Sepak Terjang Skuadron Udara ke-18, AU Hindia Belanda dalam Perang Pasifik (1942-1945)

Tentara Kerajaan Belanda dan Hindia Belanda telah beroperasi dari Australia sebagai bagian dari pasukan sekutu yang berperang melawan Jepang selama Perang Dunia Kedua. Belanda dan AS adalah satu-satunya pasukan sekutu dari negara non-Persemakmuran Inggris yang mendirikan pangkalan di Australia selama perang. Ketika Hindia Belanda (sekarang Indonesia) jatuh ke tangan Jepang, sisa-sisa dari angkatan laut, darat, udara, dan armada kapal dagang Kerajaan Belanda dipindahkan ke Australia. Mereka bergabung di sini bersama dengan orang-orang Belanda dari Eropa dan daerah lain untuk membentuk satuan tempur dan pendukung. Beroperasi dari pangkalan-pangkalan Australia selama masa sisa perang, pasukan Belanda ini turut memberikan kontribusi penting untuk pertahanan Australia dan kemenangan akhir sekutu. Sebelumnya Ratu Wilhelmina dari Belanda telah mengumumkan bahwa pemerintahnya mendeklarasikan perang terhadap Jepang pada tahun 1941, sehingga hal ini membuat orang-orang Belanda dan Australia bersekutu dalam perjuangan melawan Jepang.

Perwira Belanda memberikan medali kepada Crew Udara. Setelah Pulau Jawa jatuh, personel militer ex Hindia Belanda membentuk kekuatan baru di Australia. (Sumber: https://www.ozatwar.com/)

Pembentukan Skuadron Udara ke-18

Jepang menyerang Pearl Harbor pada tanggal 7 Desember 1941, dan dalam tiga bulan berikutnya menaklukkan sebagian besar wilayah Asia Tenggara dan pulau-pulau di utara Australia. Filipina jatuh dengan cepat (kecuali pasukan yang bertahan di Bataan), bersama dengan Semenanjung Melayu dan pangkalan penting Inggris di Singapura. Begitu cepatnya kemajuan Jepang sehingga hanya dalam waktu sepuluh minggu setelah meluluh-lantakkan Pearl Harbor, mereka telah menyerang Darwin, kota terpenting Australia di bagian utara. Karena ingin mendapatkan sumber daya penting untuk kebutuhan perang mereka, khususnya minyak dan karet, Jepang dengan cepat bergerak menuju Hindia Belanda (Indonesia). Menghadapi ancaman Jepang, Belanda telah membangun pasukan darat dan laut, masing-masing dengan dukungan udara, di wilayah Hindia Belanda (Netherland East Indies/N.E.I.). Pasukan NEI ini menjadi bagian dari aliansi Amerika, Inggris, Belanda dan Australia (ABDA) yang dibentuk dengan tergesa-gesa untuk melawan Jepang. Sayangnya, ABDA tidak punya waktu untuk menjadi kekuatan yang kohesif dan meskipun banyak satuan yang bertempur dengan berani, mereka bukanlah tandingan Jepang yang sangat terlatih, diperlengkapi dan dipimpin dengan baik.

HMS Exeter tenggelam dalam Pertempuran Laut Jawa, 1942 (Sumber: https://www.hlj.com/)

Ketika Angkatan Laut Kekaisaran Jepang menghancurkan kapal penjelajah tempur Belanda, De Ruyter dan Java (Belanda), HMAS Perth (Australia) dan USS Houston (Amerika) untuk memenangkan Pertempuran Laut Jawa pada 26 Februari 1942, semua peluang menyelamatkan NEI telah pupus. Elemen-elemen pasukan NEI yang terpilih kemudian dipindahkan ke negara-negara sekutu, termasuk Australia. Dalam beberapa hal, Australia adalah pilihan terakhir karena Australia sendiri juga terancam. Dalam mengevakuasi personel dari NEI, prioritas utama diberikan kepada awak pesawat, dan terutama untuk pilot, yang pelatihannya memakan waktu dan mahal. Sebagai hasil dari kebijakan ini, pada akhir Maret 1942 ada lebih dari 100 penerbang Belanda telah di Australia, sedikit dari mereka datang dengan pesawat terbang, tetapi sebagian besar memiliki motivasi kuat untuk menyerang balik musuh dengan berbagai cara. Jepang telah pindah ke Papua Nugini utara, sambil berharap untuk dapat segera mengambil alih seluruh pulau ini. Menguasai Papua akan membantu menegaskan dominasi mereka atas wilayah utara Australia, yang pada akhirnya akan meminimalisir kegunaan Australia sebagai basis serangan balik sekutu. Kemampuan mereka untuk menyerang Australia juga akan lebih bisa ditingkatkan, jika mereka bisa menguasai Papua bagian selatan. Menolak kendali Jepang atas Papua dan ancaman terhadap Australia dengan demikian menjadi strategi utama sekutu. Pertempuran Laut Koral kemudian berhasil mencegah pasukan Angkatan Laut Jepang membantu mengambil alih wilayah selatan Papua. Semuanya sekarang tergantung pada pertempuran di darat dan udara. Di sinilah pasukan NEI yang direlokasi memainkan peran penting dan menentukan. Pasukan NEI yang direlokasi ke Australia termasuk enam kapal perang, sembilan kapal selam, lebih dari 1.000 tentara dan sejumlah pesawat, sebagian besar pesawat angkut. Sumber daya tambahan ini disambut dengan hangat dan dengan cepat diintegrasikan dengan pasukan Sekutu.

Kapal-kapal Belanda yang mengungsi ke Australia turut berperan aktif dalam membantu sekutu melawan Jepang di Pasifik selama Perang Dunia II. (Sumber: https://www.battleforaustralia.asn.au/)

Beberapa skuadron udara dengan awak Belanda kemudan diorganisasi, yang pertama adalah Skuadron No. 18 RAAF yang dibentuk pada 4 April 1942 di Pangkalan Udara Fairbairn di Canberra. Sebagian besar anggota Skuadron Udara ke-18 adalah para penerbang yang telah melarikan diri dari wilayah Jajahan Belanda ketika Jepang menyerbu Asia Tenggara pada akhir tahun 1941 dan awal 1942. Ketika sampai di Australia, pilot-pilot berpengalaman Belanda itu tentunya disambut dengan tangan terbuka oleh Angkatan Udara Australia (RAAF). Komandan pertama unit itu adalah Letnan Kolonel B.J. Fiedeldij. Sementara orang Australia menyediakan fasilitas pendukung, peralatan untuk unit baru itu datang dari Amerika Serikat. Belanda menjadi pemerintah pertama di pengasingan yang menerima Bomber Medium North American B-25 Mitchell melalui skema Lend-Lease. Rencana awal adalah untuk mengirimkan 18 pembom menengah itu ke dalam skuadron baru, tetapi karena perkembangan berbagai peristiwa yang berlangsung cepat semua kecuali lima dibelokkan pada saat-saat terakhir ke unit-unit Amerika yang beroperasi di Papua. Akhirnya, skuadron baru Belanda itu menerima pesawat campuran yang terdiri dari lima B-25C dan 10 Douglas A-20A dan DB-7N Boston. Dalam rangka membiasakan diri dengan pesawat baru mereka, pilot dan kru Skuadron No. 18 menerbangkan patroli anti-kapal selam diluar wilayah Canberra, Moryua dan Jervis Bay. Kebanyakan awak darat dari satuan ini adalah orang-orang Australia dari RAAF karena Belanda kekurangan personel, terutama penembak udara dan awak darat. Para personel Australia diadministrasikan dalam komponen terpisah dibawah pimpinan komandan skuadron. Pesawat-pesawat B-25 ini membentuk skuadron komposit di dalam RAAF dan menerbangkan lebih dari 900 sorti operasional selama Perang Dunia II. Pada bulan Juni 1942, skuadron ini terdiri dari 242 personel Belanda (dan sedikit orang Jawa dari Jajahannya di Hindia Belanda) dan 206 personel Australia. Skuadron dipimpin oleh perwira Belanda tetapi berada di bawah komando operasional RAAF, menjadi bagian dari Wing ke-79. Meskipun unit tersebut dianggap sebagai bagian dari pasukan NEI, persyaratan operasional menentukan bahwa ia harus mengikuti struktur organisasi RAAF. Disiplin dan administrasi untuk personel Belanda sedapat mungkin menyesuaikan dengan yang berlaku di unit ML-KNIL (AU Hindia Belanda) biasa, sementara sebagai unit terpisah tapi terintegrasi, di bawah komando Australia, yang dikendalikan oleh personel RAAF. Sebagai pengakuan atas kedaulatan mereka, pesawat skuadron ini boleh memasang bendera Belanda dan bukan logo RAAF serta kode identifikasi “A47” Australia, dimana untuk pesawat-pesawat Mitchell Belanda digunakan kode “N5”.

B-25 Mitchell Skuadron Udara Ke-18 NEI di Pangkalan Udara Fairbairn. (Sumber: https://www.ozatwar.com/)
Bomber DB-7 Boston bekas NEI. (Sumber: https://www.key.aero/)

Pada tanggal 5 Juni 1942, skuadron ini menyerang sebuah kapal selam Jepang yang bersembunyi di dekat Sydney. Kapal selam mini Jepang ini ada di sekitar 115 km sebelah timur Sydney diserang oleh B-25 yang dipiloti Kapten Gus Winckel. Rupanya kapal selam mini itu, baru saja menyerang Sydney, kemudian menghilang dan tidak bisa bertemu dengan kapal induknya ketika terlihat di permukaan. Meskipun kapal selam itu berhasil melarikan diri, kinerja para personel AU Hindia Belanda dalam operasi pertempuran nyata pertama mereka itu menyebabkan beberapa perubahan yang signifikan. Pertama, pada 6 Juli, unit ini dibubarkan sebagai skuadron RAAF dan direorganisasi sebagai bagian dari Angkatan Udara Hindia Belanda. Sekarang mereka yang secara resmi disebut sebagai Skuadron No 18 NEI (bukan lagi RAAF), akhirnya menerima pesawat yang semula dijanjikan, dengan datangnya 18 pesawat B-25 baru antara 23 Agustus-18 September 1942 untuk menggantikan pembom Boston. Pada 5 Desember, skuadron berpindah ke landasan udara di MacDonald, Wilayah Northern Teritory.

Misi Tempur

Di tahun baru 1943, skuadron ini memikul tanggung jawab untuk melakukan penerbangan pengintaian di Hindia Belanda dan untuk menyerang lapangan-lapangan udara Jepang, instalasi dan arus perkapalan di daerah tersebut bila situasi memungkinkan. Mereka juga mendukung operasi gerilyawan Sekutu di Timor dengan menjatuhkan pasokan yang sangat dibutuhkan. Penerbangan operasional pertama mereka adalah patroli pengintaian pada 18 Januari 1943 ke Kepulauan Tanimbar untuk mencari kapal musuh yang dilaporkan ada disana. Pada tanggal 19 Januari 1943, pesawat skuadron ini melakukan perjumpaan pertama dengan pesawat Jepang ketika menangkis serangan pesawat tempur musuh saat melakukan pengintaian atas Kepulauan Kei. Hari berikutnya mereka mencetak kemenangan pertama, menjatuhkan dua pesawat tempur Mitsubishi A6M2 “Zeke” diatas Fuiloro dan sebuah pesawat seaplane pengintai Nakajima E8N1 “Dave” di Dobo di Timor. Pada tanggal 31 Januari 1943, ketika kembali dari serangan fajar di Dili, dua Mitchell dari skuadron ke-18 melakukan pendaratan darurat karena kekurangan bahan bakar, tidak ada korban dalam insiden ini. Skuadron No.18 menderita kerugian pertamanya pada 5 Februari 1943 ketika sebuah B-25 jatuh saat kembali dari misi.

ML-KNIL Observer Wing (Sumber: https://www.awm.gov.au/)

Serangan ke Dili pada 18 Februari 1943 berakhir dengan satu kemenangan lagi tetapi kehilangan satu Mitchell (Nomor seri N5-144 jatuh ke laut ditembak opeh Jepang) saat 6 B-25 satuan ini disergap oleh 2 pesawat Zero. Para kru dari Mitchell yang jatuh itu terlihat ada di perahu penyelamat mereka oleh Mitchell lain ketika sedang meninggalkan wilayah itu, dengan bahan bakar menipis. Tiga pesawat Hudson kemudian menjatuhkan perbekalan ke kru yang jatuh, yang kemudian diselamatkan oleh HMAS Vendetta. Kemudian diketahui bahwa pilot dan pengebom telah tertembak mati dan co-pilotnya terluka oleh berondongan Zero. Sementara menunggu penyelamatan, mereka telah diserang oleh hiu besar yang berusaha menggigit punggung co-pilot yang terluka. Mereka juga harus mengusir burung laut besar yang menyerang mereka. Mitchell dari Skuadron No-18 menderita sejumlah pendaratan darurat saat kembali ke pangkalan mereka di lapangan udara McDonald. Misi pemboman mereka yang panjang, sering kali berarti mereka kembali dengan bahan bakar yang menipis. Kemudian serangan di bulan itu juga menyumbang satu lagi Zeke yang berhasil hancur, dengan satu kemungkinan dan merusak tiga lainnya.

Gabungan Crew Belanda-Australia B-25 Mitchell dengan nomor N5-131 di Pangkalan Udara MacDonald. (Sumber: https://www.awm.gov.au/)

Tempo operasi kemudian meningkat secara dramatis pada bulan April ketika skuadron No.18 bergabung dengan Skuadron RAAF No. 31 dan skuadron Pengebom ke-319 Korps Udara Angkatan Darat AS dalam serangan harian di wilayah yang dikuasai musuh. Pada bulan April 1943, Skuadron 18 (NEI), bersama dengan pesawat/pesawat Serang darat Beaufighter dari Skuadron 31 RAAF, dan B-24 Liberator dari Skuadron Pembom ke-319, menerbangkan serangan hampir setiap hari di pangkalan-pangkalan musuh dan perkapalan lawan. Pada tanggal 18 April 1943, 13 Hudson dari Skuadron ke-2 RAAF, dan 9 Mitchell dari Skuadron ke-18 (NEI) melakukan serangan malam hari pada Penfui. Pesawat-pesawat dari Skuadron ke-18 (NEI) adalah yang pertama kali menyerang. Mereka menghadapi tembakan Anti Pesawat yang berat. Pada 2 Mei 1943, Skuadron ke-18 (NEI) membom Penfui dengan bantuan cahaya dari peluru suar. Sementara Pada 6 Mei 1943, mereka membom Dili di Timor. Skuadron ke-18 (NEI) yang melakukan banyak serangan terhadap kapal Jepang yang terbukti menjalankan misi yang sangat berbahaya. Pada beberapa kesempatan, bom meledak sebelum pesawat mereka sepenuhnya meninggalkan area pemboman karena kesalahan setting delayed-action fuse pada bom yang dilepaskan. Menyusul di belakang garis depan Sekutu yang bergerak maju, pada 8 Mei skuadron pindah ke Batchelor, Wilayah Utara, untuk melakukan penerbangan pengintaian di atas Pulau Somniloquy-Tanimbar dan Laha-Ambon pada tanggal 11 Mei, menandai misi pertama dari Batchelor.

No 18 Squadron, NEI, Batchelor, 1944. B-25 Mitchells N5-230 and N5-226. (Sumber: https://www.ozatwar.com/)

Pada 11 Juni 1943, Fiedeldij menyerahkan komando Skuadron kepada Letnan Kolonel J.J. Zomer. Meski banyak menderita kerugian personel, Skuadron ke-18 (NEI) cukup lama tidak mendapat penggantian personel. Pada bulan September, personel pengganti tiba. Berbeda dengan kru pertama — banyak di antara mereka telah terbang di daerah jajahan Belanda sebelum perang — orang-orang baru kebanyakan berasal dari Belanda dan lewat jalur yang bervariasi dari tanah air mereka untuk bisa mengikuti sekolah terbang yang dikelola Belanda di Jackson, Mississippi. Yang juga dihargai selain sebagai tenaga pengganti adalah pesawat yang mereka bawa — versi terbaru pembom Mitchell, B-25D yang dilengkapi dengan persenjataan yang lebih berat di bagian hidung pesawat, yang amat berguna dalam misi straffing sasaran darat. Dipersenjatai dengan pesawat yang mampu melakukan serangan penembakan di ketinggian rendah atas sasaran perkapalan musuh, skuadron kemudian menyerang bala bantuan Jepang yang dikirim menuju Papua, dan di depot fasilitas angkatan laut musuh di pulau-pulau Timor, Ambon dan Kei dan Aru. Skuadron itu sendiri memiliki badge Skuadron yang menggambarkan seorang istri petani Belanda menyapu debu dengan sapu yang besar. Lambang ini dikenal sebagai “Penyapu Belanda”, yang juga sebagai pengakuan atas keberhasilan mereka dalam melawan Jepang (dalam menyapu musuh tentunya!). Ketika kehadiran Jepang di NEI timur menurun, pemerintah Belanda meminta agar Skuadron No. 18 (NEI) dapat dilengkapi dengan pembom berat B-24 Liberator yang jaraknya lebih jauh sehingga dapat menjangkau sasaran lebih jauh di NEI Barat, tetapi ditolak dan skuadron terpaksa harus terus mengoperasikan B-25.

B-25 Mitchell Belanda crash di Exmouth (Sumber: https://www.ozatwar.com/)

Pada bulan Desember 1943, Skuadron ke-18 (NEI) dan Skuadron ke-31 RAAF bersama-sama menyerang armada perkapalan Jepang. Pada 15 Desember 1943, delapan Beaufighter dari Skuadron ke-31 menyerang Manatuto di mana mereka menenggelamkan dua tongkang dan merusak enam kapal layar. Mereka kemudian menyerang konvoi dan menenggelamkan kapal seberat 500 ton. Sore itu, lima Mitchell dari Skuadron ke-18 (NEI) menyerang konvoi yang sama, dimana mereka menenggelamkan “Wakatsu Maru” yang berbobot 5.123 ton. Beaufighters melanjutkan serangan pada konvoi itu keesokan harinya. Pilot-pilot Belanda kemudian akan menenggelamkan 6 kapal Jepang tambahan berbobot total 25.545 ton ditambah beberapa kapal musuh lainnya antara 17 November 1943, dan 4 Januari 1944. Pada 8 Maret 1944, sejumlah Skuadron RAAF diperintahkan untuk melakukan pergerakan darurat yang telah diatur sebelumnya untuk menghadapi dugaan serangan angkatan laut Jepang terhadap pelabuhan Fremantle di Australia Barat. Sebagai bagian dari pergerakan ini, Skuadron ke-18 (NEI) dan Skuadron ke-31 RAAF dipindahkan ke lapangan terbang Learmonth di Teluk Exmouth pada tanggal 10 Maret 1944. Skuadron ke-18 (NEI) yang pindah ke area latihan adalah enam belas B-25 Mitchell dan delapan pesawat angkut C -47 Dakota. Skuadron ke-120 (NEI) juga dipindahkan dari Canberra ke Teluk Exmouth. Serangan Jepang tidak pernah terjadi dan pada tanggal 20 Maret 1944 semua skuadron diperintahkan kembali ke markas asli mereka. Skuadron ke-18 (NEI) kembali ke Batchelor pada tanggal 23 Maret 1944. Mereka melanjutkan operasi dari Batchelor pada tanggal 30 Maret 1944 ketika delapan B-25 Mitchell membom Penfoei. Sekitar waktu ini mereka menerima batch baru B-25 Mitchell yang dilengkapi dengan senjata pada ekornya.

No 18 Squadron, NEI, Batchelor, May 1944. Capt Ajses and GpCapt Charles Eaton, OC No 79 Wing. (Sumber: https://www.ozatwar.com/)

Pada April 1944, Letnan Kolonel E.J.G. teRoller mengambil alih komando dan memimpin skuadron melakukan serangan harian ke Kupang, Dili, Penfui dan Lauliem. Serangan terbesar, yang dilakukan pada 19 April 1944, di Su Barracks, dilakukan oleh 12 pembom Mitchell Skuadron ke-18 dengan didukung oleh 8 Pesawat tempur Beaufighter dan 15 Beaufort dari Skuadron ke-1 RAAF. Selama Mei 1944, berbagai sasaran di Timor terus-menerus diserang oleh Skuadron No. 1, Skuadron No. 31 RAAF dan Skuadron No. 18 (NEI). Pada 18 Mei 1944, sebuah Mitchell nomor seri N5-177, dari Squadron ke-18 (NEI) ditembak jatuh oleh tembakan AA ketika sedang memberondong desa Saumlaki. Sementara itu pada tanggal 23 Mei 1944, sebuah Mitchell lainnya, dengan nomor seri N5-162 hilang karena tembakan AA selama melakukan penyerangan di Timor. Hal yang lebih buruk datang, dalam serangan tanggal 23 Juni 1944 atas kapal-kapal Jepang di dekat Pulau Tioor, bomber dimana teRoller menjadi co-pilot meledak dan jatuh ke laut karena terkena tembakan anti pesawat. Pada 1 Juli, Letnan Kolonel D. L. Asje mengambil alih komando dan skuadron menerbangkan 107 sortie serangan bulan itu. Pada bulan Juli 1944, Skuadron 18 (NEI) bersama dengan Skuadron RAAF No. 2 dan 31, menyerang pergerakan kapal tongkang musuh antara Pulau Timor Babar, Sermata dan Leti. Pada tanggal 29 Juli 1944, sembilan Mitchell dari Skuadron No.2 RAAF dan sembilan Mitchell dari Skuadron ke-18 (NEI) Skuadron menyerang Penfui saat matahari terbenam. Sekitar masa inilah pesawat-pesawat Skuadron ke-18 menerbangkan misi siang hari 14 jam menuju kamp-kamp interniran di Jawa untuk menjatuhkan selebaran.

18 Squadron personnel assembled, possibly at Batchelor Airfield. The short fellow with the moustache and pith helmet is Fred “Pul” Pelder who was the pilot whose name is on the restored B-25 Mitchell in Adelaide. The man to the right of him, also with a moustache and sunglasses, is Ros Van Loggem. Both were Dutch members of the Squadron. ( https://www.ozatwar.com/)

Pada bulan Oktober, Asje digantikan oleh Letnan Kolonel M. Van Haselan. Bekerja sama dengan Skuadron RAAF No. 2, pasukan pembom gabungan Sekutu bertanggung jawab atas 54 kapal musuh yang berhasil ditenggelamkan. Salah satu kesuksesan paling menonjol terjadi pada 6 November, ketika pembom-pembom dari Skuadron No.2 RAAF dan Skuadron No.18 (NEI) yang diterbangkan orang-orang Australia dan Belanda berhasil menenggelamkan “Special Submarine Chaser” 118 saat menyerang Waingapu, Pulau Sumba. Kemudian pada bulan November 1944, kedua skuadron menemggelamkan 2 kapal dagang kecil diluar pantai Timor. Pada bulan Februari 1945 terjadi perpindahan pangkalan lagi, kali ini di pulau New Britain. Pada tanggal 25, Skuadron No. 18 menerima perintah untuk memulai operasi di Jacquinot Bay. Ketika mereka menerima berita itu, banyak orang awak skuadron memprotes, sebaliknya mereka ingin menjalankan misi tempur mereka di Hindia Timur, yang dianggap banyak orang sebagai rumah mereka sendiri. Jenderal Douglas MacArthur mendengar permohonan mereka dan perintah itu kemudian diubah menjadi menyerang target Morotai di kepulauan Halmahera. Saat membuat persiapan akhir untuk langkah yang ditunggu-tunggu, skuadron itu berhasil memergoki konvoi pasukan Jepang yang berlayar di Laut Flores pada 6 April. Sebelas Mitchells dari Skuadron ke-18 (NEI) dan sepuluh B-24 dari Squadron ke-21 RAAF menyerang konvoi Jepang itu, yang dikawal oleh kapal penjelajah ringan Isuzu. Mereka sedang mengevakuasi pasukan Jepang dari Timor. Dua B-24 ditembak jatuh oleh pesawat Jepang yang melindungi konvoi. Sementara itu Mitchell dari Skuadron ke-18 (NEI) mencetak dua hantaman langsung pada Isuzu. Isuzu yang rusak parah menjadi mangsa yang tidak berdaya keesokan harinya, ketika ditenggelamkan oleh kapal selam Char dan Gabilan.

Berakhirnya Perang

Pada 15 Juli, skuadron Belanda ini diperintahkan ke Balikpapan alih-alih ke Morotai. Mereka tiba di Balikpapan pada 17 Juli 1945. Aktivitas utama mereka di Balikpapan adalah menjatuhkan selebaran, makanan dan perbekalan yang dikirim ke kamp-kamp tawanan di Kalimantan, Sulawesi dan Jawa. Ketika sedang terbang dalam sebuah misi untuk mengirim perbekalan ke tahanan Sekutu, tiba berita bahwa Jepang telah menyerah. Pada 8 September 1945, Mitchell dari Skuadron No.2 RAAF dan Skuadron No. 18 (NEI) menerbangkan misi perlindungan udara untuk menerima penyerahan diri komandan Jepang di HMAS Burdekin. Pada 21 September 1945, 18 (NEI) Squadron memberikan perlindungan udara untuk Divisi Australia ke-7 ketika mereka mendarat di Makassar. Personel RAAF pada Skuadron ke-18 (NEI) ditarik pada tanggal 25 November 1945 dan kendali operasional Skuadron sepenuhnya dikembalikan kepada Belanda pada tanggal 15 Januari 1946. Selama masa Perang Dunia ke II, 90 orang Belanda dan 25 orang Australia telah gugur ketika bertugas dengan skuadron No. 18. Sekarang dihadapkan dengan usaha untuk mempertahankan tanah jajahan Belanda yang baru saja dibebaskan, Skuadron No. 18 kemudian dikirim ke Pangkalan Udara Tjililitan di Pulau Jawa untuk mendukung operasi marinir Belanda dalam upaya mereka untuk meredam pemberontakan kaum nasionalis Indonesia yang telah memutuskan bahwa mereka tidak mau lagi ada dibawah jajahan Belanda. Selama Perang Kemerdekaan Indonesia, skuadron No.18 menerbangkan berbagai misi termasuk misi pengintaian, pemboman dan dukungan udara jarak dekat kepada pasukan Belanda yang berperang melawan Pejuang Indonesia. Setelah berakhirnya pemerintahan Belanda di Hindia Belanda (kini Indonesia), Skuadron No. 18 adalah skuadron terakhir yang diserahkan kepada pemerintah Indonesia dan dibubarkan pada tanggal 26 Juli 1950. Sebanyak 4.000 personel dari 38 kebangsaan pernah bertugas di skuadron ini selama delapan tahun keberadaannya.

Pembubaran Squadron Udara ke-18 NEI (Sumber: https://www.ozatwar.com/)

Beberapa ribu pengungsi Belanda telah melarikan diri ke Australia pada tahun 1942 dan Pemerintah Hindia Belanda di Pengasingan yang berpusat di Brisbane selama 1944-45, adalah satu-satunya pemerintah asing yang didirikan di Australia selama perang. Bersama dengan personel Angkatan Bersenjata Belanda, jumlah orang Belanda di Australia selama perang menjadi lebih dari 10.000. Beberapa kemudian sebagian menetap di Australia, membantu mengingatkan tentang kontribusi besar yang dilakukan oleh rekan sebangsa mereka untuk membela negara baru mereka pada masa-masa tergelapnya. Memorial peringatan pasukan Belanda-Australia di Canberra terdiri dari empat panel kemudian didirikan untuk memperingati kontribusi angkatan laut, darat, udara dan kapal dagang Belanda, bersama dengan panel besar yang menampilkan singa perunggu lambang Belanda. Peringatan ini secara resmi diresmikan Gubernur Jenderal Mr. Bill Hayden pada tanggal 7 Desember 1991. Pembangunan kembali Kompleks Pertahanan di Russell mengharuskan agar Peringatan Belanda Australia dipindah pada tahun 1997. Karena unsur-unsur penting Peringatan tidak dapat dipindahkan, diputuskan kemudian dibuat untuk merancang dan membangun sebuah Peringatan baru. Peringatan Belanda Australia yang baru diresmikan kembali pada tanggal 7 Desember 1999.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Commands: 18th Netherlands East Indies Squadron By James Marino

The NEI Naval and Air support in the Battle for Australia Researched and Written by Doug Hurst MBE

http://navyleag.customer.netspace.net.au/sd_05nei.htm

NETHERLANDS EAST INDIES AIR FORCE IN AUSTRALIA DURING WW2

https://www.ozatwar.com/nei-af.htm

Allies in adversity, Australia and the Dutch in the Pacific War: No. 18 (NEI) Squadron, RAAF

https://www.awm.gov.au/visit/exhibitions/alliesinadversity/australia/nei

https://en.m.wikipedia.org/wiki/No._18_(Netherlands_East_Indies)_Squadron_RAAF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *