketegangan yang memuncak menjadi awal Perang Indochina Pertama, yang berakhir dengan kekalahan memalukan Prancis di Dien Bien Phu tahun 1954. (Sumber: https://hanfordsentinel.com/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

The Birth of the Viet Minh: World War II’s Prelude to the Vietnam War by John Brown

Vietnam: A History (2nd Revision) by Stanley Karnow, 1997; p 147, p 150-151, p 159, p 161, p 164-165

The Two Viet-Nams A Political and Military Analysis Revised Edition by Bernard B. Fall, 1965; p 56-58, p 65, p 71

Setting the Stage (The Vietnam Experience) by Edward Doyle and Samuel Lipsman, 1981; p 174

https://en.m.wikipedia.org/wiki/War_in_Vietnam_(1945%E2%80%931946)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *