Oktober 1973: Pertempuran di Lembah Air Mata & Perebutan Dataran Tinggi Golan

Pada tanggal 6 Oktober 1973, Suriah dan Mesir melancarkan serangan secara simultan terhadap Israel. Serangan ini memantik terjadinya perang besar yang dikenal dengan berbagai nama seperti Perang Yom Kippur, Perang Oktober, dan Perang Ramadhan. Tujuannya adalah untuk merebut kembali wilayah yang hilang selama Perang Enam Hari 1967 dan, jika berhasil, maju terus untuk mengalahkan dan menghancurkan Negara Yahudi. Salah satu episode dramatis yang terjadi selama perang adalah pertempuran tank paling tidak berimbang dalam sejarah, yakni pertempuran yang dikenal sebagai: pertempuran Lembah Air Mata di Dataran Tinggi Golan.

The Valley of Tears (Emek Habaha), viewed from the Oz 77 memorial area (Shmuel Bar-Am)

Mesir dan Suriah, serta Yordania, telah mengerahkan pasukan mereka dan mengancam akan menyerang Israel pada tahun 1967. Namun, sebagai tanggapan, Israel melancarkan serangan pendahuluan terhadap ketiga musuhnya itu, mendesak mereka kembali dan dengan cepat mengambil alih Semenanjung Sinai, Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Dataran Tinggi Golan.

Wilayah Israel setelah Perang 6 Hari tahun 1967

Meskipun sudah ada beberapa tanda peringatan pada tahun 1973, karena satu dan lain hal, serangan itu tetap mengejutkan Israel. 6 Oktober adalah hari paling suci di tahun penanggalan Yahudi, Yom Kippur, hari Penebusan, dan orang-orang Yahudi di seluruh negeri telah mulaia berpuasa dan berdoa sejak subuh. Pada momen ini Kekuatan Pertahanan Israel (Israel Defense Force/IDF) berada jauh di bawah kekuatan normalnya. Pecahnya perang memaksa para pria dan wanita Israel keluar dari rumah dan Synagogue mereka, mengenakan seragam tempur menghadapi musuh yang besar dan kuat.

Pertahanan Israel di Dataran Tinggi Golan

Pertempuran Front Utara dalam Perang tahun 1973 pada intinya adalah perebutan wilayah penting di dataran tinggi Golan. Dalam Perang Enam Hari Juni 1967, Israel telah merebut Dataran Tinggi Golan, yang pada waktu itu telah diubah Suriah menjadi satu jaringan besar bunker dan posisi artileri. Selama bertahun-tahun, artileri Suriah, sering menembak secara acak dan bahkan tanpa provokasi menembaki nelayan Israel yang sedang melakukan aktivitas perdagangan mereka di Laut Galilea atau pada petani Israel di Lembah Hula yang ada di bawah Golan. Dalam pertempuran yang banyak memakan korban, Israel merebut Golan dalam perang 6 hari. Hilangnya Dataran Tinggi Golan pada tahun 1967, bagaimanapun, telah mempermalukan Suriah.

Serangan gabungan Israel di dataran tinggi Golan 1967

Dataran Tinggi Golan terdiri dari dataran tinggi batuan vulkanis seluas 480 mil persegi yang bertengger di atas Lembah Hula di barat dan Lembah Jordan di selatan. Dataran ini memiliki ketinggian sekitar 600 kaki di selatan dan 3.000 kaki di utara, dengan tebing curam yang mendominasi lembah di barat dan selatan. Di dalamnya terdapat beberapa daerah dengan ngarai yang tidak bisa dilewati, membatasi jumlah rute yang mengarah dari lembah ke ketinggian. Karena kondisi geografi yang membatasi mobilitas pertahanan, Israel terus bergerak maju melawan orang-orang Suriah pada tahun 1967 hingga mereka mencapai garis yang dapat dipertahankan dengan baik – sebuah bekas gunung berapi yang sudah tidak aktif yang memiliki posisi strategis mengawasi Damaskus di satu sisi dan wilayah Israel utara di sisi lainnya.

Pertahanan Israel di wilayah ini bertumpu pada 17 pos pengamatan yang diperkuat. Purple Line, sebagaimana garis gencatan senjata tahun 1967 ini dikenal, menandai batas akhir dari tanah tak bertuan yang memisahkan Suriah dengan Golan. Karena tidak memiliki penghalang pertahanan yang sesungguhnya, Israel menggali menggali parit anti-tank sepanjang 20 mil di sepanjang perbatasan dari Gunung Hermon ke Rafid, sebuah penghalang dimana armada lapis baja Syria akan dipaksa untuk melintasinya dibawah tembakan tank-tank Israel yang ditempatkan di belakang garis pertahanan.

Posisi kekuatan militer Israel vs Syria cs di Dataran Tinggi Golan jelang pecahnya Perang Yom Kippur 1973.

Saat pecahnya perang pada tahun 1973, Dataran Tinggi Golan dipertahankan oleh dua brigade lapis baja: Brigade Lapis Baja ke-7, yang baru saja dikirim ke sektor utara pada tanggal 4 Oktober, dan Brigade ke-188 (Barak), satuan reguler yang sudah akrab dengan daerah itu, ditempatkan di sebelah selatan. Keduanya dilengkapi dengan tank Centurion yang telah dimodifikasi dan tank M-48 Patton yang dilengkapi dengan meriam standar NATO kaliber 105mm dan mesin diesel modern.

Tank Centurion andalan Korps Lapis Baja Israel sejak Perang 6 Hari 1967.
Tank M48 menjadi pelengkap armada Tank Centurion di dataran tinggi Golan jelang pecahnya Perang Yom Kippur 1973

Kekuatan Syria

Sebelum perang pecah, intelijen Israel memprediksi saat konflik dengan Suriah terjadi, 170 tank dan 70 artileri yang disiagakan di Golan akan cukup untuk menghadapi setiap ancaman Suriah, setidaknya sampai pasukan cadangan tiba memperkuat front. Para petinggi militer Israel nampaknya masih terbuai dengan kemenangan mereka di tahun 1967. Mereka tidak menilai tinggi performa pasukan Syria hingga saat itu.

T-62, Tank terbaru buatan Soviet yang dijual ke klien Arabnya. Dengan perangkat penglihatan malam inframerah, T-62 punya keunggulan teknologi dalam pertempuran malam dibanding armada Tank Centurion dan M48 IDF.
Selain T-62, pasukan lapis baja Suriah juga masih diperkuat dengan ratusan tank T-54 dan T-55 yang lebih tua.
Satuan mekanis Suriah juga didukung dengan kendaraan angkut pasukan BTR-50.
BMP-1 milik pasukan Suriah membuka debutnya pada perang Yom Kippur.

Terhadap pasukan yang relatif kecil itu, pasukan Suriah mengerahkan lima divisi dalam serangannya: dua divisi lapis baja dan tiga divisi infanteri mekanik, yang diperkuat oleh sekitar 1.400 tank. Sekitar 400 dari tank itu adalah T-62, tank blok Soviet paling modern yang dijual ke negara2 Arab pada saat itu, tank ini dilengkapi dengan meriam smoothbore kaliber 115mm dan punya kemampuan pertempuran malam dengan perangkat inframerah. Sisanya adalah tank T-54 dan T-55 yang dipersenjatai dengan meriam 100mm. Dalam rencananya, Suriah akan mengerahkan divisi infanteri mekanik ke-5, ke-7 dan ke-9, yang dilengkapi dengan kendaraan pengangkut personel lapis baja BTR-50 dan BMP-1 (APC) yang didukung oleh 900 tank, untuk menembus garis pertahanan Israel, untuk membuka jalan bagi divisi lapis baja 1 dan 3 bergerak bersama 500 tank mereka untuk merebut seluruh Dataran Tinggi Golan sebelum Israel memiliki kesempatan untuk memobilisasi pasukannya.

Penggunaan luas rudal antitank portable AT-3 Sagger menjadi ‘surprise’ yang tidak menyenangkan bagi armada lapis baja IDF dalam Perang Yom Kippur.

Sementara itu prajurit infanteri mereka membawa juga rudal anti-tank andalan seperti AT-3 Sagger yang hingga saat itu tidak diketahui oleh Israel telah digunakan secara luas oleh Angkatan Bersenjata negara2 Arab. Persenjataan Suriah yang unggul itu kemudian terbukti memiliki efek yang menghancurkan pada tank-tank Israel.

Serangan awal Syria

Pukul 2 malam pada tanggal 6 Oktober, artileri Suriah membuka rentetan tembakan yang luar biasa di seluruh front sebagai awal dari serangan dua cabang mereka – serangan utara di sekitar jalan Kuneitra-Damaskus dan satu lagi di selatan di mana wilayah Rafid yang menonjol ke wilayah Suriah berada. Serangan awal pihak Suriah dipimpin oleh tank pembersihan ranjau dan peletak jembatan yang digunakan untuk membersihkan ranjau dan menyeberangi parit pertahanan Israel.

Serbuan pasukan lapis baja Suriah di Front Golan dipimpin oleh armada tank pembersih ranjau.

Brigade Lapis Baja ke-7 pimpinan Kolonel Avigdor Ben-Gal berhadapan di sektor utara Golan dengan Divisi Lapis Baja ke-3 Suriah di bawah pimpinan Brig. Jenderal Mustapha Sharba, Divisi Infanteri Mekanik ke-7 dan Pengawal Republik Assad. Ketika serangan Suriah dimulai, tank-tank pembersih ranjau dan peletak jembatan memimpin didepan untuk mengatasi rintangan buatan Israel. Secara alami, kendaraan-kendaraan teknik itu adalah target pertama para prajurit Brigade ke-7, tetapi pasukan infanteri Suriah, yang berani terus maju dibawah hujan tembakan Israel dari arah ketinggian. Mereka bergegas maju dan menggunakan alat-alat penggalian mereka untuk membangun jalur tanah yang cukup bagi tank-tank mereka untuk melewati parit-parit anti-tank Israel.

Sementara pasukan lapis baja Israel menembaki setiap kendaraan Suriah yang bisa mereka lihat, dengan armada besar yang terdiri dari sekitar 500 tank dan 700 APC pasukan Syria terus bergerak maju ke garis Israel dan memastikan bahwa mereka yang bertahan akan kewalahan. Jumlah kekuatan Israel terus berkurang ketika tank-tank Israel berhasil dihancurkan, namun mereka yang jumlahnya jauh lebih sedikit berhasil mengambil korban lebih besar diantara pasukan lapis baja Suriah. Terlepas dari kerugian besar mereka, orang-orang Suriah terus menekankan serangan mereka tanpa henti, namun pasukan Brigade ke-7 masih bertahan, menghentikan setiap upaya penerobosan Syria, meskipun tidak ada yang tahu pasti sampai kapan mereka bisa bertahan.

Peta serbuan Suriah di Dataran Tinggi Golan.

Ketika kegelapan mulai turun, orang Israel tidak memiliki perlengkapan penglihatan malam yang sebanding dengan yang dimiliki orang-orang Suriah dan (terpaksa) harus membiarkan kendaraan-kendaraan lapis baja musuh bergerak maju ke jarak yang efektif untuk pertempuran malam. Dalam pertempuran jarak dekat, Suriah berhasil merebut beberapa tempat di ketinggian, tetapi serangan balik oleh sekelompok kecil defender Israel berhasil mendesak mereka kembali. Ketika beberapa tank Suriah berhasil menembus garis pertahanan Israel, para penembak di Tank Brigade ke-7 memutar turret mereka untuk menghancurkan tank Syria yang telah menerobos dan kemudian segera mengalihkan tembakan mereka kembali ke tank musuh datang menerjang maju. Aksi ini adalah versi pertempuran antar tank setara dengan pertempuran jarak dekat prajurit infanteri.

Pertempuran di dataran tinggi Golan berubah menjadi pertempuran jarak dekat tank vs tank

Malam itu, pertempuran berlanjut, diwarnai dengan serangan Suriah dan serangan balik Israel. Beberapa kali garis-garis pertahanan Israel ditembus, tetapi serangan balik yang gigih berhasil mendorong kembali para penyerang keluar dari garis pertahanan. Pertempuran sengit berlanjut di Dataran Tinggi Golan utara selama dua hari lagi. Meskipun kerugian yang diderita semakin besar, pasukan Suriah terus menekan dengan pasukan yang tidak habis-habisnya. Pasukan cadangan Israel yang dikerahkan cepat-cepat ke medan pertempuran berhasil memblokir kemajuan Suriah pada hari kedua dan ketiga perang. Suriah kemudian mengintensifkan upayanya untuk menembus garis pertahahanan Israel.

Pertempuran Di Lembah Air Mata

Pada hari keempat pertempuran, orang-orang Suriah melancarkan serangan baru dan hebat dari sebuah lembah di utara Kuneitra. Dalam serangan besar-besaran, ratusan tank modern Syria mulai bergerak naik dari dasar lembah dan berharap untuk dapat mengambil alih tempat yang lebih tinggi. Seandainya mereka mendapatkan akses ke dataran tinggi – yang terletak di sepanjang Rute 98 (hari ini) – mereka akan dapat menyebarkan pasukan mereka dan mengendalikan Pusat dari Dataran Tinggi Golan. Dari sini mereka akan mudah untuk menembus lebih jauh masuk ke wilayah Israel.

Avigdor Kahalani (bearded) and his crew in 1973 (Courtesy: IDF)

Komandan batalion, Avigdor Kahalani dikirim ke lembah itu dalam upaya terakhir untuk membendung gerak maju Suriah. Ia mengajak anak buahnya untuk bergabung dengannya menyerbu ke arah musuh, namun terkejut setelah menemukan bahwa mimpi terburuk yang mungkin dialami komandan tempur telah menjadi kenyataan dimana dia bergerak maju sendirian. Secara fisik dan emosional para prajurit anak buahnya telah ada di titik nadir, tidak ada satupun yang menanggapi seruan perintahnya.

Ketika tank Kahalani mencapai puncak bukit dia mendapati dirinya berhadapan muka dengan muka melawan tiga tank Suriah. Namun krunya berhasil menghancurkan satu tank pertama dan kemudian yang lain, yang hanya berjarak 50 meter jauhnya. Saat tank ketiga mengarahkan meriam ke arahnya, senjata Kahalani macet. Namun demikian, beruntung tank Suriah itu kemudian terbakar, ditembak oleh rekan-rekan lain yang pada akhirnya mendukungnya.

Pertempuran berlangsung sepanjang hari sampai orang-orang Suriah, yang telah menderita kerugian besar di pihak mereka sendiri, bergerak mundur menuruni bukit. Lebih dari 500 tank dan kendaraan lapis baja pengangkut pasukan hancur ditinggalkan di medan pertempuran dan setelah kekalahan mereka, serangan Suriah secara efektif berhasil dihentikan. Pada 9 Oktober, Israel hanya tinggal memiliki enam tank untuk melindungi bagian utara negara itu. Ketika Brigade Lapis Baja ke-7 mulai mundur, mereka tiba-tiba diperkuat oleh kekuatan kecil yang terdiri dari 15 tank.

Kenyataannya, bala bantuan 15 tank itu adalah kekuatan yang terdiri dari beraneka ragam tank yang telah diperbaiki kembali yang diawaki oleh crew yang terluka dan awak lainnya, yang telah dikerahkan oleh Letnan Kolonel Yossi Ben-Hanan, seorang komandan veteran, yang setelah mendengar tentang pecahnya perang, bergegas pulang dari rumahnya meninggalkan bulan madunya di Nepal. Kehadiran pasukan Ben Hannan tepat pada waktunya, kekuatan itu terbukti menyelamatkan Brigade ke-7.

Letnan Kolonel Yossi Ben-Hanan mempersingkat bulan madunya di Nepal setelah mendengar pecahnya perang.

Pada tanggal 9 Oktober 1973, Ben Hanan mengambil alih komando kecil pasukan tank-tank Israel yang dipimpin, Shmuel Askarov, salah seorang yang selamat dari Brigade Lapis Baja ke-188 yang hancur di front selatan. Memimpin komandonya dalam pertempuran nekad melawan sejumlah besar tank T-62 Suriah, Ben Hanan memulihkan situasi taktis tetapi dengan mengorbankan sebagian besar komandonya dan tank Centurionnya sendiri. Diterbangkan keluar dari turret ketika tanknya dihantam oleh rudal anti-tank Sagger, Ben Hanan terbaring terluka di medan perang sampai dia diselamatkan dari belakang garis musuh oleh Yonatan Netanyahu, anggota legendaris elit IDF Sayeret Matkal dan saudara dari bakal Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Pertempuran di Lembah Air Mata

Ketika satu per satu tank Israel berdatangan menambah kekuatan pasukan Israel di utara, pasukan Suriah yang telah kelelahan karena tiga hari terus-menerus bertempur memilih bergerak mundur dan tidak menyadari seberapa dekat sebenarnya mereka dengan kemenangan.

Bala bantuan Israel berdatangan ke Front Utara di Golan

Suriah menduga bahwa peralatan Israel yang baru tiba dan menganggapnya sebagai bagian dari armada bala bantuan yang lebih besar. Melihat hal ini, mereka segera mulai mundur. Ratusan tank hancur dan kendaraan militer lainnya berserakan di pedesaan. Kehancuran yang luas itu membuat seorang perwira Israel menyebut daerah itu sebagai “Lembah Air Mata.”

Pecahnya Front Golan Selatan

Sementara itu, orang-orang Suriah, yang tujuan utamanya termasuk merebut jembatan yang membentang di Sungai Jordan (yang sebagian besar dapat dengan mudah dicapai melalui wilayah Golan selatan), memusatkan sebagian besar serangan mereka di sektor itu. Berhadapan dengan ratusan tank musuh dan kendaraan lapis baja sejauh mata memandang, para kru Brigade Barak tidak punya pilihan selain bertahan sekuat tenaga, karena medan dimana mereka berada tidak memungkinkan banyak manuver bertahan. Gerakan mundur hanya akan memberikan Suriah kebebasan untuk merebut daerah ketinggian dan menyerbu ke daerah permukiman Israel di bawah lembah.

Berbeda dengan Front Sinai, dataran tinggi Golan bukanlah medan yang cocok untuk pertempuran tank karena kendala geografi.

Di Golan selatan, pada 6 Oktober diperkirakan 600 tank Suriah berusaha untuk menembus garis pertahanan Israel yang dipertahankan oleh brigade Barak Israel dengan hanya 12 tank. Sebuah pertahanan ladang ranjau dan tembakan artileri berat menghancurkan beberapa lusin tank Suriah dalam serangan awal. Mengetahui bahwa mereka (selalu) kalah jumlah, awak tank Israel telah berlatih tanpa henti untuk menguasai keterampilan menembak meriam dan mengakuisisi target dengan cepat untuk memastikan tank musuh hancur pada tembakan pertama. Namun dengan keunggulan kuantitas yang luar biasa, pasukan Suriah terus menyerang. Jet tempur Israel dipanggil untuk menghancurkan kekuatan darat musuh.

Seperti di Front Sinai, banyak A-4 Skyhawk yang jadi korban sistem pertahanan udara Suriah saat melakukan misi dukungan udara jarak dekat.

Banyak pesawat McDonnell Douglas A-4 Skyhawks dan F-4E Phantoms yang menanggapi permintaan tersebut, namun berakhir dengan ditembak jatuh atau dirusak oleh payung pertahanan anti-pesawat Suriah yang rapat. Sadar bahwa doktrin Israel amat mengandalkan kekuatan udara bahkan untuk melawan keunggulan numerik Suriah, Suriah telah memperoleh sejumlah besar sistem rudal dan senjata anti-pesawat Soviet terbaru. Dengan bantuan penasihat Soviet, mereka menciptakan jaringan pertahanan udara di atas Golan yang lebih kuat daripada yang melindungi Hanoi selama Perang Vietnam. Dengan dukungan udara mereka yang berhasil dinetralisir, tank-tank Israel itu harus bertahan dengan kemampuan mereka sendiri – dan nasib Israel utara ada di tangan mereka. Tank-tank Israel bertahan dihancurkan satu demi satu oleh pasukan Suriah. Karena dipaksa bertahan melampaui batas kekuatan mereka, pertahanan di sektor selatan akhirnya pecah.

Pertempuran hidup mati Front Selatan Golan

Dengan menembus garis pertahanan Israel dan mengirim pasukan melewati celah yang telah dibuat, tank Suriah bergerak melalui garis Israel ke dataran luas yang ideal untuk pertempuran tank. Seiring berlalunya waktu, semakin sedikit tank Israel yang tersisa untuk membendung gelombang tank yang terus datang. Pasukan Suriah terpecah menjadi dua pasukan yang bergerak maju. Divisi Lapis Baja 1 pimpinan Kolonel Tewfik Jehani bergerak ke utara menuju markas komando Golan pimpinan Mayor Jenderal Rafael Eitan, yang terletak di jalan yang mengarah ke Jembatan Bnot Yaakov, yang membentang di atas Sungai Yordan dan mengarah ke pedalaman Israel. Cabang kedua serangan Suriah, yang dipelopori oleh Brigade Lapis Baja ke-46 Divisi Infanteri ke-5, bergerak ke selatan dari Rafid di selatan menuju ke El Al, dengan unit-unit yang dipecah ke arah utara menuju Jembatan Arik di ujung Laut utara Galilea. Sekitar 600 tank kini bergerak di Golan selatan, di mana disitu hanya terdapat 12 tank dan beberapa unit yang terisolasi di berbagai titik pertahanan.

Pada malam hari pasukan Suriah terus bergerak maju dengan memanfaatkan keunggulan mereka yang dilengkapi peralatan penglihatan malam yang canggih. Efisiensi tembakan jarak jauh kru Israel terhambat oleh kurangnya peralatan pertempuran malam yang memadai. Mereka melakukan yang terbaik untuk mengatasi rintangan ini dengan memerintahkan penembakan peluru suar untuk menerangi langit, bersama dengan menyalakan proyektor lampu xenon yang dipasang pada tank mereka. Namun perlengkapan itu bukanlah tandingan lampu sorot inframerah Suriah, sehingga memaksa orang Israel melakukan apa yang terbaik dari mereka – yakni berimprovisasi. Mereka mengarahkan unit-unit tank kecil untuk melakukan tindakan pemblokiran sementara terhadap pasukan musuh yang jauh lebih unggul – sebuah taktik yang mungkin telah mencegah Suriah untuk menguasai seluruh Golan.

Zvi Gringold.

Salah satu aksi bertahan yang kemudian menjadi legenda adalah aksi yang dipimpin oleh seorang letnan muda bernama Zvi Gringold, yang dikenal dengan sebutan ‘Letnan Zvicka,’ dengan taktik hit-and-runnya seorang diri crew tank-nya menahan hampir 50 tank musuh. Taktik bergaya gerilyanya di rute yang mengarah ke markas brigade-nya menyebabkan pihak Suriah percaya bahwa mereka melawan pasukan Israel yang jumlahnya cukup besar. Setelah lebih dari 10 tanknya hancur, pasukan tank Suriah menarik diri, komandannya memutuskan untuk menunda serangan dan memilih menghadapi pasukan Israel di siang hari. Gringold terus bertempur melawan pasukan Suriah sepanjang malam dan hari berikutnya, menghancurkan lebih dari 30 tank, sampai luka-luka, menderita luka bakar, kelelahan dan akhirnya dievakuasi. Gringold pulih dan kemudian dianugerahi penghargaan tertinggi Israel, “Ot Hagvura”, atas aksi heroiknya di Nafakh.

Pasukan lain yang beroperasi di selatan, meskipun sebenarnya menjadi bagian dari Brigade ke-7 yang beroperasi di Utara, adalah ‘Force Tiger’ di bawah pimpinan Kapten Meir Zamir. Tujuh tank Force Tiger dikirim untuk memblokir penerobosan sekitar 40 tank Suriah yang telah menerobos di Rafid dan sedang menuju ke utara – sebuah langkah mengancam yang akan memotong dan mengisolasi Brigade ke-7. Force Tiger melakukan penyergapan yang berhasil menghancurkan setengah tank Suriah pada dini hari. Ketika 20 tank musuh mencoba melarikan diri, Zamir menyiapkan serangan kedua yang berhasil menghabisi sisa batalion tank Suriah itu tepat setelah fajar keesokan paginya.

Dengan kekuatan yang tersisa pasukan Lapis Baja Israel terus bertahan di dataran tinggi Golan

Namun satu lagi pasukan Suriah yang terdiri dari dua brigade bergerak maju dengan cepat ke jalan akses selatan di sektor yang terbuka lebar itu dan secara tak terduga berhenti bergerak sesaat sebelum mencapai El Al. Sementara beberapa unitnya bergerak menuju tujuan lain di utara, sebagian besar pasukan Suriah gagal memanfaatkan keunggulannya, dengan hanya menunggu pasukan cadangan Israel datang dan memerangi mereka.

Di pagi hari, Suriah melancarkan serangan mereka lagi. Brigade Barak yang tersisa memohon (lagi) bantuan udara, dan sekali lagi menderita kerugian besar. Ironisnya, Suriah malah “membantu memecahkan masalah” ancaman rudal anti-pesawat yang dihadapi. Setelah Suriah menembakkan roket ke daerah sipil Israel, Chel Ha’Avir (Angkatan Pertahanan Israel / Angkatan Udara, atau IDF / AF) merespons dengan melakukan serangan balasan terhadap infrastruktur Suriah di Damaskus dan sekitarnya. Untuk bertahan melawan serangan-serangan ini, orang-orang Suriah terpaksa menarik kembali beberapa baterai rudal anti pesawat mereka dari front Golan. Secara keseluruhan, IDF / AF butuh beberapa hari untuk mengembangkan taktik dan mendapatkan pengalaman dalam mengalahkan sistem pertahanan udara Suriah, dan dalam prosesnya 27 pesawat Israel hilang di front Golan dalam misi dukungan darat, serta sejumlah lainnya menderita berbagai kerusakan. Pada saat-saat kritis ini Menteri Pertahanan Israel, Moshe Dayan yang mengunjungi Front Utara sempat melontarkan ide penarikan mundur tentara Israel dari Dataran Tinggi Golan, namun ide ini ditolak oleh Kepala Staff IDF Jenderal David “Dado” Elazar.

Kolonel Ben Shoham

Pada tanggal 7 Oktober, tank-tank Suriah memulai lagi gerak majunya. Dengan hampir tidak ada lagi tank yang tersisa, komandan Brigade Barak, Kolonel Yitzhak Ben-Shoham, bersiap untuk menghadapi pertempuran habis-habisan terakhirnya. Dia terus bertarung dalam pola bertahan melawan gerak maju musuh sampai dia sendiri terbunuh dan Brigade yang dipimpinnya hancur total. Dengan komandan brigade mati dan tidak ada satuan cadangan Israel yang terlihat, dua brigade Suriah bergerak maju ke markas Israel di Golan – sementara di saat yang sama dengan beberapa unit Suriah telah melewati pangkalan di kedua sisi – situasinya sudah sangat genting bagi Israel. Unsur-unsur utama brigade Suriah sebenarnya sudah mencapai Nafakh dan menerobos perimeter selatan pangkalan. Satu tank T-55 Suriah menerobos markas Jenderal Eitan, hanya untuk dihancurkan oleh tank terakhir yang masih operasional dari peleton Gringold.

Pada saat itu, Eitan telah mengevakuasi markasnya ke lokasi lebih jauh ke utara. Mereka yang tersisa untuk mempertahankan pangkalan itu hanya memiliki dua tank Centurion yang tidak dapat bergerak di depot reparasi kamp dan menembakkan peluru2 terakhir yang menghancurkan beberapa tank Suriah sampai tank-tank Israel terakhir dihancurkan. Brigade Barak ke-188 sudah dihancurkan. Suriah siap menyerbu markas Israel di Nafakh dan, tampaknya, seluruh Golan akan jatuh. Namun, bagaimanapun, pertahanan terakhir tersebut sudah cukup untuk memberi beberapa menit tambahan yang penting. Setelah pertempuran, Pasukan Syria berhenti di dekat Mitzpe Gadot, hanya lima menit dari jembatan di sungai Yordan, dimana area Galilea yang padat penduduk berada didekatnya. Pertempuran terakhir dari Brigade Barak dan jeda waktu yang dilakukan Suriah setelah pertempuran memberi Israel lebih banyak waktu untuk memperkuat pertahanan di Front Utara. Pada saat itu unit cadangan Israel mengalir ke garis depan. Dalam beberapa hari, kemajuan Suriah telah berubah menjadi gerak mundur penuh.

Pasukan Suriah sebenarnya sudah dekat ke kawasan lembah Yordan yang padat penduduk, namun memutuskan untuk menghentikan sementara penerobosan militernya

Brigadir Jenderal Moshe Peled memimpin sebuah divisi di jalan Ein Gev ke pusat sektor selatan sementara divisi Mayor Dan Laner bergerak ke jalan Yehudia lebih jauh ke utara – dalam sebuah gerakan paralel yang mengepung Divisi Lapis Baja Suriah ke-1 dan secara efektif mengakhiri gerakan militer Suriah. Pasukan Suriah kemudian berjuang dengan keras untuk membebaskan diri dari gerakan menjepit itu. Sebuah pertempuran besar terjadi di dekat kamp Hushniya, yang dikuasai oleh Suriah pada malam sebelumnya dan telah berubah menjadi pangkalan pasokan garis depan. Pertempuran ini berakhir dengan ratusan tank Suriah yang hancur, terbakar dan membara serta kendaraan lapis baja dan kendaraan lain yang berserakan di sekitarnya.

Serangan balik Israel

Pada tanggal 10 Oktober, Israel telah memaksa Suriah kembali ke garis gencatan senjata sebelum perang di sektor selatan. Setelah garis pertahanan Israel di Golan berhasil distabilkan, keputusan sekarang harus dibuat – apakah militer Israel akan berhenti di perbatasan pasca-1967 atau terus maju ke wilayah Suriah. Komando Tinggi Israel menghabiskan tanggal 10 Oktober untuk berdebat sampai malam. Beberapa yang lebih suka menghentikan gerakan militer di Golan, yang akan memungkinkan tentara yang ada di Front Utara dikirim ke Sinai. Yang lain lebih suka melanjutkan serangan ke Suriah, ke Damaskus, yang akan memaksa Suriah keluar dari perang; itu juga akan mengembalikan citra Israel sebagai kekuatan militer terbaik di Timur Tengah dan akan memberi Israel posisi tawar-menawar yang tinggi begitu perang berakhir. Akhirnya dengan pertimbangan bahwa memindahkan pasukan dari Golan dan Sinai akan membutuhkan waktu sekitar 4 hari (dan mungkin tidak akan membantu banyak Front Sinai) dan faktor politik, PM Golda Meir memerintahkan ofensif ke arah Suriah dilanjutkan.

Penyerangan ke wilayah Syria diperintahkan langsung oleh PM Golda Meir

Sadar akan adanya pertahanan Suriah yang kuat di selatan, Israel memilih wilayah Golan utara, yang medan lebih sulit dan kurang dipertahankan, sebagai daerah untuk meluncurkan serangan balik ke wilayah Suriah. Di antara unit-unit yang bergabung dalam serangan balik adalah Brigade Barak yang telah dihidupkan lagi, karena 90 persen dari komandan aslinya telah terbunuh atau terluka, sisa-sisa anggota Brigade Barak bergabung dengan tenaga pengganti, direorganisasi dan kembali menjadi kekuatan tempur lagi untuk melakukan serangan balasan yang menembus jauh ke Suriah.

Pada 11 Oktober, pasukan Israel mendesak ke arah Suriah dan maju ke Damaskus di sepanjang jalan Quneitra-Damaskus sampai tanggal 14 Oktober, menghadapi perlawanan keras dari pasukan cadangan Suriah yang bertahan dengan kuat. Tiga divisi Israel mematahkan garis pertahanan pertama dan kedua di dekat Sasa, dan menaklukkan wilayah seluas 50 kilometer persegi lagi di Bashan. Dari sana, mereka dapat menembaki pinggiran kota Damaskus, yang hanya 40 km jauhnya, menggunakan artileri berat M107.

Meriam M107 di Kuneitra, Golan

Pada tanggal 12 Oktober, pasukan payung Israel dari unit pengintai elit Sayeret Tzanhanim meluncurkan Operation Gown, menyusup jauh ke Suriah dan menghancurkan sebuah jembatan di daerah persimpangan-perbatasan Suriah, Irak, dan Yordania. Operasi itu mengganggu aliran senjata dan pasukan ke Suriah. Selama operasi, pasukan terjun payung menghancurkan sejumlah kendaraan transport tank dan membunuh beberapa tentara Suriah, sementara tidak ada korban di pihak Israel.

Ketika posisi Suriah memburuk, Yordania mengirim pasukan ekspedisi ke Suriah. Raja Hussein, yang mendapat tekanan kuat untuk memasuki perang, memberi tahu Israel niatnya melalui perantara AS, dengan harapan Israel akan menerima penjelasan ini dan tidak menganggapnya sebagai alasan untuk menyerang Yordania. Menteri Pertahanan Israel Moshe Dayan menolak untuk menawarkan jaminan semacam itu, tetapi mengatakan bahwa Israel tidak berniat membuka front lain. Irak juga mengirim pasukan ekspedisi ke Suriah, yang terdiri dari Divisi Lapis Baja ke-3 dan ke-6, sekitar 30.000 orang, 250-500 tank, dan 700 APC. Jet Israel segera menyerang pasukan Irak ketika mereka tiba di Suriah.

Pasukan sekutu Arab di Syria, 1973

Hadirnya Divisi-divisi Irak adalah kejutan strategis yang tidak menyenangkan bagi IDF, yang telah memperkirakan bahwa mobilisasi seperti itu akan membutuhkan waktu 24 jam. Hal ini berubah menjadi lebih buruk, ketika pasukan Irak menyerang sisi selatan yang terbuka akibat gerakan maju satuan lapis baja Israel, memaksa unit-unit pendahulunya mundur beberapa kilometer untuk mencegah terjadinya pengepungan. Serangan balik gabungan Suriah, Irak dan Yordania mencegah gerakan lebih lanjut Israel menuju Damaskus, namun, mereka tidak dapat mendesak Israel kembali dari Bashan, dan menderita kerugian besar dalam pertempuran mereka melawan Israel. Serangan paling efektif terjadi pada 20 Oktober, meskipun pasukan Arab kehilangan 120 tank dalam pertempuran itu.

Suriah bersiap melakukan serangan balasan besar-besaran untuk mengusir pasukan Israel dari Suriah, yang dijadwalkan pada 23 Oktober. Sebanyak lima divisi Suriah akan ambil bagian, bersama pasukan ekspedisi Irak dan Yordania. Soviet telah mengganti sebagian besar kerugian yang dialami pasukan tank Suriah selama minggu-minggu pertama perang. Namun, sehari sebelum serangan dimulai, PBB memberlakukan gencatan senjata karena menilai serangan Suriah akan digunakan Israel untuk melegitimasi penghancuran Army ke-3 Mesir yang telah terkepung di Front Sinai.

Kampanye pertempuran di Golan tahun 1973

Pada akhirnya, Presiden Suriah Hafez al-Assad memutuskan untuk membatalkan serangan. Pada 23 Oktober, hari rencananya serangan dimulai, Suriah mengumumkan bahwa mereka telah menerima gencatan senjata, dan memerintahkan pasukannya untuk berhenti menembak, sementara pemerintah Irak memerintahkan pasukannya untuk pulang. Gencatan senjata yang disetujui PBB diberlakukan pada 23 Oktober dan secara resmi mengakhiri permusuhan.

Akhir peperangan

Meskipun perang berakhir dengan pasukan Israel sedang bergerak menuju ibu kota Suriah, Perang Yom Kippur –atau Perang Ramadhan, menurut orang-orang Arab – telah menghancurkan mitos tak terkalahkan Israel. Keberhasilan Suriah dalam mempertahankan unsur kejutan dan disiplin pasukannya dalam melaksanakan serangan membantu negara itu mendapatkan kembali banyak kehormatan yang telah hilang dalam bencana perang tahun 1967. Sebaliknya, orang-orang Israel yang menang, menang dalam kemenangan tipis yang banyak memakan korban. Mereka menderita kerugian yang mengerikan, seperti yang dialami Brigade Barak ke-188. Sementara itu dilain sisi perang telah menegaskan kembali doktrin pertahanan Israel yang mengandalkan kehadiran satuan cadangan dalam waktu 24 jam untuk mengalahkan pasukan musuh yang unggul secara numerik. Tidak ada waktu untuk melakukan perayaan, karena negara itu harus menguburkan 2.222 dan sementara 7.251 orang lainnya menderita luka-luka. Para tentara yang telah membayar harga mahal untuk kelangsungan hidup negara mereka.

Pada akhirnya Israel memang berhasil mendesak Syria keluar dari wilayah Golan, namun dalam prosesnya mereka harus menderita banyak korban.

Suriah dan Mesir terpaksa mundur, tetapi mereka telah menunjukkan tekad dan semangat yang lebih kuat daripada yang mereka pertontonkan pada tahun 1967. Perang berakhir pada tanggal 25 Oktober 1973 dengan garis depan yang sama dengan tahun perang 1967. Beberapa tahun kemudian Israel dan Mesir akan menandatangani perjanjian damai, lewat perjanjian tersebut Israel mengembalikan kontrol Semenanjung Sinai kepada pihak Mesir. Sementara itu Israel dan Suriah secara teknis tetap dalam kondisi perang hingga hari ini.

Kesimpulan

Perang Yom Kippur telah menyadarkan Israel akan limitasi dari kekuatan mereka serta menunjukkan perkembangan pesat dari kualitas militer dari negara-negara Arab (setidaknya selama periode perang itu). Yom Kippur menunjukkan bahwa kekuatan udara Israel yang menjadi salah satu kunci dari kemenangan-kemenangan Israel dalam perang sejak 1967, membutuhkan kemampuan perang elektronika yang lebih maju untuk menetralisir ancaman pertahanan udara berlapis buatan Soviet yang digunakan Suriah. Pelajaran ini diaplikasikan dengan baik oleh IDF pada saat melakukan invasi ke Lebanon pada tahun 1982, dengan terlebih dahulu membungkam situs pertahanan Suriah di Lembah Bekaa sebelum meluncurkan armada lapis baja mereka memasuki wilayah Lebanon. Diluar pengalaman pahit armada udara Israel, satuan lapis baja IDF sekali lagi membuktikan bahwa mereka tetap dapat menjadi tameng dan tombak ofensif dari satuan darat Israel. Kualitas pelatihan dan semangat juang crew tank IDF mampu mengatasi kelemahan inferioritas dalam hal kuantitas dan kualitas kendaraan lapisan baja dibanding musuh-musuhnya.

Perang Yom Kippur memberi pelajaran berharga bagi kekuatan udara Israel untuk memperkuat diri dalam perang elektronika.

Bagi pihak Suriah, mereka mampu membuktikan bahwa lewat perencanaan matang dan semangat juang yang tinggi, mereka mampu untuk merepotkan dan mengalahkan (walau cuma sementara, meski dengan korban yang besar) armada lapis baja Israel di hari-hari awal perang. Namun disatu sisi para perencana strategis Suriah masih perlu untuk belajar berimprovisasi dan memanfaatkan momentum pertempuran untuk mencapai keuntungan strategis yang lebih besar. Kegagalan Suriah dalam melanjutkan ofensif setelah menembus pertahanan Israel di Golan, pada akhirnya memungkinkan Israel mengirimkan satuan cadangan untuk menambal lubang di pertahanan mereka.

Pasukan Tank Israel membuktikan mampu menjadi garda terdepan dalam perang Yom Kippur.

Sejumlah teori menyebutkan mengapa orang-orang Suriah menghentikan pergerakan di tengah momentum yang mereka miliki, beberapa faktor yang mendasari keputusan itu diantaranya adalah ketakutan akan penyergapan dalam rute yang diprediksi dipertahankan kuat, kurangnya fleksibilitas dan inisiatif yang harus dilakukan begitu tujuan mereka tercapai, jalur pasokan yang terentang terlalu jauh dan kekhawatiran akan adanya pembalasan Israel menggunakan senjata nuklir pada saat-saat kritis itu. Apa pun alasan sebenarnya, kurangnya inisiatif mereka pada saat yang menentukan telah menghilangkan kesempatan Suriah untuk mencapai Sungai Jordan – dan mungkin – hampir tanpa perlawanan.

Diterjemahkan dan dilengkapi kembali dari:

Valley of Tears: The Yom Kippur War

https://m.warhistoryonline.com/history/valley-of-tears.html

A Valley of Tears where Israel stopped Syria in 1973

https://www.google.com/amp/s/www.timesofisrael.com/a-valley-of-tears-where-israel-stopped-syria-in-1973/amp/

YOM KIPPUR WAR: SACRIFICIAL STAND IN THE GOLAN HEIGHTS

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Yom_Kippur_War

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Yossi_Ben_Hanan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *