Alutsista

McDonnell Douglas F3H Demon, Pesawat Tempur Kapal Induk Amerika Era 1950-an yang Berumur Pendek

McDonnell F3H Demon adalah pesawat jet tempur subsonik berbasis kapal induk Angkatan Laut Amerika Serikat. Penerus F2H Banshee, Demon awalnya dirancang untuk menggunakan mesin Westinghouse J40, tetapi harus didesain ulang untuk menerima mesin Allison J71 setelah mesin J40 mengalami masalah parah dan akhirnya ditinggalkan. Meskipun tidak memiliki tenaga yang cukup untuk kinerja penerbangan di kecepatan supersonik dan daya tahan yang cukup untuk melaksanakan peran multifungsi yang dimaksudkan, Demon melengkapi pesawat tempur siang hari seperti Vought F8U Crusader dan Grumman F11F Tiger sebagai pesawat pencegat bersenjata rudal segala cuaca AL Amerika sampai tahun 1964.

McDonnell F3H Demon adalah pesawat jet tempur subsonik berbasis kapal induk Angkatan Laut Amerika Serikat yang digunakan antara tahun 1950-1960an. (Sumber: http://www.airvectors.net/)

LATAR BELAKANG & DESAIN

McDonnell Aircraft Company didirikan pada tahun 1939 oleh James S. McDonnell. Perusahaan ini bertahan selama tahun-tahun masa perang dunia II melalui pekerjaan subkontrak untuk produsen pesawat terbang besar seperti Grumman dan Vought. Perusahaan McDonnell memang mengembangkan prototipe pencegat bermesin piston ganda selama perang, “XP-67 Moonbat“, tetapi tidak sampai pada tahap produksi. Pada akhir perang, perusahaan ini memproduksi jet tempur operasional pertama Angkatan Laut AS (USN), “FH-1 Phantom“, yang melakukan penerbangan perdana pada tahun 1945. Hanya 60 FH-1 yang dibuat, karena kinerjanya tidak jauh lebih baik daripada pesawat tempur bermesin piston saat itu, tetapi pesawat ini menghasilkan “F2H Banshee” yang jauh lebih sukses, sebuah pesawat yang diperbesar dan disempurnakan dari desain Phantom. Penerbangan pertama Banshee dilakukan pada tahun 1947, dan 895 pesawat sempat dibuat, dengan tipe ini menjalankan penugasan dalam Perang Korea. Kanada menjadi satu-satunya operator diluar Amerika. Sementara itu, bahkan ketika McDonnell masih memproduksi Banshee, perusahaan ini sudah mengerjakan jet tempur angkatan laut yang lebih canggih. Pada tahun 1948, Biro Aeronautika Angkatan Laut AS (BuAer) mengeluarkan permintaan proposal untuk pesawat pencegat berbasis kapal induk baru dengan kinerja yang setidaknya setara dengan pesawat tempur berbasis darat yang saat itu sedang dalam tahap perancangan. Kemampuan pesawat-pesawat Angkatan Laut di masa itu memang terkadang kalah kelas dibanding dengan pesawat-pesawat Angkatan Udara, namun itu tidak selalu terjadi. Selama Perang Dunia II (1939-1945), misalnya kehadiran pesawat tempur Mitsubishi A6M “Zero” Jepang memungkinkan pesawat tempur berbasis kapal induk mengungguli saingannya yang dioperasikan dari daratan. Sebanyak sebelas perusahaan kemudian mengajukan proposal; dan pada bulan Desember, desain McDonnell “Model 58” terpilih sebagai pemenang, dengan kontrak yang dikeluarkan untuk pembuatan dua prototipe sebagai “XF3H-1” pada bulan September 1949, setelah pemeriksaan maket skala penuh. Runner-up dalam kompetisi ini, sebuah pesawat dengan desain sayap delta dari Douglas, dipandang cukup menjanjikan untuk mendorong Angkatan Laut untuk melanjutkan pengembangannya juga – pesawat tersebut lalu dikenal sebagai “F4D Skyray“. 

Jet tempur operasional pertama Angkatan Laut AS (USN), “FH-1 Phantom” buatan McDonnell Aircraft Company. (Sumber: https://www.specialhobby.eu/)
McDonnell F2H Banshee saat Perang Korea. Penerbangan pertama Banshee dilakukan pada tahun 1947, dan 895 pesawat sempat dibuat. (Sumber: https://www.pinterest.de/)
“F4D Skyray“, pesawat berdesain futuristik pesaing McDonnell “Model 58”. (Sumber: https://rare-gallery.com/)

Desain XF3H-1 yang sedari awal didesain sebagai pesawat tempur sayap menyayung, diproduksi oleh sebuah tim di bawah pimpinan Richard Deagan dari McDonnell. Pesawat ini merupakan pesawat tempur dengan satu kursi dengan sayap menyayung, yang dipasang rendah, intake mesin yang dipasang di samping, dan ditenagai oleh satu mesin turbojet J40 afterburner buatan Westinghouse, yang memiliki tenaga tiga kali lipat dari mesin di F2H Banshee. Tim McDonnell ingin menggunakan mesin ganda, tetapi Angkatan Laut berencana untuk menstandarkan mesin J40 dan bersikeras untuk menggunakannya – sebuah keputusan yang akan disesali. Sementara pengerjaan prototipe XF3H-1 berlanjut, Angkatan Laut mempertimbangkan kembali persyaratan tersebut dan memutuskan bahwa pesawat produksi akan menjadi pesawat tempur segala cuaca/malam, bukan pesawat tempur siang hari, yang akan diberi nama “F3H-1N”. Prototipe kemudian dibuat sesuai spesifikasi asli sebagai demonstrator, dengan “Demon” pertama – dinamai sesuai dengan tema supernatural dari pesawat-pesawat buatan McDonnell – melakukan penerbangan pertamanya pada tanggal 7 Agustus 1951, dengan pilotnya adalah Robert M. Edholm. Mesin XJ40-WE-6 non-afterburning dengan daya dorong maksimum 24,9 kN (2.540 kgp / 5.600 lbf) dipasang karena mesin J40 afterburning tidak tersedia pada saat itu. Prototipe kedua, yang juga dilengkapi dengan mesin non-afterburning, melakukan penerbangan perdana pada bulan Januari 1952. Kedua prototipe ini tidak dipersenjatai dan tidak memiliki radar. Uji coba awal menunjukkan bahwa mesin J40 sangat tidak dapat diandalkan; bidang pandang ke depan pesawat tidak memuaskan; sementara kemampuan manuver roll dan stabilitas yawyang buruk. Hidung pesawat lalu didesain ulang untuk meningkatkan bidang pandang, sementara modifikasi permukaan pesawat mengatasi masalah roll dan yaw. Mengenai ketidakandalan dari mesin J40, hal itu mungkin tidak mengejutkan untuk sebuah mesin baru – tetapi setelah prototipe kedua dipasangi mesin afterburning J40-WE-8, yang memberikan daya dorong afterburning sebesar 46,7 kN (4.760 kgp / 10.500 lbf), pada awal tahun 1953, dimana kemudian keadaan menjadi lebih baik. Debut tempur MiG-15 yang tak terduga selama Perang Korea kemudian menjadikan Demon sebagai prioritas utama Angkatan Laut, karena kemampuan MiG jauh mengalahkan Panther dan Banshee. Satu-satunya pesawat tempur AS yang dapat menyamai MiG adalah F-86A Sabre, yang hanya dioperasikan oleh Angkatan Udara AS. Meski demikian pengujian Demon tidak akan selesai hingga Perang Korea berakhir.

MiG-15 Fagot. Debut tempur MiG-15 yang tak terduga selama Perang Korea kemudian menjadikan Demon sebagai prioritas utama Angkatan Laut, karena kemampuan MiG jauh mengalahkan Panther dan Banshee. (Sumber: https://www.goodfon.com/)

Prototipe pertama Demon hilang dalam sebuah kecelakaan pada tanggal 18 Maret 1954, dan prototipe kedua dihentikan tidak lama kemudian. Singkatnya, segala sesuatunya tidak berjalan dengan baik bagi Demon. Angkatan Laut bagaimanapun dengan optimis telah memesan F3H-1N untuk diproduksi bahkan sebelum penerbangan prototipe Demon yang pertama, dan menindaklanjuti pesanan tersebut dengan memesan satu unit versi pengintai “F3H-1P” – meskipun tidak ada versi pesawat pengintai yang akan dibuat. Terlepas dari masalah dengan prototipe, Angkatan Laut sangat ingin mendapatkan pesawat yang lebih canggih untuk melawan MiG pasukan komunis di atas Korea, sehingga produksi F3H-1N terus berlanjut, dengan yang pesawat pertama melakukan penerbangan perdana pada tanggal 24 Desember 1953. F3H-1N berbeda dengan versi prototipe karena memiliki kapasitas bahan bakar yang lebih besar; radar AN/APG-30 di bagian hidung yang telah dimodifikasi; empat kanon 20 milimeter, yang dipasang di bagian perut di bawah kokpit; dan berbagai perubahan kecil. Mesin awal yang digunakan adalah mesin turbojet Westinghouse J40-WE-8 dengan daya dorong kering 32,0 kN (3.265 kgp / 7.200 lbf) dan daya dorong afterburner 46,7 kN (4.760 kgp / 10.500 lbf), tetapi versi produksi selanjutnya menggunakan mesin J40-WE-22 dengan daya dorong kering 33,4 kN (3.400 kgp / 7.500 lbf) dan daya dorong basah 48,5 kN (4.945 kgp / 10.900 lbf). Bahkan mesin J40-WE-22 masih dianggap tidak memadai, dengan tidak mendekati tingkat daya dorong J40 yang diharapkan, tetapi rencananya adalah untuk meningkatkan kemampuan mesin ke varian J40 yang lebih memuaskan ketika tersedia. Namun, tidak ada masa depan bagi mesin J40. F3H-1N kerap mengalami kegagalan mesin, beberapa di antaranya sangat parah dan mengakibatkan kematian.

Detail desain McDonnell F3H Demon. (Sumber: https://forum.warthunder.com/)
Sebuah mesin jet Westinghouse J40 pada tahun 1952. Mesin ini diketahui tidak handal. (Sumber: https://commons.wikimedia.org/)

Dari 35 pesawat F3H-1N yang diterbangkan dengan mesin J40, delapan terlibat dalam kecelakaan besar. Demon produksi pertama dilarang terbang setelah hilangnya enam pesawat dan empat pilot. Kecelakaan ini mendorong pembatalan order pesawat dan penyelidikan Kongres atas pengadaan pesawat jet Angkatan Laut ini. Majalah Time menyebut pelarangan terbang untuk semua F3H-1 Demon Angkatan Laut bertenaga mesin Westinghouse sebagai sebuah “kegagalan”, dengan 21 pesawat yang tidak dapat diterbangkan yang hanya dapat digunakan untuk pelatihan darat Angkatan Laut dengan kerugian sebesar $200 juta. Media massa kemudian membesar-besarkan reputasi pesawat “berbahaya” Angkatan Laut ini, dan produksinya dihentikan setelah hanya 58 unit dibuat. Banyak dari pesawat yang diluncurkan tidak pernah terbang, dengan sebagian besar atau semuanya dibesituakan. Di sisi lain salah satu catatan positif dari J40 adalah rekor waktu menanjak tidak resmi yang dicapai tahun 1955 oleh Demon yang diterbangkan oleh pilot uji McDonnell Chet Braun, dengan terbang setinggi 10.000 kaki (3.000 m) dalam waktu 71 detik, namun bagaimanapun Westinghouse tidak pernah berhasil membuat mesin J40 bekerja dengan baik, dan segera keluar dari bisnis mesin jet setelah itu.

Prototipe XF3H-1 di kapal induk USS Coral Sea pada tahun 1953. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Kegagalan mesin J40 sendiri tidak terlalu berdampak buruk bagi McDonnell, terlebih lagi karena para insinyur perusahaan tidak ingin menggunakan mesin J40 sejak awal. Tapi tidak ada mesin lain yang bisa dipasang begitu saja ke desain Demon lama, karena sayap dan badan pesawat harus didesain ulang dan diperbesar. Pada bulan November 1952, ketika kesulitan dengan mesin J40 menjadi jelas, McDonnell telah melontarkan ide untuk memasang mesin turbojet Allison J71 (mesin yang juga digunakan di pembom Douglas B-66 Destroyer) ke Demon sebagai pengganti mesin WestinghouseJ40. Angkatan Laut ragu-ragu, karena telah menetapkan J40 sebagai mesin masa depan – tetapi sedikit asuransi rasanya tidak ada salahnya, sehingga BuAer mengizinkan penelitian Demon bertenaga J71, yang kemudian diberi nama “F3H-2N”. Sebuah maket diperiksa pada bulan Agustus 1953; dan pada bulan November 1953, BuAer memodifikasi kontrak F3H-1N untuk menetapkan bahwa dua dari F3H-1N akan dilengkapi dengan mesin J71. Mesin baru ini sangat meningkatkan kinerja pesawat dan pada tahun 1956 Demon F3H-2N sepenuhnya memenuhi syarat sebagai pesawat tempur garis depan untuk Angkatan Laut AS. Meski demikian, dalam dinas operasional, J71 terbukti bermasalah, karena memberikan daya dorong yang tidak cukup untuk pesawat seukuran Demon. Mesin ini juga sering mengalami flame out dan matinya kompresor. Sementara itu Demon juga akan dikonfigurasi ulang sebagai pesawat tempur multirole untuk segala cuaca, dengan perubahan utama pada sayap yang bertambah luas sebesar 17%. Setelah proses desain selesai, Demon memiliki penampilan yang serba modern dengan ujung hidungnya yang runcing, dan permukaan sayap yang menyayung ke belakang dengan indah. Sayap utama pesawat dipasang rendah di sepanjang sisi badan pesawat dan menampilkan ujung bulat. Bagian ekor dinaikkan untuk memungkinkan lubang pembuangan mesin jet ada di bawahnya. Ekornya terdiri dari sirip vertikal tunggal dan bidang horizontal yang dipasang rendah. Mesin pesawat tersimpan di bagian tengah badan pesawat, yang mendapat suplai udara melalui dua celah asupan yang ditemukan di kedua sisi kokpit. Pilot memiliki pandangan yang bagus ke depan, dimana penglihatannya sebagian besar tidak terhalang ke arah depan dan ke samping. Roda format tricycle dipasang dengan kaki hidung yang panjang membuat pesawat terlihat “mendongak ke atas” saat dalam keadaan diam. Sayap utama pesawat memiliki engsel yang memungkinkan untuk dilipat saat ditempatkan di atas kapal induk yang kekurangan ruang.

Prototype F3H-1N pertama pada tahun 1954. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Penggantian mesin J71 pada F3H-2 Demon di tahun 1963. Dalam dinas operasional, J71 terbukti bermasalah, karena memberikan daya dorong yang tidak cukup untuk pesawat seukuran Demon. Mesin ini juga sering mengalami flame out dan matinya kompresor. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Prototipe awal F3H-2N melakukan penerbangan pertamanya pada tanggal 23 April 1955. Pada saat itu, Angkatan Laut telah memodifikasi kontrak F3H-1N untuk menentukan produksi F3H-2N, dengan pesanan yang pertama dari 140 pesawat produksi melakukan penerbangan perdana pada tanggal 23 April 1955. F3H-2N secara eksternal sangat mirip dengan F3H-1N – selain memiliki sayap yang lebih besar – menjadi pesawat tempur bermesin tunggal dengan intake yang dipasang di samping, bersayap menyayung yang dipasang rendah, serta dipersenjatai dengan empat kanon kaliber 20 milimeter. Setiap sayap memiliki leading-edge slats dengan bentang penuh, sebuah flap inboard besar, aileron inboard, dan wing fence sekitar tiga perempat bagian dari bentang sayap. Sayap luar bisa dilipat secara hidrolik untuk penyimpanan di dek kapal induk. Sayap ekor pesawat ini memiliki konfigurasi “all moving“; dimana terdapat rem udara yang digerakkan secara hidraulik di kedua sisi badan pesawat belakang, tepat di belakang sayap. 

F3H Demon dengan sayap terlipat untuk mempermudah penyimpanan diatas dek kapal induk yang sempit. (Sumber: https://www.businessinsider.com/)

F3H-2N ditenagai oleh mesin turbojet Allison J71-A-2 dengan daya dorong kering 44,5 kN (4.535 kgp / 10.000 lbf) dan daya dorong afterburning 64,1 kN (6.530 kgp / 14.400 lbf); dalam dinas operasionalnya, F3H-2N akan diupgrade ke mesin J71-A-2A atau J71-A-2B, dengan daya dorong yang sama namun dengan berbagai peningkatan teknis. Persenjataan empat kanon kaliber 20 milimeter F3H-1N tetap dipertahankan, tetapi radar AN/APG-51 yang lebih mumpuni dipasang (memiliki jangkauan hingga 46 km). Radar ini memungkinkan Demon memiliki kemampuan intersepsi segala cuaca. Demon sendiri bukanlah pesawat pencegat segala cuaca pertama Angkatan Laut yang dilengkapi dengan radar (perangkat radar intersepsi udara AN/APG-51 telah digunakan pertama kali pada F2H-4 Banshee). F3H-2 Demon awalnya memakai radar AN/APG-51A, kemudian ditingkatkan ke versi 51-B dengan sebuah tunable magnetron, lalu beralih ke versi 51-C dengan kemampuan counter-measures yang lebih baik di receiver-nya. Dua pylon dipasang di bawah setiap sayap, dengan total empat, dan dua tangki bahan bakar eksternal dengan kapasitas 993 liter (262 galon AS) masing-masing dapat dibawa berdampingan di bawah badan pesawat – meskipun biasanya hanya satu yang dibawa, karena dua tangki menghasilkan efek turbulensi. Banyak F3H-2N yang kemudian dikonfigurasi untuk membawa hingga empat rudal udara-ke-udara (AAM) AAM-N-7 (kemudian AIM-9B) Sidewinder di pylon sayap. Demon yang beroperasi juga akan dilengkapi dengan probe yang dapat ditarik di sisi kanan hidung untuk pengisian bahan bakar di udara. Versi “pembawa rudal”, “F3H-2M”, dibuat paralel dengan F3H-2N. F3H-2M dapat membawa empat rudal AAM-N-2 Sparrow I AAM, satu di setiap pylon sayap, dan dilengkapi dengan radar AN/APG-51B untuk mengarahkan rudal AAM ini. Sparrow I adalah “beam rider“, yang dipandu sinar radar menuju ke sasaran. Penerbangan awal F3H-2M dilakukan pada tanggal 23 Agustus 1955, dan 80 unit sempat dibangun. F3H-2N dan F3H-2M menghasilkan varian “F3H-2” definitif, yang dapat membawa rudal AAM-N-7 (kemudian AIM-7C) Sparrow III yang jauh lebih baik. Sparrow III adalah AAM berpanduan “semi-active radar homing“, yang berarti bahwa alih-alih hanya mengikuti pancaran radar, pesawat ini mengikuti pantulan radar dari target, untuk memastikan akurasi yang jauh lebih besar. F2H-2 dilengkapi dengan perangkat radar AN/APG-51B untuk mengendalikan rudal Sparrow III; sementara rudal Sidewinder AAM masih bisa dibawa juga. Pesawat yang dikerahkan di kapal induk biasanya membawa kedua jenis rudal, Sparrow di rel bagian dalam dan Sidewinder di sisi luar. Kanon tidak digunakan dalam misi pertahanan udara kapal induk, tetapi dipasang dan dipersenjatai dalam situasi tertentu (seperti Krisis Rudal Kuba), dan di mana pesawat dapat dikerahkan untuk menyerang target permukaan. F3H-2 juga menampilkan kursi lontar Martin-Baker Mark 4 Inggris; kursi lontar yang sudah dipasang pada Demon versi awal, mungkin karena desain asli dari McDonnell, telah terbukti sangat tidak dapat diandalkan. Tidak jelas kapan kursi Martin-Baker diperkenalkan dalam varian produksi Demon; dimana kursi itu mungkin bukan fitur baru di F3H-2.

Kemampuan deteksi radar AN/APG-51, yang dipasang pada F3H Demon. (Sumber: https://wiki.warthunder.com/)
Sebuah F3H-2 dengan rudal Sparrow. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

F3H-2 kemudian ditingkatkan untuk peran serang, dengan enam pylon dibawah sayap, bukannya empat. Pesawat ini bisa membawa beban bom atau roket hingga 2.720 kilogram (6.000 pon), dan juga bisa membawa senjata nuklir taktis. Selain pylon tambahan, satu-satunya perbedaan eksternal F3H-2 dari F3H-2N dan F3H-2M adalah kerucut ekor yang sedikit lebih pendek. Sebanyak 239 F3H-2 dibuat, yang terakhir dikirim pada bulan April 1960. Beberapa F3H-2N diperbarui untuk membawa rudal Sparrow III dan didesain ulang menjadi “F3H-2N/2”. Anehnya, tidak ada F3H-2M yang diperbarui untuk menggotong Sparrow III. Varian pengintai “F3H-2P” diusulkan, tetapi tidak pernah dibuat. Sebuah “F3H-3” dengan mesin General Electric J73-GE-3, dengan daya dorong kering 40,9 kN (4.170 kgp / 9.200 lbf) dan daya dorong afterburning 57,4 kN (5.850 kgp / 12.900 lbf), telah dipesan, tetapi pada akhirnya pesawat ini dikirim sebagai varian F3H-2. Demon akhirnya memasuki dinas Angkatan Laut pada awal 1956, dan melakukan penugasan armada pertamanya pada awal tahun 1957. Pada akhirnya, total 22 skuadron Angkatan Laut akan menerbangkan Demon, tidak termasuk unit pelatihan dan evaluasi. Pilot menyukai Demon, menikmati karakteristik penanganannya yang mudah dikendalikan, tetapi daya tahannya tergolong kecil, dan dianggap kurang bertenaga; sehingga dua kanon sering dilepas untuk mengurangi bobot, dengan port kanon ditutup. Demon yang kemampuannya ditingkatkan, bagaimanapun, tidak dapat lepas dari keterbatasan kinerjanya, termasuk kurangnya tenaga dibandingkan dengan pesawat-pesawat Angkatan Laut sezaman, dan konsumsi bahan bakar yang tinggi yang membatasi jangkauan dan membutuhkan penggunaan afterburner yang lebih hemat. Pengoperasian pesawat ini relatif singkat, karena desain pesawat tempur berkembang pesat pada saat itu, dan masalah Demon dengan mesin J40 telah menunda pengenalannya. Pada awal 1960-an, Demon digantikan oleh tipe pesawat yang lebih canggih. Demon secara resmi keluar dari dinas operasional armada pada akhir tahun 1964, meskipun beberapa akan digunakan dalam uji coba dan sejenisnya selama beberapa tahun setelah itu. Pada saat pensiun, penamaannya telah diubah, dengan penerapan skema penamaan “tri-layanan” pada tahun 1962, sebagai berikut:

  • F3H-2N: F-3C
  • F3H-2N: MF-3B
  • F3H-2: F-3B

VARIAN

XF3H-1: Prototipe pesawat tempur pencegat di cuaca cerah dengan satu kursi, yang didukung oleh mesin Westinghouse XJ40-WE-6 berkekuatan 6.500 lbf (29 kN) (9.200 lbf (41 kN) dengan afterburner). Dua buah sempat dibangun.

F3H-1N: Versi produksi awal. Versi pesawat tempur segala cuaca dengan satu kursi, ditenagai oleh mesin J40-WE-22 berkekuatan 7.200 lbf (32 kN) (10.900 lbf (48 kN) dengan afterburner). 58 pesawat telah dibuat.

F3H-1P: Versi pengintai yang diusulkan dari F3H-1. Varian ini tidak pernah dibangun.

F3H-2N: Pesawat tempur segala cuaca yang ditenagai oleh mesin Allison J71-A-2 berkekuatan 9.500 lbf (42 kN) (14.250 lbf (63,4 kN) dan dilengkapi dengan rudal udara-ke-udara AIM-9 Sidewinder. Dibangun sebanyak 239 unit. Dinamai ulang menjadi F-3C pada tahun 1962.

Sebuah McDonnell F3H-2N Demon Angkatan Laut AS (BuNo 136981) dari Fighter Squadron 124 (VF-124) “Moonshiners” dalam penerbangan. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

F3H-2M: Turunan dari F3H-2N yang dipersenjatai dengan empat rudal udara-ke-udara AIM-7 Sparrow. Dibangun sebanyak 80 unit. Dinamai ulang menjadi MF-3B pada tahun 1962. F3H-2M Demon, yang pertama kali diterbangkan pada tahun 1955, adalah pesawat tempur AS pertama yang dirancang untuk dipersenjatai terutama dengan rudal daripada kanon. 

F3H-2M yang dipersenjatai dengan rudal Sparrow. (Sumber: https://www.flickr.com/)

F3H-2: Versi pesawat tempur serang dengan satu kursi, dengan tetap mempertahankan kemampuan membawa rudal Sidewinder dan Sparrow dari varian 2M/N dan menambahkan beban membawa bom atau roket seberat 6.000 lb (2.730 kg). 239 sempat dibangun. Dinamai ulang menjadi F-3B pada tahun 1962.

F3H-2P: Versi pengintaian fotografis yang diusulkan dari versi 2. Varian ini tidak pernah dibangun.

F3H-3: Versi yang diusulkan dengan mesin General Electric J73. Varian ini tidak pernah dibangun.

PERSENJATAAN

Rudal AIM-9 Sidewinder

AIM-9 Sidewinder (AIM/Air Intercept Missile) adalah rudal udara-ke-udara jarak pendek yang mulai beroperasi dengan Angkatan Laut AS pada tahun 1956 dan kemudian diadopsi oleh Angkatan Udara AS pada tahun 1964. Sejak itu Sidewinder telah terbukti sukses besar dan bertahan lama, dimana varian terbarunya masih menjadi perlengkapan standar di sebagian besar angkatan udara di dunia. AIM-9A/B menggunakan hulu ledak fragmentasi berbobot 4,5 kg (10 lb), yang dipicu oleh IR proximityatau sumbu kontak, dan memiliki radius efektif sekitar 9 m (30 kaki). Pelacak panas dari rudal versi awal ini memiliki sudut bidikan 4° dan tingkat pelacakan 11°/dtk, dan rudal itu sendiri dapat berbelok pada kekuatan hingga 12G. Propulsi rudal disediakan oleh motor roket berbahan bakar padat ThiokolMK 17 (17,8 kN (4000 lb) dengan daya dorong selama 2,2 detik, yang dapat mendorong rudal hingga kecepatan Mach 1,7 di atas kecepatan peluncurannya. Karena keterbatasan pada perangkat pelacaknya, AIM-9A/B hanya dapat digunakan untuk target non-manuver(!) tail-on (menyasar ekor) pada jarak antara 900 m (3000 kaki) sampai 4,8 km (2,6 nm). Rudal itu juga sangat rentan terhadap sumber panas lainnya (contohnya dari matahari, dan pantulan tanah).

Rudal AIM-9B Sidewinder. (Sumber: https://wiki.warthunder.com/)

AIM-7 Sparrow

AIM-7 Sparrow (Air Intercept Missile) adalah rudal udara-ke-udara jarak menengah semi-aktif buatan Amerika Serikat yang dioperasikan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat, Angkatan Laut Amerika Serikat, dan Korps Marinir Amerika Serikat, serta berbagai angkatan udara dan angkatan laut lainnya. Sparrow dan turunannya adalah rudal udara-ke-udara di luar jangkauan visual (BVR) utama negara-negara Barat dari akhir tahun 1950-an hingga 1990-an. Sparrow versi awal dimaksudkan terutama untuk digunakan melawan target yang lebih besar, terutama pembom dan memiliki banyak batasan operasional dalam penggunaan lain. Terhadap target yang lebih kecil, kebutuhan untuk bisa menerima sinyal radar pantulan yang kuat membuat pencapaian penguncian pada jangkauan efektif rudal menjadi sulit. Karena radar pesawat peluncur sendiri perlu diarahkan ke target selama pertempuran, ini berarti bahwa dalam pertempuran antar pesawat tempur, pesawat tempur musuh sering kali mendekati dalam jangkauan rudal pelacak inframerah jarak pendek sementara pesawat peluncur harus terus terbang menuju sasarannya. Selain itu, model awal hanya efektif melawan target pada ketinggian yang kira-kira sama atau lebih tinggi, di bawahnya saat target terbang menyusur tanah akan menjadi masalah. Setelah siklus pengembangan yang berlarut-larut, AAM-N-2 Sparrow awal memasuki dinas operasional terbatas pada tahun 1954 dengan pesawat tempur malam segala cuaca Douglas F3D Skyknight yang dimodifikasi secara khusus.

Rudal AIM-7C Sparrow III. (Sumber: https://wiki.warthunder.com/)

Pada tahun 1956, Sparrow turut digunakan oleh pesawat tempur McDonnell F3H-2M Demon dan Vought F7U Cutlass. Dibandingkan dengan versi modern, Sparrow I ini lebih ramping dan menampilkan badan berbentuk peluru dengan hidung runcing yang panjang. Sparrow memiliki empat bagian utama: bagian pemandu, hulu ledak, kontrol, dan motor roket. Rudal ini memiliki badan silinder dengan empat sayap di tengah tubuh dan empat sirip ekor. Meskipun dimensi eksternal Sparrow relatif tidak berubah dari model ke model, komponen internal rudal yang lebih baru menunjukkan peningkatan besar, dengan kemampuan yang jauh lebih tinggi. Hulu ledak yang dipakai adalah tipe rod continue dengan bobot 20 kg (45 lb). Seperti rudal berpemandu radar semi-aktif lainnya, rudal tersebut tidak menghasilkan sinyal radar, melainkan menampung sinyal gelombang kontinu yang dipantulkan dari radar platform peluncuran. Penerima juga bisa merasakan radar pesawat pemandu untuk mengaktifkan perangkat perbandingan yang meningkatkan ketahanan rudal terhadap gangguan pasif. Rudal ini memiliki panjang 3.74 m (147.3 in), lebar sirip 0.94 m (37 in), diameter 0.203 m (8 in), dan bobot 143 kg (315 lb). Kecepatan terbang maksimalnya adalah Mach 2.5, sementara jangkauan tembaknya adalah 10 km (5.4 nm). 

Bom konvensional Mark 82

Mark 82 (Mk 82) adalah bom serba guna tanpa pemandu, dengan drag rendah, dan merupakan bagian dari bom seri Mark 80 asal Amerika Serikat. Bahan peledak yang digunakan biasanya adalah tritonal, meskipun komposisi lain kadang-kadang juga digunakan. Dengan berat nominal 500 lb (227 kg), bom ini adalah salah satu yang terkecil dalam dinas operasional saat ini, dan salah satu senjata yang dijatuhkan dari udara, yang paling umum dipakai di dunia. Meskipun berat nominalnya Mk 82 adalah 500 lb (227 kg), berat sebenarnya bervariasi tergantung pada konfigurasinya, dari 510 lb (232 kg) hingga 570 lb (259 kg). Bom dari selubung baja ramping ini mengandung 192 lb (89 kg) bahan peledak tinggi Tritonal. Mk 82 ditawarkan dengan berbagai kit sirip, fuze, dan retarder untuk tujuan yang berbeda-beda. Bom Mk 82 telah digunakan oleh militer AS dan berbagai negara lain sejak tahun 1950-an, serta digunakan secara luas di Asia Tenggara selama perang Vietnam.

Bom konvensional Mark 82. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Kanon Colt Mk 12

Colt Mk 12 adalah kanon otomatis kaliber 20 mm yang banyak digunakan oleh Angkatan Laut Amerika Serikat setelah Perang Dunia II. Mk 12 adalah turunan lanjutan dari kanon Hispano HS 404 masa perang yang digunakan di Prancis, Inggris, dan beberapa pesawat tempur Amerika selama Perang Dunia II. Mk 12 menggunakan proyektil yang lebih ringan dengan peledak yang lebih besar untuk kecepatan muzzle velocity yang lebih baik dan laju penembakan yang lebih tinggi dengan mengorbankan daya hantam. Memasuki dinas operasional Angkatan Laut AS dan Korps Marinir AS pada pertengahan tahun 1950-an, menggantikan kanon M3. Dalam dinas operasional, Mk 12 terbukti kurang memuaskan. Meskipun muzzle velocity dan laju tembakannya dapat diterima, kanon itu tidak akurat dan seringkali tidak dapat diandalkan. Pilot-pilot F-8 Crusader di Vietnam Utara, khususnya, menghargai kehadiran kanon tersebut, tetapi masalah kemacetan dan kerap tiba-tiba berhenti menembak sering terjadi, terutama setelah melakukan manuver dogfighting yang keras. Namun demikian, Mk 12 adalah persenjataan kanon standar pada pesawat tempur angkatan laut Amerika yang dibekali kanon dan dipakai dari awal tahun 1950-an hingga awal tahun 1970-an, termasuk oleh pesawat tempur F4D Skyray, F3H Demon, A-4 Skyhawk, F-8 Crusader, F-11 Tiger dan versi angkatan laut awal dari LTV A-7 Corsair II. Mk 12 memiliki bobot 46,0 kg (101,4 pon) dan menembakkan peluru 20×110mm Kaliber 20 mm (0,787 inci) USN. Pemuatan ulang peluru dioperasikan dengan tenaga gas. Kanon ini memiliki kecepatan tembak 1.000 peluru per menit dan muzzle velocity 1.010 m/dtk (3.300 kaki/dtk). Jarak efektif tembakannya tidak melebihi 1000-1200 meter.

Kanon Colt Mk 12 kaliber 20 mm. (Sumber: https://m.blog.naver.com/)

CATATAN PENGOPERASIAN

Dengan pecahnya Perang Korea di awal 1950-an dan pertemuan pertama pilot-pilot Angkatan Laut Amerika (US Navy/USN) dengan jet tempur MiG-15 Soviet, Angkatan Laut menyadari bahwa mereka kekurangan pesawat yang dapat menandingi kinerja pesawat MiG. Akibatnya, F3H buru-buru dipesan untuk diproduksi bahkan sebelum penerbangan uji pertama diadakan. Faktanya, F3H akan melakukan penerbangan perdananya pada bulan Agustus 1951, tetapi akan memakan waktu beberapa tahun lagi sampai pesawat tersebut layak untuk digunakan, saat itu Perang Korea telah berakhir. F3H Demon memasuki dinas operasional dengan USN pada bulan Maret 1956, saat itu telah mendapatkan reputasi yang tidak menyenangkan, terutama karena masalah terkait mesin turbojet Westinghouse J40 yang kurang bertenaga dan tidak dapat diandalkan. Akibatnya, seperti yang sudah disinggung diatas, pesawat harus didesain ulang untuk menerima mesin alternatif yang lebih andal – yaitu mesin Allison J71. Karena berbagai masalahnya, F3H memiliki masa pakai yang relatif singkat dengan USN, dengan dinonaktifkan pada tahun 1964. Demon telah ditarik dari dinas operasional sebelum bisa bertugas di Perang Vietnam; baik Demon dan Crusader diganti di kapal induk kelas Forrestal dan supercarrier serupa oleh jet tempur McDonnell Douglas F-4 Phantom II. Phantom McDonnell (yang merupakan pengembangan dari desain “Super Demon” yang diusulkan, yakni versi F3H yang lebih besar dan jauh lebih berat) sama-sama mampu digunakan melawan target darat, sembari menjalankan fungsi sebagai pesawat tempur, dan pembom, memiliki kemiripan yang kuat, karena dianggap sebagai pengembangan lanjutan dari Demon. Meski F-101 Voodoo Angkatan Udara Amerika Serikat berkecepatan supersonik serupa dalam hal tata letak, tetapi pesawat ini berasal dari XF-88 Voodoo sebelumnya, yang juga memengaruhi tata letak dari Demon. 

F-3B dari Skuadron VF-13 pada tahun 1963. Dalam dinas operasional, Demon relatif bekerja dengan andal dan mendapat pujian dari pilotnya karena karakteristik terbangnya yang stabil di ketinggian serta selama operasi di kapal induk, dengan relatif mudah lepas landas dan mendarat dari geladak kapal induk. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Ilustrasi F3H Demon mencoba mendarat di kapal induk USS Roosevelt. (Sumber: https://hansenfineart.co.uk/)
F3H-2N Demon dalam penerbangan pada tahun 1956. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Demon tidak pernah mencetak kemenangan udara dengan rudal atau terlibat dalam pertempuran udara. Pada tahun 1958, terbang siang dan malam, pesawat-pesawat Demon memberikan pertahanan segala cuaca bagi armada Angkatan Laut Amerika selama krisis di Pulau Quemoy (Taiwan) dekat China di Timur Jauh dan Lebanon di Mediterania. Skuadron terakhir yang dilengkapi Demon, VF-161 ‘Chargers‘, menukar F-3 mereka dengan F-4 Phantom II pada bulan September 1964. Karena visibilitasnya yang sangat baik dari kokpit, Demon mendapat julukan “Chair“. Pilot Demon dalam bahasa sehari-hari dikenal sebagai “Pengemudi Setan” dan mereka yang bekerja dengan pesawat itu dikenal sebagai “Dokter Setan”. Rasio power-to-weight yang tidak menguntungkan kemudian memunculkan julukan yang kurang bagus yakni “lead sled“, terkadang disingkat menjadi “sled (kereta luncur)”. Dalam dinas operasional, Demon relatif bekerja dengan andal dan mendapat pujian dari pilotnya karena karakteristik terbangnya yang stabil di ketinggian serta selama operasi di kapal induk, dengan relatif mudah lepas landas dan mendarat dari geladak kapal induk. Pesawat itu juga merupakan pesawat tempur angkatan laut pertama yang dilengkapi dengan radar, yang memberikannya beberapa kemampuan tempur malam. Terlepas dari kemampuan pesawat ini yang bagus, Demon masih dibatasi oleh masalah mendasar dengan kinerjanya. Mesin J71, meski bertenaga, tidak memberikan performa yang memadai bagi Demon. Akibatnya, pesawat itu terbatas pada kecepatan subsonik, dan memiliki akselerasi yang lebih rendah daripada banyak pesawat rival Angkatan Udaranya. Demon tidak pernah bertugas dengan kekuatan udara negara lain mana pun, dan tidak pernah melepaskan tembakan saat pertempuran. Beberapa masih bisa bertahan dalam tampilan statis, namun tidak ada yang ada dalam status masih layak terbang. Diterima oleh Angkatan Laut pada 24 Mei 1957, F3H-2M untuk National Naval Aviation Museum (Dengan Nomor 137078) menghabiskan lebih dari dua tahun dalam dinas operasional dan selama bertahun-tahun dipamerkan di Naval Air Station (NAS) Cecil Field, Florida. Pesawat ini kembali ke Pensacola pada tahun 1999 setelah keputusan untuk menutup Cecil Field, dan ditampilkan dalam tanda-tanda Fighter Squadron (VF) 193. Pesawat museum ini adalah satu dari hanya tiga Demon yang masih tersisa.

Pilot Demon dalam bahasa sehari-hari dikenal sebagai “Pengemudi Setan” dan mereka yang bekerja dengan pesawat itu dikenal sebagai “Dokter Setan”. Rasio power-to-weight yang tidak menguntungkan kemudian memunculkan julukan yang kurang bagus yakni “lead sled“, terkadang disingkat menjadi “sled (kereta luncur)”. (Sumber: https://www.ebay.co.uk/)
F3H Demon mengisi bahan bakar di udara dengan bantuan pesawat tanker Skyraider. (Sumber: https://avgeekery.com/)
Upacara dipensiunkannya F3B Demon. Demon telah ditarik dari dinas operasional sebelum bisa bertugas di Perang Vietnam; baik Demon dan Crusader diganti di kapal induk kelas Forrestal dan supercarrier serupa oleh jet tempur McDonnell Douglas F-4 Phantom II. (Sumber: https://avgeekery.com/)

KARAKTERISTIK UMUM

  • Kru: 1
  • Panjang: 59 ft (18 m)
  • Lebar sayap: 35 ft 4 in (10.77 m)
  • Tinggi: 14 ft 7 in (4.45 m)
  • Luas area sayap: 519 sq ft (48.2 m2)
  • Bobot kosong: 21,133 lb (9,586 kg)
  • Bobot kotor: 33,900 lb (15,377 kg)
  • Mesin: 1 × mesin turbojet afterburning Allison J71-A-2E, dengan daya dorong kering 9.700 lbf (43 kN), dan 14.750 lbf (65,6 kN) dengan afterburner

Performa

  • Kecepatan Maximum: 716 mph (1,152 km/h, 622 kn) at sea level

647 mph (562 kn; 1,041 km/h) di ketinggian 30,000 ft (9,144 m)

  • Jangkauan: 1,370 mi (2,200 km, 1,190 nmi)
  • Daya tahan: 3 jam di radius 575 mi (500 nmi; 925 km)
  • Ketinggian jelajah: 35,050 ft (10,680 m)
  • Kecepatan menanjak: 12,795 ft/min (65.00 m/s)

Persenjataan

  • Kanon: 4x Kanon Colt Mk 12 20 mm (0,787 in) dengan 150 peluru per senjata
  • Rudal: 4x rudal AIM-7 Sparrow atau 4x AIM-9 Sidewinder
  • Bom: bom seberat 6,000 lb (2,700 kg)

Perangkat Avionik

  • Radar AN/APG-51A, B, dan C

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

[1.0] Phantom Origins v2.0.0 / chapter 1 of 4 / 01 jan 22 / by greg goebel

http://www.airvectors.net/avf4_1.html

https://en.m.wikipedia.org/wiki/McDonnell_F3H_Demon

McDonnell F3H Demon Carrierborne Fighter / Interceptor / Fighter-Bomber [ 1956 ]

https://www.militaryfactory.com/aircraft/detail.php?aircraft_id=364

F3H-2

https://wiki.warthunder.com/F3H-2

National Naval Aviation Museum

https://www.history.navy.mil/content/history/museums/nnam/explore/collections/aircraft/f/f3h-demon.html

F3H Demon / F-3 Demon

https://www.globalsecurity.org/military/systems/aircraft/f-3.htm

A-7 Corsair II, Hikayat Pesawat “Gondok” Yang Disegani Kawan Dan Lawan

https://en.m.wikipedia.org/wiki/AIM-7_Sparrow

MK 82 AIRCRAFT BOMB

http://characterisationexplosiveweapons.org/studies/annex-e-mk82-aircraft-bombs/

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Colt_Mk_12_cannon

DISCONTINUED Aires 4181 Colt Mk.12 20mm cannons

https://www.super-hobby.com/products/Colt-12-20-mm-cannon.html#:~:text=The%20effective%20range%20of%20the,Navy%20and%20Marine%20Corps%20aircraft.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *