Perang Vietnam

Penaklukan Saigon Tahun 1861: Momen Krusial Kolonialisasi Prancis di Vietnam

Penaklukan Prancis atas Vietnam (1858–1885) adalah sebuah perang yang panjang dan terbatas antara Kekaisaran Prancis Kedua, kemudian Republik Ketiga Prancis dan kekaisaran Vietnam pada pertengahan akhir abad ke-19. Akhir dan hasilnya adalah kemenangan bagi Prancis saat mereka mengalahkan Vietnam dan sekutu China mereka pada tahun 1885, yang berlanjut dengan penggabungan Vietnam, Laos, dan Kamboja, dan akhirnya menetapkan kekuasaan Prancis atas wilayah konstituen Indochina Prancis di Daratan Asia Tenggara pada tahun 1887. Salah satu episode penting dari penaklukan Prancis di Indochina ini adalah pertempuran di Saigon pada tahun 1861. Pertempuran ini diawali dengan pengepungan kota Saigon selama 11 bulan (sekarang Kota Ho Chi Minh) di Vietnam antara bulan Maret 1860–Februari 1861 oleh orang-orang Vietnam melawan pasukan Prancis dan Spanyol dalam upaya menolak kendali negara-negara barat itu terhadap kawasan Indochina.

Penaklukan Prancis atas Vietnam (1858–1885) adalah sebuah perang yang panjang dan terbatas, namun brutal antara Kekaisaran Prancis Kedua, kemudian Republik Ketiga Prancis dan kekaisaran Vietnam pada pertengahan akhir abad ke-19. (Sumber: https://www.alamy.com/)

LATAR BELAKANG

Pada tanggal 31 Agustus 1858, Laksamana Muda Charles Rigault de Genouilly, komandan pasukan Prancis di Timur Jauh, berlayar ke Teluk Tourane dengan 14 kapal dari Divisi Angkatan Laut Laut China-Prancis. Tourane (sekarang dikenal sebagai Da Nang) adalah pelabuhan perdagangan utama di pantai tengah Vietnam. Hari berikutnya, kapal de Genouilly menembaki dan menetralisir posisi meriam yang menjaga kota, dan pada tanggal 2 September, pasukan Prancis-Spanyol yang terdiri dari 2.500 tentara mendarat. Hal yang mendorong agresi Prancis terhadap kekaisaran Vietnam itu adalah eksekusi Monsignor José Sanjurjo Diaz, uskup Tonkin (Vietnam utara), pada tanggal 20 Juli 1857. Uskup itu orang Spanyol, tetapi Prancis sangat ingin campur tangan dan tidak ingin menyia-nyiakan alasan praktis tersebut. Sebelum serangan de Genouilly, kaisar Vietnam telah diberi ultimatum: Vietnam harus menjamin kebebasan beragama bagi orang-orang Kristen dan mengizinkan pendirian perwakilan komersial dan diplomatik Prancis di ibu kota Vietnam, Hue. Seperti yang diperkirakan, Vietnam menolak tuntutan Prancis. Prancis sebelumnya telah mendirikan pos perdagangan reguler pertama mereka di Vietnam pada tahun 1680. Setelah itu para misionaris Kristen segera aktif di sana dan agama Kristen menyebar dengan cepat. Pada tahun 1858 kaisar Vietnam yang berkuasa, Tu Duc, telah bertahta selama satu dekade. Tu Duc menggantikan Thieu Tri pada tahun 1847 sebagai kaisar Annam dan Cochinchina. Tu Duc dikenal sangat membenci misionaris Prancis dan orang-orang Kristen Vietnam, serta memulai kampanye sengit untuk melenyapkan Kekristenan dari Vietnam. Dalam pemerintahannya, umat Katolik Vietnam akan dicap dengan kata “ta doo” (kafir) di pipi kiri mereka, dan semua harta benda mereka disita oleh negara. Menurut kebijakan Kekaisaran Vietnam Para pendeta Prancis harus ditenggelamkan dan pendeta Vietnam digergaji menjadi dua memanjang.

Laksamana Charles Rigault de Genouilly (1807-1873). (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Monsignor José Sanjurjo Diaz, uskup Tonkin (Vietnam utara), pada tanggal 20 Juli 1857 dieksekusi oleh Kekaisaran Vietnam. Aksi ini memicu respon keras dari Prancis dan Spanyol. (Sumber: https://m.facebook.com/)
Kaisar Vietnam yang berkuasa, Tu Duc sangat membenci dan bersikap keras terhadap misionaris Kristen di Vietnam, yang dinilainya menjadi ancaman kekuasaannya. (Sumber: https://da.wikipedia.org/)

Dengan ini penganiayaan terhadap misionaris asing dan orang-orang Kristen pribumi (yang jumlahnya meningkat sejak tahun 1820), berkembang pesat di bawah kekuasaan Tu Duc dan menyebabkan bentrokan yang tak terhindarkan dengan pihak Barat. Kaisar Vietnam khawatir bahwa orang-orang Kristen di Vietnam akan bertindak sebagai pasukan kolone kelima dan menyerahkan Vietnam kepada Inggris atau Prancis. Ada juga kemungkinan yang sangat nyata bahwa orang-orang Kristen Vietnam akan bersatu di belakang salah satu saingan dinasti Tu Duc. Dia sudah dihadapkan dengan satu pemberontakan seperti itu di wilayah utara. Antara tahun 1825 dan 1842, penganiayaan terhadap misionaris Prancis meningkat dengan tujuh pendeta disiksa sampai mati. Pada tahun 1843, Prancis mengirim armada untuk menyelamatkan sejumlah misionaris dan mempertahankan kehadiran permanennya di Indochina. Tentu saja, semangat untuk menyelamatkan para misionaris bukanlah satu-satunya faktor di balik intervensi Prancis di Vietnam. Prancis saat itu sedang berusaha menantang Inggris dalam memonopoli perdagangan di China yang luas dan berharap dapat menembus wilayah pedalaman China melalui Sungai Mekong menuju ke Tibet dan Sungai Merah menuju ke Yunnan. Dugaan penganiayaan terhadap misionaris Katolik, bagaimanapun, adalah alasan berharga untuk membenarkan intervensi Prancis.

Perahu berlayar di Sungai Mekong, Kamboja, lukisan abad ke-19 dari sekitar tahun 1888. Pada abad ke-19 Prancis sedang berusaha menantang Inggris dalam memonopoli perdagangan di China yang luas dan berharap dapat menembus wilayah pedalaman China melalui Sungai Mekong menuju ke Tibet dan Sungai Merah menuju ke Yunnan. (Sumber: https://www.sciencephoto.com/)
Pada akhir 1850-an, di bawah Napoleon III dan Kekaisaran Kedua Prancis, Paris menunjukkan minat baru dalam melakukan ekspansi ke luar negeri. Pada masanya, Prancis meluaskan ekspansinya ke Indochina. (Sumber: https://chislehurst-society.org.uk/)

Prancis jelas telah menunjukkan minat yang sering berubah-ubah di Vietnam selama lebih dari dua abad, terutama di wilayah selatan Cochinchina, yang terdiri dari enam provinsi kaya tetapi jarang berpenghuni yang direbut Vietnam dari kerajaan tetangganya Kamboja. Prancis berdagang dengan Vietnam (kemudian dikenal sebagai Annam), dan pada kuartal terakhir abad ke-18 aktif membantu kakek buyut Tu Duc mendapatkan kembali takhta dari para pemberontak yang telah merebutnya. Misionaris Prancis juga telah aktif di Vietnam sejak akhir tahun 1700-an. Namun, sampai pertengahan abad ke-19, Prancis tidak berbuat banyak untuk mengupayakan tujuan kebijakannya yang samar-samar tentang perdagangan tak terkendali dan dakwah agama yang tak terbatas. Prancis sepertinya selalu memiliki memprioritaskan tempat yang lebih penting untuk menggunakan sumber dayanya. Sayangnya untuk Vietnam, waktu eksekusi Uskup Sanjurjo di Tonkin tidak mungkin menjadi lebih buruk. Pada akhir 1850-an, di bawah Napoleon III dan Kekaisaran Kedua, Paris menunjukkan minat baru dalam melakukan ekspansi ke luar negeri. Prancis didorong baik oleh ‘misi peradaban’ yang diproklamirkan mereka dan oleh ketakutan yang mengganggu di kalangan diplomat dan pebisnis Paris bahwa Inggris, yang telah mengakuisisi Singapura dan Hong Kong, akan merebut Vietnam jika Prancis tidak mengalahkan mereka. Dalam suasana ini, Napoleon III membuktikannya dengan audiensi yang reseptif bersama para misionaris Prancis yang bersikeras bahwa Vietnam sudah siap untuk direbut. Pada tahun 1856 ketika Prancis memprotes eksekusi umat Katolik di Vietnam dan pengadilan Vietnam menolak penjelasan apapun, sebuah kapal perang Prancis membombardir Tourane. Dua tahun kemudian Napoleon III memerintahkan Divisi Angkatan Laut Laut China-Prancis untuk merebut Tourane. 

PENGALAMAN BURUK DI DANANG

Pada tanggal 31 Agustus 1858, sebuah skuadron yang terdiri dari 14 kapal perang pimpinan Laksamana Rigault de Genouilly membawa 3.000 orang (termasuk 1.000 tentara Spanyol yang berpangkalan di Filipina) berlabuh di Tourane. Laksamana Prancis itu percaya bahwa tindakan militer yang tegas akan membawa negosiasi yang bermanfaat dengan Vietnam, dan pada tanggal 1 September ia mendaratkan anak buahnya. Para penyerbu kemudian menyerbu benteng Tourane dan merebutnya bersama dengan pelabuhan yang ada di kota ini. Aksi ini menandai fase pertama penaklukan Indochina oleh Prancis. Namun aksi militer ini kemudian terbukti menjadi operasi yang jauh lebih sulit daripada yang diantisipasi oleh militer Prancis. Para legiuner Prancis dan pasukan Spanyol menemukan bahwa pasukan Vietnam tidak akan melawan mereka dalam pertempuran sengit tetapi lebih memilih mundur ke dalam hutan dan menyergap kelompok-kelompok kecil pasukan Prancis yang meninggalkan Tourane untuk mengintai atau berpatroli di sekitar kota. Banyak tentara Prancis menderita luka lumpuh karena jatuh ke dalam lubang tertutup dengan bambu runcing yang ditutupi kotoran yang menusuk kaki dan sering menyebabkan kematian akibat infeksi gangren. Taktik gerilya ini nantinya akan menghantui Prancis dan kemudian Amerika selama lebih dari 100 tahun dan terbukti sulit untuk dilawan. Tentara Prancis, yang mengenakan seragam mereka yang berat, juga harus berjuang di bawah terik matahari dan hujan muson yang deras. Setelah enam bulan berjuang tanpa hasil, garnisun di Tourane menjadi kekurangan makanan dan menderita kolera, malaria, dan disentri. Di tempat itu sebuah luka gores bisa menyebabkan amputasi. Seorang perwira juga mengingat bahwa luka kecil dapat menimbulkan gangren. Sementara itu, Laksamana de Genouilly sempat mempertimbangkan untuk melakukan serangan pengalihan di kota Hue, sebelah utara Tourane, namun ia kekurangan kapal dengan lunas rendah untuk bisa dipakai mengarungi sungai Perfume di Hue, dan mencoret opsi jalur darat, yang membutuhkan kendaraan yang tidak dibawanya dan porter lokal yang tidak dapat ia rekrut. Pada bulan Februari 1859, de Genouilly yang frustrasi memutuskan untuk meninggalkan garnisun di Tourane dan berlayar ke selatan untuk merebut area sumber beras Saigon dan Cochinchina yang sangat dibutuhkan.

Kapal-kapal perang Prancis di lepas pantai Tourane, September 1858. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Peta komposisi kapal-kapal Prancis di lepas pantai Tourane. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Kapal-kapal perang Prancis membombardir Tourane tahun 1859. (Sumber: http://www.historicvietnam.com/)

Pada tanggal 2 Februari, Rigault de Genouilly melanjutkan perjalanan ke selatan dengan kapal-kapalnya. Armada laut gabungan Prancis-Spanyol ini terdiri dari korvet Phlégéton dan Primauguet, kapal meriam Alarme, Avalanche dan Dragonne, kapal barang Spanyol El Cano dan kapal angkut Saône, Durance dan Meurthe. Setelah berhenti di Cam Ranh Bay untuk menemui empat kapal suplai, orang-orang Prancis dan Spanyol tiba di Cape Saint-Jacques pada tanggal 10 Februari. Pada hari itu juga armada sekutu membombardir benteng yang mempertahankan pelabuhan interior Cape Saint-Jacques dan segera membungkam meriam-meriam di tempat itu. Kompi pendarat, pasukan campuran tentara Prancis dan Spanyol di bawah komando capitaine de vaisseau Reynaud, kemudian pergi ke darat dan menyerbu benteng. Pada tanggal 11 Februari, pelayaran lima hari menuju ke hulu dimulai. Kapal-kapal transport dan barang ditinggalkan di Cape Saint-Jacques. Kapal meriam Dragonne mengintai di depan, diikuti oleh dua kapal meriam lainnya, dua korvet dan kapal angkut Spanyol. Tiga kompi infanteri marinir dan dua kompi Spanyol, seluruhnya 2.000 orang, didistribusikan di antara kapal-kapal pendarat. Armada sekutu maju dengan hati-hati karena arusnya tidak diketahui, dan berlabuh setiap malam di sungai. Selama perjalanan mereka, kapal-kapal Prancis dan Spanyol berhenti untuk menaklukkan enam benteng di tepi sungai, dan regu zeni di bawah komando capitaine de génie Gallimard diturunkan ke darat untuk membakar benteng kayu yang menghubungkan benteng-benteng. Bagaimanapun orang-orang Vietnam mempertahankan diri dengan penuh semangat. Dragonne dihantam dengan tiga peluru bola meriam Vietnam, dan Avalanche dengan tujuh tembakan. Para penyerbu kemudian berhati-hati untuk memastikan bahwa sungai tidak dapat ditutup di belakang mereka. Setelah setiap benteng direbut, meriamnya dihancurkan atau dibawa ke atas kapal.

Ilustrasi lama kapal perang prancis la nemesis menyerang tourane (sekarang Da nang) di jurnal l’illustration universel, paris, 1860. (Sumber: https://www.canstockphoto.com/)

Pada sore hari tanggal 15 Februari divisi angkatan laut (yang telah bergabung di sungai bersama kapal pengangkut Prégent) tiba di depan dua benteng yang dibangun oleh insinyur Prancis yang bekerja bagi Kaisar Gia Long, yang mempertahankan area Saigon dari selatan. Sementara itu Saigon yang dilihat de Genouilly pada pagi hari tanggal 15 Februari bukanlah kota yang padat yang nantinya akan dikenal oleh jutaan pemirsa televisi Amerika dan ratusan ribu diplomat, jurnalis, pengusaha, dan tentara Amerika. Pada abad ke-19, enam provinsi yang membentuk Cochinchina adalah layaknya wilayah ‘Wild West‘ nya Vietnam. Sebagian besar wilayah tersebut tetap tidak berpenghuni. Bagian dari Delta Mekong masih dikuasai oleh gerombolan bajak laut, dan otoritas administratif Vietnam seringkali lemah. Namun Cochinchina berhasil menghasilkan surplus besar beras yang sangat penting bagi seluruh Vietnam. Secara geografis, Saigon terletak tepat di sebelah utara delta besar Sungai Mekong. Wilayah itu dibagi oleh tiga jalur air. Di utara adalah Sungai Thi Nghe dan di selatan adalah Sungai Ben Nghe (biasanya disebut Arroyo Chinois); kedua aliran sungai itu mengalir ke Sungai Saigon, yang membatasi kota di sebelah timur. Baik Sungai Thi Nghe dan Arroyo Chinois dapat dilayari oleh kapal-kapal kecil, termasuk kapal-kapal meriam Prancis. Saigon waktu itu memiliki populasi hanya sekitar 2.000 orang dan mereka ada untuk menyediakan barang dan jasa ke garnisun kota dan benteng sungai di hilir. Kota itu hanya memiliki dua jalan: Satu di sepanjang sungai dengan beberapa toko dan rumah-rumah primitif; yang lain membentang di sepanjang Arroyo Chinois, di mana berdiri gudang-gudang yang lebih besar dan tempat tinggal beratap genteng dari para pedagang China yang makmur berada. Wilayah pedalaman adalah lahan pertanian dan kebun yang terisolasi. Pusat komersial utama kawasan ini terletak sekitar lima kilometer di atas Arroyo Chinois. Kemudian dikenal sebagai Ta-ngon, atau Ti-ngan (dan sekarang disebut sebagai Cholon — Pasar Besar), pintu masuk area perdagangan ini didirikan oleh para pengungsi dari Dinasti Ming yang digulingkan di China. Selama lebih dari setengah abad, Cholon, yang terhubung dengan pedalaman Cochinchina oleh jaringan kanal dan saluran air alami yang luas, telah menarik kelebihan stok beras dan hasil bumi lainnya di wilayah tersebut. Tempat itu adalah pusat perdagangan paling penting di wilayah selatan Vietnam. 

Kapal-kapal perang Prancis di lepas pantai Saigon, Februari 1859. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Saat fajar pada tanggal 16 Februari Phlégéton, Primauguet, Alarme dan Avalanche berlabuh 800 meter dari benteng Gia Dinh. Jalur air itu sangat sempit, sehingga Laksamana Charner, di anjungan Phlégéton, dapat mengirim perintahnya kepada kapten kapal lain di Prégent, Dragonne, dan Elcano untuk sedikit lebih mundur ke belakang. Pada tanggal 16 Februari, kapal-kapal de Genouilly berhenti tepat di seberang Benteng Gia Dinh. Benteng tanah dan batu yang besar ini, yang paling penting di Cochinchina, terletak sekitar 800 meter dari Sungai Saigon (tepat di area barat daya yang sekarang menjadi Kebun Binatang Nasional) dan di sisi selatan Sungai Thi Nghe. Benteng itu menempati area seluas sekitar 2,5 hektar dan berisi barak, gudang, gedung pemerintahan dan rumah sejumlah pejabat pemerintah, termasuk pejabat mandarin senior area Gia Dinh, Vu Duy Ninh. Apa yang terjadi kemudian berlangsung singkat dan menentukan. Terjadi baku tembak antara kapal-kapal de Genouilly dan meriam-meriam yang ada di benteng, dan akhirnya meledakkan celah kecil di dinding timur laut benteng. Ketika tembakan pihak Vietnam mulai mereda, pasukan Prancis dan Spanyol pergi ke darat. Di bawah perlindungan tembakan lanjutan dari meriam angkatan laut dan tembakan senjata ringan dari para penembak yang ditempatkan di tiang kapal, dua kompi infanteri marinir dan pasukan pendarat angkatan laut, semuanya di bawah komando Jenderal Charles-Gabriel-Felicité Martin des Pallires, membentuk barisan dan menyerang dinding sebelah timur laut benteng yang berlubang dengan menggunakan bayonet. Pasukan Des Pallires didukung oleh sekelompok pasukan zeni dan pasukan kavaleri ringan Spanyol dari Filipina. Pada jam 10:00, mereka telah memanjat tembok benteng dan membuat pasukan Vietnam yang bertahan melarikan diri. Pejabat Mandarin Vu memilih untuk bunuh diri. Sebelum bisa memanfaatkan kemenangannya, de Genouilly menerima kabar bahwa pasukannya di Tourane berada dalam kesulitan. Laksamana ini kemudian meninggalkan garnisun di Saigon dengan sekitar 1.000 orang dan berlayar ke utara lagi. Garnisun yang ditinggalkan di Saigon dipimpin oleh komandan angkatan laut Bernard Jauréguiberry. Ini termasuk satu kompi infanteri marinir Prancis, satu kompi infanteri Filipina di bawah komando orang Spanyol, dan 400 pelaut untuk mengawaki unit artileri. Ditinggalkan juga adalah sebuah korvet, dua kapal meriam, dan sebuah kapal angkut. Para prajurit garnisun kemudian memperbaiki salah satu benteng di sebelah selatan yang direbut sebelumnya sebagai basis utama mereka.

Benteng Saigon, dibangun oleh insinyur Prancis pada tahun 1790. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Pada bulan April 1859, Jauréguiberry memimpin serangan terhadap benteng Vietnam di sebelah barat Saigon. Meskipun berhasil, pasukan sekutu menderita 14 personel tewas dan 31 terluka menyebabkan Jauréguiberry untuk menunda lebih lanjut upaya tersebut. Garnisun Saigon sekarang dibiarkan sendirian. Dihadapkan dengan tuntutan perang yang melibatkan Prancis dan Kerajaan Sardinia (Piedmont-Sardinia) melawan Austria (April–Juli 1859), Paris tidak akan mengirimkan bala bantuan ke Timur Jauh. Sementara itu yang ditemukan Genouilly di Tourane ternyata mengecewakan. Pasukan Prancis dan Spanyol sekarat karena berbagai penyakit dengan jumlah rata-rata sekitar 100 orang per bulan. Harapan akan datangnya bala bantuan pun pupus ketika tersiar kabar ke armada Prancis bahwa Napoleon III telah menyatakan perang terhadap Austria pada bulan Mei 1859. Muak dengan kurangnya dukungan, de Genouilly meminta untuk dicopot dari komandonya pada bulan Oktober. Laksamana de Genouilly, seperti banyak perwira asing lainnya yang frustasi di Vietnam akan mencela para politisi di negara mereka yang membiarkan mereka bergelut dengan problem mereka di Vietnam, tanpa memberikan dukungan yang dibutuhkan. Sama seperti komandan Amerika dan Prancis satu abad kemudian, de Genouilly juga menderita akibat menggunakan perlengkapan yang tidak tepat, buruknya laporan intelijen, dan kurangnya pemahaman terhadap lawan yang akan mereka hadapi. Pada bulan Maret 1860, Prancis akhirnya meninggalkan Tourane dan berlayar ke utara untuk bergabung dengan Inggris, yang telah melanjutkan perang antara negara-negara Barat dengan Kekaisaran China. 

BENTENG DI SAIGON

Meski perkembangan tidak begitu bagus bagi Prancis, namun Garnisun Prancis yang terdiri dari seribu orang yang tersisa di Saigon cukup kuat untuk mempertahankan apa yang telah diperoleh Prancis sejauh ini, termasuk pusat komersial Cina di Cholon. Tanpa bala bantuan, bagaimanapun, mereka tidak dapat memanfaatkan posisi mereka dan memperluas kontrolnya ke pedalaman Cochinchina. Pengepungan dari pasukan Vietnam telah mengubah Saigon menjadi lubang neraka bagi pasukan Prancis yang tertinggal di sana. Pasukan Vietnam di sebelah barat kota terus melakukan pekerjaan parit ke arah garis pertahanan Prancis dan melakukan serangan yang semakin banyak memakan korban. Dalam salah satu pertempuran yang banyak dikenang di Pagoda Khai Tuong pada tanggal 7 Desember 1860, pihak Vietnam menimbulkan banyak korban di pihak Prancis dan membunuh wakil komandan pasukan Prancis di Saigon. Lebih dari 100 korban diderita dalam aksi nekat yang akhirnya berhasil dihalau oleh bayonet pasukan Prancis. Ketika Perjanjian Peking mengakhiri perang di China pada bulan Januari 1861, Laksamana Muda Léonard Charner, komandan baru Divisi Angkatan Laut Laut China-Perancis, diperintahkan untuk membebaskan garnisun Prancis di Saigon dan menyelesaikan penaklukan Cochinchina. Pada pertengahan bulan Februari 1861, Charner berlayar ke selatan dengan armada kuat 70 kapal, termasuk dua frigat bermesin uap dari Shanghai dengan Resimen Infantri Marinir ke-3 dan enam kompi terpisah dari Resimen ke-4 (total ada 1.200 orang di bawah komando Letnan Kolonel Favre dan Letkol Jules Marcelin Albert Testard ); Batalyon Infanteri Ringan ke-2 (600 orang di bawah komando Mayor Comte); 200 artileri (dikomandoi oleh Letnan Kolonel Pierre Franois Crouzat) yang mengawaki 10 meriam howitzer lapangan kaliber 30mm dan 80mm, serta meriam kaliber 12-pounder dan 4-pounder; detasemen zeni; dan 800 pelaut yang diorganisir sebagai pasukan infanteri angkatan laut dan 100 lainnya dibentuk menjadi kelompok pendarat (keduanya dikomandoi oleh Kapten Angkatan Laut Franois Théodore de Lapelin). Pasukan ini bertemu di Saigon dengan pasukan Spanyol (di bawah pimpinan Kolonel Carlos Palanca y Guttierez) yang terdiri dari 200 pasukan infanteri dan 70 pasukan kavaleri campuran (asal Filipina, Chasseurs Afrika dan spahi Cochinchina) yang dikomandoi oleh Kapten Charles-douard Hocquard. Termasuk dengan orang-orang yang sudah ada di garnisun Saigon sebelumnya, pasukan kecil Charner sekarang berjumlah sekitar 3.500 orang. 

Laksamana Muda Léonard Charner. (Sumber: https://www.wikidata.org/)

Di sisi lain orang-orang Vietnam memiliki waktu satu tahun untuk mempersiapkan diri menghadapi kembalinya orang-orang Prancis yang sudah mereka perkirakan, dan mereka telah menggunakan waktunya dengan bijaksana. Pada bulan Juli 1860, Pengadilan Kekaisaran di Hue telah menunjuk seorang veteran militer mandarin, Nguyen Tri Phuong, sebagai Gubernur Distrik Militer Gia Dinh, yang meliputi area Saigon dan wilayah sekitarnya. Dia telah mengambil alih komando kekuatan yang terdiri dari 20.000 hingga 30.000 orang. Perintahnya adalah untuk mencegah garnisun Prancis melarikan diri dari Saigon. Membentang ke arah barat dari posisi yang dikuasai Prancis di Saigon adalah hamparan luas tanah terbuka yang relatif datar yang dikenal sebagai Dataran Ky Hoa. Terpecah di beberapa tempat oleh jurang dan selokan yang dangkal, hutan yang jarang, dan bertebaran di dekat benteng utama Vietnam adalah gundukan kuburan, dataran harus dilintasi sebelum pasukan Prancis dapat bertempur dengan pertahanan utama Vietnam. Nguyen kemudian segera mulai memperkuat pertahanan Vietnam di Ky Hoa. Parit-parit diperpanjang, tembok-tembok ditinggikan dan ditebalkan, benteng-benteng dan pos-pos dibangun, dan rintangan-rintangan fisik dibangun. Garis pertahanan Vietnam didasarkan pada kompleks besar benteng tanah yang saling berhubungan di tepi barat laut Dataran Ky Hoa, sekitar 6 1/2 kilometer sebelah barat Sungai Saigon. Terdiri dari lima persilangan berdinding tertutup, kompleks Ky Hoa terletak di jalur darat utama menuju ke Kamboja. Lebarnya hampir satu kilometer, dengan menara pengawas kayu ditempatkan pada interval tertentu di luar tembok. Kompleks ini membentang 2 1/2 kilometer sepanjang sumbu barat laut-tenggara, sekitar satu kilometer selatan landasan pacu utama bandara Tan Son Nhut saat ini. Membentang ke selatan dan barat dari pertahanan utama adalah apa yang disebut Laksamana Charner sebagai ‘jaringan yang luar biasa’ dari parit dan rintangan sepanjang lebih dari 12 kilometer dan menghubungkan benteng utama dengan pos terdepan dan benteng. Perkiraan terbaik menunjukkan bahwa pertahanan Ky Hoa dijaga oleh sekitar 21.000 tentara, meskipun jumlah itu mungkin termasuk pasukan yang berjaga di luar benteng dan garis parit yang tidak terlibat langsung dalam pertempuran yang akan datang. Keunggulan pasukan Vietnam dalam hal jumlah, posisi geografisnya yang kuat, dan pekerjaan pertahanannya yang rumit diimbangi oleh fakta bahwa pasukan Vietnam kurang terlatih dibandingkan dengan tentara Prancis, dan dipersenjatai dengan senapan tua flintlock muzzle loader, tombak, dan kapak kuno. Sebagian besar artileri mereka, meskipun ditangani dengan baik, sudah tua, dan banyak dari senjatanya terbuat dari besi. 

Ilustrasi tentara vietnam di Cochin China tahun 1843. Pasukan Vietnam kurang terlatih dibandingkan dengan tentara Prancis, dan dipersenjatai dengan senapan tua flintlock muzzle loader, tombak, dan kapak kuno. Sebagian besar artileri mereka, meskipun ditangani dengan baik, sudah tua, dan banyak dari senjatanya terbuat dari besi. (Sumber: https://world4.eu/)

Sementara itu sebelah kanan, kapal bermeriam Prancis mengendalikan area sekitar 5 kilometer dari Sungai Thi Nghe yang berkelok-kelok di atas pertemuannya dengan Sungai Saigon. Di luar titik itu, kontrol dari pihak Vietnam membuat serangan Prancis bermasalah. Untuk mencapai benteng Ky Hoa di sepanjang area pendekatan di sebelah utara yang pendek ini, pasukan Prancis dan sekutu Spanyol mereka harus mengekspos sayap kanan mereka pada pihak Vietnam. Di sisi lain gerak maju langsung melintasi Dataran Ky Hoa bukanlah solusi yang lebih baik. Dataran itu sendiri sebagian besar merupakan tanah terbuka, menawarkan sedikit perlindungan. Banyaknya parit, rintangan, dan pos-pos pertahanan Vietnam akan berarti mengekspos tentara sekutu yang bergerak maju ke arah tembakan yang mematikan untuk waktu yang lama. Korban akan banyak, dan mungkin tidak dapat ditanggung. Laksamana Charner lalu memutuskan untuk maju di sepanjang tepi selatan Dataran Ky Hoa. Rencana yang muncul bagi pasukan sederhana. Sejak tahun 1859 Prancis telah mengkonsolidasikan kendali mereka atas Cholon dengan merebut dan memperkuat empat pagoda Buddha di sepanjang garis yang membentang ke barat dari Saigon dan kurang lebih sejajar dengan Arroyo Chinois. Pagoda adalah kunci untuk menjaga pasukan Vietnam ada di posisinya. Di luar bagian paling barat dari posisi ini, di Pagoda Cay Mai, sebuah jalan tanah menuju barat laut menuju ke posisi Vietnam paling selatan dua kilometer jauhnya. Orang-orang Prancis menjuluki benteng Vietnam yang terletak di sana sebagai ‘the Redoubt.‘ Charner mengusulkan untuk menembus garis pertahanan Vietnam dengan merebut Redoubt. Dia kemudian akan maju ke arah utara-barat laut di sepanjang jalan untuk menyerang pertahanan utama Ky Hoa dari belakang. Dengan cara ini, dia akan berada dalam posisi untuk mencegah bala bantuan dan pasokan mencapai posisi orang-orang Vietnam. Dia juga akan menghindari rintangan dan parit pertahanan terburuk yang pernah dibangun orang-orang Vietnam antara benteng dan kota Saigon. 

MEREBUT BENTENG SAIGON

Pada tanggal 23 Februari 1861, Charner memindahkan pasukan penyerangnya ke sekitar Pagoda Cay Mai. Kapal-kapal meriam Prancis dikirimkan untuk mendukung serangan pasukan Prancis. Meriam kapal, diturunkan dari kapal-kapal Prancis dan dipasang di pagoda Clocheton, Des Mares dan Cay Mai, untuk memberikan dukungan artileri tambahan. Saat itu musim kemarau di Vietnam, dan udaranya relatif sejuk karena pasukan Prancis dan Spanyol berangkat dari Cay Mai sebelum fajar pada tanggal 24 Februari, di bawah komando operasional Brig. Jenderal Elie Jean marquis de Vassoigne. Laksamana Charner dan stafnya berada di atas kuda di depan barisan, ditemani oleh komandan pasukan Spanyol. Ironisnya, target mereka pagi itu, Redoubt, telah dibangun 70 tahun sebelumnya di bawah arahan seorang insinyur militer Prancis yang bertugas dibawah titah Kaisar Gia Long (memerintah antara tahun 1804-1820). Artileri De Vassoigne – meriam kaliber 4 dan 12 pounder, howitzer gunung, dan roket – menembaki Redoubt dan pos-posnya dari jarak sekitar 1.100 meter. Didukung oleh meriam-meriam yang lebih berat di dalam benteng pagoda, meriam-meriam gunung itu dimajukan hingga mereka berada dalam jarak 500 meter dari posisi musuh. Sementara itu tembakan balik dari orang-orang Vietnam baik dari senjata artileri dan senjata ringan sangat berat dan akurat. Di hadapannya, de Vassoigne melepaskan tiga kelompok serang. Di sebelah kiri ada dua kompi infanteri angkatan laut yang didahului oleh tim pendarat angkatan laut dengan membawa tangga. Di tengah, dua kompi infanteri ringan disertai dalam serangan oleh sebuah peleton zeni untuk menghancurkan gerbang utama Benteng. Dua ratus unit infanteri Spanyol, bersama dengan unit zeni Prancis, unit infanteri ringan dan infanteri laut, membentuk barisan penyerang sebelah kanan. Seperti benteng utama Ky Hoa, Benteng ini dilindungi oleh berbagai macam parit dan rintangan, termasuk pagar bambu, barisan bambu runcing yang saling bertautan, parit yang diisi dengan patok bambu runcing, dan lubang melingkar berisi cabang dan batang pohon yang kusut (dikenal sebagai lubang serigala) — semua dirancang untuk memperlambat musuh yang menyerang dan menghancurkan formasinya. Artileri melindungi serangan pasukan sekutu, tetapi tidak dapat menghentikan tembakan balasan pasukan Vietnam yang intens. Pasukan sekutu maju perlahan pada awalnya. Kemudian, dengan teriakan Prancis ‘Vive l’Empereur!’, mereka maju ke depan. Menggunakan tangga, pasukan Prancis dan Spanyol dengan cepat menaiki tanggul yang mengelilingi Benteng. Perlawanan orang-orang Vietnam tiba-tiba berhenti. 

Pasukan Prancis menyerang selama Pertempuran Ky Hoa, 24 Februari 1861, Vietnam, lukisan oleh G Durand dari L’Illustration, Journal Universel, vol 37, no 952, 25 Mei 1861. (Sumber: https://www.agefotostock.com/)

Pada saat pasukan sekutu memanjat tembok pembatas Benteng itu sendiri, orang-orang Vietnam mundur, dengan tertib, menuju pertahanan utama Ky Hoa. Serangan terhadap Redoubt memakan waktu dua jam. Pasukan sekutu menderita enam orang tewas dan sekitar 20 orang terluka, termasuk Jenderal de Vassoigne, yang lengannya terkena tembakan bola peluru senapan musket, dan seorang kolonel Spanyol, yang tertembak di kaki. Kedua pria itu lalu dievakuasi ke garis belakang, dan Charner mengambil alih komando langsung. Banyak orang-orang Prancis yang terluka setelah kakinya tertusuk oleh tongkat bambu yang tertutup kotoran dan membuat mereka sangat menderita. Orang-orang Vietnam kemudian melancarkan serangan balik untuk merebut kembali benteng dengan beberapa ribu tentara dan sejumlah gajah perang dengan senjata api yang bisa diputar di atas kotak pada punggung gajah mereka. Tembakan senapan Prancis dengan artileri tentara dan kapal perang menewaskan dan melukai ratusan orang Vietnam dan sebagian besar gajah sebelum mereka berbalik. Pada jam 15:00, saat panasnya hari mulai surut, Prancis kembali bergerak. Pada jarak ini dari Saigon dan sungai, Dataran Ky Hoa yang terbuka terkadang berubah menjadi hutan. Meriam-meriam Prancis di Cay Mai menyediakan tembakan pelindung. Sekitar pukul 16:00, sekelompok tentara Vietnam dan gajah perang meluncur ke dataran dari posisi tetap mereka di sebelah kanan posisi Prancis. Mereka kemudian didesak kembali tanpa adanya kerugian di pihak Prancis atau Spanyol, dan tidak ada upaya lebih lanjut yang dilakukan untuk menghalangi kemajuan pasukan sekutu. Senja menemukan Charner dan pasukannya berkemah di desa yang sepi dan sebagian hancur hanya 1.500 meter dari sudut barat laut Benteng Ky Hoa. Laksamana menempatkan dirinya di sebuah rumah yang ditinggalkan. Sempat ada pertempuran infanteri singkat dengan kekuatan yang tidak diketahui ukurannya di pepohonan di barat dan utara, serta beberapa tembakan dari Benteng Ky Hoa. Sebuah bola meriam Vietnam menghantam markas Charner tanpa menimbulkan korban. Pasukan Spanyol dan infanteri angkatan laut Prancis membersihkan hutan, sementara dua meriam kaliber 4 pounder membalas tembakan Vietnam. Kegelapan lalu mengakhiri pertempuran. 

Jenderal de Vassoigne. Dalam merebut benteng Ky Hoa, lengan de Vassoigne terkena tembakan bola peluru senapan musket. (Sumber: http://www.military-photos.com/)
Pasukan Prancis yang dikirim ke Indochina sekitar tahun 1862. (Sumber: https://www.agefotostock.com/)

Pada pukul 10:00 tanggal 25 Februari, pasukan Charner telah menyelesaikan gerakan melingkarnya yang panjang dan berada dalam posisi untuk menyerang bagian belakang pertahanan Ky Hoa. Pasukan sekutu sekali lagi dikerahkan dalam tiga barisan. Artileri berada di tengah dan pasukan Spanyol berada di sebelah kanan dengan infanteri angkatan laut; barisan kiri terdiri dari 1.200 orang dari resimen Infantri Marinir ke-3 dan ke-4. Skuadron kavaleri 70 orang membersihkan sayap kiri. 600 orang dari Batalyon Infanteri Ringan ke-2 ditahan sebagai cadangan di belakang senjata artileri. Meriam-meriam Vietnam mulai menembak secara sporadis di barisan pasukan sekutu segera setelah mereka muncul dari pepohonan menuju ke dataran. Saat pasukan infanteri bergerak maju, meriam-meriam Prancis merespons dari jarak 1.000 meter dan baku tembak semakin memanas. Salah satu peserta dalam pertempuran menggambarkan tembakan Vietnam sebagai ‘hidup dan disiplin.’ Kru artileri Prancis mulai menderita korban. Untuk meminimalkan kerugian akibat silau sinar matahari pagi di mata mereka, Kolonel Crouzat mengerahkan baterainya maju, bergerak pertama dalam jarak 500 meter dari benteng, kemudian ke dalam 200 meter dari tembok, dengan mengambil lebih banyak korban. Saat asap dan bau mesiu melayang melintasi dataran, pasukan infanteri sekutu menurunkan ransel mereka dan mempercepat langkahnya. Di antara mereka dan tembok utara benteng musuh terbentang 100 meter rintangan buatan. Setelah ini diatasi, pasukan Prancis dan Spanyol akan dihadapkan dengan tembok tanah curam yang diatapi oleh chevaux de frize (rintangan anti kavaleri) dan ditanami dengan semak berduri. Jarak dari dasar parit terakhir ke puncak benteng hampir lima meter. Di sebelah kanan, infanteri angkatan laut dan pasukan Spanyol menyerbu ke depan. Beberapa pasukan mencoba menggunakan tangga sebagai jembatan di atas parit pertama, tetapi tangga bambu dengan cepat runtuh. Pada saat pasukan Prancis-Spanyol mencapai parit terakhir di dasar tembok utara, hanya tiga tangga yang masih bisa digunakan. 

Chevaux de frize, jenis rintangan yang melindungi benteng Ky Hoa. (Sumber: https://fr.wikipedia.org/)

Perlawanan pasukan Vietnam sangat sengit. Mereka menghujani tembakan ke parit saat pasukan sekutu menggunakan tangga yang tersisa atau berdiri di atas bahu satu sama lain untuk mencapai puncak tembok. Tangga untuk memanjat berulang kali didorong oleh tentara Vietnam yang memegang tombak. Beberapa pria mencoba memanjat menggunakan chevaux de frize dan dilukai parah oleh semak berduri yang ditanam tebal. Dari tiga orang pertama yang mencapai puncak tembok, satu tewas dan yang lainnya terluka parah. Tapi mereka ini adalah para veteran. Mendesak musuh kembali dengan granat dan menggunakan pengait, pasukan Prancis-Spanyol akhirnya berhasil memanjat tembok dengan kekuatan yang cukup untuk meyakinkan pasukan Vietnam untuk mundur. Orang-orang Vietnam bertempur dengan keras tetapi bukan tandingan bagi pasukan Prancis yang bertubuh lebih besar dan lebih kuat dengan bayonet sepanjang 19 inci (48 cm) mereka. Butuh waktu kurang dari setengah jam untuk mendaki tembok luar, tetapi jika pasukan Prancis dan Spanyol mengira pertempuran telah berakhir, mereka salah. Pertahanan interior yang tidak diintai ternyata lebih tangguh dari yang diperkirakan. Tembok benteng kedua tegak lurus dengan dinding utara dan sekitar 100 meter dari dinding barat. Di belakangnya ada benteng lain. Pasukan sekutu menyaksikan saat orang-orang Vietnam yang mundur melewati gerbang ke dalam apa yang kemudian disebut Prancis sebagai Benteng Mandarin. Dengan pasukan mereka aman di dalam, orang-orang Vietnam kembali menembaki tentara Prancis dan Spanyol dengan semangat baru. Para pelaut Prancis dan infanteri Spanyol sekarang menemukan diri mereka berada dengan dinding di empat sisinya, dengan pasukan Vietnam menghujani tembakan yang membunuh mereka dari dinding Benteng Mandarin di sebelah kiri mereka. Mereka kini terjebak di zona pembunuhan. Banyak tentara Prancis tertembak dan terpotong-potong dalam badai tembakan peluru, peluru meriam, dan peluru grapeshot (berbentuk bola-bola) saat mereka mencoba membawa kait, tangga, dan pasukan zeni untuk menemukan jalan masuk ke benteng.

Sekelompok orang Vietnam dari Annam menyambut pasukan Prancis, yang menjadi pemenang dalam Pertempuran Ky Hoa, Vietnam, sketsa oleh Roux, dari L’Illustration, Journal Universel, vol 37, no 953, 1 Juni 1861. (Sumber: https://www.agefotostock.com/)

Lebih banyak tangga dibawa ke depan, tetapi orang-orang Vietnam berhasil menahannya dari tembok. Sebuah detasemen zeni Prancis mulai menggali dengan tergesa-gesa untuk meruntuhkan tembok Benteng Mandarin. Seorang saksi mata pertempuran menyebutnya sebagai ‘badai yang ganas’. Dengan menggunakan parit pertahanan dan celah menembak, orang-orang Vietnam terus menembak dengan gencar. Seorang pendeta Prancis berlari dari orang yang terluka ke orang yang terluka lainnya. Asap memenuhi ruang yang terbatas. Ada tangisan kesakitan di tengah gemeretak konstan tembakan senjata kecil. Menunggu dengan menunggang kuda dari belakang garis pertama rintangan pasukan Vietnam, tetapi tidak dapat melihat pertempuran sengit yang berkecamuk di dalam tembok Ky Hoa, Charner yang cemas memerintahkan dua kompi dari Batalyon Infanteri Ringan ke-2 untuk membantu pasukan Prancis-Spanyol dan satu lagi kompi untuk memperkuat barisan kiri, yang masih berjuang untuk mengatasi apa yang akan menjadi tembok utara Benteng Mandarin. Satu-satunya cadangan bagi sang laksamana sekarang adalah satu-satunya kompi infanteri ringan yang menjaga unit artileri. Serangan ke Benteng Mandarin mulai goyah, dan orang-orang Vietnam menggandakan perlawanan mereka. Charner berada dalam bahaya dipaksa untuk mundur ketika, akhirnya, pasukan infanteri marinir, zeni, infanteri ringan dan kompi pasukan pribumi (Vietnam) dari barisan kiri berhasil memanjat tembok dan menyerbu ke belakang Benteng Mandarin. Pada saat yang hampir bersamaan, personel zeni Prancis dengan pasukan di barisan kanan mencapai gerbang utama benteng dan mendobraknya dengan kapak. Terperangkap sekarang di antara dua kekuatan, perlawanan pasukan Vietnam dengan cepat runtuh. Sementara itu beratnya pertempuran memprovokasi munculnya kesepakatan tak terucapkan antara pasukan Prancis dan Spanyol untuk tidak memberikan peluang musuh untuk menyerah. Orang-orang Vietnam yang tidak dapat melarikan diri dari benteng tidak diberi kesempatan untuk menyerah sebelum mereka dibantai. Menjelang pagi, Pertempuran Benteng Ky Hoa telah berakhir. Laksamana Charner membutuhkan waktu lebih dari satu hari untuk mematahkan kekuasaan Kaisar Tu Duc di Cochinchina. Adik laki-laki dari komandan militer Nguyen terbunuh selama pertempuran. Komandan Vietnam sendiri terluka tetapi melarikan diri melintasi Sungai Thi Nghe ke kota Binh Hoa.

AWAL RUNTUHNYA KEKAISARAN VIETNAM

Dalam laporan resminya kepada menteri angkatan laut, Charner mengungkapkan kekagumannya terhadap musuh Vietnamnya. ‘Perlawanan musuh keras,’ tulisnya, ‘dan mereka menyerah hanya karena semangat dan keberanian pasukan kita yang gigih.’ Pasukan gabungan Prancis dan Spanyol menderita 225 korban, sebagian besar di ruang tertutup di depan Benteng Mandarin. Dua belas orang tewas, termasuk Kolonel Testard dari pasukan infanteri marinir. Orang-orang Vietnam, menurut Charner, meninggalkan ‘banyak mayat’. Setidaknya 300 orang dari prajurit-prajurit Vietnam tewas. Nguyen Tri Phuong selamat dari luka-lukanya tetapi, terlepas dari evaluasi Prancis atas perlawanan orang-orang Vietnam, dia kalah dan diturunkan pangkatnya. Akhirnya dia mendapatkan kembali statusnya dan akan melawan Prancis lagi. Charner meski demikian dikritik di beberapa kalangan karena dinilai gegabah, jika tidak sembrono. Memang, sang laksamana telah mengambil risiko besar. Dia telah memerintahkan pasukan yang jumlahnya jauh lebih inferior di medan terbuka untuk menyerang posisi yang dibentengi, dimana tata letak sebenarnya hampir tidak dia ketahui. Tapi dia melakukan hal terpenting yang bisa dilakukan seorang komandan militer untuk meredam kritik, yakni: Dia menang.

Perayaan kemengangan Prancis-Spanyol di Saigon tahun 1853. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Surat tulisan tangan dari Phan Thanh Giản dan terjemahan Perancis oleh tangan Henri Rieunier, yang membuat Vietnam menjadi protektorat Prancis dengan imbalan mengizinkan Tu Duc untuk tetap menjadi penguasa boneka di sana. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Akhirnya, sebuah jalan raya utama di kota kolonial Prancis Saigon yang sedang berkembang akan menyandang namanya, dan pada tahun 1944 pemerintah kolonial Cochinchina akan mengeluarkan serangkaian perangko untuk menghormatinya. Dalam beberapa bulan setelah Pertempuran Benteng Ky Hoa, Prancis memperluas kendali mereka untuk mencakup sebagian besar dari enam provinsi Cochinchina. Ada perlawanan dalam bentuk pemberontakan dan lebih banyak pertempuran lagi, tetapi dengan Prancis menguasai Saigon sepenuhnya, hasilnya sudah pasti menguntungkan Prancis. Pada tahun 1862, sebuah perjanjian ditandatangani dengan Napoleon III yang membuat Vietnam menjadi protektorat Prancis dengan imbalan mengizinkan Tu Duc untuk tetap menjadi penguasa boneka di sana. Dalam perjanjian ini pula Tu Duc diwajibkan untuk menyediakan ganti rugi sebesar 20 juta franc, menyerahkan tiga pelabuhan di wilayah Annam dan Tonkin (masing-masing di Vietnam tengah dan utara), dan kepemilikan Prancis atas provinsi timur Cochinchina, termasuk Saigon ditambah dengan pulau Paulo Condore. Spanyol kemudian memutuskan untuk mengakhiri keterlibatannya di Cochinchina karena konflik di wilayah itu tampaknya menjadi rawa-rawa yang tak berujung dan Prancis tampaknya memikirkan lebih daripada sekadar menyelamatkan para misionaris. Kekaisaran Vietnam memang tetap bisa bertahan untuk sementara waktu, tetapi kaisar dan pejabat mandarin-nya terus melemah di mata rakyatnya sendiri. Mereka akan kehilangan tempat dalam kampanye militer selama 25 tahun ke depan, dan pada akhirnya, sisa-sisa terakhir kemerdekaan Vietnam akan hilang selama hampir satu abad.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

1861 FRENCH CONQUEST OF SAIGON: BATTLE OF THE KY HOA FORTS

France’s Nightmare in Indochina By Steven M. Johnson

France’s Nightmare in Indochina

Siege of Saigon (March 1860–February 1861) Posted on June 23, 2021

https://en.m.wikipedia.org/wiki/French_conquest_of_Vietnam

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Siege_of_Saigon

Vietnam: A History (2nd Revision) by Stanley Karnow, 1997; p 87-88

Setting the Stage (The Vietnam Experience) by Edward Doyle and Samuel Lipsman, 1982; p 96

One thought on “Penaklukan Saigon Tahun 1861: Momen Krusial Kolonialisasi Prancis di Vietnam”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *