Pertempuran Antara Vietnam Selatan vs RRC Di Kepulauan Paracel 19-20 Januari 1974, Jejak Awal Konflik LCS di Era Modern
Belakangan ini ada banyak kekhawatiran tentang klaim agresif yang dilakukan oleh Pemerintah China atas hampir seluruh wilayah Laut China Selatan dan bagaimana negara lain di dunia, terutama Filipina, Vietnam, dan AS akan menanggapinya. Garis “Nine Dash Line” yang dijadikan dasar pemerintah China adalah klaim warisan mereka dari masa pertengahan abad ke-20, tetapi klaim atas pulau-pulau tersebut sebenarnya sudah ada dari masa abad ke-19. Pada tahun 1974, Pemerintah Komunis China dan Vietnam (Selatan) bertempur atas kepemilikan Kepulauan Paracel, yang kira-kira berjarak sama dari pantai Vietnam dan Pulau Hainan Tiongkok. Pertempuran antara Angkatan Laut Vietnam Selatan dan RRC ini hanya sedikit diketahui di negara-negara Barat, namun tampaknya sangat penting bagi China karena Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLAN) hanya mengalami sedikit pertempuran dalam sejarahnya yang relatif singkat, dan inilah satu-satunya pertempuran yang mereka menangkan, melawan apa yang mereka gambarkan sebagai musuh lama mereka. Sementara itu, Pemerintah Komunis yang berkuasa di Vietnam kini memperbarui klaim mereka atas kepulauan Paracel (Hoang Sa dalam bahasa Vietnam), segera setelah perang Vietnam berakhir, tetapi hingga saat ini, pemerintah Hanoi jarang menyebutkan tentang bentrokan angkatan laut yang terjadi di kepulauan itu pada tahun 1974. Peristiwa tersebut bahkan tidak termasuk dalam berbagai buku teks sejarah modern. Hingga tahun 1975 kepulauan Paracel diklaim oleh pemerintah Saigon yang didukung AS. Pada saat itu Hanoi tidak banyak memprotes pendudukan China atas pulau-pulau tersebut atau – untuk waktu yang lama – mengakui hilangnya nyawa tentara Vietnam Selatan – karena mereka yang jadi korban diantara orang Vietnam dianggap sebagai musuh oleh pihak komunis Vietnam Utara.

LATAR BELAKANG
Pada tanggal 11 Januari 1974, pejabat Vietnam Selatan menerima laporan tentang aktivitas China di dua pulau milik mereka di rangkaian Kepulauan Paracel. Dua hari kemudian, markas besar angkatan laut memerintahkan fregat Lý Thường Kiệt HQ-16 (bekas kapal penjaga pantai Amerika USCGC Chincoteague/WAVP-375 kemudian WHEC-375) dan Trần Khánh Dư HQ-4 (bekas USS Forster) untuk menyelidiki hal tersebut. Setelah mengantarkan enam perwira Angkatan Darat Vietnam Selatan dan seorang pengamat Amerika ke Paracel untuk melakukan tur inspeksi, HQ-16 menemukan dua “kapal pukat ikan berlapis baja” asal China bersandar Pulau Drummond untuk memberikan dukungan pada tentara PLA yang telah menduduki wilayah itu. Selain itu, tentara China terlihat di sekitar bunker di dekat Pulau Duncan, dengan kapal pendaratan PLAN ditambatkan langsung di pantai. CO dari HQ-16, CDR Le-Van-Thu, lalu melaporkan hasil temuannya kembali ke markas regional di Da Nang. Laporan CDR Thu segera diteruskan ke Saigon, di mana sebuah pertemuan yang diadakan dengan tergesa-gesa oleh Presiden Thieu dan kabinetnya memutuskan untuk mencoba mengusir pasukan China. Komandan kapal lalu memerintahkan orang-orang China itu untuk pergi dan melepaskan tembakan peringatan untuk memastikan mereka memahami maksudnya. Fregat Angkatan Laut Vietnam Selatan itu mengisyaratkan kapal-kapal China untuk mundur, dan sebagai gantinya mereka menerima permintaan yang sama dari pihak China. Sementara itu HQ-04 tiba pada 17 Januari dan menempatkan 40 orang personel unit SEAL Vietnam Selatan di Pulau Robert dan Money Island di dekatnya untuk menyingkirkan bendera-bendera China.
Pada tanggal 18 Januari, kedua fregat menabrak kapal pukat nelayan China, No. 407, memaksa kapal yang rusak berat untuk meninggalkan daerah tersebut. Tidak lama, Fregat Vietnam Selatan lainnya RVN Trần Bình Trọng HQ-05 (bekas USCGC Castle Rock/WAVP-383 kemudian WHEC-383) dibawah pimpinan Captain Ha-Van-Ngac dan kapal penyapu ranjau Nhật Tảo HQ-10 tiba. Pihak Saigon yakin bahwa pihaknya telah memblokir upaya terbaru Beijing dalam kampanye intimidasi yang telah berlangsung selama enam bulan untuk merebut bagian barat dari rantai Kepulauan Paracel. Nelayan Cina yang bersenjata sebelumnya berhasil mengusir para nelayan Vietnam Selatan dari daerah itu, dan setidaknya dua kapal penangkap ikan Cina telah terpergok beroperasi di perairan yang diklaim oleh Vietnam Selatan. Aktivitas China terbaru itu, bagaimanapun, adalah awal dari fase baru dalam upaya merebut seluruh Kepulauan Paracel. Kali ini “para nelayan” yang dikirim adalah anggota Milisi Maritim Rakyat China, sebuah cabang paramiliter dari angkatan laut China. Kedua kapal penangkap ikan di lepas Pulau Robert yang diusir oleh AL Vietnam Selatan kemudian melapor ke markas Armada Laut Selatan China. Pada tanggal 16 Januari, armada tersebut memerintahkan dua subchaser kelas Kronstadt yang berbasis di Pulau Hainan untuk membawa Milisi Maritim ke tempat kejadian, dan secara resmi untuk melindungi nelayan mereka, tetapi lebih mungkin sebagai bagian dari peningkatan kekuatan mereka. Disamping itu, China juga memerintahkan penggelaran dua kapal penyapu ranjau laut di sana. Kini Beijing telah memutuskan untuk menyelesaikan sengketa wilayah Kepulauan Paracel secara paksa jika ada kesempatan.
Kepulauan Paracel (Xisha dalam bahasa China) terdiri dari 130 pulau karang, terumbu karang, dan tepian yang tersebar di wilayah laut seluas 5.800 mil persegi yang hampir sama jaraknya dari Pulau Hainan di China (162 mil laut) dan pelabuhan Da Nang di Vietnam (200 mil laut). Total luas daratannya sekitar 3 mil persegi. Sebagian besar pulau di kepulauan itu dikelompokkan dalam Grup Amphitrite timur laut dan Grup Bulan Sabit barat, yang dipisahkan oleh laut sejauh 39 mil. Pulau Woody dari Grup Amphitrite, memiliki luasan sekitar 530 hektar, adalah yang terbesar di kepulauan Paracel. Dengan tidak adanya penduduk asli, kepemilikan kepulauan itu telah menjadi sengketa sejak awal abad ke-20. Sementara itu, meskipun Vietnam dan China mendasarkan klaim mereka di Kepulauan Paracel hingga masa-masa dinasti kekaisaran yang lampau, akar dari perselisihan China-Vietnam Selatan di era modern berasal pada tahun 1930-an dan karena ambisi kolonial Prancis. Prancis, sebagai kekuatan kolonial di Vietnam sejak 1858, menetapkan klaimnya atas Kepulauan Paracel dan Kepulauan Spratly di dekatnya pada tahun 1932, tetapi pada awalnya mereka tidak begitu khawatir dan tidak benar-benar hendak menduduki keduanya. Hal itu lalu berubah pada tahun 1937 ketika perang antara Jepang dengan China — dimulai pada tahun 1931 dengan perebutan Manchuria oleh Jepang — semakin meningkat tensinya, ketika Jepang mendesak lebih jauh ke pedalaman China. Prancis, yang khawatir bahwa China atau Jepang mungkin akan merebut pulau-pulau itu, lalu menempatkan garnisun Prancis-Vietnam yang terdiri dari sekitar 100 orang di Pulau Woody pada tahun 1938 sebagai penjaga untuk memperpanjang garis pertahanan koloni Indochina-Prancis. Sementara itu, Otoritas Inggris turut mendorong langkah Prancis ini, karena tindakan Prancis itu juga berarti akan memperluas perimeter pertahanan koloni Inggris di Malaya terhadap ancaman Jepang. Kedua negara percaya bahwa perang Jepang dengan China hanyalah langkah awal menuju penaklukan koloni Eropa di Asia Tenggara. Tetapi alih-alih menghalangi langkah Jepang ke Laut Cina Selatan, pendudukan Prancis di Kepulauan Paracel malah memprovokasi Jepang, yang kemudian mendaratkan unit infanteri angkatan laut kecil di Pulau Woody pada tahun 1938 hanya beberapa bulan setelah pendudukan Prancis. Garnisun Prancis di tempat itu menyerah tanpa perlawanan. Jepang lalu mencaplok pulau Paracel dan Spratly pada tahun 1941, mengklaim bahwa kedua kepulauan itu adalah bagian dari wilayah Taiwan yang diduduki Jepang.
Setelah bom atom dijatuhkan AS pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, Jepang mulai memindahkan pasukannya dari pulau-pulau tersebut, dan menyelesaikan penarikan pada akhir bulan Agustus. Pemerintah Kuomintang China Nasionalis lalu menduduki Grup kepulauan Amphitrite dua bulan kemudian dan menempatkan garnisunnya di Pulau Woody pada bulan Januari 1946, serta memasukkan kepulauan itu kedalam wilayah administratif Provinsi Guangdong. Sementara itu, Prancis, setelah gagal mengusir kekuatan China Nasionalis dari Grup kepulauan Amphitrite dalam aksi unjuk kekuatan angkatan laut, lalu mengajukan klaim kepada Grup kepulauan Bulan Sabit dan mendaratkan peleton Legiun Asing di Pulau Pattle dari grup kepulauan tersebut untuk menghalangi pendudukan oleh pasukan China Nasionalis. Menanggapi langkah Prancis, Pemerintah Cina Nasionalis mengulangi klaimnya atas seluruh Laut Cina Selatan pada tahun 1947, dengan mengeluarkan peta yang menempatkan klaim teritorialnya di dalam garis “nine-dash line” di tepi luar laut wilayah laut resmi mereka yang diakui dunia internasional. Pada tahun 1949, pasukan Komunis China berhasil mendesak pemerintah China Nasionalis ke Pulau Taiwan. Sementara itu, meski Jepang telah memutuskan untuk melepaskan klaimnya atas semua pulau di Laut Cina Selatan pada Konferensi Perdamaian San Francisco tahun 1951, tetapi mereka tidak lantas menyerahkan kendalinya secara khusus kepada penggugat lain, dan membiarkan kepemilikan pulau itu tidak terselesaikan. Di pihak lain pemerintah Komunis Republik Rakyat China meneruskan klaim Laut China Selatan pemerintah Nasionalis sebagai miliknya. Vietnam Selatan, bagaimanapun, telah menduduki Grup kepulauan Bulan Sabit pada tahun 1954 dan menempatkan garnisun kecil di tiga pulau. Komunis China lalu mengikuti dengan menguasai Grup Kepulauan Amphitrite dan Pulau Woody pada tahun 1956. Nelayan China sempat mendarat di Pulau Duncan milik Grup Kepulauan Bulan Sabit pada tahun 1959, tetapi pemerintah Vietnam Selatan segera mengusir mereka.
Beberapa tahun kemudian saat eskalasi pertempuran dalam Perang Vietnam meningkat, pemerintah Saigon — yang yakin akan dukungan dari angkatan laut Amerika — menarik garnisun di pulau-pulau mereka. Pada tahun 1967, kehadiran Vietnam Selatan telah dikurangi menjadi hanya menjadi satu stasiun layanan cuaca. China di masa itu sepertinya menerima keadaan status quo. Namun, dalam dua perkembangan yang terjadi pada tahun 1970-an telah mengubah dinamika di Laut Cina Selatan. Laporan tentang adanya potensi cadangan minyak di wilayah tersebut muncul pada pertengahan tahun 1972, dan kemudian Kesepakatan Perdamaian Paris yang ditandatangani pada bulan Januari 1973 menandai berakhirnya keterlibatan militer AS di Vietnam. Dengan beberapa perkembangan ini para pemimpin Asia tiba-tiba melihat sengketa di Laut Cina Selatan tidak hanya sekedar masalah politik dan administrasi tetapi juga sebagai perebutan potensi ekonomi. Di China, lingkaran dalam Mao Zedong telah menghitung bahwa kemungkinan keuntungan ekonomi dari menguasai kepulauan Paracel lebih besar daripada risiko kemungkinan timbulnya konfrontasi militer. Selain itu, risiko tersebut juga semakin berkurang. Mao menyadari bahwa pemerintah Amerika yang telah memutuskan untuk mundur dari Vietnam Selatan menunjukkan bahwa mereka tidak lagi memiliki keinginan untuk mengambil risiko konflik lain dan menginginkan dukungan China dalam menghadapi Uni Soviet yang semakin agresif. Para pemimpin China menyimpulkan bahwa rezim Saigon hanya memiliki sedikit prospek untuk mendapat dukungan AS dan hanya tinggal menunggu waktu saja sebelum rezim tersebut jatuh. Mereka juga sepenuhnya sadar bahwa Vietnam Utara masih membutuhkan bantuan China dalam upayanya untuk menaklukkan Vietnam Selatan, dan sekutu Hanoi lainnya, Uni Soviet, tidak memiliki pasukan untuk bisa mencegah aksi China di pulau-pulau tersebut. Mao lalu memerintahkan serangkaian langkah untuk menekan Vietnam Selatan agar meninggalkan kepulauan Paracel.
JALAN MENUJU PERTEMPURAN
Sementara itu, tanpa menyadari niat Beijing, rezim Saigon mendeklarasikan kendali administratifnya atas Grup Kepulauan Bulan Sabit pada Agustus 1973 dan satu bulan kemudian mengesahkan kontrak untuk mengeksplorasi wilayah perairan di sekitarnya untuk mendapatkan minyak. Provokasi pertama armada kapal penangkap ikan China terjadi pada akhir bulan Juli. Banyak dari “nelayan” itu bersenjata, dan setidaknya salah satu perahu memiliki lapisan armor yang dimodifikasi, tetapi mereka segera mundur setiap kali unit angkatan laut Vietnam Selatan tiba. Saigon lalu menempatkan garnisun kecil berkekuatan setara peleton di tiga pulau. Pada bulan Oktober, kapal pukat ikan China nomor 402 dan 407 mendaratkan awaknya di Pulau Duncan, membangun titik pasokan dengan tempat berlindung dan menancapkan bendera China di sekitar pulau. Menanggapi ini, pihak Vietnam Selatan menyita beberapa perahu nelayan China pada bulan November dan menangkap awaknya. Orang-orang itu dibawa ke Da Nang di mana mereka membuat pengakuan kesalahan dan kejahatan terhadap orang-orang Vietnam di televisi sebelum dibebaskan. Namun penyerangan kapal-kapal nelayan China terhadap nelayan Vietnam Selatan terus berlanjut. Sementara itu, Mao telah memerintahkan angkatan lautnya untuk mempersiapkan aksi militer guna mendukung para nelayan China. Pada tanggal 10 Januari 1974, sekelompok nelayan tersebut mulai mengolah hasil tangkapan mereka di Pulau Robert di Grup Kepulauan Bulan Sabit. Para nelayan itu sendiri telah terlihat tiga hari sebelumnya oleh kapal penangkap ikan Vietnam Selatan yang melarikan diri dari tempat kejadian tetapi tidak dapat melakukan kontak dengan pihak berwenang Vietnam Selatan sampai kru kapal Vietnam Selatan itu mencapai kota Da Nang pada tanggal 11 Januari. Beijing kemudian mengeluarkan pernyataan pada hari yang sama menegaskan kembali kedaulatannya yang tak terbantahkan di atas kepulauan Paracel dan Spratly serta Macclesfield Bank, atol terendam sekitar 70 mil laut di sebelah timur kepulauan Paracel.
Menyadari implikasinya, Saigon kemudian mengirim fregat HQ-16, HQ-04, HQ-05 dan kapal penyapu ranjau HQ-10 untuk pembawa pasukan SEAL ke Pulau Robert. Sementara itu setelah kedatangan mereka pada tanggal 16 Januari, kapal-kapal Vietnam Selatan dengan cepat mengusir para nelayan China. Trawler RRC nomor 407 lalu melaporkan kedatangan kapal HQ-16 ke markas besar Milisi Maritim di Yulin di Pulau Hainan pada pagi hari tanggal 16. Pesan itu sampai di Beijing beberapa jam kemudian. Malam itu, Armada Laut Selatan Angkatan Laut China mengirim dua kapal subchaser kelas Kronstadt, nomor 271 dan 274, untuk mengambil sebuah kompi Milisi Maritim yang terdiri dari empat “peleton”, yang masing-masing beranggotakan 10 orang di Pulau Woody dan membawa mereka ke Grup Kepulauan Bulan Sabit. Beijing mencoba untuk mengirimkan bala bantuan ke tempat kejadian, tetapi seperti rekan-rekan Vietnam Selatan mereka, kapal perang angkatan laut China berada dalam kondisi yang sama-sama buruk. Revolusi Kebudayaan China, pembersihan pengaruh anti-sosialis dan lawan Mao, telah menghancurkan semua galangan kapal negara itu. Lebih dari 2 juta ilmuwan, insinyur, pendidik, pekerja terampil dan administrator dipenjara atau dibunuh, termasuk mereka yang membangun dan memelihara kapal milik negara itu dan sistem rel yang mengirimkan material ke galangan kapal. Akibatnya, kapal perang terbaik angkatan laut China, yakni kapal perusak Type 065, sama sekali tidak dapat beroperasi. Kapal nomor 271 baru keluar dari galangan kapal dan harus menyelesaikan uji coba lautnya, sementara kondisi mesin diesel kapal nomor 274 yang buruk menghalangi kecepatan kapal di atas 18 knot. Namun, mereka lebih cepat dan dipersenjatai lebih baik daripada kapal milik Vietnam Selatan. Dua pesawat tempur Shenyang J-6 (salinan Tiongkok dari MiG-19 Soviet) juga dikirimkan untuk memberikan perlindungan udara bagi kapal-kapal subchaser itu tetapi tidak memiliki jangkauan memadai untuk tetap berada di atasnya setelah kapal tiba di tempat kejadian pada malam tanggal 17 Januari.
PERIMBANGAN KEKUATAN YANG DIKERAHKAN
Dua fregat Vietnam Selatan yang dikerahkan ke Paracel, yakni HQ-05 dan HQ-16 aslinya adalah kapal tender pesawat amfibi era Perang Dunia II yang dikonversi dengan peralatan pendukung pesawat amfibinya dilepas, sedangkan kapal yang ketiga adalah kapal perusak pengawalan yang dikonversi. Semua kapal dalam kondisi buruk, dengan menderita berbagai masalah teknik dan senjata yang membatasi kecepatan dan daya tembak mereka. Pada saat kedua kapal bekas “Penjaga Pantai Amerika” ini diberikan ke pihak Vietnam Selatan, sebagian besar persenjataan era PD II mereka, dan semua sistem ASW (anti kapal selam) mereka telah dihapus. Sebagai gantinya mereka dipersenjatai dengan satu meriam Mark 12 / 38 kaliber 5 ″ / 127 mm (dengan proyektil berbobot 55 pon/25 kg), empat senapan mesin multiguna M2 Browning kaliber .50 (12,7 milimeter), dan mungkin dua mortir kaliber 81 mm. Orang-orang Vietnam sepertinya menambahkan beberapa senjata lainnya. Dudukan meriam kembar Bofors kaliber 40mm terlihat jelas di HQ-16 pada dek O-1 antara anjungan dan dudukan meriam 5 ″. Kapal-kapal ini punya bobot maksimum 2,800 ton, panjangnya 311 feet (95 meters), dan kecepatannya 18 knot. Sementara itu Fregat ketiga, RVNS Trần Dư (HQ-04), adalah bekas USS Forster (DE-334/WDE-434 saat berada di dinas Penjaga Pantai, tahun 1951-1954). Kapal perusak kawal kelas Edsall ini lalu diubah menjadi kapal piket radar, yang dipersenjatai dengan dua dudukan tunggal meriam tembak cepat kaliber 76.2 mm / 3 ″ / 50, dua kanon kaliber 20mm, dan lima senapan mesin kal .50. Kapal ini memiliki bobot penuh 1.850 ton, panjangnya 306 kaki (93,3 meter), dan kecepatan bisa mencapai 20 knot, sedikit lebih cepat dari 2 fregat sebelumnya. Kapal ini mungkin yang paling bagus kemampuannya dari kapal-kapal perang yang dikerahkan oleh Vietnam Selatan. Dua meriam kaliber 3 ″ berada di dudukan tipe Mk34 pada bagian depan dan belakang kapal, masing-masing dengan kecepatan tembak 50 peluru per menit. Kapal ini juga memiliki sistem pengendalian tembakan terbaik, yakni sistem tipe Mk63. Kapal keempat dan yang terakhir, RVNS Nhựt Tảo (HQ-10), adalah bekas USS Serene (AM-300), sebuah kapal penyapu ranjau berlambung baja kelas Admirable diubah menjadi kapal patroli, dipersenjatai dengan sebuah senjata meriam Bofors kaliber 3 ″ / 50 dan dua meriam kembar kaliber 40mm Bofors dan enam senjata kanon kaliber 20mm. Kapal ini berbobot total 853 ton, dengan panjang 184,5 kaki (56,3 m) dan kecepatan nominal sekitar 15 knot, tetapi telah memakan korban salah satu dari dua mesin diesel utamanya sebelum pertempuran, dan sedang dalam perjalanan untuk memperbaikinya saat dikirimkan segera ke tempat pertempuran. Kapal ini mungkin hanya mampu melaju sekitar 11 knot. Sejauh ini, kapal ini adalah yang terlemah di antara kapal-kapal Vietnam Selatan yang dikerahkan. Meriam 3 ″ / 50 miliknya juga harus diisi secara manual dan tidak memiliki sistem kendali tembakan berbasis radar.
Di sisi China, mereka mengerahkan dua kapal penyapu ranjau Tipe 010, dengan nomor lambung 389 dan 396, varian dari kapal penyapu ranjau berlambung baja T-43 asal Soviet tetapi digunakan sebagai kapal patroli. Kapal nomor 396 diperkirakan dipersenjatai dengan kanon kembar kaliber 37mm / 67, dua kanon kembar kaliber 25mm dan dua senapan mesin ganda kaliber 14.5mm / 93. Sementara itu kapal nomor 389 dipersenjatai dengan dudukan ganda meriam kaliber 85mm / 52 (dengan proyektil peluru seberat 20 pon/9.07 kg), kanon kembar 37mm, dan dua kanon ganda kaliber 25mm. Kapal penyapu ranjau ini memiliki bobot penuh 600 ton, dengan panjang 197 kaki (60 meter), dengan kecepatannya sekitar 14 knot. Sementara itu kekuatan yang dikerahkan PLAN bertumpu pada dua kapal pemburu kapal selam Project 122bis (kode NATO: Kelas Kronstadt) nomor lambung 271 dan 274, yang dipersenjatai dengan meriam kaliber 85mm, kanon kembar 37mm / 67, dan tiga senapan mesin kembar kaliber 14.5mm / 93. Mereka juga memiliki peluncur roket ASW yang mungkin dapat digunakan melawan kapal permukaan dari jarak dekat. Dengan ukuran setara dengan WPC kelas Webber, kapal ini memiliki bobot penuh 338 ton, dengan panjang 52,24 m (171,4 kaki), dan dengan kecepatan yang diperkirakan antara 18 hingga 24 knot, lebih cepat dari kapal-kapal Vietnam Selatan. Yang terakhir PLAN mengirimkan pemburu kapal selam kecil Tipe 037 kelas Hainan, dengan nomor 281 dan 282. Kapal ini berbobot 430 ton dan memiliki panjang 58,77 m (192 kaki 10 inci), serta memiliki kecepatan lebih dari 30 knot. Mereka dipersenjatai dengan empat (2×2) meriam 57mm dan empat (2×2) kanon kaliber 25mm, serta empat 5 tabung peluncur roket RBU-1200.
PERTEMPURAN KEPULAUAN PARACEL
Saat fajar pada tanggal 18 Januari, kapal-kapal China mendaratkan satu peleton Milisi Maritim di Pulau Drummond, satu lagi di Pulau Palm dan dua peleton di Pulau Duncan. Pasukan tersebut menghabiskan hari dengan menggali dan menempatkan ranjau dan jebakan di depan posisi mereka. Dua kapal penyapu ranjau laut Tipe 10 yang berbasis di Guangzhou, nomor 389 dan 396, kemudian diperintahkan untuk memperkuat subchaser Kronstadt nomor 271 dan 274. Mereka tiba di pagi hari. Satu-satunya kapal perang operasional China lainnya, dua subchaser kelas Hainan, juga harus dikerahkan dari Shantou, yang jauhnya lebih dari 476 mil laut. Mereka melaju menuju Paracel dengan kecepatan tinggi, mengisi bahan bakar di Zhajiang, selatan China, dan di Yulin. Kapal-kapal China ini diperintahkan untuk mendukung kapal-kapal pukat Milisi Maritim dengan aturan sebagai berikut: Jangan menimbulkan masalah. Jangan melakukan tembakan pertama. Tetapi jika pertempuran meletus, menangkanlah! Pada sabtu pagi hari tanggal 19 Januari, pemimpin armada China membagi kapalnya menjadi dua kelompok — empat di kelompok depan, dipimpin oleh subchaser Kronstadt, dan kelompok belakang, yang terdiri dari subchaser kelas Hainan, begitu mereka tiba di lokasi. Kapal-kapal ini diperintahkan untuk menanggapi setiap ancaman terhadap kapal pukat ikan milisi dan mendukung para nelayan China di pulau-pulau tersebut jika diperlukan.
Di pihak lain, orang-orang Vietnam Selatan juga diorganisir menjadi dua kelompok. Yang pertama terdiri dari fregat HQ-4 dan HQ-5. Mereka mengitari pulau Money dan Antelope dari selatan dan mendekati Pulau Duncan. Grup kedua, yang terdiri dari kapal penyapu ranjau HQ-10 dan fregat HQ-16, melintasi laguna Grup Kepulauan Bulan Sabit dari barat laut. Sementara itu dua subchaser Kronstadt Cina memposisikan diri untuk memantau HQ-4 dan HQ-5, sedangkan kapal penyapu ranjau Tipe 10 membayangi kapal HQ-10 dan HQ-16. Pada pukul 10:25, Kapten HQ-16, melihat apa yang dia yakini sebagai pembukaan pertempuran, dengan melaju melewati kapal penyapu ranjau China, dan 14 personel SEAL Vietnam Selatan diluncurkan dengan dua perahu karet untuk merebut kembali pulau Duncan dan Palm. HQ-16 kemudian menabrak dan merusak berat kapal penyapu ranjau nomor 389, yang awaknya segera menembakkan senjata kecil mereka ke anjungan HQ-16 dan meriam depannya, menewaskan atau melukai sebagian besar pelaut Vietnam Selatan yang ada di sana. Pertempuran berikutnya kemudian hampir seluruhnya didominasi oleh pihak China.
Sementara itu, para personel SEAL, dengan unit dukungan angkatan laut sekarang sepenuhnya bertempur melawan kapal-kapal Tiongkok, menuju ke daratan di siang hari untuk menghadapi musuh yang lebih besar dan bertahan dengan baik di pulau Duncan dan Palm. Mereka dengan cepat dipukul mundur. Para personel SEAL lalu mundur ke kapal mereka, dengan meninggalkan komandannya dan 2 anggotanya gugur (lebih banyak lainnya terluka) di bawah tembakan berat ketika unit angkatan laut Vietnam Selatan membentuk garis sejajar dan maju menuju formasi kapal-kapal China, menembaki posisi anjungan kapal pihak China dan bermanuver untuk mengubah pertempuran menjadi pertempuran antara senjata jarak jauh. Sayangnya bagi orang-orang Vietnam Selatan, kurangnya kecepatan kapal-kapal mereka berarti bahwa kapal-kapal China yang lebih cepat dapat menentukan jarak di mana pertempuran akan dilakukan, dan pemimpin armada China memerintahkan, “Maju cepat, bertarung dalam jarak dekat dan tembak dengan keras.” Mengetahui kapalnya peralatannya buruk dan persenjataannya kalah untuk duel jarak jauh, dia memutuskan untuk menggunakan taktik “pertarungan pisau”. Dalam 10 menit pertempuran, yang awalnya berlangsung pada jarak 2 hingga 3 mil, turun menjadi hanya berjarak beberapa ratus yard.
Kapal-kapal subchaser Kronstadt memusatkan tembakan mereka pada HQ-04, sementara kapal penyapu ranjau Tipe 10 memfokuskan tembakan meriam 37 mm mereka ke HQ-16, dengan menargetkan posisi anjungan, pusat informasi tempur dan radar. Karena rusak parah, HQ-16 mundur. Kapal penyapu ranjau China kemudian mengalihkan tembakan ke HQ-10, dimana tembakan China menghantam tempat amunisi di bagian buritannya. Ledakan yang dihasilkan melumpuhkan mesin kapal di bagian depannya. Kapal-kapal penyapu ranjau China sekarang berada dalam jarak 10 yard dari HQ-10, dan pada saat itu meriam kapal Vietnam Selatan yang tersisa tidak dapat menyerang kapal musuh yang lebih kecil dan lebih rendah yang bergerak di dekat lambung kapal. Awak kapal-kapal China lalu menyapu dek utama dan anjungan kapal Vietnam Selatan yang malang itu dengan tembakan senjata ringan, menewaskan kapten kapal dan sebagian besar awak navigasinya. HQ-16 yang babak belur mencoba datang untuk membantu HQ-10 tetapi berhasil dihalau oleh tembakan dari kapal-kapal China. HQ-16 kemudian mundur ke arah tenggara sebagaimana HQ-4 dan HQ-5 mundur ke arah selatan. Beberapa saat kemudian, dua subchaser kelas Hainan China tiba tak lama setelah tengah hari pada 19 Januari dan melepaskan tembakan ke HQ-10, yang menenggelamkannya pada pukul 1 siang. Tenggelam bersama kapal itu adalah Lieutenant Commander Ngụy Văn Thà, setelah memerintahnya kru lainnya meninggalkan kapal.
Sementara itu, pihak Beijing khawatir bahwa Saigon akan mengirimkan bala bantuan ke garnisun Vietnam Selatan yang tersisa, yang terdiri dari sepasang peleton infanteri di pulau Robert, Pattle dan Money dan pasukan SEAL yang masih tersisa. Menanggapi kemungkinan ini, pesawat-pesawat China mengebom ketiga pulau itu, dan armada Laut Selatan China bergegas mengumpulkan kekuatan tambal sulam dari semua unit yang bisa dikirim, yang terdiri dari: sebuah fregat, lima kapal torpedo, dan delapan kapal patroli kecil. Diorganisir menjadi tiga armada transportasi amfibi, kapal-kapal tersebut ditumpangi hampir 500 tentara yang terbagi dalam tiga kompi infanteri, satu kompi milisi rakyat dan satu kelompok pengintai bersenjata. Armada itu dikerahkan dimulai dari kapal mana saja yang bisa secepatnya berlayar. Armada pertama terdiri dari empat kapal patroli dan kapal pukat Milisi Maritim nomor 402 dan 407, yang membawa satu kompi infanteri yang terdiri dari 100 orang. Armada kedua membawa satu kompi infanteri dan tim pengintai amfibi yang tersebar di empat kapal patroli dan kapal penyapu ranjau nomor 389. Fregat Nanning, bekas sebuah kapal perusak pengawal Jepang, merupakan armada ketiga dengan satu kompi infanteri di atasnya dan ditunjuk sebagai kapal komando untuk operasi tersebut. Armada pertama lalu menyerang Pulau Robert, menembaki tentara Vietnam Selatan yang mempertahankannya untuk mengusir mereka dari wilayah pantai dan kemudian mendaratkan pasukan infanteri China dengan menggunakan perahu karet dan sampan. Pulau itu jatuh ke tangan pasukan China dalam waktu sekitar 10 menit.
Sementara itu, armada kedua menyerang Pulau Pattle, yang mendesak 30 tentara Vietnam Selatan ke tengah pulau, tempat mereka akan menyerah setelah satu jam pertempuran. Dalam pertempuran Pulau Pattle, tentara China juga menangkap Mayor komandan garnisun Vietnam Selatan di kepulauan Paracel dan seorang penasihat Amerika dari Kedutaan Besar AS. Di pulau Money para personel SEAL Vietnam meninggalkan posisi mereka sebelum kekuatan angkatan laut China memulai serangannya dan menghindari penangkapan selama beberapa hari. Menjelang malam tanggal 20 Januari, seluruh Kepulauan Paracel sudah berada di tangan Cina. Lebih dari 100 orang Vietnam Selatan tewas atau terluka, dan 48 tentara Vietnam Selatan dan seorang petugas penghubung Amerika ditangkap (kemudian dibebaskan di Hong Kong lewat organisasi Palang Merah Internasional), dibandingkan dengan 18 orang Cina yang tewas dan 67 luka-luka. Ini adalah kemenangan luar biasa bagi angkatan laut China, dimana satu kapal penyapu ranjau Vietnam Selatan ditenggelamkan dan tiga fregatnya rusak berat dibanding dua kapal Subchaser, satu kapal penyapu ranjau dan satu kapal pukat ikan milik China rusak berat. Pada tanggal 20 Januari 1974, kapal tanker Belanda, Kopionella, menemukan dan menyelamatkan 23 orang yang selamat dari kapal Nhật Tảo (HQ-10) yang tenggelam. Kemudian pada tanggal 29 Januari 1974, nelayan Vietnam Selatan menemukan 15 tentara Vietnam Selatan di dekat Mũi Yến (Qui Nhơn) yang telah bertempur di pulau Quang Hòa dan melarikan diri dengan sekoci.
KESIMPULAN DAN IMPLIKASI
China lalu menghabiskan waktu dua minggu setelahnya untuk meningkatkan kehadiran angkatan lautnya di sekitar kepulauan dan memperkuat pertahanan mereka, termasuk menempatkan kapal selam kelas Romeo dan tiga fregat rudal kelas Chengdu yang dilengkapi dengan rudal jelajah anti-kapal Styx. Secara taktis, unit angkatan laut Vietnam Selatan seharusnya bisa mengalahkan lawan mereka dari China dengan persenjataan mereka yang lebih kuat. Kapal-kapal Vietnam memiliki keunggulan jangkauan dengan dua meriam kaliber 5 ‘’ yang lebih besar dari meriam kapal-kapal China, tetapi bagaimanapun mereka tidak bisa tetap berada di luar jangkauan senjata kapal-kapal China. Sementara dua meriam 5 ″ Vietnam Selatan memiliki jangkauan diatas kertas 18.200 yard (16.640 m), meriam 85mm China memiliki jangkauan tidak jauh berbeda, yakni 17.000 yard (15.565 m). Jarak tersebut juga tidak realistis, selain fakta bahwa hampir tidak mungkin untuk bisa menembak tepat sasaran pada jarak maksimum terhadap target bergerak, jadi untuk mencapai akurasi yang baik mereka membutuhkan sistem pengendalian tembakan, tetapi karena kurangnya radar pengontrol tembakan yang bisa berfungsi membuat mereka harus menembak dengan bidikan manual, yang sangat mengurangi kemampuan mereka untuk bisa membidik target cepat seperti kapal patroli China. Sementara itu, meskipun kondisi buruk kapal kombatan yang digunakan oleh kedua pihak menghalangi aksi pertempuran dilakukan dengan kecepatan penuh, kapal-kapal China masih menikmati keunggulan kecepatan 7- hingga 10 knot yang memungkinkan mereka untuk menentukan jarak pertempuran. Begitu mereka mendekat dalam jarak setengah mil dari kapal-kapal Vietnam Selatan, senjata-senjata ringan kapal China yang bisa cepat menembak dan punya kelincahan yang lebih baik akan memberi mereka keuntungan yang signifikan. Pertempuran menjadi sangat menentukan pada jarak sekitar 200 yard. Ruang komando, navigasi, dan komunikasi kapal Vietnam Selatan segera menghadapi tembakan jarak dekat yang akurat, dan senjata berat yang mereka miliki menjadi tidak berguna pada jarak sedekat itu.
Selain itu, jika melihat konfigurasi pemasangan dudukan senjata kaliber 37, 25, dan 14.5mm di kapal-kapal China, jelas terlihat bahwa awak mereka lebih terlindungi daripada awak yang menggunakan senjata kaliber 40, 20, dan 12.7mm (kal .50) di kapal-kapal Vietnam. Senjata-senjata kapal-kapal Vietnam hanya dilindungi dengan perisai yang melindungi awak dari arah depan saja. Selain itu, meriam 3 ″ / 50 di HQ-10 dan HQ-04 tidak memiliki perlindungan balistik untuk awaknya. Sebaliknya, awak kapal-kapal Cina memiliki perlindungan yang mampu menangani efek ledakan yang mungkin terjadi dari arah samping atau dalam beberapa kasus di belakang awak senjata. Meriam 85mm sendiri dilindungi oleh semacam turret. Kurangnya perlindungan pada kapal tidak hanya membahayakan awak senjata, tetapi juga kapal yang mereka coba lindungi. Disamping faktor-faktor diatas, keputusan untuk memecah armada kapal-kapal Vietnam Selatan menjadi 2 kelompok telah mengurangi daya tembak dari armada mereka, disamping memampukan pihak China untuk menggempurnya satu persatu. Setelah menderita sebuah kapal tenggelam dan menderita korban jiwa besar, kapal-kapal Vietnam Selatan kemudian tidak punya pilihan selain mundur, meninggalkan garnisun mereka di pulau tanpa dukungan tembakan angkatan laut yang mereka butuhkan. Sementara itu, krisis diplomatik potensial dengan Amerika kemudian dapat dicegah ketika China membebaskan tahanan Amerika yang mereka bawa selama pertempuran. Gerald Emil Kosh, 27 tahun, mantan kapten Angkatan Darat AS, ditangkap bersama orang-orang Vietnam Selatan di Pulau Pattle. Ia digambarkan sebagai “perwira penghubung regional” untuk kedutaan besar Amerika di Saigon dalam penugasan dengan Angkatan Laut Vietnam Selatan. China membebaskannya dari tahanan pada tanggal 31 Januari tanpa memberi banyak komentar. Sementara itu pihak Vietnam Selatan yang meradang lalu mengancam akan melakukan pembalasan dan memprotes aksi China di PBB, tetapi China, yang memiliki hak veto di Dewan Keamanan PBB, memblokir segala upaya untuk membawa masalah itu lebih lanjut. Pemerintah Saigon menyadari bahwa perimbangan kekuatan angkatan laut kini lebih condong dipegang oleh pihak China. Selain itu, rezim Saigon memiliki masalah yang lebih mendesak. Badan intelijennya telah melacak arus pasokan dan pergerakan pasukan Vietnam Utara ke arah Laos dan wilayah Kamboja timur. Penumpukan pasukan di sepanjang perbatasan dengan Vietnam Selatan adalah tanda-tanda niatan Hanoi yang hendak melakukan ofensif.
Pada saat itu, Hanoi sendiri juga memprotes tindakan Beijing, tetapi tidak mengambil langkah-langkah lebih lanjut. Vietnam Utara yang sama-sama komunis masih membutuhkan dukungan dari China untuk menyusun kembali kekuatannya untuk melakukan serangan terakhir dalam menguasai Vietnam Selatan. Setelah mempersatukan negara itu pada April 1975, Hanoi dengan cepat menduduki pulau-pulau yang dikuasai oleh Vietnam Selatan dalam rantai kepulauan Spratly. Pada tahun-tahun pascaperang, Vietnam terus memprotes pendudukan China atas Kepulauan Paracel dan mempertahankan klaimnya atas pulau-pulau itu dan juga sebagian besar Kepulauan Spratly. Vietnam, bagaimanapun, tidak pernah berusaha untuk merebut kembali Kepulauan Paracel. Mereka menderita kekalahan angkatan laut pada tahun 1980-an ketika China menyerang tiga terumbu karang yang dikuasai Vietnam di Kepulauan Spratly. Dalam pertempuran dan aksi yang lebih baru itu, Beijing telah mengulangi taktik yang digunakannya pada tahun 1974 di Kepulauan Paracel. Pertama-tama, kapal penangkap ikan mereka memasuki wilayah sengketa, beberapa di antaranya adalah kapal pukat milisi maritim bersenjata yang mengusir para pesaingnya. Kapal Penjaga Pantai China lalu diposisikan di dekatnya untuk datang membantu kapal pukat jika diperlukan, sementara lebih jauh ke belakang terdapat gugus tugas angkatan laut kecil yang bersiap untuk mendukung kapal-kapal Penjaga Pantai, jika diperlukan. Baik kapal Penjaga Pantai China maupun unit angkatan laut tidak akan melepaskan tembakan pertama, tetapi jika pertempuran pecah, mereka diperintahkan untuk bertarung dan memenangkannya. China juga telah mendirikan lapangan terbang militer di Pulau Woody dan menempatkan pasukan di beberapa atol yang baru-baru ini direbut di Kepulauan Spratly.
Vietnam menanggapi dengan mempersenjatai awak kapal penangkap ikannya dan membangun kemitraan militer dengan India dan Jepang — dan mengupayakan lebih banyak kerja sama militer dengan bekas musuhnya, Amerika Serikat. Dengan enam negara lain yang mempermasalahkan klaim China, Laut China Selatan telah menjadi “hot spot” dan memicu perlombaan senjata regional yang dikhawatirkan dapat memicu perang baru di wilayah itu. Sementara itu bagi pemerintah komunis yang berkuasa di Vietnam saat ini, sikap mereka mulai berubah dalam memandang peristiwa Pertempuran Laut di Kepulauan Paracel tahun 1974. Nguyen Nha, sejarawan yang berspesialisasi dalam masalah Laut Cina Selatan, mengatakan banyak hal sekarang telah berubah. “Kita harus menyadari bahwa (kini) tidak ada lagi (Vietnam) Utara dan Selatan, kita semua adalah orang Vietnam. Politik datang dan pergi, tetapi fakta sejarah tetap ada.” Perubahan sikap ini terlihat jelas di media Vietnam. Surat kabar nasional seperti “Thanh Nien” dan “Tuoi Tre” dalam beberapa pekan pada tahun 2014 untuk memperingati 40 tahun pertempuran tragis tersebut, dengan memuat serangkaian berita termasuk kisah terperinci dari para saksi mata tentang bagaimana Kepulauan Paracel diambil alih oleh China dengan paksa dan mendeskripsikan tindakan heroik yang dilakukan oleh pelaut Vietnam Selatan. Pertemuan publik kemudian telah diadakan untuk memperingati pertempuran dan ada seruan untuk mengakui “pengorbanan” para prajurit yang gugur dan menawarkan dukungan kepada keluarga mereka. Ho Van Ky Thoai, mantan laksamana muda di angkatan laut rezim Saigon dan salah satu komandan dalam pertempuran tahun 1974 itu, yang sekarang tinggal di Amerika Serikat, setuju bahwa telah terjadi “pergeseran dalam pendekatan pemerintah Vietnam terhadap masalah ini”. “Mereka telah menyadari bahaya yang jelas (bahwa jika sampai) ditelan oleh China. Sayangnya, ini sudah terlambat bertahun-tahun,” katanya, seraya menambahkan bahwa yang terbaik yang bisa dilakukan pemerintah Vietnam adalah dengan cepat memberikan pengakuan tertinggi yang pantas mereka terima kepada para tentara Vietnam Selatan yang dulu sempat berkorban demi kedaulatan wilayah mereka.
Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
Battle for Paracel Islands by Carl O. Schuster, June 2017
Battle of the Paracel Islands, 16 January 1974 by Chuck Hill
Shift as Vietnam marks South China Sea battle By Nga Pham-BBC News Published, 15 January 2014
https://www.bbc.com/news/world-asia-25709833
Battle for the Paracel islands 1974
http://vietnamparacels.org/paracel-spratly-islands-history/battle-for-the-paracel-islands-1974.html
http://www.pcf45.com/cosgrp16/cosgrp16.html
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Battle_of_the_Paracel_Islands
The Paracel Islands (Hoang-Sa) Sea Battle by Le Rinh
https://web.archive.org/web/20070506213733/http://www.xuquang.com/dialinhnk/hsrinh.html
