Pertempuran Osan, 5 Juli 1950: Hancurnya Task Force Smith di hari-hari pertama Perang Korea

Pada tahun 1949, Kim Il-sung, pemimpin Korea Utara, yakin bahwa “perang pembebasan” yang dilancarkan Korea Utara akan disambut dengan tangan terbuka oleh rakyat Korea Selatan. Diskusi dengan Cina dan Uni Soviet kemudian berlangsung, dan pada 25 Juni 1950, mereka akhirnya menyerbu Korea Selatan. Invasi skala penuh ini awalnya melibatkan 89.000 pasukan. Serangan itu sukses besar, dengan tentara Korea Utara berhasil menduduki Seoul hanya 3 hari kemudian. Sementara itu, Amerika Serikat awalnya mempertahankan sikap non-komitmennya, karena khawatir terlibat dalam perang darat di Asia dengan pasukan Uni Soviet, takut akan dengan mudah meningkatkan eskalasi menjadi Perang Dunia III. Namun setelah melihat skala serangan dan ditambah dengan Uni Soviet mengumumkan bahwa mereka tidak akan mengirim pasukan ke Semenanjung Korea. AS kemudian memutuskan untuk melakukan intervensi. Namun karena Amerika belum memiliki kekuatan yang cukup, mereka kemudian memutuskan mengirimkan satuan kecil untuk menghambat gerak maju pasukan Korea Utara, satuan ini kemudian diberi nama Satuan Tugas Smith. Apa yang diinginkan Amerika untuk dilakukan Satuan Tugas Smith pada musim panas 1950 adalah menghambat kemajuan Pasukan Korut yang bergerak cepat ke selatan selama mungkin. Mereka kemudian menjadi unit Amerika pertama yang bertempur melawan tentara Korea Utara dalam pertempuran darat. “Dalam semua sejarah Amerika, tidak ada kelompok tentara yang menunjukkan keberanian dan dedikasi yang lebih besar daripada anggota Satuan Tugas Smith yang kebanyakan belum pernah mengenyam pengalaman tempur,” tulis penulis Bevin Alexander mengenai tugas dari satuan kecil ini.

Invasi Korea Utara atas Korea Selatan pada 25 Juni 1950 mengagetkan Amerika. Waktu itu Amerika belum memiliki kekuatan yang cukup dan memadai untuk menghentikan invasi Korut. (Sumber: https://www.timetoast.com/)
Berita tentang Task Force Smith dalam Pertempuran Osan. (Sumber: https://blog.genealogybank.com/)

Latar belakang

Saat fajar pada tanggal 25 Juni 1950, Tentara komunis Korea Utara melintasi garis paralel ke-38 dan menyerbu ke Republik Korea (Korea Selatan), dalam aksi yang disebut oleh PBB sebagai “tindakan agresi tanpa alasan.” Sejak Amerika Serikat dan Uni Soviet membelah Korea menjadi dua setelah Perang Dunia II, masing-masing pihak telah mengancam akan melakukan penyatuan kembali dengan paksa dan beberapa kali terlibat dalam pertikaian di perbatasan. Pada awalnya aksi Korut ini ini nampaknya hanya satu insiden lanjutan dalam pertikaian antara kedua negara yang telah berlangsung selama 5 tahun. Namun pada 30 Juni, setelah menyadari skala sebenarnya dari invasi Korut, Presiden Harry S. Truman kemudian memerintahkan Jenderal Angkatan Darat bintang 5, Douglas MacArthur — komandan tertinggi untuk kekuatan Sekutu di Jepang yang diduduki semenjak berakhirnya PD II — untuk mengirim pasukan darat ke Korea. MacArthur segera meminta ijin untuk “memindahkan sebuah tim tempur AS seukuran resimen untuk memperkuat wilayah vital yang diperlukan sembari mempersiapkan kemungkinan pengiriman dua divisi tambahan dari pasukan yang berpangkalan di Jepang untuk melakukan serangan balasan awal.”

Untuk menghentikan invasi Korea Utara, Presiden Truman memerintahkan Jenderal veteran berusia 70 tahun, Douglas MacArthur, untuk melakukan apapun yang dianggap perlu dalam membantu mempertahankan kedaulatan Korea Selatan. (Sumber: https://www.history.com/)
Letnan Jenderal Walton H. Walker, komandan Angkatan Darat Kedelapan (Sumber: https://www.wikiwand.com/)
Mayor Jenderal William F Dean, sosok yang turut bertanggung jawab dalam mengirimkan Task Force Smith ke Korea. Dean sendiri kelak juga akan mengalami pengalaman pahit ditawan oleh Korea Utara hingga perang berakhir. (Photo by Keystone-France/Gamma-Keystone via Getty Images)

Truman menyetujui, dan MacArthur menginstruksikan Letnan Jenderal Walton H. Walker, komandan Angkatan Darat Kedelapan, untuk mengirimkan Divisi Infanteri ke-24 – yang saat itu ditempatkan di Jepang – ke Korea secepat mungkin. Walker, kemudian menyampaikan instruksi lisan awal kepada komandan divisi Mayor Jenderal William F. Dean. Masalah yang muncul kemudian adalah belum ada tim tempur setingkat resimen semacam itu yang ada di Jepang, disamping juga tidak ada cukup pesawat kargo C-54 di negara itu untuk mengangkut unit tersebut (kalaupun ada) dan peralatannya. Para Komandan yang bersangkutan kemudian memilih untuk tidak menghabiskan banyak waktu lagi dan berimprovisasi membentuk unit yang dibutuhkan sambil menunggu lebih banyak pesawat tersedia. Mereka takut semakin banyak keterlambatan akan membahayakan rencana MacArthur untuk mengirimkan bantuan militer dengan cepat ke Korea.

Pesawat angkut C-54 Skymaster. Amerika benar-benar tidak siap dalam membantu Korea Selatan saat agresi Korea Utara dimulai. Pangkalan Amerika yang terdekat dari Korea Selatan, yakni Jepang, tidak memiliki cukup pesawat C-54 untuk mengirimkan bantuan ke Korea Selatan. (Sumber: https://amcmuseum.org/)

Task Force Smith

Mereka kemudian memutuskan untuk mengirimkan pasukan kecil untuk “memerangi musuh” guna sedapat mungkin menunda kemajuan musuh. Sementara itu sisa dari Divisi Infanteri ke-24 akan mengikuti dengan masuk ke Korea melalui pelabuhan Pusan. Sebagai ganti dari tim tempur berkekuatan satu resimen penuh, pasukan yang dikirim ini terdiri dari satu batalion infantri dengan kekuatan kurang dari 400 orang. Ketika pasukan kecil ini berangkat ke Korea — yang pastinya akan berhadapan dengan lingkungan yang bermusuhan dengan musuh yang unggul secara numerik — mereka maju ke medan perang tanpa tank, forward air controller, zeni tempur, dukungan medis, pertahanan udara, polisi militer, atau peleton sinyal dan tim pengintaian yang menjadi standar dari sebuah RCT. Satu-satunya hal yang benar dilakukan oleh Angkatan Darat adalah mereka memilih orang yang tepat untuk memimpin unit itu, yakni Letnan Kolonel Charles B. Smith. Letnan Kolonel Charles B. Smith yang berusia 34 tahun adalah seorang veteran perang berpengalaman. Lulusan 1939 dari Akademi Militer A.S. di West Point, dia ditempatkan di Oahu, Hawaii, ketika Jepang menyerang Pearl Harbor pada bulan Desember 1941, dan dia bertempur di Pasifik selama Perang Dunia II. Sekarang dia akan memimpin unit tempur Amerika pertama yang akan bertempur melawan musuh dalam Perang Korea.

Pasukan tank Korea Utara di pinggiran kota Seoul. (Sumber: https://www.timetoast.com/)

Seperti yang diingat Smith kemudian, pada malam 30 Juni 1950, dia dibangunkan di tempat tinggalnya di Camp Wood di pulau Kyushu, Jepang, lewat telepon dari Kolonel Richard W. Stephens, komandan Regt Inf ke-21, Div Inf ke-24. “Ada masalah besar,” kata Stephens. “Persiapkan dirimu dan segera melapor ke pos komando.” Di sana Smith diperintahkan untuk membawa batalion infanteri darurat — utamanya berasal dari Batalion 1 resimen, tanpa kompi A dan D — ke Pangkalan Udara Itazuke. Jenderal Dean sudah menunggu di Itazuke. Dia kemudian memerintahkan Smith untuk menghentikan gerakan Pasukan Korea Utara sejauh mungkin dari Pusan dan untuk “memblokir jalan utama sejauh mungkin ke utara.” Dean juga mengarahkan Smith untuk menemui Brigjen. Jenderal John H. Church, wakil komandan Pasukan Angkatan Darat A.S. di Korea (USAFIK) begitu ia mendarat, sambil kemudian menambahkan, “Maaf saya tidak bisa memberi Anda informasi lebih lanjut. Hanya informasi itu yang saya dapatkan. ” Instruksi tertulis untuk Smith menyusul di kemudian hari dengan perintah operasi umum sebagai berikut: “Maju segera setelah mendarat dengan kekuatan yang yang ada, sesuaikan diri dengan situasi yang ada, sedapat mungkin bergerak ke utara, perangi musuh yang sekarang bergerak ke selatan dari Seoul menuju Suwon dan menunda kemajuannya. ”Apa yang Walker dan Dean lalai katakan kepada Smith adalah bahwa musuh yang diperintahkannya untuk dihambat, sebenarnya adalah ujung tombak dan satuan terbaik dari Tentara Rakyat Korea Utara (NKPA) yang menyerang.

Menuju ke medan tempur

Batalion darurat yang dipimpin Smith — kemudian lebih dikenal sebagai Satuan Tugas Smith — terdiri dari dua kompi senapan berukuran kecil, B dan C, dan setengah dari kompi markas. Mendukung mereka adalah setengah peleton komunikasi; peleton recoilless kaliber 75mm dengan hanya dua dari empat senjata yang seharusnya dimiliki; dua mortir kaliber 4,2 inci; enam bazoka kaliber 2,36 inci; dan empat mortir 60mm. Hampir semua senjatanya berasal dari era Perang Dunia II. Setiap prajurit Satuan Tugas Smith membawa 120 peluru kaliber rifle kaliber .30 (untuk senapan standar M1 Garand) dan C-Ration yang cukup untuk dua hari. Sebagian besar dari 406 personel satuan tugas Smith berusia 20 tahun atau lebih muda, dan hanya sebagian kecil dari perwira dan prajuritnya pernah mengalami pertempuran. Setelah mendarat di Korea, Smith dan anak buahnya dibawa sejauh 17 mil ke stasiun kereta api di Pusan, tempat penduduk setempat bersorak-sorai berbaris di jalan-jalan, melambaikan spanduk dan pita ketika mereka lewat. Dari Pusan, kereta membawa pasukan kecil ini ke Taejon, dan tiba pada pagi hari tanggal 2 Juli. Di sana Smith bertemu dengan Church dan kumpulan perwira tentara AS dan Republik Korea (ROK). “Kami memiliki sedikit pertempuran di sini,” kata Church, sambil menunjukkan titik paling utara pada peta. “Yang kita butuhkan adalah beberapa prajurit di sana yang tidak akan lari ketika mereka melihat tank. Kami akan memindahkan anda untuk membantu pasukan ROK dan memberi mereka dukungan moral. “

Task Force Smith tiba di Korea Selatan. (Sumber: https://www.warhistoryonline.com/)
Task Force Smith hanya dibekali dengan sedikit Bazooka 2.36 inch, yang kemudian terbukti kurang mumpuni dalam melawan Tank T-34/85 milik tentara Korea Utara. (Sumber: https://www.flickr.com/)

Church sepenuhnya menyadari “tindakan kecil” yang diperintahkannya ke Smith dan batalion daruratnya akan mengadu mereka dengan setidaknya dua resimen dari Div Inf ke-4 NKPA yang didukung oleh resimen tank — semuanya sekitar 5.000 prajurit dan tiga lusin tank, sebuah kekuatan yang 10 kali lipat lebih besar dari satuan Smith dan dilengkapi Tank, sementara Smith dan anak buahnya hanya punya senjata ringan. Tidak diketahui mengapa Church gagal memberi tahu Smith tentang hal ini serta fakta bahwa serangan musuh baru saja merebut kota Suwon dan mengusir beberapa divisi Korea Selatan, sehingga tidak ada unit pasukan ROK yang utuh di sekitarnya untuk didukung oleh Smith. Church tampaknya merasa — seperti halnya Dean dan Walker di hadapannya — bahwa “demonstrasi tekad” oleh dua kompi senapan Amerika akan cukup untuk mendorong unit-unit ROK bersemangat kembali dan menakuti seluruh NKPA.

Tentara Korea Selatan dalam gerak mundur menghadapi serbuan massal tentara Korea Utara, 25 Juni 1950. Ketidaksiapan tentara Korsel ternyata juga tidak jauh beda dengan kondisi tentara Amerika yang ditugaskan untuk membantu mereka. (Sumber: Pinterest)

Sementara itu, Smith, bagaimanapun, adalah seorang prajurit profesional, dan dia bertekad untuk mempersiapkan yang terbaik untuk anak buahnya. Setelah bertemu dengan Church pada tanggal 2 Juli, Smith berangkat ke utara dengan jip menuju Suwon dengan para perwira utamanya, mencari tempat yang memungkinkan untuk membangun posisi pertahanan. Ketika mereka berkendara ke utara melewati bermil-mil jalanan kasar, ribuan pengungsi yang putus asa dan pasukan ROK yang mundur melewati mereka ke arah yang berlawanan. Tiga mil di utara Osan, jalan itu menurun dan sedikit berbelok ke arah Suwon. Di sudut kanan jalan, ada punggung bukit yang tidak beraturan. Bukit tertinggi memuncak sekitar 300 kaki, menuju ke jalur kereta api ke timur dan menawarkan garis pandang hampir delapan mil ke utara ke arah Suwon. Posisi pertahanan yang dinilai cukup ideal ini rencananya didirikan di dua bukit yang mengawasi jalan utara desa Osan, 6 mil (9,7 km) selatan Suwon dan sekitar 25 mil (40 km) selatan Seoul. Bukit kecil ini naik hingga 300 kaki (91 m) di atas jalan, memberikan visibilitas yang baik hampir di semua jarak ke arah Suwon. Di sanalah Smith menetapkan posisinya. Smith mendirikan pos komandonya di Pyeongtaek, sekitar 15 mil di sebelah tenggara Osan. Pada tanggal 4 Juli, unsur-unsur Batalyon Artileri Lapangan ke-52 — total 134 personel dan enam baterai howitzer 105mm di bawah komando Letnan Kolonel Miller Perry — tiba di Pyeongtaek untuk mendukung gugus tugas itu. Kedua perwira membuat pengintaian terakhir dari posisi utara Osan, mencatat posisi yang layak untuk ditempati meriam-meriam howitzer yang mereka miliki. Smith menyerahkan lokasi pilihannya ke markas besar dan menerima perintah untuk “mengambil posisi yang bagus di dekat Osan itu yang anda harus memberi tahu Church.”

Task Force Smith juga didukung dengan 6 meriam howitzer 105 mm dibawah komando Letnan Kolonel Miller Perry. (Sumber: Pinterest)
Task Force Smith tiba di Stasiun Taejon. (Sumber: https://www.warhistoryonline.com/)

Dalam banyak hal posisi itu optimal, mengingat situasinya. Tempat itu menawarkan perlindungan dan pengamatan yang baik, dan mengawasasi semua jalur menuju ke Osan. Namun, musuh juga memiliki jalan terbuka untuk mengapit posisi Smith, yang dengan kekuatannya yang terbatas hanya bisa melakukan sedikit dari sekedar mengerahkan pasukannya ke posisi sayap untuk mencegah serangan semacam itu. Tepat setelah tengah malam pada 4 Juli, Satuan Tugas Smith pindah dari Pyeongtaek dengan lusinan truk dan kendaraan sitaan. Dalam kondisi gelap, dengan pasukan ROK dan warga sipil yang lari menyumbat jalan, sehingga butuh lebih dari dua setengah jam untuk menempuh jarak 12 mil ke Osan. Mereka melaju di tengah hujan lebat, dan mencapai posisi mereka pada pukul 3 pagi. Lebih buruknya lagi, langit tidak menunjukkan cuaca yang bakalan membaik, sehingga menghilangkan kemungkinan adanya dukungan udara yang bisa diberikan. Pasukan infanteri Smith mulai menggali dan menyiapkan senjata mereka di dini hari yang basah, membentuk garis pertahanan selebar satu mil yang mengapit jalan. Sementara itu, orang-orang Perry menggunakan jip untuk menderek semua kecuali satu dari howitzer mereka menaiki bukit curam sekitar 2.000 meter ke belakang infanteri dan kemudian menyamarkan posisi mereka. Sementara itu meriam yang tersisa milik Perry, diletakkan di tengah-tengah antara baterai dan posisi infantri untuk menutupi jalan siap untuk melawan tank musuh yang mungkin mendekat. Para prajurit itu kemudian meletakkan kabel telepon di antara posisi artileri dan infanteri. Smith menempatkan empat senapan mesin kaliber .50 dan empat bazoka dengan infantrinya dan menempatkan mortir 400 yard ke belakang. Pasukan infanteri memarkir kendaraannya tepat di sebelah selatan dari posisi mereka, sementara pasukan artileri memilih untuk menyembunyikan truk mereka lebih jauh ke arah Osan — sebuah keputusan yang akan terbukti benar setelah pertempuran.

Hancurnya Task Force Smith

Saat fajar, prajurit-prajurit Amerika itu sudah dalam posisi terbaik yang Smith dapat buat. “Tuan-tuan, kita akan tahan mereka selama 24 jam,” kata komandan itu kepada anak buahnya. “Setelah itu kita akan mendapatkan bantuan.” Smith tidak menyadari bahwa baik Church maupun Dean tidak pernah membuat keputusan apa pun untuk membantu mereka. Sejauh pemikiran para Jenderal Amerika, misi itu hanyalah tindakan menghambat gerak maju musuh yang tidak perlu mendapat dukungan lebih lanjut. Kekuatan kecil Smith dengan segera terisolasi seperti halnya para prajurit yang ada di Alamo atau Thermopylae — dan mereka kalah jumlah. Smith dan anak buahnya tidak perlu menunggu lama datangnya musuh. Sekitar pukul 7:30 pagi, para pengamat melihat delapan tank T-34/85 buatan Soviet dari Resimen Tank ke-107 NKPA yang bergulir langsung ke arah mereka. Pada pukul 8:16 pagi, pada jarak 4.000 yard, artileri Amerika menembaki pasukan Korea Utara untuk pertama kalinya — dan orang-orang Korea Utara tidak terpengaruh apa pun. Peluru meriam 105mm standar hanya memantul dari tank-tank Korea Utara. Baterai meriam Perry hanya memiliki enam peluru antitank berhulu ledak tinggi (HEAT), semua ditempatkan di howitzer terdepan. Ketika T-34 datang dalam jarak 700 yard dari posisi infanterinya, Smith memerintahkan senjata recoilless 75mm untuk melepaskan tembakan. Meskipun mencetak beberapa perkenaan langsung, namun mereka tidak berhasil menghentikan tank itu. Juga dengan bazoka M9A1 kaliber 2,36 inci, berulang kali praktis pada jarak pointblank (sangat dekat). Letnan Dua Ollie Connor sendiri menembakkan 22 roket dari jarak 15 yard, tanpa hasil. Seandainya orang-orang Amerika itu dipersenjatai dengan bazoka kaliber 3,5 inci tipe M20 dengan peluru HEAT M28A2 yang lebih kuat yang telah dikirimkan ke unit-unit militer A.S. di Jerman, hasilnya mungkin akan sangat berbeda. Pepatah yang tepat pada hari itu mengenai perang tank adalah, “Pertahanan terbaik melawan tank adalah dengan menggunakan tank lain.” Kalaupun tanpa tank sendiri, Satgas Smith setidaknya masih bisa menggunakan ranjau anti-tank, tetapi sekali lagi barang-barang itu tidak ada di Korea. Untuk alasan yang masih belum bisa dijelaskan, mereka tertinggal di lapangan terbang di Jepang saat gugus tugas itu bersiap untuk diberangkatkan.

Invasi tentara Korea Utara ke selatan didukung dengan tank medium T-34/85, yang meskipun merupakan warisan teknologi Perang Dunia II, namun belum ada tandingan yang sepadan di daratan Korea waktu itu. (Sumber: https://www.amazon.com/)
Andai saja personel Task Force Smith dilengkapi dengan M20 Bazooka kaliber 3.5 inchi dan munisi HEAT M28A2, mungkin mereka akan cukup banyak melumpuhkan gelombang serbuan tank Korea Utara. (Sumber: http://www.koreanwaronline.com/)

Tank-tank T-34 NKPA segera menembaki posisi-posisi tentara Amerika dengan meriam kaliber 85mm dan senapan mesin 7.62 mm mereka. Rentetan tembakan berat awalnya memaksa beberapa kru senjata Perry bergegas mencari perlindungan, tetapi mereka segera kembali ke howitzer mereka. Ketika tank-tank Korea mulai menggelinding menuju posisi Smith, tembakan Amerika – kemungkinan dari peluru HEAT dari meriam howitzer yang ada di depan – akhirnya berdampak, merusak dua T-34 yang memimpin di depan. Satu tank terbakar, dan ketika tiga awaknya muncul dari turret, salah satu dari mereka menembaki posisi senapan mesin A.S. dengan SMG PPSh-41 menewaskan seorang asisten penembak. Dia adalah prajurit darat Amerika pertama yang gugur dalam pertempuran di Korea. Tembakan balasan segera menewaskan ketiga tentara Korea Utara itu. Crew howitzer terdepan segera menyerang tank ketiga yang lewat, tetapi orang-orang Amerika telah menghabiskan enam peluru HEAT mereka, dan tank itu dengan cepat melumpuhkan meriam mereka. Howitzer Perry yang tersisa masih bisa melumpuhkan dua tank lain, tetapi masih ada lebih banyak lagi tank musuh di jalan. Dua puluh lima tank T-34 tambahan mengikuti di belakang barisan delapan tank musuh yang memimpin serangan. Mungkin mereka khawatir bahwa pasukan Smith hanya merupakan sebagian kecil yang mewakili pasukan yang jauh lebih besar, tank-tank itu tidak berhenti untuk menghancurkan pasukan infanteri Amerika tetapi hanya menembaki mereka secara sepintas lalu. Beberapa bahkan tidak mau menembak sama sekali. Sayangnya untuk orang-orang Amerika, roda rantai dari tank Korut telah memotong kabel telepon, dan sangat menghambat komunikasi antara Smith dan satuan artilerinya.

Peta Pertempuran Osan (Sumber: https://www.warhistoryonline.com/)

Dua jam setelah tank pertama mendekat, yang terakhir melewati posisi Smith, dengan telah menyebabkan sekitar 20 orang Amerika gugur atau terluka, termasuk Perry, yang tertembak kakinya oleh tembakan senjata kecil setelah mencoba dengan sia-sia untuk menangkap kru dari satu tank yang dilumpuhkan untuk menyerah. Satu jam kemudian Smith melihat apa yang dia perkirakan sebagai barisan truk dan prajurit infantri sepanjang enam mil, dipimpin oleh tiga tank, mendekat sepanjang jalan. Ini adalah Resimen ke-16 dan ke-18 dari Divisi 4 NKPA yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Lee Kwon Mu, semuanya berjumlah 5.000 orang. Entah kenapa, barisan tank sebelumnya tidak mencoba untuk mengingatkan pasukan infanteri itu akan adanya pasukan penyergap Amerika yang menunggu. Ketika konvoi ada dalam jarak 1.000 yard, Smith dan anak buahnya “menyerang dengan senjata apapun yang mereka miliki,” sebagaimana kemudian dia katakan. Pihak Korea Utara bereaksi dengan mengirimkan tiga tank hingga jarak 300 yard dari pertahanan Amerika untuk menembak dengan meriam dan senapan mesin ke posisi Smith. Dalam pertempuran 1.000 prajurit musuh berusaha untuk maju tetapi didesak kembali oleh tembakan prajurit Amerika. Meskipun baterai meriam Perry, terputus komunikasi dengan pengamat garis depannya, sehingga tidak dapat memberikan tembakan pendukung, para prajurit infanteri Smith bertarung lebih dari tiga jam. Para prajurit infanteri Amerika yang menyebabkan banyak korban pada musuh yang bergerak maju, akhirnya dijepit oleh gerak maju musuh dan menjadi sasaran tembakan gencar. Hampir terkepung dan hampir kehabisan amunisi, Smith menyadari bahwa penarikan mundur adalah satu-satunya pilihan dan mulai memerintahkan penarikan mundur, tetapi sayangnya Kompi B tidak mendapatkan atau mendengar perintah itu dan akibatnya terisolasi di antara pasukan musuh. Pada saat penarikan mundur, pasukan Amerika menderita korban terbesar mereka. Mereka yang berusaha membawa korban luka-luka keluar dari medan pertempuran, dirobohkan oleh tembakan gencar. Mereka benar-benar terbuka oleh tembakan mortir dan tembakan senapan mesin musuh, banyak dari orang-orang itu yang membubarkan diri dan lari, meninggalkan senjata berat mereka dan setidaknya dua lusin rekan-rekan mereka yang terluka di belakang. Ketika Korea Utara yang maju menyerbu orang-orang Amerika yang terluka dan tidak berdaya itu, mereka menembak mati mereka di tempat mereka berbaring atau mengikat mereka dengan kabel telepon dan kemudian mengeksekusi mereka.

Pada akhirnya tidak ada yang bisa menghentikan gerak maju tentara Korea Utara hingga ke perimeter Pusan, termasuk satuan kecil yang tanggung seperti Task Force Smith. (Sumber: https://thekoreanwarof1950-53.weebly.com/)

Ketika barisan-barisan tank T-34 telah melewati posisi pasukan Smith, mereka telah menghancurkan kendaraan-kendaraan infanteri milik Amerika, sehingga pasukan infanteri Smith yang masih hidup berlari melalui sawah-sawah di dekatnya, untuk sedapat mungkin menghindari kejaran tentara Korea Utara. Penarikan cepat kemudian berubah menjadi pelarian kacau balau. Pasukan artileri yang masih memiliki truk mereka, dan setelah merusak howitzer yang tersisa, segera pergi ke Ansong, dengan membawa serta lusinan prajurit infantri yang dapat mereka temui. Korban selamat berlarian ke markas besar militer sekutu di belakang, baik sendiri-sendiri atau dalam kelompok kecil, selama berhari-hari sesudahnya. Smith melaporkan sekitar 150 (21 luka-luka, 60 gugur dan 82 ditangkap) dari pasukan infantri dan 31 perwira dan prajurit pasukan artileri Perry tewas atau hilang — sekitar 40 persen dari jumlah personel satuan tugas. Jumlah korban bisa jauh lebih tinggi; jika saja orang-orang Korea Utara — yang memiliki perintah untuk tidak berhenti sampai mereka mencapai Pyeongtaek — memilih untuk mengejar pasukan Smith yang kecil itu, mereka bisa saja memusnahkan mereka semua.

Penilaian

Berdasar pengalaman buruk ini, maka akan muncul istilah di Angkatan Darat: “Tidak (akan) ada lagi (semacam) Satuan Tugas Smiths.” Selama enam dasawarsa setelah kehancuran Task Force Smith, banyak yang melemparkan kesalahan atas kekalahan yang diderita Satuan Tugas Smith pada faktor: pelatihan yang buruk, kepemimpinan yang salah, dan peralatan yang tidak memadai, sementara mengabaikan penyebab utama kegagalan itu. Klaim bahwa orang-orang dari Satgas Smith kurang terlatih adalah tidak benar. Para prajurit pendudukan di Jepang telah menerima pelatihan ekstensif yang sama dengan semua pasukan Amerika. Salah satu sejarawan Angkatan Darat periode itu menulis, “Unit-unit yang dikerahkan ke Korea sama disiplinnya dengan setiap unit yang dikirim untuk bertempur dalam Perang Dunia Kedua.” Pada saat Satuan Tugas Smith dikerahkan, program evaluasi Angkatan Darat telah menilai batalyon sebagai “teruji dan siap untuk bertempur. ”Buktinya kualifikasi itu terlihat dalam kinerjanya. Meski kalah dalam hal firepower dan jumlah personel hingga perbandingan 10 banding 1, pasukan AS telah berhadapan dengan dua resimen infantri musuh dan tiga lusin tank dan mampu bertahan selama lebih dari enam jam dan telah menewaskan sekitar 42 tentara Korea Utara dan melukai 85 lainnya. Para GI telah melumpuhkan empat tank dengan senjata antitank mereka yang terbatas dan tetap bisa memelihara disiplin di bawah tembakan gencar. Beberapa pihak menuduh Smith dan para perwiranya telah mengecewakan anak buah mereka dengan kepemimpinannya, tetapi hal ini jauh dari kebenaran. Para perwira dari gugus tugas itu, mulai dari Smith ke bawah, telah membuat keputusan yang benar mengenai medan dan taktik yang mereka gunakan. Dan meskipun lari tunggang langgang di akhir pertempuran, mereka sebelumnya telah bertempur dengan baik dalam situasi yang buruk selama pertempuran, hal ini sebagian besar karena contoh sikap yang diberikan oleh para perwira mereka.

Robert L Witzig dengan Bazooka 2.36 inchi dalam pertempuran Pyongtaek, yang terjadi sehari setelah pertempuran Osan, sementara di sebelah kanan nya adalah Kenneth R. Shadrick, yang kemudian akan gugur beberapa saat setelah foto ini diambil. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Tuduhan bahwa senjata yang digunakan oleh Gugus Tugas Smith tidak memadai untuk misi adalah benar; kondisi sebagian besar peralatan itu menyedihkan. Bahkan howitzer yang digunakan sudah akan dihapus dari inventory. Namun prajurit-prajurit di bawah Smith dan Perry menggunakan artileri usang dan senjata lain yang mereka punya semaksimal mungkin. Mayor Angkatan Darat A.S. John Garrett melakukan penelitian ekstensif atas pertempuran itu dan menulis “Satuan Tugas Smith: Pelajaran Yang Tidak Pernah Dipelajari,” sebuah monograf yang diterbitkan pada tahun 2000 oleh Komando Angkatan Darat AS dan Sekolah Staf Umum untuk Studi Militer Tingkat Lanjut. Di dalamnya Garrett dengan meyakinkan berpendapat bahwa tanggung jawab nyata atas kegagalan misi bukan terletak pada orang-orang yang memimpin atau membentuk Satuan Tugas Smith tetapi pada “para pemimpin senior dari Divisi Infanteri ke-24, Angkatan Darat Kedelapan AS dan para pimpinan yang lebih tinggi di markas besar yang gagal memberikan kepemimpinan operasional yang tepat.… Satuan Tugas Smith dikerahkan ke Korea tanpa konsep bagaimana dan mengapa satuan tugas itu dikirimkan. ” Menghadapi komite Senat MacArthur kemudian mengatakan tentang Pertempuran Osan: “Saya mengirimkan pasukan dari Divisi ke-24 … dengan harapan dapat membangun perlawanan dimana saya dapat menarik mundur pasukan Korea Selatan dengan cepat. Saya juga berharap dengan tampilan kekuatan dan keberanian (dari satuan semacam Task Force Smith) untuk mengecoh musuh sehingga yakin bahwa saya memiliki sumber daya yang jauh lebih besar daripada yang saya miliki. ”Itu adalah langkah yang naif dan akhirnya membawa malapetaka, yang mencerminkan keangkuhan dan keyakinan para jenderal berpengalaman yang percaya bahwa pasukan kecil prajurit Amerika dapat mencegah seluruh tank NKPA dan resimen infantri yang menyertainya. Kemungkinan besar orang Korea Utara pada awalnya tidak tahu bahwa mereka menghadapi pasukan pertahanan Amerika. Dan begitu mereka melakukannya, itu jelas tidak membuat banyak perbedaan; tank-tank mereka terus bebas berkeliaran melewati satuan Amerika. Seperti yang ditulis Garrett, “Kekuatan kecil pemberani ini ditempatkan menghadapi bagian terkuat dari Tentara Korea Utara … bukan karena ketidaktahuan mengenai situasi, tetapi karena kebanggaan yang berlebihan dari MacArthur dan kegagalan komandan lain untuk mengoreksi atau bahkan melihat kesalahan tersebut. ” Pihak Tentara juga tidak belajar dari Osan. Gugus Tugas Smith tidak akan menjadi pasukan Amerika terakhir yang secara tiba-tiba dilemparkan ke medan pertempuran dengan hasil yang tragis di masa-masa awal Perang Korea. Hal yang sering diulang ini menggambarkan kegilaan dengan melakukan hal yang sama berulang-ulang dan mengharapkan hasil yang berbeda. Sayangnya, hasilnya akan sama setiap kali.

Pasukan dari Divisi ke-27 di tepi sungai Naktong, Pusan 4 September 1950. Tidak semua memandang muram aksi Task Force Smith, setidaknya satuan tugas ini turut menunda kemajuan tentara Korea Utara, sehingga bantuan Amerika lainnya dapat memperkuat pertahanan tentara Korea Selatan yang masih tersisa. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Prajurit Angkatan Laut Korea Selatan di depan Memorial Task Force Smith di Osan. (Sumber: https://www.warhistoryonline.com/)

Meski demikian, tidak semua berpandangan muram atas aksi Task Force Smith ini, karena setidaknya pasukan Amerika berhasil menunda untuk sementara gerak maju unit tentara Korea Utara yang mereka temui pada hari itu, sesuai dengan tugas yang dibebankan kepada mereka. Taktik penundaan yang dilakukan oleh Amerika Serikat ini pada akhirnya membantu mencegah Pusan dapat dikuasai dengan cepat oleh Tentara Korea Utara dan sekaligus memungkinkan X-Corps MacArthur untuk terhubung dengan Angkatan Darat ke-8. Penundaan itu pada akhirnya akan berkontribusi pada pendaratan tentara PBB yang sukses di Inchon, dan kemudian mengusir pasukan Korea Utara dari Korea Selatan. Pada tahun 2005, sebuah monumen untuk mengenang Satuan Tugas Smith didirikan di dekat lokasi pertempuran, hampir tepat 55 tahun setelah pertempuran itu terjadi.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Rush to Disaster: Task Force Smith by Ron Soodalter

https://www.historynet.com/rush-disaster-task-force-smith.htm

Task Force Smith – America’s Entry into Korean War

https://www.google.com/amp/s/www.warhistoryonline.com/instant-articles/task-force-smith-americas-entry.html/amp

The Battle Of Osan – Korean War By Ben Loudermilk; April 25, 2017

https://www.google.com/amp/s/www.worldatlas.com/amp/articles/the-battle-of-osan-korean-war.html

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Osan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *