Natal di Vietnam 1967: Kisah Kemanusiaan di tengah lingkungan penuh Kematian.

Tahun 1967 merupakan salah satu tahun penentuan dalam perang Vietnam. Pada tahun itu kekuatan militer Amerika mendekati puncak kekuatannya, hampir 500.000 personel Amerika telah ditempatkan di berbagai pangkalan militer di Vietnam. 2 tahun setelah secara resmi Amerika melibatkan pasukan tempurnya membantu rezim Saigon dari ancaman gerilya komunis dan infiltrasi personel militer kiriman Hanoi, militer Amerika mulai mendesak satuan-satuan Komunis dari wilayah pesisir pantai Vietnam Selatan yang padat penduduk. Pada akhir 1967, untuk memecah kebuntuan dan himpitan pasukan sekutu pimpinan Amerika, PAVN mencoba memancing pasukan Amerika ke pedalaman di Dak Tô dan di pangkalan tempur Marinir Khe Sanh di Provinsi Quảng Trị, di mana tentara AS terlibat dalam serangkaian pertempuran yang dikenal sebagai Pertempuran memperebutkan Bukit. Tindakan ini adalah bagian dari strategi pengalihan dimaksudkan untuk menarik pasukan AS ke Dataran Tinggi Tengah dari wilayah padat penduduk, sekaligus menjadi bagian dari persiapan yang sedang mereka lakukan untuk Serangan Umum yang kemudian dikenal sebagai Tet Mau Than, atau Serangan Tet, dengan maksud seperti dijabarkan jenderal Văn Tiến Dũng bagi pasukan yang ada di Vietnam Selatan adalah untuk meluncurkan “serangan langsung ke pusat-pusat saraf pemerintahan boneka dan tentara Amerika di Saigon, Huế, Danang, semua kota, provinsi, dan pangkalan utama … ” Dengan perkembangan semacam ini, pada tahun 1967 banyak sekali dijumpai pertempuran-pertempuran besar di berbagai penjuru Vietnam Selatan. Selama tahun itu sebanyak 11,153 prajurit Amerika gugur, meningkat hampir dua kali lipat dari tahun 1966.

Petugas medis Angkatan Laut, Vernon Wike dengan rekannya yang sekarat di Bukit 881, dekat Khe Sanh-Vietnam Selatan tahun 1967. Tahun 1967 eskalasi militer di Vietnam meningkat dengan banyak pertempuran besar yang memakan korban sebanyak 11,153 prajurit Amerika gugur, meningkat hampir dua kali lipat dari tahun 1966. (Sumber: https://www.flickr.com/)

Roger Buchta pergi ke Vietnam

Sementara itu pada Oktober 1967, hanya beberapa bulan setelah menerima draf pemberitahuan wajib militernya dari Angkatan Darat AS, warga kota Lohman, Missouri, Roger Buchta menyelesaikan kamp pelatihan dan pelatihannya sebagai tenaga medis tempur di Ford Hood-Texas, dan kemudian naik pesawat untuk menerapkan keterampilan medisnya yang baru diperolehnya di Vietnam. Dibesarkan di daerah Lohman, Buchta belajar di Universitas Lincoln setelah lulus dari SMA Russellville pada tahun 1962. Dia lulus dengan gelar sarjana dalam ilmu sosial pada tahun 1966, dan dengan segera dibawa ke lingkungan yang asing – suatu hal yang menurutnya sudah dapat diprediksi. “Semua orang pergi (berperang) saat itu; ada begitu banyak yang direkrut,” kata Buchta, 69, ketika berbicara mengenai momen ketika ia menerima surat drafnya. “Itu adalah sesuatu yang aku bayangkan cepat atau lambat akan terjadi.” Karena tidak memiliki latar belakang medis sebelumnya, Buchta dengan bercanda berkomentar, “Satu-satunya pelatihan medis yang pernah saya terima adalah melahirkan anak sapi, anak kucing dan anak anjing di lingkungan pertanian, sesekali.” Setibanya di Vietnam, Buchta yang saat itu berusia 22 tahun, ditugaskan di unit 18th Mobile Army Surgical Hospital (unit MASH/rumah sakit bedah mobile) yang segera memberikan pengalaman pertamanya atas kenyataan perang yang keras, dengan mengobati berbagai penyakit dan cedera akibat pertempuran.

Bangsal Rumah Sakit Lapangan di Cu Chi dilengkapi jendela tapi tanpa AC. (Sumber: https://whyy.org/)
Jika Tentara Amerika punya bangsal rumah sakit diatas Cu Chi. Vietcong juga punya, tetapi di bawah tanah tepat dibawah Markas Tentara Amerika. (Sumber: https://www.history.com/)

Salah satu penempatan yang pernah dijalankan Buchta adalah di Rumah Sakit Lapangan di kawasan kota kecil Cu Chi, dekat Saigon. “Itu tempat yang sangat berbahaya,” katanya. “Kami kemudian menemukan bahwa ada semua jenis terowongan di bawah kota … bahkan di bawah pangkalan. Saya pikir itu adalah jaringan terowongan bawah tanah terbesar di Vietnam.” Selama banyak perpindahan, unitnya terus dirotasi di seluruh penjuru negeri. Buchta banyak mengikuti berbagai pertempuran di rumah sakit lapangannya. Buchta dan rekan-rekan tentaranya menyediakan tingkat perawatan yang diperlukan untuk menstabilkan kondisi korban pertempuran. Tetapi perawatan yang mereka berikan tidak terbatas pada personel militer A.S., seperti yang diingat Buchta, ia dan rekan-rekannya juga turut merawat pasukan musuh dan warga sipil yang terluka.

Pengalaman Natal yang tak terlupakan

Ketika musim Natal tiba dua bulan kemudian, Buchta menyaksikan suatu peristiwa yang akan membantunya menghidupkan kembali rasa kemanusiaannya di tengah kondisi yang banyak dikelilingi oleh kematian. Peristiwa itu terjadi di sekitar Natal 1967,” kenang Buchta, “saat angin menyapu Laut Cina Selatan dan menghantam tenda reyot kami. Saya berada di Rumah Sakit Bedah Angkatan Darat ke-18 dan kami berada di Provinsi Quang Tri, pos militer kecil yang hanya tiga mil di selatan zona demiliterisasi yang memisahkan Vietnam Utara dan Selatan, ”tambahnya. Seperti yang dijelaskan Buchta, waktu saat itu berjalan dengan sangat lambat bagi mereka yang bekerja di rumah sakit, sementara petugas medis dan perawat di tengah musim hujan badai merawat beberapa pasien yang baru pulih dari operasi. Ketika tidak sibuk dengan tugas-tugas lain, katanya, para staf menghabiskan waktu dengan “bermain kartu, minum kopi dan umumnya ingin menikmati istirahat dari tekanan untuk menerima dan menyiapkan operasi darurat bagi korban pertempuran.”

Roger Buchta (kanan) membalut luka pasiennya saat bertugas di 18th Army Surgical Hospital yang berpangkalan di Provinsi Quang Tri-Vietnam Selatan. (Sumber: https://m.warhistoryonline.com/)

Di tengah deru angin dan percikan hujan yang tampaknya tak henti-hentinya menghantam sisi-sisi tenda, aktifitas mereka segera terhenti ketika seorang lelaki Vietnam yang lebih tua perlahan-lahan membuka pintu ke ruang gawat darurat, ditemani oleh seorang wanita muda Vietnam yang tampaknya sedang menderita kesakitan. “Kami (staf medis) berusaha menggunakan kosa kata bahasa Vietnam kami yang terbatas untuk mencari tahu penyebab rasa sakitnya,” kata Buchta, “tetapi itu tidak berhasil. Akhirnya, “lanjutnya,” pria itu menunjuk ke perut wanita itu dan berpura-pura seolah sedang menggendong bayi— dan saat itulah kami sadar bahwa dia siap untuk melahirkan. (Situasi medis di mana petugas medis militer tidak pernah dilatih untuk mengatasi hal seperti ini.) Seorang perawat yang bertugas dengan cepat menemukan salah satu dokter Angkatan Darat yang untungnya kebetulan seorang dokter kandungan. Setelah memeriksa pasien, dokter mengumumkan bahwa wanita itu tidak hanya akan melahirkan sekali, tetapi dua kali. “Dokter menyatakan, ‘Dia akan memiliki anak kembar!’” Kenang Buchta. Namun dokter itu juga mengungkapkan bahwa bayi-bayi tersebut kemungkinan akan menjadi prematur, yang kemudian menyebabkan mereka mulai harus keras mencari inkubator. Staf unit MASH dapat menemukan satu unit inkubator di atas kapal rumah sakit yang berlabuh di lepas pantai hanya beberapa mil jauhnya, tetapi karena badai hebat melanda daerah itu, helikopter yang diperlukan untuk mengirimkan peralatan medis berhenti terbang.

Roger Buchta saat bertugas di 18th Mobile Army Surgical Hospital (MASH), Provinsi Quang Tri tahun 1968. (Sumber: https://www.warhistoryonline.com/)

Menjelang fajar muncul secercah harapan ketika matahari mulai menembus awan. Ketika cuaca yang keras mulai mereda, seorang pilot berhasil ditemukan, setuju untuk mengambil inkubator dari kapal rumah sakit itu. “Tidak berapa lama kemudian, seorang perawat dari ruang operasi membuka pintu ruang gawat darurat dan mengumumkan bahwa wanita Vietnam itu telah melahirkan bayi perempuan kembar,” Buchta tersenyum. “Itu benar-benar pengalaman baru bagi kita semua; setelah melihat dan berurusan dengan kematian dan luka hari demi hari, ini adalah kehidupan baru … dan, tepat setelah itu semua, masa Natal tiba. ” Ibu baru dan anak perempuan kembarnya itu kemudian dibawa ke ruang pasca operasi; si kembar ternyata cukup sehat sehingga inkubator diperlukan lagi. Melalui bantuan seorang juru bahasa, ibu itu meminta untuk meminta semua personel ruang gawat darurat yang merawatnya selama persalinan, dan memberi tahu kepada staf itu bahwa ia ingin mereka memberi nama anak-anaknya.

Letnan Terrie Roche, dari Royal Australian Army Nursing Corps menjalani kegiatan layanan kesehatan masyarakat di Hoa Long, Juni 1967. Aksi-aksi kemanusiaan semacam ini sebenarnya merupakan hal yang vital dalam Perang Vietnam, namun seringkali diabaikan. (Sumber: https://anzacportal.dva.gov.au/)

Di tengah kebingungan para petugas medis yang bertanya-tanya nama apa yang tepat untuk gadis-gadis itu, seketika Buchta memperhatikan ibu itu mengenakan kalung salib. “Dia adalah seorang Katolik,” Buchta menjelaskan, “dan tiba-tiba aku berpikir, ‘Bagaimana dengan nama-nama Katolik yang kuat dan baik: Mary dan Martha?'” Ketika ibu mengetahui nama-nama baru untuk anak-anaknya, dia gembira, Buchta mencatat — hal ini menjadi pengalaman yang menggembirakan yang menjadi peristiwa puncak dari perayaan Natal tenaga medis muda itu di tahun 1967 dan tahun berikutnya yang akan dihabiskannya di Vietnam. Hampir lima dekade telah berlalu sejak kelahiran Mary dan Martha saat Perang Vietnam, namun Buchta mengakui bahwa selama tahun-tahun berikutnya, dia sering bertanya-tanya apa yang terjadi dengan dua gadis muda yang dia bantu untuk diberi nama itu.

Membantu melahirkan dan mengurus bayi jelas bukan keterampilan yang dilatih bagi bagi prajurit tempur termasuk juga medis militer di lapangan. (Sumber: https://thedeadones.wordpress.com/)

“Gadis-gadis itu sangat kecil aku ingat ketika aku menggendong keduanya di tanganku,” katanya. “(Keluarga) mereka menghilang segera setelah gadis-gadis itu lahir; militer Vietnam Selatan datang dan membawa mereka pergi. Mereka mungkin dibawa ke rumah sakit sipil yang beberapa mil jauhnya di Quang Tri, ”tambahnya. Pada akhir Januari 1968, pasukan Vietnam Utara secara singkat menyerbu Quang Tri dan beberapa kota lain dalam apa yang dikenal sebagai Serangan Tet – sebuah upaya terkoordinasi untuk meruntuhkan pemerintah Republik Vietnam Selatan. Meskipun pasukan musuh dengan cepat diusir, namun itu adalah peristiwa yang tak terlupakan bagi Buchta, yang tetap tidak yakin tentang apakah peristiwa itu mempengaruhi kehidupan si kembar. “Sedihnya, aku tidak tahu apa yang terjadi dengan gadis-gadis atau keluarga mereka, tetapi bisa terlibat dalam peristiwa kelahiran mereka adalah salah satu kenangan terbaik yang aku dapatkan selama masa penugasanku dan merupakan situasi yang unik mengingat lingkungan pertempuran yang sudah menjadi bagian dari kehidupan kami (saat itu). ”

Roger Buchta sedang bersantai membaca buku Ernest Hemingway di minggu-minggu pertama tahun 1968. (Sumber: https://www.twipu.com/)

Kembali keganasan neraka Vietnam

Pada kesempatan berikutnya, rumah sakit Buchta pindah ke sebuah pangkalan yang terletak di Lai Khe, yang, sebagaimana dicatat Buchta, adalah sebuah kawasan perkebunan karet Michelin, yang punya tantangan bahayanya sendiri jika dibanding dengan di Cu Chi atau di Quang Tri. “Kami berada di sana selama Serangan Tet dan suatu malam kami mendengar banyak suara dan keributan,” kenangnya. “Flare ditembakkan dan menerangi tempat itu seperti siang hari sementara (staf rumah sakit) berkerumun di bunker.” Buchta menambahkan: “Saya ingat salah satu sersan berkata,” Oke, teman-teman, inilah dia … lock and load! ‘ Dan yang kemudian bisa anda dengar hanyalah suara klip magazine yang dipasang ke senapan. ” Pagi berikutnya, staf rumah sakit mengetahui bahwa para prajurit telah menewaskan hampir 30 tentara Vietkong yang berusaha menembus perimeter pangkalan. Aroma maut dan kematian di Vietnam telah kembali….dalam Serangan Tet, diperkirakan bahwa selama periode yang sama 32.000 pasukan PAVN terbunuh dan 5.800 lainnya ditangkap. Sementara di pihak Vietnam Selatan menderita korban 2.788 tewas, 8.299 terluka, dan 587 hilang dalam pertempuran. Pasukan AS dan pasukan sekutu lainnya menderita 1.536 tewas, 7.764 terluka, dan 11 hilang. Serangan Tet membawa Perang Vietnam ke dalam fase yang semakin berdarah.

Artikel koran The Sunday News and Tribune tanggal 21 Januari 1968 yang memuat artikel kecil tentang kerinduan Buchta untuk pulang ke rumah saat di tengah penugasannya di Vietnam. Pada akhir bulan itu juga pecah serangan Tet yang memakan banyak korban. (Sumber: https://www.newspapers.com/)
Horror Serangan Tet: Seorang marinir memandang kosong keluar lewat jendela (Kiri). Seorang ayah dan anaknya yang terluka setelah marinir melemparkan granat ke dalam bunker perlindungan mereka yang disangka persembunyian tentara komunis (Kanan). Serangan Tet dengan segera membuyarkan jalan sejarah Perang Vietnam. (Sumber: https://www.washingtonpost.com/)

Pada Oktober 1968, Buchta telah menyelesaikan penugasan di luar negerinya, dan segera kembali ke Amerika Serikat untuk kemudian diberhentikan. Tahun berikutnya, dengan pekerjaan yang sulit ditemukan, ia kembali ke Lincoln University dengan menggunakan fasilitas GI Bill, dan pada tahun 1971 ia meraih gelar master di bidang ilmu sosial. Ia kemudian dipekerjakan oleh Sekolah Menengah Russellville pada tahun 1972, di mana ia tetap sebagai guru hingga pensiun pada tahun 1999. Sejak itu, ia menikmati masa pensiunnya dengan menekuni berbagai hobi mulai dari menulis novel hingga kegiatan di luar ruangan seperti hiking dan mengayuh kano. Bagaimanapun pengalamannya di Vietnam akan tetep tersimpan dalam jiwa Buchta, termasuk kisah Natal tahun 1967 yang tak akan pernah ia lupakan.

Roger Buchta setelah pensiun sebagai guru di Russellville High School tahun 1999. (Sumber: https://www.newstribune.com/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

“Christmas in Vietnam” – Army veteran discovers Christmas spirit in middle of Vietnam War by Jeremy Amick; 17 July 2017

https://m.warhistoryonline.com/guest-bloggers/christmas-vietnam-army-veteran-discovers-christmas-spirit-middle-vietnam-war-m.html

Lohman veteran served as medic in the Army during the Vietnam War by Jeremy P. Amick, The News Tribune Dec. 22 2013 @ 9:35pm

https://www.newstribune.com/news/news/story/2013/dec/23/lohman-veteran-served-medic-army-during-vietnam-wa/448366/

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Vietnam_War

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Tet_Offensive

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *