Duel F-5E Tiger II vs MiG-21 Fisbed dalam Perang Iran-Iraq (1980-1988)

Ada banyak sekali perbincangan mengenai jet tempur mana yang lebih baik antara Northrop F-5E Tiger II buatan AS atau MiG-21 Fishbed Soviet. Perdebatan mengenai hal ini nampaknya sukar untuk diselesaikan. Dalam Perang Iran-Irak, pertarungan kedua jenis pesawat ini memunculkan hasil yang berimbang. Lebih dari 15.000 buah F-5 dan MiG-21, yang dikenal sebagai pesawat tempur murah, ringan, mudah dirawat dan dioperasikan ini diproduksi. Seiring dengan berjalannya waktu, mereka berdua telah bertugas di lebih dari 60 angkatan udara yang berbeda – bahkan beberapa di antaranya mengoperasikan keduanya. Jika saja keduanya tidak pernah bertemu dalam pertempuran maka dengan demikian maka pertanyaan mengenai mana yang lebih baik akan lebih mudah dibiarkan saja tidak terjawab. Tetapi faktanya, keduanya memang pernah berhadapan – dan tidak hanya sekali.

F-5E Tiger II AU Iran
MiG-21 Bis Fishbed L AU Iran

Pertempuran udara pertama mereka – bertempur dalam konflik yang terlupakan di wilayah Tanduk Afrika pada musim panas 1977 – berakhir dengan kemenangan F-5E dari Angkatan Udara Ethiopia. Pesawat tipe ini menembak jatuh sembilan MiG-21 – ditambah dua MiG-17 – dari Angkatan Udara Somalia, sementara tidak menderita kerugian sama sekali dalam pertempuran udara. Lebih dari tiga tahun kemudian, kedua jenis pesawat itu kembali bentrok dalam Perang Iran-Irak. Irak saat itu berupaya mengeksploitasi kekacauan internal di Iran akibat Revolusi Islam pada tahun akhir 1978 dan awal 1979. Revolusi Islam pimpinan Khomeini yang sukses menggulingkan Shah Mohammed Reza Pahlavi, yang bersekutu dengan AS hampir saja membuat berantakan militer Iran, terutama Angkatan Udaranya yang sangat bercorak Amerika.

AU Iran jelang perang pecah

Setelah revolusi, Bekas Angkatan Udara Kerajaan Iran diubah menjadi Angkatan Udara Republik Islam Iran, atau IRIAF. Angkatan udara Iran kehilangan hampir dua pertiga perwira dan prajurit lainnya karena penangkapan, eksekusi, atau pensiun dini secara paksa. Pada saat Irak menginvasi Iran pada 22 September 1980, IRIAF tidak lagi memiliki kekuatan yang sama seperti sebelumnya. Namun demikian, IRIAF masih memiliki lima skuadron tempur yang dilengkapi dengan sekitar 115 F-5E/F, dan satu skuadron pengintaian RF-5A. Sekitar 40 pesawat Tiger II tambahan ada di tempat penyimpanan. Senjata udara-ke-udara utama Tiger adalah varian rudal AIM-9J Sidewinder buatan A.S., dan dua kanon M39 kaliber 20 milimeter yang dipasang secara internal di hidungnya. Tetapi di Iran pesawat ini lebih digunakan sebagai pesawat pembom tempur, yang dipersenjatai dengan berbagai tipe bom.

Saat Pecah Perang dengan Iraq, AU Iran masih mewarisi ratusan pesawat F-5 E/F Tiger II dari Era Shah. Tiger di Iran lebih digunakan sebagai pesawat pembom tempur dibandingkan sebagai pesawat tempur misi udara ke udara.
Persenjataan utama F-5 Tiger II Iran adalah rudal inframerah jarak pendek AIM-9J Sidewinder.
Selain rudal Sidewinder, F-5 Tiger juga dilengkapi dengan dua kanon M39 kaliber 20 milimeter.

Sementara itu dengan dioperasikan oleh sembilan skuadron, MiG-21 adalah tulang punggung Angkatan Udara Irak, atau IrAF. Unit terbaiknya dilengkapi dengan varian MiG-21bis dan rudal udara-ke-udara buatan Soviet terbaru seperti AA-2C Advanced Atoll dan AA-8 Aphid. Beberapa MiG-21 dimodifikasi secara lokal untuk dapat membawa rudal udara-ke-udara R.550 Magic buatan Prancis, yang sejumlah kecil telah dikirim ke Irak pada musim panas 1980 sambil menunggu pengiriman pertama pesawat pencegat Dassault Mirage F-1EQ. Pelatihan pilot Irak dan Iran memiliki kualitas yang hampir sama. Semua pilot Iran menjalani pelatihan ekstensif di Amerika Serikat dan beberapa lainnya di Pakistan. Sementara itu, Irak mengembangkan prosedur taktis mereka sendiri berdasarkan pengalaman negara-negara Arab dalam perang Oktober 1973 melawan Israel. Masukan-masukan dari pihak India, Prancis, dan Soviet juga turut membentuk sistem pelatihan Pilot Irak.

AA-2C Advance Atoll (kiri) dan AA-8 Aphid (tengah) melengkapi MiG-21Bis AU Iraq
Beberapa MiG-21 Iraq dimodifikasi untuk dapat membawa rudal R.550 Magic buatan Prancis
Orderan Rudal Magic Iraq juga diikuti dengan pesanan Mirage F-1EQ

Duel Tiger II vs Fishbed

F-5E Iran dan MiG-21 Irak bentrok untuk pertama kalinya pada 24 September 1980, dua hari setelah Irak menyerbu Iran. Dua MiG terbang menyelinap tanpa diketahui, dimana pada saat yang sama 4 Tiger Iran sedang mendekati Pangkalan Udara Hurrya dengan mengangkut bom Mk.82 untuk membom pangkalan itu. Salah satu rudal yang dilepaskan MiG-21 Irak meledak tanpa efek membahayakan di bawah pesawat yang diterbangkan oleh Kapten Yadollah Sharifi-Ra’ad, sadar akan kehadiran musuh. Sharifi-Raad kemudian menjatuhkan salah satu pesawat Irak dengan sebuah rudal Sidewinder.

Kapten Yadollah Sharifi-Ra’ad

Dalam upaya untuk menghancurkan sumber utama pendapatan Irak, IRIAF mulai membom industri minyak Irak pada 26 September 1980. Operasi ini mengakibatkan banyak bentrokan antara kedua jenis pesawat tempur ini. Yang pertama terjadi pada hari yang sama ketika sepasang Tiger II dicegat oleh sepasang MiG-21 saat mendekati kilang minyak Qanaqin. Sementara pihak Irak mengklaim telah menembak jatuh sebuah pesawat yang diterbangkan oleh pilot terkenal Iran, Kapten Zarif-Khadem – sebelumnya merupakan anggota tim Taj-Talee Acrojet, yang setara dengan tim Thunderbirds Angkatan Udara AS – Pihak Iran bersikeras ia menabrak tanah saat berusaha untuk menghindari salah satu MiG.

Pada 14 November 1980, sepasang MiG-21bis dari №47 Squadron, yang dipimpin oleh seorang kapten, sebut saja namanya “Zaki,” berhasil memergoki sebuah F-5E yang telah terpisah dari formasinya setelah menyerang sebuah kilang minyak di Mosul. Meski awalnya salah mengidentifikasi sasarannya sebagai F-4 Phantom, pilot Irak kemudian menggambarkan apa yang terjadi selanjutnya:

MiG-21Bis AU Iraq

“Perintah kami adalah untuk berpatroli di daerah yang kami pikir akan digunakan sebagai rute penerbangan musuh. Kami dengan hati-hati menyisir langit dan beberapa menit kemudian melihat sebuah Phantom yang terbang sendirian. Saya menukik dan berakselerasi sambil memotong, setelah mendapatkan peringatan rudal mendeteksi sasaran, saya menekan pelatuk. Saya tidak pernah menembakkan Magic sebelumnya, tetapi telah mendengar tentang kill pertama yang berhasil dicetak dengan rudal itu hampir sebulan sebelumnya,” lanjut pilot MiG-21 Irak. “Rudal itu meluncur dan semuanya tampak baik-baik saja – sampai itu berlalu melintas tanpa membahayakan bagian ekor targetku! Reaksi pertama saya adalah terkejut, tetapi beberapa detik kemudian Rudal Magic meledak di dekat kokpit, menyebabkan bola api besar. “

Pertempuran udara terbesar antara kedua tipe dalam perang ini terjadi pada tanggal 26 November 1980, ketika delapan F-5E IRIAF memasuki ruang udara Irak dengan maksud untuk secara bersamaan menyerang pembangkit listrik di Dukan, sebuah stasiun radar di luar Halabcheh, sebuah pos pengamatan di luar Suleimaniyah dan Pangkalan Udara Al Hurrya. Pada saat itu, MiG-21 Irak secara teratur berpatroli di bagian utara perbatasan Irak dengan Iran. Sepasang MiG yang dipimpin oleh Kapten Nawfal dari Skuadron 47 mencegat dua F-5E yang mendekati Dukan dan meluncurkan rudal AA-8, menembak jatuh pesawat yang diterbangkan oleh Letnan satu Abul-Hassan dan membunuhnya seketika. Pasangan Irak lainnya mencegat formasi yang dipimpin oleh Kapten Sharifi-Raad, yang bertugas membom target di luar Suleimaniyah. Namun, sekali lagi, pilot Iran yang berpengalaman itu mengakali lawan-lawannya.

Ilustrasi F-5E Tiger II Kapten Yadollah Sharifi-Ra’ad menembak jatuh MiG-21 Fishbed AU Iraq.

“Saya menemukan target kami tidak ditempati dan memutuskan untuk kembali ke fasilitas telekomunikasi di luar Suleimaniyah,” kenang Sharifi-Raad. “Sesampai di sana, pesawat saya bergetar dan saya memperingatkan wingman saya tentang kemungkinan serangan musuh. Lalu saya melirik ke kiri dan melihat MiG-21: itulah alasan pesawat saya bergetar. Saya melepaskan bom saya dan bersiap untuk melayani pertempuran udara sambil menurunkan ketinggian saya ke ketinggian yang sangat rendah dan kemudian berusaha keras untuk memaksa MiG dalam posisi overshoot. Pilot Irak melakukan kesalahan dan mengurangi kecepatannya, sementara saya melakukan kesalahan lain dengan menembakkan AIM-9J padanya terlalu dini. Sidewinder gagal mengunci dan melewatkan target. Saya beralih ke kanon dan melepaskan tembakan ke sayap kanannya dari jarak dekat,” tambah Sharifi-Raad. “Dia melihat ke arahku, saat kita bersama-sama turun sangat rendah, dan kemudian sayap kirinya menyentuh tanah – dan pesawatnya meledak.”

Kedua belah pihak sepakat bahwa terdapat F-5E dan MiG-21 yang bertabrakan selama pertempuran udara ini, dan kedua pilot tewas, tetapi Irak bersikeras bahwa Letnan Satu Abdullah Lau’aybi sengaja menabrak MiG-nya ke pesawat Tiger II yang dipiloti oleh Zanjani – tindakan yang membuatnya menjadi legenda di kalangan Iraq.

Tiada pemenang dan beberapa catatan penting

Periode perang udara paling intensif antara Iran dan Irak berakhir pada akhir 1980. Kedua belah pihak telah kelelahan secara fisik dan material karena empat bulan operasi militer yang intensif dan kerugian besar yang mereka alami. Selain itu, menjadi jelas bahwa baik F-5E dan MiG-21 tidak memiliki perangkat sensor canggih, senjata dan peralatan elektronik pendukung yang diperlukan untuk bisa “bertahan hidup” di medan perang yang dipenuhi dengan sejumlah besar persenjataan anti-pesawat. Tidak mengherankan jika kedua jenis pesawat itu kemudian semakin terdegradasi ke tugas-tugas sekunder, dan bentrokan antara keduanya menjadi langka.

Pertempuran udara terakhir yang diketahui antara F-5E Iran dan MiG-21 Irak terjadi pada 13 November 1983, ketika Kapten Ibrahim Bazargan menembak jatuh sebuah pesawat Irak yang terlibat dalam serangan udara di Bandara Internasional Ahwaz. Sejauh yang diketahui hingga saat ini, Perang Iran-Irak berakhir tanpa pemenang yang jelas dalam duel kedua pesawat ini. Dalam perang itu, masing-masing empat buah F-5E dan MiG-21 dihancurkan dalam pertempuran udara menurut sumber-sumber barat.

Dalam Perang Iran-Iraq, muncul beberapa “Ace” F-5 Tiger dan MiG-21 Fishbed. Di Pihak Iran muncul beberapa laporan yang menyatakan bahwa F-5E IRIAF, yang dipiloti oleh Mayor Yadollah Javadpour, berhasil menembak jatuh sebuah MiG-25 pada 6 Agustus 1983. Ini adalah klaim yang luar biasa karena MiG-25 mampu terbang jauh lebih cepat dan lebih tinggi dari F-5. Namun Sumber-sumber Rusia menyatakan bahwa “kill” pertama yang dikonfirmasi terhadap MiG-25 terjadi pada tahun 1985. Mayor Yadollah Javadpour menurut sumber-sumber Iran, kemudian diakui sebagai Ace dengan pencapaian 5 “kill”, yang menjadikannya salah satu pilot F-5 tersukses yang pernah ada, meski cuma 2 “kill” yang dicatat menurut sumber-sumber barat.

Kolonel Yadollah Javadpour, menurut sumber Iran pernah menembak jatuh MiG-25 Foxbat AU Iraq dengan F-5E Tiger II.

Ace pilot Tiger lainnya adalah Yadollah Sharifi-Ra’ad, yang merupakan salah satu pilot Northrop F-5 Iran paling sukses selama perang Iran-Irak. Dia menembak jatuh 5 pesawat tempur Irak (3 dikonfirmasi dan 2 lagi berupa “kemungkinan”). Kemenangannya termasuk atas satu Su-22 dan empat MiG-21. Dalam serangan udara di power station Irak, dia diserang oleh 3 fighter Irak dan ditembak jatuh. Dia berhasil melompat keluar pesawat dan diselamatkan oleh gerilyawan Kurdi Irak untuk kemudian dikembalikan ke Iran. Kisahnya kemudian difilmkan dalam film buatan era perang yang berjudul “Eagle” (1984), konon 18% orang Iran menonton film ini pada saat dirilis.

Selama tahun-tahun pertama pengoperasiannya, pesawat tempur F-5 Iran memiliki keunggulan dalam hal teknologi rudal, dengan menggunakan versi canggih rudal IR Sidewinder, namun keunggulan ini memudar dengan adanya pengiriman rudal dan pesawat tempur baru ke Irak. Akurasi pertempuran udara Iran-Iraq dalam perang tidak pernah diketahui secara pasti karena banyak klaim yang berbeda dari sumber-sumber Irak, Iran, Barat, dan Rusia. Banyak catatan “kill” udara-ke-udara yang dikonfirmasi oleh sumber IRIAF dikaitkan dengan satuan Pengawal Revolusi karena alasan politik.

Mohommed Rayyan, calon Ace Iraq pernah menjatuhkan 2 F-5 Freedom Fighter Iran dengan MiG-21 MF

Di pihak Iraq, muncul “calon” Ace yang mengawali kariernya menerbangkan MiG-21 Fishbed, yakni Mohommed Rayyan, yang punya nickname “Sky Falcon”. Rayyan, yang waktu itu seorang Letnan Penerbang dan menerbangkan MiG-21MF, mengklaim dua (kemudian terkonfirmasi) “kill” terhadap F-5 Freedom Fighters Iran pada tahun 1980. Rayyan yang kemudian menjadi pilot MiG-25 Foxbat akan menambah catatan “kill” nya menjadi total 8 (5 menurut sumber barat), diantaranya atas F-14 Tomcat pada tahun 1986 (menurut sumber Iraq), ditahun yang sama dia gugur. Selain Rayyan, di pihak Iraq terdapat juga 2 pilot lain yang membukukan “kill” lebih dari satu atas F-5 Iran dengan menggunakan Fishbed, yakni S.A Razak dengan 4 kill dan Omar Goben dengan 3 kill (satu diantaranya dengan MiG-23MF Flogger). Selama Perang Iran-Irak, 23 MiG-21 Irak ditembak jatuh oleh F-14 Iran dan 29 MiG-21 lainnya oleh F-4, hal ini dikonfirmasi oleh sumber-sumber Iran, Barat dan Irak. Namun, dari 1980 hingga 1988, MiG-21 Irak berhasil menembak jatuh 43 pesawat tempur Iran termasuk F-14 Tomcat. Jumlah “kill” dan kerugian MiG-21 Iraq relatif berimbang.

Catatan “Kill” Mohommed Rayyan terus bertambah setelah melakukan transisi ke MiG-25 Foxbat, konon diantara korbannya adalah F-14A Tomcat AU Iran

Sementara itu bagaimanapun catatan rekor F-5 dalam AU Iran, yang pasti negara ini terus mengoperasikan pesawat tipe ini hingga hari ini (bersama dengan armada pesawat tempur buatan Amerika lainnya seperti F-14 Tomcat dan F-4 Phantom yang sudah menua karena dibeli di era Shah). Setidaknya ada 3 pesawat yang “diakui” oleh Iran sebagai produk “asli” Iran yang mengambil wujud rupa dari F-5E Tiger II dengan sedikit perubahan “kosmetik”, yakni pesawat tipe Azarakhsh, Saegeh, dan Kowsar. Banyak pihak mensinyalir bahwa apa yang dilakukan Iran tidak lebih pada melakukan modifikasi pada airframe F-5 lama mereka.

Pesawat Tempur Azarakhsh
Pesawat tempur Saeqeh
Pesawat tempur Kowsar

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

In the Iran-Iraq War, F-5s and MiG-21s Fought to a Standstill

https://warisboring.com/in-the-iran-iraq-war-f-5s-and-mig-21s-fought-to-a-standstill/

Samurai in the sky

http://www.iiaf.net/iiafmisc/announcements/announcements.html

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Yadollah_Sharifirad

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Mohommed_Rayyan

https://en.m.wikipedia.org/wiki/List_of_Iraqi_aerial_victories_during_the_Iran%E2%80%93Iraq_war

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Northrop_F-5

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Mikoyan-Gurevich_MiG-21

4 thoughts on “Duel F-5E Tiger II vs MiG-21 Fisbed dalam Perang Iran-Iraq (1980-1988)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *