Pertempuran Persimpangan Debecka 6-7 April 2003: Pertarungan Antara Pasukan Baret Hijau Amerika vs Pasukan Berlapis Baja Irak

Pada tanggal 24 Maret 2003, Batalyon ke-2, Grup Pasukan Khusus ke-10 (FOB 102) Baret Hijau Amerika telah menduduki bagian barat dari wilayah tanggung jawab Joint Special Operations Task Force (JSOTF) -North. Terletak di sepanjang Garis Hijau, perbatasan demarkasi tentatif antara Zona Otonomi Kurdi dan Irak di selatan, Batalyon 2 mendapati dirinya menghadapi empat divisi dari Korps 5 Irak yang bertahan dan dilengkapi dengan baik. Menyerang garis depan sepanjang dua ratus kilometer dengan perlengkapan tidak lebih dari senjata antitank ringan, dengan dukungan udara jarak dekat (CAS), dan bantuan dari sekutu Peshmerga mereka, misi ganda dari FOB 102 adalah untuk mempertahankan wilayah utara Irak, dan untuk mengikat sebanyak mungkin pasukan Irak bertempur melawan mereka dan bukan membantu mempertahankan wilayah Baghdad. Strategi Amerika dalam invasi ke Irak ini memang dirancang untuk memanfaatkan teknologi dan aset baru mereka dengan sebaik-baiknya memanfaatkan kecepatan dan daya tembak mereka guna menciptakan dampak psikologis yang mendalam bagi kekuatan militer Saddam Hussein. Berbeda dengan Perang Teluk tahun 1990-1991, dalam invasi ke Irak kali ini tidak akan ada kampanye udara yang lama sebelum dilakukannya serangan darat. Sebaliknya, dalam invasi itu akan ada serangan gabungan darat-udara serentak yang akan menekankan efek superioritas pasukan dalam persenjataan dan kemampuan mereka untuk bermanuver. Pendekatan tersebut diringkas dalam ungkapan ‘shock and awe’, dan diharapkan taktik ini akan mematahkan keinginan musuh untuk berperang.

Dalam invasi ke Irak tahun 2003, militer Amerika menggunakan taktik yang mengedepankan kelincahan dan firepower dari pasukan yang mereka kerahkan. (Sumber: https://today.yougov.com/)

KONSEP PERANG BARU

Setiap generasi pasukan militer yang bertempur dalam perang akan mendorong modernisasi peralatan tempur, bersama dengan perkembangan doktrinal dan taktik militer pada masa setelahnya. Contoh terkenal dari hal ini adalah seperti pertempuran “Battle of Hampton Roads” antara kapal besi USS Monitor dan CSS Virginia (1862), Battle of Britain (1940), dan Battle of the Ia Drang Valley (1965). Masing-masing menampilkan teknologi dan seni militer terbaru, yang kemudian semuanya menetapkan standar dan gaya bertempur baru di dunia. Tapi apa yang terjadi ketika sebuah Angkatan Darat memiliki dua jenis cara bertempur dalam perang yang sama? Adakah waktu untuk mengasimilasi dan memahami pelajaran yang didapat pada kedua pertempuran itu, dan menempatkannya dalam konteks yang tepat sehingga kesimpulan yang tepat dapat diambil? Dan mungkin yang paling penting, pertempuran mana yang lebih tepat untuk dipelajari lebih dulu? Ini hanyalah beberapa masalah yang dihadapi oleh Angkatan Darat AS saat ini saat memasuki masa era transformasi mereka. Yang paling terkenal dari pertempuran selama Operasi Pembebasan Irak (OIF) adalah serangan “Thunder Runs” yang dilakukan oleh Divisi Infanteri Mekanis ke-3 (MID) dalam melaju ke pusat kota Baghdad pada awal bulan April 2003. Dipimpin oleh Kolonel David Perkins yang agresif, komandan Brigade ke-2 / 3rd MID, “Thunder Runs” yang dilakukan satuannya telah mematahkan bagian belakang dari pertahanan Baghdad, dan kemungkinan telah membantu mengakhiri perang beberapa minggu lebih awal. Dan mungkin yang paling mencolok dari semuanya, adalah Thunder Runs disiarkan langsung dalam siaran televisi, yang kemudian ditonton oleh para penonton Amerika yang haus akan berita perang dan kisah orang-orang yang mereka cintai yang terlibat dalam pertempuran itu.

Gerak cepat pasukan Divisi Infanteri ke-3 dalam merebut Baghdad yang kerap dikenal sebagai “Thunder Runs” menunjukkan bahwa konsep pertempuran lapis baja konvensional masih bisa berperan krusial dalam pertempuran di era modern. (Sumber: http://www.combatreform.org/)

Namun, lewat pengamatan lebih dekat menunjukkan bahwa keberhasilan “Thunder Runs” didasarkan pada keberanian dan keterampilan Kolonel Perkins serta tentaranya sebagaimana kemampuan dari senjata dan kendaraan lapis baja Amerika. Di luar itu, muncul pertanyaan apakah Angkatan Darat AS mau untuk berperang dengan cara ini lagi di masa mendatang. Tank M1A1 Abrams dan kendaraan tempur M2 Bradley yang memimpin “Thunder Runs” sebenarnya bukanlah sistem senjata pilihan pihak Angkatan Darat guna dipakai di masa depan, yang kemudian mendorong untuk dilakukannya studi yang mempertanyakan nilai penting senjata semacam itu di masa mendatang. Bertahun-tahun sebelum OIF, Angkatan Darat telah memulai proses transformasi selama dua dekade yang dirancang untuk menghasilkan Pasukan Khusus yang dikenal sebagai “Objective Force”, yang akan secara strategis lebih mudah dikerahkan, dan pada saat bersamaan lebih lincah secara taktis dan lebih mematikan. Para prajurit khusus dari Angkatan Darat ini akan terhubung secara digital, serta dilengkapi dengan sensor yang canggih dan senjata tipe fire and forget (setelah menembakkan senjata, penembak dapat segera menyingkir mencari tempat yang aman atau mencari sasaran baru, sementara senjata yang ditembakkan akan memandu dirinya sendiri ke sasaran), dan akan berperang dengan kendaraan yang dapat “menembak dan (kemudian) berlari”. Jadi, dengan demikian, jika seseorang ingin menemukan model pertempuran dalam OIF yang mewakili konsep baru Angkatan Darat mereka harus mencari di medan tempur lain, selain pertempuran Baghdad. Pertempuran itu terjadi di medan Irak utara dan yang kemudian dikenal sebagai “Battle of Debecka Pass”.

Sementara pasukan konvensional berlapis baja masih bertaji, disisi lain dalam invasi ke Irak tahun 2003, pasukan khusus dengan kendaraan-kendaraan ringan yang lincah dan dilengkapi senjata tipe “Fire and Forget” terbukti mampu dalam mengalahkan pasukan musuh yang berkali-kali lipat lebih besar. (Sumber: https://www.defensemedianetwork.com/)

Debecka Pass sendiri, sebenarnya tidak lebih dari sebuah jalan yang melintasi punggung bukit rendah di mana “Garis Batas” lama berdiri di antara zona yang sebelumnya dikuasai oleh faksi Sunni dan faksi Kurdi di Irak. Kota Debecka, terletak empat puluh kilometer selatan-barat daya Irbil, di tenggara persimpangan empat arah di mana jalan timur laut-barat daya dari Irbil ke Al Qayyarah bertemu dengan jalan barat laut-tenggara dari Kirkuk ke Mosul. Kira-kira tiga kilometer timur laut dari persimpangan utama, sebuah jalan pintas mengarah ke jalan Irbil – Qayyarah kembali ke bagian barat laut kota, yang terletak di jalan Kirkuk – Mosul. Lebih jauh ke timur laut, kira-kira lima kilometer dari persimpangan jalan, adalah punggung perbukitan Zurqah Ziraw Dagh. Disebut oleh orang-orang Amerika sebagai “Dog Ridge”, panjangnya 110 kilometer dan tingginya 400 meter, yang dibelah oleh jalan Irbil – Qayyarah. Di sisi timur laut perbukitan, dua puluh kilometer dari persimpangan, ada sebuah desa kecil bernama Pir Da’ud, di mana Operational Detachment Alpha (ODA) 044 mendirikan pos pengamatan selama tahap awal OIF. Di persimpangan Debecka inilah kemudian akan terjadi pertempuran yang mungkin menentukan arah struktur dan doktrin Angkatan Darat AS di masa depan untuk 50 tahun ke depan. Dalam pertempuran itu, kira-kira 30 tentara Pasukan Khusus Angkatan Darat (USSF) Baret Hijau yang ditugaskan bersama dengan 80 pejuang pemberontak Peshmerga bertempur dengan prajurit reguler divisi Angkatan Darat Irak, yang sebagian besar ditempatkan di sepanjang punggung bukit. Pasukan Irak saat itu memiliki tank dan kendaraan lapis baja, tabung mortir dan artileri roket, serta didukung dengan ribuan pasukan. Pasukan Amerika dan sekutu pemberontak mereka yang kalah jumlah dan persenjataan, menghadapi musuh yang bertahan dengan kuat dengan hanya didukung oleh kendaraan yang tidak lebih berat dari truk berukuran 5 ton. Namun demikian, dalam salah satu kemenangan berat sebelah sejak pasukan pemanah raja Henry V menghancurkan para ksatria Prancis di Agincourt, pasukan SF benar-benar mengalahkan orang-orang Irak, dan mengusir mereka dari posisi yang telah mereka pertahankan selama bertahun-tahun, dan memulai gerak mundur ke fasilitas produksi minyak yang sangat strategis di Kota Kirkuk. Jelas, di sini anda akan bisa menemukan tipe pertempuran yang akan menjadi standar dari Angkatan Darat Amerika (kalau bukan di seluruh dunia) di masa depan

LATAR BELAKANG: THE ROUGHNECKS 

Pertempuran Debecka Pass berawal dari, gagalnya pemungutan suara di parlemen Turki untuk mengizinkan Amerika Serikat dan sekutu koalisinya menggunakan wilayahnya untuk operasi militer dalam melawan Irak. Pemerintah Turki telah merasa terganggu oleh aktivitas gerilyawan Kurdi di perbatasannya selama beberapa dekade dan tidak punya niatan untuk bekerja sama dengan musuh lamanya ini. Ketika telah menjadi jelas bahwa pasukan AS tidak akan dapat mengakses wilayah Irak utara melalui Turki, Operasi Viking Hammer kemudian dimulai. Dibentuk di sekitar 10 tim Special Forces Group (SFG) dan dipimpin oleh Kolonel Charles Cleveland, Viking Hammer dirancang untuk mengikat total 11 divisi tentara reguler Irak yang berada tepat di seberang “Garis Hijau” dari zona Kurdi / Peshmerga di Irak utara. Pasukan Cleveland juga harus bisa merebut dan melindungi fasilitas produksi minyak penting di dekat Kirkuk, juga fasilitas yang diduga merupakan tempat produksi senjata pemusnah massal, dan memastikan bahwa pemberontak Kurdi / Peshmerga tidak memancing militer Turki turut campur tangan dalam kampanye militer di Irak. Namun, untuk mewujudkan semua ini, dibutuhkan lebih dari sekadar dua batalion Pasukan Khusus (SF) yang bersenjata ringan (yakni dari unit SFG ke-2 dan ke-3 / ke-10) yang dimiliki Cleveland yang dikenal sebagai Satuan Tugas Operasi Khusus Gabungan – Utara (JSOTF-N)). Untuk memperkuat kekuatan SFG 10 Cleveland, sejumlah unit dengan cepat diangkut ke Irak utara begitu OIF dimulai pada tanggal 20 Maret 2003. Unit-unit ini termasuk Brigade Lintas Udara ke-173 yang terkenal, pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-82, sejumlah tank dari Divisi Lapis Baja ke-1, yang bermarkas di Jerman, dan satu lagi batalion SF: yakni Batalyon ke-3 / SFG ke-3 (3/3). Biasa ditugaskan untuk menyediakan personel SOF untuk operasi di wilayah Afrika, SFG ke-3 juga telah “mendukung” SFG ke-5 beroperasi di wilayah Asia Barat Daya selama puluhan tahun. Namun, selama ini SFG 3/3 telah dilengkapi dan dilatih untuk serangkaian misi yang sangat berbeda dari yang biasa dilakukan SFG ke-10 Cleveland. 

Peta Operasi militer pasukan Amerika di Front Utara Irak tahun 2003. Karena tidak bisa menggunakan wilayah Turki untuk menyerang Irak, maka pasukan Amerika tidak dapat menggelar satuan militer kelas berat berlapis baja, sehingga mereka terpaksa harus mengandalkan pasukan khusus dengan kendaraan ringan dan didukung oleh elemen pesawat-pesawat serangan udara jarak dekat (CAS) dalam mengalahkan dan mengikat pasukan Irak dalam jumlah jauh lebih besar. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Awalnya ditugaskan untuk bekerja dengan SFG ke-5 pimpinan Kolonel John Mulholland di Irak barat dalam berburu rudal SCUD dan senjata WMD, 3 / 3rd baru saja menerima pengiriman batch baru Kendaraan Mobilitas Darat (GMV), patroli gurun yang dipilih dari unit SF. GMV mungkin paling tepat digambarkan sebagai Kendaraan Beroda Multiguna Mobilitas Tinggi (HMMWV) yang diperkuat, karena merupakan versi modifikasi ekstensif dari “Hummer Berat” M1025A2 / M1113. Dirancang untuk memberi tiga orang personel SF kemampuan untuk beroperasi hingga 10 hari di medan tempur, setiap tim “A” SF biasanya memiliki tiga hingga empat GMV besar untuk memindahkan berbagai senjata, peralatan, dan perbekalan mereka. Namun, GMV 3/3 jauh berbeda dari Land Rover SFG ke-10. Tunggangan unit SFG ke-10 ini telah membantu berbagai operasi pemeliharaan perdamaian dan misi militer di Eropa pasca-Perang Dingin dan hanya dipersenjatai secara ringan. Sebagai perbandingan, GMV 3/3 adalah kendaraan tempur nyata, dengan dudukan untuk senapan mesin kaliber .50 atau peluncur granat otomatis kaliber 40 mm, bersama dengan senapan mesin ringan berukuran sedang kaliber 7,62 mm dan ringan berkaliber 5,56 mm. Selain senjata-senjata tersebut, setiap GMV SFG ke-3 juga membawa dua roket anti-tank AT-4, sebuah senapan penembak jitu, peluncur rudal permukaan-ke-udara Stinger atau rudal anti tank Javelin, bahan peledak seberat 80 pon, dan senjata perorangan (senapan serbu M4 carbine kaliber 5,56 mm dan pistol M9 kaliber 9 mm) untuk setiap personel SF. Selain itu kendaraan ini juga membawa air, makanan, amunisi, peralatan pribadi, radio, komputer, kamera digital, penerima GPS, dan bahan bakar untuk melaju hingga jarak 800 mil di jalan raya, dan setiap GMV itu memiliki bobot sekitar 12.200 pound.

Humvee GMV yang digunakan oleh pasukan Baret Hijau dalam invasi ke Irak tahun 2003. Meskipun bukan kendaraan lapis baja, namun GMV terhitung kendaraan yang bersenjata berat dengan firepower luar biasa. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Jika hal ini terdengar seperti mempersiapkan sebuah misi yang berbahaya dan mustahil, hal itu memang benar adanya, terutama besarnya tentara SF 3/3 SFG yang harus mereka dukung. 3 / 3rd SFG (dikenal sebagai “Forward Operating Base 33” atau FOB 33) terdiri dari tiga kompi SF, yang masing-masing dikenal sebagai “Operational Detachment Bravo,” atau ODB. Setiap ODB biasanya terdiri dari empat hingga enam Tim “A” (masing-masing berisi 10 hingga 12 orang dari detasemen yang dikenal sebagai “Operational Detachment Alpha” atau ODA), dimana masing-masing terdiri dari gabungan personel SF yang sangat terlatih. Untuk Operasi Viking Hammer, para personel profesional SOF yang sudah terampil ini diberi pelatihan penyegaran senjata yang ekstensif, bersama dengan instruksi dalam beberapa sistem dan prosedur yang baru untuk pasukan SF. Hal ini termasuk 40 jam pelatihan dan simulasi pengoperasian rudal Javelin dan Stinger, bersama dengan beberapa minggu latihan medan / pertempuran dengan kendaraan GMV, senjata, prosedur radio dukungan udara jarak dekat (CAS), dan sesuatu yang benar-benar baru: yakni pengiriman pasokan ulang di medan tempur.

Kendaraan suplai yang kerap dikenal sebagai “War Pigs”. Keberadaan kendaraan suplai ini amat vital untuk menambah daya tahan unit pasukan khusus di medan tempur. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Pasukan 3 / 3rd, bersama dengan pasukan SFG ke-5 yang dijadwalkan untuk beroperasi di wilayah Irak barat, telah menyusun skema pasokan ulang baru dengan menggunakan truk yang dimodifikasi khusus. Dikenal sebagai “Babi Perang” (War Pigs secara resmi dikenal sebagai “Kendaraan Pasokan Darat” atau GRV), kendaraan ini adalah truk berukuran 5 ton dengan kabin yang dapat dilepas, dipasangi dudukan untuk senapan mesin menengah, serta peralatan komunikasi radio dan satelit. Di belakang kendaraan terdapat rak dan tempat penyimpanan untuk bahan bakar, amunisi, dan perbekalan lainnya untuk memampukan ODA yang menggunakan kendaraan GMV untuk beroperasi 10 hari lagi. Konsep baru yang dimaksud diatas adalah untuk menggunakan “Babi Perang” guna mengirimkan perbekalan yang diperlukan ke titik pasokan ulang lapangan sehingga ODA dengan kendaraan GMV-nya tidak harus meninggalkan stasiun pengamatan mereka. GRV yang digunakan 3 / 3rd SFG memiliki beberapa fitur tambahan, termasuk winch untuk menderek dan hitch trailer untuk membawa drum bahan bakar berkapasitas 55 galon, serta satu senjata ekstra, yakni mortir kaliber 60mm. Ditugaskan ke ODB 390 (Kompi “C”, 3 / 3rd SFG – “The Roughnecks”), truk ini juga akan bertindak sebagai markas besar kompi yang mobile dan kendaraan dukungan tembakan. Dari sini, empat ODA dari ODB 390 (ODA 391, 392, 394, dan 395) dengan 16 unit GMV mereka akan didukung dan disuplai ulang, serta diperintahkan untuk maju ke medan perang. 

MENUJU KE MEDAN PERANG IRAK 

Pada bulan Februari 2003, tim pasukan khusus Amerika telah mendarat di Arbil di Irak utara berkat bantuan dari agen-agen CIA yang telah dikerahkan secara diam-diam pada tahun sebelumnya. Meskipun pendaratan udara ini menghadapi tembakan dari senjata-senjata anti-pesawat Irak, total sebanyak 51 ODA mampu mendarat dan mereka segera terhubung dengan lebih dari 60.000 pejuang Peshmerga yang berasal dari kelompok Persatuan Patriotik Kurdistan. Pendaratan dengan parasut juga dilakukan untuk mengamankan ladang minyak di dekat Kirkuk. Sementara itu, bagian terberat dari OIF bagi personel 3/3 SFG bisa dibilang sudah dimulai ketika mereka masuk ke Irak begitu perang dimulai. Batalyon tersebut mulai bergerak ke wilayah Irak pada awal bulan Maret 2003, dengan diterbangkan ke area persiapan di negara tuan rumah di dekatnya. Dari sana, petualangan dimulai beberapa minggu kemudian dengan ODA melakukan perjalanan memutar di atas pesawat tanker / transport MC-130 ke As Sulaymaniya, dengan peralatan tempur lengkap dan siap untuk pergi ke misi pertama mereka. Rute masuknya satuan ini membuat pesawat-pesawat MC-130 yang digunakan terbang ke selatan melintasi Laut Mediterania, dan memasuki Irak dari arah barat, kemudian bergerak ke utara di sepanjang perbatasan Suriah sampai mereka melewati Garis Hijau dan memasuki wilayah udara yang “permisif”. Sementara itu FOB ke-102 dan 103 dari SFG ke-10 telah mendahului SFG 3/3, dan sudah beroperasi di seluruh wilayah Irak utara. ODB 390, dengan GRV yang bermuatan berat, harus dikirim dengan pesawat angkut berat C-17A Globemaster. ODB 390 langsung beraksi, pertama bergerak ke sisi timur Zona Hijau untuk membantu mendukung operasi melawan kamp teroris Ansar Al Islam dekat Halabja. Kompi ini kemudian melakukan pergerakan cepat pada tanggal 1 April sejauh hampir 100 mil ke kota Irbil. “The Roughneck” kemudian bergabung dengan unit lain dari JSOTF-N pada tanggal 4 April dalam Operasi Northern Safari, operasi ofensif besar yang dirancang untuk membersihkan wilayah Irak utara, merebut pusat populasi utama, dan mengamankan ladang minyak Kirkuk dan fasilitas produksi minyak buminya. Tugas ODB 390 adalah membawa pasukan pemberontak Peshmerga ke selatan dari Irbil dan mencoba menduduki ujung barat punggung bukit yang membentang di sepanjang Garis Hijau. Ketika posisi ini berhasil diduduki, pasukan Northern Safari akan mengapit Garis Hijau, untuk kemudian bergerak ke timur, dan menduduki daerah Kirkuk. 

Karena penolakan Turki, maka suplai dan pengiriman pasukan di Front Utara Irak sepenuhnya harus mengandalkan transportasi udara. Nampak pada gambar pesawat angkut C-17 Globemaster sedang menurunkan tank M1A1 Abrams di Pangkalan Udara Bashur, Irak Utara tanggal 9 April 2003. (Sumber: https://www.stripes.com/news/)

MENUJU PERTEMPURAN 

Menurut laporan intelijen, pasukan Irak telah menduduki posisi di sepanjang wilayah utara “Dog Ridge” baru-baru ini dua hari sebelum kedatangan ODA 044, ketika pasukan musuh berpindah ke puncak bukit. Selama hari-hari sebelum serangan di Debecka Crossroads, ODA 044 dapat mengamati tentara Irak yang berjaga dengan senjata mortir, senapan mesin berat, dan beberapa senjata artileri antipesawat. Meskipun posisi tim pasukan sekutu Amerika yang terbuka terkena tembakan artileri dan roket musuh, mereka segera membalas dengan memanggil serangan CAS dan berhasil mendesak orang-orang Irak kembali ke sisi barat daya pegunungan. Pada tanggal 5 April 2003, ketika ancaman telah berkurang dan kemungkinan serangan yang berhasil meningkat, komandan Peshmerga setempat mengumumkan bahwa dia akan menyerang punggung bukit dan telah mengirim satuan zeni-nya untuk membersihkan jalan dari ranjau. Tak lama kemudian, tentara Pasukan Khusus Amerika (SF) mendengar suara tembakan senjata kecil dan peluru artileri yang meledak di dekat punggung bukit. Gerilyawan Peshmerga terpaksa meninggalkan rencana serangan mereka, dan selama tiga jam berikutnya, pasukan Irak menembaki beberapa desa setempat sebagai pembalasan. Malamnya, Mayor (MAJ) Eric Howard, komandan AOB 040, bertemu dengan Jenderal Mustafa, komandan Partai Demokrat Kurdi di Distrik Militer Barat. Mereka membahas perlunya merebut punggungan bukit yang dikuasai pasukan Irak dan setuju bahwa serangan koalisi terkoordinasi akan dimulai keesokan harinya. Pada awal tanggal 5 April, empat ODA dari ODB 390 telah terhubung dengan kota Pir Daúd sekitar 8 mil di utara jalur tersebut, bersama dengan pejuang pemberontak Peshmerga mereka. Dengan pejuang Peshmerga yang termasuk elemen ODA 044 (dari SFG ke-10) untuk bertindak sebagai elemen penghubung. Ada juga kru kamera dari berbagai kantor berita, termasuk BBC, mengikuti pasukan ini menuju ke selatan.

Peta Persimpangan Debecka , Objective Stone dan Objective Rock. (Sumber: https://arsof-history.org/)
Dinamai sesuai nama kota Debecka yang berada agak ke tenggara, Debecka Crossroads adalah persimpangan empat arah di mana kira-kira jalan timur laut-barat daya dari Irbil ke Al Qayyarah bertemu dengan jalan barat laut-tenggara dari Kirkuk ke Mosul. (Sumber: https://arsof-history.org/)

Sore berikutnya, setelah sesi perencanaan “di atas kap mobil”, ODB 390 mulai bergerak ke selatan. Rencananya adalah untuk menetralkan kekuatan musuh di punggungan bukit sekitar Debecka Pass dengan dukungan udara jarak dekat malam itu, kemudian pasukan darat akan berangkat pada saat matahari terbit, dan meluncurkan empat serangan secara simultan terhadap punggung bukit. Di sebelah tenggara, Sersan First Class (SFC) Thomas Sandoval dengan setengah dari personel ODA 044 (044B) dan 150 gerilyawan Peshmerga akan menyerang persimpangan ‘T’ yang dibentuk oleh jalan pintas ke Debecka dan jalan Irbil – Qayyarah di utara Debecka — Objective Rock. Sementara itu, ODA 391, yang dipimpin oleh Kapten (CPT) Eric Wright, dan ODA 392, yang dipimpin oleh CPT Matthew Saunders, akan mendukung pasukan infanteri dengan tembakan senapan mesin berat. Di tengah, dekat bukit 419 dan 429, dua kelompok gerilyawan Peshmerga yang terdiri dari 250 orang akan menyerang secara independen. Di barat laut, ODA 043 dan 150 Peshmerga pimpinan CPT David Fowels akan menyerang bukit 374, yang disebut Objective Stone. Di utara, ODA 394, yang dipimpin oleh CPT James Spivey, dan ODA 395, yang dipimpin oleh CPT Eric Stanton, akan mendukung serangan ke barat laut dengan dukungan tembakan. Meskipun pengintaian udara menunjukkan bahwa punggung bukit itu tidak terlalu kuat, kontak sebelumnya dengan sebuah brigade dari Divisi Infanteri Mekanis ke-1 Irak membuat hasil serangan itu masih jauh dari kepastian. Setelah pertemuan, beberapa ODA berpencar dan bergerak ke selatan untuk mengawasi aktivitas musuh, tetapi kemudian hanya terdengar suara misi CAS yang mengganggu di malam itu. Pada pukul 21.00 (waktu lokal, seperti yang akan selalu disebut di sini), kekuatan gabungan ini telah berada beberapa kilometer di utara Debecka, dan mulai mengintai posisi musuh.

Tank T-55 AD Irak. Meski bukan tank baru yang canggih namun keberadaan beberapa tank T-55 di Persimpangan Debecka jelas menjadi lawan yang tidak bisa diremehkan oleh pasukan khusus Amerika yang tidak dilengkapi dengan kendaraan lapis baja. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Kendaraan BMP-1 milik Irak. (Sumber: https://tanks-encyclopedia.com/)
Kendaraan lapis baja MTLB. Beberapa unit dari kendaraan ini diketahui ditempatkan oleh pasukan Irak di Debecka. (Sumber: https://br.pinterest.com/)

Diperbantukan pada setiap ODA dan ODB adalah Tactical Air Control Party Airman (TACP) dari Angkatan Udara AS (USAF) yang dilengkapi dengan perangkat radio dan keterampilan yang diperlukan untuk memanggil setiap jenis dukungan tembakan yang bisa didapatkan. Mulai dari pesawat-pesawat tempur F/A-18 Hornet dari US Navy (USN) yang beroperasi dari kapal induk yang berlayar di Laut Mediterania timur hingga bomber besar B-52 USAF yang terbang dari Pangkalan RAF Fairford di Inggris, JSOTF-N telah diberikan segala jenis dukungan yang mungkin diberikan untuk menutupi kekurangan mereka dalam hal kekuatan lapis baja dan senjata artileri. Bantuan jelas dibutuhkan, karena di sebelah selatan perbukitan itu telah ada tiga brigade dari Divisi Infanteri ke-34 Irak. Meskipun Divisi ke-34 tidak dilengkapi atau dilatih di seperti personel Divisi Pengawal Republik yang mempertahankan Baghdad, namun mereka adalah unit tentara reguler yang kuat dengan sekitar 6.400 personel dan didukung dengan peralatan yang baik, termasuk tank-tank T-55, dan kendaraan pengangkut personel lapis baja (APC) BMP-1 dan MTLB. Singkatnya, jumlah tentara Irak melebihi pasukan sekutu sekitar 20: 1, dan memiliki kendaraan lapis baja untuk melawan Land Rover, GMV, truk, dan SUV dari pasukan sekutu, serta menguasai posisi pertahanan yang telah dipertahankan selama lebih dari satu dekade. Suatu hal yang oleh para analis militer konvensional dapat disebut sebagai pertarungan yang adil. Sore itu, TACP ODA mulai menyamakan kekuatan mereka dengan meminta serangkaian serangan udara pembom B-52 dengan menjatuhkan bom-bom JDAM yang dipandu GPS di punggung bukit yang diduduki musuh. Yang pertama dari serangan-serangan ini telah direncanakan sebelumnya di siang hari dan dimulai pada pukul 17.00, dimana serangan ini terlihat jelas di langit yang cerah saat matahari terbenam di musim semi yang indah. Dua lagi pesawat B-52 menghantam punggung bukit pada pukul 04.01 keesokan paginya (tanggal 6 April 2003), masing-masing mengirimkan 27 bom JDAM yang masing-masing berbobot 1.000 pound pada target-target terpilih. Ini kemudian akan menjadi pembuka dari pertempuran di Debecka Pass. 

Pada tanggal 6 April 2003, gerilyawan Peshmerga dan ODA dari SFG ke-10 dan ke-3 memulai serangan mereka terhadap pasukan Irak yang bertahan di sepanjang punggung bukit di utara Debecka. (Sumber: https://arsof-history.org/)

SAYAP KIRI: PERTEMPURAN DI PERSIMPANGAN JALAN

Saat fajar (sekitar pukul 06.00), ODA 391 dan 392 telah terhubung dengan sekitar 80 personel Peshmerga yang mengendarai SUV dan truk kargo. Para pemberontak bersenjata lengkap, termasuk dipersenjatai dengan senapan mesin berat DSHK kaliber 12,7 mm dan senjata recoilless kaliber 106 mm yang dipasang di kendaraan. Kekuatan gabungan ini kemudian menuju selatan ke persimpangan jalan yang dilindungi oleh ladang ranjau. Pada pukul 07.30, gerilyawan Peshmerga mencoba untuk menerobos tanggul tanah tepat di depan garis pertahanan Irak dan mulai menyerang. Kedua ODA mendukung gerakan tersebut dengan tembakan senapan mesin kaliber .50 dan mulai menginterogasi tahanan Irak pertama yang didapat. Pada titik inilah tentara SF mulai mendapatkan informasi bahwa ada satu batalion kendaraan lapis baja dengan 12 tank T-55 dan 15 APC MTLB yang mempertahankan persimpangan jalan, tetapi telah ditarik ke arah selatan. Di persimpangan jalan, pasukan menemukan sebuah tank T-55 yang ditinggalkan, dan ODA terus bergerak maju menuju Debecka. Menyadari bahwa ladang ranjau dan tanggul membatasi pergerakan mereka di daerah tersebut, tentara SF lalu memutuskan untuk menyelesaikan penjebolan yang dimulai oleh Gerilyawan Peshmerga sebelumnya. Setelah beberapa kali mencoba dan menggunakan bahan peledak yang mereka rampas dari ladang ranjau Irak, penjebolan tanggul selesai. Pada pukul 09.00, pasukan mulai bergerak ke selatan lagi menuju Highway 2 di garis perbukitan, di mana lalu lintas kendaraan beroda telah diamati dan diserang dengan senapan mesin. Sepuluh menit kemudian, salah satu sersan senjata ODA 391 melihat sebuah truk militer sarat dengan pasukan, dan Sersan Staf. Jason Brown (sersan senjata senior ODA 391) menyerang truk itu dengan rudal anti-tank Javelin pada jarak 3.000 meter. Meskipun jangkauan “resmi” dari senjata baru itu hanya 2.000 meter, rudal itu terbang dan menghancurkan kendaraan itu, serta mencerai-beraikan penumpangnya. Beberapa menit kemudian, setelah menyerang kendaraan ringan lainnya, tentara SF mulai melihat kendaraan-kendaraan Irak sekitar 2 kilometer ke selatan dan sedang bergerak menuju posisi mereka. Dengan tembakan mortir dan peluru anti-pesawat ZSU-57-2 kaliber 57mm yang meledak di udara mulai ditembakkan ke arah mereka, menjadi jelas bahwa pertempuran akan segera terjadi bagi pasukan SF / Peshmerga. 

ODA 391, 392, dan 044B menemani tentara Peshmerga saat mereka maju melewati Dog Ridge menuju Objective Rock. Pasukan Peshmerga membersihkan ladang ranjau dan bersikeras agar orang Amerika mengikuti jalan di atas punggung bukit. (Sumber: https://arsof-history.org/)
Kendaraan Kompi Charlie, Grup Pasukan Khusus 3/3 yang dipersenjatai dengan senapan mesin M2 kaliber .50 sedang melaju ke selatan menuju Debecka Pass. (Sumber Foto: USASOC/https://www.defensemedianetwork.com/)
Tipe kendaraan artileri anti pesawat ZSU-57-2 yang digunakan untuk menembaki pasukan Amerika dan Gerilyawan Kurdi di Persimpangan Debecka. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Rudal anti tank Javelin yang digunakan oleh pasukan khusus Amerika dalam menghancurkan kendaraan-kendaraan tempur pasukan Irak di Persimpangan Debecka. (Sumber: https://www.cgstudio.com/)

Pada pukul 09.40, sederet kendaraan MTLB dan tank T-55 muncul dari kabut pagi di arah selatan, tank-tank tersebut menembakkan meriam kaliber 100mm nya ke arah GMV. Menyadari bahwa posisi mereka terlalu terbuka untuk bertempur secara efektif, kedua tim berpindah sekitar 900 meter ke utara ke punggungan bukit kecil yang mereka sebut sebagai “Alamo”. Dari sana tim mulai memanggil CAS untuk menangani kendaraan lapis baja musuh, dan menyiapkan sisa empat Command / Launch Units (CLU) rudal Javelin mereka. Saat ini, Sgt. Brown telah mengisi ulang CLU-nya, dan menembakkan dua Javelin lagi ke kendaraan MTLB musuh, menghancurkan keduanya dan menyebabkan sisa kendaraan lapis baja Irak menghentikan gerak maju mereka dan ditempatkan sejajar di sepanjang garis punggung bukit. Dengan hanya dua tembakan yang mematikan dari rudal baru mereka, Brown telah menghentikan gerak maju kompi lapis baja dan infanteri mekanis musuh, sementara personel tentara Irak akan mengalami serangan yang lebih mematikan dari para prajurit SF. Pada saat ini ODA 392 telah menyiapkan Javelin CLU pertamanya, dan Sgt. Jeffrey Adamec menghancurkan sebuah kendaraan MTLB lainnya sementara para penembak GMV mulai menyerang kendaraan lapis baja Irak dan serangkaian truk pengangkut pasukan Irak. Saat itu para prajurit Infanteri Irak, yang sekarang telah turun dari kendaraan mereka, mulai menerima tembakan senapan mesin kaliber .50 dan peluncur granat kaliber 40mm yang sangat akurat dari pihak Amerika. Sgt. Brown, jelas memiliki “tangan panas” dengan CLU Javelin-nya, menembakkan rudal keempat, yang sukses mengenai sebuah truk pengangkut pasukan. Staf Sersan. Zawoski dari ODA 392 juga menembakkan Javelinnya sendiri pada saat yang sama, menghancurkan sebuah truk pasukan lainnya. Pasukan Irak yang turun dari kendaraan mulai menderita beberapa korban, dan sebagian mulai mundur ke selatan. 

RIDGE FIGHT: SETENGAH JAM DI NERAKA 

Saat ODA 391 dan 392 berduel dengan satuan lapis baja Irak, ODA 394 dan 395 bergerak maju di ujung punggung bukit ke posisi barat laut dari lokasi pertempuran di persimpangan jalan. Tim-tim tersebut mencoba untuk mengintai posisi musuh dan menyerang posisi sayap pasukan Irak bersama pejuang Peshmerga yang mengikuti gerak maju mereka. Namun, saat delapan unit GMV bergerak menuju punggung bukit, mereka mulai menerima tembakan artileri dan mortir Irak. Sebelum personel pasukan SF bisa mundur, kedua tim telah berada di tengah-tengah serangan artileri dan mortir besar-besaran dan berjuang untuk hidup mereka. Memanfaatkan mobilitas lintas medan yang sangat baik dari kendaraan GMV, para pengemudi mulai “mengejar” posisi-posisi dimana peluru artileri meledak, mencoba untuk mengganggu upaya koreksi yang dilakukan oleh para pengamat artileri Irak di posisi-posisi kuat mereka di punggung bukit. Pada saat yang sama, para penembak di GMV mulai menyerang pos pengamatan Irak dan posisi lain di punggung bukit dengan senapan mesin kaliber .50 dan tembakan pelontar granat 40mm, mencoba untuk menekan upaya koreksi pada rentetan tembakan artileri mereka.

Seorang prajurit Pasukan Khusus menembakkan senapan mesin kaliber .50 ke bagian belakang GMV-nya di sisi paling kanan garis pertempuran selama pertarungan di Persimpangan Debecka. Peluncur granat asap terpasang di sudut depan GMV sementara rudal anti tank Javelin abu-abu hijau terpasang di sebelah dekat turret. (Sumber Fot: Pfc. Donny Lynch, ODA 394/https://www.defensemedianetwork.com/)
Salah satu rudal Javelin yang mematikan sedang meninggalkan peluncurnya selama Pertempuran di Debecka Pass. Tim yang menggunakan Javelin di Debecka mencetak 17 tembakan tepat sasaran dari 19 penembakan, dan menghancurkan kekuatan musuh yang jauh lebih besar dengan rudal itu dan dengan serangan udara jarak dekat. (Sumber Foto: USASOC/https://www.defensemedianetwork.com/)
Ilustrasi posisi pertempuran di Persimpangan Debecka. (Sumber: https://weaponsandwarfare.com/)
Penempatan posisi di Persimpangan Debecka. (Sumber: https://weaponsandwarfare.com/)

Selama hampir 30 menit, kedua ODA tersebut mengelak dan bergerak hampir secara acak melewati zona penembakan, berusaha mati-matian untuk mundur dan melepaskan diri dari pertempuran. Meskipun banyak peluru artileri dan mortir yang jatuh dekat mereka, namun tidak ada satupun tentara SF yang terluka atau kendaraan GMV yang terkena serangan. Kelincahan dan mobilitas kendaraan-kendaraan GMV, bersama dengan pelatihan yang didapat para prajurit SF, berhasil membuat mereka lolos dari hujan api yang mematikan. Meskipun sedikit kebingungan dengan apa yang mereka alami, pasukan SF menyadari bahwa mereka harus kembali bertempur jika ingin gerilyawan Peshmerga menyelesaikan misi mereka. Mulai kehabisan amunisi senapan mesin kaliber .50 dan amunisi granat 40mm, kedua tim itu memanggil komandan kompi “Roughnecks” Mayor Curtis Hubbard untuk segera dikirimkan “Babi Perang” dari ODB 390 untuk menyediakan pasokan “ulang”. Saat pasokan ulang dilakukan, TACP Angkatan Udara yang ada bersama tim SF sedang memetakan posisi musuh di ujung garis punggung bukit. Setelah menyelesaikan pasokan ulang dan dengan hati-hati bergerak maju untuk mengamati garis pertahanan pasukan Irak, TACP meminta serangkaian serangan bom JDAM dari bomber B-52 yang menghancurkan banyak titik kuat pertahanan Irak. Serangan ini membuka jalan bagi pasukan Peshmerga untuk bergerak maju, dan pasukan Irak mulai meninggalkan posisi yang telah mereka tempati selama hampir puluhan tahun. Kelincahan luar biasa dari kendaraan-kendaraan GMV saat diserang telah menyebabkan para penembak Irak membuang banyak amunisi mereka, sementara memungkinkan anggota tim SF untuk melarikan diri dan merencanakan serangan kedua. Juga, “pasokan” yang disuplai oleh OBD 390 “War Pigs” telah memungkinkan tentara SF untuk segera kembali menyerang musuh. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, Garis Hijau telah berubah dan sebuah rute menuju ke Kirkuk dibuka. Namun, kembali di persimpangan jalan, pertempuran dengan kekuatan lapis baja dan pasukan infanteri Irak belum berakhir. 

BENCANA: “BLUE ON BLUE” 

Pertempuran di persimpangan jalan terus berlanjut: penembak Javelin dari ODA 044 menghancurkan sebuah MTLB, dan Sgt. Adamec menembakkan Javelin kedua, menghantam sebuah truk yang telah tertembak sebelumnya. Sersan Michael Ray dan Richard Turner dari ODA 391 kemudian menembakkan Javelin mereka sendiri, yang gagal mengenai sasaran. Kemudian, hanya beberapa menit sebelum pukul 10.00, dukungan udara jarak dekat pertama tiba di medan perang dalam bentuk dua pesawat pembom tempur F-14 Tomcat dari sebuah kapal induk Angkatan Laut Amerika di Laut Mediterania. Dipersenjatai dengan bom yang dipandu laser (LGB) GBU-16, pemimpin flight Tomcat bersiap untuk membom beberapa tank T-55 di depan dua ODA. Namun, karena kesalahan dalam komunikasi dan orientasi, pesawat Tomcat yang memimpin menjatuhkan bom LGB pertamanya yang berbobot 2.000 pound pada tank T-55 yang ditinggalkan pada tempat yang sekarang disebut “Press Hill.” Elemen penghubung dari ODA 044 (bersama dengan beberapa personel komando dari ODB 040 – personel markas besar kompi mereka) telah mengumpulkan para pejuang Peshmerga di sana, dan sejumlah tim wartawan juga ada disana saat hulu ledak bom tersebut meledak. Ledakan itu menewaskan atau melukai setidaknya sepuluh hingga lima belas gerilyawan Peshmerga, termasuk putra presiden Kurdi Barzani, dan menghancurkan sekitar lima kendaraan. Meskipun MAJ Howard termasuk di antara yang terluka, terkena pecahan peluru di kakinya, dia menolak untuk meninggalkan medan tempur. Kapten Eric Wright, ketua tim ODA 391, melihat ledakan itu dan segera menyadari bahwa ada “pasukan kawan yang mengalami bencana” di belakangnya. Melihat bahwa sisa tentara SF-nya masih cukup kuat bertempur melawan pasukan Irak, Kapten Wright, bersama dengan Sersan. Ray (sersan medis senior ODA 391) dan beberapa personel ODA 391 lainnya, berpindah ke lokasi yang terkena dampak bom untuk melihat apa yang bisa dilakukan untuk para korban. Sementara itu, pertempuran di persimpangan jalan mulai menjadi lebih menarik ketika peluru artileri Irak mulai mengenai posisi ODA 391/392. Menyadari bahwa sudah waktunya untuk melakukan perubahan posisi, sisa kendaraan dan personel Amerika mulai mundur kembali ke Press Hill sendirian.

Dukungan udara jarak dekat yang disediakan oleh pesawat Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS sangat berharga dalam Pertempuran untuk Persimpangan Debecka. Namun sayang dalam pertempuran ini terjadi insiden salah sasaran yang memakan korban banyak pasukan sekutu AS-Kurdi. (Sumber: https://arsof-history.org/)

Setelah pukul 10.00, Kapten Wright, Sersan. Ray, dan beberapa anggota Tim 391 lainnya tiba di Press Hill untuk menemukan banyak korban, bahan bakar dan amunisi yang meledak, serta kendaraan yang terbakar. Sgt. Ray dengan cepat membentuk titik pengumpulan korban (PKC) dan menghabiskan waktu 15 menit dan dengan panik memisahkan yang terluka yang dapat dibantu dari yang mereka yang terluka parah. Para prajurit ODA 391 melakukan upaya sebaik mungkin, mengikat 19 torniket hanya dalam 30 menit sementara pertempuran berlanjut tepat di depan posisi mereka. Pada saat yang itu penembak Javelin dari ODA 044 dan Sersan. Adamec berhasil menembakkan rudal ke truk yang sama, sementara personel TAC-P bekerja untuk menenangkan dua kru Tomcat dan mengembalikan mereka ke pertempuran. Terlepas dari kinerja rudal anti tank Javelin yang luar biasa, beberapa T-55 masih berada di depan Press Hill dan ada di belakang beberapa tempat terlindung. Setelah melintas beberapa kali diatas target, pesawat-pesawat F-14 akhirnya mulai mensetting beberapa bom GBU-16 ke salah satu dari tank-tank itu. Mereka kemudian mulai menandai target dengan penanda laser untuk pesawat-pesawat F / A-18 Hornet yang mengikuti di belakang pesawat-pesawat Tomcat. Dengan sisa tank, truk, dan MTLB dihujani LGB, banyak dari personel dari ODA 391 dan 392 SF pindah ke lokasi PKT untuk membantu mereka yang terluka. Sayangnya, korban jiwa yang jatuh sangat besar: 17 gerilyawan Peshmerga dan juru kamera BBC tewas dan 45 lainnya luka-luka, termasuk dua dari pasukan SFG ke-10.

Mad Max, salah satu dari dua GRV B-Team (kompi) dari Charlie Company, Batalyon ke-3, Grup Pasukan Khusus ke-3, berhenti di samping GMV selama pertemuan dengan Operational Detachment Alpha (ODA) 394 untuk mengisi bahan bakar dan amunisi. (Sumber Foto: ODA 394/https://www.defensemedianetwork.com/)

Pada pukul 10.40, semua yang selamat dari serangan LGB yang salah sasaran telah dievakuasi, dan semua tentara SF dari ODA 044, 391, dan 392 dapat berkonsentrasi untuk menghabisi pasukan lapis baja Irak di depan mereka. Namun, pasokan rudal Javelin telah menipis, dan masih ada kendaraan dan pasukan Irak yang mencoba mencari cara untuk melawan. Meskipun kekurangan rudal, para penembak ODA 044 melepaskan tembakan ke-12 dalam pertempuran itu, yang menghancurkan sebuah MTLB lainnya. Hal ini menyebabkan kendaraan Irak yang tersisa mulai bergerak menuju Press Hill, dalam upaya untuk mendekati tentara SF. Namun, tentara SF menembakkan empat Javelin lagi, yang lagi-lagi menghancurkan sebuah tank T-55 dan APC lainnya. Pada pukul 11.15, tentara Irak mulai buyar, dan selusin tentara mencoba untuk menyerah kepada tentara SF. Namun, saat mereka melakukannya, dua SUV Toyota meraung dan enam pria berseragam putih turun, menembakkan senjata mesin ke pasukan yang menyerah. Dikejutkan oleh pemandangan itu, TACP memanggil sebuah F/A-18, yang kemudian secara harfiah “menguapkan” SUV dan penumpangnya itu dengan bom GBU-16 yang dijatuhkan dengan baik. Saat episode aneh ini berakhir, Mayor Hubbard dan dua “Babi Perang” dari ODB 390 bergerak untuk melakukan pasokan ulang di medan tempur, termasuk memberikan delapan rudal Javelin yang tak ternilai harganya. Sementara ini berlangsung, salah satu personel markas ODB 390 menembak dengan Javelin, menghancurkan sebuah MTLB lainnya. Ketika satu lagi tembakan Javelin melebar, penghentian penembakan Javelin dilakukan. Pasukan SF kemudian menghabiskan sisa kendaraan dan personel Irak dengan serangan CAS. Butuh dua jam untuk menyelesaikan pekerjaan itu, tetapi pada tahun pukul 16.00, semua tentara Irak telah menyerah, meninggal, atau mundur. Pada pukul 16.00, “War Pigs” ODB 390 memasang mortir 60mm sebagai basis penembakan, dan ODA 391 serta ODA 392 bergerak maju ke zona pertempuran untuk mengatur posisi bertahan mereka di malam itu. Mereka kemudian menghabiskan waktu berjam-jam berduel dengan sebuah howitzer kaliber 152mm Irak yang menembakkan satu peluru ke arah mereka, dan kemudian mereka mencoba menghantam senjata artileri musuh itu dengan serangan CAS. Kesuksesan lainnya terjadi pada pagi hari tanggal 7 April ketika satu tank T-55 mulai bermanuver di depan mereka dan berhasil dihancurkan dengan tembakan Javelin dan serangan CAS. Dengan itu, tentara SF dan para pejuang Peshmerga yang ada bersama mereka telah naik keatas kendaraan dan melanjutkan perjalanan mereka ke Garis Hijau. Secara keseluruhan, personel-personel SF telah menembakkan 19 Javelin yang tepat menghantam 17 sasaran (termasuk delapan Tank dan APC, bersama dengan empat truk), dan tidak ada satu rudal pun yang ditembakkan pada jarak kurang dari 2.200 meter. Secara resmi, jangkauan maksimum Javelin adalah 2.000 meter, jauh lebih pendek dari tembakan terjauhnya dalam pertempuran itu, yakni sejauh 4.200 meter.

SETELAH PERTEMPURAN DAN PELAJARAN YANG DIDAPAT

Dalam hitungan hari, pasukan JSOTF-N pimpinan Kolonel Cleveland berhasil menduduki Kirkuk dan ladang produksi minyaknya tanpa satupun kepala sumur minyaknya yang meledak atau menara penyulingannya rusak. Berkat kemenangan di Debecka Pass dan pertempuran yang dipimpin oleh unit-unit SF lainnya di sepanjang Garis Hijau, pasukan Irak dibuat menyerah, kocar-kacir, atau mundur dalam kekacauan. Hanya tiga minggu kemudian, fase pertempuran utama OIF secara resmi berakhir dan operasi pemeliharaan / dukungan segera berlangsung. Atas aksi mereka pada tanggal 6 April 2003, Sersan Adamec dan Brown dianugerahi medali Silver Stars atas keberhasilan mereka dalam menggunakan rudal Javelin yang belum pernah dicoba di medan perang sesungguhnya. Untuk Capt. Wright, Sgt. Ray, dan sejumlah personel “Roughneck” lainnya mereka mendapatkan medali Bronze Stars dan Army Commendation Medals atas aksi mereka, baik dalam pertempuran maupun dalam menyelamatkan nyawa rekan-rekan mereka di Debecka Pass. Disamping itu ada juga banyak penelitian yang terjadi tentang apa yang mereka lakukan, bagaimana mereka melakukannya, dan dengan apa mereka melakukan tugas-tugas mereka.

Salah satu T-55 yang hancur selama pertempuran Debecka diperiksa oleh pasukan koalisi. Perhatikan palka yang meledak dan bagian lain yang tersebar di sekitar lambung yang terbakar. (Sumber Foto: USASOC/https://www.defensemedianetwork.com/)

ODB 390 dan empat ODA-nya beroperasi dengan cara yang sangat mirip dengan apa yang dipikirkan oleh Angkatan Darat A.S. untuk penggelaran Objektif Force yang telah mereka rencanakan sebelumnya. Dirancang untuk dibangun di sekitar kendaraan dan sistem yang lebih ringan, lebih gesit, dan dapat digunakan, Objective Force dimaksudkan untuk menggantikan kekuatan lapis baja berat yang masih digunakan saat ini. Namun, konsep ini sulit untuk bisa diterima – yang diperparah oleh performa sistem senjata lawas yang dinilai bagus seperti tank M1 Abrams dan kendaraan tempur M2 / 3 Bradley dalam OIF. Namun, kinerja “Roughnecks” di Debecka Pass menunjukkan bahwa kekuatan ringan yang dilengkapi dengan senjata “fire and forget”, sistem pasokan ulang “di medan perang”, dan komunikasi yang baik dari pasukan darat untuk bisa memanggil pesawat CAS, dapat mengalahkan unit lapis baja yang berkali-kali lipat kekuatannya baik dari segi ukuran, berat, dan jumlahnya, dan tidak menderita korban yang signifikan. Faktanya, satu-satunya korban yang diderita oleh pasukan sekutu di Debecka Pass adalah akibat dari serangan bom GBU-16 salah sasaran. Bahkan insiden ini juga menunjukkan konsep baru di masa depan, karena sersan medis SF saat itu memanfaatkan beberapa perban berteknologi tinggi dan persediaan medis baru yang masuk ke dalam dinas militer. Sangat mungkin bahwa Pertempuran Debecka Pass akan tercatat dalam sejarah sebagai contoh nyata pertama konsep pertempuran modern di abad ke-21.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

The Battle of Debecka Pass: Roughnecks at War BY JOHN D. GRESHAM – MAY 9, 2015

THE BATTLE FOR DEBECKA CROSSROADS by Nathan S. Lowrey

https://arsof-history.org/articles/v1n1_debecka_crossroads_page_1.html

THE BATTLE OF DEBECKA, IRAQ, 2003

https://www.google.com/amp/s/weaponsandwarfare.com/2016/06/12/the-battle-of-debecka-iraq-2003/amp/

4 thoughts on “Pertempuran Persimpangan Debecka 6-7 April 2003: Pertarungan Antara Pasukan Baret Hijau Amerika vs Pasukan Berlapis Baja Irak

  • 2 February 2021 at 12:08 am
    Permalink

    termasuk winch untuk membawa drum bahan bakar berkapasitas 55 galon, hitch trailer untuk derek. Sepertinya terbalik winch alat derek&hitch trailer untuk membawa bbm

    Reply
    • 2 February 2021 at 12:53 am
      Permalink

      tks koreksinya

      Reply
  • 3 February 2021 at 12:52 am
    Permalink

    Akun twitter namanya siapa mas aku mau follow

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *