Perang Vietnam

Duet Maut Helikopter Pemburu-Pembunuh di Vietnam

“Aku menerbangkan helikopterku dalam ketinggian rendah dalam cuaca sedikit gerimis, saat pengamat di kursi sebelah memberi tahu bahwa ada sekelompok Vietcong berkumpul di sebuah selokan sebelah kanan dari helikopterku. Inilah tugasku sebagai pilot Hughes OH-6A Cayuse Kavaleri Udara ke-1. “Naikkan lima puluh” komando-ku kepada prajurit artileri untuk mengkoreksi tembakan mereka”. “Nah begitu” konfirmasi dari kopilotku. Peluru tepat menghantam selokan, melemparkan tanah basah keudara dan memaksa sisa Vietcong yang mengenakan pakaian hitam kembali masuk ke deretan pepohonan. “Tidak berapa lama kemudian saya melihat lebih banyak Vietcong, mereka lari di tempat terbuka di sebelah kiriku. Duduk di kursi pilot Loach (OH-6A Cayuse) aku terkagum dengan desain bulat telur dari helikopter yang menyajikan sudut pandang luas yang spektakuler dan hanya menyisakan sedikit lokasi blind spot di sebelah belakang” “Vietcong itu menembaki kami. Aku melihat kilatan warna merah dari laras senapan mereka di tengah hujan. Aku segera menaikkan ketinggian helikopter, meninggalkan lintasan peluru yang beterbangan. Helikopter ini punya kekuatan, jadi kami baik-baik saja.” Fred Newman, si pilot datang ke vietnam pada 15 februari 1967 dan segera melakukan debut tempur dalam “Loach”. “Dalam misi normal, kami terbang dengan muatan bahan bakar penuh melayang diatas pasukan kawan yang bergerak menuju posisi baru. Jika mereka diserang, maka kami akan terbang pada ketinggian untuk mengarahkan tembakan artileri ke posisi pasukan Vietcong.” “Rekanku tidak cukup cepat suatu hari, ketika ‘Victor Charlie” menembakinya dengan senapan mesin berat 12,7mm. Ia mendapat beberapa tembakan berat, merusak sistem hidrolik dan pecahan logam yang menghambur di kokpit. Ia untungnya mampu menjaga rotasi otomatis helikopternya untuk mencegah kejatuhan yang tidak terkontrol dan berhasil mendarat dengan baik. Hal ini membuktikan bahwa OH-6 memiliki tingkat survive yang tinggi. Jika kamu melihat wujud Loach, yang pada dasarnya adalah airframe dengan bentuk bulat telur yang dibubuhi dengan tailboom. Saat kamu crash dan tailboom hancur, airframe yang bulat telur itu tetap utuh. Kru di dalamnya dapat keluar, mengambil napas panjang, dan tetap hidup.” 

Dalam Perang Vietnam helikopter pengintai OH-6 Cayuse terlibat dalam misi-misi paling berbahaya dalam perang. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Helikopter tempur AH-1 Cobra dengan dipandu oleh OH-6 Cayuse menyerang sasaran-sasaran musuh. (Sumber: https://www.wallpaperflare.com/)
Taktik pemburu-pembunuh berevolusi dari misi yang diterbangkan oleh helikopter pengintai dan pengawalnya untuk menilai zona pendaratan beberapa menit sebelum helikopter-helikopter pengangkut UH-1 (terlihat di sini pada tahun 1969 di dekat Lai Khe) yang dipenuhi pasukan tiba. (Sumber: https://www.smithsonianmag.com/)

Pada era Newman, biasanya pasukan kavaleri udara dilengkapi dengan 7-9 OH-6, sebuah pleton udara dengan helikopter-helikopter Huey “Slick” dan sebuah pleton udara bersenjata yang dilengkapi dengan 9 helikopter serang. “Anda berada tepat di hadapan musuh dengan helikopter dan harus mengetahui apa yang Anda lakukan,” kenang Warrant Officer Clyde Romero tentang misi pengintaian terbang selama 1.100 jam di Vietnam Selatan pada tahun 1971. “Ini seperti polisi jalanan yang memasuki lingkungan yang buruk. Anda dapat memiliki semua senjata, rompi, dan radio yang Anda inginkan, tetapi Anda memerlukan kecerdasan jalanan atau Anda akan mati dalam waktu satu jam.” Meskipun sebagian besar pesawat tempur di Vietnam mengutamakan terbang di ketinggian dan menggunakan kecepatannya untuk membantu mereka untuk menghindari senjata-senjata anti-pesawat, awak Angkatan Darat A.S. yang menerbangkan helikopter Hughes OH-6A Cayuse terbang rendah dan memancing tembakan—untuk menyiapkan target penembakan bagi helikopter serang Bell AH-1G Cobra yang berputar-putar di atas. Misi pemburu-pembunuh ini, menjadi salah satu misi paling berbahaya dalam Perang Vietnam, yang menguji tekad pilot OH-6 dan pengamat udara yang duduk di samping mereka. Meski sebagian besar masih remaja, kelangsungan hidup mereka bergantung pada naluri yang terasah dan refleks yang tajam, serta banyak keberuntungan.

HUGHES OH-6 & BELL AH-1

Meskipun hanya ada sedikit helikopter Amerika yang bertugas dalam Perang Dunia II dan kerap diterbangkan di Korea untuk menjalankan misi-misi dukungan non-tempur, Vietnam adalah tempat pembuktian bagi berbagai jenis helikopter – mulai dari Huey hingga Chinook yang bisa membawa muatan besar. Pada tahun 1965, konsep pasukan tempur yang diangkut helikopter masih terhitung baru dan sebagian besar belum teruji, sehingga unit-unit yang diterjunkan di Vietnam menciptakan taktik-taktik langsung di tempat. Angkatan Darat A.S. mulai menggunakan helikopter Bell OH-13 Sioux dan Hiller OH-23 Raven, yang pernah menjadi helikopter pengintai artileri, untuk tugas mengintai bagi formasi helikopter-helikopter angkut UH-1D Huey pada saat-saat sebelum serbuan udara untuk mengumpulkan informasi tentang kondisi zona pendaratan dan lokasi-lokasi musuh. Daerah pegunungan di Vietnam bagaimanapun membatasi kemampuan helikopter yang kurang bertenaga dan ketinggalan jaman ini. Mereka tidak dapat terbang cukup cepat untuk menghindari tembakan musuh atau membawa persenjataan yang cukup untuk menimbulkan ancaman yang berarti. Unit-unit di Vietnam kemudian mulai mengirimkan helikopter-helikopter UH-1B yang dilengkapi dengan pod roket dan senapan mesin untuk mengelilingi helikopter-helikopter pengintai pada jarak sekitar 600 kaki (182,88 meter) dan menyerang apa pun yang mungkin mengganggu pendaratan pasukan yang akan segera dilakukan. Namun helikopter Huey terbukti terlalu lambat untuk melakukan tugasnya dengan baik, dan butuh untuk segera diganti dengan baik helikopter tipe pengintai maupun tipe pelindung. Pada tahun yang sama, bantuan pun mengalir. Seorang insinyur Bell Helicopter yang kreatif telah mengerjakan helikopter serang pertama di dunia, dan keputusan Bell untuk menyembunyikan proyek tersebut sampai selesai membuat model tersebut dikenal sebagai turunan dari helikopter Huey. 

Helikopter dari masa Perang Korea, Bell OH-13 Sioux. (Sumber: https://www.italeri.com/)
Helikopter Hiller OH-23 Raven. Angkatan Darat A.S. mulai menggunakan helikopter Bell OH-13 Sioux dan Hiller OH-23 Raven, yang pernah menjadi helikopter pengintai artileri, untuk tugas mengintai bagi formasi helikopter-helikopter angkut UH-1D Huey pada saat-saat sebelum serbuan udara untuk mengumpulkan informasi tentang kondisi zona pendaratan dan lokasi-lokasi musuh. Daerah pegunungan di Vietnam bagaimanapun membatasi kemampuan helikopter yang kurang bertenaga dan ketinggalan jaman ini. (Sumber: https://fly.historicwings.com/)
Bell UH-1B Gunship di hutan Vietnam. Meskipun bisa dipersenjatai, namun helikopter Huey terbukti terlalu lambat untuk melakukan tugasnya dengan baik, dan butuh untuk segera diganti dengan baik helikopter tipe pengintai maupun tipe pelindung. (Sumber: https://www.pinterest.ca/)

Pada bulan Agustus 1967, helikopter AH-1G Cobra tiba di Vietnam. Cobra ini cepat dan mematikan. Dari kokpit belakang, pilot menembakkan roket dari peluncur yang dipasang pada sayap pendek di kedua sisi; sedangkan kopilot di depan mengoperasikan turret dagu yang menampung senjara minigun dan peluncur granat. Daya tembak Cobra cukup besar di Vietnam dimana minigun-nya yang memuat 4.000 butir amunisi kaliber 7,62 mm, mampu menembakkan antara 2.000 hingga 4.000 butir peluru per menit, sementara peluncur granat otomatis kaliber 40mm-nya, mampu menampung 200 hingga 400 peluru, dan empat pod roketnya, bisa menampung 52 roket (maksimum 76 roket bisa dibawa) dengan spesifikasi beragam. Berbeda dengan “nenek moyangnya” yang ditugaskan membawa pasukan, “sebuah Cobra bagaikan pesawat tempur pada Perang Dunia II,” kata Jim Kane, yang tiba di Vietnam setelah lulus dari Universitas Purdue. “Cobra menyenangkan untuk diterbangkan.” Kane, yang saat ini menjual produk sekuritas di Richmond, Virginia, menerbangkan helikopter AH-1 di Vietnam dari tahun 1968 hingga 1971. Sementara itu setelah menjalani proses seleksi yang kontroversial yang mencakup tuduhan aksi spionase industri dan favoritisme politis, helikopter observasi Hughes OH-6A pertama tiba di Vietnam pada bulan Desember 1967. Pasukan Angkatan Darat menyebut OH-6A sebagai Loaches, yang merupakan kependekan dari “helikopter observasi ringan (light observation helicopters)”. Nama Loach sendiri juga kebetulan merupakan nama untuk banyak ikan karnivora atau pemakan serangga yang hidup di sungai, terutama yang umum di Asia Tenggara, yang mengkhususkan diri berburu di antara substrat dan pelindung yang lebat. Helikopter ini sangat ringan dan bertenaga besar (didukung oleh mesin bertenaga 285 hp tetapi beratnya lebih ringan dari sebuah mobil Volkswagen), sehingga sempurna untuk menjalani misi terbang di siang hari, dan rotor utamanya yang berdiameter 26 kaki (7,9 meter) membuatnya mudah untuk mencapai zona pendaratan yang sempit. OH-6A dapat dipersenjatai dengan subsistem persenjataan M27, yakni minigun M134 enam laras kaliber 7,62 mm yang dipasang di sisi kiri (kiri), atau peluncur granat kaliber 40 mm pada subsistem persenjataan XM8. Selain itu, senapan mesin M60D 7.62mm dapat dipasang di bukaan pintu depan (kiri) atau belakang kanan (kanan).

Helikopter AH-1 Cobra yang bisa dipersenjatai dengan berat, juga terkenal gesit di udara sehingga ideal menjadi helikopter gunship. Berbeda dengan “nenek moyangnya” yang ditugaskan membawa pasukan, “sebuah Cobra bagaikan pesawat tempur pada Perang Dunia II,” kata Jim Kane. (Sumber: https://goodtopssm.life/)
OH-6 dipersenjatai dengan minigun. (Sumber: https://planehistoria.com/)

Helikopter ini tidak memiliki sistem hidrolik dan perangkat listrik yang digunakan terutama untuk menghidupkan mesin—terhitung sederhana bahkan menurut standar tahun 1960-an, yang untuk tujuan praktis berarti lebih mudah dirawat dan lebih sulit ditembak jatuh dibandingkan helikopter lainnya. Namun lapisan aluminiumnya yang tipis dapat dengan mudah tertembus peluru senapan, dan juga kusut serta menyerap energi saat terjadi kecelakaan, dan struktur rangka yang kuat melindungi sistem-sistem penting—seperti orang-orang di dalamnya. Kru Loach secara teratur bisa selamat dari kecelakaan yang dapat berakibat fatal bagi kru helikopter lain. Salah satunya Loaches, yang dijuluki “Queer John“. Helikopter ini terjatuh ke tanah setidaknya hingga tujuh kali. Queer John terkenal bukan hanya karena kecelakaannya saja, tapi juga karena bisa menjaga keselamatan-nya kru saat mengalami kecelakaan. Sebuah artikel Angkatan Darat yang ditulis setelah kecelakaan ketujuh John menyebutkan bahwa helikopter tersebut selamat dari 61 tembakan musuh dan tujuh kecelakaan tanpa kehilangan satu pun anggota awaknya. Meskipun Loach rentan terhadap tembakan musuh, mereka terkenal karena tingkat keselamatan dari kecelakaan seperti yang dilakukan oleh Queer John. Sebuah pepatah di kalangan penerbang Angkatan Darat menyebutkan bahwa, “Jika Anda harus jatuh, lakukanlah di Loach.”

“Queer John” yang legendaris. (Sumber: https://www.wearethemighty.com/)

DUET PEMBURU-PEMBUNUH

Saat H-13 dipensiunkan, Loaches diduetkan dengan helikopter serang Cobra. Dari sinilah peran taktik helikopter pemburu-pembunuh (Hunter-killer) muncul, dimana satu helikopter (Loaches) ditugaskanuntuk mengenali dan mengidentifikasi musuh (“pemburu”) dan yang lainnya (Cobra) ditugaskan untuk melancarkan serangan (“pembunuh”). Loaches, biasanya dengan pilot dan pengamat dan terkadang penembak di pintu, terbang hanya sekitar 10 kaki (3 meter) di atas puncak-puncak pohon dengan kecepatan antara sekitar 45 dan 60 mph (72 dan 96 km/jam), mencari tanda-tanda keberadaan musuh. Helikopter Cobra, yang dijuluki Ular, terbang berputar-putar 1.500 kaki (457 meter) di atas helikopter-helikopter pengintai, menunggu untuk menerkam apa pun yang ditemukan Loach. Namun Perang Vietnam tidak seperti konflik Amerika sebelumnya; hanya ada sedikit garis depan yang dapat didefinisikan secara nyata, dan mereka yang bertempur perlu mengetahui apa yang terjadi di sekitar mereka, setiap saat. “Kami beroperasi dari pangkalan tetap yang merupakan pulau-pulau, jika Anda mau mendefinisikannya, yang berada di bawah kendali pasukan sekutu,” kata Hugh Mills, yang menerbangkan Loaches dan Cobra di Vietnam dari tahun 1968 hingga 1972, dan kemudian menerbangkan helikopter untuk Departemen Kepolisian Kansas City. Dia mengenang: “360 derajat di sekitar Anda adalah wilayah musuh, dan kemampuan untuk bekerja bersama dengan unit-unit Amerika dan (Vietnam Selatan) di lapangan benar-benar membutuhkan penerbangan yang menjadi ‘mata’ untuk membedakan mana yang orang baik dan mana orang-orang jahat.” Taktik pemburu-pembunuh ini terbukti inovatif dan efektif dalam kondisi pertempuran Vietnam yang menantang, terutama mengingat medan hutan yang lebat dan gerilyawan Viet Cong yang sering kali sulit ditemukan. Strategi ini memungkinkan pasukan AS untuk merespons ancaman musuh dengan cepat, menggabungkan pengintaian dan daya tembak dalam satu paket udara yang terkoordinasi. Pasangan Loach-Cobra kemudian semakin sering dikerahkan, hingga peran utama mereka adalah mengumpulkan informasi intelijen umum daripada menyiapkan zona pendaratan.

Duet “pembunuh” Loaches dan helikopter serang Cobra. (Sumber: https://usastruck.com/)
Seorang kepala kru di sebuah pangkalan di Can Tho sedang mengerjakan gear box rotor ekor Cobra. Perhatikan stabilisator berwarna merah, yang juga umum digunakan pada OH‑6, yang membantu pesawat di atas melacaknya. (Sumber: https://www.smithsonianmag.com/)
Pilot John Shafer bersiap untuk menerbangkan Loach-nya dari pangkalan di luar Pleiku pada bulan Maret 1971. Foto itu diambil beberapa hari setelah dia ditembak jatuh. (Sumber: https://www.smithsonianmag.com/)

MEMBURU JEJAK MUSUH

Misi dimulai setiap hari saat fajar, ketika kru diberi pengarahan tentang ke mana harus terbang dan apa yang harus dicari. Untuk berburu perkemahan, bunker, atau tanda-tanda musuh lainnya, komandan akan mengerahkan satu tim penerbangan terdiri dari satu helikopter pengintai Loach dan satu Cobra pendukung, yang disebut Tim Merah Muda. (Helikopter Scout dikenal sebagai Tim Putih dan Cobra sebagai Tim Merah; kedua warna tersebut jika digabungkan menjadi merah muda. Di beberapa daerah, Tim Ungu—satu Loach dan dua Cobra—juga umum, begitu pula variasi kombinasi lainnya). Dalam tim mobil udara, seorang pilot helikopter pengintai akan terbang rendah sementara seorang pengamat akan memindai tanah untuk mencari tanda-tanda kekuatan musuh. Beberapa dari mereka bahkan dapat mengetahui seberapa besar suatu kekuatan dan seberapa baru kekuatan itu berlalu di tempat itu. Mereka kemudian akan memanggil unit pengintai di darat atau pasukan infanteri untuk memburu musuh di semak-semak sementara helikopter serang melindungi dari atas. “Kami terbang sangat dekat dengan barisan rumput gajah sehingga kami akan meniup rumput tersebut untuk melihat apakah ada orang yang bersembunyi di sana,” kata kru pengamat Bob Moses. Moses, seorang wajib militer berusia 19 tahun, tiba di Vietnam pada bulan Juli 1970 untuk menjalani tur pertama dari dua tahun turnya, dan kemudian bekerja di Departemen Urusan Veteran sebagai terapis dan administrator. Bahkan rumput yang terinjak pun merupakan petunjuk; karena itu berarti pasukan musuh telah melewati daerah itu dalam waktu delapan jam, waktu yang dibutuhkan agar rumput dapat mengering dan tegak kembali. Karena unit-unit tersebut ditugaskan secara permanen di wilayah tertentu, mereka menjadi mengetahui geografi setempat secara dekat dan dapat melihat apa pun yang tidak biasa. “Kami adalah pelacak tempur,” kata Mills. “Saya mengikuti langkah kaki. Saya bisa melihat puntung rokok masih menyala. Saya dapat mengetahui berapa umur sebuah jejak kaki dari tampilannya. “Sebagian besar pertempuran kami (kami) berada pada jarak 25 hingga 50 kaki (7,5 hingga 15 meter jauhnya) ketika kami menjumpai (Viet Cong),” lanjut Mills. “Saya kerap melihat mereka, hingga bagian putih dari matanya, dan mereka telah melihat saya sebaliknya…. Saya kerap pulang dengan darah di kaca depan saya. Sedikit berdarah tapi itulah seberapa dekat kami (dengan musuh).” 

Sebuah “Tim Merah Muda,” yang terdiri dari satu OH-6 (tengah) dan dua Cobra, mencari masalah di dekat Phouc Vinh pada tahun 1969. (Sumber: https://www.smithsonianmag.com/)
Sebuah OH-6A Cayuse dari Kavaleri Udara ke-1 mencari Viet Cong di sebuah dusun kecil. (Sumber: https://www.smithsonianmag.com/)

Saat Loach terbang di antara pepohonan, pilot di kursi belakang di dalam Snake yang berputar di atas terus mengawasi pengintai kecil itu dan penembak di kursi depan mencatat apa pun yang disiarkan melalui radio oleh pengamat Loach. Saat menghadapi tembakan musuh, Loach harus segera pergi, menjatuhkan granat asap untuk menandai sasaran sehingga dalam hitungan detik, Cobra bisa masuk untuk menyerang. Kru Loach dilengkapi dengan senjata ringan (mulai dari senjata perorangan standar era itu semacam senapan M14, M16, hingga senapan mesin M60) dan bisa membalas tembakan saat mereka melarikan diri. Mereka juga dapat menggunakan granat dan kadang-kadang bahkan menggunakan bahan peledak buatan sendiri; unit yang lebih agresif bahkan memasang minigun yang bisa menembak ke depan (yang lebih ekstrem adalah varian “OH-6C” ciptaan Seksi Pemeliharaan Pasukan B Skuadron Kavaleri Udara 7/17 The Real Cav, yang ditempatkan di dekat Pleiku pada awal tahun 1972. Tipe ini dipersenjatai dengan peluncur granat kaliber 40 mm di turret hidung, dan dua buah pod 19 tabung peluncur roket kaliber 2,75 inci. Sayangnya, beratnya persenjataan membuat helikopter kecil itu tidak bisa lepas landas). Sementara itu helikopter Cobra umumnya menyerang dengan roket, yang lebih disukai untuk akurasinya dari jarak jauh, sebelum beralih ke senapan mesin yang dipasang di dagu dan peluncur granat yang kurang akurat hanya jika mereka cukup jauh dari pasukan kawan atau jika roket—AH-1 dapat membawa hingga sebanyak 76 roket—habis. Empat Huey yang membawa pasukan (disebut Tim Biru) sering duduk diam di suatu tempat di dekatnya, siap memasukkan pasukan jika Tim Merah Muda menemukan target yang menarik—atau ditembak jatuh dan perlu diselamatkan.

Penembak dengan senapan mesin M60 di helikopter OH-6 Loach, 1971. (Sumber: https://www.reddit.com/)
AH-1 dapat membawa hingga sebanyak 76 roket. (Sumber: https://planehistoria.com/)
Kru Loach dan Cobra tinggal bersama, dan penjadwal umumnya memasangkan tim dengan mitra yang mereka minta. Hal ini membuat ikatan persaudaraan yang kuat diantara mereka. (Sumber: https://planehistoria.com/)

Loach dan Cobra selalu berkomunikasi melalui radio, dan karena intensitas misi pemburu-pembunuh, tidak lama kemudian pasangan yang terbang di masing-masing tipe helikopter menjadi cukup mengenal satu sama lain untuk mengantisipasi pergerakan satu sama lain. “Hal ini berkaitan dengan warna suara Anda—cara Anda berbicara dengan orang lain di radio,” kata Romero, yang tiba di Vietnam pada tahun 1970, awalnya sebagai kopilot Huey. (Dia kemudian dipindahkan ke Angkatan Udara dan menerbangkan F-4 Phantom, dan akhirnya menjadi kapten maskapai penerbangan.) Kru Loach dan Cobra tinggal bersama, dan penjadwal umumnya memasangkan tim dengan mitra yang mereka minta, meskipun mengingat tingkat pergantian yang tinggi, maka hal ini tidak selalu memungkinkan. “Sampai hari ini, saya lebih dekat dengan orang-orang yang terbang bersama saya di Vietnam dibandingkan dengan saudara lelaki saya sendiri,” kata Mills. “Saya menghabiskan lebih banyak waktu bersama mereka.” Selama sebagian besar masa perang, tidak ada pelatihan formal Angkatan Darat untuk mempersiapkan pilot dan pengamat helikopter pengintai. Markas Besar Angkatan Darat mengembangkan doktrin dengan memanfaatkan apa yang berhasil di lapangan, bukan sebaliknya, dan setiap unit di Vietnam melakukan hal-hal yang sedikit berbeda. Meskipun pilot Cobra dilatih di Amerika Serikat, sebagian besar pilot Loach tidak mengendalikan OH-6 sampai tiba di Vietnam. “Anda pernah beberapa kali terbang dengan Huey, lalu Anda duduk di kursi depan dengan Cobra,” pilot pengintai Allan Krausz menceritakan. Krausz diperintahkan ke Vietnam pada bulan April 1971, dan hari ini mengajari siswa Angkatan Darat cara menerbangkan Eurocopter UH-72 Lakota, sebuah helikopter latih bermesin ganda. Setelah sekitar 10 jam mengendalikan Loach, pilot dianggap layak terbang dalam pertempuran.

PETEMPUR UNIK

Warran Officer John Shafer berusia 21 tahun ketika dia tiba pada tanggal 16 Oktober 1970, untuk menerbangkan Loaches. “Saya baru saja keluar dari sekolah penerbangan ketika saya pergi ke Vietnam.” Dia menerbangkan Loaches selama 11 bulan di garis depan, dan saat ini menjadi akuntan di Seattle. Para pengamat dan penembak bahkan memiliki pengalaman yang lebih sedikit. “Ada satu hari pelatihan awal,” kata Bob Moses, yang pertama kali dilatih sebagai awak tank dan kemudian sebagai prajurit infanteri sebelum tiba-tiba beralih menjadi penembak pintu helikopter. “Saya naik ke Loach dengan senapan mesin M60 untuk membiasakan diri menembakkan senjata. Itu saja.” Penembak lainnya adalah Joel Boucher yang berusia 19 tahun, direkrut dan dikirim ke Vietnam dari tahun 1967 hingga 1969. Boucher dengan cepat menyadari bahwa kehidupan sebagai kru yang berkualifikasi sangatlah berbahaya. “Kami terbang di sepanjang Jalur Ho Chi Minh,” katanya menjelaskan rute pasokan komunis yang melintasi Vietnam dan negara tetangga, Laos, dan Kamboja. “NVA (tentara Vietnam Utara) ada dimana-mana. Setiap kali kami keluar, kami ditembaki. Suatu saat kami berpapasan dengan ratusan pasukan musuh. Kami mengira mereka adalah ARVN (Tentara Republik Vietnam/Vietnam Selatan) sampai mereka mulai berlari. Itu cukup berbahaya, dan kami segera keluar dari sana.” Tapi Boucher kemudian disibukkan oleh misi-misinya, dan tinggal enam bulan lebih lama dari yang dibutuhkan untuk wajib militer. Sekembalinya ke Amerika Serikat, ia memulai karir di industri konstruksi dan menetap di pedesaan Sierra City, California. Pilot Angkatan Darat lainnya, yang sebagian besar menerbangkan Cobra atau Huey, menganggap pilot Loach sedikit aneh. “Pilot pengintai adalah jenis kucing yang berbeda,” kata pilot Cobra Jim Kane, yang menyamakan mantan rekannya dengan Tikus Terowongan (tentara yang dilatih untuk merangkak ke dalam terowongan yang dibangun Viet Cong tanpa tahu apa yang menunggu mereka di sana) yang setara di unit udara. “Saya terluka tiga kali dan ditembak jatuh sembilan kali,” lapor Romero. “Umur rata-rata seorang pilot pengintai mungkin sekitar enam bulan di Vietnam. Anda bisa saja terbunuh, ditembak jatuh, atau takut dan berhenti. Saya menyukainya karena di Bronx, saya adalah anak ghetto. Saya terbiasa bertarung dekat dan secara pribadi dengan musuh.”

Pilot Clyde Romero, 19 tahun, beristirahat di antara penerbangan di Khe Sanh pada bulan Februari 1971. Unitnya terbang untuk mendukung pasukan Vietnam Selatan yang bertempur di Laos. (Sumber: https://www.smithsonianmag.com/)
Kru Loach terbiasa terbang rendah, yang kerap memancing tembakan musuh. Pilot Angkatan Darat lainnya, yang sebagian besar menerbangkan Cobra atau Huey, menganggap pilot Loach sedikit aneh, karena kenekatan mereka. (Sumber: https://planehistoria.com/)
Close Combat! “Sebagian besar pertempuran kami (kami) berada pada jarak 25 hingga 50 kaki (7,5 hingga 15 meter jauhnya) ketika kami menjumpai (Viet Cong),” lanjut Mills. “Saya kerap melihat mereka, hingga bagian putih dari matanya, dan mereka telah melihat saya sebaliknya…. Saya kerap pulang dengan darah di kaca depan saya. Sedikit berdarah tapi itulah seberapa dekat kami (dengan musuh).” (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Mills, yang bertugas dalam dua tur di Loaches dan satu di Cobra, ditembak jatuh sebanyak 16 kali—semuanya kecuali satu kali di OH-6. Angkatan Darat menetapkan bahwa setelah 300 jam terbang, setiap Loach harus menjalani pemeriksaan menyeluruh, namun dalam praktiknya pemeriksaan seperti itu jarang terjadi: Hanya sedikit Loach yang selamat dan bisa mencapai batas tersebut. “Saya melihat seorang wingman ditembak jatuh,” kata pilot John Shafer. “Mereka jatuh ke dalam hutan, dan keduanya (anggota kru) selamat. Saya mendapat informasi lain yang mengatakan mereka menembus pepohonan setinggi 150 kaki (45,72 meter), dan mereka selamat.” Shafer sendiri pernah mengalami bencana, dan keberuntungannya hampir habis dalam sebuah misi di sebelah barat Dak To, dekat perbatasan dengan Laos. “Saya ditembak jatuh pada ulang tahun saya yang ke-22,” tanggal 27 Maret 1971. “Saya sedang terbang dan baru saja menukik ke AO (Area Operasi). Mengikuti helikopter yang memimpin, kami dihujani dengan banyak peluru.” Helikopter Loach kami mempunyai getaran yang buruk, tetapi dia berhasil mencapai sekitar setengah mil (0,8 km) sebelum dia harus mendarat. “Saat saya mendaratkannya, rotor ekornya masih berputar. Musuh sedang bergerak ke arah kami ketika sebuah helikopter (komando dan kendali) menjemput kami. Helikopter-helikopter lalu Cobra berdatangan dan meledakkan helikopter yang jatuh itu—membawa serta sekitar 15 musuh yang berdiri di sekitarnya.” Bagi kru Loach yang menjalankan pekerjaan yang berisiko besar ini, meskipun banyak dari mereka masih berusia akhir remaja, kelangsungan hidup mereka bergantung pada naluri yang sempurna, reaksi yang cepat, nasib baik yang cukup, dan banyak keberanian dan nyali.

Meski kerap ditembak jatuh namun desain Loach memungkinkan para kru keluar dari reruntuhan dengan sedikit cedera. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Helikopter Cobra adalah penambah kekuatan dalam banyak misi. Pada bulan April 1971, Cobra ini mengawal CH-47 Chinook saat mereka menerbangkan pasukan komando ke Laos. (Sumber: https://www.smithsonianmag.com/)
Sementara penembak AH-1G Cobra di kursi depan mengkonfirmasi yang diamati oleh rekan mereka di helikopter pengintai, pilot di kursi belakang tidak pernah mengalihkan pandangan dari serangan mereka—selalu siap untuk terjun dalam menembakkan roket saat kru pengintai terkena tembakan. (Sumber: https://www.smithsonianmag.com/)

Tur Jim Kane di Vietnam tiba-tiba berakhir pada suatu hari di bulan Februari 1971. Pasukan NVA menembak jatuh sebuah Cobra, membunuh awaknya. Kane kemudian dikirim ke lokasi kecelakaan dengan Cobra lain dengan kopilot Jim Casher. Saat mereka mengitari reruntuhan, peluru musuh menghantam helikopter mereka. Kane mengenang, “Getarannya sangat keras sehingga saya harus kembali ke base camp di Khe Sanh,” tujuh mil (11 km) dari perbatasan Laos. Saat mendarat, inspeksi menunjukkan adanya kerusakan pada pitch link, komponen kepala rotor yang sangat penting sehingga jika rusak, mereka juga akan jatuh. “Kami naik ke helikopter lain dan kembali. Kami hampir siap untuk memanggil dukungan udara taktis untuk meledakkan helikopter yang rusak ketika Cobra lainnya mendapat banyak tembakan. Jadi aku melawan musuh, tapi tidak berhasil selamat dengan helikopter ini. “Kami terkena peluru pembakar kaliber .51, dan fosfor menyulut cairan hidrolik Cobra. Nyala api menutupi sepatu bot dan kaki bagian bawah saya. Hal yang sama terjadi pada Jim. Saya masih memiliki bekas luka di kaki saya—itu sangat menakutkan. Saya mencoba memindahkan kontrol yang macet dan berdoa agar ada tempat untuk mendarat.” Butuh seluruh kekuatan Kane untuk bisa keluar dari tukikan curam, dan mereka mendarat dengan suara gedebuk yang mengerikan. “Jim tidak sadarkan diri ketika saya membantu menariknya keluar dari helikopter yang terbakar.” Komandan Kane menerbangkan Huey komando dan kendalinya ke jurang tempat Kane dan Casher berkumpul. Huey itu turun dengan hati-hati ke tempat terbuka yang lebih kecil dari diameter rotor utamanya, bilah rotor helikopter memotong dahan-dahan pohon saat turun. Kane dan Casher kemudian ditarik kedalam helikopter dan dikembalikan ke Khe Sanh, tetapi Huey itu nyaris tidak berhasil kembali; mengiris pepohonan membuat bilahnya terkoyak, dan bagian ekornya hampir terpisah. Ia tidak pernah bisa terbang lagi. 

MASA SENJA LOACH

Taktik helikopter pemburu-pembunuh berhasil dengan baik selama beberapa tahun, namun ketika Amerika Serikat meninggalkan Vietnam, taktik tersebut sudah tidak berlaku lagi, kata Mills. Pada tahun 1972, ketika pasukan AS perlahan-lahan mundur, NVA memulai serangan besar-besaran yang dikenal sebagai Serangan Paskah. Kampanye tersebut mencakup penggunaan besar-besaran pertama kalinya rudal antipesawat buatan Soviet yang diluncurkan dari bahu dalam perang. Rudal pencari panas SA-7 Grail dapat menjatuhkan Loach bahkan sebelum awaknya menyadari bahwa mereka sedang diserang. Cobra yang berada jauh di atas mempunyai peringatan beberapa detik—mereka bisa melihat asap knalpot misil—tetapi lebih menarik perhatian karena di ketinggian yang lebih tinggi mereka lebih mudah terlihat dibandingkan Loaches yang lebih kecil. Vietnam Utara diketahui mengerahkan ratusan rudal, dan sejak saat itu, baik helikopter pemburu maupun pembunuh berusaha untuk tetap bersembunyi. Pada akhir perang, rencana penggantian Loach sudah dekat. Meskipun mendapat protes keras dari kru di Vietnam, Bell OH-58A Kiowa, yang ditenagai oleh mesin Allison T-63 yang sama dengan OH-6, mulai didistribusikan ke unit-unit Angkatan Darat. Kru Scout berargumentasi bahwa Kiowa sama sekali tidak gesit seperti Cayuse, namun konsep penerbangan scout telah berubah. Kombinasi terbang tinggi-rendah helikopter pemburu-pembunuh memberi jalan bagi misi di ketinggian yang seragam, dengan semua helikopter terbang di atas bumi. Kiowa, yang sebagian besar ditugaskan untuk misi kargo dan penghubung dengan ancaman rendah di Vietnam, setelah perang ditugaskan untuk menemukan sasaran dari jarak jauh dan memandu helikopter Cobra (dan kemudian, Boeing AH-64 Apache) ke posisi tembak yang baik.

Tentara Vietnam Selatan memegang peluncur peluru kendali SA-7 “Strella/Grail” yang dirampas, di Cai Lay, 6 Agustus 1972. Rudal tersebut, yang mengincar knalpot jet atau helikopter, ditemukan di dekat Cai Lay di Delta Mekong. Rudal pencari panas SA-7 Grail dapat menjatuhkan Loach bahkan sebelum awaknya menyadari bahwa mereka sedang diserang. (Sumber: https://www.flickr.com/)
Keberadaan Loach kemudian digantikan oleh Bell OH-58A Kiowa. Kru Scout menganggap Kiowa sama sekali tidak gesit seperti Cayuse. (Sumber: https://www.thisdayinaviation.com/)

WARISAN LOACH & COBRA

Sementara itu statistik yang menyedihkan menunjukkan bahwa dari 1.419 Loaches yang dibangun, 842 hancur di Vietnam, sebagian besar ditembak jatuh dan banyak lainnya mengalami kecelakaan akibat penerbangan di ketinggian rendah. Sebaliknya, dari hampir 1.100 helikopter Cobra yang dikirim ke Angkatan Darat, 300 diantaranya hilang. Baik Loach maupun Cobra telah diproduksi, dalam satu atau tipe lainnya sejak saat itu. MD-500 yang diturunkan dari Loach dan varian sipil lainnya masih diluncurkan dari lini perakitan di MD Helicopters, Inc., sementara Boeing memproduksi varian yang ditingkatkan, yakni AH-6 Little Bird, untuk penggunaan militer (termasuk versi drone otonom). Persenjataan Little Bird jauh berbeda dengan senapan mesin M60 yang dibawa di  helikopter-helikopter Loach di Vietnam. AH-6 dapat membawa minigun, pod roket, peluncur granat, rudal Hellfire, dan rudal udara-ke-udara Stinger. AH-6 dan saudara kandungnya yang difungsikan untuk membawa pasukan, MH-6, masih banyak digunakan oleh pasukan operasi khusus AS, mulai dari sebagai platform sniper di udara hingga platform transportasi yang memasukkan tim kecil hingga helikopter serang ringan ekspedisi. Sementara itu, Korps Marinir A.S. masih menerbangkan AH-1 SuperCobra sebagai helikopter serang utamanya, dengan versi terbarunya—AH-1Z Viper—yang telah ditingkatkan dan dimodernisasi sehingga pilot era Vietnam mungkin akan kesulitan mengenalinya. Kokpitnya penuh dengan perangkat elektronik dan sensor, dan sayap pendeknya dipenuhi dengan rudal udara-ke-udara pencari panas Sidewinder, rudal Hellfire berpemandu laser, roket (seperti yang digunakan di Vietnam), dan bahkan tangki berisi bahan bakar. Sistem panduan pada helikopter serang yang lebih baru—sering kali bekerja dengan atau bahkan mengendalikan kamera drone pengintai—telah meninggalkan peran pemburu dalam misi pemburu-pembunuh, namun peran pembunuhnya masih tetap bertahan.

Tentara Angkatan Darat AS sedang membongkar Hughes OH-6 Cayuse yang ditembak jatuh di provinsi Tây Ninh, Vietnam Selatan, Desember 1967. Statistik yang menyedihkan menunjukkan bahwa dari 1.419 Loaches yang dibangun, 842 hancur di Vietnam, sebagian besar ditembak jatuh dan banyak lainnya mengalami kecelakaan akibat penerbangan di ketinggian rendah. (Sumber: https://www.warhistoryonline.com/)
Hampir 1.100 helikopter Cobra yang dikirim ke Angkatan Darat, 300 diantaranya hilang. (Sumber: https://planehistoria.com/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

In Vietnam, These Helicopter Scouts Saw Combat Up Close by Donald Porter; September 2017

https://www.smithsonianmag.com/air-space-magazine/snakes-loaches-180964341/

The ‘Loach’ was one of the riskiest helicopter assignments in Vietnam By Logan Nye; Updated on Dec 7, 2022

https://www.wearethemighty.com/mighty-history/the-loach-was-one-of-the-riskiest-helicopter-assignments-in-vietnam/

Helicopter Hunter-Killer Teams of the Vietnam War by Richard Hargreaves-Miller; September 20, 2023

https://planehistoria.com/helicopter-hunter-killer-teams-of-the-vietnam-war/

OH-6A Cayuse (‘Loach’)

https://www.huey.co.uk/loachhistory.php

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Hughes_OH-6_Cayuse

Vietnam Air Warfare, The story of the Aircraft, the Battles, and the Pilots who Fought by Robert F. Dorr & Chris Bishop, 1996; p 88-89

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *