Alutsista

ZSU-23-4 “Shilka”, Sang Penebar Maut Di Ketinggian Rendah Asal Soviet

ZSU-23-4 “Shilka” adalah sistem senjata antipesawat berpenggerak mandiri (SPAAG/self-propelled anti-aircraft gun) dan berpemandu radar asal Soviet. Sistem ini kemudian akan dikenal sebagai sistem anti-pesawat yang sangat ditakuti pilot-pilot pesawat militer yang biasa terbang rendah di seluruh dunia. Efektivitas Shilka sebagai sistem anti pesawat di ketinggian rendah telah terdokumentasi dengan baik dalam catatan sejarah, karena sistem tersebut telah aktif dilibatkan dalam beberapa konflik militer global besar selama beberapa dekade. Shilka awalnya dibuat terutama untuk melengkapi Tentara Soviet   (setelah perang dingin diwariskan pada negara-negara bekas negara pecahannya) dan negara-negara pendukungnya selama Perang Dingin serta kemudian diekspor ke negara-negara sekutu di Asia, Timur Tengah, Afrika dan Amerika Selatan. Hingga kini sistem pertahanan udara Shilka terus digunakan dalam jumlah yang mengesankan di beberapa tentara di seluruh dunia meskipun sistem ini sudah cukup tua karena berasal dari era tahun 1960-an. Pada saat kemunculannya, tidak ada platform kanon anti-pesawat dalam inventaris NATO yang bisa menandingi efektifitas sistem ZSU-23-4 Shilka.

Tampak samping ZSU 23-4 Shilka Korps Marinir AS di Camp Pendleton, tahun 1997. Pada masanya Shilka buatan Soviet adalah senjata anti pesawat berpenggerak mandiri paling efektif yang ada di dunia, makanya tidak heran jika banyak negara, termasuk pihak lawan ingin memiiki dan menelitinya. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

LATAR BELAKANG PENGEMBANGAN

Salah satu alasan utama dikembangkannya “Shilka” dan sistem senjata serupa di negara-negara lain adalah karena kemunculan sistem rudal antipesawat yang mampu menghantam target udara di ketinggian menengah dan tinggi dengan probabilitas tinggi di tahun 50-an. Hal ini kemudian memaksa penerbangan pesawat-pesawat yang melakukan penyerangan darat menggunakan ketinggian rendah (hingga 300 m) dan sangat rendah (hingga 100 m) saat menyerang target-target di darat. Untuk mendeteksi dan menembak jatuh target berkecepatan tinggi yang terletak di zona tembak selama 15-30 detik, perhitungan dari sistem pertahanan udara yang digunakan saat itu ternyata tidak mampu untuk melakukannya. Yang kemudian mendesak dibutuhkan saat itu adalah sebuah sistem pertahanan udara baru yang punya mobilitas dan berkecepatan tinggi, serta mampu menembak dari suatu tempat atau sambil bergerak. Senjata anti-pesawat berpenggerak mandiri pertama yang digunakan Soviet setelah Perang Dunia adalah ZSU-57-2, yang produksinya dimulai pada tahun 1957. Sistem ini meskipun memiliki kanon otomatis yang kuat namun kemudian diketahui memiliki efektivitas tempur yang sangat rendah, karena hanya memiliki kecepatan tembakan rendah (220-240 peluru per minute), masih menggunakan sistem pemandu optik manual yang tidak akurat, memiliki turret terbuka sehingga kurang memberi proteksi bagi crew-nya dan tidak bisa menembak sambil bergerak, disamping hanya mampu membawa amunisi yang relatif cukup sedikit (hanya 300 peluru kaliber 57 mm yang bisa dibawa sekali jalan). Oleh karena itu, sistem ini tidak bisa menembak jatuh pesawat jet berkecepatan tinggi yang terbang di ketinggian rendah. Segera setelah sistem itu mulai diproduksi, sesuai dengan keputusan Dewan Menteri Uni Soviet tanggal 17 April 1957, No. 426-211 dua sistem senjata serupa dengan sistem pemandu radar otomatis mulai dikembangkan. Kedua sistem ini adalah ZSU-37-2 Yenisei dengan dudukan senjata kanon ganda 500P kaliber 37 mm dan ZSU-23-4 Shilka dengan dudukan kanon ganda tipe 2A7 berkaliber 23 mm. Selain itu, masing-masing dari senjata anti pesawat ini dilengkapi dengan sistem pemandu radar dan sasis. Untuk Yenisei itu sistem ini menggunakan kombinasi sistem radar RPK “Baikal” dan sasis yang digunakan seperti pada sistem SU-100P, sedangkan untuk Shilka mereka menggunakan sistem radar RPK-2 “Tobol” dan sasis sistem artileri ASU-85. Adapun kegunaannya kedua sistem baru ini lalu dibedakan, dimana Yenisei memiliki tugas menyediakan pertahanan udara bagi pasukan lapis baja, sementara Shilka menyediakan pertahanan udara untuk unit senapan bermotor. 

ZSU 57-2, senjata artileri anti pesawat berpenggerak mandiri pertama buatan Soviet paska Perang Dunia II. Performanya yang tidak memuaskan telah mendorong pihak Soviet untuk mengadakan proyek baru buat menggantikannya. (Sumber: https://sukerumodera.com/)
ZSU-37-2 “Yenisei”, kompetitor dari Shilka. Meski sama-sama kompeten, namun Yenisei diputuskan untuk tidak dikembangkan lebih lanjut bagi militer Soviet. (Sumber: https://en.topwar.ru/)
Pada bulan September 1962, atas perintah Menteri Pertahanan Uni Soviet, sistem anti-pesawat artileri berpenggerak mandiri segala cuaca kaliber 23 mm ZSU-23-4 “Shilka” resmi diadopsi oleh Kekuatan Pertahanan Udara Angkatan Darat Soviet. (Sumber: https://en.topwar.ru/)

Prototipe keduanya diproduksi pada akhir tahun 1960; yang dilanjutkan dengan tahapan tes oleh pihak pabrik dan pemerintah yang akan selesai selesai sepuluh bulan kemudian. Shilka mulai digunakan pada musim gugur tahun 1962. Keunggulan dari Shilka dibandingkan dengan Yenisei terungkap dalam hal efektivitas penembakan pada target berkecepatan tinggi di ketinggian 0,2-0,5 km, dimana saat digunakan untuk menembaki pesawat tempur MiG-17 dan pembom taktis Il-28 pada ketinggian 200 dan 500 m, Shilka masing-masing 2 dan 1,5 kali lebih efektif daripada Yenisei. Tetapi Yenisei sebaliknya lebih baik dalam hal efektivitas penembakan di ketinggian maksimum sebelum memasuki zona pertahanan rudal udara darat ke udara (SAM). Mobilitas dan kemampuannya untuk melakukan tembakan pada ketinggian dan jangkauan masing-masing hingga 3000 m dan 4000 m, memungkinkan penggunaan ZSU “Yenisei” untuk melindungi resimen dan divisi tank dari serangan udara ketika mereka beroperasi terisolasi dari kekuatan utama. Bobot Yenisei adalah 28.000 kg, dan Shilka yang lebih ringan berbobot 19.000 kg, tetapi biaya pembuatan keduanya hampir sama. Sementara itu, dengan bobot 28 ton, Yenisei jelas tidak bisa digunakan unit bermotor dan Airborne, sementara Shilka bisa diangkut dengan pesawat An-22 atau II-76. Karena tidak ada sistem yang ternyata lebih baik daripada satu sama lain, keduanya lalu direkomendasikan untuk sama-sama diadopsi, tetapi Dewan Menteri Uni Soviet kemudian memutuskan untuk memilih Shilka, dan menghentikan proyek Yenisei. Pada bulan September 1962, atas perintah Menteri Pertahanan Uni Soviet, sistem anti-pesawat artileri berpenggerak mandiri segala cuaca kaliber 23 mm ZSU-23-4 “Shilka” resmi diadopsi oleh Kekuatan Pertahanan Udara Angkatan Darat. “Shilka” kemudian dimaksudkan untuk memberikan pertahanan udara subunit resimen senapan bermotor dalam berbagai kondisi situasi pertempuran, termasuk dalam pergerakan, pada waktu yang berbeda dalam setahun dan dalam segala cuaca. Setelah beberapa perbaikan dilakukan, Pabrik Mekanik Ulyanovsk meluncurkan versi produksi massal dari Shilka dan pada akhir tahun 60-an produksi tahunan rata-rata nya sekitar 300 kendaraan per tahun. Tim pengembang utama dari Shilka, yakni N.A. Astrov, V.E.Pikkel, Ya.I. Nazarov, dan lainnya lalu dianugerahi Penghargaan Negara Uni Soviet untuk desainnya yang dianggap berhasil, sementara itu, uniknya para pengembang desain ZSU “Yenisei” juga dianugerahi penghargaan tersebut.

DESAIN UMUM

Akronim “ZSU” pada ZSU-23-4 adalah singkatan dari Zenitnaya Samokhodnaya Ustanovka (Rusia: Зенитная Самоходная Установка), yang berarti “sistem pertahanan anti-pesawat otomatis berpenggerak mandiri”; sedangkan angka “23″ menandakan diameter laras dalam milimeter; angka “4” menandakan jumlah laras kanon. Sistem ini dinamai menurut nama Sungai Shilka di Rusia. Para tentara Afghanistan kemudian menjulukinya sebagai “mesin jahit” karena suara tembakan kanonnya. Kadang ia juga disebut dengan julukan “Zeus”, yang berasal dari akronimnya di bahasa Rusia. ZSU-23-4 “Shilka” memiliki lambung yang dilas dengan lapisan pelindung antipeluru dan antipecahan artileri. Lambung ini kemudian terbagai menjadi tiga kompartemen: kompartemen kontrol, terletak di depan kendaraan, kompartemen tempur, yang terletak di tengah, dan kompartemen mesin, di belakang. Terdapat tiga lubang di sisi kanan kanon antipesawat, tempat peralatan mesin bisa dibongkar dan diservis, serta sebagai ventilasi kendaraan. Turret Shilka dilengkapi dengan kanon 4 laras (quad) kaliber 23-mm tipe AZP-23 “Amur”, yang bekerja secara otomatis menghilangkan bubuk gas sisa penembakan dari larasnya. Setiap laras dilengkapi dengan selubung sistem pendingin dan tahan api. Kanon ini  disuplai dengan sabuk peluru yang ada di dalam kotak penyimpanan peluru. Terdapat dua kotak di turret, dengan sistem pengokang pneumatik. Pada tahun 1970an amunisi “Shilka” umumnya terdiri dari dua jenis peluru kaliber 23 mm: yakni tipe BZT penembus lapisan baja dan tipe fragmentasi OFZT. Amunisi penembus baja BZT tidak memiliki bahan peledak dan hanya berisi komposisi pembakar untuk sarana pelacak tembakan. Sedangkan munisi OFZT memiliki sistem sumbu dan penghancur otomatis (dengan durasi 5-10 detik). Menurut informasi konfigurasi munisi kanon ini adalah empat peluru OFZT, untuk tiap satu peluru BZT, meski ada juga yang menyebutkan perbandingannya 3:1.

Deskripsi bagian-bagian desain ZSU-23-4 “Shilka”. (Sumber: https://uofa.ru/)

Shilka diawaki oleh 4 personel, yang terdiri dari: komandan, pengemudi, penembak dan operator radar. Kecuali pengemudi, awak lainnya ditempatkan di bagian turret. Pengemudi yang ada dibagian lambung menempati kompartmen yang paling nyaman diantara crew lainnya, dengan tempat yang lebih luas. Di kompartemen instrumen terdapat ada perangkat instrumen radar, untuk membantu mencari target, melacaknya, dan menghitung lintasan proyektil dan mengarahkan laras sebelum menembak. Jarak deteksi radar ini terhadap target-target di udara adalah maksimal 18 km. Sistem senjata antipesawat Shilka dapat menembak sasaran dalam beberapa mode, yakni: otomatis; semi-otomatis; on the angle rings; dengan koordinat yang tercatat, dan untuk mode penembakan target darat. Mode penembakan otomatis dianggap sebagai mode standar utama. Perangkat instrumen radar itu sendiri terdiri dari elemen-elemen sebagai berikut: lamp radar 1RL33M2; alat hitung analog; perangkat penglihatan; sistem stabilisasi. Kendaraan tempur dimana sistem Shilka ditempatkan dilengkapi dengan perangkat radio R-123M dan interkom tipe TPU-4. ZSU-23-4 “Shilka” dilengkapi dengan mesin diesel tipe V6R. Mesin ini memiliki enam silinder, berpendingin cair dengan kekuatan maksimum sebesar 209 kW. Kendaraan ini memiliki dua tangki bahan bakar berbahan aluminium dengan total volume bahan bakar sebesar 515 liter, yang cukup untuk menempuh jarak hingga 450 km. Mesin ini menggerakkan dua roda penggerak, dua roda idler dan dua belas roda dengan pelek karet. Suspensi yang digunakan bersistem independent torsion bar. Sistem proteksi bagi para awak dari senjata pemusnah massal muncul ketika terciptanya tekanan berlebih di kompartemen tempur dan sistem pemurnian udara. Semenjak pertama kali diluncurkan, Shilka telah menjalani berbagai proses modernisasi untuk meningkatkan kemampuannya dalam mendeteksi target udara, serta meningkatkan proteksinya. Pada tahun 1999, modifikasi Shilka diperkenalkan, di mana pada bagian turret nya dipasangi sistem pertahanan udara portabel (MANPADS) rudal Igla/SA-18 Grouse.

Sistem Proteksi

Dengan menggunakan hull kendaraan lapis baja beroda rantai GM-575 (seperti yang digunakan pada kendaraan artileri berpenggerak mandiri ASU-85 dan memiliki banyak kesamaan part dengan tank amphibi ringan PT-76) hampir di seluruh sistem “Shilka” dilindungi oleh pelat baja maksimum setebal 15 mm pada sudut glacis 55°, dan hull serta 10 mm pada bagian hull belakang dan samping turret. Sementara tiga dari empat awaknya berada di turret, tepat di belakang tempat amunisi, yang menempati seluruh bagian depan turret, terdapat tangki bahan bakar besar di samping pengemudi. Dengan pengaturan semacam ini, maka tidak memungkinkan bagi para crew Shilka untuk bisa  bertahan cukup lama menghadapi lawan yang mungkin muncul dari berbagai penjuru. Tembakan yang menembus ruang amunisi akan memicu ledakan sekunder pada tempat itu, yang bisa menghancurkan turret dan menimbulkan petaka bagi para kru-nya; sedangkan peluru HEAT (High Explosive Anti Tank) bisa meledakkan tangki bahan bakar dan tempat penyimpanan amunisi. Senapan mesin kaliber besar (sekitar kaliber 12.7 mm keatas tipe penembus baja) mampu menembus lapisan armor tipis Shilka yang lemah dan membunuh para kru-nya, dan pesawat (jika, tentu saja, mereka bisa menembaki Shilka setelah menembus lapisan pertahanan udara di sekitarnya) pasti mampu dengan cepat menghancurkannya dengan kanon pesawat mereka. Jika sampai bertemu dengan tank musuh di medan perang, kemungkinan besar hal itu akan berakibat fatal bagi Shilka. Satu-satunya hal yang dapat dilakukan oleh kru Shilka adalah mencoba menghancurkan roda rantai dan merusak laras senjata kendaraan lapis baja musuh, sebelum beranjak pergi. Karena semua hal di atas, dapat disimpulkan bahwa “Shilka” bukanlah perlengkapan lini kedua atau bahkan ketiga – ia harus tetap berada di dalam naungan perlindungan, bukit, dan rintangan lainnya yang bebas dari peralatan darat musuh sehingga bisa berkonsentrasi untuk menghancurkan pesawat musuh, tanpa terganggu oleh ancaman di daratan.

Dengan menggunakan Chasis GM-575, sebenarnya Shilka hanya memberikan sedikit proteksi bagi awaknya, sehingga Shilka tidak seharusnya dikirim ke garis depan tanpa proteksi memadai. (Sumber: https://www.the-blueprints.com/)

Mobilitas

Dengan mesin dan transmisi berada di bagian belakang lambung seperti juga mesin diesel V6R, Shilka menggunakan gearbox manual dengan 5 gigi maju dan 1 gigi mundur. Sistem suspensi batang torsinya terdiri dari enam roda beroda karet tunggal dengan idler di depan dan sproket drive di belakang, sementara tidak ada track return roller. Ground clearance dari kendaraan ini adalah 375 mm (14.8 in). Sementara itu dengan mesin yang mampu menyediakan tenaga sebesar 280 hp, Shilka memiliki ratio kekuatan dibanding bobotnya yang 19 ton sebesar 14.7 hp/ton. Dengan mesin ini, Shilka mampu menjelajah hingga jarak 450 km (di jalanan), dan 300 km jika melewati medan off-road, dengan kecepatan puncak sebesar 50 km/h (31 mph) di jalan raya dan 30 km/h (19 mph) di medan off-road. ZSU-23-4 dapat melintasi rintangan vertikal dengan tinggi 0,7 m (2,3 ‘), parit selebar 2,5 m (8,2’), mampu melintasi air setinggi 1,0 m (3,3 ‘) dan dapat menanjak dengan gradien hingga 30 °. ZSU-23-4 memiliki kemampuan manuver yang cukup baik dan punya kemampuan lintas medan off road, tetapi tenaga mesin dieselnya tidak mencukupi untuk mendukung kendaraan seberat dirinya. Hasilnya, kemampuan akselerasi off-road-nya di bawah standar, dan Shilka kerap tertinggal di belakang MBT dan IFV di medan di atas bukit. Dengan deskripsi kemampuan seperti diatas, Shilka sebenarnya memiliki mobilitas yang biasa-biasa saja – power to weight rationya juga tidak lebih baik dari MBT M-60 Patton Amerika yang punya rasio 15.08 bhp/st (12.4 kW/tonne). Untuk beberapa tank, angka yang relatif rendah seperti itu tentunya akan merugikan, tetapi untuk kendaraan SPAAG seperti Shilka, mobilitas bukanlah hal yang paling penting, sehingga dapat dikesampingkan dan tidak dianggap merugikan, selama kru Shilka dapat menemukan tempat yang aman dan strategis untuk mereka bisa mengontrol wilayah udara diatas medan pertempuran.

Secara umum kemampuan mobilitas Shilka sebenarnya biasa-biasa saja, bahkan terkadang kesulitan dalam mengimbangi kendaraan IFV dan MBT yang seharusnya mereka lindungi dari ancaman udara, namun karena merupakan kendaraan SPAAG, faktor mobilitas bukanlah hal yang utama. (Sumber: https://coppershop.ru/)

Persenjataan

Setiap kanon otomatis kaliber 23 mm tipe 2A7 berpendingin air memiliki kecepatan tembak 850–1.000 peluru per menit, dimana dengan 4 laras pada sistem Shilka menghasilkan kecepatan tembak gabungan hingga 3.400–4.000 peluru per menit. Turret lapis baja yang dilas memiliki ring yang ditransplantasikan dari tank medium T-54 dengan diameter 1.840 mm (6 ‘). Turret Shilka mampu berputar 360 ° yang sepenuhnya distabilisasi dan mampu menembak saat bergerak. Rotasi turret dan mekanisme elevasi kanon otomatis memberikan kecepatan dan akurasi panduan penembakan yang sangat baik. Mekanisme pembidikan sasaran yang digerakkan secara hidraulik yang digunakannya telah terbukti sangat andal, sementara pembidikan secara manual bisa digunakan untuk menyerang  target-target darat. Kanon otomatis anti-pesawat format quad AZP-23 “Amur” memiliki kisaran elevasi dari sudut −4 ° hingga + 85 °. Kode resmi untuk turret ZSU-23-4 dengan kanon otomatis quad 23 mm (0,9 “) AZP-23” Amur “adalah 2A10. Pelat lapis baja di dalam turret melindungi anggota kru dari api dan gas yang dapat meledak selama penembakan yang intens. Kapasitas amunisi yang dapat dibawa Shilka adalah 2.000 peluru  terbagi dalam 2 box terpisah (masing-masing box tersedia 520 peluru untuk setiap kanon bagian atas dan 480 peluru untuk setiap kanon bagian bawah) yang dirangkai dalam sabuk masing-masing 50 peluru atau lebih pendek. Kanon 2A7 kaliber 23mm berpendingin air dari ZSU-23-4 Shilka menembakkan amunisi kaliber 23 × 152B mm yang sama dengan senjata 2A14 dari kanon tarik ZU-23-2 berlaras ganda. Meskipun kanon pesawat kaliber 23mm Volkov-Yartsev VYa-23 yang digunakan pada pesawat serang era Perang Dunia Kedua Il-2 Sturmovik juga menembakkan amunisi dengan dimensi selongsong peluru yang sama, namun peluru tersebut berbeda dalam hal muatan dan primer yang digunakan, dan karenanya tidak dapat saling dipertukarkan. Amunisi senjata anti pesawat (AA) pada Shilka dibandingkan dengan kanon VYa memiliki kecepatan tembak yang sedikit lebih tinggi, dan peluru peledak juga memiliki isian peledak HE (High Exsplosive) yang sedikit lebih besar. Amunisi VYa menggunakan selongsong kuningan, sedangkan amunisi 2A7 / 2A14 menggunakan selongsong baja.

Detail dudukan 4 kanon kaliber 23 mm “Shilka”. (Sumber: https://scribes.ru/)
Amunisi kaliber 23 mm Shilka. Sayangnya, amunisi ini dianggap kurang mematikan untuk menghadapi pesawat-pesawat serang darat modern seperti A-10 Thunderbolt II. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Kanon ini dikenal memiliki keandalan operasional yang tinggi, dimana dalam tes yang dilakukan setelah 14.000 tembakan, tingkat kegagalan dan kerusakannya tidak melebihi 0,05% versus 0,2-0,3%. Pengoperasian senjata otomatis ini didasarkan pada prinsip penggunaan gas yang dihasilkan mesiu dan sebagian berasal energi rekoil. Proses pengokangan bagian yang bergerak dari kanon selama persiapan penembakan dan pemuatan ulang peluru dilakukan dengan sistem pemuatan ulang pneumatik. Diketahui terdapat tiga jenis utama amunisi anti-pesawat kaliber 23mm yang diproduksi pasca perang, yakni: API-T, HEI dan HEI-T. Selain amunisi asli Soviet, sejumlah produsen amunisi telah mulai memproduksi amunisi dengan kaliber yang masih banyak digunakan ini; dimana ini termasuk jenis amunisi baru seperti amunisi penembus baja sub-kaliber dan amunisi pecah. Konfigurasi khas dari setiap sabuk amunisi adalah berisi 40 peluru OFZT (fragmentasi) dan 10 BZT (penembus baja), yang masing-masing peluru berbobot 190 g dan 188.5 g. Amunisi ini dapat ditembakkan hingga jarak horizontal maksimum 7 km (4,3 mil), dan jarak vertikal 5,1 km (3,2 mil). Kisaran tembak vertikal efektifnya adalah 1,5 km (0,93 mil) pada jarak langsung target 2,5 km (1,6 mil) dan kecepatan target 250 m / s (hingga 500 m / s jika sistem pengendalian tembakan yang lebih modern digunakan). Tembakan kanon otomatis biasanya terdiri dari rentetan tembakan pendek 3–10 peluru (maksimal bisa 50 rentetan peluru, dengan jeda waktu 10-15 detik setelah menembakkan 120-150 peluru) dengan sudut target sasaran telah dihitung untuk setiap rentetan (tembakan tanpa penyesuaian) oleh komputer. Dalam menyerang target di darat, jarak efektifnya sekitar 2,5 km (1,6 mil). Tingkat penetrasi maksimum proyektil BZT hanya 46 mm, yang seringkali sangat tidak cukup untuk setidaknya secara efektif melawan kendaraan darat musuh, dan kemampuannya menimbulkan kerusakan pada target udara juga dianggap tidak signifikan. Disamping jarak tembak yang pendek dari kanon 23 mm dan efek ledakan yang relatif rendah dari proyektil kalibernya yang kecil ini berarti bahwa kanon ini kurang mampu untuk menghadapi ancaman seperti pesawat serang jet dan rudal jelajah dibanding sistem yang lebih modern seperti 2K22 Tunguska yang dipersenjatai dengan kanon otomatis kaliber 30 mm yang lebih kuat dan dikombinasi dengan sistem rudal terintegrasi. Sebuah peluru 23 mm khusus dengan proyektil komposit kemudian dikembangkan untuk varian modern SPAAG (ZSU-23-4M4) untuk digunakan melawan rudal jelajah. 

Radar

Radar RPK-2 “Tobol” atau. 1RL33 beroperasi di frekuensi Ku band dan dapat mendeteksi pesawat hingga jarak 20 km (12 mil). Radar ini memiliki kemampuan pelacakan target yang sangat baik dan relatif sulit dideteksi oleh musuh. Namun, radar ini juga menangkap banyak sinyal yang salah (akibat pantulan kontur tanah) di bawah ketinggian 60 m (200 kaki). Antena radar dipasang pada penyangga yang dapat dilipat di bagian belakang atas turret. Terdapat juga perangkat penyelarasan bidikan optik. Radar RPK-2 terbukti memiliki perlindungan yang baik terhadap aksi countermeasures radar elektronik pasif yang dilepaskan oleh musuh. Radar RPK-2 dirancang untuk bekerja sepanjang waktu dalam segala cuaca dan kondisi iklim. RPK-2 ini terdiri dari perangkat radar yang berfungsi membidikkan senjata,  perangkat untuk menghitung (SRP) dan perangkat penglihatan. Radar ini menyediakan kemampuan untuk mendeteksi, menangkap, melacak secara otomatis dan menentukan koordinat target udara saat terbang melayang atau di wilayah udara dalam rentang azimuth 30-80° di dan di elevasi 30°. Dengan kekuatan gelombang radar 100 kW dan lebar pancaran sekitar 1,5, radar dapat secara otomatis melacak target dari jarak setidaknya 10 km saat terbang di ketinggian 100 m. Radar ini dilindungi dari interferensi pasif dan aktif. Bergantung pada situasinya, penentuan koordinat target (azimuth, elevasi, dan jangkauan) dilakukan secara otomatis, atau koordinat sudut bisa juga berasal dari perangkat penglihatan, dan pengukur jarak dari radar. Berdasarkan koordinat target yang ada, SRP dapat membantu proses pengontrolan penggerak hidrolik, dan  mengarahkan kanon ke sudut tembak terbaik. Kemudian dengan perangkat yang ada radar ini dapat melakukan perhitungan titik temu antara proyektil dengan target dan, ketika memasuki zona target, akan mengeluarkan sinyal untuk memberi kode pelepasan tembakan. Dalam tes yang dilakukan, perangkat instrumen radio Tobol bisa mendeteksi pesawat MiG-17 terbang dengan kecepatan 450 m / s pada jarak sekitar 13 km dan mengikutinya secara otomatis dari 9 km hingga titik dimana proyektil yang dilepaskan akan menghantam sasaran. Namun demikian, sistem radar ZSU-23-4 memiliki jangkauan deteksi yang pendek selama proses pencarian target, serta tergantung pada kondisi cuaca (terutama bergantung pada kondisi hujan dan salju). Radar ini juga sulit untuk melacak target secara otomatis pada jarak kurang dari 7–8 km (4,3–5,0 mil) karena kecepatan sudut yang tinggi dari target pada jarak dekat. Radar juga perlu sering disetel ulang karena parameter elektronik cathode-ray tubes yang tidak stabil dari sistem pemilihan target. Karena tidak adanya perangkat pendeteksi jarak laser otomatis, maka untuk mengoperasikan sistem ini dibutuhkan komandan dan penembak yang terampil.

Kubah radar RPK-2 Tobol pada Shilka. (Sumber: https://en.topwar.ru/)

Perangkat Komunikasi dan pendukung lainnya

Untuk komunikasi eksternal, awak Shilka dilengkapi dengan stasiun pemancar gelombang radio gelombang pendek R-123 dengan modulasi frekuensi. Di medan yang beratnya sedang, dengan peredam kebisingan dimatikan dan tidak ada gangguan, perangkat ini menyediakan kemampuan komunikasi pada jarak hingga 23 km, sedangkan saat perangkat lain diaktifkan bisa mencapai jarak hingga 13 km. Sementara itu untuk komunikasi internal digunakan perangkat interkom tank R-124, yang dirancang untuk empat penggunanya. Untuk menentukan lokasi di darat dan melakukan penyesuaian yang diperlukan, radar RPK ZSU-23-4 yang memiliki peralatan navigasi TNA-2. Kesalahan rata-rata aritmatika dari koordinat yang dihasilkan oleh peralatan ini tidak melebihi 1% dari seharusnya. Dalam pergerakan, peralatan navigasi ini dapat beroperasi tanpa menentukan data awal selama 3 – 3,5 jam.

Perangkat intercom R-124. (Sumber: https://www.ebay.com/)

VARIAN

Dalam perkembangannya, ZSU-23-4 “Shilka” telah berkembang menjadi beberapa varian yang dibuat oleh beberapa negara pemakainya, diantaranya sebagai berikut:

Varian Uni Soviet 

  • ZSU-23-4 “Shilka” (tahun 1964): model praproduksi dan kemudian menjadi model produksi awal. 
  • ZSU-23-4V “Shilka” (tahun 1968): varian modern dengan peningkatan keandalan dalam beberapa bagian, seperti sistem ventilasi pada casing yang terletak di lambun, serta penambahan perangkat penglihatan pada komandan. 
  • ZSU-23-4V1 “Shilka” (tahun 1970): varian modern dengan peningkatan keandalan pada sistem radar dan bagian lainnya, seperti sistem ventilasi casing yang terletak di bagian depan turret, Sistem Komputer panduan yang ditingkatkan (serta akurasi dan efisiensi tembakan anti-pesawat saat bergerak dengan kecepatan 40 km / jam). Varian ini dilengkapi dengan mesin diesel V-6R-1 yang kemampuannya sedikit lebih baik dari versi sebelumnya.
  • ZSU-23-4M1 (tahun 1973): varian ini dipersenjatai dengan kanon otomatis tipe 2A7M yang telah dimodernisasi. Sistem loading pneumatik kini diganti dengan sistem piroteknik (kompresor yang tidak dapat diandalkan telah dilepas), tabung saluran pendingin yang dilas diganti dengan pipa fleksibel yang dapat meningkatkan umur laras kanon otomatis dari yang awalnya 3500 butir peluru menjadi 4500 butir peluru sebelum diganti.
  • ZSU-23-4M3 “Biryusa” (tahun 1977): varian ini dilengkapi dengan sistem identifikasi kawan atau lawan tipe “Luk”. Semua varian ZSU-23-4M yang sudah beredar kemudian ditingkatkan ke standar ZSU-23-4M3 dalam perbaikan terjadwal. Sementara itu pihak Angkatan Darat secara tidak resmi terus menggunakan nama “Shilka” untuk semua varian ZSU-23-4. 
  • ZSU-23-4M2 (tahun 1978): yang kerap disebut sebagai varian “Afghanistan”. Varian ini diperbaiki selama selama Perang Soviet di Afghanistan, terutama untuk digunakan dalam pertempuran gunung. Sistem radar dihapus dan peralatan penglihatan malam ditambahkan, sementara jumlah amunisi yang dibawa meningkat dari 2.000 menjadi 4.000 butir peluru.
ZSU-23-4M2 varian “Afghanistan” dengan perangkat radarnya dihapuskan. (Sumber: https://www.carson-modelsport.com/)

Varian Federasi Rusia dan Belarusia

ZSU-23-4M4 dan ZSU-23-4M5 (tahun 1999). Varian modern ini, dipersenjatai dengan dua sistem pertahanan udara portabel “Igla” berpasangan yang ditambahkan di setiap sisi turret dan dilengkapi dengan peluncur granat asap kaliber 81mm, sensor emisi laser, perangkat penglihatan elektro-optik (termasuk sistem pantauan televisi untuk pengemudi) dan sistem radar senjata yang kemampuannya ditingkatkan. Transmisi mekanis diganti dengan transmisi hidrostatis, dan perangkat penguat hidrolik dipasang. Mobilitas kendaraan ditingkatkan ke level yang setara dengan tank tempur utama. Varian perbaikan ini pertama kali diperlihatkan selama pameran MAKS-99 di Zhukovsky dan dilakukan oleh Minotor Service Enterprise and Peleng Joint Stock Compan dari Republik Belarus, dan Pabrik Mekanik Ulyanovsk Rusia. Selain itu, pihak Ulyanovsk juga menawarkan paket upgrade ZSU-23-4 versinya secara mandiri.

ZSU-23-4M4 dengan sistem Rudal Anti Pesawat Portabel “Igla” di bagian belakang Turret nya. (Sumber: https://www.reddit.com/)

Ukraina 

  • Donets (tahun 1999). Varian ini adalah versi modernisasi dari Ukraina yang dikembangkan oleh Pabrik Tank Malyshev di Kharkov. Versi ini memiliki turret yang telah dimodifikasi dari ZSU-23-4, dengan dipersenjatai dua sistem pertahanan udara portabel tambahan “Strela-10” yang dipasang di lambung tank tempur utama T-80UD. Kapasitas amunisi untuk kanon otomatis 23 mm-nya juga ditingkatkan menjadi dua kali lipat dari versi sebelumnya.
  • ZSU-23-4M-A (tahun 2017), varian ini merupakan paket modernisasi yang dikembangkan oleh Pabrik Senjata di Kyiv, sistem ini dilengkapi radar Rokach-AS baru, perangkat pengukur jarak laser, dan empat sistem rudal Igla otomatis.

 

ZSU-23-4M-A asal Ukraina. (Sumber: https://twitter.com/)

Polandia 

Varian ZSU-23-4MP Biała (tahun 2000), merupakan versi modernisasi Shilka dari Polandia dengan penambahan rudal anti-pesawat Grom dan penggantian perangkat pembidik pasif yang dibuat digital sepenuhnya, dan bukan menggunakan radar. 

 

ZSU-23-4MP Biała modifikasi asal Polandia. (Sumber: https://www.flickr.com/)

India 

Program Peningkatan ZSU-23-4 India dikembangkan oleh Bharat Electronics Ltd (BEL) yang bekerja sama dengan Israel Aircraft Industries (IAI). Di India, sistem ini disebut sebagai Anti Aircraft Tanks (AAT), pertama kali digunakan dalam Perang Indo-Pakistan tahun 1971, dan terbukti efektif melawan pesawat-pesawat tempur Mirage-III Pakistan. Varian yang telah ditingkatkan kemudian akan menampilkan advanced 3D active phased array radar dan sistem komputer yang canggih, sistem kendali penembakan elektro-optik, mesin diesel Caterpillar 359 BHP dan perangkat APU yang baru. Varian yang ditingkatkan mampu beroperasi meskipun ada gangguan dari musuh, mampu mendeteksi target dari jarak lebih dari 15 km, dan dapat digunakan dalam suhu antara 55 ° Celcius dan minus 40 ° Celcius yang disesuaikan dengan iklim di Indian. Kanon otomatis yang digunakan mampu menembak jatuh target yang terbang dengan kecepatan 450 mil per jam hingga ketinggian 1.500-2.500 meter. Tujuan dari upgrade ini adalah untuk memperpanjang umur sistem pertahanan udara ini hingga 15 tahun. Pada bulan Desember 2004 dilaporkan bahwa Angkatan Darat India memberikan kontrak senilai US $ 104 juta untuk meningkatkan 48 sistem pertahanan udara ZSU-23-4 Angkatan Darat India. 

 

Versi upgrade Shilka asal India. (Sumber: https://www.rediff.com/)

Belanda

Varian upgrade ZSU-23-4 (tahun 1998), dikerjakan oleh perusahaan swasta, Hollandse Signaalapparaten (sekarang Thales Nederland) dari Belanda, yang memperoleh sejumlah ZSU-23-4V1 bekas Angkatan Darat Jerman Timur dan kemudian mengembangkan paket peningkatan. Bagian utama dari program upgrade ini adalah modernisasi pada sistem radar dan sistem pengendalian tembakan. Prototipe pertama selesai pada pertengahan 1998, dengan kendaraan yang telah ditingkatkan kemampuannya ini dilengkapi dengan radar pendeteksi target ASADS Ka-band dan radar pengawasan target PAGE I-band.

 

Shilka milik Jerman Timur, beberapa kemudian dimodifikasi oleh Hollandse Signaalapparaten asal Belanda. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

POLA OPERASI & MODIFIKASI SHILKA

ZSU-23-4 “Shilka” mulai masuk dinas Angkatan Darat Soviet pada tahun 1965 dan pada awal tahun 70-an telah sepenuhnya menggantikan sistem ZSU-57-2. Awalnya, resimen tank memiliki divisi “Shilka”, yang terdiri dari dua baterai yang masing-masing terdiri dari empat kendaraan. Pada akhir tahun 1960-an, sering terjadi bahwa di divisi satu baterai menggunakan ZSU-23-4 dan satu baterai memakai ZSU-57-2. Kemudian, resimen senapan bermotor dan tank menerima baterai anti-pesawat khusus, yang terdiri dari dua peleton. Satu peleton memiliki empat sistem pertahanan udara Shilka, dan yang lainnya memiliki empat sistem pertahanan udara gerak sendiri Strela-1/SA-9 “Gaskin” (kemudian diganti dengan sistem pertahanan udara Strela-10/SA-13 Gopher). Pengoperasian Shilka menunjukkan bahwa radar RPK-2 bekerja dengan baik dalam kondisi mengalami gangguan pasif. Praktis tidak ada gangguan aktif dengan Shilka selama latihan, karena tidak ada countermeasures radio pada frekuensi operasinya, setidaknya di tahun 70-an. Disamping itu kekurangan radar RPK yang signifikan juga terungkap, yang seringkali membutuhkan konfigurasi ulang. Ketidakstabilan parameter listrik sirkuit juga ditemukan. Radar yang digunakan juga hanya dapat melakukan pelacakan target otomatis tidak lebih dekat dari jarak 7-8 km dari ZSU. Pada jarak yang lebih pendek, hal ini sulit dilakukan karena angular velocity target yang tinggi. Saat beralih dari mode deteksi ke mode pelacakan otomatis, target terkadang menghilang. Bergantung pada kondisi eksternal dan peralatan yang digunakan, Shilka menembak target udaranya dalam empat mode yang berbeda, yaitu: 

  • Yang pertama dan yang utama adalah mode pelacakan otomatis, dimana koordinat sudut dan jangkauan tembakan ditentukan oleh radar, yang secara otomatis mengikuti target di sepanjang jalur penerbangannya, memberikan informasi ke perangkat penghitung (komputer analog) untuk menghasilkan koordinat yang diperkirakan. Pembukaan tembakan dilakukan saat sinyal “terekam” pada alat hitung. Radar RPK secara otomatis menghasilkan sudut panduan, dengan mempertimbangkan pitching dan yaw dari sistem ZSU, memberikan panduan, dan yang terakhir secara otomatis mengarahkan kanon ke titik perkenaan yang diperkirakan. Penembakan dilakukan oleh komandan atau penembak. 
  • Mode kedua adalah mode dimana koordinat sudut berasal dari perangkat penglihatan, dan jangkauan target berasal dari radar. Koordinat sudut dari target berasal dari penghitung yang terdapat dalam perangkat penglihatan, yang dipandu oleh operator pencarian – penembak – secara semi-otomatis, sementara data hitungan jangkauan berasal dari radar. Dengan demikian, radar beroperasi dalam mode radio untuk menentukan jarak. Mode ini adalah mode tambahan dan digunakan jika ada gangguan yang menyebabkan kegagalan fungsi dalam pengoperasian sistem antena di sepanjang sistem koordinat, atau, jika terjadi kerusakan pada saluran pelacakan otomatis, di sepanjang koordinat radar. Diluar perubahan mode diatas, tahapan lainnya beroperasi dengan cara yang sama seperti dalam mode pelacakan otomatis.
  • Mode ketiga adalah metode dimana koordinat yang diantisipasi secara manual oleh operatornya. Mode tersebut digunakan ketika ada ancaman kehilangan target dari radar saat dalam proses pelacakan otomatis karena gangguan atau malfungsi. 
  • Mode keempat. Mode ini digunakan ketika radar, perangkat penghitung dan sistem stabilisasi gagal berfungsi.

 

Sepanjang pengoperasiannya, Shilka telah beberapa kali mendapat sentuhan modernifikasi, terutama pada bagian kanon yang digunakan. (Sumber: https://coppershop.ru/)

Pada paruh kedua tahun 60-an, ZSU-23-4 mengalami dua peningkatan kecil, yang tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan keandalan berbagai komponen, dan terutama pada radar RPK. Versi modernisasi pertama kemudian mendapat kode sebagai ZSU-23-4V, dan yang kedua disebut sebagai ZSU-23-4V1. Dengan modifikasi itu, karakteristik taktis dan teknis utama dari senjata self-propelled Shilka tetap tidak berubah. Pada bulan Oktober 1967, Dewan Menteri mengeluarkan dekrit tentang modernisasi Shilka yang lebih serius. Bagian terpentingnya adalah perubahan pada bagian kanon 2A7 untuk meningkatkan keandalan dan stabilitas operasi yang kompleks, meningkatkan daya tahan bagian-bagian senjata dan mengurangi waktu pemeliharaan. Dalam proses modernisasi sistem pneumatik kanon otomatis 2A7, digantikan oleh sistem pengisian piro, yang memungkinkan untuk membuang kompresor yang tidak dapat diandalkan dan sejumlah komponen lain dari desain. Pipa yang dilas untuk outlet pendingin diganti dengan pipa fleksibel – yang mana hal ini bisa meningkatkan umur laras dari 3500 menjadi 4500 penembakan sebelum harus diganti. Pada tahun 1973, ZSU-23-4M yang telah dimodernisasi mulai digunakan. ZSU-23-4M kemudian menerima sebutan “Biryusa”, tetapi di Angkatan Darat masih tetap disebut “Shilka”. Setelah itu modernisasi berikutnya, dikenal sebagai ZSU-23-4MZ (3 – interogator). Untuk pertama kalinya, peralatan untuk mengidentifikasi “teman atau musuh” dipasang di atasnya. Kemudian, selama perbaikan, semua ZSU-23-4M dibawa ke konfigurasi ZSU-23-4MZ. Produksi ZSU-23-4MZ dihentikan pada tahun 1982. Shilka banyak diekspor ke negara-negara Pakta Warsawa, Timur Tengah, dan wilayah lain. Mereka mengambil bagian aktif dalam perang Arab-Israel, perang Irak-Iran (di kedua pihak), serta dalam Perang Teluk 1991. Selama perang 1973, “shilka” dikabarkan menyumbang sekitar 10% dari semua kerugian pesawat Israel (sisanya didistribusikan antara sistem rudal pertahanan udara dan pesawat tempur). Namun, para pilot yang ditawan menunjukkan bahwa “shilka” secara harfiah telah menciptakan kerapatan tembakan yang memaksa pilot secara naluriah meninggalkan zona tembakan ZSU dan jatuh ke zona maut sistem pertahanan udara lainnya. Selama Operasi Badai Gurun, pilot dari pasukan multinasional mencoba untuk tidak beroperasi pada ketinggian kurang dari 1.300 m, karena takut akan tembakan Shilka. “Shilka” juga sangat dihargai di Afghanistan oleh perwira dan tentara Soviet, karena kemampuannya dalam mengawal konvoi. Shilka dianggap telah menyelamatkan nyawa ribuan tentara Soviet di Afghanistan.

 

2K22 Tunguska/SA-19 “Grison”, SPAAG penerus Shilka. (Sumber: https://worldhobbyminiatures.com/)

Di Afghanistan, kru ZSU sepenuhnya menyadari kemampuannya untuk menembak sasaran darat di wilayah pegunungan. Selain itu, muncul “versi khusus Afghanistan” – karena dianggap tidak perlu, perangkat radio di atasnya dilepas, yang memungkinkan untuk meningkatkan kemampuan membawa amunisi dari 2000 menjadi 4000 peluru. Perangkat penglihatan malam juga dipasang. Konvoi, yang biasanya disertai dengan “Shilka”, tidak hanya diserang di kawasan pegunungan, tetapi juga di dekat pemukiman. ZSU berbahaya bagi pihak lawan yang bersembunyi di balik dinding. Secara efektif “Shilka” juga bisa menghantam target dengan lapisan baja ringan, seperti kendaraan pengangkut personel berlapis baja, dan kendaraan tempur lainnya. Sementara itu, karena kanon 23 mm Amur dianggap terlalu lemah, seperti saat harus menghadapi pesawat serang A-10 yang baru, yang kebal terhadap peluru 23 mm Shilka. Akibatnya, pihak Soviet mulai membicarakan tentang prospek modernisasi dalam hal peningkatan daya tembak dan, pertama-tama, meningkatkan ketinggian penembakan yang efektif dan proyektil yang destruktif. Sejak musim gugur 1962, beberapa rancangan dibuat untuk memasang kanon otomatis kaliber 30 mm di Shilka. Diantaranya yang diuji adalah kanon 30 mm tipe revolving NN-30 yang dirancang oleh OKB-16, yang digunakan dalam instalasi kanon kapal tipe AK-230, kanon 30 mm enam laras AO-18 dari kanon angkatan laut AK -630 dan kanon laras ganda 30 mm AO-17 yang dirancang oleh KBP. Selain itu, kanon laras ganda 57 mm AO-16 yang dirancang khusus di KBP diuji, untuk senjata anti-pesawat self -propelled. Pada tanggal 26 Maret 1963, pertemuan teknis diadakan di Mytishchi dekat Moskow di bawah kepemimpinan N.A. Astrov. Kemudian dari sini diputuskan untuk meningkatkan kaliber ZSU dari 23 menjadi 30 mm. Penggantian ini dua kali lipat (dari 1000 menjadi 2000 m) meningkatkan area kemungkinan target perkenaan hingga 50% dan meningkatkan jarak tembak dari 2500 menjadi 4000 m. Efektivitas penembakan pada pesawat tempur MiG-17 yang terbang di ketinggian 1000 m dengan kecepatan 200 – 250 m / s, meningkat 1,5 kali lipat. Penggantian ini kemudian menghasilkan sistem senjata 2K22 Tunguska/SA-19 “Grison”.

METODE MENETRALISIR SHILKA

Penghancuran sistem ZSU-23-4 Shilka dapat dilakukan oleh helikopter dengan menggunakan rudal anti tank sekelas rudal TOW (apalagi dengan menggunakan rudal Hellfire yang berjangkauan lebih jauh atau jika untuk pesawat serang bisa menggunakan rudal Maverick), yang jangkauan peluncurannya bisa lebih dari 3000 m. Seharusnya tidak akan ada bahaya besar bagi helikopter tersebut, karena Shilka umumnya dibatasi kemampuan efektifnya dalam menembak jatuh target udara yang terbang di ketinggian lebih dari 2,5 km.

 

AH-1W meluncurkan rudal TOW. Shilka cukup rentan menghadapi lawan udara yang dilengkapi dengan rudal anti tank sekelas rudal TOW. (Sumber: http://worlddefencenews.blogspot.com/)

DINAS OPERASIONAL & CATATAN TEMPUR

Untuk pertama kalinya, Shilka ikut serta dalam pertempuran di wilayah Vietnam selama tahap terakhir Kampanye Ho Chi Minh pada tahun 1975, dimana baterai Resimen Artileri Anti-pesawat ke-237 mengoperasikan sistem pertahanan udara ini. Sistem baru ini menjadi kejutan yang tidak menyenangkan bagi pilot-pilot Vietnam Selatan. Kepadatan tembakannya yang tinggi dan amunisinya yang bisa meledak di udara membuat hampir tidak mungkin bagi para pilot yang terbang rendah untuk bisa lolos dari tembakan Shilka. Meski demikian sistem pertahanan udara baru ini lebih dikenal saat berperan aktif dalam serangkaian perang yang melibatkan negara-negara Arab melawan Israel. Pada tanggal 5 September 1970, kurang dari sebulan setelah gencatan senjata sehabis perang atrisi, London International Institute for Strategic Studies melaporkan bahwa 45 situs SAM milik Mesir sudah operasional di zona Terusan Suez, dimana 30 diantaranya dipasang sejak gencatan senjata diberlakukan. Sebagai tambahan, Mesir juga menerima dari Soviet senjata pertahanan udara ZSU-23-4 Shilka. ZSU-23-4 ini kemudian aktif digunakan dalam perang Arab-Israel pada perang Yom Kippur Oktober 1973 dan konflik yang mengikutinya di bulan April-Mei 1974. Biasanya, di Angkatan Darat Suriah dan Mesir, “Shilka” digunakan untuk melindungi unit tank secara langsung, bertugas bersama dengan sistem rudal antipesawat (SAM) SA-6 “Kub” (“Square”), S-75 (SA-2 Guideline) dan S-125 (SA-3 Pechora), yang melindungi kekuatan darat negara-negara Arab dengan pertahanan berlapis hingga sampai ketinggian 60.000 kaki (18.288 meter). Shilka adalah bagian dari unit anti-pesawat dari divisi tank, brigade, dan unit campuran yang terpisah. Untuk bisa membuka tembakan tepat waktu dalam posisi bertahan, subunit Shilka dikerahkan pada jarak 600-1000 m dari objek yang dilindunginya. Sementara itu dalam posisi ofensif, mereka ditempatkan di belakang unit penyerang pada jarak 400-600 m. Dalam pergerakan, ZSU didistribusikan di antara konvoi pasukan. Pada dasarnya, ZSU-23-4 beroperasi secara mandiri. Penembakan terhadap pesawat dan helikopter Israel biasanya dibuka pada jarak 1500 – 2000 m (dengan deteksi target secara visual). Perangkat radar ZSU praktis tidak digunakan dalam pertempuran karena sejumlah alasan, yang utamanya adalah persiapan awak tempur negara-negara Arab yang buruk. Kurangnya pengaturan penanganan target terpusat dan medan terjal yang tajam secara signifikan juga membatasi kemampuan radar ZSU untuk bisa mendeteksi target tepat waktu.

 

ZSU 23-4 Shilka AD Vietnam Utara. Shilka kabarnya turut digunakan dalam ofensif akhir Vietnam Utara ke Vietnam Selatan tahun 1975. (Sumber: https://coppershop.ru/)

Namun, bagaimanapun “Shilka” terbukti menjadi sistem pertahanan udara yang andal, yang mampu melindungi pasukan dari serangan target udara terbang rendah yang tiba-tiba muncul. Selama bulan Oktober 1973 saja, dari 98 pesawat yang ditembak jatuh oleh pasukan pertahanan udara Suriah, ZSU-23-4 mencatat 11 target yang berhasil ditembaknya jatuh. Dalam Operasi Model 5 ((Hebrew: דוגמן 5, Doogman 5) tanggal 7 Oktober 1973, dimana pihak Israel bermaksud untuk menghancurkan semua baterai rudal permukaan-ke-udara (SAM) Suriah di front Golan, dengan menggunakan bom serba guna biasa yang dijatuhkan dari ketinggian menengah di dekat target. Dalam melakukan hal ini, pesawat penyerang harus mendekati target pada ketinggian yang sangat rendah, untuk menghindari terdeteksi oleh radar Suriah (terutama radar pengendali tembakan dan akuisisi target seperti tipe Flat Face dan Long Track). Karena kurangnya data intelijen yang terbaru dan ketergantungan pada foto udara yang sudah tidak update, sementara mereka kurang memiliki kemampuan ELINT-ESM (Electronic Inteligent-Electronic warfare support measures), pesawat Israel tidak bisa menemukan target mereka, karena baterai SAM yang disasar telah dipindahkan ke lokasi lain. Hasilnya Operasi Model 5 adalah bencana bagi pasukan penyerang: enam pesawat F-4 Phantom hilang di udara Suriah dan beberapa lainnya rusak tetapi berhasil kembali ke pangkalan udara Ramat David. Sebagian besar pesawat yang rusak terkena tembakan senjata artileri pertahanan udara ZSU-23-4 Shilka, yang sangat mematikan di ketinggian serangan yang sangat rendah. Dua awak tewas dan sembilan ditangkap oleh tentara Suriah, sementara hanya satu baterai SAM Suriah yang berhasil dihancurkan. Pada bulan April dan Mei 1974, dari 19 pesawat yang jatuh, lima tercatat dihancurkan oleh Shilka. Seperti yang dicatat pakar militer asing yang menganalisis hasil perang Timur Tengah 1973, dalam tiga hari pertama pertempuran, rudal Suriah mampu menghancurkan sekitar 100 pesawat musuh. Menurut pendapat mereka, angka ini disebabkan oleh keberhasilan penggunaan ZSU-23-4, tembakan rapat Shilka telah memaksa pilot Israel untuk pergi dari ketinggian rendah ke zona dimana sistem SAM bisa efektif beroperasi dengan efisien. Selama konflik tahun 1973 saja, menurut catatan pihak Arab (yang tentunya akan berbeda dengan pengakuan Israel), Shilka Mesir dan Suriah menembak jatuh 27 pesawat A-4 Skyhawk Angkatan Udara Israel. Shilka juga dikabarkan menunjukkan efisiensi yang cukup tinggi di Lebanon. Dari bulan Mei 1981 hingga Juni 1982, kelompok pertahanan udara Suriah “Feda” melakukan 64 kali penembakan dan menembak jatuh 34 target udara – 27 pesawat tempur, 3 helikopter dan 4 drone jarak jauh (UAV) yang diujicoba (sekali lagi ini menurut pengakuan pihak Suriah, dan tidak selalu dikonfirmasi oleh lawannya, Israel). Enam di antaranya dihancurkan oleh ZSU-23-4. Koefisien efisiensi keseluruhan dari ZSU-23-4 dalam konflik militer ini adalah 0,15-0,18 untuk satu instalasi dengan konsumsi 3300 hingga 5700 peluru per target yang ditembak jatuh. Selain itu, “Shilka” juga menunjukkan keandalan operasional yang tinggi dan kemampuan lintas negara yang baik di gurun pegunungan dan iklim panas  wilayah Afrika Utara.

 

Shilka Mesir dalam Parade tahun 1973. (Sumber: https://coppershop.ru/)

 

Lukisan pesawat Skyhawk Israel melayang diatas Shilka dalam Perang Yom Kippur tahun 1973. Dalam perang ini cukup banyak Skyhawk yang jadi korban Shilka. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Pada tahun 1975, Shilka tercatat beraksi di Angola, ketika segelintir orang-orang Kuba menggunakannya untuk menghentikan pasukan gabungan pejuang FLEC (Front Pembebasan Enklave Cabinda) dan unit reguler Tentara Zaire. Setelah meranjau pinggiran jalan, prajurit-prajurit Kuba melepaskan tembakan dari posisi yang telah disiapkan sebelumnya dan menghabisi seluruh konvoi musuh. Sementara itu di medan Afghanistan menurut standar penggelarannya, setiap Shilka harus menemani konvoi pada jarak kurang lebih 400 meter dari kendaraan lain. Perang di pegunungan dengan sendirinya telah mengubah pola penggelaran taktis dari Shilka. Para gerilyawan Mujahidin tidak memiliki kekuatan udara, jadi para awak Shilka Soviet, tidak perlu khawatir pada ancaman diatas langit. Saat melindungi konvoi, Shilka memainkan peran sebagai salah satu penghalang utama para penyerang. Berkat 4 laras kanon otomatis kaliber 23 mm-nya, “Shilka” menjadi penolong terbaik pasukan infanteri selama serangan tak terduga dari pihak gerilyawan. Kepadatan dan efektivitas penembakannya langsung dengan cepat menutupi semua kekurangan pada kurangnya proteksi pada sasis-nya. Para pasukan Infanteri memuji kapabilitas ZSU. Pengaturan pada sudut larasnya memungkinkannya untuk menembak hampir secara vertikal, dan pelurunya yang kuat tidak kesulitan dalam menembus tembok perbentengan seperti dinding tanah liat di desa-desa. Tekanan dari “Shilka” memaksa para mujahidin bertahan di satu tempat perlindungan, sehingga memudahkan pasukan infanteri Soviet untuk meringkus mereka kemudian. Untuk kualitasnya ini, para Mujahidin menjuluki ZSU Soviet sebagai “shaitan-arba”, yang bisa diterjemahkan sebagai kereta setan. Shilka juga digunakan dengan efek yang menghancurkan dalam perang di Chechnya. Mantan kepala distrik militer Kaukasus Utara, Letnan Jenderal Vladimir Potapov, mencatat efisiensinya yang tinggi dalam menyerang perbentengan dan posisi-posisi tembak musuh. Dalam pertempuran jalanan, taktik pasukan Russia adalah menggunakan Shilka saat menghadapi perlawanan musuh yang kuat adalah dengan Shilka maju dari balik tempat perlindungan, memberikan semburan tembakan yang panjang dan kemudian segera mundur, ” demikian tulis Potapov dalam catatannya setelah pertempuran.

 

Shilka menjadi penolong ribuan pasukan Soviet di medan perang Afghanistan tahun 1980an dengan kemampuan tembaknya yang besar. (Sumber: https://www.reddit.com/)

Tapi bagaimanapun tugas utama Shilka tetaplah sebagai elemen perlindungan terhadap ancaman udara. Beberapa “Shilka” pada akhirnya bisa diperoleh oleh Amerika, yang segera mempelajarinya secara komprehensif. Dari pengamatan yang dilakukan, kemudian memunculkan pesawat-pesawt dengan pelindung lapis baja yang lebih baik, seperti misalnya pada pesawat serang darat A-10 Thunderbolt II, yang dibuat mampu menahan tembakan amunisi anti pesawat penembus baja kaliber 23 mm seperti yang dipakai oleh Shilka. Untuk mengatasi hal ini, para desainer Soviet pada tahun 1980-an melakukan modernisasi mendalam pada Shilka. Hanya mengganti senjata utamanya saja menjadi yang lebih kuat dinilai tidak cukup, banyak komponen penting dari struktur kemudian harus diganti. Dari sini lahirlah sistem SPAAG “Tunguska”, yang masih mengabdi di Angkatan Darat Russia hingga hari ini. Meski demikian walau telah muncul desain yang lebih baru, namun Shilka tidak benar-benar dilupakan. 39 negara tercatat masih menggunakannya. Bukan hal aneh juga makanya, jika “Shilka” terkadang menemukan dirinya ada di sisi yang saling berlawanan, bertarung satu sama lain. Secara keseluruhan bagi militer Soviet, kemunculan “Shilka” adalah sebuah revolusi yang nyata. Penggunaan baterai pertahanan udara tradisional seperti meriam atau kanon tarik pertahanan udara dan sistem rudal sering kali membuat para perwira dan prajurit kerepotan karena harus banyak beraktivitas dalam mempersiapkannya, disamping hal ini juga membuang banyak waktu. Sistem ZSU yang baru, seperti Shilka, kemudian memungkinkan mereka untuk melindungi wilayah udara walau saat bergerak, dengan persiapan awal yang minimal. Dilihat dari konfigurasinya, pesaing langsung Shilka adalah M163 Vulcan, yang pernah digunakan Angkatan Darat Amerika dan sekutu-sekutunya. Melihat karakteristiknya, kedua sistem memiliki parameter yang sama, namun Shilka memiliki tingkat kecepatan dan kepadatan penembakan yang lebih tinggi, dimana “tirai” yang diciptakan oleh 4 laras kanonnya, lebih luas daripada Vulcan Amerika. Fakta lebih sedikitnya pemakaian Vulcan, serta sudah dihapusnya sistem ini dari dinas operasional Amerika, menunjukkan bahwa Vulcan relatif kurang populer di mata penggunanya. Sebaliknya Shilka hingga kini masih digunakan di 39 negara di dunia, meskipun model yang lebih canggih telah ada. Performa tinggi, bahkan masih relevan digunakan di era modern, menjadikan Shilka sebuah legenda, bahkan segera setelah kemunculannya. Hingga kini Shilka telah digunakan oleh setidaknya negara-negara seperti Afghanistan, Aljazair, Angola, Armenia, Belarusia, Bulgaria, Congo, Cuba, Mesir, Russia, Ecuador, Ethiopia, Georgia, Guinea-Bissau, Hungaria, India, Iran, Iraq, Jordania, Laos, Libya, Morocco, Mozambique, Nigeria, North Korea, Peru, Poland, Somalia, Syria, Turkmenistan, Ukraina, Vietnam, Yemen, dan Zimbabwe.

SPESIFIKASI UMUM ZSU-23-4 “SHILKA”

Tipe : Self-propelled anti-aircraft gun/Senjata Pertahanan Udara Berpenggerak Mandiri

Negara Asal : Uni Soviet

Dinas Operasional : 1960–sekarang

Tahun Desain : 1957–1960

Pabrikan : Mytishchi Machine-Building Plant (MMZ)

Biaya Pembuatan : US$ 357,000 (harga ekspor ke Libya tahun 1972/73)

Tahun produksi : 1964–1982

Jumlah dibuat : Sekitar 6,500 unit

Bobot : 19 ton

Panjang : 6,535 m (21 ft 5.3 in)

Lebar : 3,125 m (10 ft 3.0 in)

Tinggi : 2,576 m (8 ft 5.4 in); 3,572 m (11 ft 8.6 in) dengan radar dinaikkan

Crew : 4 (komandan, sopir, penembak, operator radar)

Lapisan baja : Baja las, setebal 9.2 mm (0.36 in) di bagian turret, hingga setebal 15 mm pada bagian badan

Persenjataan utama : 4 × 23 mm kanon otomatis 2A7 (AZP-23 “Amur” quad automatic anti-aircraft gun), amunisi yang bisa dibawa adalah 2,000 peluru

Mesin : V-6R, 6-cylinder 4-stroke airless-injection water-cooled 20-litre diesel; power 280 hp (209 kW) pada kecepatan 2,000 rpm

Power/weight : 14.7 hp/ton (11.0 kW/tonne)

Suspensi : Individual torsion bar

Ground clearance : 375 mm (14.8 in)

Kapasitas bahan bakar : 515 liter

Jarak operasional maksimum : 450 km (di jalanan), 300 km (medan off-road)

Kecepatan Maximum : 50 km/jam (31 mph) di jalanan; 30 km/jam (19 mph) di medan off-road

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Self-propelled anti-aircraft gun ZSU 23 4. Shilka (self-propelled anti-aircraft gun) 

https://scribes.ru/en/zenitno-samohodnoi-ustanovki-zsu-23-4-shilka-zenitnaya-samohodnaya.html

Shilka anti-aircraft gun. “Shilka” – anti-aircraft self-propelled artillery

https://coppershop.ru/en/health/zenitnaya-ustanovka-shilka-shilka—zenitnaya-samohodnaya-artilleriiskaya.html

Shilka (self-propelled anti-aircraft gun)

https://uofa.ru/en/shilka-zenitnaya-samohodnaya-ustanovka-temperamentnaya-shilka/

https://en.m.wikipedia.org/wiki/ZSU-23-4_Shilka

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Operation_Model_5

ZSU-23-4 armoured vehicle self-propelled anti-aicraft gun

https://www.armyrecognition.com/russia_russian_army_vehicles_system_artillery_uk/zsu-23-4_shilka_tracked_self-propelled_anti-aircraft_gun_technical_data_sheet_description_uk.amp.html

ZRK-23-4 / ZSU-23-4 Shilka 23MM Antiaircraft Gun

https://www.globalsecurity.org/military/world/russia/zsu-23-4.htm

ZSU-23-4 (Shilka) Self-Propelled Anti-Aircraft Gun (SPAAG)

https://www.militaryfactory.com/armor/detail.asp?armor_id=14

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Fairchild_Republic_A-10_Thunderbolt_II

Air warfare in the missile age Book by Lon O. Nordeen, 1985; p 143 & p 163

ZSU-23-4 Shilka 23MM Antiaircraft Gun

https://fas.org/man/dod-101/sys/land/row/zsu-23-4.htm

Stories about weapons. ZSU-23-4 “Shilka” outside and inside; 22 June 2018

https://en.topwar.ru/143328-rasskazy-ob-oruzhii-zsu-23-4-shilka-snaruzhi-i-vnutri.html

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *