Tupolev Tu-28/128 Fiddler: Pesawat Tempur raksasa Pemburu Bomber asal Soviet

Pada puncak Perang Dingin, Uni Soviet menginvestasikan sumber dayanya yang cukup substansial dalam mengembangkan sistem pertahanan udara yang tangguh untuk melindungi Soviet. Uni Soviet memiliki perbatasan luar biasa panjang yang sulit untuk dilindungi terhadap ancaman pembom nuklir Amerika dan pesawat mata-mata, sementara rudal darat-ke-udara baru tidak bisa menutupi area yang begitu luas. Salah satu elemen yang mengesankan dari sistem pertahanan udara yang kemudian mereka ciptakan ini adalah pesawat tempur Tupolev “Tu-128″, sebuah pencegat jarak jauh yang besar dan kuat yang membantu menjembatani lubang pada sistem pertahanan udara mereka itu. Pencegat yang dimiliki oleh Soviet saat itu, Yakovlev Yak-28P, hanya memiliki radius operasi beberapa ratus kilometer saja. Lebih khusus lagi, Tu-128 adalah pencegat yang dirancang untuk menyerang dan menjatuhkan pembom strategis B-52 Amerika yang masuk wilayah udara Soviet secepat mungkin. Dengan ukuran panjang tiga puluh meter dan bobot penuhnya empat puluh tiga ton — kira-kira 50% lebih berat dari F-4 Phantom yang terkenal besar dan dengan nama sandi NATO “Fiddler”, Tu-128 adalah pesawat tempur terbesar dan terberat yang pernah memasuki layanan operasional.

Tu-128 Fiddler adalah pesawat tempur terbesar dan terberat yang pernah memasuki layanan operasional. (Sumber: Pinterest)
Yak-28 Firebar, salah satu interceptor yang digantikan oleh Fiddler. (Sumber: https://alchetron.com/)

Desain awal dari Aircraft 98

Pada dekade awal Perang Dingin, Amerika Serikat dan Uni Soviet mengembangkan beberapa pesawat pencegat (interceptor) khusus, yang mereka harapkan dapat menangkis potensi serangan udara nuklir. Pencegat membutuhkan kecepatan tinggi dan jarak jangkau yang jauh untuk mendekati pembom musuh sebelum mereka bisa mengirimkan munisi untuk menghancurkan mereka. Radar yang efektif dan rudal jarak jauh untuk menyerang target mereka dari jauh sangatlah penting. Di sisi lain, pencegat tidak membutuhkan kemampuan manuver untuk bertarung melawan pesawat musuh yang gesit karena target utama mereka adalah armada bomber yang umumnya tidak lincah. Sebelumnya, Soviet mengembangkan beberapa generasi pencegat Sukhoi yang cepat selama dekade 1950-an dan 60-an (Sukhoi Su-9/11 Fishpot) tetapi pesawat-pesawat ini hanya bisa terbang hingga jarak sekitar empat ratus hingga lima ratus mil, dan kurang dalam hal kemampuan radar nya. Moskow kemudian menetapkan persyaratan pada tahun 1955 untuk sebuah desain pesawat yang dapat membawa berton-ton bahan bakar, radar yang kuat, dan rudal udara-ke-udara yang berat.

Sukhoi Su-9 Fishpot interceptor Soviet di tahun 1950-1960an. (Sumber: https://www.goodfon.com/)
Su-11 versi lanjut dari keluarga pencegat Fishpot. Baik Su-9 dan Su-11 sama-sama memiliki problem jarak jangkau dan kemampuan radar yang pendek. (Sumber: https://htmodel.sk/)

Pada awal 1950-an, biro desain Tupolev OKB melakukan studi desain pesawat jet supersonik berukuran besar, dengan satu studi dimulai pada tahun 1953 untuk membuat pembom taktis bagi VVS – “Voyenno Vozdushniye Sily”, Angkatan Udara Soviet – dimana desain ini diberi kode nama sebagai “Aircraft 98”. Tahun berikutnya OKB diberi kewenangan oleh Moskow untuk memulai pengembangan bomber Aircraft 98. Pesawat itu akan didukung oleh dua mesin turbojet Lyulka AL-7F, dan akan memiliki kecepatan tertinggi setidaknya 1.300 KPH (810 MPH / 700 KT). Ketika desain akhirnya muncul, pesawat berwujud besar itu terutama terbuat dari aluminium dengan badan pesawat berbentuk selongsong, dengan sayap sayung, dan bermesin kembar Lyulka yang dipasang berdampingan kebelakang. Badan pesawat menampilkan konsep “rule area” baru, melebar di bagian belakang sayap untuk memastikan bahwa luas penampang berubah secara bertahap mungkin untuk memastikan aliran udara yang lancar. Sayap-sayapnya dipasang di tengah, memiliki sudut sayung 55 derajat. Permukaan sayap ekor semuanya menyayung, dengan turret ekor memiliki sistem kendali jarak jauh dengan kanon kembar AM-23 23 milimeter dalam dudukan yang ada di dekat pangkal sayap ekor, dan sistem radar penargetan kanon tipe PRS-1 Argon ada di atas sirip ekor – ada juga radar navigasi pemboman Initsiativa yang ada di bawah hidung pesawat . Muncul juga ide juga untuk memasang kanon AM-23 di hidung, tetapi tampaknya tidak pernah dipasang. Ada sebuah tempat penyimpanan bom internal, yang mampu menampung senjata nuklir atau empat bom konvensional serbaguna FAB-1000 1-ton (bobot asli 1,1 ton).

Konsep desain Tupolev Aircraft 98 (Sumber: http://www.airvectors.net/)

Setiap mesin AL-7F menyediakan daya dorong 63,8 kN (6.500 kgp / 14.330 lbf) dan 93.2 kN (9.500 kgp / 20.950 lbf) dengan afterburner. Air intake ditempatkan tinggi di badan pesawat, di belakang kokpit, dan memiliki wujud penampang oval. Pesawat ini memiliki roda pendarat berformat tricycle, dengan roda hidung ganda yang dapat ditarik mundur ke belakang dan roda empat, yang diatur dengan format 2×2, juga dapat ditarik mundur ke belakang ke badan pesawat. Susunan roda pendaratan yang aneh ini membuat posisi penampang pesawat yang nampak sempit saat ada di landasan. Terdapat tiga kru dalam pesawat itu, yakn: navigator-bombardier di hidung berkaca, pilot di bagian depan kokpit, dan operator penembak-radio di bagian belakang kokpit, yang hanya memiliki jendela kecil di setiap sisi. Ketiganya duduk di kursi pelontar. Pilot dan penembak masuk ke pesawat melalui kanopi berengsel belakang, dan kursi pelontar mereka ditembakkan ke atas; sulit untuk mengetahui bagaimana navigator bisa masuk ke hidung, foto yang ada tidak menunjukkan adanya lubang di atas. Mungkin kursinya meluncur keluar dari hidung untuk memungkinkannya masuk dan keluar, dengan sistem kursi pelontar ke arah bawah – skema yang kemudian digunakan untuk ketiga kru pada bomber Tupolev Tu-22 “Blinder”.

Tupolev Tu-98 Backfin (Sumber: https://neverwasmag.com/)

Penerbangan pertama “Aircraft 98” dilakukan pada 7 Juli 1956, dengan pilot uji V.F. Kovalyov di kontrol pesawat. Tidak ada prototipe lain yang pernah diselesaikan, karena kebijakan Perdana Menteri Soviet Nikita Khrushchev yang tidak jelas atas prioritas rudal atau pembom, yang mengarah ke pembatalan program ini pada Februari 1958. Prototipe yang sudah jadi kemudian digunakan sebagai platform uji coba selama beberapa tahun lagi. Sebuah prototype produksi, “Aircraft 98A” telah direncanakan, dengan sketsa yang menunjukkan:

  • Turret ekor dihapus.
  • Perpanjangan ke depan pada pangkal sirip ekor dengan lubang pendingin di bagian depan.
  • Radar Initsiava dipindah di belakang dudukan roda di hidung.
  • Roda pendaratan belakang dipindahkan pada pod sayap dengan gaya khas Tupolev, dengan muatan senjata satu rudal anti kapal/standoff P-15 ditempatkan secara semi-eksternal di perut bersama dengan sebuah bom besar yang dibawa pada gantungan tunggal di bawah masing-masing sayap.
Berbagai skema rancangan dari Tupolev Aircraft 98. (Sumber: https://www.the-blueprints.com/)

Aircraft 98A rencananya akan diberi kode operasional “Tu-24”; Sumber-sumber Barat kadang-kadang masih menyebut prototipe Aircraft 98 sebagai “Tu-98”, tetapi sebenarnya tidak pernah memiliki sebutan seperti itu. Ketika NATO mengetahui seperti apa Aircraft 98 itu, kemudian mereka diberi kode nama “Backfin”. Ada konsep lain yang dikembangkan dari desain Aircraft 98, seperti skema “zero lenght launch”, dimana melontarkan pesawat ke langit dari atas rel menggunakan metode peluncuran menggunakan roket; dan “Aircraft 98B”, dengan satu mesin besar dan intake yang condong ke depan, memberikan penampilan yang mirip dengan Republik F-105 Thunderchief AS dalam ukuran yang jauh lebih besar. Semuanya pada akhirnya tidak pernah dibuat, tetapi desain Aircraft 98 masih akan memiliki masa depan di kemudian hari.

Desain Tu-128

Pengalaman dengan prototipe Aircraft 98 membantu pengembangan pembom Tupolev Tu-22 “Blinder”, yang kemudian benar-benar dioperasikan oleh VVS. Tu-22 adalah pesawat dengan desain yang jelas berbeda dari Aircraft 98, dan satu-satunya kesamaan antara keduanya adalah beberapa part yang punya kesamaan. Namun, desain Aircraft 98 pada akhirnya menjadi dasar desain pesawat-pesawat yang benar-benar diproduksi, dalam bentuk pencegat “Tu-128”. Mengubah sebuah desain bomber menjadi pesawat pencegat mungkin tampak seperti ide yang tidak masuk akal, tapi itu tidak konyol (seperti saat PD II, bukan hal aneh mengubah pembom cepat menjadi pesawat penyergap/tempur malam, seperti: De Haviland Mosquito, Bristol Blenheim, dan Ju-88). Selama tahun 1950-an Soviet mulai membuat situs-situs rudal permukaan-ke-udara (SAM) – tetapi mengingat ukuran luasan negara itu dan biaya membangun pertahanan seperti itu, situs SAM harus dibatasi untuk melindungi kota-kota dan instalasi terpenting. Itu berarti menyebabkan tidak seluruh negara dapat terjaga dengan baik. Salah satu solusi untuk masalah ini adalah dengan mengembangkan pesawat berkonsep serupa “truk pembawa rudal” yang dapat membawa rudal udara-ke-udara (AAM) besar jarak jauh dengan kecepatan tinggi, pesawat itu akan mengarahkan AAM yang digotongnya dengan radar kuatnya sendiri yang bekerja sama dengan stasiun radar darat.

Bristol Blenheim, pembom yang diubah menjadi pesawat tempur malam dalam PD II. (Sumber: Pinterest)

Sebelumnya Soviet telah membuat Yakovlev Yak-25 untuk peran itu, tetapi Yak-25 adalah pesawat subsonik; sesuatu yang lebih baik diperlukan. Lavochkin OKB telah mengerjakan solusi desain yang dikenal sebagai “La-250”, tetapi program itu gagal dan dibatalkan. Pada tahun 1957, PVO – “Protivo-Vozdushnoy Oborony”, dinas pertahanan udara Soviet, terpisah dari VVS – meminta agar Tupolev OKB mulai bekerja pada memodifikasi Aircraft 98 untuk menjalankan peran sebagai pesawat pencegat kelas berat, yang diberi kode “Tu-28”. Dengan desain Aircraft 98 gagal menjadi bomber, Tupolev OKB punya alasan bagus untuk terus maju dengan mengembangkannya sebagai pencegat. Namun, itu bukan berarti pekerjaan yang mudah. Bukan hanya masalah membuat pesawat pencegat supersonik besar, tetapi juga mengembangkan dan mengintegrasikan perangkat subsistem yang kompleks, termasuk radar, rudal AAM K-80 yang berat, dan menyesuaikannya ke sistem pertahanan PVO, desain finalnya kemudian diberi kode “Tu-28-80”. Pengerjaannya dilakukan oleh jaringan biro pengembangan yang kompleks.

Tu-28 dimaksudkan untuk mengganti peran Yak-25 sebagai pesawat interceptor Soviet. (Sumber: http://www.airvectors.net/)

Penerbangan awal prototipe dilakukan pada 18 Maret 1961, dengan pilot Mikhail V. Kozlov dan navigator K.I. Malkhasin di kursi belakang. Intersepsi pertama pada target drone dilakukan pada musim gugur tahun 1962. Produksi pre-series dibangun, untuk mengawali pesawat produksi definitif mulai diperkenalkan ke layanan operasional PVO pada bulan April 1965 sebagai “Tu-128”, dengan kode lengkapnya adalah “Tu-128S-4 “. Pesawat produksi kemudian dibuat di Pabrik Negara Nomor 64 di Voronezh. Ketika NATO mengetahui kemunculannya, pesawat tersebut diberi nama “Fiddler”. Kehadiran Tu-128 kemudian diikuti langkah-langkah pembuatan versi produksi Tu-24A yang berasal dari desain Aircraft 98, dengan roda utama ditempatkan ke pod sayap, penghapusan turret ekor, dan adanya ekstensi sayap depan dengan air intake pendinginan ditambahkan di sirip ekor. Roda depan dipindahkan ke belakang dan posisi navigator di depan dihapus, digantikan oleh radar pencegat udara RP-S Smerch (Tornado) yang kuat dengan jangkauan 31 mill (atau 50 km, tidak buruk pada masa itu) yang dikenal NATO sebagai “Big Nose”. Jika pesawat pencegat Soviet lain pada masa itu membutuhkan panduan ketat dan amat bergantung pada radar kontrol darat, maka dengan radar kuat yang dimilikinya, Tu-128 dapat relatif mandiri untuk melacak dan menghancurkan targetnya. Air intake oval pada mesin yang aneh dari Aircraft 98 digantikan oleh intake setengah lingkaran yang dipasang lebih rendah pada badan depan, pada air intake terdapat kerucut yang dapat digunakan untuk mengatur aliran udara dalam berbagai tingkatan kecepatan. Bomb bay dihapus, sekarang persenjataannya terdiri dari empat rudal R-4 yang besar – R-4 merupakan kode untuk rudal AAM K-80 – dipasang pada pylon dibawah sayap. Prototipe Tu-128 menampilkan sirip tegak dibawah ekor; namun dihapus di pesawat produksi.

Lyulka AL-7F seri mesin yang digunakan Tu-28/128 Fiddler. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Tu-128 didukung oleh dua mesin AL-7F-1 turbojet afterburning, masing-masing memberikan daya dorong 72,8 kN (7.425 kgp / 16.370 lbf) dan 99.1 kN (10.100 kgp / 22.270 lbf) saat menggunakan afterburner. Pesawat ini mampu mengangkut hingga lima belas ton bahan bakar, yang memungkinkannya beroperasi hingga kisaran jarak 1.600 mil dan tetap bisa mengudara selama lebih dari dua setengah jam. Mesin ini mampu memberikan kecepatan maksimum 1.150 mil-per-jam (sekitar 1.850 km/jam, dan ketinggian terbang maksimum hingga mendekati 51.200 kaki (15.545 meter). Kemampuan menanjaknya – yang merupakan salah satu faktor penting untuk pencegat manapun – mengesankan sekitar 25.000 kaki per menit (7.620 meter per menit). Berkat flaps berlubang besar, jarak take off Tu-128 relatif pendek untuk ukuran pesawat seperti itu, dan berkat rem udara ditambah dengan drag chute, jarak pendaratannya juga relatif pendek. Meskipun tampaknya Tu-128 tidak dapat dipasangi tangki bahan bakar tambahan di sayap, kapasitas bahan bakarnya yang besar membuatnya memiliki jangkauan dan daya tahan yang luar biasa. Pesawat ini memiliki dua kru – pilot di kursi depan, navigator/operator sistem senjata di kursi belakang – yang ada di bawah kanopi clamshell berengsel belakang, duduk diatas kursi pelontar yang melontar ke atas. Selain perangkat intersep, perangkat avioniknya mirip dengan pembom Tupolev Tu-16 “Badger”. Prototipe Aircraft 98 digunakan untuk uji coba, dilengkapi dengan radar Smerch, pylon membawa rudal R-4, dan mungkin kit lainnya.

Rudal AA-5 Ash dengan 2 tipe pemandu radar dan inframerah. (Sumber: https://weaponsystems.net/)

Rudal AAM R-4, yang dikenal NATO sebagai “AA-5 ASH”, adalah komponen utama dari sistem senjata Tu-128. Rudal itu memiliki dua versi: R-4R dengan pemandu semi-active radar homing (SARH), dan R-4T dengan pelacak panas inframerah. R-4 adalah monster, lebih mirip SAM yang diadaptasi untuk diluncurkan dari udara, R-4R memiliki panjang 5,45 meter (17 kaki 10 inci) dan berat peluncuran 492 kilogram (1.085 pound), termasuk hulu ledak dengan berat lebih dari 50 kilogram (110 pon). Sepertinya, hulu ledak itu bertipe proximity fuzed, dengan radius destruktif yang menakutkan sesuai ukurannya. Tu-128 adalah satu-satunya pesawat operasional yang pernah membawanya – tidak ada pesawat tempur produksi Soviet lainnya yang cukup besar untuk mengangkutnya. Jangkauan maksimum SARH R-4R terbatas dengan jangkauan efektif radar Smerch, sekitar 25 kilometer (15,5 mil) dan jarak tembak minimumnya adalah 1 mil. R-4T yang melacak panas – yang sedikit lebih pendek dari R-4R – hanya memiliki jarak jangkau sekitar setengahnya, mungkin karena sulit untuk mendapatkan perangkat pengunci target heatseeker yang punya jarak penguncian yang lebih jauh. Meskipun R-4 dapat mencegat target yang terbang di ketinggian tinggi di atas Tu-128, hingga sekitar 21.000 meter (69.000 kaki), ia mengalami kesulitan mencegat target di ketinggian lebih rendah dari beberapa kilometer; R-4R peka terhadap pantulan radar palsu dari permukaan bumi, atau “kontur tanah”, sementara R-4T peka terhadap sumber panas dari tanah. R-4 memiliki kecepatan maksimum Mach 1.6 dan bisa bermanuver hingga 15 G. Karena R-4 yang melakukan semua manuver, sehingga Tu-128 tidak memerlukan kelincahan manuver dan hanya dibatasi padavmaksimum 2,5 G – roller-coaster yang bagus bahkan dapat melakukan lebih baik dari itu! (4G adalah kemampuan manuver minimum pesawat-pesawat tempur). Doktrin mencegat pada umumnya adalah untuk meluncurkan R-4R dan R-4T bersama-sama, dengan dasar bahwa jika salah satu gagal bekerja karena perangkat jamming, yang lain punya kesempatan menghantam target. Menurut perhitungan awal, probabilitas mengenai sasaran ketika menembakkan dua rudal adalah 76-77%. Karena pesawat ini tidak dimaksudkan untuk bertarung dengan pesawat tempur musuh, Fiddler tidak memiliki perangkat penanggulangan perang elektronik dan radar warning receiver.

Tu-126 Moss, pesawat AWACS versi awal Soviet yang berbasis desain sama dengan bomber Tu-95 Bear. Moss dapat bekerjasama memandu proses intersepsi yang dilakukan oleh Tu-28/128 Fiddler. (Sumber: https://www.wallpapers13.com/)
Fiddler, pesawat tempur rasa bomber (Sumber: http://www.krasnayazvezda.com/)

Produksi skala penuh dari pesawat dimulai pada tahun 1966, dengan total 188 (termasuk prototipe) dan 10 versi latih Tu-128 dibuat hingga tahun 1970. Sepuluh “Tu-128UT” versi latih juga dibuat, dengan kokpit baru untuk instruktur penerbangan dipasang di bagian hidung yang membesar. Itu adalah sebuah modifikasi yang jelek, hingga dijuluki “Pelikan” karena bentuk “paruhnya” yang aneh; Soviet memang tidak pernah terlalu peduli dengan estetika. Versi “Pelikan” itu dapat membawa rudal AAM R-4T yang mencari panas, karena tidak membawa radar, tipe ini tidak dapat membawa R-4R tipe SARH. Rencana awal untuk melengkapi total 25 resimen udara PVO dengan Tu-128 tidak terlaksana, hanya sekitar enam resimen yang akhirnya dilengkapi pesawat ini. Tu-128 nampaknya telah menjalankan tugasnya dengan baik selama pengoperasiannya, sebagai bagian sistem pertahanan udara wilayah Uni Soviet. Pesawat itu tidak hanya bisa beroperasi di bawah arahan sistem GCI PVO, namun juga bisa bekerjasama dengan sistem kontrol lain seperti platform peringatan dini udara Tupolev Tu-126 “Moss” (AWACS versi awal Soviet).

Tu-128M, versi penyempurnaan Fiddler. (Sumber: https://www.squadron.com/)

Tu-128 versi awal kemudian diikuti oleh varian yang disempurnakan, “Tu-128M”, dengan dua pesawat baru yang dibuat, dan kemudian sebagian besar atau semua Tu-128 yang masih ada ditingkatkan ke standar itu. “M” pada dasarnya berarti “dimodernisasi”, dengan seluruh sistem diperbarui dengan standar “Tu-128S-80M”, menampilkan radar Smerch-M baru dan rudal R-4RM dan R-4RT yang diperbarui, peningkatan utama adalah kemampuan untuk mencegat target di ketinggian yang lebih rendah (sekitar setengah mil diatas tanah) dalam daratan yang berkontur. Hal ini dimaksudkan untuk menanggulangi kelemahan serius dari radar dan rudal Fiddler versi awal yang tidak akan bekerja mengcounter pesawat yang terbang rendah — dan doktrin Angkatan Udara AS telah bergeser pada taktik serangan kecepatan tinggi di ketinggian rendah pada tahun 1970-an. Tu-128M dapat dibedakan dari Tu-128 versi awal dari sirip ekornya: Tu-128M menampilkan sirip ekor dengan bagian atas datar, menampilkan antena radio, sedangkan bagian atas sirip ekor dari produksi awal Tu-128 memiliki bagian belakang yang tajam bersudut. Versi latih Tu-128UT juga menerima modifikasi yang sama, tetapi tidak jelas apakah mereka didesain ulang sebagai “Tu-18UTM” atau tidak. Kru PVO mengalami beberapa kesulitan pada masa transisi menerbangkan Tu-128, bukan karena cacat pada desain pesawat, tetapi lebih karena mereka tidak terbiasa menerbangkan pesawat sebesar itu. Tu-128 tidak bisa diterbangkan seperti pesawat tempur biasa, dan ada beberapa aspek rumit yang harus dihadapi saat lepas landas dan mendarat; kemudi dari Tu-128 menggunakan model yoke seperti bomber, bukan tongkat kendali seperti pesawat tempur pada umumnya. Kekurangan lain dari Tu-128 adalah saat konsumsi bahan bakar tidak merata di tangki bahan bakarnya yang sangat besar juga bisa membuat pesawat menjadi tidak seimbang. Di sisi lain, pencegat Soviet ini sangat kokoh; ketika dua Tu-128 bertabrakan pada 1978, salah satu pesawat berhasil mendarat kembali di pangkalan dengan satu mesin yang masih berfungsi dan sayap rusak.

Tu-128 UT, versi latih dari Fiddler yang kerap dijuluki sebagai pelikan karena tampilan fisiknya. (Sumber: https://www.flickr.com/)
Kokpit Tu-28/128 dengan kemudi model yoke. (Sumber: https://www.dailykos.com/)
Instrumen navigator Fiddler (Sumber: https://www.sinodefenceforum.com/)

Versi latih Tu-128UM dikembangkan sebagai tanggapan terhadap keluhan dari para pilot PVO; sampai versi ini tersedia, hanya pilot dengan pengalaman terbang yang cukup yang ditugaskan untuk menerbangkan Tu-128 dan mereka menerima gaji paling tinggi dibanding pilot -pilot Soviet lainnya. Para kru Fiddler juga harus siap ditugaskan ke pangkalan udara yang jauh di garis depan. Memiliki petugas sistem senjata sendiri di kursi belakang memerlukan sedikit penyesuaian bagi para pilot, mereka mulai belajar untuk menghargai memiliki seorang spesialis di pesawat untuk membantu bekerjanya sistem avionik tempur, dan menghargai kecanggihan sistem itu sendiri. Pilot juga menghargai betapa kuatnya Tu-128; meski pesawat itu tidak jago bermanuver, tetapi saat lepas landas dan menanjak, respon pesawat itu amat baik. Pesawat ini bahkan bisa terbang supersonik di ketinggian tanpa menggunakan afterburner. Pada 1980-an, Tu-128 mulai bekerja sama dengan Tupolev Tu-126, pesawat sistem peringatan dan kontrol udara pesawat, dimana mereka diarahkan ke target oleh awak Tu-126. PVO saat itu juga memodifikasi sebuah Tu-128 untuk mengarahkan Tu-128 lainnya ke target menggunakan radarnya sendiri.

Detail Tu-128 Fiddler (Sumber: https://www.serayamotor.com/)
Fiddler mendarat dengan parasut pengereman terbuka (Sumber: https://www.sinodefenceforum.com/)

Radar dan Persenjataan

Radar Fiddler RP-SA / RP-25 / Smerch-A / Izdeliye 720 pertama kali diperkenalkan ke layanan operasional terpasang pada model Tu-128A yang telah ditingkatkan. Desain Smerch yang disempurnakan ini digunakan sebagai dasar radar RP-25 untuk MiG-25. Berat dari sistem radar ini adalah 500kg. Smerch-A1 yang dipasangkan dengan prototipe MiG-25 memperkenalkan panjang gelombang operasi 2cm berbeda dengan panjang gelombang standar 3cm untuk memastikan radar tetap bisa berfungsi bahkan di lingkungan ECM yang berat. Smerch-A1 dapat mendeteksi bomber pada jarak 100km, dengan jangkauan pelacakan yang tetap tidak berubah pada 50km. Pada saat memasuki fase produksi, perbaikan dalam hal resistensi terhadap jamming dan toleransi untuk digunakan di kontur tanah yang bergelombang telah tercapai. RP-SM Smerch-M merupakan terakhir dari desain radar Smerch yang digunakan pada pesawat Tu-128M. Smerch-M mengurangi ketinggian tempur minimum sistem senjata dari 8.000-10.000 m menjadi 500-1.500 m sambil meningkatkan resistensi terhadap ancaman jamming, yang mungkin setara dengan Smerch-A2 / A3.

Radar Smerch A/Big Nose (Sumber: https://www.secretprojects.co.uk/)
Rudal anti pesawat jarak jauh versi awal Soviet R-4/AA-5 “Ash”, senjata utama Tu-28/128 Fiddler. (Sumber: https://weaponsystems.net/)

Sementara itu sebagai persenjataan utama Tu-128, rudal R-4 Bisnovat (kode pelaporan NATO AA-5 ‘Ash’) adalah rudal udara-ke-udara jarak jauh Soviet generasi awal. Rudal ini cocok dengan radar RP-S Smerch (‘Tornado’) yang digunakan Fiddler. Pengembangan R-4 dimulai pada tahun 1959, awalnya diberi kode sebagai K-80 atau R-80, memasuki layanan operasional sekitar tahun 1963, bersama dengan Tu-128. Seperti banyak senjata Soviet, senjata ini dibuat dalam versi radar homing semi-aktif (R-4R) dengan panduan radar dan pemandu inframerah (R-4T). Doktrin standar Soviet adalah menembakkan senjata kombinasi berpemandu SARH/IR untuk meningkatkan probabilitas perkenaan. Ketinggian target yang bisa dijatuhkan rudal ini adalah mulai dari 8 km hingga 21 km. Untuk R-4T jangkauan tembaknya adalah 2–15 km, sementara untuk R-4R adalah 2–25 km. Pada tahun 1973 rudal ini dimodernisasi ke standar R-4MR (SARH)/MT (IR), dengan ketinggian target minimum yang lebih rendah (sekitar 0,5-1 km) dibanding versi lamanya, peningkatan kinerja penjejak, dan kompatibilitasnya dengan radar RP-SM Smerch-M yang telah ditingkatkan.

Versi Perbaikan

Terdapat pembicaraan tentang rencana memperbarui Tu-128 dengan mesin yang ditingkatkan dan avionik generasi terbaru; namun hal itu tidak pernah dilakukan. Tidak terlalu mengejutkan, ada juga pemikiran untuk mengembangkan varian multirole, yang dapat digunakan untuk penyerangan dan pengintaian – tetapi itu bukan tugas PVO, sementara VVS tidak tertarik. Di pertengahan 1960-an Tupolev OKB merencanakan desain lanjutan dari Tu-128, yang awalnya berfokus pada konsep “Tu-138”, sebuah desain Tu-128 yang ditingkatkan. Konsep itu mirip dengan Tu-128, tetapi dengan pod pada sayap untuk roda pendaratan dihilangkan karena menyebabkan banyak drag, roda pendaratan terpasang pada badan pesawat yang kemudian dilipat ke sayap. Konsep lain mempertahankan pod sayap, tetapi memasang sayap lebih tinggi dan menampilkan inlet engine ramp, menghasilkan pesawat yang memiliki kemiripan wujud dengan North American A-5 Vigilante. Tak satu pun dari desain Tu-138 awal yang dapat memenuhi spesifikasi, yang kemudian beralih ke konsep baru yang lebih radikal, termasuk desain pesawat dengan sayap delta, dan yang lain dengan sayap delta yang memiliki sudut patahan dan penambahan canard di depan. Namun ini juga tidak berhasil; OKB kemudian beralih ke konsep “Tu-148” dengan sayap variabel geometri (“sayap ayun”) yang terlihat seperti versi besar dari pesawat tempur Panavia Tornado buatan Eropa. Tu-148 dimaksudkan untuk menjadi pesawat multirole, memenuhi tugas pencegat, penyerangan, pengintaian, dan peran lainnya. Namun, desain ini sangat ambisius, yang membutuhkan pengembangan teknologi canggih, dan VVS melihat tidak ada kebutuhan mendesak untuk pesawat multirole, proyek kemudian dihentikan.

Konsep Tu-138 (Sumber: https://www.globalsecurity.org/)
Metamorfosis konsep Tu-138 (Sumber: http://www.airvectors.net/)
Konsep Tu-148 (Sumber: https://www.globalsecurity.org/)

Proyek pengembangan dihidupkan kembali lagi pada akhir 1960-an, dengan kembali ke konsep pembaruan Tu-128 untuk peran pencegat murni, pemakai yang dituju adalah PVO. Meskipun “baru” Tu-148 jelas merupakan evolusi dari Tu-128, yang tentu saja dengan peningkatan ambisius – yang paling jelas menampilkan sayap variabel geometri, tanpa pod roda pendaratan pada sayap tentu saja, ditambah air intake jenis ramp. Kemampuan sayung sayap bervariasi dari 20 derajat saat ekstensi penuh hingga 56 derajat saat ditarik penuh. Tu-148 tampak sangat mirip seperti versi kecil dari bomber Tupolev Tu-22M “Backfire” Tu-22M. Tu-148 rencananya akan ditenagai oleh dua mesin Kolesov RD36 dengan daya dorong masing-masing mesin sekitar 157 kN (16.000 kgp / 35.300 lbf), sehingga kecepatan dan ketinggian terbang maksimal meningkat secara substansial. Pesawat itu rencananya dipersenjatai dengan empat rudal AAM K-33, yang dibawa secara semi eksternal pada perut; K-33 kemudian akan diproduksi menjadi rudal R-33 (kode NATO: AA-9 Amos), senjata yang wujud luarnya sangat mirip dan dapat dibandingkan dengan rudal AAM AIM-54 Phoenix buatan AS, dengan R-33 sering dituduh sebagai copy-an dari Phoenix. R-33 rencananya akan dipandu oleh sistem kontrol radar/penembakan “Zaslon”, yang memungkinkan melakukan penembakan dua target sekaligus dan memungkinkan serangan terhadap target di ketinggian beberapa ratus meter diatas tanah yang berkontur. Tu-148 secara umum akan menampilkan avionik terbaru. Meskipun pihak berwenang terkesan dengan Tu-148, PVO akhirnya memutuskan lebih memilih pencegat MiG-31P – juga dipersenjatai dengan rudal K-33 dan sistem Zazlon, namun bisa terbang hingga kecepatan Mach 3 serta secara keseluruhan punya avionik lebih baik – sehingga program Tu-148 dihentikan pada awal 1970-an.

Pada akhirnya berbagai konsep pengembangan lebih lanjut dari Fiddler berakhir dengan munculnya MiG-31 Foxhound, sang interceptor sejati. (Sumber: https://www.1zoom.me/)

Catatan Operasional

Karakteristik operasi dari Tu-128, yang mampu berkeliaran di udara selama hampir tiga jam, dengan membawa senjata penuh, memungkinkannya untuk melakukan intersepsi target udara lebih dari 1000 km dari perbatasan Uni Soviet. Tugas paling berat adalah di bagian utara negeri. Di sana para kru Tu-128 harus terus terbang untuk mencegat pesawat pengintai dan patroli NATO. Harus dikatakan bahwa secara umum, peluncuran roket praktis jarang dilakukan bahkan untuk tujuan pelatihan, dan hanya ada sedikit kru yang dalam seluruh penugasannya dapat melakukan lebih dari sepuluh kali penembakan.

Selama masa pengoperasiannya, Tu-28/128 Fiddler tidak pernah mencatat satupun “kill” atas pesawat musuh, namun selama hampir 20 tahun Fiddler telah membantu menjaga langit Uni Soviet dari para penyusup udara. (Sumber: https://www.flickr.com/)
Fiddler menjadi tulang punggung armada interceptor Soviet di era Perang Dingin dekade 1970-1980an (Sumber: Pinterest)

Tidak catatan “kill” atas pesawat asing yang dibukukan oleh Tu-128 di, tetapi ada kisah penyergapan “balon mata-mata”, meski kisah ini sangat membingungkan: AS memang pernah dua kali menerbangkan balon mata-mata ke USSR di tahun 1950-an, kedua program tersebut menemui kegagalan, tetapi catatan Soviet menunjukkan penyergapan atas balon asing di tahun 1970-an. Apakah balon yang diterbangkan itu merupakan bagian dari program “gelap” yang masih dirahasiakan, atau PVO hanya menembak jatuh balon penelitian dan cuaca yang menyimpang ke wilayah udara Soviet, semuanya masih belum jelas. Dengan tidak adanya informasi lain, nampaknya mereka hanya menembak balon cuaca. Target balon ternyata terbukti merupakan target yang sukar dibidik, pada satu waktu sebuah Fiddler harus menembakkan keempat rudalnya untuk bisa mencatat sebuah perkenaan ke target balon tersebut. Kru dari sebuah Tu-128 resimen udara ke-518 dengan pilot V. Sirotkin dan navigator E. Shchetkin berhasil menghancurkan dua balon. Yang pertama ditembak jatuh di dekat pulau Kolguev, dan yang kedua – di dekat Naryan-Mar, dan untuk menghancurkan yang kedua mereka harus menghabiskan keempat rudal. Ada juga Tu-128 yang harus menghancurkan target penembakan dari target yang tidak direncanakan. Sebagai contoh, pada musim panas 1974 enam balon Soviet berubah arah dan mulai bergerak menuju perbatasan Cina di dekat kota Kustanai. Awak Fiddler dari resimen udara ke-356 dengan pilot Letnan Kolonel N. Gaidukov terbang lebih dulu untuk mencegat, ia menembak jatuh salah satu balon. Sangat sulit untuk menyerang balon yang perlahan-lahan melayang di udara dengan menggunakan pencegat berat supersonik: enam kru yang kurang berpengalaman tidak dapat mengulangi keberhasilan sang letnan kolonel. Kemudian Empat pencegat berikutnya mengikutinya, dan menghancurkan balon-balon yang tersisa. Pada tahun 1970, crew Fiddler berpartisipasi dalam latihan global “Ocean”. Selama latihan salah satu Tu-128 melintasi perbatasan Norwegia dalam waktu singkat. Karena penerbangan dilakukan secara supersonik, pertahanan udara NATO tidak punya waktu untuk bereaksi terhadap pelanggaran ini.

SR-71 Blackbird, pesawat mata-mata yang sukar ditangani oleh Tu-28/128 Fiddler selama masa operasionalnya. (Sumber: https://www.super-hobby.com/)

Crew Fiddler juga secara rutin harus membayangi penerbangan pesawat pengintai SR-71 Blackbird, yang terlalu cepat bagi Fiddler untuk bisa dicegat atau ditembak. Namun, Blackbird lebih banyak berada di wilayah udara internasional, tidak seperti pendahulunya yang lebih lambat. Pengintai-pengintai ini dengan kecepatan mendekati 1000 km/jam terbang dengan dekat di sepanjang garis perbatasan wilayah perairan Soviet, dan tidak menyimpang lebih dari 5 km darinya, dan satu-satunya yang dapat dilakukan para pencegat Soviet adalah dengan terbang paralel dari sisi perbatasan Soviet. Tu-128 tetap beroperasi hingga jatuhnya USSR, di mana pada saat yang sama mulai tersedia jenis pesawat baru Soviet yang menawarkan kapabilitas dan persenjataan yang lebih baik. Tugas-tugas Fiddler sebagian besar diserahkan pada pencegat MiG-31 “Foxhound” Mikoyan serta pesawat tempur multi-peran Sukhoi Su-27 “Flanker” yang sangat mumpuni untuk misi pencegatan. Sebagian besar Tu-128 dibesituakan pada 1990-an, dengan hanya beberapa yang masih tersisa sebagai monumen/display statis. Pesawat ini tidak pernah diekspor keluar Soviet.

Gambar 3 sisi Tu-28/128 “Fiddler” (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Tu-128, monumen Perang Dingin (Sumber: https://pl.wikipedia.org/)
Video Tu-28/128 Fiddler

Spesifikasi Tu-128 Fiddler

Karakteristik Umum

• Crew: 2

• Panjang: 30.06 m (98 ft 7 in)

• Lebar: 17.53 m (57 ft 6 in)

• Tinggi: 7.15 m (23 ft 5 in)

• Luas Sayap: 96.94 m2 (1,043.5 sq ft)

• Bobot kosong: 24,500 kg (54,013 lb)

• Bobot kotor: 40,000 kg (88,185 lb)

• Bobot takeoff maksimal: 43,000–43,700 kg (94,799–96,342 lb)

• Kapasitas bahan bakar: 13,600 kg (29,983 lb) maximum (estimasi)

• Mesin: 2 × Lyulka AL-7F-2 afterburning turbojet engines, 72.8 kN (16,400 lbf) thrust each dry, 99.1 kN (22,300 lbf) dengan afterburner

Performa

• Kecepatan maksimum: 1,665 km/h (1,035 mph, 899 kn) / M1.5 bersenjata

1,929 km/h (1,199 mph; 1,042 kn) tanpa senjata

• Jangkauan: 1,560 km (970 mi, 840 nmi)

• Lama terbang: >3 hours

• Ketinggian operasional: 15,600 m (51,200 ft)

• Ketinggian maksimum: 20,000 m (65,617 ft)

• g limits: +2.5

Persenjataan

• Hardpoints: 4

• Rudal: 4 × Bisnovat R-4 air-to-air missiles (umumnya kombinasi 2 × radar-guided R-4R and 2 × infrared-homing R-4T); persenjataan lain atau tanki bahan bakar tambahan tidak dibawa

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

The Tupolev Tu-128 “Fiddler” by Greg Goebel; 1 Oct 2018

http://www.airvectors.net/avtu128.html

Russia’s Super-Sized Tu-128 Fighter: The Supersonic B-52 Killer by Sebastien Roblin; 1 April 2017

https://nationalinterest.org/blog/the-buzz/russias-super-sized-tu-128-fighter-the-supersonic-b-52-19972

Tupolev Tu-28 / Tu-128 (Fiddler) Long-Range Interceptor Aircraft

https://www.militaryfactory.com/aircraft/detail.asp?aircraft_id=357

Tu-128 FIDDLER – Operations

https://www.globalsecurity.org/military/world/russia/tu-128-ops.htm

Tu-128 FIDDLER – Design

https://www.globalsecurity.org/military/world/russia/tu-128-design.htm

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Tupolev_Tu-28

Smerch Radar

https://en.m.wikipedia.org/wiki/R-4_(missile)

8 thoughts on “Tupolev Tu-28/128 Fiddler: Pesawat Tempur raksasa Pemburu Bomber asal Soviet

    • 9 July 2020 at 8:27 am
      Permalink

      You’re welcome

      Reply
  • 16 October 2020 at 4:14 am
    Permalink

    Pretty nice post. I just stumbled upon your weblog and wanted to say that I’ve really enjoyed browsing your blog posts. After all I will be subscribing to your feed and I hope you write again soon!

    Reply
    • 16 October 2020 at 8:58 am
      Permalink

      Tks, I really appreciate if you can share this blog to the others

      Best Regard,
      Victor Sanjaya

      Reply
  • 19 October 2020 at 8:20 am
    Permalink

    Its like you read my mind! You seem to know a lot about this, like you wrote the book in it or something. I think that you can do with a few pics to drive the message home a little bit, but instead of that, this is great blog. A great read. I’ll certainly be back.

    Reply
    • 19 October 2020 at 5:44 pm
      Permalink

      Tks for your appreciation

      Reply
  • 24 October 2020 at 4:33 am
    Permalink

    Thank you for another informative web site. Where else could I get that kind of information written in such an ideal way? I have a project that I’m just now working on, and I have been on the look out for such info.

    Reply
  • 28 October 2020 at 3:45 pm
    Permalink

    In this awesome pattern of things you secure an A for effort and hard work. Where exactly you confused me ended up being in your particulars. You know, people say, details make or break the argument.. And that couldn’t be much more true in this article. Having said that, let me say to you exactly what did give good results. The writing is definitely incredibly engaging and that is probably why I am taking the effort in order to comment. I do not really make it a regular habit of doing that. Secondly, despite the fact that I can notice the leaps in reason you make, I am not really confident of how you seem to connect your points which make the final result. For the moment I will yield to your point however trust in the future you actually link the dots better.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *