MacArthur: “Beri aku sepuluh ribu orang Filipina dan aku akan menaklukkan dunia!”

Pasukan Kekaisaran Jepang menyerang Pearl Harbor dan Kepulauan Filipina secara hampir bersamaan. Serangan terencana pada dua target spesifik ini adalah serangan strategis yang dimaksudkan untuk mengganggu dan melemahkan kendali Amerika di Pasifik dan memungkinkan perluasan wilayah yang dilakukan oleh Tentara Jepang. Setelah menyerahnya Pasukan Sekutu dalam Pertempuran Corregidor, semua koneksi radio dan komunikasi sekutu terputus ketika militer Jepang mengambil kendali Kepulauan Filipina. Meskipun terdapat masalah komunikasi, beberapa tentara Amerika dan Filipina dapat menghindari penangkapan Tentara Jepang dan bersembunyi untuk sementara waktu. Salah satu prajurit yang dapat melarikan diri adalah Ramon Magsaysay Sr., seorang pria yang kemudian akan menjadi pemimpin terkemuka di Pasukan Gerilya di Luzon Barat.

Tentara Jepang merebut Bataan. Kemenangan Jepang di Filipina tahun 1942 bukan berarti mereka berhasil menaklukkan seluruh Filipina. (Sumber: http://www.worldwar2facts.org/)

Namun dengan kemenangan yang mereka dapatkan apakah Jepang benar-benar menaklukkan Filipina? Ya, mereka tentu saja mereka telah mengalahkan pasukan regular Amerika dan Filipina serta menggulingkan pemerintahan yang ada disana. Tetapi pada saat Jenderal Douglas MacArthur mendarat bersama pasukan Amerika untuk merebut kembali Filipina dari Jepang pada Oktober 1944, faktanya pasukan Kekaisaran Jepang hanya menguasai 12 dari 48 provinsi di kepulauan tersebut. Setelah dikuasainya Filipina oleh Jepang pada bulan Mei 1942, sejumlah besar pasukan gerilya bermunculan untuk melawan penjajah Jepang. Perwira dan tentara AS serta Filipina, para pemimpin lokal dan warga di pulau-pulau utama, dari Utara ke Selatan, memimpin kelompok-kelompok perlawanan mulai dari hanya sekitar seratus hingga ribuan pejuang yang melakukan. MacArthur kagum dengan keberhasilan mereka dan taktik yang dipelajari dari para pejuang asli Filipina yang tangguh kemudian akan mempengaruhi militer AS hingga hari ini.

Poster propaganda Gerilya Filipina (Sumber: https://www.warhistoryonline.com/)

Awal mula gerakan perlawanan rakyat Filipina

Katalis utama perlawanan rakyat Filipina terhadap tentara Pendudukan Jepang adalah adanya penganiayaan terhadap tawanan perang dan warga negara Filipina di tangan pasukan Jepang. Warga Filipina juga telah banyak mendengar cerita, seperti Perkosaan Nanking di Cina, dan kekejaman yang dilakukan Jepang di wilayah pendudukan lainnya seperti Korea. Sedihnya, warga Filipina kemudian juga menjadi sasaran kebrutalan, pemerkosaan, kelaparan, dan banyak tindakan mengerikan lainnya. Kekejaman yang dilakukan dan penghancuran tanah air mereka pada akhirnya mendorong banyak orang Filipina untuk melakukan perlawanan, mengusir penjajah dan merebut kembali tanah air mereka. Pasukan Jepang telah mencatat bahwa selama “Bataan Death March” mulai muncul sejumlah sentimen mengkhawatirkan di antara orang-orang Filipina yang bersimpati kepada pasukan Sekutu. Pada saat perjalan maut itu, tawanan sekutu yang malang banyak mendapat bantuan kemanusiaan yang tak terduga dari orang-orang Filipina yang mereka temui sepanjang perjalanan menuju tempat penahanan.

Perlakuan buruk Jepang pada tawanan sekutu dalam Bataan Death March justru memunculkan simpati rakyat Filipina pada sekutu. (Sumber: https://www.cbsnews.com/)
Tentara Jepang menyaksikan poster propaganda Amerika yang menampilkan sisi negatif tentara Jepang tahun 1942, suatu hal yang nantinya dirasakan sendiri oleh rakyat Filipina. (Sumber: https://www.warhistoryonline.com/)

Kemudian untuk memerangi segala bentuk perlawanan yang timbul, tentara Jepang tidak segan memukul atau membunuh warga negara Filipina mana pun yang bersimpati dengan pasukan Sekutu atau berani mempertanyakan pendudukan Filipina oleh Jepang. Taktik yang digunakan Jepang adalah menggunakan propaganda dalam bentuk selebaran dan film. Melalui film-film seperti “Dawn For Freedom” (1944), Jepang berharap untuk dapat menghancurkan hubungan antara orang-orang Filipina dan ideologi Barat dan menguatkan cengkeraman mereka pada negara dan rakyatnya. Ada banyak kelompok perlawanan kemudian muncul, seperti Hunters ROTC, Marking’s Guerrillas, Aetas, dan USAFIP-LN (yang merupakan singkatan dari United States Army di Filipina Luzon Utara). Berikut adalah beberapa kelompok Gerilya utama Filipina yang bertempur melawan Jepang.

Hunter ROTC

Beberapa pejuang gerilya pertama yang dibentuk selama invasi Jepang adalah apa yang kemudian dikenal sebagai Hunters ROTC. Para kadet dari Akademi Militer Filipina, yang dipimpin oleh Kadet Terry Adivoso yang tidak dapat bergabung dengan Angkatan Darat A.S. wilayah Timur Jauh (USAFFE) karena dianggap masih terlalu muda, kemudian bersatu dan mulai merekrut kadet-kadet lain dan pejuang yang bertempur melawan Jepang. Hunters ROTC yang terdiri dari mantan kadet dari Akademi Militer Filipina ini ingin bertarung, kemudian para mantan taruna ini melatih pejuang perlawanan lainnya dalam misi sabotase, komunikasi, pengoperasian radio, mengidentifikasi dan mengeliminasi orang-orang Filipina dan mata-mata pro-Jepang, serta melakukan serangan hantam dan lari kecil-kecilan. Awalnya satuan ini berjumlah sekitar 300 orang, para “Pemburu” ini beroperasi di Pulau Luzon selatan (pulau di bagian utara Filipina) dan terutama di sekitar Manila, ibukota negara itu.

Senapan Enfield M1917 (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Dalam salah satu aksi awal, mereka menyerbu Union College yang diduduki Jepang dan kemudian kabur dengan membawa lebih dari 100 senapan Enfield model lama (model Enfield M1917). Menjelang 1942, Biro Intelijen Sekutu dan militer AS melakukan kontak dengan banyak kelompok gerilyawan Filipina dan membantu mereka, dengan mengirim persediaan perbekalan dan memasok data intelijen. Banyak dari kelompok yang mereka koordinasikan dipimpin oleh perwira atau tentara ex USAFFE yang muncul kembali, setelah menghindari penangkapan Jepang, untuk memimpin perlawanan dari berbagai hutan, gunung, dan daerah perkotaan Filipina. Mereka akan memimpin kelompok-kelompok pria baik prajurit Amerika maupun prajurit pribumi atau warga sipil yang ingin bertempur.

Satuan Gerilya Hunter ROTC di Cabanatuan (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Dalam satu misi yang luar biasa, Rangers AS dan Alamo Scouts, bersama dengan gerilyawan Filipina membebaskan sekitar 500 tawanan perang Amerika dan Sekutu dari sebuah kamp di dekat Kota Cabanatuan di Luzon. Dari 133 tentara Amerika yang dilibatkan, hanya dua yang gugur, dan hanya sekitar dua lusin yang dilaporkan luka-luka di antara 250-280 orang Filipina yang turut berpartisipasi. Dalam prosesnya mereka berhasil menewaskan ratusan tentara Jepang dalam serangan yang berani dan menyelamatkan orang-orang, yang rencananya akan segera dieksekusi oleh Jepang.

Marking’s Guerilla’s

Marking’s Guerilla’s bekerja sama dan dilatih dengan Divisi ke-43 A.S. dalam merebut Bendungan Ipo pada 17 Mei 1945, salah satu bendungan utama yang memasok kota Manila yang diduduki Jepang. Meskipun Tentara Kekaisaran Jepang (IJA) sudah mundur ke wilayah pegunungan utara Luzon menuju Baguio, strategi mundur IJA adalah untuk secara agresif mempertahankan sumber daya apapun yang mereka miliki untuk kepentingan mereka. Pertahanan agresif IJA yang ditunjukkan, memaksa pasukan MacArthur dan gerilyawan Filipina untuk bertarung di berbagai lini yang pada akhirnya mengarah pada penggunaan besar amunisi dan energi untuk mencoba menyerang dan merebut kembali Filipina dari kekuasaan Jepang. Taktik semacam ini pada akhirnya akan mempengaruhi taktik IJA yang memiliki harapan dapat menguras sumber daya dan pemikiran pasukan Sekutu untuk mencegah mengorbankan lebih banyak tentara mereka dalam menyerang daratan Jepang dan Kepulauan Ryukyu. Operasi Marking’s Guerilla’s yang luar biasa kemudian menimbulkan banyak manfaat bagi gerakan perlawanan bawah tanah dan moral rakyat Filipina.

Pimpinan Marking’s Guerilla’s, Marcos Agustin (Sumber: http://www.pacificatrocities.org/)
Bank Note yang diberi tanda oleh Marking Guerrilla (Sumber: http://www.pacificatrocities.org/)

Marking’s Guerilla’s juga turut menggerakkan ekonomi lokal Filipina melalui pencetakan uang kertas Marking mereka yang akan memicu perlawanan bawah tanah dan komunitas Filipina lokal mereka yang bersekutu dalam pemerintahan Persemakmuran Filipina. Misi tempur Marking’s Guerilla’s yang kuat dan terorganisir di timur laut Manila memungkinkan peningkatan penyebaran dan produksi Uang Kertas mereka yang membantu mendanai perlawanan komunitas dan masyarakat Filipina di Luzon ketika Jepang yang tidak berhenti bekerja untuk mengendalikan sumber daya alam dan hasil ekonomi barang-barang Filipina sepanjang perang.

United States Army Forces of Northern Luzon (USAFIP-NL)

Kelompok perlawanan ini terdiri dari tentara dan gerilyawan Amerika dan Filipina. Gugus tugas yang terorganisir ini dipimpin dan diperintahkan oleh Jenderal Russel W. Volckmann. USAFIP-NL berfungsi sebagai kekuatan militer yang berjumlah lebih dari 8000 prajurit infanteri yang berasal dari Resimen Infantri ke-11, 14, 15, 66, dan 121. Gerilyawan Filipina yang ada di bawah kepemimpinan Volckmann terdiri dari berbagai etnik minoritas Filipina dari wilayah cordilleras utara/jalur pegunungan. Pengetahuan gerilyawan Luzon utara tentang daerah pegunungan sangat penting dalam membantu menghancurkan benteng terakhir militer Jepang di Luzon Utara. Gerilyawan Luzon Utara khususnya tidak memiliki keuntungan secara geografis untuk berada di dekat MacArthur dan tim pengintaiannya di Pasifik Selatan. Jarak antara gerilyawan Luzon Utara dan Pasukan Jenderal MacArthur di Pasifik Selatan berarti bahwa sumber daya militer dan bantuan perbekalan tidak selalu tersedia atau tercukupi.

United States Army Forces of Northern Luzon (USAFIP-NL) di medan pertempuran. (Sumber: http://www.pacificatrocities.org/)

Sebaliknya, daerah pegunungan dan hutan di Luzon Utara terbukti merupakan keuntungan strategis meskipun tidak ada jaringan komunikasi yang lancar dengan MacArthur. Di Luzon Utara, cordilleras mencakup berbagai etnis minoritas Filipina yang memiliki dialek, agama, dan tradisi budaya mereka sendiri. Orang-orang provinsi pegunungan yang dikenal dengan dialek mereka yang unik dan ukiran kayu serta pekerjaan tekstil yang rumit merupakan bagian penting dari etnis minoritas yang bertugas sebagai gerilyawan di wilayah paling atas Luzon Utara. Banyak yang bertindak sebagai pemandu bagi para pelarian pertempuran Bataan dan para pejuang perlawanan. Sementara lainnya bertugas sebagai gerilya tempur, mata-mata, dan penyabot untuk kepentingan Sekutu dan mengambil bagian dalam berbagai pertempuran besar, seperti Pertempuran Kiangan, yang berfokus pada perebutan kembali Luzon Utara dan Tengah.

Aeta

Salah satu unit gerilya pribumi utama tetapi kurang dikenal yang bertugas di Luzon Utara dan Tengah adalah Aeta. Aetas adalah kelompok etnis Negrito yang dianggap sebagai salah satu penghuni paling awal di Kepulauan Filipina. Aeta Negrito secara geografis terisolasi dari wilayah perkotaan dan provinsi utama Luzon yang berarti bahwa pengetahuan mereka tentang wilayah pegunungan Luzon, pemahaman mereka tentang sumber daya alam setempat, dan keterampilan berburu dan melacak mereka adalah sumber daya yang sangat berharga bagi gerakan perlawanan bawah tanah Filipina. Aeta adalah aset yang cukup besar bagi perlawanan bawah tanah karena keterampilan mereka dalam melakukan pelacakan dan pemahaman tentang provinsi Luzon. Aeta akan menyembunyikan dan melindungi tentara Amerika di gua-gua pegunungan dan ketika pasokan makanan berkurang, mereka akan menanam umbi-umbian (ubi dan yams) dan beras untuk memberi makan unit mereka. Sebagai tambahan, kontribusi yang diberikan oleh kelompok-kelompok minoritas, seperti Aeta dan Igorot, kepada kelompok perlawanan akan memungkinkan pasukan gerilya Amerika untuk memotong jalur pasokan Jepang dan menyediakan rekrutan untuk gerakan perlawanan Filipina.

Skuadron Satuan Khusus ke-30 Negrito Aeta di Provinsi Tarlac tahun 1945. ( http://www.pacificatrocities.org/)

Wa Chi

Salah satu kekuatan gerilya yang turut bekerja sama erat dengan Amerika adalah Wa Chi, yang terdiri dari sekelompok orang Tionghoa-Filipina (imigran dan orang-orang Tionghoa yang tertinggal ketika Jepang masuk Filipina) yang berjuang melindungi etnis Tionghoa dari kekejaman Jepang. Kelompok ini berjumlah sekitar 700 orang. Satu keterampilan yang dimiliki kelompok gerilya ini adalah kemampuan mereka dalam mengembangkan jaringan bawah tanah. Mereka mengorganisasi pengumpulan data intelijen lokal, pemancar radio rahasia, dan memiliki informan di Republik Filipina Kedua (pemerintah boneka yang didukung Jepang).

Skuadron 48 Wa Chi (Sumber: https://philippinesgraphic.net/)

Pada awal Januari 1942, tepat sebelum tentara kekaisaran Jepang menguasai Manila, sekitar 400 penduduk Cina yang dipimpin oleh beberapa pemandu asal Filipina, berjalan kaki, keluar dari kota menuju Luzon Tengah. Setelah 15 hari, mereka mencapai kota Candaba di Pampanga dan bergabung dengan gerilyawan Filipina dalam perang melawan Jepang. Para pemuda dan dewasa muda ini kemudian akan menjadi anggota pertama Wha Chi, Batalyon Cina. Di provinsi, dimana Wha Chi aktif, warga sipil Filipina sering menjadi pemandu mereka, memberi mereka makanan dan memimpin mereka keluar dari bahaya, setiap kali mereka (Wa Chi) terjebak oleh tentara Jepang. Sepanjang perang, terdapat 3 kelompok utama dalam Wha Chi: gerilyawan bersenjata Wha Chi, kelompok pendukung dan unit-unit bawah tanahnya yang berbasis di kota.

Lukisan pembebasan kota Sta. Cruz, Laguna oleh Wa Chi dan Gerilya Filipina lainnya. (Sumber: https://philippinesgraphic.net/)

Pada Maret 1943, sekitar 10.000 tentara Jepang dan Kepolisian Filipina mengepung kamp-kamp gerilya dan komunitas mereka dan menghancurkan mereka, “Lebih dari 10 pesawat musuh membombardir daerah itu, beberapa kapal patroli berpatroli di sungai di sekitarnya… dengan pasukan musuh mendekati dari lima arah … Gerilyawan Wha Chi berlindung di antara semak-semak di hutan. Mereka menanggung sengatan panas matahari di siang hari dan banyak nyamuk di malam hari. Mereka tidak punya makanan untuk dimakan, tidak ada air untuk diminum … Tiga hari kemudian mereka berhasil menyelinap melalui beberapa lapis barisan musuh yang mengepung dengan beberapa penduduk setempat bertindak sebagai pemandu tanpa kehilangan satupun anggota. ”(dari buku Wha Chi, A Brief History) Pada 9 Mei, gerilyawan Wha Chi yang sekarang berjumlah 100 memulai perjalanan mereka ke selatan, melewati daerah-daerah terpencil di sepanjang pegunungan Sierra Madre untuk menghindari deteksi tentara Jepang. Mereka berjalan 500 kilometer selama 26 hari melewati 26 kota dari Bulacan kemudian Kota Rizal hingga akhirnya mencapai Paete, Laguna pada 3 Juni.

Skuadron Wa Chi ke 2 dan 3 di Luzon Selatan (Sumber: https://philippinesgraphic.net/)

Antara 1944 dan 1945, Wha Chi memulai serangan berskala lebih besar terhadap Jepang. Sasaran tidak hanya mencakup unit pemerintah daerah, polisi “kolaborator”, dan pos-pos terpencil Jepang, tetapi kota-kota besar yang lebih padat seperti Tayabas, Lucena, Sariaya, dan Pagsabangan. Bersama dengan USAFFE, mereka merebut kota Calauan, Laguna. Beberapa bulan sebelum pasukan AS mencapai Luzon selatan, Wha Chi dan gerilyawan lainnya membebaskan kota-kota Majayjay, Nagcarlan, Liliw, Rizal, Pili, dan Calauan. Dalam salah satu serangan paling sulit, Wha Chi dan Huk membantu membebaskan kota Sta. Cruz, Laguna

Lim Ki Chin, veteran gerilya Wa Chi (Sumber: https://philippinesgraphic.net/)

Pada bulan Februari 1945, Skuadron Pertama Wha Chi membantu pasukan AS membebaskan tahanan Amerika dari kamp konsentrasi di Los Banos, Laguna serta menangkap dan menaklukkan pasukan Jepang yang tersisa di sana. Sebelum pasukan AS mencapai Luzon Tengah, Skuadron Wa Chi Kedua dan Ketiga bergabung dengan Huk dan USAFFE untuk membebaskan Kota Tarlac dan 10 kota lainnya di provinsi Tarlac. Mereka juga membebaskan ibukota San Fernando di Pampanga dan lebih banyak kota Pampanga dalam perjalanan ke Manila untuk bertemu dengan pasukan AS di sana. Pada akhir perang, gerilyawan Wha Chi telah berkembang dari 52 orang menjadi sekitar 700 orang. Mereka telah bertempur di 14 provinsi di seluruh Luzon, dan telah bertempur melawan Jepang dalam 260 pertempuran. Mereka merampas 940 senjata dan membunuh serta melukai lebih dari 2.000 pasukan musuh. Secara keseluruhan, sekitar 100 gerilyawan Wha Chi meninggal.

Hukbalahap

Kelompok gerilya lain yang bekerja dengan koordinasi yang jauh lebih sedikit dengan pasukan A.S. adalah Hukbalahap. Mereka adalah kelompok komunis yang berharap untuk dapat menyebarkan pesan ideologi mereka dan mendapatkan kendali atas Filipina setelah Jepang dikalahkan dan mereka kemudian memang terbukti akan berperang melawan pemerintah Filipina dan pasukan AS selama bertahun-tahun setelah Perang Dunia II berakhir. Nama lengkap mereka adalah Hukbong Bayan Laban sa mga Hapon atau Tentara Rakyat Melawan Jepang. Mereka memulai operasi dengan 500 orang personel dan kemudian tumbuh menjadi lebih dari 15.000 pada saat Jepang dikalahkan. Anggota Huk terdiri dari warga negara Filipina dengan berbagai latar belakang. Anggota-anggotanya termasuk dari kalangan petani, anggota serikat pekerja, anggota partai komunis, dan buruh di pedesaan dan perkotaan.

Gerilyawan Hukbalahap (Sumber: https://www.batangashistory.date/)
Luis Taruc pimpinan gerilya Hukbalahap. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Meskipun Huk mengklaim bersekutu dengan Amerika, mereka seringkali malahan berperang melawan gerilyawan non-Komunis dan membuat hidup lebih sulit bagi para perwira Amerika. Sebagian besar, jika tidak bisa dibilang semua, para pemimpin gerilya Filipina memiliki pertikaian dengan kelompok Huk pada satu waktu atau di waktu yang lain, terutama bagi mereka yang beroperasi di Luzon Tengah di mana gerakan Huk kuat disana. Meskipun Huk menentang Jepang, mereka adalah komunis dan memiliki agenda politik mereka sendiri, yang tidak termasuk aliansi Amerika Serikat. Mereka kadang-kadang mengklaim bahwa mereka bertindak atas perintah dari komandan gerilya Amerika, tetapi pada kenyataannya tindakan mereka sering malah bertentangan dengan misi gerakan gerilya Filipina secara keseluruhan. Huk dipandang sangat sukses karena mereka berhasil membunuh banyak tentara Jepang, namun selain itu, Huk menganggap orang Filipina kaya yang berkolaborasi dengan Jepang sebagai target juga. Intinya, Huks sedang berperang sendiri dan akan terus melakukannya begitu lama setelah Jepang dikalahkan. Bagi para Huk pembunuhan para kolaborator Filipina yang kaya akan memungkinkan mereka untuk merebut perkebunan-perkebunan yang sebelumnya dikuasai para korban mereka. Di dalam wilayah sekitar perkebunan ini, mereka akan membentuk pemerintahan, menetapkan pajak, dan undang-undang sendiri. Menurut suatu sumber diperkirakan bahwa Huk telah membunuh 20.000 orang non-Jepang selama pendudukan. Pada tahun 1954, keberadaan Hukbalahap akan berakhir dengan terpilihnya Presiden Ramon Magsaysay Sr., yang berada di bawah tekanan besar untuk menumpas kelompok-kelompok komunis.

Black Army

Berbagai kelompok pemberontak di Visayas, pulau-pulau tengah Filipina, bekerja sama dalam berbagai taraf dengan pasukan A.S. Salah satu kelompoknya adalah Black Army, yang dipimpin oleh Ruperto Kangleon memainkan peran penting dalam mendukung operasi militer A.S., terutama saat invasi MacArthur ke pulau Leyte dan daerah sekitarnya. Salah satu kapten Black Army di Leyte adalah Kapten Nieves Fernandez, satu-satunya komandan gerilya wanita di Filipina. Pernah menjadi guru sekolah, Fernandez saat itu memimpin sekitar 110 orang. Dia memiliki spesialisasi dalam membuat persenjataan rakitan dan bahkan menggunakan senapan buatan sendiri. Dia juga seorang penembak jitu yang hebat dan membunuh lebih dari 200 orang tentara Jepang. Jepang, pada gilirannya, menetapkan hadiah sebesar 10.000 Peso bagi yang bisa membawa kepalanya.

Kapten Nieves Fernandez dan suaminya. Fernandez adalah mantan guru sekolah yang kemudian menjadi pimpinan gerilya yang diburu Jepang. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Nieves Fernandez punya kemampuan untuk merakit senjata api dan juga penembak jitu yang kabarnya berhasil menewaskan 200 tentara Jepang. (Sumber: Reddit.com)

Salah satu pencapaian penting dari kelompok perlawanan di Visayas adalah keberhasilan mereka dalam merampas “Koga Papers” yang dilakukan oleh unit gerilyawan Cebuano yang dipimpin oleh Letnan Kolonel James M. Cushing pada Maret 1944. Dokumen yang dinamai menurut Laksamana Mineichi Koga, dokumen-dokumen ini berisi rencana pertempuran vital dan strategi pertahanan Angkatan Laut Jepang dengan nama sandi “Rencana Z”, dimana memuat informasi tentang kekuatan keseluruhan armada Jepang dan unit udara angkatan laut, dan yang paling penting adalah informasi bahwa Jepang telah mampu menyimpulkan rencana awal MacArthur untuk menginvasi Filipina melalui Mindanao. Dokumen-dokumen ini berhasil dirampas gerilyawan Filipina ketika pesawat amfibi Laksamana Koga, yang dalam perjalanan ke Davao, jatuh di dekat pantai San Fernando, Cebu, yang menewaskan Koga dan beberapa lainnya. Setelah mayat Koga dan banyak orang Jepang yang selamat terdampar ke darat, para gerilyawan berhasil menemukan mereka dan menangkap 12 perwira tinggi termasuk Kepala Staf Armada Gabungan, Wakil Laksamana Shigeru Fukodome. Kertas-kertas dokumen penting itu berada di dalam tas kerja yang diambil dari laut oleh nelayan Cebuano sebelum diserahkan kepada gerilyawan. Orang Jepang kemudian dengan kejam memburu dokumen-dokumen itu dan para perwira mereka yang ditangkap; membakar desa dan menahan warga sipil dalam pencarian mereka. Para gerilyawan akhirnya dipaksa untuk melepaskan tawanan mereka untuk menghentikan perlawanan, tetapi Cushing yang tidak dikenal Jepang berhasil meminta sebuah kapal selam untuk membawa dokumen-dokumen penting itu ke markas Sekutu di Australia. Penemuan “Koga Papers” memungkinkan MacArthur untuk memindahkan rencana invasi Filipina nya dari Mindanao ke Leyte dan juga turut membantu kemenangan Sekutu dalam Pertempuran Laut Filipina.

Admiral Shigeru Fukodome sempat ditawan oleh gerilya Filipina selama Perang, namun dibebaskan untuk menghindari pembalasan dari Jepang. ( https://en.m.wikipedia.org/)

Gerilya Muslim Moro

Di Filipina Selatan, sebagian besar di pulau besar Mindanao, dengan mayoritas populasi Moro, minoritas Muslim di kepulauan itu (agama mayoritas di Mindanao, meskipun sebagian besar sisa penduduk Filipina beragama Katolik) yang telah lama berperang melawan pihak AS dan pemerintahan Filipina juga turut berjuang keras melawan Jepang. Kelompok gerilya mereka seringkali sangat sukses, tetapi juga sangat kejam. Satu kelompok, yang terdiri dari sekitar 20.000 orang Muslim dan Kristen, disebut Moro-Bolo. Bendera mereka menggambarkan bolo, pisau tradisional Filipina, dan keris, senjata tradisional yang populer selama berabad-abad di kalangan umat Islam, di Filipina dan Indonesia. Kelompok gerilya Moro lainnya yang dipimpin oleh Datu Busran Kalaw didekati oleh Jepang yang berusaha mempermainkan ikatan oriental mereka untuk mendapatkan solidaritas dari mereka. Sebagai tanggapan, Kalaw malahan terus-menerus menyerang Jepang, yang mengirim pasukan besar untuk menghancurkan Moro yang keras kepala. Tak satu pun dari tentara Jepang itu yang selamat.

Petarung Moro ( https://filipiknow.net/)

Selama pendudukan Jepang, Bangsa Moro juga melakukan berbagai kekejaman selama perang, seperti menyerang imigran Jepang tanpa melihat beberapa diantara mereka sudah tinggal di Mindanao sebelum perang. Panglima perang yang ditakuti, Datu Busran Kalaw, dikenal karena membanggakan diri bahwa ia telah “bertarung melawan orang-orang Amerika, Filipina, dan Jepang”, yang merenggut juga nyawa agen-agen Amerika dan Filipina serta penjajah Jepang. Meskipun demikian, orang Amerika menghormati kesuksesan orang-orang Moro selama perang. Seorang POW Amerika, Herbert Zincke, mengingat dalam buku harian rahasianya bahwa orang Jepang yang menjaganya dan para tahanan lainnya takut terhadap para pejuang Moro dan berusaha menjaga sejauh mungkin dari mereka agar tidak diserang orang-orang Moro.

Pengakuan akan ketangguhan dan peranan Gerilya Filipina

“Beri aku sepuluh ribu orang Filipina dan aku akan menaklukkan dunia!” Kata MacArthur (sumber: wikipedia.org), secara jelas menunjukkan pengakuan akan ketangguhan dan kekuatan pasukan gerilya Filipina dalam melawan Jepang. AS secara resmi mencatat adanya 277 unit gerilya dan 260.715 pejuang individu, yang sebagian besar yang berkaitan dengan gerakan di wilayah Persemakmuran Filipina yang melawan Jepang. Pada kenyataannya, mungkin ada lebih dari satu juta gerilyawan yang bertempur melawan Jepang. Banyak dari kelompok ini akan terus berjuang selama beberapa dekade setelah perang untuk mendapatkan pengakuan dari AS dan benefit veteran yang menyertainya. Benefit ini hanya tersedia untuk gerilyawan dan veteran yang telah bertugas untuk gerilya Persemakmuran, dan tidak termasuk kelompok Huk dan Moro. Pemimpin perlawanan, Wendell Fertig, Russell W. Volckmann, dan Donald Blackburn akan menggabungkan apa yang telah mereka pelajari selama bertempur dengan gerilyawan Filipina dalam membentuk Pasukan Khusus AS pada periode pasca perang.

Poster Film Back To Bataan (1945) (Sumber: https://www.warnerbros.com/)
Poster Film Fires On The Plain (1959) yang bersetting Filipina saat Perang Dunia II. (Sumber: https://www.criterion.com/)

Gerakan gerilya Filipina saat Perang Dunia II juga mendapat perhatian dalam film-film Hollywood seperti “Back to Bataan”, “Back Door to Hell”, “American Guerrilla in the Philippines”, “Cry of Battle” dan film John Dahl “The Great Raid” yang lebih baru. Film-film buatan Filipina dan Jepang juga memberi penghormatan kepada keberanian para gerilyawan Filipina selama pendudukan Jepang, seperti “Yamashita: The Tiger’s Treasure”, “In the Bosom of the Enemy”, “Aishite Imasu 1941: Mahal Kita” dan film Jepang yang mendapat banyak pujian dari para kritikus, “Fires on the Plain”. Sementara itu ada beberapa peringatan dan monumen yang didirikan untuk mengenang tindakan kepahlawanan gerilyawan Filipina. Di antaranya seperti monumen Peringatan Pahlawan Filipina di Corregidor, Peringatan Luis Taruc di San Luis, Pampanga, patung perunggu gerilyawan Filipina di Corregidor, Monumen Nasional Balantang di Jaro, Kota Iloilo untuk memperingati Distrik Militer ke-6 yang membebaskan provinsi Panay, Romblon, dan Guimaras, serta Monumen dan Taman Militer NL di La Union. Libingan ng mga Bayani (diterjemahkan menjadi Makam Pahlawan), yang menampung banyak makam pahlawan nasional Filipina yang bersejarah, mendirikan sebuah monumen khusus untuk menghormati sejumlah gerilyawan Filipina yang tidak dikenal namanya yang bertempur selama pendudukan Jepang.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

The Fighting Filipinos: Give me ten thousand Filipinos and I shall conquer the world – MacArthur by Colin Fraser; 29 Dec 2017

https://m.warhistoryonline.com/world-war-ii/the-fighting-filipinos-macarthur.html

Resistance Warriors of the Philippines

https://www.google.com/amp/s/www.warhistoryonline.com/guest-bloggers/philippines-resistance.html/amp

Guerrilla War on Luzon During World War II by Sam McGowan

Wha Chi 48th Squadron, the Filipino-Chinese Guerrillas of World War II Posted by Jade Lim Lopez

https://philippinesgraphic.net/wha-chi-48th-squadron-the-filipino-chinese-guerrillas-of-world-war-ii/

The Makeup of the Marking’s Guerrillas

http://www.pacificatrocities.org/markings-guerrillas.html

United States Army Forces in the Philippines of Northern Luzon (USAFIP-NL)

http://www.pacificatrocities.org/usafip-nl.html

The Aetas

http://www.pacificatrocities.org/aetas.html

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Philippine_resistance_against_Japan

4 thoughts on “MacArthur: “Beri aku sepuluh ribu orang Filipina dan aku akan menaklukkan dunia!”

  • 24 March 2020 at 10:28 am
    Permalink

    Aku ingin lebih banyak tulisan seperti ini!! Jangan berhenti berkarya ya ^_^

    Reply
    • 24 March 2020 at 3:34 pm
      Permalink

      Terima kasih

      Reply
  • 6 May 2020 at 11:23 pm
    Permalink

    I can’t wait to retire in the Philippines. There’s just so much to see, discover and enjoy in your country. The people are also just as amazing

    Reply
  • 4 November 2020 at 10:38 am
    Permalink

    That is a really good tip particularly to those new to the blogosphere. Simple but very precise info… Thanks for sharing this one. A must read article!

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *