Arthur Tien Chin, Ace Amerika Pertama dalam Perang Dunia II yang terlupakan.

Meskipun mitos yang cukup populer menyatakan bahwa pilot-pilot Flying Tigers telah bertarung “selama bertahun-tahun” sebelum Pearl Harbor, namun sedikit yang menyadari bahwa banyak orang-orang Amerika telah terlibat dalam perang udara di China selama tahun 30-an. Beberapa diantaranya bahkan sudah menjadi Ace sebelum AS memasuki perang. Banyak diantara mereka terus berkontribusi pada upaya perang Sekutu saat PD II berlangsung, bersama dengan lebih banyak rekan senegaranya. Salah satunya adalah Arthur “Art” Chin, yang keberanian dan kegigihannya dalam menghadapi kesulitan layak menjadi contoh bagi kita semua. Kisahnya telah menjadi bagian dari sejarah penerbangan militer China dan Amerika Serikat, lewat kisah unik semacam ini:

“Pada 3 Agustus 1938, Arthur Chin (sering dikenal sebagai “Art” Chin) memimpin tujuh pesawat biplane Gladiator dari Skuadron Pemburu ke-28 Angkatan Udara China Nasionalis melawan formasi pesawat tempur A5M Jepang yang jauh lebih canggih. Di atas langit provinsi Hubei China, Chin melawan beberapa pesawat A5M. Pesawatnya sendiri menerima beberapa tembakan dari belakang. Beruntung baginya, salah satu mekanik pesawatnya telah memasang sepotong plat pelindung baja dari pesawat tempur I-15b yang rusak dan memasangnya di belakang kursinya sebelum misi. Pelat itu sepertinya menyelamatkan hidupnya. Chin kemudian mendengar suara peluru yang memantul di belakangnya. Merasakan kerusakan parah pada pesawatnya, Chin menyimpulkan bahwa pesawatnya tidak bisa diselamatkan lagi, dia memutuskan untuk menabrakkan diri ke pesawat musuh terdekat. Dengan sedikit keberuntungan, dia bisa menyerang sasarannya dan melompat keluar dari pesawat yang hancur.” Tindakannya hari itu akan membuatnya menjadi legenda bagi sesama pilot, tetapi hanya sedikit orang Amerika mendengar kisah tentang Chin — meskipun ia sekarang dianggap sebagai pilot tempur Ace Amerika pertama dalam Perang Dunia II. Bagaimana seseorang yang begitu berani semacam ini bisa terlupakan? Apa saja yang sudah ia lalui, berikut adalah kisah luar biasa dari Arthur Chin.

Awal karir

Arthur Tien Chin, Dilahirkan di Portland, Oregon 23 Oktober 1933 dari ayah bernama Fon Chin yang berdarah Cina (asal Taishan, Canton) dan ibu asal Peru, bernama Eva Wong. Chin adalah bagian dari kelompok Cina-Amerika yang secara sukarela bertugas dibawah bendera Cina Nasionalis untuk melawan Kekaisaran Jepang namun sering dilupakan. Aksi mereka sebagian besar tertutupi oleh kiprah satuan American Volunteer Group pimpinan Jenderal Claire Chennault (lebih dikenal sebagai The Flying Tigers), yang tiba di Cina pada tahun 1941 dengan menerbangkan pesawat Curtiss P-40. Termotivasi oleh invasi yang dilakukan Jepang atas Manchuria, pada tahun 1932 Chin dan 13 pemuda Cina-Amerika lainnya mendaftar di sekolah penerbangan Al Greenwood di Portland dengan rencana untuk berjuang bagi tanah leluhur mereka. Sekolah penerbangan itu mahal, jadi komunitas keturunan China setempat membayarkan banyak uang sekolah dan biaya bagi para pemuda itu.

Arthur Chin muda bersama rekan-rekannya keturunan China-Amerika secara sukarela mengajukan diri bertempur bagi China Nasionalis dalam Perang melawan Jepang.

Para Pejabat Cina pada awalnya menerima para sukarelawan itu dengan penuh kecurigaan. Terlepas dari wajah dan nama keluarga Cina mereka, orang-orang Cina menganggap mereka sangat asing, AU China Nasionalis menolak keberadaan mereka. Sebagian besar kelompok Chin berhasil bergabung dengan Korps Udara Kanton, Guangdong, angkatan udara provinsi di bawah komando panglima perang Chen Jitang. Situasi aneh yang dihadapi Chin dan sebagian besar koleganya ini membawa mereka masuk ke kekuatan udara China lewat “jalan belakang”. Menjelang awal 30-an, terdapat enam belas angkatan udara terpisah di Cina, yang armada udaranya mulai dari yang cuma punya satu atau dua pesawat hingga yang memiliki beberapa ratus pesawat. Selama sebagian besar dasawarsa ini, ada lima selain kekuatan besar selain milik pemerintah: yakni yang berasal dari provinsi Guangdong (di mana Kanton berada), provinsi Guangxi, provinsi Shanxi, provinsi Sichuan, dan provinsi Yunnan.

Ditolak AU China Nasionalis, Arthur Chin dan kawan-kawan berakhir di Korps Udara Canton dibawah Warlord Provinsi Guangdong, Chen Jitang

Mungkin karena nenek moyang mereka kebanyakan berasal dari Kanton, sebagian besar orang Amerika ini akhirnya diterima di korps ini. Korps ini adalah satuan Angkatan udara provinsi terbesar dan paling lengkap, yang berfungsi untuk “menyediakan perlindungan udara” untuk Chen Jitang, panglima perang de-facto di Guangdong. Chin adalah salah satunya, yang diterima sebagai Pilot Percobaan pada tanggal 1 Desember 1933. Bertolak belakang dengan para pilot American Voluntary Group (yang dibentuk delapan tahun kemudian dan bertugas selama kurang dari satu tahun), yang dibayar $ 500 sebulan, gaji mereka cuma setara dengan $ 25 AS per bulan! Pada Mei 1936, Chen memberontak terhadap pemerintah pusat Kuomintang di Chiang Kai-shek. Khawatir bahwa pertikaian ini bisa dieksploitasi oleh Jepang, sebagian besar Korps Udara Canton membelot ke angkatan udara Kuomintang. Pilot Kanton menerbangkan pesawat mereka ke lapangan udara KMT. Karena tidak memiliki kekuatan udara, pemberontakan Chen dengan cepat runtuh.

Bertugas di AU China Nasionalis

Para sukarelawan Amerika sekarang sudah menjadi anggota angkatan udara Cina Nasionalis (sesuai dengan impian awal mereka). Pada tahun yang sama, angkatan udara Nasionalis memilih Chin dan beberapa pilot lain pergi ke Jerman untuk mendapat pelatihan tambahan di lapangan udara Lager Lechfeld di Bavaria. Pada saat itu, Nazi Jerman adalah sekutu utama Kuomintang dan menyediakan sebagian besar senjata dan perlengkapan tempur mereka. Sekembalinya dari Jerman pada awal 1937, Chin menjadi instruktur penerbangan. Pada bulan Juni ia ditugaskan ke Skuadron Pemburu ke-28 sebagai wakil komandan skuadron di bawah kepemimpinan sesama pilot asal Amerika Kapten Chan Kee-Wong. Skuadron ke-28 dilengkapi dengan pesawat tempur biplane Curtiss Hawk II, model ekspor pesawat F11C-2 Angkatan Laut AS (pada tahun 1934 didesain ulang sebagai BFC-2). China telah membeli lima puluh pesawat ini pada tahun 1933, tetapi hanya empat tahun kemudian desainnya sudah ketinggalan jaman. Pesawat ini memiliki kokpit terbuka, bodynya terbuat dari kain keras dengan roda pendaratan tetap (tidak tertutup sehingga menambah drag) dan persenjataannya hanya terdiri dari dua senapan mesin ringan.

Arthur Chin dan kawan-kawan saat berlatih di Jerman

Chin mengambil posisinya pada tanggal 28 Juni, di saat yang sama Chennault tiba di Cina dengan kontrak awal selama tiga bulan untuk mensurvei angkatan udara Tiongkok. Hasil survei Chennault nyaris tidak memberi banyak harapan positif. Pesawat-pesawat Cina seringkali tidak memiliki suku cadang. Banyak dari pesawat mereka adalah model biplane tua yang dengan cepat menjadi usang ketika angkatan udara dunia mulai memperkenalkan pesawat monoplane yang lebih cepat terbangnya.

Hasil studi Chennault (kiri) atas Angkatan Udara China Nasionalis tidak membawa banyak harapan baik, pihak China sangat tertinggal dari lawannya, Jepang.

Sementara itu ketegangan dengan Jepang meningkat, nampaknya semakin besar kemungkinan pasukan udara yang compang camping ini terpaksa harus bertarung melawan salah satu angkatan udara paling canggih di dunia. Meskipun kondisi semakin genting, Chin masih bisa menghabiskan waktu untuk menikmati kehidupan malam. Melihat fotonya dari periode itu, ia memiliki tampilan yang gagah dengan seragamnya, selalu merokok dengan pipa rokok, dan mencukur tipis kumisnya seperti Errol Flynn atau Clark Cable. Dengan wajah tampannya, Chin dikenal banyak disukai wanita, sebuah reputasi yang akan melekat sepanjang hidupnya. Dia menikah dengan seorang wanita etnis China kelahiran Sumatra (Hindia Belanda) bernama Eva Wu (Ng Yue Ying, menurut bahasa Canton). Dari pernikahannya Chin dan Eva memiliki 2 orang putra, Gilbert dan Steve.

Dengan kumis tipis ala Clark Gable dan tampilan flamboyan, Arthur Chin cukup populer di kalangan wanita China
Pada akhirnya Arthur Chin menikah dengan Eva Wu, wanita keturunan China kelahiran Sumatra (Hindia Belanda).

Pada 7 Juli, Tentara Kwantung Jepang berbaris masuk Cina utara. Pada 10 Agustus, Skuadron Pemburu ke-28 bersama dengan skuadron ke-17, dikirimkan bertugas ke lapangan terbang Chuyung dekat ibu kota China Nasionalis di Nanking. Skuadron ke-17 dipimpin oleh orang Amerika lainnya, John Wong, dan dilengkapi dengan versi ekspor dari Boeing P-26 “Peashooter,” Boeing 281. Meskipun itu pesawat itu adalah type monoplane yang semuanya terbuat dari logam, P-26 / Model 281 adalah sebuah desain transisi dan masih banyak mempertahankan fitur-fitur kuno. Meski begitu, AU Cina dengan senang hati memilikinya.

Saat tentara Kwantung Jepang berderap maju menuju Nanking, AU China Nasionalis harus puas memakai pesawat yang ketinggalan jaman seperti Boeing P-26 Peashooter, yang meski merupakan pesawat tempur berbody logam pertama asal Amerika, namun masih memiliki kokpit terbuka dan roda pendaratan yang tidak dapat ditarik serta senjatanya ringan.

Karir tempur

Pada 13 Agustus pasukan Jepang menyerang Shanghai dan memulai perjalanan mereka ke ibukota Cina. Pada pertempuran sore hari 15 Agustus, ia terlibat dalam pertarungan melawan pesawat Jepang dari satuan Kisarazu Kokutai (Grup Udara) dan mengklaim dua pembom G3M Jepang, tetapi tidak diakui; studi pasca-perang terhadap catatan Cina dan Jepang menunjukkan bahwa ia mungkin menembak jatuh kedua pembom Jepang itu. Kemudian pagi-pagi sekali tanggal 16 Agustus, tiga belas pembom Jepang tipe G3M 96 dari Matsuyama Airfield di Taihoku (sekarang Taipei), Taiwan menyerbu lapangan udara militer dekat Nanjing dalam dua gelombang terpisah. Pada pukul 1055, gelombang pertama yang terdiri dari enam pesawat mencapai Lapangan Terbang Chuyung. Chin berangkat menghadapi mereka dengan menggunakan pesawat tempur biplane Hawk II. Meskipun membukukan beberapa tembakan tepat sasaran pada pembom Jepang yang diterbangkan oleh Letnan Osugi, pesawatnya yang usang membuatnya tidak punya banyak keuntungan terhadap pesawat pembom, bahkan ia sendiri menderita beberapa tembakan. Dia terpaksa melakukan pendaratan darurat di Lapangan Terbang Jiaxing di dekatnya, dengan pesawatnya mendarat hidungnya terlebih dulu karena rem gagal beroperasi. Dokumentasi kemudian mencatat bahwa pesawat Osugi nyaris tidak berhasil mencapai Pulau Jeju, Korea karena kehabisan bahan bakar; meskipun dokumen-dokumen ini tidak menyebutkan secara spesifik apakah pesawat itu crash saat pendaratan atau tidak, Angkatan Udara China memberikan Chin catatan “kill” pertamanya dengan tujuan meningkatkan moral tentaranya. Pada akhir Agustus, Jepang telah kehilangan lebih dari 50 pesawat, setidaknya 29 di antaranya adalah pembom.

Pesawat Curtis Hawk yang digunakan AU China Nasionalis secara teknologi sudah tertinggal, bahkan pilotnya akan cukup kerepotan jika harus menghadapi pembom Jepang.

Bagaimanapun pertarungan itu adalah pertempuran yang sulit baginya karena sejumlah alasan, salah satunya adalah bahwa pada kenyataannya pesawat tempur yang ditungganginya tidak jauh lebih cepat daripada pembom musuh. Menurut peneliti dan teman pribadinya, Raymond Cheung, Chin sempat mengenang bahwa begitu ia berada dalam posisi menembak, ia sebenarnya menjadi sasaran mudah bagi para penembak senapan mesin pembom. Pertempuran ini menjelaskan pesatnya pengembangan teknologi aeronautika selama tahun 1930-an. Meskipun kehadirannya hanya terpisah beberapa tahun saja (masing-masing tahun 1933 dan 1936), Hawk II dan G3M2 berasal dari generasi yang berbeda. Hawk II tidak begitu jauh berbeda dengan jajaran pesawat era WW I (salah satunya sebabnya adalah karena adanya stagnasi perkembangan teknologi militer di era 1920-an, dimana banyak negara melakukan pengetatan anggaran militer) sedangkan G3M2 adalah pesawat yang canggih pada saat kemunculannya: sebuah monoplane yang semua terbuat dari logam dengan kokpit tertutup, roda pendaratan yang dapat ditarik, dan persenjataan pertahanan yang dioperasikan dari turret putar. Meskipun pesawat Jepang itu sendiri telah menjadi usang pada awal Perang Pasifik tahun 1941, tetapi kinerja G3M masih cukup baik untuk memainkan peran utama dalam menenggelamkan HMS Repulse dan Prince of Wales di lepas Malaya pada 10 Desember 1941.

Bomber Jepang, Mitsubishi G3M adalah pesawat pembom paling canggih pada masanya pada saat diperkenalkan.

Skuadron ke-28 terbang untuk mempertahankan Pabrik Pesawat Shaokwan di Provinsi Canton, dan Chin dipilih untuk memimpinnya. Pada tanggal 27 September 1937, flight-nya dan satu flight lain dari skuadron ke-29 (mereka menerbangkan Hawk III yang rodanya dapat ditarik) mencegat tiga pembom G3M2 yang menyerang jalur rel kereta Hankow-Guangdong. Chin tidak membukukan kill, tetapi menurut catatan Jepang menunjukkan bahwa satu pembom dipaksa mendarat darurat di Pantai Swatow, Provinsi Guangdong dalam perjalanan kembali ke markasnya dan bukti menunjukkan bahwa Chin turut bertanggung jawab atas kerusakan ini. Bulan berikutnya Cina memperoleh 36 pesawat Gloster Gladiator Mk.I dari Inggris. Skuadron Pemburu ke-17, 28, dan 29 dilengkapi kembali dengan tipe pesawat ini selama bulan Januari dan Februari, 1938. Gladiator adalah sebuah kemajuan dibanding Hawk II, tipe ini lebih cepat, dipersenjatai dengan empat senapan mesin, dan memiliki kokpit tertutup, tapi itu masih tetap biplane berbody fabric dengan roda pendaratan tetap dan baling-baling kayu besar berbilah dua. Seperti kebanyakan pemburu pada waktu itu, ia juga tidak memiliki plat baja pelindung dan tangki bahan bakar yang bisa menutup kebocoran sendiri, fitur yang kelak akan sangat vital.

Gloster Gladiator Mk.I adalah sebuah peningkatan teknologi bagi AU China Nasionalis, meski bukan juga pesawat yang canggih pada masanya.

Chin mencetak sebagian besar dari kill-nya saat menerbangkan Gloster Gladiator, tetapi di sisi lain ia juga merusakkan tiga pesawat yang sama. Salah satu insiden kecelakaan terjadi pada 9 Februari 1938. Saat memimpin penerbangan membawa Gladiator baru dari Hengyang, Provinsi Hunan ke Nanchang ia mengalami badai salju. Saat itu belum ada GPS – dan bahkan belum ada jaringan bantuan navigasi radio yang komprehensif di Cina – navigasi pesawat tempur terutama oleh dilakukan oleh. Chin tertinggal dari rekan-rekannya. Terbang rendah untuk melihat apakah dia bisa menemukan beberapa landmark yang bisa dikenalinya. Siapapun yang pernah berada dalam badai salju dapat menemukan bahwa tanah dan langit cenderung terlihat menyatu. Chin tanpa sadar terbang menabrak bukit yang tertutup salju. Ajaibnya, meskipun pesawat yang ditumpanginya hancur, tapi ia hanya menderita luka-luka yang relatif kecil, yang paling serius ada di bawah mata kanannya.

Umumnya, kecelakaan pesawat adalah peristiwa traumatis, terutama ketika seseorang juga mendapat cedera pribadi dalam peristiwa itu. Beberapa memilih berhenti terbang setelah mengalaminya. Namun, bagi Chin, satu-satunya minatnya adalah kembali ke bertempur. Pada akhir Mei, ia yang sudah cukup pulih untuk kembali beraksi, menembak jatuh sebuah pesawat amfibi Nakajima E8N. Pada bulan Juni ia ditunjuk untuk memimpin skuadron ke-28 dan dipromosikan menjadi Kapten. Pada tanggal 16 bulan itu ia mencetak kemenangan atas G3M2 lainnya saat menyelamatkan rekannya Lieutenant Clifford Louie dan Lieutenant Fan Xinmin yang diserang pesawat A5M. Dalam salah satu peristiwa yang melibatkan kemujuran, pada tanggal 2 Agustus kru darat yang merawat pesawat Chin memasang plat baja yang diambil dari pesawat tempur buatan Rusia ke pesawat Gladiator-nya. Hal ini akan terbukti sangat krusial dalam peristiwa 3 Agustus yang menyelamatkan nyawanya, seperti yang dijelaskan pada kisah pembuka tulisan diatas. Dia terluka dan sedikit terbakar, namun ketika diselamatkan, Chin dengan bantuan para petani berhasil menyelamatkan senapan mesin yang berharga dari pesawatnya yang hancur. Pada saat Chennault mengunjunginya di rumah sakit, Chin meminta satu permintaan kepada Chennault:” Tuan, dapatkah saya memiliki pesawat lain dengan tetap dilengkapi dengan senapan mesin lama saya?”. Permintaan itu dikabulkan

Setelah pesawatnya jatuh, Arthur Chin masih sempat menyelamatkan senapan mesin pesawatnya yang kemudian dimintanya dipasang pada pesawat barunya.

Mitsubishi A5M Type 96 milik Angkatan Laut Kekaisaran Jepang yang menjadi lawan Chin pada 3 Agustus 1938 adalah pesawat tempur utama Jepang yang dihadapi Chin dan rekan-rekannya selama masa ini. Dirancang oleh Jiro Horikoshi (yang juga merancang penerusnya yang lebih terkenal, A6M Type Zero), itu adalah sebuah desain transisi tahun 1930-an lainnya, dengan kokpit terbuka, roda pendaratan tetap, dan persenjataan dua senapan mesin. Namun, pesawat itu juga merupakan monoplane yang terbuat dari logam, lebih cepat dari pesawat tempur Cina lainnya kecuali monoplane Polikarpov I-16, dan A5M ini diterbangkan oleh pilot yang terlatih luar biasa.

Mitsubishi A5M Type 96 milik Angkatan Laut Kekaisaran Jepang lebih unggul daripada pesawat-pesawat tempur milik AU China Nasionalis.

Pada bulan Oktober 1938, Gladiator yang masih tersisa ditarik untuk diperbaiki dan Skuadron ke-28 kembali dilengkapi pesawat lain…..masih juga tipe biplane, yakni Polikarpov I-15Bis buatan Rusia (atau I-152). Dikarenakan oleh kecelakaan dan aksi musuh, angkatan udara China telah menurun dari kekuatan sebelumnya. Sejak Oktober 1937, kerugian pesawat terus meningkat untuk Cina. Berbeda dengan Jepang, yang meski menderita kerugian serupa, Cina hampir tidak memiliki program pembuatan pesawat mandiri seperti Jepang. Pabrik-pabrik pesawat yang mereka miliki lebih dimaksudkan untuk tujuan perakitan pesawat dan bukan untuk produksi, Cina sangat membutuhkan penggantian pesawat dari luar negeri. Pesanan ditujukan ke Prancis, AS, dan Inggris. Namun pengiriman, paling awal tidak akan datang akhir tahun. Sementara itu, Rusia telah menandatangani perjanjian non-agresi dengan China dan siap untuk mengirim perlengkapan perang dan orang-orang dengan segera. Sekitar 450 pilot dan awak sukarelawan Rusia beserta lebih dari 200 pesawat dikirimkan ke Cina pada bulan Oktober. Pesawat-pesawat ini termasuk 62 Poliparkov I-16 monoplane, 93 I-152 (I-15bis) pesawat tempur biplane, dan pembom ringan Tupolev SB.

Pesawat buatan Russia I-152 mulai berdatangan pada tahun 1937 untuk mengganti kerugian armada udara AU China Nasionalis, namun tetap saja pesawat ini inferior dibanding milik Jepang.
Bomber Tupolev SB-2 milik AU China Nasionalis
Lawan tanding setara dari A5M Jepang kemungkinan adalah Polikarpov I-16 buatan Russia yang disuplai ke China Nasionalis.

Pada tanggal 20 Desember 1938, Chin diangkat sebagai Wakil Komandan Grup Pemburu ke-3. Tampaknya, seperti kawan-kawannya yang lain di Skuadron ke-28, Chin turut menerbangkan pesawat-pesawat Rusia, tetapi ia tidak memperoleh satupun kemenangan saat menerbangkannya. Ketika pesawat Gladiator kembali tersedia (hanya tiga yang tampaknya kembali beroperasi) ia kembali ke pesawat lamanya. Memasuki tahun 1939, meskipun Jepang memiliki keunggulan udara yang efektif di sebagian besar Cina, mereka masih bisa diganggu oleh pesawat-pesawat tempur Cina. Pada saat itu, kekuatan udara Jepang telah meningkat menjadi lebih dari 900 pesawat sementara Cina turun menjadi hanya 135 pesawat. Pada saat ini, hanya ada enam Gladiator yang tetap beroperasi, Chin dan pilot Gladiator lainnya dipindahkan ke Liuchow di provinsi Kwangsi untuk mendapat perbaikan, sementara pilot lainnya melakukan transisi ke pesawat tempur Rusia.

Meski punya kualifikasi menerbangkan pesawat buatan Russia, namun Arthur Chin (Kanan) tidak mencetak satupun “kill” dengan pesawat Russia. Saat Gladiatornya selesai diperbaiki, Chin kembali menggunakan pesawat buatan Gloster itu.

Pada tanggal 2 November 1939, Chin dan seorang wingman menyerang pesawat pengintai Mitsubishi Ki-15 – karena kecepatannya, pesawat ini dianggap oleh Jepang hampir kebal terhadap intersepsi oleh pesawat tempur Cina – tetapi tidak mampu menjatuhkannya. Menurut catatan pribadi Chin, dia berencana menjatuhkan pesawat itu dengan terlebih dulu membungkam penembak Ki-15, tetapi wingman-nya gagal mengikuti arahannya.

Pada akhir bulan itu Chin mengklaim menembak jatuh sebuah pembom bermesin ganda, mungkin G3M2, yang ia jatuhkan dengan menukik kebawah dan menyerang dari titik blindspot bawah ekornya. G3M2 model awal memiliki senapan mesin di turret ventral yang dapat ditarik yang menutup serangan dari sudut ini, tetapi turret itu menciptakan banyak drag sehingga kru enggan untuk menurunkannya kecuali mereka benar-benar harus melakukannya. Pada model G3M2 model baru turret ini dihilangkan sepenuhnya, dan bergantung pada senjata di pinggang. Hal ini memang mengurangi hambatan tetapi tidak dapat menutupi serangan langsung dari bawah dan di belakang pesawat.

Ilustrasi format komik strip yang mengisahkan Arthur Chin selamat dari maut meski menderita luka bakar parah.

Pada 27 Desember 1939, Chin memimpin formasi terdiri dari 3 pesawat Polikarpov I-15Bis dan sebuah Gladiator untuk mengawal tiga pembom SB-2 yang diterbangkan oleh kru Soviet dalam misi menyerang posisi Jepang di dekat Kunlun Pass di Provinsi Guangxi. Setelah pertempuran sengit di mana pesawat pimpinan Chin berguguran satu per satu, meski tampaknya mereka telah menembak jatuh dua pesawat tempur Jepang dan merusak sebuah pesawat lagi sebagai balasan (siapa yang tercatat membukukan kill ini tidak ada yang tahu pasti). Chin yang menerbangkan Gloster Gladiator (pesawat dimana dia membukukan 6,5 dari 8,5 kill nya) menembak jatuh sebuah pemburu A5M Jepang yang sedang menyerang seorang pemburu I-15bis China Nasionalis, tetapi ia mendapat tembakan mematikan dari pesawat A5M lainnya. Dia berhasil menyelamatkan diri, tetapi menderita luka bakar serius di wajahnya dan beberapa cedera lainnya. Sialnya, meskipun diselamatkan oleh tentara China, Chin tidak menerima perawatan medis yang layak selama tiga hari. Infeksi adalah salah satu bahaya terburuk yang dihadapi korban luka bakar, hal inilah yang kemungkinan menjadi faktor dalam pemulihannya yang terhitung lambat. Namun pengorbanan mereka tidak sia-sia; ketiga pembom China itu berhasil selamat. Setelah pertarungan berdarah, pasukan KMT mendapatkan kembali Kunlun Pass.

Tragedi pribadi namun terus berjuang

Saat pulih, Chin tinggal bersama keluarganya di sebuah rumah kecil di lapangan terbang Liuchow. Hanya dua hari setelah kembali, pembom Jepang menyerang pangkalan itu. Istri Chin, Eva, membawa anak-anak ke shelter serangan udara terlebih dahulu kemudian kembali ke Chin. Chin, yang hampir tidak bisa bergerak karena perban menutupi wajahnya – termasuk matanya – dan pada tangan dan lengannya. Dalam sekuen yang tampak seperti mimpi buruk dalam gerak lambat, mereka bisa mendengar bom meledak semakin dekat. Ketika bom jatuh didekat mereka, Eva melemparkan dirinya ke atas Chin untuk melindunginya dari pecahan peluru. Eva meninggal, tapi Chin hidup. “Aku memeluk mayatnya sampai bantuan datang,” kenang Chin.

Selain kehilangan istrinya, Arthur Chin juga harus menjalani perawatan panjang untuk memperbaiki mukanya yang terbakar.

Chin kemudian pergi ke Hong Kong yang netral dengan anak-anaknya untuk mendapat perawatan. Lewat tujuh operasi selama dua tahun, para dokter di Hong Kong Sanitarium di Happy Valley mencoba memperbaiki kerusakan pada wajah dan tangan Chin. Dalam kekacauan setelah serangan Jepang pada 8 Desember 1941, Chin (yang masih terbungkus perban) keluar dari tempat tidur rumah sakitnya, mencari anak-anak lelakinya – yang pengasuhnya telah meninggalkan mereka atau terbunuh – dan berhasil melarikan diri kembali melintasi garis pertahanan musuh ke wilayah pasukan kawan. Akhirnya, teman-temannya seperti Chennault dan Nyonya Chiang Kai-Shek (Soong Mei-Ling, istri dari Generalissimo Nasionalis Cina Chiang Kai Sek, sekaligus Wakil Komandan AU China) membujuk Chin kembali ke Amerika untuk berobat. Sebagai komandan “American Voluntary Group Pertama,” Chennault menyusun surat bertanggal 10 Juni 1942, meminta transportasi udara ke AS bagi Chin. Rute pelariannya ini membawanya melalui India dan Afrika sebelum akhirnya tiba di New York City. Di sebuah rumah sakit di New York, Chin mengalami serangkaian dua puluh operasi selama dua puluh bulan untuk merekonstruksi kembali wajah dan tangannya, meski meninggalkannya bekas luka yang besar tetapi masih cukup bisa diterima.

Penderitaan yang dialaminya tidak menghentikan Arthur Chin untuk terus berjuang membela bangsa dan negaranya.

Pada tahun 1944, Chin secara resmi diberhentikan dari angkatan udara China Nasionalis. Dia dengan cepat bergabung dengan Angkatan Udara Angkatan Darat Amerika Serikat. Tugas terakhirnya pada masa perang adalah untuk menerbangkan perbekalan melewati wilayah “The Hump” (pegunungan Himalaya) antara India dan Cina. Setelah perang ia terbang bersama maskapai China National Aviation Corporation menerbangkan DC-3, C-46 dan C-47 sampai perang saudara Cina berakhir dengan kemenangan di pihak komunis, yang memaksanya untuk melarikan diri kembali ke Amerika Serikat pada tahun 1949. Ia kemudian menetap di Portland.

Penerbangan melintasi Himalaya (The Hump) adalah salaah satu misi paling berbahaya dalam Perang Dunia II.
Arthur Chin (tengah) saat bertugas bersama maskapai China National Aviation Corporation, setelah perang berakhir.

Akhir hidup dan pengakuan

Chin gagal mendapatkan pekerjaan sebagai pilot di Amerika pascaperang. Dia berakhir dengan bekerja di Layanan Pos A.S. Chin dikenal sebagai pahlawan di China, tapi bagaimana dengan di Amerika? Meskipun merupakan warga negara AS, kepahlawanan dirinya didapat saat bertugas dengan angkatan bersenjata Cina, yang nampaknya akan mendiskualifikasi dirinya sebagai pahlawan Amerika. Namun, ada beberapa hal janggal disini. Yang menonjol di antara nya adalah fakta bahwa banyak orang Amerika lainnya juga bertugas dengan pasukan udara asing. Pada saat Pearl Harbor diserang, perang di Eropa telah berkecamuk selama lebih dari dua tahun dan di Cina selama empat tahun. Pada 7 Desember 1941, orang-orang Amerika telah terbang bersama dengan RAF dan RCAF di Eropa (terutama dengan tiga Skuadron Elang) dan Kelompok Sukarelawan Amerika bertugas di Cina dan Burma. Berbicara tentang yang terakhir, AVG sebenarnya dibentuk, dan segera setelah serangan Pearl Harbor, dioperasikan, sebagai unit angkatan udara Cina Nasionalis – Satuan yang dikenal dengan Flying Tigers. Tentu saja sebagian besar sejarawan AS akan enggan memandang Flying Tigers berdasarkan hal itu.

Kepahlawanan Unit Flying Tiger kerap menutupi peran individu seperti Arthur Chin.

Hal lainnya adalah bahwa ia mungkin berada di deretan ace pertama Amerika di Perang Dunia II. Setelah AS memasuki perang, ace Army AF pertama yang dikenal adalah Lt Boyd D. “Buzz” Wagner dan ace Angkatan Laut Amerika pertama adalah Edward H. “Butch ”O’Hare. Di dalam batasan ini gambarannya cukup jelas, tetapi jika melihat lebih jauh, muncul fakta-fakta yang lebih rumit. Jika kita mau memasukkan kontribusi orang Amerika yang bertugas sebelum masa ini, selain Chin dan rekan-rekannya di Cina, kita perlu melihat pilot seperti Frank Tinker dan “Ajax” Baumler yang bertugas dalam Perang Saudara Spanyol 1936-1939. Dan memang, Frank Tinker mencatat kemenangan kelimanya pada 16 Juni 1937, sekitar dua bulan sebelum Art Chin membukukan kill yang pertamanya. Namun, (dengan tidak mengecilkan prestasi mereka) Spanyol secara resmi netral selama Perang Dunia II sementara sebaliknya Cina merupakan sekutu dan teater operasi sekutu dalam melawan Jepang. Dan meskipun kita dapat mengatakan bahwa musuh di Spanyol, sama-sama berfaham Fasisme, yang kemudian dihadapi AS  saat PD II dalam bentuk Jerman Nazi dan Italia Mussolini, musuh yang dihadapi Arthur Chin pada 1937 tidak lain adalah Jepang yang nantinya akan membom Pearl Harbor pada tahun 1941. Maka, sebenarnya dapat dikatakan bahwa Chin layak disebut sebagai pahlawan Amerika sama seperti dia dikenang sebagai pahlawan Cina.

Komik asal China untuk mengenang kepahlawanan Arthur Chin.

50 tahun setelah perang, Pemerintah Amerika menganugerahkan penghargaan Distinguished Flying Cross dan Air Medal atas jasa-jasa Chin sebagai pilot tempur. Sebulan setelah Chin meninggal pada 7 September 1997, dia secara anumerta dilantik menjadi bagian dari hall of fame di American Airpower Heritage Museum di Midland, Texas, 3000 orang hadir dalam acara ini. Museum itu mengakuinya sebagai ace pertama Amerika di Perang Dunia II. Pada 2008, anggota Kongres dari Partai Demokrat dari Oregon, David Wu mengumumkan House Resolution 5220 untuk memberi nama kantor pos di Aloha, Oregon sebagai “Gedung Kantor Pos Utama Arthur Chin.” Kongres menyetujui resolusi itu dan George W. Bush menandatanganinya menjadi undang-undang.

Diterjemahkan dan ditambahkan lagi dari:

World War 2 Flying Ace Arthur Chin’s Amazing True Story by Michael Little, 7 October 2015

https://disciplesofflight.com/world-war-2-flying-ace-arthur-chin/

Arthur Chin Was America’s First World War II Ace by Kevin Knodell

Arthur Chin – Chinese American Ace

https://waihobbies.wkhc.net/index.php/history/113-arthur-chin-chinese-american-ace

World War II Database: Arthur Chin

https://m.ww2db.com/person_bio.php?person_id=392

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Arthur_Chin

153 views

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *