Operasi Leopard di Zaire Mei 1978: aksi Legiun Asing dalam Pertempuran Kolwezi.

Pada tahun 1970-an Zaire sudah dikenal sebagai negara yang memiliki posisi strategis dan sekaligus kaya akan mineral di wilayah Afrika yang dekat dengan khatulistiwa (alamnya mengandung: Tembaga, Emas, Berlian, kobalt, dan bahkan Uranium). Negeri yang kaya Sumber Daya Alam, namun rakyatnya hidup miskin dan menderita karena perang berkepanjangan ini dikuasai oleh rezim Diktator pimpinan Mobutu Sese Seko yang korup namun anti komunis. Menyusul kekalahan pemberontakan di Provinsi Katanga yang ingin lepas dari Zaire, yang didukung tentara bayaran pada 1967 dan pembalasan Mobutu terhadap rakyat Katanga, sebagian besar satuan paramiliter “Katangan Gendarmerie” sekali lagi pergi ke selatan ke pengasingan di Angola. Sementara itu di jajahannya di Angola, Portugis telah menggunakan mereka untuk melawan pemberontakan yang menyebar di negara itu, dengan menciptakan unit kontra-pemberontakan di bawah komando mantan jenderal polisi Katanga, Nathaniel Mbumba. Sering dikenal sebagai Black Arrows, para ex-gendarmarie tersebut amat berguna untuk mengimbangi dukungan Mobutu terhadap gerilyawan FNLA asal Angola, dan pada bulan Juni 1968, mereka membentuk Front untuk Pembebasan Nasional Kongo (FNLC). Ketika akhir kekuasaan Portugis di Afrika semakin dekat, FNLC kemudian malah bersekutu dengan gerilyawan MPLA asal Angola pimpinan Jonas Savimbi yang berhalauan kiri, alih-alih mempercayai dan menerima tawaran amnesti dari Mobutu.

Nathaniel Mbumba, pimpinan FNLC tahun 1978. (Sumber: https://fr.wikipedia.org/)

Pada bulan Maret 1978, sebuah pertemuan terjadi antara pejabat Angola dan militan FNLC digelar. Intelijen Zaire disadarkan akan kemungkinan operasi destabilisasi di wilayah Shaba, yang memiliki nilai tinggi karena tambangnya. Di pihak lain selama beberapa bulan Uni Soviet telah membeli semua kobalt yang tersedia di pasar bebas, tetapi intelijen barat tidak mampu menghubungkan kejadian yang tidak lazim ini dengan krisis yang akan datang. Soviet sepertinya sudah “menyadari” bahwa sesuatu akan terjadi di Zaire. Pada Mei 1978, sebuah pemberontakan terjadi di provinsi Katanga melawan Presiden Mobutu Sese Seko. Pada 11 Mei, kelompok pemberontak FNLC yang terdiri dari 3.000 hingga 4.000 orang tiba. Pasukan FNLC ini juga didukung oleh tentara bayaran asing. Berangkat dari Angola, pasukan ini telah melintasi Zambia yang netral. Diorganisir menjadi 11 “batalion,” masing-masing dengan sekitar 300 orang, pasukan dibagi menjadi 2 kelompok dan maju dalam perlindungan kegelapan. Satu kelompok yang terdiri dari sekitar 1.000 orang menuju kota Mutshatsha untuk memotong jalur kereta api. Yang kedua memiliki misi yang lebih penting: yakni merebut kota Kolwezi!

Zaire dan Kolwezi ( http://foreignlegion.info/)

Horor di Kolwezi

Tanggal 13 Mei 1978, hari Sabtu, dini hari, sekitar 3.000 pasukan Frontale Libreration Nationale du Congo (FLNC *) yang datang dari wilayah Angola memasuki Kolwezi dengan paksa, (situs Perusahaan Penambangan Gécamines di Provinsi Shaba yang tersembunyi). Kolwezi tahun 1978 memiliki penduduk sekitar 100.000 orang yang tinggal di kawasan seluas 40 km² dengan beberapa kota yang dibatasi oleh beberapa perbukitan. Wilayah ini adalah tempat yang strategis, karena dilalui jalan-jalan penting dan jalur kereta api yang menghubungkan Lubumbashi ke Dilolo. Di Kolwezi terdapat bandara yang letaknya 6 kilometer (3,7 mi) dari pusat kota. Operasi FNLC ini dipimpin langsung oleh Nathaniel M’bumba, dibantu oleh perwira-perwira dari negara-negara komunis seperti Kuba dan Republik Demokratik Jerman (Jerman Timur). Biasanya pada hari Sabtu sebelum Hari Pentakosta, 3.000 penduduk asing (2400 orang Eropa, Belgia, warga AS, Prancis, Italia dan bahkan Yunani tinggal di sekitar Kolwezi) siap menikmati akhir pekan dengan santai di rumah atau dengan teman dan keluarga di danau terdekat. Sebagian besar dari mereka akan tidur larut malam dan menikmati hari libur. Bagaimanapun, tidak ada hal yang harus dilakukan dengan tergesa-gesa. Lagipula, orang-orang yang telah bekerja di Afrika itu segera mengikuti gaya hidup yang santai dan penuh damai ini. Namun kedamaian ini segera berubah saat pasukan pemberontak masuk kota dengan senjata berat, FNLC dengan cepat menguasi posisi-posisi strategis di Kolwezi, seperti Bandara, sebuah sekolah, dan sebuah rumah sakit. “Dalam setengah jam mereka telah mengambil Kolwezi,” kata insinyur Italia Francois Postorino kepada AFP. Para pemberontak juga menguasai lapangan terbang, dan menghancurkan semua pesawat FAZ (tentara Zaire) yang ada di lapangan: lima hingga tujuh pesawat serang darat buatan Macchi Italia, dua hingga empat pesawat Cessna 310, sebuah pesawat transportas Buffalo, dan dua helikopter. Brigadir Tzhiveka, sang komandan, menghilang dan tidak terdengar lagi sampai dia muncul di Tenke-Fungurume beberapa hari kemudian. Pada pukul 10.00, FNLC telah menguasai bandara, depot FAZ, dan sebagian besar kota. Para penyintas FAZ hanya memiliki tiga pilihan: bersembunyi, bertahan sampai bala bantuan tiba, atau menyerah dan bergabung dengan FNLC. Semua alternatif itu tidak ada satupun yang dapat menjamin nyawa mereka.

Serbuan FNLC ke Kolwezi Mei 1978. (Sumber: https://www.armyupress.army.mil/)

Awalnya, FNLC sangat disiplin dan berperilaku lebih baik bahkan daripada FAZ. Bahaya dari kekerasan yang acak biasanya datang dari dua sumber lain. Yang pertama adalah dari FAZ sendiri, yang terus bertempur di sekitar markas regional di kota baru, atau dari orang-orang yang selamat yang bersembunyi di persembunyian di sekitar kota, sebagian besar dari mereka telah pergi ke tempat tinggal orang-orang Eropa dari lingkungan asli tempat tinggal mereka. Ancaman yang kedua datang dari rekrutmen FNLC lokal, yang mirip Pemberontakan Simba dulu, masih menyimpan dendam dan iri hati terhadap kemakmuran yang dinikmati tetangga-tetangga Eropa mereka. Mereka tidak segan-segan membunuhi dan memperkosa untuk menteror warga di Kolwezi. Hingga tanggal 14 Mei pemberontak telah menewaskan sepuluh orang Eropa, sembilan orang Belgia dan satu orang Italia dan pembantaian itu bertambah setiap jam. Ketika ada laporan penjarahan dan kekerasan, negara-negara Barat mulai khawatir. “Mereka memburu orang-orang Eropa, khususnya Prancis,” kata menteri luar negeri Belgia Henri Simonet. Pada tanggal 15 Mei, mayoritas pemberontak meninggalkan kota dan hanya menyisakan sekitar 500 pemberontak yang dipimpin oleh orang-orang Kuba tinggal di sana, kebanyakan dari mereka ditempatkan di Manika di pinggiran Kolwezi. Pada 16 Mei, sebuah intervensi yang gagal oleh satuan penerjun payung Zaire dan desas-desus tentang akan adanya intervensi Barat memicu kekerasan berdarah lebih lanjut. Dalam tiga hari lebih dari 700 warga sipil, termasuk lebih dari 120 orang Eropa menurut berbagai sumber, terbunuh. “Saya melihat orang-orang dibantai; beberapa kaki mereka dipotong, lima orang teman saya mati,” kata Pierre Tramoni, seorang karyawan di perusahaan tambang negara bagian Gecamines, setelah evakuasi. “Istri seorang insinyur, yang sedang hamil tiga bulan, terbunuh,” katanya.

Dikuasainya Kolwezi oleh pemberontak FNLC segera diikuti dengan aksi pembantaian brutal di seluruh kota. (Sumber: https://thefrenchforeignlegionfirsthand.wordpress.com/)

Kirim Legiun Asing!

Duta Besar Prancis di Kinshasa mendesak untuk segera dilakukan tindakan menyikapi perkembangan di Kolwezi ini. Menanggapi seruan ini, Presiden Jimmy Carter dari Amerika Serikat segera memerintahkan divisi lintas udara ke-82 untuk dalam status siaga tinggi, sementara Pemerintah Belgia dengan satuan Commando mereka juga bertindak yang sama, tetapi sayangnya mereka tidak dapat bereaksi dengan segera. Belgia nampak ragu-ragu, mungkin karena mereka juga pernah mengalami petualangan yang mirip di Kongo tahun 1960-an (Operasi Naga Merah), jadi oleh karenanya Presiden Zaïre, Mobutu ingin agar “Légion étrangère” dari Prancis untuk segera bertindak, karena warga Prancis adalah yang terbesar menjadi sandera di Kolwezi (selain Belgia). Pada tanggal 16 Mei pukul 00:45, resimen legiun asing Prancis 2e étranger de parachutistes (REP ke-2), yang dipimpin oleh Kolonel Philippe Erulin, diperintahkan siap siaga. Sebuah pertemuan kemudian diadakan di Jerman Barat antara pejabat Belgia dan Perancis untuk mengoordinasikan operasi militer bersama. Namun pertemuan itu gagal, karena Prancis ingin mengerahkan pasukan mereka untuk menetralisir pemberontak dan mengamankan kota, sementara Belgia hanya ingin mengevakuasi orang asing. Akhirnya Resimen Paracommando Belgia dikirim secara independen, diluar satuan Prancis. Sementara itu, kabar-kabar mengenai operasi yang direncanakan mulai bocor ke pers, menyebabkan kekhawatiran bahwa unsur kejutan yang krusial akan hilang jika tindakan cepat tidak segera diambil.

Menanggapi seruan Mobutu, Presiden Prancis Giscard d’Estaing segera memerintahkan satuan Legiun Asing untuk segera bersiaga. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Col. Philippe Erulin komandan 2nd REP (Sumber: https://www.legion-etrangere.bzh/)

Pada 17 Mei pukul 10.00 pagi, Giscard d’Estaing, Presiden Republik Prancis (dari 1974 hingga 1981) menugaskan 2nd REP (penerjun payung Legiun Asing Prancis bagian dari Divisi Parasut Reaksi Cepat ke-11, dan merupakan satu-satunya unit parasut di satuan Legiun Asing) yang dipimpin oleh col. Philippe Erulin untuk menjalankan operasi yang berbahaya dan rumit ini, pada saat itu, satuan ini berkekuatan sekitar 750 orang. Satuan 2nd REP ini merupakan satuan infanteri ringan, sehingga mereka tidak dibekali senjata berat, kecuali mortir, roket LRAC F-1, dan rudal anti tank MILAN. Sementara untuk senjata perorangan, perlengkapan yang mereka gunakan tidak jauh beda dengan pendahulu mereka yang sudah malang melintang di Indochina dan Aljazair 20 tahun sebelumnya. Untuk senapan mereka masih menggunakan senapan semi otomatis standar MAS-49 yang sudah terhitung ketinggalan jaman dan “cuma” dibekali kotak peluru berkapasitas peluru 10 biji yang berkaliber “unik” 7.5 x 54 mm standar Prancis karena waktu itu senapan serbu modern FAMAS masih belum diterima oleh AB Prancis, padahal lawan mereka diperkirakan dibekali dengan senapan serbu otomatis sekelas AK-47. Untuk senapan sub mesin, mereka masih menggunakan MAT-49 yang sudah umum digunakan sejak Perang Indochina tahun 1950an, sementara untuk senapan mesin ringan mereka dibekali senapan mesin AA-52 dan senapan snipernya menggunakan senapan FR F1 yang masih baru. Meskipun memiliki keterbatasan dalam hal senjata dengan lawan yang bersenjata lengkap, namun bagaimanapun mereka adalah salah satu pasukan elit kelas satu di dunia yang terlatih dan punya rekam jejak sejarah yang membanggakan. Operasi militer yang akan digelar ini kemudian diberi nama Operasi Bonite atau Leopard (menurut pihak Zaire). Sementara itu, Erulin sendiri adalah perwira berusia 45 tahun yang berpengalaman dan pernah bertugas di Aljazair. Pada pukul 20.00 malam, satuan ini sudah siap diberangkatkan. Amerika Serikat kemudian akan menyediakan peralatan untuk transportasi (pesawat C-130 Hercules, C-141 Starlifter dan C-5 Galaxy) dan juga Parasut (tipe T-10 Amerika).

Pada tahun 1978, Legiun Asing Prancis masih dibekali dengan senapan infanteri tua MAS-49 (gambar depan) yang hanya dibekali magazine berisi 10 butir peluru, sementara lawan FNLC mereka bersenjata sekelas AK-47 berkapasitas magazine 30 peluru atau FN FAL yang berisi 20 peluru. (Sumber: https://www.ingunowners.com/)
Untuk kategori SMG, Legiun Asing Prancis masih membawa senapan MAT-49 yang sudah malang melintang di medan Indochina 28 tahun sebelumnya. (Sumber: http://www.nolasco.fr/)
Untuk menambah firepower Legiun Asing dilengkapi dengan senapan mesin AA52. (Sumber: http://www.imfdb.org/)
Kamp Raffalli di Calvi-Corsica. (Sumber: https://thefrenchforeignlegionfirsthand.wordpress.com/)
Jenderal Lacaze (kanan) dan Kolonel Erulin memeriksa Resimen 2nd REP sebelum diberangkatkan ke Zaaire, 18 Mei 1978. (Sumber: http://foreignlegion.info/)

Di Calvi/Corsica, kolonel Erulin menerima pesan teks dari 11th DP, yang berbunyi:

“Bonite / 6 Hours / Guepard Elements and 2 additional Companies! “

Perintah itu dikonfirmasi oleh pesan telegram yang datang tak lama setelah itu. Pada tanggal 18 Mei 1978 pukul 02:20 Operasi Bonite atau Operasi Leopard dimulai, dimana seluruh resimen disiagakan. Pada pukul 04:30 AM elemen REP 2e pertama meninggalkan Calvi ke Solenzara (pangkalan Angkatan Udara Prancis) yang terletak di Corsica timur, sekitar 80 mil (130 km) selatan-timur Calvi. Pada pukul 11:30 pagi (11h30), REP 2e telah lengkap mendarat di Solenzara. Jenderal Lacaze tiba (kepala Divisi Parasut ke-11 dan mantan komandan resimen itu antara 1967-70), untuk mengklarifikasi misi ke para legiuner. Pada hari yang sama, beberapa pesawat tiba di Solenzara, yakni empat pesawat jet Douglas DC-8 dan sebuah pesawat jet Boeing 707. Kapten Stephane Coevoet kemudian mengatur mereka untuk naik jet yang akan menerbangkan mereka ke Kinshasa, Zaire. Enam ratus prajurit berangkat ke Kinshasa dengan lima pesawat yang penuh sesak sehingga mereka pergi tanpa parasut mereka sendiri, dan berencana menggunakan parasut milik pasukan Zaire. Pada pukul 11:00 siang, pesawat jet pertama mendarat di Kinshasa dan pukul 11:00 siang hari berikutnya, pesawat jet terakhir mendarat di Kinshasa. Saat fajar pada 19 Mei, setelah pemerintah Prancis sempat berencana membatalkan operasi, mereka akhirnya diijinkan terbang dari Kinshasa ke Kolwezi ketika lampu hijau operasi dikonfirmasi. Jumat pagi dini hari itu juga, persiapan operasi udara di pangkalan udara Kinshasa dimulai untuk mengangkut elemen pertama REP 2e ke Kolwezi. Pada saat itu, baru setengah dari anggota resimen yang hadir di sana, yang terdiri dari tiga kompi REP 2e (Kompi ke-1, Kompi ke-2, dan Kompi ke-3) dengan ditambah satuan markas besar dan kelompok medis yang belum lengkap. Namun diputuskan Operasi harus dimulai segera. Prajurit-prajurit REP 2e yang sudah ada, kemudian menaiki lima pesawat militer – empat Lockheed C-130 Hercules (milik Zaire) dan sebuah C-160 Transall (milik Angkatan Udara Prancis). Pada pukul 10:30 pagi, Hercules C-130 pertama meninggalkan Kinshasa dengan diikuti oleh empat pesawat lainnya melakulan penerbangan ke arah Kolwezi yang diperkirakan akan memakan waktu empat jam – kota ini terletak 930 mil (1.500 km) di tenggara Kinshasa. Dengan ruang yang terbatas berarti hanya akan diterjunkan sekitar 400an legiuner untuk penerjunan pertama, dengan persediaan perbekalan selama dua hari, yang bisa digelar. Sebelum 2nd REP diterjunkan di atas Kolwezi, komandannya, Kolonel Philippe Erulin memberi pesan singkat kepada pasukannya:

  • Setelah mendarat di tanah: Segera berkumpul dalam beberapa menit.
  • Serang target anda segera – bergeraklah dengan cepat!
  • Fokus pada misi dan jangan pedulikan kawan yang terbunuh atau terluka selama pertempuran.

Tentu saja umumnya legiuner peduli dengan kematian dan rekan-rekannya yang terluka, tetapi prioritas diberikan saat itu adalah kecepatan! Walau Kode etik legionnaire d’honneur mengatakan … “… tu n’abandonnes jamais ni tes morts, ni tes blessés, ni tes armes./ kamu tidak akan pernah meninggalkan atau kawanmu yang gugur, atau rekan-rekanmu yang terluka”.

Anggota 2nd REP memasukkan perbekalan di pesawat-pesawat Amerika Solenzara, Corsica 18 Mei 1978. (Sumber: http://foreignlegion.info/)
Anggota 2nd REP memasuki pesawat C-141 Starlifter milik USAF untuk diberangkatkan ke Zaire, 18 Mei 1978. (Sumber: http://foreignlegion.info/)

Target dari Operasi yang dilakukan para legiuner adalah sebagai berikut:

  • Sekolah Jean XXIII/Kompi Pertama/Cne. Poulet
  • Rumah Sakit + Gécamines Factory/Kompi Kedua/Cne. Dubos: Digunakan para pemberontak untuk menahan orang-orang Eropa, sementara di Gécamines kemungkinan ada kendaraan bermotor yang dapat digunakan untuk melengkapi satuan yang menyerbu.
  • Hotel Impala/Kompi Ketiga/Cne. Gausseres: Impala Hotel digunakan oleh pemberontak sebagai markas mereka.
Target serbuan di Kolwezi 19 Mei 1978. (Sumber: https://www.armyupress.army.mil/)

Kompi ketiga, selain misi utama diatas, juga memiliki dua misi lainnya, yakni untuk merebut stasiun kereta api di pusat kota Kolwezi, dan untuk merebut jembatan penting, yang terletak di antara kota tua dan kota baru.

Operasi di Kolwezi hari H

Pasukan Prancis bersiap di Kinshasa sebelum diterjunkan di Kolwezi. (Sumber: https://thefrenchforeignlegionfirsthand.wordpress.com/)
Berdoa sebelum bertempur dengan menggunakan parasut T-10 buatan Amerika. (Sumber: https://thefrenchforeignlegionfirsthand.wordpress.com/)

Sore hari pukul 15:15, tanggal 19 Mei 1978, gelombang pertama mulai diterjunkan, dengan perintah rutin: “Berdiri, kaitkan, Periksa tali Statis dan Perlengkapan, kemudian bersiap di pintu.” Hanya beberapa detik kemudian, keluar perintah: “Go!” Mereka diterjunkan dari 2 pintu dengan sekali terjun per pintu dilakukan 20 prajurit sekaligus, dengan masing-masing pesawat membawa hingga 80 prajurit, maka diperlukan 2 gelombang penerjunan. 381 parasut terbuka di langit, dan di tanah, penembak dari satuan pemberontak menembaki pasukan yang turun dengan payung, bahkan sebelum mereka mendarat di tanah. Gelombang pertama ini melompat dari ketinggian 820 kaki (800 meter) ke Landing Zone Alpha, sebuah hippodrome (arena pacuan kuda ala Yunani kuno) yang ditutupi oleh rumput tinggi dan gundukan rayap setinggi 16 kaki (4 m). Lokasi penerjunan ini terletak di dekat pusat kota, antara kantor polisi dan hotel lokal yang ada di dekat Kota Tua Kolwezi. Penerjunan itu dilakukan di bawah tembakan gencar dari senjata infanteri ringan dan berat. Enam legiuner terluka ketika mendarat, yang lain, diisolasi dari unitnya, terbunuh dan dimutilasi bahkan sebelum bahkan melepas parasutnya. Selama waktu berkumpul, seorang legionnaire hilang, yaitu Kopral Robert Arnold, seorang anggota muda asal Inggris dari kompi ke-1. Hari berikutnya, dia akan ditemukan telah terbantai oleh pemberontak, dengan tubuh masih terbelit parasutnya.

Penerjunan gelombang pertama di Kolwezi, sore hari 19 Mei 1978. (Sumber: https://thefrenchforeignlegionfirsthand.wordpress.com/)
Lokasi-lokasi yang berhasil direbut oleh 2nd REP pada hari pertama Operasi Leopard, 19 Mei 1979. (Sumber: http://foreignlegion.info/)
Legiun Asing di Kolwezi dengan senapan sniper FR F1 yang baru (Sumber: Facebook)

Namun Para legiuner siap untuk menulis sejarah (lagi!). Lapangan terbang dan target yang direncanakan berhasil direbut dari para “Macan” hanya dalam beberapa jam. Ketika memasuki kota, pertempuran dimulai di kota antara pemberontak dan legiuner REP 2e. Pemberontak bertempur di semua jalan utama yang memakan waktu sekitar dua jam. Para Legiuner bertempur dari rumah ke rumah dalam pertarungan urban (Build Up Area) yang berdarah dan mengerikan. Dengan cepat para penembak jitu 2nd REPS yang dilindungi oleh tembakan dari senapan mesin Browning cal. 50 serta tekad dari para personel Legiun mampu membuat perbedaan. Penembak jitu Perancis mulai memilih target para pemberontak yang paling mengancam, mereka menewaskan 10 diantara mereka pada jarak 300 meter (980 kaki) dengan senapan sniper FR F1 yang memiliki perbesaran teleskop 4x yang baru saja dioperasikan di militer Prancis. Pada pukul 15:00, satuan lapis baja pemberontak berusaha melakukan serangan balik dengan tiga kendaraan lapis baja Panhard AML yang berhasil mereka rebut. Serangan ini segera disambut para legiuner dengan tembakan roket dan tembakan senjata ringan. Panhard AML-60 yang memimpin serangan berhasil dihentikan pada jarak lima puluh meter oleh roket LRAC F1; AML-90 kedua yang lebih berat kaliber kanonnya menembakkan sebuah peluru 90mm pada penyerangnya sebelum kemudian mundur untuk kemudian dihancurkan dengan granat senapan. Sementara AML ketiga memilih kabur.

Pemberontak FNLC berhasil merebut beberapa kendaraan Panhard AML milik tentara Zaire dan menggunakannya untuk melawan tentara Prancis. setidaknya 2 unit berhasil dihancurkan oleh personel 2nd REP pada 19 Mei 1978. (Sumber: http://www.tanks-encyclopedia.com/)
Peluncur roket LRAC F1 yang digunakan Legiun Asing untuk menghadapi Panhard AML milik FNLC. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Para legiuner menuju ke kawasan lingkungan Eropa dan menemukan lusinan tubuh yang membusuk dan termutilasi di jalanan. Anjing berpesta pora, lalat berkerumun di atas daging yang terbuka. Panasnya cuaca tak tertahankan. Pertempuran yang terjadi terpisah secara sporadis di gendarmerie dan sekolah teknik tempat para prajurit membebaskan 20 sandera Eropa dan dua perwira Zaire. Ketika pasukan maju, orang-orang Eropa yang tubuhnya kuyu muncul dari rumah-rumah tempat mereka bersembunyi selama seminggu tanpa air dan seringkali dalam kegelapan. “Hanya sebuah kata atau gerakan bisa membuat kita terbunuh,” kenang Tramoni. Pada hari setelah bandara berhasil direbut kembali, Presiden Mobutu datang langsung ke Kolwezi untuk meningkatkan moral pasukan dan meyakinkan penduduk lokal; dia mengambil kesempatan untuk memamerkan beberapa mayat orang-orang Eropa di Villa P2. Aksi Mobutu ini mengejutkan opini publik Barat dan menyebabkan dukungan luas bagi keputusan Prancis untuk melakukan intervensi militer di Zaire. Namun Pierre Yambuya, penulis asal Zaire kemudian melaporkan bahwa orang-orang Eropa di Villa P2 sebenarnya telah dieksekusi oleh pasukan Kolonel Bosange dari tentara Zaire karena Mobutu ingin memprovokasi agar dilakukannya intervensi oleh dunia internasional!

Mobutu Sese Seko diduga segaja membunuhi tahanan Eropa dan mempertontonkannya sebagai kejahatan FNLC untuk menarik simpati negara-negara Eropa. (Sumber: https://alchetron.com/)

Saat malam menjelang di Kolwezi, kolonek Erulin mengevaluasi operasi yang dipimpinnya sejauh ini dengan Kapten Thomas, perwira intelijen dari 2d R.E.P. Sejak awal operasi, resimen telah membebaskan setidaknya 35 sandera, menewaskan sekitar 100 pemberontak, menghancurkan 2 mobil lapis baja AML, dan merebut beberapa ratus senjata ringan. Selain itu, resimen telah merampas dokumen yang menunjukkan kekuatan dan tujuan FNLC dalam invasi kedua mereka ini, membuktikan kecurigaan bahwa mereka ini memang berupaya untuk merebut semua wilayah Shaba dari Zaire. Tidak menyadari telah gugurnya Legionnaire Arnold, Erulin menetapkan satuannya hanya menderita tiga hingga empat personel yang terluka, lima hilang, dan enam cedera saat melompat. 2d R.E.P. telah menguasai kota tua, sebagian dari kota baru, dan pintu masuk ke Manika. Selama sisa malam itu, Erulin memerintahkan kompi-kompinya untuk mempersiapkan tempat-tempat penyergapan, dengan memanfaatkan bulan purnama. Bagi para Legiuner, kegiatan malam hari ini hanyalah bagian dari tugas mereka dan menjadi hari ketiga dimana mereka tidak tidur. Di malam hari, penerjunan kedua di Kolwezi dibatalkan. Menurut rencana pada senja pukul 17:55, sisa personel REP 2e, seharusnya diterjunkan di Kolwezi, yang terdiri dari Kompi ke-4, Peleton Pengintaian (SER), Peleton Mortar ke-81 (S81), dan sisa satuan markas. Penerjunan itu akhirnya dibatalkan, karena beberapa faktor, seperti kondisi sekitar Kolwezi yang sudah gelap (dimana zona penerjunan menjadi tidak aman), beberapa target strategis sudah direbut, mayoritas orang-orang Eropa sudah diselamatkan, dan para pemberontak telah diusir dari kota. Pesawat dengan legiuner yang rencananya akan diterjunkan itu kemudian dipindah ke Lubumbashi, kota terbesar kedua di Zaire yang terletak sekitar 250 kilometer di tenggara Kolwezi, dimana legiuner gelombang kedua akan bermalam di sana. Pada malam hari, pertempuran baru kembali terjadi di Kolwezi. Di bawah perlindungan kegelapan malam, para pemberontak melancarkan serangan. Pertarungan berlangsung sepanjang malam, banyak pemberontak tewas dan banyak senjata lainnya berhasil dirampas akibat sergapan terkoordinasi dari para legiuner yang bertahan.

Pesawat angkut terbesar USAF, C-5 Galaxy terus mendukung 2nd REP sampai tanggal 24 Mei 1978. (Sumber: https://www.flying-tigers.co.uk/)
Bersama dengan C-5 Galaxy, C-141 Starlifter menjadi tulang punggung jembatan udara pendukung aksi militer Prancis dalam Operasi Leopard. (Sumber: https://c141heaven.info/)

Sementara itu di Corsica, pemuatan peralatan militer dan mayoritas kendaraan REP 2e serta 80 pengemudinya berlangsung di Pangkalan Udara Solenzara. Perlengkapan ini dimuat di pesawat-pesawat angkut Angkatan Udara A.S., yang terdiri dari beberapa pesawat pengangkut Lockheed C-141 Starlifter, tetapi mereka tidak dapat mengangkut semua kendaraan, sehingga beberapa pesawat Galaxy Lockheed C-5 (pesawat militer terbesar saat itu di AU Amerika, bagian dari Squadron Angkut Militer ke-3) harus didatangkan. Pemuatan ke C-5 Galaxy berlangsung sepanjang malam. Pada pagi harinya, tanggal 20 Mei, pesawat-pesawat Lockheed C-5 Galaxy pindah ke Zaire dan akan mendarat di Lubumbashi, untuk membongkar muatan di sana. Pesawat-pesawat Lockheed C-5 Galaxy akan terus mendukung REP 2e hingga 24 Mei. Galaxy terus melakukan penerbangan keluar masuk Libreville, Gabon, bekas koloni Perancis, yang terdapat pangkalan militer militer Prancis menerbangkan muatan antara Gabon dan Kinshasa dan Lubumbashi untuk memasok kembali pasukan legiun REP 2e secara teratur.

Operasi hari H+1

Sementara itu menyusul Gelombang kedua yang terjun payung keluar dari pesawat mereka C-130 (Hercules) pada 20 Mei 1978. Pada pukul 07:00 pagi itu, sisa dari REe 2e terjun di Kolwezi, pasukan yang terdiri dari Kompi ke-4, Peleton Pengintaian (Bagian dari d’Eclairage et de Reconnaissance, SER), Peleton Mortir ke-81 (Section de Mortiers 81, S81), dan sisa dari satuan markas, total 256 prajurit terjun di Drop Zone Alpha. Kompi ke-4 terjun di Drop Zone Bravo, zona penurunan baru yang terletak di sebelah timur kota, dekat dengan Kota Baru Kolwezi. Pada hari itu, pembersihan unsur-unsur pemberontak di Kolwezi berlanjut. Kompi ke-1 membersihkan bagian selatan kota tua, dimana beberapa kelompok pemberontak disembunyikan di sana. Kompi ke-2 membersihkan bagian barat kota tua, dimana Letnan Raymond akan terluka. Kompi ke-3 membersihkan kota baru, unit ini kemudian akan pindah ke Manika, pinggiran kota yang terletak di barat daya kota baru, yang digunakan sebagai markas pemberontak yang masih tersisa. Sementara itu Kompi ke-4 mempertahankan posisinya di sebelah timur Kolwezi, dimana pada sore hari, kompi itu akan pindah ke barat laut. Peleton pengintai (SER) dan Pleton mortir (S81) membersihkan bagian utara kota, lalu mereka pindah ke Camp Forrest, sebuah kamp polisi lama di utara Kota Baru.

Kompi ke-4 dari 2nd REP mendarat di Drop Zone Bravo sebelah timur Kolwezi, 20 Mei 1978. (Sumber: http://foreignlegion.info/)

Pada pagi itu juga, pasukan terjun payung Belgia mendarat di Kolwezi (sebagai bagian dari Operasi Red Bean). Mereka adalah anggota Batalyon Parasut ke-1 dan juga Batalyon Parasut ke-3, yang dipimpin oleh Kolonel Depoorter. Pesawat C-130 pertama Angkatan Udara Belgia lepas landas pada 18 Mei pukul 13:15 dari Pangkalan Udara Melsbroek, menuju Kamina melalui Kinshasa. Pada saat itu otorisasi untuk melintasi wilayah udara Prancis belum diberikan, dan baru diperoleh tepat pada saat pesawat C-130 ketiga lepas landas. Tiga puluh enam jam kemudian, Resimen Paracommando telah dikerahkan di Zaire dan siap beraksi. Awalnya pasukan Belgia cuma diperintahkan untuk tinggal selama 72 jam paling lama di Zaire. Namun tentara Belgia akhirnya tinggal lebih dari sebulan, bersama dengan pasukan Maroko yang datang belakangan, untuk memasok warga disana dengan makanan dan menjaga ketertiban.

Pasukan Belgia (Baret Merah) bersama Legiun Asing Prancis di Kolwezi Mei 1978. (Sumber: https://www.alamy.com/)
Pleton Mortir S81 mendekati kota Kolwezi, 20 Mei 1978. (Sumber: http://foreignlegion.info/)
Serbuan Legiun Asing Prancis di Kolwezi, 20 Mei 1978. ( https://www.armyupress.army.mil/)

Mereka mendarat (tidak terjun) di bandara Kolwezi, mereka akan mendukung para legiuner dalam menyelamatkan orang-orang Eropa. Komandan REP 2e mengoordinasi misi mereka dengan satuan Belgia, dimana prajurit-prajuritnya akan menyerahkan orang-orang Eropa ke tentara Belgia. Orang-orang Eropa pertama dievakuasi ke Eropa siang itu juga. Pada pukul 14:30, pertempuran sengit pecah di kawasan Metal Shaba, sebuah pertempuran paling keras yang terjadi di Kolwezi hingga waktu itu. Metal Shaba, terletak di pinggiran kota, sekitar 3 mil (5 km) utara Kolwezi. Awalnya, Kompi ke-4 diserang oleh lebih dari 100 pemberontak bersenjata lengkap yang tersembunyi di sana. Staf Sersan Daniel langsung terbunuh, Daniel adalah wakil komandan Peleton ke-2, Letnan Dary, yang nantinya akan jadi Komandan Legiun (tahun 2004-07). Kopral Prudence juga terluka parah dalam pertempuran itu. Kemudian Kompi ke-2 + SER + pleton mortir S81 tiba untuk mendukung Kompi ke-4. Pertempuran sengit berlangsung selama beberapa jam dan di malam hari, sekitar 80 pemberontak tewas, beberapa kendaraan milik mereka hancur dan banyak senjata berat dan senjata api berhasil dirampas. Pada malam harinya, di Kolwezi pertempuran sudah berhenti, kota itu berhasil dibersihkan, hanya tembakan sporadis yang masih terdengar. Dalam dua hari, seluruh kota bisa dikuasai.

Gambar langka dari pertempuran paling sengit di Kolwezi di kawasan Metal Shaba yang dialami oleh anggota Kompi ke-4, 20 Mei 1978.
Peta gerakan kompi-4 di Metal Shaba. (Sumber: https://www.armyupress.army.mil/)

Evakuasi dan pertempuran lanjutan

Pada Minggu, 21 Mei 1978, beberapa pertempuran masih terjadi. Di pagi hari, dua legiun terluka parah (Kopral Pain dan Legionnaire Marco), pada hari itu juga kendaraan pertama REP 2e tiba di Kolwezi diangkut oleh Lockheed C-5 Galaxy dan C-141 Starlifters. Anggota-anggota Resimen dengan cepat dilengkapi dengan kendaraan-kendaraan ini untuk melakukan pengintaian di sekitar kota, dimana beberapa persembunyian baru pemberontak ditemukan. Pada Senin, 22 Mei 1978, 2 kendaraan REP 2e lainnya tiba di Kolwezi, yakni truk Camcorder GMC. Satuan tugas yang terdiri dari tiga kompi dibentuk dan dipindahkan ke Kapata, di pinggiran kota yang terletak beberapa mil di barat daya Kolwezi. Pertempuran kecil terjadi, dimana 8 pemberontak terbunuh. Orang-orang Eropa dievakuasi hari itu juga dan menjadi orang Eropa terakhir yang dievakuasi dari Kolwezi. Lewat operasi gabungan pasukan terjun payung Perancis dan Belgia yang terjadi pada 21-22 Mei, lebih dari 2.000 orang berhasil diungsikan. Orang Eropa ini kemudian dipindahkan ke kota-kota Zaire lainnya. Hari itu, pertempuran di Kolwezi secara resmi dinyatakan berakhir, namun operasi militer terus dilanjutkan.

Para Pengungsi Eropa menunggu dievakuasi dari Kolwezi, Mei 1978. (Sumber: https://www.alamy.com/)
Jeep pertama 2nd REP tiba di Kolwezi, 21 Mei 1978. (Sumber: http://foreignlegion.info/)

Pada hari selasa, tanggal 23 Mei 1978, SER dipindahkan ke Likasi, sebuah kota yang terletak 150 kilometer di sebelah timur Kolwezi, dimana para legiuner akan menjaga orang-orang Eropa yang tinggal di sana. Di sore hari, dalam sebuah operasi di Luilu, yang terletak di pinggiran kota, 8 mil (13 km) utara-barat Kolwezi, Kompi ke-1, menemukan sekitar 20 orang Eropa yang terbunuh setelah disiksa. Pada pukul 4:30 sore, terjadi pertempuran kecil di Luilu, ketika legiuner akan menyelesaikan operasi mereka, mereka diserang oleh sekelompok kecil pemberontak yang tersembunyi. Legionnaire Clement langsung terbunuh. Pertempuran berlangsung sekitar satu jam dan seluruhnya, 5 orang pemberontak terbunuh. Kopral Harte terluka parah – dan akan meninggal beberapa waktu kemudian. Sementara pasukan Belgia meninggalkan Kolwezi pada 23 Mei, penerjun payung Prancis tetap untuk mengamankan kota dan sekitarnya. Pada hari Rabu, 24 Mei 1978, para legiuner beristirahat.

2nd REP berpatroli di sekitar Kolwezi antara tanggal 21-22 Mei 1978. (Sumber: http://foreignlegion.info/)

Pada Kamis, 25 Mei 1978, operasi baru dilakukan di Kapata, di pinggiran kota, yang terletak beberapa mil barat daya Kolwezi. Operasi ini dilakukan oleh tiga kompi, dalam operasi beberapa pemberontak akan terbunuh dan 2 lainnya berhasil ditawan. Pada hari itu, kereta dari Palang Merah tiba di Kolwezi, dengan membawa persediaan makanan dan obat-obatan. Jumat, 26 Mei 1978 REP 2e pindah ke Luilu, resimen beristirahat di sana, hari itu, dua orang Eropa (Belgia) diselamatkan. Hari berikutnya, Kompi ke-1 meninggalkan Kolwezi, pindah ke Lubumbashi. Bagi kompi itu, operasi telah berakhir (untuk sementara waktu). Pengintaian terakhir di sekitar Kolwezi, dilakukan oleh dua kompi dan pleton S81. Pada hari itu, Pertempuran Kolwezi akhirnya berakhir, namun, Kopral Senior Alioui (seorang anggota pasukan komando REP 2e) meninggal, kemungkinan besar dia meninggal karena kecelakaan.

Anggota Legiun Asing mengevakuasi warga Zaire yang terluka ke Lubumbhasi, 30 Mei 1978. (Sumber: https://thefrenchforeignlegionfirsthand.wordpress.com/)

Minggu, 28 Mei 1978, elemen utama REP 2e meninggalkan Kolwezi pada pukul 03:00 dini hari. Resimen ini meninggalkan Kolwezi setelah seminggu operasi militer dilakukan di sana, mereka pindah ke Lubumbashi. Di Kolwezi, hanya ditinggalkan Kompi ke-3 dan Pleton S81. Pada 3 Juni 1978, puluhan wartawan surat kabar dari seluruh dunia tiba di Kolwezi dengan ditemani oleh Letnan Kolonel Erulin. Hari berikutnya, 4 Juni 1978, di Kolwezi, Kompi ke-3 digantikan oleh Kompi ke-1. Sebuah parade militer – untuk menghormati REP 2e dilakukan tanggal 6 Juni 1978 di Lubumbashi. Pada 7 Juni 1978, REP 2e meninggalkan Zaire kembali ke Corsica, meski semua truk GMC dan Jeep REP 2e tetap ditinggalkan di Zaire, sebab Pasukan Maroko (yang menggantikan para legiuner) akan menggunakannya. 16 Juni 1978, kompi ke-1 meninggalkan Zaire kembali ke Corsica setelah membantu menjaga Kolwezi hingga tanggal 15 Juni.

Presiden Prancis Giscard d’Estaing menyambut anggota 2nd REP yang kembali dari Zaire, 9 Juni 1978. (Sumber: http://foreignlegion.info/)

Data-data korban

Lewat Operasi Leopard ini, 2100 sandera berhasil diselamatkan, namun 700 warga sipil lokal dan 170 orang Eropa telah dibantai FNLC sebelum Legiuner datang menyelamatkan mereka. Hanya lima Legiuner yang gugur dalam pertempuran, sementara 20 lainnya terluka, di pihak Belgia terdapat satu prajurit pasukan payung yang gugur, dan dari Batalion penerjun payung Zaire ke-311 kehilangan 14 orang tewas dan 8 lainnya luka-luka. Sementara di pihak musuh sekitar 250 berhasil ditewaskan dan 160 lainnya ditawan, disamping itu 1.500 senjata berat dan ringan milik FNLC berhasil dirampas, termasuk diantaranya 10 senapan mesin berat, 38 senapan mesin ringan, empat senjata artileri, 15 mortir, dan 21 peluncur roket. Dua kendaraan lapis baja Panhard yang direbut pemberontak dari pasukan keamanan Zaire juga berhasil direbut atau dihancurkan. Lima legiuner yang gugur dalam operasi militer ini adalah sebagai berikut:

Staf Norbert Daniel (Sumber: http://foreignlegion.info/)

Sersan Staf Norbert Daniel – lahir di Perancis – usia 29 tahun – gugur pada 20 Mei 1978.

Kopral Senior Youcef Alioui (Sumber: http://foreignlegion.info/)

Kopral Senior Youcef Alioui – lahir di Aljazair – usia 27 tahun – anggota pasukan komando (GCP-saat ini) – dia meninggal pada 27 Mei 1978.

Kopral Richard Arnold (Sumber: http://foreignlegion.info/)

Kopral Richard Arnold – lahir di Inggris – Lahir dengan nama Robert Guy Ashby – usia 21 tahun – gugur pada 19 Mei 1978.

Kopral Paul Harte (Sumber: http://foreignlegion.info/)

Kopral Paul Harte – lahir di Perancis – Lahir dengan nama Jean Hembert – usia 26 tahun – terluka parah pada 23 Mei 1978 dan meninggal pada hari berikutnya.

Legionnaire Jules Clement (Sumber: http://foreignlegion.info/)

Legionnaire Jules Clement – lahir di Perancis – Lahir dengan nama Jean Cesar – usia 20 tahun – gugur pada 23 Mei 1978.

Sementara 20 anggota resimen yang terluka adalah:

– Letnan Raymond

– Sersan Cabrol

– Kopral Senekovic Senior

– Kopral Bareda

– Kopral Courson

– Kopral Dallet

– Munoz Kopral

– Kopral Ovacic

– Kopral Pain

– Kopral Prudence

– Legionnaire Becker

– Legionnaire Demont

– Legionnaire Forestier

– Legionnaire Gilbert

– Legionnaire Jakovic

– Legiunaire Marco

– Legionnaire Rodriguez

– Legionnaire Seeger

– Legionnaire Soral

– Legionnaire Svoboda

Diluar itu terdapat beberapa korban di pihak Perancis yang sering tidak dibicarakan, yakni sebanyak 6 personel militer Prancis dinyatakan hilang, mereka dikirim ke Kolwezi pada tanggal 13 Mei 1978. Hanya ada buku catatan dari salah satu tentara Prancis yang ditemukan di rumah sakit di Kolwezi, oleh anggota legiuner REP 2e. Mereka ini tidak pernah ditemukan dan tidak ada informasi yang diketahui tentang nasib mereka, sementara keberadaan mereka tidak disebutkan dalam hampir semua dokumen tentang sekitar pertempuran di Kolwezi. Keenam prajurit ini adalah:

– Letnan Jacques Laissac

– Ajudan-Chef Pierre Van Nuvel

– Ajudan Jacques Bireau

– Ajudan Christian Cesario

– Ajudan Jacques Gomilla

– Ajudan Bernard Laurent

Beberapa catatan akhir

Pasukan asal Eropa di Zaire, kemudian digantikan oleh Pasukan Negara-negara Afrika (Force Interafricaine) yang dipimpin oleh 1.500 prajurit dari Maroko dan tentara gabungan yang berasal dari Senegal (560-600 personel), Togo, dan Gabon. Kontributor lain untuk pasukan Afrika datang dari Pantai Gading yang mengirim sekitar 200 petugas medis. Pasukan-pasukan itu berada di bawah komando Kolonel-Mayor Khader Loubaris (Maroko), dan kontingen Senegal berada di bawah komando Kolonel Osmane Ndoye. Pasukan Senegal terdiri dari batalyon parasut yang berasal dari Thiaroye. Di jeda waktu antara kepergian tentara Prancis dan kedatangan pasukan negara-negara Afrika, Kolwezi berada di bawah kendali pasukan Mobutu, yang kemudian menangkap dan mengeksekusi ratusan orang, yang dilabeli sebagai “pemberontak”.

Sersan Sablek menangkap tersangka pemberontak. Sablek kemudian menghabiskan waktu 38 tahun berdinas di Legiun Asing. (Sumber: http://foreignlegion.info/)

Amerika Serikat menuduh Kuba, negara sekutu Soviet itu telah melatih dan mempersenjatai tentara pemberontak, dimana atas tuduhan ini pihak Havana membantah. Giscard d’Estaing mengatakan Operasi Bonite/Leopard bertujuan untuk “menciptakan kembali keamanan” dan “memungkinkan adanya perlindungan terhadap orang-orang asing (di Zaire).” Tetapi salah satu petinggi militernya, Jenderal Yves Gras, menulis dalam suratnya kepada surat kabar Le Monde pada tahun 1981 bahwa operasi itu juga bertujuan untuk “mencegah Zaire agar tidak jatuh ke lingkaran ‘sekutu’ Soviet.” Dari sudut pandang militer Operasi ini merupakan contoh dari aksi militer yang efisiensi dan efektif dari sebuah satuan infantri ringan yang memanfaatkan unsur kejutan dan dengan didukung oleh data intelijen dan logistik yang baik. Operasi Leopard pada akhirnya menguntungkan banyak pihak, Rezim Mobutu makin diperkuat dengan turut dilemahkannya lawan-lawan politiknya, sementara kerja sama militer antara Prancis dan Zaire juga turut meningkat. Pabrik-pabrik industri militer asal Perancis, terutama Thomson-CSF, CGE, dan Péchiney, tercatat membuat peningkatan penting pangsa pasar produknya di Zaire.

Pemberontakan militer Prancis di Aljazair tahun 1961. Kesuksesan Legiun Asing dalam Operasi Leopard turut membantu menghapus kecurigaan para politisi terhadap Legiun Asing atas keterlibatan mereka dalam pemberontakan di Aljazair. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Selepas misinya yang sukses di Zaire, Kolonel Erulin, kemudian ditugaskan di markas staf umum (EMAT) Angkatan Darat Prancis pada Juli 1978, ia meninggal pada 26 September 1979 di Paris. Tiga puluh tahun kemudian, Valéry Giscard d’Estaing kembali ke Calvi dan mengkonfirmasi bahwa operasi Kolwezi telah menjadi rujukan dan pelajaran bagi semua direktur militer dan politik, yang harus menyiapkan apa yang disebut dimasa kini sebagai operasi eksterior. Operasi Kolwezi memang benar-benar diajarkan di sekolah militer. Bagi Jean Guisnel, jurnalis Prancis, operasi ini juga menandai berakhir dari kecurigaan para politikus terhadap satuan Legiun Asing Prancis setelah putsch/pemberontakan singkat mereka terhadap pemerintah Prancis, akibat lepasnya Aljazair dari kekuasaan Prancis tahun 1961.

Kesuksesan Legiun Asing dalam Operasi Leopard senantiasa akan tercatat dalam catatan emas satuan itu yang penuh warna antara kesuksesan dan kegagalan, namun tidak ada satupun yang meragukan keberanian dan kualitas mereka. (Sumber: http://foreignlegion.info/)
Film tentang Operasi Leopard buatan tahun 1980. (Sumber: https://www.dvdplanetstore.pk/)

Diterjemahkan dan dilengkapi kembali dari:

The Battle of Kolwezi – Mission Impossible

A dramatic French rescue in DRC 40 years ago

https://m.news24.com/Africa/News/a-dramatic-french-rescue-in-drc-40-years-ago-20180513

1978 Battle of Kolwezi

Semua informasi unik ini tentang penggunaan pesawat Lockheed C-5 Galaxy dan misinya selama tanggal 19-24 Mei diberikan kepada situs web Info Legiun Asing oleh John “Jack” Legere (Sersan, Skuadron Pengangkut Udara Militer ke-3 pada saat operasi) dan anggota kru pesawatnya.

Shaba II: The French and Belgian Intervention in Zaire in 1978 by Lieutenant Colonel Thomas P. Odom

https://www.armyupress.army.mil/Portals/7/combat-studies-institute/csi-books/ShabaII_FrenchBelgianIntervention_Odom.pdf

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Kolwezi

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Philippe_Erulin

4 thoughts on “Operasi Leopard di Zaire Mei 1978: aksi Legiun Asing dalam Pertempuran Kolwezi.

  • 9 August 2020 at 8:49 am
    Permalink

    Hallo ,You definitely know what youre talking about, why throw away your intelligence on just posting videos to your weblog when you could be giving us something informative to read? thank you

    Reply
  • 24 September 2020 at 10:02 am
    Permalink

    Blog yang sangat bagus, jempol untuk penulis blog ini

    Reply
    • 24 September 2020 at 1:14 pm
      Permalink

      Trims

      Reply
  • 28 November 2020 at 10:05 pm
    Permalink

    *This web site is really a walk-through for all of the info you wanted about this and didn?t know who to ask. Glimpse here, and you?ll definitely discover it.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *