War In The Outpost: Invasi Inggris Ke Madagascar (5 Mei-6 November 1942)

Selama tahun-tahun awal Perang Dunia Kedua, Inggris akan dipaksa untuk melakukan konfrontasi dengan kekerasan menghadapi pemerintahan Vichy Prancis. Konfrontasi ini termasuk serangan mereka yang sukses terhadap armada Prancis di Mers-el-Kebir, Aljazair selama Operasi Catapult pada tahun 1940 dan, pada tahun yang sama, di Dakar-Senegal lewat Operasi Menace yang berujung bencana. Pasukan Inggris dan Prancis kemudian akan bertempur lagi pada tahun 1942 selama Operasi Ironclad dan Steam Line Jane, dalam upaya mereka untuk merebut Pulau Madagaskar. Kedua operasi gabungan darat, laut, dan udara yang dilakukan atas Madagascar adalah yang terbesar yang pernah dilakukan Sekutu dalam perang hingga saat itu. Tetapi yang menarik dan menjadi pertanyaan adalah mengapa pulau besar Madagaskar, yang terletak di lepas pantai tenggara benua Afrika itu, dianggap begitu penting bagi Inggris? Untuk menjawabnya, maka kita harus memulainya dari awal saat perang belum pecah.

Invasi Inggris ke Madagascar pada tahun 1942 adalah salah satu episode Perang Dunia II yang kurang begitu dikenal. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

LATAR BELAKANG

“Yang pertama dan yang terakhir saya ingat dari Madagaskar setelah bulan-bulan penuh petualangan di darat adalah warna tanahnya yang menakutkan,” demikian tulis seorang novelis Inggris yang menjadi sersan keamanan satu dekade kemudian. “(Tanah) itu memberi langit, tumbuh-tumbuhan, dan orang-orang pemandangan yang aneh, bahkan kematian yang masih membayangi ingatan saya tentang pulau itu. Karena tanah dan debu yang mengepul darinya yang menempel di kulit dan pakaian kami, kelopak mata dan lubang hidung kami tidak berwarna batu bata atau terra cotta tetapi warna merah darah kering. ” Terletak 240 mil di lepas pantai tenggara Afrika di Samudra Hindia, dengan luas 226.658 mil persegi, Madagaskar berada tepat di belakang Greenland, New Guinea, dan Kalimantan dalam ukuran di antara pulau-pulau terbesar di dunia. Tetapi dengan populasi pada tahun 1942 yang hanya 3,4 juta, ia memiliki salah satu kepadatan terkecil di dunia, yakni lima orang per mil persegi. Hanya terdapat 25.000 orang Prancis, sisanya adalah campuran orang Afrika dengan pendatang lama dari Malaya dan kepulauan Polinesia yang dibagi menjadi 18 kelompok sub-etnis seperti Antandroy, yang disebut sebagai “orang-orang semak semak duri,” dan Tsmimihety, sebagai “orang-orang yang tidak memotong rambut mereka. ” Meskipun telah ditemukan oleh orang Eropa pada tahun 1506, namun para penguasa Prancisnya tidak juga mengambil alih kepemilikan pulau itu sampai tahun 1897. Tetapi dengan jatuhnya Prancis pada tahun 1940, pemerintahan Prancis kemudian diserahkan kepada Rézim Vichy yang dibentuk oleh Philippe Pétain. Namun, Pétain faktanya hanyalah boneka dari Adolf Hitler, dan ini tentu sangat mengkhawatirkan Sekutu, karena banyak koloni Prancis masih tetap berada di bawah kendali Vichy. Sementara itu meski berada dibawah kekuasaan kolaborator Vichy, pulau Madagascar sebenarnya diabaikan dan diisolasi selama sebagian besar masa perang; namun, peristiwa yang terjadi di Pasifik membawanya secara singkat masuk ke dalam konflik. Vichy French, di bawah tekanan dari kekuatan Poros, diketahui telah memberikan izin kepada Jepang untuk memasuki wilayah Indo-Cina Prancis, dari mana mereka kemudian bisa mendapatkan akses menuju ke Malaya dan Singapura. 

Meskipun sudah ditemukan oleh bangsa Eropa sejak tahun 1504, namun Madagascar baru dikolonisasi oleh Prancis tahun 1897. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Pétain bertemu Hitler di Montoire pada 24/10/40; von Ribbentrop (kanan) dan penerjemah Hitler, Paul Schmidt (tengah). Kedekatan pemerintah Vichy pimpinan Petain dengan Jerman menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi pihak Inggris, akan nasib Madagascar yang strategis. (Sumber: https://ww2nation.com/)

Pada awal 1942 Jepang telah menaklukkan sebagian besar Asia Tenggara, dan angkatan laut mereka telah mulai mengirimkan kapal selamnya ke wilayah utara dan timur Samudra Hindia. Pada bulan Maret, Jepang melakukan penyerangan dengan menggunakan kapal induk atas arus perkapalan di Teluk Benggala dan pangkalan Sekutu di Ceylon serta Trincomalee. Lebih dari itu, kapal-kapal selam Jepang diprediksi mampu berlayar sejauh 10.000 mil tanpa perlu mengisi bahan bakar ulang, sehingga mereka bebas menjelajahi Samudera Hindia. Khawatir dengan keselamatan kapal mereka, Angkatan Laut Kerajaan Inggris memerintahkan Armada Timurnya untuk mundur ke pangkalan alternatif di Kenya. Pada tahun 1941, Jerman juga berusaha membujuk Jepang untuk meningkatkan kekuatan mereka di daerah tersebut, dengan menggunakan kapal selam untuk memerangi rute laut sekutu di Samudra Hindia. Mereka juga ingin agar Jepang lebih fokus pada pulau Seychelles dan Madagaskar, daripada Australia. Menanggapi ini, Jepang memberi tahu pihak Jerman bahwa mereka akan mengirim beberapa kapal selam dan dua kapal penjelajah ke wilayah itu, tetapi mereka tidak akan merilis banyak informasi terkait rencana mereka terhadap Madagaskar. Sementara itu, ketika mendengar tentang serangan terhadap Pearl Harbor di markas besarnya di London, pemimpin Prancis Merdeka, Jenderal Charles de Gaulle, bertanya kepada seorang ajudannya, menurutnya apa konsekuensi serangan itu bagi Prancis. “Samudra Hindia akan menjadi medan perang utama, dan Madagaskar secara tiba-tiba akan menjadi wilayah strategis. Jepang pasti akan berusaha merebutnya, ”jawab ajudan itu dengan mantap. Di tangan Jepang, pelabuhan besar Diego Suarez di ujung timur laut pulau itu dan pangkalan angkatan laut satu mil ke selatan di Antisare akan dapat digunakan untuk menghalangi jalur pasokan Sekutu ke India dan Mesir. De Gaulle lalu meminta Sekutu untuk merebut Madagaskar, tetapi Perdana Menteri Inggris Winston Churchill memveto gagasan tersebut. “Tangan kita sudah terlalu penuh,” dia kemudian mengirim pesan ke Presiden Franklin D. Roosevelt, dan mengatakan kepada kepala stafnya bahwa, “Madagaskar masih harus menjadi prioritas paling bawah.” 

Kapal penjelajah berat Inggris HMS Dorsetshire dan Cornwall di bawah serangan udara Jepang dan rusak berat di barat daya Ceylon, pada Minggu Paskah, 5 April 1942. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Tapi kemudian Jepang merebut Singapura dan Burma. Mereka mendarat di Kepulauan Andaman dan Nicobar di Teluk Benggala. Dengan Ceylon dalam posisi terancam yang lalu dibuktikan dengan serangan Jepang seperti yang telah disebutkan diatas, kabinet perang Inggris memutuskan pada tanggal 12 Juli 1942, untuk hanya merebut Diego Suarez dan bukan seluruh Madagaskar. “Sisa dari pulau besar itu kurang strategis,” kata Churchill kemudian menjelaskan. Ada dua faktor yang mempersulit keputusan invasi ke Madagascar. Pertama, Inggris kekurangan kekuatan untuk melakukan operasi besar, terutama mengingat kebutuhan mereka untuk memperkuat India yang terancam Jepang yang bercokol di Burma. Kedua, otoritas pulau Madagascar diketahui setia kepada Vichy dan ada keengganan yang bisa dimengerti dari pihak Inggris untuk membunuh tentara Prancis atau memprovokasi pemerintah Vichy yang bisa mendorong mereka untuk bekerja sama lebih erat dengan Jerman. Kedua pertimbangan tersebut membuat pihak Inggris merumuskan rencana untuk meluncurkan operasi militer dalam skala terbatas yang diharapkan akan menghasilkan kejutan yang sempurna demi mengurangi sedapat mungkin korban yang timbul. “Dengan ingatan akan Dakar di benak kami, kami tidak dapat mempersulit operasi dengan menerima keberadaan Kelompok Prancis Merdeka. Keputusan diambil bahwa operasi ini merupakan sebuah ekspedisi militer Inggris murni. ” Meski demikian Churchill menyebut bahwa kampanye militer atas Madagaskar sebagai “operasi amfibi skala besar pertama kami sejak Dardanella (dalam Perang Dunia I).”

Laksamana Muda Neville Syfret, yang memimpin armada laut Operasi Ironclad. (Sumber: https://www.npg.org.uk/)

Operasi Ironclad, demikian operasi ini dinamai dimulai hanya dalam waktu 12 malam setelahnya, dengan pakaian musim dingin terlihat dimuat pada kapal-kapal di tengah rumor kemungkinan untuk dilakukannya operasi komando terhadap Norwegia yang diduduki Jerman. Laksamana Muda Neville Syfret lalu ditunjuk untuk memimpin sebuah armada laut yang terdiri dari kapal induk Illustrious dan Indomitable (dengan 86 pesawat tempur dan pesawat penyerang), kapal tempur Ramillies, sepasang kapal penjelajah, sembilan kapal perusak, enam korvet, dan kapal penyapu ranjau yang berjumlah sama serta 18 kapal serbu amfibi dan kapal transport. Sementara itu, Mayor Jenderal Robert Sturges akan mengomandani 13.000 tentara. “Itu adalah saat terdekat saya untuk mewujudkan konsepsi tentang ‘petualangan’,” tulis Sersan Rupert Croft-Cooke kemudian. Dia telah mendapatkan pengalaman luar biasa, bekerja di sirkus, bepergian dengan karavan gipsi yang ditarik kuda, dan berkeliling Eropa dengan bus tua. Penulis ini sekarang menuju ke pengalaman yang paling aneh dari semuanya. Konvoi invasi itu mengitari Tanjung Harapan, menghabiskan lima hari berlabuh di Durban, Afrika Selatan, untuk memuat perbekalan, lalu menuju utara ke Selat Mozambik yang memisahkan Madagaskar dari daratan Afrika. Menghadapi pasukan Inggris, terdapat 8.000 prajurit yang tidak antusias yang terdiri dari 2.000 tentara asal Prancis dan 6.000 tentara Senegal yang tangguh dari Afrika Barat serta milisi lokal Madagascar. “Kami diberi tahu dengan diam-diam bahwa kami memiliki agen di darat yang akan memberi tahu kami tentang setiap rencana pertahanan musuh,” tulis Croft-Cooke. Agen Inggris paling top di Madagaskar sejak bulan November 1940 adalah Percy Mayer, seorang pengusaha yang karena pekerjaannya memampukannya untuk berkeliling ke seluruh pulau, sementara istrinya, yang dikagumi masyarakat karena penampilan dan permainan pianonya, menyampaikan semua pesannya ke Durban dari kamar mandinya. “Tapi,” kenang Croft-Cooke, “ketika malam terakhir tiba dan kami menyadari bahwa dalam beberapa jam lagi, pendaratan akan dimulai, prospeknya, jika dilihat di bawah sinar matahari tropis, tiba-tiba suasana nampak menyedihkan, dan tidak yakin bahwa kami akan sukses, serta sangat berbahaya.” 

Mayor Jenderal Robert Sturges, komandan pasukan darat dalam Operasi Ironclad. (Sumber: https://ww2nation.com/)

MEREBUT DIEGO SUAREZ

Kampanye militer untuk merebut Madagaskar dibuka pada pukul 4:40 pagi tanggal 5 Mei 1942, dengan serangan yang dilakukan atas Diego Suarez. Pesawat Fairey Swordfish dan Albacore dari kapal induk membom kapal-kapal yang berlabuh di pelabuhan dan menghancurkan sebagian besar dari 30 pesawat Vichy di darat, sementara armada laut menembaki kota dan pasukan terjun payung diterjunkan. Terjebak di tengah kota, Percy Mayer bergegas dari kamar hotelnya ke jalanan. Sial baginya, dia langsung bertemu dengan patroli Vichy. Ketika dia digeledah, pesan rahasia ada padanya. Dia segera menemukan dirinya ditahan di dalam sel di pangkalan angkatan laut Antisare, dan diberitahu bahwa dia akan segera dieksekusi, serta setidaknya ia ditawari seorang pendeta untuk mendoakannya. Faktanya hanya serangan udara lah yang nyata. Pengeboman angkatan laut hanya menembakkan roket sinyal, cahaya dan bukannya peluru peledak, “penerjunan pasukan terjun payung” hanyalah boneka. Serangan yang sebenarnya terjadi di sisi barat pulau itu, di Courier Bay dan Ambarata. “(Karena) Menembak di malam hari tidak mungkin dilakukan, pintu masuk ke teluk dianggap tidak mungkin ditembus,” demikian sebuah laporan staf Prancis menyimpulkan dengan percaya diri. Meskipun demikian, kapal penyapu ranjau Angkatan Laut Kerajaan Inggris mampu dengan terampil menavigasi beting, terumbu karang, dan ranjau dan kemudian menjatuhkan pelampung untuk diikuti kapal pembawa pasukan. Pasukan  Commandos dan East Lancashire melanjutkan dengan mendaki tebing setinggi 50 kaki yang menghadap ke Courier Bay. “Kami bergerak ke posisi senjata yang bisa kami lihat dengan jelas di bawah sinar bulan,” kata seorang kapten Artileri Kerajaan Inggris yang bertugas sebagai pengamat garis depan. “Anehnya, semua sunyi dan sepi, tidak ada penjaga yang ditempatkan, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Saat fajar menyingsing, kami melihat beberapa bangunan dan masuk untuk menyelidiki. Di sana kami menemukan semua penembak sedang ada di tempat tidur. ” 

Percy Mayer, mata-mata Inggris di Madagascar. (Sumber: https://chazfest.com/)

Hanya ada sedikit perlawanan di awal invasi. “Dalam panas terik, dibebani dengan amunisi dan granat, kami berbaris melawan angin panas melintasi tanah genting sejauh 8 mil ke Diego Suarez,” kenang salah satu Personel Commando. Ketika pasukan Komando dan Lancashire mencapai Diego Suarez pada pukul 16:30, mereka akhirnya menemui perlawanan sengit. Sersan Rupert Croft-Cooke dan Brigade Independen ke-29, sementara itu, telah mendarat di Ambarate. Dia menyeret sepeda motornya dari pantai, menendangnya hingga mesinnya bisa hidup, lalu bergabung dengan mereka yang sudah berangkat lebih dulu melintasi jalan tunggal berdebu sejauh 21 mil ke arah timur menuju Antisare. “Tidak ada suara tembakan, tidak ada musuh yang terlihat,” tulisnya. Jarak sepuluh mil atau lebih telah ditempuh sebelum kami bisa melihat sesuatu kecuali tanah merah dan tumbuhan berbunga. “Segera setelah tengah hari, pertempuran dimulai,” lanjutnya. Dia telah melakukan perjalanan 20 yard di belakang kendaraan Bren Carrier yang ditumpangi oleh komandan pasukan Brigade ke-29, Brigadir Fredrick Festing. Dikenal sebagai Frontline Frankie, seperti biasa, dia berada ratusan meter di depan pasukannya ketika tembakan tiba-tiba pecah. Pasukan Inggris lantas bergegas untuk berlindung di balik pepohonan dan semak-semak di pinggir jalan. Setelah lima menit, satu dari setengah lusin tank pendukung Valentine datang. Saat dia berjalan ke arahnya, Festing melihat Croft-Cooke dan berteriak, “Sudah ditembaki dengan gencar, sersan?” Belum, Pak, tidak sama sekali. “Aku harus bicara dengan tank itu,” kata Festing dan mulai memukul turret tank dengan tongkatnya. Lebih kesal daripada terkesan, Croft-Cooke kembali ke jalan untuk bergabung kembali dengan bagian satuan pengamannya.

Pasukan Inggris mendarat di Diego Suarez, Madagascar, 5 Mei 1942. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)
Rupert Croft-Cooke. (Sumber: https://ericbrown.co.uk/)

Festing kemudian memukul mundur pasukan Vichy yang bertahan dengan satuan lapis baja, lalu dengan serangan bayonet. Beberapa jam kemudian, menuruni bukit dan sampai ke jembatan di seberang sungai, barisan depan pasukan Inggris menemukan sebuah bangunan besi bergelombang yang bobrok dengan papan bertuliskan “Robinson’s Hotel.” Itu sebenarnya adalah toko. “Di setiap desa Madagaskar, kami kemudian mengetahui, ada toko orang Cina, biasanya sebuah gudang kaleng,” kenang Croft-Cooke. Bangunan itu dengan cepat diambil alih sebagai markas lapangan untuk Festing dan Sturges, dengan Croft-Cooke bertanggung jawab atas pengaturan penjagaannya. Sementara itu, pemilik toko, orang Cina tua menyajikan teh, mengobrol dengan bahasa Prancisnya yang unik. Tiga mil dari Antisare, orang Inggris yang terkejut berhadapan dengan jaringan bunker pertahanan dan parit yang oleh tentara Vichy disebut sebagai Garis Joffre. Percy Mayer, yang masih berkeringat karena penunjukannya sebagai regu penembak, telah ditugaskan untuk melaporkan situasi, tetapi informasi itu tidak pernah sampai ke Sturges. “Tembakan (musuh) sekarang menghebat dan datang dari semua sisi,” Croft-Cooke menceritakan. “Artileri kami sendiri dan artileri Prancis kaliber 75 terdengar dengan jelas ditengah suara tembakan mortir, senapan mesin, dan tembakan senapan infanteri.” Festing kemudian mengirimkan satuan lapis bajanya, hanya untuk dihentikan di parit antitank sepanjang 2.000 yard. Empat tank terakhir dari tipe Valentine dan dua dari enam tank ringan Tetrarch yang menjadi kendaraan lapis baja yang masih tersisa dalam operasi itu dihancurkan oleh tembakan artileri. Awak mereka segera melompat keluar dan melawan tentara Senegal dalam pertempuran jarak dekat untuk menyelamatkan diri. Festing merekomendasikan Kapten Peter Palmer, yang terbunuh saat mencoba menyelamatkan pengemudi tank-nya yang terluka, untuk menjadi satu-satunya penerima medali Victoria Cross yang dihasilkan dalam kampanye itu, namun pada akhirnya ia malah hanya dianugerahi medali Military Cross. 

Tank Valentine yang turut digunakan dalam Operasi Ironclad di Madagascar tahun 1942. (Sumber: https://warspot.net/)
Tank ringan Tetrarch. (Sumber: https://www.dday-overlord.com/)

Hari yang panjang berakhir dengan penuh ketenangan pada pukul 6:30 sore. “Sekarang, malam sudah larut, dan bintang-bintang di belahan bumi selatan bersinar terang,” tulis Croft-Cooke. Untuk mencegah penembak jitu merangkak di kegelapan, pasukan Inggris membakar rumput di sekitarnya. “Saya melihat bukit-bukit yang berkobar dan sosok-sosok hitam prajurit-prajurit kami dibelakangnya, dan mencoba untuk menyadari bahwa ini adalah pertempuran, dan bukan hanya malam yang fantastis di negara yang asing.” Sturges kemudian bersiap untuk melancarkan serangan sebelum fajar, mengharapkan “serangan yang bagus akan berakhir saat kami sarapan di Antisare”. Faktanya dia baru sarapan jam 7:30, dan masih ada di Robinson’s. “Sangat jelas bahwa serangan itu gagal. Itu adalah momen yang tidak menyenangkan, ”akunya. Dan akan ada lebih banyak momen tidak menyenangkan yang akan datang. Meskipun rumput-rumput sekitar terbakar, namun penembak jitu musuh masih tetap berhasil menembus — seorang petugas sinyal angkatan laut yang duduk di samping Croft-Cooke jatuh ke depan tanpa suara, peluru telah bersarang di antara matanya. Kemudian, Robinson yang berada di bawah tembakan artileri berat, memaksa semua orang kecuali pemilik Cina tempat itu untuk berlindung. Sturges lalu kembali ke pantai untuk menaiki kapal bendera Ramillies pada pukul 14.00, “panas, murung dan tidak menyenangkan”, demikian kata Syfret, dan meminta serangan pengalihan melalui laut terhadap Antisare. Dalam waktu kurang dari 30 menit, kapal perusak Anthony bersiap untuk berlayar 100 mil di sekitar Madagaskar dengan Kapten Martin Price dan 30 personel Marinir Kerajaan. Salah satunya adalah pembantu dari Syfret, yang memohon untuk bisa turut pergi, Syfret hanya menyetujui dengan enggan. Dia kemudian mengakui, “Saya tidak yakin bisa bertahan hingga malam itu. Jam-jam berikutnya tidak akan menyenangkan. ” 

Setelah mendarat di Madagaskar, tentara Inggris dari King’s African Rifles berkumpul di pantai. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Letnan Komandan John Hodges membawa Anthony melewati Teluk Antisare dalam kegelapan pekat pada pukul 8 malam, berharap bisa melakukan pendaratan mendadak, tetapi lampu sorot di pantai menyala. Hodges dengan mantap bermanuver melalui tembakan gencar dengan kecepatan 30 knot menuju dermaga. Tanpa waktu untuk berhenti, dia melampaui dermaga, berbalik dengan buritan di belakang sementara Price dan Marinirnya melompat ke daratan, dan kemudian kembali ke laut dengan kecepatan penuh. Price membagi para Marinirnya untuk merebut sasaran. Mereka bergegas menuju gerbang di depot angkatan laut tempat Percy Mayer akan dibawa untuk dieksekusi di bawah tembakan senapan. Granat dilemparkan dan sebagai tanggapan komandan di tempat itu muncul dengan mengangkat bendera putih. Seorang peniup terompet di sampingnya mulai membunyikan gencatan senjata. Marinir, salah mengira suara itu sebagai alarm, menembaknya dan kemudian meminta maaf. Di dalam depot, 50 tahanan Inggris yang ditangkap pada pagi harinya karena serangan mereka yang gagal di Jalur Joffre dibebaskan, tetapi Percy Mayer tidak. Untungnya, dia belum ditembak. karena sudah merasa kalah, pihak Prancis kemudian membebaskannya. Price lalu mempersenjatai para tahanan dan segera menguasai Antisare, dan terlepas dari ketakutan Syfret, dia tidak kehilangan satu pun Marinir. “Ini adalah serangan pengalihan yang brilian,” tulis Churchill. Price kemudian dianugerahi Distinguished Service Order untuk aksinya itu. Sementara itu, Sturges memerintahkan serangan terakhir di garis Joffre pada pukul 8:30. Panggilan telepon dari Antisare melaporkan bahwa penyerbuan Price telah menghancurkan moral pihak Vichy, dan pada pukul 11 malam, ledakan roket sinyal menerangi langit hitam, mengumumkan bahwa garis Joffre telah jatuh. 

Armada kapal yang digunakan dalam Operasi Ironclad. (Sumber: http://ww2today.com/)
Peta Invasi ke Madagascar. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Pada tanggal 7 Mei, pesawat-pesawat Martlet (versi F4F Wildcat Asal Amerika) Inggris menghadapi tiga pesawat tempur Prancis tipe Morane, dengan hasil satu buah Martlet ditembak jatuh. Ketiga pesawat Prancis itu kemudian ditembak jatuh, yang berarti bahwa pada hari ketiga serangan di Madagaskar, dua belas pesawat Morane dan lima Potez 63 telah dihancurkan dari total 35 pesawat Vichy di seluruh pulau (Pada bulan Agustus, diketahui bahwa kekuatan udara Vichy di pulau itu tinggal terdiri dari hanya empat pesawat tempur Morane dan tiga Potez-63). Tiga pembom Potez lainnya kemudian dihancurkan di darat selama serangan di Majunga pada tanggal 15 Mei. Pertahanan terakhir di Diego Suarez akhirnya menyerah. “Seolah-olah kami telah memenangkan pertandingan berat, dan tidak ada anggota tim yang memiliki perasaan tidak nyaman,” demikian komentar Price. Rupert Croft-Cooke melihat tidak ada yang menarik dari skor yang didapat dalam kemenangannya, yang memakan korban 105 orang Inggris tewas dan 283 luka-luka, sedangkan kerugian Vichy Prancis adalah 145 tewas dan 336 luka-luka. “Hanya sedikit kemenangan dalam catatan kami,” tulisnya. “Kami marah atas sikap keras kepala idiot orang-orang Prancis, yang telah bertempur dan membunuh banyak orang baik. Dan karena apa? Hanya karena seorang Marshall (Petain) berusia delapan tahun di Prancis telah memerintahkan mereka untuk melakukannya. ” Prajurit lain juga sama marahnya, yakni Charles De Gaulle. Dia sedang berada di Washington, D.C., untuk berupaya memperbaiki hubungan dengan Presiden Roosevelt ketika seorang reporter membangunkannya pada tengah malam untuk menyampaikan berita — informasi pertama yang dia terima tentang invasi tersebut. Untuk saat ini, Inggris lebih suka berurusan dengan otoritas Vichy setempat. Mereka kemudian akan mendapati mereka sama menyulitkannya dengan De Gaulle, tetapi untuk alasan yang berbeda.

Sebuah Pesawat Tempur Grumman Martlet dari AL Inggris terbang di atas HMS Warspite selama operasi di Madagaskar. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Pesawat tempur Morane-Saulnier M.S.406 milik Prancis yang turut memperkuat kekuatan udara mereka di Madagascar. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Pesawat tempur Potez 63 milik Prancis. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Ketika polisi, petugas bea cukai, guru, dan berbagai pejabat penting lainnya dipanggil ke balai kota di Diego Suarez dan diminta oleh Inggris untuk terus bekerja, mereka memprotes, salah satu dari mereka bertanya apakah hal itu akan membahayakan hak pensiun mereka, ironisnya, dengan alasan karena dianggap bekerja sama dengan penjajah. Pihak Inggris kemudian membuat isyarat yang mengancam untuk memenjarakan mereka sehingga mereka dapat mengklaim kemudian bahwa mereka bertugas di bawah tekanan. Croft-Cooke, misalnya, tidak bisa menyembunyikan ketidaksukaannya terhadap orang-orang seperti itu “yang, mengira bahwa hak pensiun mereka mungkin hilang atau nama baik mereka tercoreng di mata pemerintah mereka, menolak untuk menyadari masalah yang sama saat mereka terus bekerja setelah kekalahan mereka dengan orang-orang Jerman dan pendudukan yang mengikutinya serta bagaimana mereka terus bekerja setelah Jepang yang menduduki Indo-China. ” Croft-Cooke lalu melanjutkan tugasnya sendiri, dengan membebaskan para pendukung de Gaulle yang dipenjara, mengumpulkan simpatisan Vichy untuk diinterogasi, dan memulai pengejaran terhadap dua agen Jerman. Dia bahkan memerintah untuk sementara waktu sebagai pejabat perwira distrik. “Saya mulai menyukai orang-orang Madagascar, dengan kebohongannya yang terang-terangan, sifat penakutnya yang primitif, bakatnya dalam mendongeng, kelambanannya, kesopanan, dan sikap manisnya,” tulisnya kemudian. Sementara itu, pihak Inggris telah membiarkan orang-orang Prancis menguasai Madagaskar tengah dan selatan, yang kemudian segera membuatnya kesal. Dia kemudian menulis pada tahun 1953, “Suatu hari, saya kira, kita akan diberi tahu mengapa setelah mengambil satu-satunya pelabuhan yang dijaga dengan kuat di Madagaskar, kita tetap berada dalam wilayah seluas 100 mil persegi sebelum menyerang dan merebut bagian pulau lainnya. ” Tiga tahun sebelumnya, Winston Churchill telah menjelaskan alasannya. Dalam volume keempat buku sejarah Perang Dunia II-nya, yang berjudul “The Hinge of Fate”, dia menyertakan telegram kepada Admiral Syfret tentang Madagaskar. “Apa yang ada disana harusnya membantu dan bukannya menjadi halangan. Harus membawa keamanan dan bukannya beban. Kita tidak bisa menempatkan pasukan tempur di sana untuk waktu yang lama, ”bunyinya. Sebenarnya, Syfret setuju. “Saya pikir, sejauh menyangkut pendudukan kami di Diego Suarez, Prancis akan mengadopsi kebijakan pasif.” Namun, tak lama kemudian, Jepang kembali memaksa Churchill untuk berubah pikiran, kali ini secara langsung.

Pasukan Prancis yang ditangkap berbaris menjauh dari markas mereka setelah Inggris merebut Diego-Suarez pada 7 Mei 1942. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Negosiasi penyerahan Diego-Suarez di markas Pasukan Inggris di dalam kota. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

SERANGAN JEPANG

“Kami telah menetap untuk tinggal di pelabuhan yang berantakan itu seolah-olah kami akan tetap di sana selamanya,” tulis Croft-Cooke. Pada malam tanggal 29 Mei 1942, ledakan mendadak terjadi di pelabuhan yang menghancurkan ketenangan disana. Ramillies mendapati adanya lubang 20 kaki disisinya akibat ledakan. Sebuah kapal tanker minyak British Loyalty berbobot 6.993 ton juga tenggelam. “Dari mana asalnya ledakan ini? Menandakan hal apa ini? ” demikian pikir Churchill yang khawatir. Itu ternyata adalah akibat aksi dua kapal selam mini Jepang. Mencoba melarikan diri setelah menyebabkan kerusakan, kapal selam itu kandas di terumbu karang, kedua awaknya (Lieutenant Saburo Akieda dan Petty Officer Masami Takemoto) berenang ke darat untuk kemudian disudutkan oleh pasukan Inggris dan terbunuh dua hari kemudian. Selama dua bulan berikutnya, beberapa serangan kapal selam mini telah menghancurkan 34  buah kapal dengan total berbobot 150.000 ton. Dalam asumsi yang salah—sebenarnya kapal selam mini itu diluncurkan dari armada kapal selam Jepang (kapal selam I-16 dan I-20), seperti yang sebelumnya mereka lakukan di Pearl Harbor — pihak Inggris mengira bahwa pihak Jepang beroperasi dari pelabuhan yang masih ada di tangan pihak Vichy: di Majunga di pantai barat, dan Tamatave di timur. Perdana Menteri Afrika Selatan, Jan Smuts, menambah tekanan politik khusus pada Churchill, dengan mengirim pesan bahwa, “Madagaskar adalah kunci keamanan di Samudra Hindia. Aksi (Jepang) itu menunjukkan perlunya menghilangkan kendali Vichy dari seluruh pulau secepat mungkin. ” Inggris pertama kali menanggapi pesan ini dengan melakukan misi pengeboman ke wilayah Vichy yang dilakukan oleh Angkatan Udara Afrika Selatan. Satu pesawat dengan seorang pilot bernama Jones jatuh, dan Croft-Cooke dikirim dalam misi penyelamatan untuk mendapatkannya kembali. Jones, bagaimanapun, telah menyelamatkan senapan mesin dari pembomnya yang rusak dan memimpin krunya ke tempat yang aman ketika mereka tiba-tiba bertemu dengan seorang perwira Prancis dan 40 personelnya.

HMS Ramillies yang sempat menderita kerusakan akibat serangan kapal selam mini Jepang. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Tipe Kapal Selam Mini Jepang. (Sumber: https://weaponsandwarfare.com/)

“Saya harus meminta Anda, Tuan-tuan, untuk menganggap diri Anda sebagai tawanan saya,” kata Jones, sambil melepaskan tembakan senapan mesin ke udara. Orang-orang Madagascar yang menyertai perwira Prancis itu segera tercerai berai. Orang Prancis itu menjawab, “Saya menyerah tanpa syarat.” Dengan tawanannya berjalan di belakang, Jones berhasil mencapai pantai untuk kemudian dijemput oleh kapal Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Sementara itu, Croft-Cooke juga menemukan agen Jerman yang diburunya. Setelah menerima informasi, dia menangkap mereka sebelum fajar saat mereka sedang tidur di sebuah gubuk. “Pelabuhan pantai barat diperlukan untuk mengontrol Selat Mozambik di mana konvoi kami ‘disiksa’ oleh kapal-kapal U-boat. Gubernur jenderal (Prancis) tetap bersikap keras kepala. (Sehingga) Operasi lebih lanjut harus dilakukan, ”tulis Churchill. Pada akhirnya, keputusan diambil untuk menduduki sisa wilayah Madagaskar dalam operasi tiga tahap yang bernama Stream Line Jane. Stream akan terdiri dari pendaratan di Majunga, diikuti langsung oleh Line, yakni bergerak ke ibu kota Madagaskar, Antananarivo, dan diakhiri dengan Jane, yakni pendaratan di Tamatave. Sebuah konvoi bala bantuan termasuk satuan King’s African Rifles (KAR) berlayar dari Mombasa untuk bertemu di Selat Mozambik dengan pasukan Croft-Cooke dan Brigade ke-29 pada malam tanggal 9 September 1942. Sastrawan lainnya, Kenneth C. Gandar-Dower, sedang bersama pasukan bala bantuan pada malam itu. Dia sebelumnya telah menerbangkan pesawat bobrok dengan dua tempat duduk dari Inggris ke India, kemudian menjelajahi Kenya dan Kongo Belgia dan membuat laporan tentang penjelajahannya. Perang telah memberinya lebih banyak kesempatan untuk melanjutkan petualangan eksotisnya sebagai koresponden yang meliput invasi pertama ke Ethiopia dan sekarang ke Madagaskar. “Dunia ini gelap dan kosong bagi kami — dan Madagaskar,” tulisnya tentang malam di laut itu. “Saya tidak tahu apa yang ada di depan saya.” Apa yang terbentang di depan adalah sebuah episode yang akan dicatat dalam catatan pihak Inggris sebagai “Pertempuran Sebelum Sarapan Pagi”.

INVASI LANJUTAN

Pasukan invasi muncul di Majunga pada jam 3 pagi. “Di antara kapal pengangkut pasukan, ada sesuatu yang bergerak, gumpalan hitam kecil yang sepertinya tidak berbentuk,” tulis Gandar-Dower. “Setelah beberapa saat, saya menyadari benda itu tidak sendirian. Ada lagi, dan lagi, dan lagi. ” Mereka adalah kapal-kapal serbu yang membawa pasukan East Lancashire dan Welsh Fusiliers ke pantai sembilan mil dari kota. Ketika siang hari tiba, kapalnya bergerak hingga 400 yard dari pantai, dan dia melihat “sosok-sosok kecil merangkak perlahan di atas tebing kapur putih, mengikuti lintasan yang berkelok-kelok, berhenti, terus berjalan…. Itu seperti jika kita memotong setengah dari sebuah bukit semut, dan menggantinya dengan kaca, dan melalui kaca, kita bisa melihat semut berperang. ” Bahkan, dia turut menyaksikan serangan pengalihan seperti yang terjadi di Diego Suarez. Croft-Cooke kemudian datang dengan pasukan pendaratan yang sebenarnya, langsung menuju ke dermaga. “Butuh waktu satu setengah jam untuk bisa mencapai pantai,” katanya, “dan sebelum kami selesai, fajar telah tiba. Kami bisa melihat Majunga dalam cahaya kemerahan matahari terbit, kota putih di antara pohon palem. Awalnya, tampaknya cukup damai, tetapi karena kami berada dalam jarak pendengaran, kami dapat mendengar suara senapan mesin, dan kami tahu bahwa pihak Prancis sedang melawan kami. Kami melihat sekilas pasukan Komando bergegas ke jalan sempit dan melihat orang-orang kami ada di sepanjang pasir putih pantai. “

19 September 1942, Tentara Sekutu turun dari LCA di pelabuhan Tamatave. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Pasukan Komando mendarat pada pukul 5:20, dengan cepat menaklukkan posisi-posisi senapan mesin lalu menyerbu ke dalam kota. Croft-Cooke mengikuti dibelakang, membawa sepeda motornya yang selalu ada bersamanya melewati ombak dan pasir. “Pertempuran hampir selesai, tetapi beberapa tembakan masih terdengar untuk memberi saya ilusi bahwa pertempuran diperlukan untuk mengambil alih kota,” kenangnya. Sementara itu, Pasukan Komando hanya menemui sedikit perlawanan yang terpencar-pencar ketika mereka menduduki bank, kantor pos, dan kediaman administrator regional, dan dalam 90 menit, pertempuran — seperti sebelumnya — berakhir dengan selusin tentara Inggris tewas. Pasukan Komando yang mencoba mengapit kota telah bertemu dengan lawan yang jauh berbeda dan lebih gigih. “Saat kami melakukan perjalanan ke sungai,” Fred Munson mengenang, “air pasang mulai surut, dan kami mulai kandas di tebing pasir. Sungai itu penuh dengan buaya, jadi sebelum kami bisa masuk ke air untuk meringankan kapal dan mendorong mereka dari tebing pasir, granat tangan dilemparkan lebih dulu ke dalam sungai untuk mencegah buaya masuk. ” Di Majunga, komandan garnisun, Mayor Didier Martins, sedang ada di tempat tidur pada saat penyerangan tetapi berhasil membuat dirinya sedikit terluka di siku kirinya dan, tidak diragukan lagi untuk kepentingan atasan Vichy-nya, hal itu cukup untuk menunjukkan kehadiran dirinya dalam pertempuran dengan. “Apakah anak buahku bertarung dengan baik?” Dia bertanya. “Luar biasa!” Jawab komandan Inggris ikut mengikuti akting dari komandan garnisun. Seperti di Antisare, menemukan terompet untuk menyerukan penyerahan diri terbukti sulit. Seorang perwira muda Inggris dikirim ke rumah keluarga Martin untuk membawa bendera putih. Dia menemukan Madame Martins dengan histeris dibarikade di kamar tidurnya. Dari luar pintu, perwira itu menjelaskan mengapa dia ada di sana dan meyakinkannya bahwa dia tidak akan memperkosanya. Pintu akhirnya terbuka, dan tangan yang gemetar mengeluarkan sapu dan seprai. “Kegembiraan yang aneh menyebar ke seluruh kota saat makan siang,” kata Croft-Cooke. “Kami disambut secara terbuka, dan harapannya terungkap bahwa kami sebentar lagi akan menguasai ibu kota tidak lama lagi.”

Saat operasi untuk mengamankan Madagaskar berlanjut pada bulan November 1942, tentara Inggris membongkar penghalang jalan yang telah dipasang untuk menghalangi kemajuan pasukan darat mereka. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

Pada saat itu, KAR dan barisan mobil lapis baja Afrika Selatan telah berangkat 250 mil tenggara untuk melakukan hal itu. Mereka menempuh jarak 131 mil hanya dalam waktu 18 jam, hanya untuk kemudian diperlambat hingga bergerak sangat lambat setelah dihadang oleh sekitar 3.000 penghalang jalan yang akhirnya dipasang pasukan Vichy di seluruh Madagaskar. KAR bekerja sepanjang waktu membongkar rintangan yang ada dan menghadapi satu-satunya perlawanan serius saat berjarak 150 mil dari Atananarivo, di desa pegunungan Ariba. Pasukan Senegal menghentikan KAR dengan tembakan senapan mesin yang berat sampai seorang sersan bernama Odillo, yang perwira Inggrisnya telah terbunuh, memimpin peletonnya mengepung orang-orang Senegal dan kemudian datang berteriak ke arah mereka dengan membawa parang panga melengkung sepanjang tiga kaki. “Setelah melepaskan tembakan hingga yang tembakan terakhir, salah satu prajurit Senegal melompat keluar dan mencoba menembus garis pengepungan kami. Kami lalu menjatuhkan beberapa prajurit semacam ini seperti menembaki kelinci, ”kata seorang kolonel KAR. Empat prajurit dari satuan KAR tewas dalam pertempuran itu, sementara delapan yang terluka dibaringkan di samping korban dari prajurit Senegal, meskipun tidak ada yang mau ditempatkan di samping personel wajib militer asal Madagascar. Setelah 13 hari, pasukan Inggris berhasil mencapai Atananarivo untuk ditemui oleh seorang operator Special Operations Executive, Letnan Angkatan Laut Kerajaan Peter Simpson Jones, yang berdiri di samping Renault dengan setelan tropis baru. Dia dan seorang rekannya telah mengirimkan satu set radio ke agen lain, tetapi perahu mereka telah terbalik di perairan Madagaskar yang terkenal penuh dengan hiu saat mereka mendayung. Rekannya tenggelam, tetapi Jones diselamatkan oleh seorang nelayan. Di pengadilan militernya, di mana dia dijatuhi hukuman lima tahun penjara, jaksa penuntut Vichy mengingatkan, “Tidakkah kamu berpikir bahwa dalam perang dunia berikutnya, kamu mungkin lebih baik bergabung dengan satuan artileri?” Sementara itu, Istri Percy Mayer yang biasa bermain piano dan mengoperasikan radio, telah menghabiskan beberapa minggu dengan cemas menghadapi kemungkinan penangkapan, juga akhirnya selamat. Gubernur Jenderal Armand Annet telah melarikan diri, dan tanpa seorang pun yang mau menyerah, seorang perwira Inggris masuk ke stasiun radio untuk dengan sopan meminta waktu siaran untuk memberikan pengumuman yang tidak terlalu mengesankan: “Pukul 5 sore, pasukan kami (telah) menduduki Atananrivo. Semuanya (diharap) tenang. Hanya itu.” 

Komik mengenai invasi Inggris ke Madagascar. (Sumber: http://ww2today.com/)

Lima hari sebelumnya, bagian Jane dari operasi itu telah dimulai. Dengan ombak di Tamatave terlalu kasar untuk pendaratan dalam kegelapan, rencananya yang kemudian digelar adalah untuk mengintimidasi kota itu agar menyerah dengan unjuk kekuatan angkatan laut yang luar biasa. “Mereka mungkin harus menggertak hingga menit terakhir, tapi tidak lebih dari itu. Senjata tidak akan pernah ditembakkan ke kota itu, ” demikian keyakinan dari Gandar-Dower, tetapi keyakinan ini terbukti salah — setidaknya selama tiga menit. Itu adalah berapa lama pemboman pihak Inggris berlangsung setelah Prancis menolak ultimatum untuk menyerah pada pukul 10 pagi. Mereka akhirnya mengibarkan bendera putih pada pukul 10:03. Gandar-Dower kemudian mendarat, dengan topi bowler di kepala, kamera di satu tangan, mesin tik di tangan lainnya, untuk menyaksikan banyak aktivitas yang mengikuti — tentara dalam posisi menembak, bergegas, menendang pintu — tetapi tidak ada pertempuran. “Itu terjadi,” tulisnya, “seperti serangan Hollywood, yang dipertontonkan setelah pihak lain gagal untuk melawan.” Seorang wanita tua berjalan mendekatinya untuk menanyakan apakah pertempuran telah berakhir. “Iya” katanya, dan segera setelah itu dia dan pasukan Inggris berbaris masuk ke kota, di kepala mereka, adalah bayangan seorang wanita muda “dengan pakaian renang minim dan sepasang kaki yang indah.” 

Sebuah Bren Carrier Inggris meluncur di jalan kota Majunga di Madagaskar. Pada saat foto ini diambil tanggal 5 Oktober 1942, Inggris secara efektif telah menguasai pulau itu. Sebulan kemudian, penyerahan Pemerintah Vichy mulai berlaku secara resmi (Sumber: AP Photo/https://warfarehistorynetwork.com/)

Meskipun Stream Line Jane telah berhasil diselesaikan, kampanye untuk merebut Madagaskar masih akan berlangsung selama enam minggu lagi yang tidak masuk akal. Dengan campuran antara sikap perlawanan dan khayalan, Gubernur Jenderal Annet yang setia pada rezim Vichy (berbeda dengan rekan-rekannya) telah mengirimkan pesan yang gila ke pemerintah Vichy: “Pasukan kami yang siap sedia untuk melawan setiap serangan musuh dengan semangat yang sama yang menginspirasi tentara kami di Diego Suarez, di Majunga, di Atananarivo, di mana setiap kali perlawanan menjadi gambaran kepahlawanan ala Prancis. ” Dia telah melarikan diri 190 mil ke selatan ke Finanarantsoa, dan KAR telah berangkat untuk mengejarnya. Gandar-Dower mengikuti dibelakang dengan truk Citroen, sepeda, dan pirogue rampasan, mengakui bahwa, “Kami (hanya) menjumpai sedikit pertempuran, tapi bertemu dengan banyak petualangan yang aneh.” Rupert Croft-Cooke sedang menjalani petualangannya sendiri dengan seorang letnan dan setengah lusin tentara yang mencari seorang letnan Prancis dengan 100 personel wajib militer. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan beberapa ekor buaya, dan mengusir mereka dengan tembakan senapan. Mereka kemudian bertemu dengan seorang misionaris wanita Inggris, sendirian, terlupakan, dan mengundurkan diri untuk tinggal disitu selama lebih dari 40 tahun. “Lima jam mendayung di sungai yang dipenuhi buaya di Madagaskar ke sekumpulan gubuk penduduk asli yang tidak siap untuk menghadapi situasi seperti itu,” tulis Croft-Cooke. Kemudian dia dan letnannya akhirnya bisa berdiskusi dengan perwira Prancis yang dicarinya: “Anda tentu saja memiliki beberapa tentara?” orang Prancis itu bertanya. “Ya,” jawab orang Inggris itu. Kami memiliki beberapa tentara. Secara alami, mereka bersenjata? “Tentu saja.” “Senjata otomatis, ya?” Ya Tommy gun. “Anda mungkin memiliki beberapa kekuatan lain di daerah ini?” “Kita punya.” “Dengan artileri, tidak diragukan lagi?” “Pasti.” Artileri itu ada di pantai. “Ah. Permisi sebentar. ” Dia kemudian segera menghubungi Annet, “Hari ini kami dikalahkan oleh pasukan Inggris yang dipersenjatai dengan senjata otomatis dan didukung oleh artileri.” Demikian pesannya dan kemudian menyerah.

PENUTUP

Kampanye itu menjadi menjadi lebih menjengkelkan tidak lain karena tindakan orang-orang Vichy yang keras kepala terus memasang ratusan penghalang jalan lagi. “Ketika saya menutup mata dan memikirkan Madagaskar, yang saya lihat adalah satu penghalang besar,” kenang Gandar-Dower. Orang Prancis meletakkan bebatuan seukuran melon tepat 20 yard terpisah satu sama lain sejauh bermil-mil dan membangun dinding batu setinggi 18 kaki. Dalam aksi penting terakhirnya, KAR mengubah sebuah situasi penyergapan menjadi sebaliknya, dengan berjalan sejauh 30 mil untuk menyerang lawan dari belakang, yang kemudian menewaskan 40 orang dan menahan 800 tahanan. Orang-orang Madagascar, yang selalu cepat lari dari pertempuran, sekarang melarikan diri untuk selamanya, dengan berbondong-bondong pergi. Lebih buruk lagi bagi pemerintah Vichy, hukum dan ketertiban telah runtuh. Croft-Cooke menjadi saksi mata resmi dari eksekusi regu tembak atas seorang Madagascar yang membunuh pemukim Prancis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Setelah perjalanan selama lima minggu, KAR akhirnya mencapai Finanarantsoa, hanya untuk menemukan bahwa Annet telah melarikan diri sejauh 190 mil ke barat daya. Dengan KAR masih dalam melakukan pengejaran dan setelah hampir terbunuh ketika mobil stafnya diberondong dari udara, Annet akhirnya mengirim ajudannya, Kapten Louis Fauche, untuk menegosiasikan penyerahan. Dalam perjalanan sejauh 650 mil, KAR telah mengalahkan 6.000 pasukan lawan yang bertahan dengan korban lima perwira Inggris tewas, enam luka-luka dan 20 orang Afrika tewas, sementara 76 lainnya luka-luka. Fauche kemudian setuju untuk menyerah dengan kondisi aneh bahwa penyerahan itu baru akan berlaku 10 jam lagi, yakni pada jam 12:01 tanggal 6 November 1942. Alasannya ternyata, lagi-lagi, hanya soal masalah karier. Dengan “sukses” mengulur masa perang yang berlangsung tepat enam bulan, maka ia akan memenuhi syarat Prancis untuk mendapatkan medali, promosi, dan bahkan penghargaan uang tunai, tetapi keuntungan yang diincarnya ini pupus beberapa hari kemudian. Menjadi klimaks dari kesia-siaan perlawanan orang-orang Prancis di Madagaskar, pihak Jerman ternyata memutuskan untuk menduduki Vichy Prancis. 

Baterai meriam kaliber 25 pdr milik King’s African Rifles beraksi di dekat Ambositra di Madagaskar melawan posisi pasukan Vichy selama Operation Stream Line Jane, September 1942. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Churchill sendiri mengaku cukup puas dengan kampanye merebut Madagaskar. “Kami telah memperoleh kendali militer penuh atas sebuah pulau yang memiliki posisi strategis tinggi untuk keamanan komunikasi kami dengan kawasan Timur Dekat dan Jauh,” katanya. “(Kesuksesan) Episode perebutan Madagaskar didapat karena kerahasiaan perencanaan dan pelaksanaan taktisnya yang lalu menjadi model operasi amfibi di masa mendatang. Berita kemenangan di Madagascar tiba pada saat kami sangat membutuhkan kesuksesan. Faktanya selama berbulan-bulan berita dari Madagascar menjadi satu-satunya kesuksesan perang yang dilaksanakan dengan baik dan efisien serta disadari oleh publik Inggris. ” sementara itu De Gaulle seperti biasa marah karena merasa diabaikan. Kenneth Gandar-Dower, sebaliknya, kemudian menulis, “Bagi saya itu adalah pengalaman yang menakjubkan, enam minggu petualangan yang aneh.” Dia mengakui bahwa itu “tentu saja aksi di Madagascar lebih dari sekadar latihan, tetapi jelas sangat kurang dari sisi pertempuran …. Pihak Prancis secara sadar atau tidak sadar melakukan pertahanan mereka sesuai rumus. Yang utama adalah ‘bagaimana mendapatkan hasil maksimum untuk pengeluaran minimum.’ Yang kedua: ‘tahan selama dan sekuat yang Anda bisa tanpa kehilangan nyawa — baik orang Prancis atau Inggris.’ ”Petualangan dan tulisan eksotis Gandar-Dower berakhir ketika kapal transportnya ditorpedo saat berlayar ke Ceylon pada tanggal 12 Februari 1944. Sementara itu Rupert Croft-Cooke segera meninggalkan Madagaskar untuk ditempatkan di medan perang berikutnya dan terakhir, India. Dia menghabiskan sebagian besar hidupnya pascaperang di daerah terpencil lainnya, termasuk di Maroko dan Tunisia, dan setelah menjalani enam bulan dipenjara karena aktivitas homoseksualnya di Inggris pada tahun 1953, tetapi dia merasa sudah selesai dengan Madagaskar. Dia kemudian menulis, “Saya tidak akan pernah kembali ke Madagaskar dengan tanahnya yang berwarna merah darah dan bayang-bayangnya yang merayap.” Ia terus melanjutkan dengan karya-karyanya yang produktif, meski akhirnya dilupakan, dan pada tahun 1953 menerbitkan pengalamannya tentang peristiwa yang dialaminya di Madagaskar dalam buku yang berjudul “The Blood-Red Island”. Tragisnya, Madagaskar akan menjadi seperti itu, dan bukan hanya karena sekedar warna tanahnya. Pemberontakan rakyat pada tahun 1947 melawan Prancis kemudian dihancurkan dengan kemungkinan menelan korban hingga 100.000 orang tewas. Pada akhirnya Madagascar memperoleh kemerdekaannya pada tahun 1958 dengan diikuti lebih banyak kekerasan dan perselisihan antar suku.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

British Invasion of Madagascar By John W. Osborn, Jr

The Battle for Madagascar – Part One – By Mark Simner

WWII MADAGASCAR / BRITISH INVASION OF MADAGASCAR

D-Day dress rehearsal: the battle for Madagascar

https://www.historyextra.com/period/second-world-war/d-day-dress-rehearsal-the-battle-for-madagascar/

Battle of Madagascar by Lincoln Riddle, Aug 18, 2013

https://www.warhistoryonline.com/war-articles/battle-madagascar.html

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Madagascar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *