Operasi Mount Hope III, 10 Juni 1988: Misi CIA mencuri Hind ditengah gurun Chad.

Jika kamu ingin melakukan sesuatu atas nama kepentingan Amerika dan tidak keberatan jika orang lain mengotori tangannya untuk mengerjakan hal itu, maka panggillah agen CIA. Sementara itu jika anda ingin masuk dan keluar melalui jalur udara semaumu tanpa masalah, anda dapat memanggil pria dan wanita dari personel resimen Operasional Penerbangan elit ke-160 AS yang lebih dikenal sebagai “Penguntit Malam”/Night Stalker. Kadang-kadang, ketika semuanya tepat anda bisa mendapatkan yang terbaik dari keduanya. Operasi Mount Hope III adalah kisah epik di “Chad”, yang layak dicatat dalam arsip sejarah berkaitan dengan kombinasi kedua hal diatas. Tahun 1987 dan 1988 adalah tahun-tahun yang menarik dalam Perang Dingin. Meskipun Uni Soviet akan runtuh beberapa tahun lagi (sebuah pemikiran yang ditolak oleh beberapa pejabat intelijen), Perang Dingin masih cukup hangat. Presiden Reagan telah menantang Perdana Menteri Soviet Mikhail Gorbachev untuk meruntuhkan Tembok Berlin, sementara urusan Iran-Contra masih segar dalam ingatan semua orang, Uni Soviet pada saat itu juga sedang bersiap menarik diri dari Afghanistan, dan perang proksi skala kecil bermunculan di seluruh Afrika. Salah satu konflik semacam itu terjadi antara Chad dan Libya pada tahun 1987, yang terakhir telah dibom oleh Amerika pada tahun sebelumnya. Tahun 1987-1988 adalah tahun yang suram bagi Libya di Chad, namun dalam kurun waktu itu pula, Amerika dapat rejeki nomplok berupa helikopter tempur Hind yang telah lama diidam-idamkan oleh para pakar militer NATO. Berbeda dengan sekarang dimana contohnya baru-baru ini, Korps Marinir AS mengumumkan minatnya untuk merekrut kontraktor untuk menerbangkan helikopter Mi-24 Hind buatan Rusia yang akan digunakan sebagai musuh selama latihan. Pada masa lalu, tidak mudah untuk mendapatkan akses seperti itu atas helikopter ini. Berikut ini adalah sebuah kisah unik dimana Amerika berhasil merampas helikopter Mi-25 Hind D Libya di gurun pasir Chad pada masa-masa akhir Perang Dingin.

Helikopter Hind buatan Soviet yang diidam-idamkan pengamat militer NATO dalam dekade 1980-an. (Sumber: Pinterest)

Latar Belakang

Chad, adalah bekas koloni Perancis yang merdeka pada tahun 1960, telah bertahun-tahun terlibat konflik dengan Libya pimpinan Mu’ammar Gaddafi. Yang terakhir pada awal tahun tujuh puluhan memerintahkan pasukannya untuk menduduki bagian utara negara itu, dan khususnya Jalur Aozou, sebuah wilayah yang lebarnya 100 km dan panjangnya 1000 km, dimana kawasan itu kaya akan deposit minyak dan uranium. Justru karena deposit inilah timbul perselisihan dengan penggunaan militer untuk memperebutkan kendali atas daerah ini, yang menyebabkan perang antara kedua negara. Selama hampir satu dekade yang dimulai pada tahun 1978, Gaddafi meluncurkan intervensi ke tetangganya di selatan itu dan berusaha mencampuri urusan negara itu, dengan mendukung berbagai kelompok pemberontak selama bertahun-tahun. Pada Desember 1986, yang terakhir dari kelompok-kelompok ini, sebuah organisasi yang dikenal sebagai Pemerintah Transisi Persatuan Nasional, atau (GUNT) kecewa dengan upaya diktator Libya yang berupaya merusak kepemimpinannya dan kegagalan Libya untuk memberikan dukungan ekonomi di daerah-daerah di bawah kendalinya, kemudian malah berbalik melawannya. Melihat perkembangan ini, Hissene Habré, pemimpin kelompok perlawanan terkuat terhadap Libya di Chad, mengambil kesempatan melancarkan serangan untuk mendapatkan kembali kendali atas bagian utara negaranya. Pasukannya terutama menggunakan kendaraan pickup dan kendaraan roda lainnya untuk mendukung mobilitas satuan gerilya nya dan konflik ini selanjutnya dikenal sebagai Perang Toyota. Dengan dukungan dari Amerika Serikat, Prancis, dan Zaire – sekarang disebut Republik Demokratik Kongo – orang Chad mulai mengusir orang-orang Libya dan mengusir mereka dari negara itu sepenuhnya pada akhir tahun 1987.

Gerilyawan Chad dengan kendaraan Pick Up dalam Toyota War tahun 1987. (Sumber: https://www.scaledracula.com/)
Mi-25 Libya ditembak jatuh oleh gerilyawan Chad dalam Pertempuran Fada, reruntuhannya dibawa oleh tentara Prancis ke N’Djamena.

Ouadi-Doum menjadi sinonim untuk bencana militer Libya di Chad. Kurang lebih 1.269 tentara Libya tewas dan 438 – termasuk komandan zona militernya, Kolonel Khalifa Haftar – ditangkap. Daftar peralatan yang dihancurkan atau dirampas terentang panjang. Libya kehilangan 89 tank, termasuk 42 T-55 dan 12 T-62 yang direbut gerilya Chad, bersama dengan 120 BMP-1 dan 400 kendaraan lainnya hancur atau dirampas. Kekuatan Udara Libya juga kehilangan 11 jet latih L-39, 12 SF.260, dua pesawat transport An-26, empat helikopter tempur Mi-25, lima helikopter Mi-8, dua peluncur rudal pertahanan udara SA-6, dua senjata anti pesawat swagerak ZSU-23-4 dan sejumlah besar pasokan bahan bakar, air, dan amunisi. Di antara banyak peralatan militer yang ditinggalkan oleh Libya selama gerak mundur Libya ini, adalah helikopter tempur Mi-25 Hind, versi ekspor dari Mi-24 yang digunakan Tentara Merah Soviet. Hind dengan tanda pengenal Libya ini direbut utuh oleh Pasukan Armees Nationales Chadiennes (FANT) pada April 1987, dengan persenjataan lengkap yang masih ada di helikopter itu. Mi-25 “Hind-D” itu telah ditinggalkan bersama dengan sejumlah kendaraan dan peralatan lainnya dalam pengunduran diri tergesa-gesa tentara Libya dari Ouadi Doum. Hind sangat menarik bagi Amerika Serikat, karena merupakan helikopter tempur terberat di muka bumi pada saat itu dimana kemampuannya membikin penasaran para pilot tempur AS, disamping helikopter itu telah berpartisipasi dalam sejumlah konflik di mana Amerika Serikat memiliki kepentingan aktif, termasuk dalam intervensi Soviet di Afghanistan, Perang Iran-Irak, dan Perang Sipil Nikaragua. Meskipun helikopter AH-64 Apache yang jauh lebih canggih telah memasuki dinas operasional pada pertengahan 1980-an, namun Hind dapat mengangkut hingga delapan pasukan sambil melakukan peran yang hampir sama – sebuah kelebihan dengan kemampuan membawa tim operasi khusus ke berbagai tempat dan disaat yang sama memberikan mereka dukungan udara, dengan satu tipe pesawat. Singkatnya, AS dan negara-negara Barat lainnya ingin mendapatkan Hind. Mereka sangat ingin tahu lebih banyak tentang helikopter itu dan bersedia melakukan segala cara untuk mendapatkannya, terutama untuk tujuan menentukan apakah Amerika perlu merancang, membangun, dan menggelar helikopter yang kemampuannya setara Hind. Proses memperoleh peralatan militer asing untuk menganalisis kemampuan dan kelemahannya, yang dikenal sebagai Foreign Materiel Exploitation, atau FME, tetap menjadi salah satu misi penting bagi militer AS dan Komunitas Intelijennya. Adanya orang-orang Chad, yang lebih dari senang untuk bernegosiasi dengan orang-orang Amerika, memungkinkan CIA untuk mengambil Hind itu untuk dianalisis, tidak gratis tentunya. Amerika kabarnya membayar $ 2 juta kepada Chad dan juga mengirimkan sejumlah rudal Stinger, sebagai “ongkos” mendapatkan Hind Libya itu.

Saat mundur dengan tergesa-gesa, Libya meninggalkan banyak perlengkapan militernya secara utuh di gurun pasir Chad, termasuk helikopter tempur Mi-25D Hind. (Sumber: https://sobchak.wordpress.com/)

Meski tidak gratis tapi tidak perlu dikatakan bahwa mereka tidak akan melewatkan kesempatan seperti yang mereka dapatkan di Chad ini. Masalahnya adalah bahwa Hind yang disebutkan ada di atas berada di padang pasir dan terlebih lagi di daerah yang berbatasan dengan perbatasan dengan Libya. Dihubungi sebelumnya oleh Departemen Luar Negeri AS, pemerintah Chad menyetujui permintaan Amerika hanya setelah negosiasi panjang, tanpa menjamin segala bentuk dukungan. Memang, orang-orang Amerika harus menjalankan seluruh operasi dengan cara mereka sendiri dan dengan kerahasiaan mutlak. Maklum, penguasa Chad – seperti rekan Amerika mereka – tidak menginginkan publisitas apa pun yang dapat menimbulkan reaksi berlebihan dari pihak yang berseberangan, khususnya Libya yang baru saja mereke pecundangi.

Persiapan

Sayangnya, misi semacam itu tidaklah sederhana – pasukan Libya masih banyak beroperasi di dekatnya, dan penggunaan transportasi umum untuk mengangkut Hind tidak diragukan lagi akan mengarah pada publisitas internasional, pertumpahan darah, dan masalah diplomatik. Intinya: Amerika harus memutar otak, dan mereka membutuhkan pilot helikopter yang cukup gila untuk melakukan aksi diam-diam yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Untungnya Amerika Serikat telah memiliki satuan khusus yang memiliki pilot-pilot helikopter yang berani yang jauh dari publisitas, yakni: para awak “helikopter hitam” dari SOAR ke-160, sebuah unit helikopter khusus untuk misi-misi rahasia semacam itu. Diberi kode “Operation Mount Hope, misi ini akan dibagi dalam tiga fase: pada fase awal sebagai persiapan personel USAF dan Angkatan Darat akan berlatih untuk mencuri Hind di Gurun New Mexico.

Pada saat Operasi Mount Hope III diluncurkan, mungkin hanya 3 helikopter berat milik Barat yang bisa melakukan tugas mengangkut Hind dari Afrika, diantaranya adalah CH-54 Tarhe.
Pada akhirnya yang dipilih untuk operasi adalah MH-47 Chinook. (sumber: Pinterest)

Pada April 1988, setelah perencanaan yang matang dan hati-hati di semua tingkatan, sebuah pesawat angkut C-5 Galaxy milik USAF dengan dua helikopter MH-47D SOAR di atas dalamnya dan 75 orang kru dan staf pendukung, berangkat ke White Sands Rudal Range (New Mexico) untuk mempersiapkan misi. Untuk diketahui, White Sands adalah tempat uji coba rudal yang luas yang memanjang hingga lebih dari 8.300 km persegi (seperti wilayah Umbria): tempat yang sempurna untuk melakukan berbagai kegiatan pelatihan yang jauh dari mata-mata yang mengintip. Di New Mexico dilatihkan berbagai skenario yang mungkin terjadi dalam misi itu. Mengangkut sebuah helikopter seberat 17.000 hingga 18.000 pon bukanlah hal yang mudah, untuk mensimulasikan berat Hind, enam tangki yang dapat dilipat berkapasitas 500 galon berisi air digantung pada kait eksternal Chinook. Selanjutnya, mereka menggunakan helikopter sungguhan yang dikonfigurasi untuk mereplikasi berat dan ukuran Mi-25 setepat mungkin. Selama pelatihan, para kru secara alami harus menempuh jarak yang sama yang diperkirakan akan dijalani dalam misi itu. Mereka terbang hanya pada jam menjelang malam dan malam hari (mulai pukul 18:00 dan seterusnya) dengan bantuan perangkat penglihatan malam/NVG (Night Vision Google). Sementara itu untuk melaksanakan misi khusus ini, varian paling canggih dari CH-47 Chinook diuji coba untuk pertama kalinya, dan pada akhirnya ditentukan bahwa MH-47 yang dipilih akan cukup untuk melakukan misi itu. MH-47 adalah CH-47 yang dimodifikasi khusus untuk operasi khusus dan dapat membawa peralatan tambahan seperti FLIR (Forward Looking Infrared), peluncur Chaff dan Flare, peralatan komunikasi tambahan dan kokpit yang kompatibel dengan perangkat NVG (masih jarang digunakan untuk helikopter pada waktu itu). Model ini sayangnya masih tidak mampu melakukan pengisian bahan bakar di udara selama terbang, perangkat ini baru diperkenalkan pada MH-47D versi berikutnya.

Operasi Mount Hope III

Jauhnya jarak yang harus ditempuh Operasi Mount Hope III. (Sumber: https://sobchak.wordpress.com/)

Pada hari-hari berikutnya, tim pelopor kecil/ADVON (advanced echelon) yang dipimpin oleh CW4 Juergen Stark berangkat ke Jerman Barat dan akhirnya terbang ke Chad, di mana mereka mempersiapkan misi sebelum kedatangan tim utama. Mengingat sifat rahasia dari operasi ini, ada kemungkinan tenaga tambahan berasal dari unit pasukan operasi khusus rahasia lainnya seperti Pasukan Delta Force dari Angkatan Darat, Pararescuemen dari Angkatan Udara AS dan seorang ahli bedah penerbangan juga merupakan bagian dari gugus tugas yang melakukan perjalanan ke Ouadi Doum. Beberapa minggu kemudian, dua Chinook dari Kompi E, 160 SOAG (dengan kode “Lead”/ Chalk 1 dan “Chalk 2”) dan 76 personel diterbangkan dengan C-5 Galaxy ke bandara International N’Djamena, yang antara lain juga ditempati kontingen Prancis dan beberapa pesawat tempur Mirage F1 yang dikerahkan sebagai bagian dari Operasi Épervier. Setelah tiba di Ndjamena pada 10 Juni, pilot Night Stalker dan kru membongkar Chinook mereka dari pesawat raksasa C-5 Galaxy. Sekitar tengah malam pada 11 Juni 1988, kedua MH-47 berangkat untuk melakukan penerbangan menembus kedalaman sekitar 800 km (490 mil) di wilayah Chad tanpa bantuan pihak luar untuk navigasi. Mereka dilindungi oleh pesawat-pesawat Mirage F-1 milik Prancis. Terbang sejauh 800 km, untuk pesawat jet jenis Boeing atau Il-76, jelas bukanlah masalah serius, tetapi untuk helikopter yang dalam kondisi ideal hampir tidak pernah terbang melebihi kecepatan 160 knot, jarak sejauh itu merupakan tantangan besar bagi para kru, terutama ketika mereka terpaksa terbang di malam hari, di tengah padang pasir, dengan suhu tinggi dan dengan beban eksternal yang berat serta mampu mengurangi secara serius kinerja helikopter yang digunakan.

Helikopter Chinook didalam kabin pesawat angkut C-5 Galaxy. (Sumber: https://sobchak.wordpress.com/)
Chinook saat sampai di Bandara N’Djamena (Sumber: https://sobchak.wordpress.com/)

Sebagaimana dikonfirmasi oleh laporan intelijen terbaru, Hind yang berharga itu masih diparkir di dekat Ouadi Doum, sebuah kota kecil di bagian utara negara itu yang memiliki pangkalan udara Libya yang ditinggalkan tahun sebelumnya. Pihak intelijen tidak mencatat tanda-tanda aktivitas bermusuhan di dekatnya, sedemikian rupa sehingga pilot Chinook pertama mendarat dengan tenang di dekat Hind seolah-olah mereka berada di antara dataran Kentucky. Ketegangan, bagaimanapun, selalu tetap tinggi, karena tentara Libya ditempatkan tepat di luar jalur Aozou, hanya lebih dari 100 km jauhnya. Dalam kondisi seperti itu, bahkan sebuah pesawat kecil bersenjata seperti L-39 Albatros dapat menimbulkan ancaman serius bagi helikopter tipe apa pun. Dari pintu ramp belakang, beberapa pria dengan cepat mendarat untuk mempersiapkan Mi-25 untuk diangkut. Sementara itu, MH-47 kedua melayang diatasnya menunggu Hind diikat dibawah badannya.

Rencana penempatan Crew “Lead” dan “Chalk 2′ (Sumber: https://www.thedrive.com/)
Gambar kiri; Para Crew berfoto sejenak didepan Mi-25 Libya sebelum meninggalkan Ouadi Doum. Gambar kanan: Chinook meninggalkan pangkalan udara Ouadi Doum. (Sumber: https://sobchak.wordpress.com/)
C-130 Hercules menanti Chinook di Faya Largue, Chad untuk melaksanakan misi pengisian bahan bakar. (Sumber: https://sobchak.wordpress.com/)
Meski menghadapi badai, namun proses evakuasi Hind terhitung lancar. (Sumber: https://sobchak.wordpress.com/)
In total the two Chinooks flew 1600 km (994 miles) with maximum temperatures reaching 54 degrees centigrade. (Sumber: https://sobchak.wordpress.com/)
Misi Sukses! (Sumber: https://sobchak.wordpress.com/)

Hind itu memang benda yang besar dan berat, dengan panjangnya 17 setengah meter (seperti pesawat tempur F-22) dan dengan berat kosong lebih dari 8 ton. Pada saat itu mungkin hanya tiga atau empat helikopter barat (Diantaranya CH-54 Tarhe, keluarga CH-53 dan mungkin CH-37 Mojave) yang dapat melakukan operasi semacam ini. Chalk 2 kemudian meninggalkan daerah itu untuk kembali ke Ndjamena. Sementara itu tentara-tentara Libya tetap tidak menyadari adanya aktivitas yang tidak biasa hanya beberapa mil dari markas mereka berada. Setelah membantu proses pengangkutan Hind ke Chalk 2, Chalk 1 mengangkut tim tersisa dan keluar dari area itu. Setelah muatan dikaitkan dan diamankan dalam waktu 45 menit, kedua Chinook menuju aerodrome Faya-Largeau yang sudah ditinggalkan, di mana USAF sebelumnya mengirim C-130 untuk membuat Titik Pertemuan dan Pengisian Bahan Bakar Garis Depan (FARP) di pangkalan udara milik Legiun Asing yang digunakan untuk melakukan pengisian bahan bakar untuk kedua CH -47. Setelah tanki diisi, Lead dan Chalk 2 pergi untuk melakukan perjalanan panjang yang akan membawa mereka ke FARP kedua, kali ini didirikan di Moussora, timur laut bandara N’Djamena. Sayangnya dalam perjalanan kembali, Nightstalker (nama panggilan dari SOAG ke-160) dikejutkan oleh badai pasir yang terus-menerus yang tampak seperti awan setinggi 3000 kaki yang tak terbatas (kondisi cuaca yang sama dengan yang menimpa Operasi Eagle Claw yang gagal 8 tahun sebelumnya). Hal yang tak terduga ini memaksa kedua pilot CH-47 untuk berpisah (untuk menghindari kemungkinan tabrakan) dan terbang melambat pada kecepatan di bawah 80 km/jam. Setelah mendarat di N’Djamena, badai pasir kedua lebih lanjut menunda operasi pemuatan Hind kedalam C-5. Tapi selain dari dua badai pasir, segalanya berjalan lancar. 67 jam setelah kedatangan Galaxy di Chad, mereka yang terlibat dalam Operation Mount Hope III bergegas pulang ke rumah dengan barang rampasan yang didambakannya. Total dua Chinooks terbang sejauh 1.600 km (994 mil) dengan suhu maksimum mencapai 54 derajat celcius. Perlu diingat, bahwa saat itu insiden hilangnya sebuah C-130 dan helikopter RH-53 D Sea Stalion yang hancur selama Operasi Eagle Claw di Iran beberapa tahun sebelumnya masih segar di benak semua orang, jadi keselamatan dan perhatian terhadap detail sangat penting – dan hasilnya ternyata tidak mengecewakan.

Dirahasiakan

Misi ini, walaupun bersejarah dan layak mendapat ketenaran, tidak dipublikasikan secara luas, meskipun hal itu tidak sedikit pun mengganggu SOAR ke-160: lagipula, untuk misi semacam itu memang dilakukan dalam “kegelapan”. Sayangnya, kita tidak tahu apakah ada MH-47 lainnya milik 160th SOAR telah melakukan operasi lain secara diam-diam mengangkut pesawat musuh atau tidak. Untuk satuan 160th SOAR, yang terbentuk pada tahun 1981, operasi di Chad adalah pencapaian besar yang melibatkan perencanaan misi yang kompleks dengan jarak yang jauh. Operasi ini juga membuktikan bahwa unit ini dapat melakukan operasi angkut berat dalam kondisi yang tidak biasa dan berbahaya. Hampir dapat dipastikan bahwa organisasi ini juga menerapkan beberapa pelajaran yang dapat diambil pada tahun 1989 selama Operasi Just Cause di Panama, yang melibatkan pengiriman jarak jauh MH-47. Pada tahun 1991, satuan 160th SOAR menunjukkan kemampuannya di lingkungan gurun lagi selama Operasi Badai Gurun di Kuwait dan Irak. 160th telah menjadi unit helikopter operasi khusus militer utama A.S., Mengambil bagian dalam sejumlah misi berbeda di seluruh dunia dalam lebih dari tiga dekade sejak Mount Hope III – dan kemungkinan lebih banyak yang mungkin tidak pernah kita dengar. Secara terpisah, CH-47 dan MH-47 Chinook yang ada di Angkatan Darat A.S. kemudian menjadi platform utama operasi serbuan udara, terutama untuk operasi yang masih berlangsung di Afghanistan.

Tidak diketahui apakah Amerika pernah melakukan misi lain serupa dengan Operasi Mount Hope III atau tidak. (Sumber: https://sobchak.wordpress.com/)
https://www.youtube.com/watch?v=dPz7O8JgUhs
Operation Mount Hope III

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Operation Mount Hope: How the CIA stole a Russian Hind-D gunship in the dead of night by Andy Wolf; 4 Oct 2019

https://warisboring.com/operation-mount-hope-how-the-cia-stole-a-russian-hind-d-gunship-in-the-dead-of-night/

Shopping in Chad: Operation Mount Hope III

https://sobchak.wordpress.com/tag/operation-mount-hope-iii/

Operation Mount Hope III: That time U.S. used MH-47D Chinooks helicopter to steal a Russian Mil Mi-25 “Hind-D” helicopter

https://fighterjetsworld.com/air/operation-mount-hope-iii-that-time-u-s-used-mh-47d-chinooks-helicopter-to-stole-a-russian-mil-mi-25-hind-d-helicopter/13696/

The Pentagon Scooped Up Soviet Weapons in Chad in 1987 and ’88 by Arnaud Delalande, 22 January 2018

https://warisboring.com/49425-2/

Night Stalker MH-47D Chinooks Once Snatched A Libyan Hind Gunship From Chad by Joseph Trevithick; 16 May 2018

https://www.thedrive.com/the-war-zone/20890/night-stalker-mh-47d-chinooks-once-snatched-a-libyan-hind-gunship-from-chad

The US Army’s Night Stalkers Once Helped Steal an Attack Helicopter From the African Desert by Ian D’Costa

https://www.google.com/amp/s/tacairnet.com/2015/05/12/hind-heist/amp/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *