Ulithi Atoll, senjata “Rahasia” Nimitz dalam Perang Pasifik

Pada akhir Maret 1945, konvoi kapal dan personel Angkatan Laut AS yang terbesar berlayar dari sebuah pangkalan di Samudra Pasifik menuju Okinawa. Di mana pangkalan ini? Kekuatan raksasa ini terdiri dari 106 kapal perusak, 29 kapal induk, 15 kapal perang, dan 23 kapal penjelajah dan anda tentu bisa membayangkan berapa banyak personel pendukung yang diperlukan. Jawabannya adalah: Atol Ulithi

Keberadaan Ulithi sebagai pangkalan aju terbesar AL Amerika dalam perang Pasifik ditutup rapat oleh badan sensor Angkatan Bersenjata Amerika, padahal pada masanya Atol Ulithi menjadi pelabuhan Angkatan Laut terbesar dan paling ramai pada masanya.

Ulithi direbut

Pada tahun 1944, kemajuan A.S. dalam kampanye perebutan pulau-pulau yang dikuasai oleh Jepang di Pasifik telah membawa mereka ke gugusan Atol Ulithi. Dari Maret hingga September, mereka membom pasukan Jepang yang ditempatkan di sana sampai mereka akhirnya mundur, dan percaya bahwa atol itu terlalu kecil untuk mengakomodasi lapangan terbang dan oleh karenanya menjadi tidak bernilai bagi kedua belah pihak.

……namun Amerika tidak sependapat.

Letak Atol Ulithi yang strategis karena dapat menjangkau Kepulauan Filipina dan Kepulauan Jepang sendiri, disinilah terletak nilai penting dari Ulithi.

Pada 22 September 1944, sebuah tim resimen tempur dari Divisi Infanteri ke-81 Angkatan Darat mengambil langkah “raksasa” dalam rangka menaklukkan kekuatan Jepang di Pasifik, tanpa biaya sedikitpun. Para prajurit itu mendarat di atol Ulithi yang kemudian diikuti beberapa hari kemudian oleh satu batalyon Seabees. Kapal survei USS Sumner memeriksa laguna tersebut dan melaporkannya bahwa tempat itu mampu menampung 700 kapal — kapasitas yang lebih besar dari Majuro atau Pearl Harbor.

Sorlen Island in Ulithi Atoll featured a 1,600-seat movie theater and a hospital. Water was pumped in from the ocean and distilled on site.

Dengan mempelajari peta secara intensif, Laksamana Nimitz menemukan atol ini dan segera melihat arti pentingnya. Dia menyebutnya sebagai senjata rahasia Angkatan Laut AS, dan dengan arahan darinya bagian sensor memastikan bahwa tidak ada wartawan yang menyinggung keberadaannya. Tetapi orang Jepang tahu bahwa Ulithi ada di sana, karena jaraknya hanya 90 mil dari pangkalan Jepang di pulau Yap di dekatnya, yang telah di-by pass oleh orang-orang Amerika dalam taktik Leap Frogging.

US Navy 1944 berthing chart for the Northern Anchorage of the Ulithi Lagoon, Caroline Islands

Ulithi, yang terletak di Kepulauan Caroline Barat, berjarak 1.300 mil di selatan Jepang, khususnya Tokyo, 850 mil di sebelah timur Filipina, dan 360 mil di barat daya Guam. Gugusan atol Ulithi adalah tipikal atol klasik khas samudera Pasifik dengan terumbu karang, pohon-pohon palem, dan pasir putih. Atoll Itu memiliki kedalaman mulai 80 hingga 100 kaki; kedalaman yang cukup untuk berlabuh kapal-kapal besar angkatan laut. Atoll Itu adalah satu-satunya tempat yang paling yang pas dalam jarak 800 mil di mana Angkatan Laut AS bisa melabuhkan kapal-kapalnya. Terumbu karangnya memiliki panjang sekitar 20 mil dan lebar 10 mil, dan ada lebih dari 30 pulau kecil yang menjulang sedikit di atas permukaan laut, yang terbesar hanya berukuran setengah mil persegi di daerah tersebut.

R&R on Mog-Mog Island in Ulithi Atoll

Ketika Angkatan Laut AS mendarat di Ulithi pada bulan September 1944, mereka hanya menemukan 400 penduduk asli dan tiga tentara musuh yang tinggal di sana. Penduduk asli, yang menetap di empat pulau besar, Sorlen, Falalop, Asor, dan Mogmog, semuanya kemudian dipindahkan ke pulau yang lebih kecil, Fassarai. Lapangan terbang 3.500 kaki dibangun di Falalop; hanya cukup lebar untuk menampung pesawat seukuran Douglas C-47 Skytrain dan R5C (C-46) Commando yang akan tiba dari Guam. Setiap minggu, sebanyak 4.565 karung surat, 262.251 pon muatan udara, dan 1.269 penumpang akan mendarat di landasan udara ini. Mogmog digunakan sebagai lokasi untuk rekreasi. Tim Seabees membangun fasilitas pangkalan angkatan laut memanfaatkan setiap jengkal ruang yang tersisa dari tanah yang terdiri dari atol Ulithi.

Pusat Logistik Raksasa dibangun

Commodore Worrall R. Carter menciptakan pusat komando pelayanan yang mobile yang memungkinkan Angkatan Laut AS untuk maju menuju kepulauan Jepang dengan kecepatan tinggi. Alih-alih menggunakan cara yang mahal dan memakan waktu dengan merebut ratusan pulau kecil dan membangun serangkaian pangkalan dan landasan udara, Commodore Carter menciptakan sistem perbekalan ulang mobile.

USS Iowa: The Navy set up floating dry docks to maintain and repair ships at the atoll.

Banyak kapal berpendingin dan persediaan makanan dioperasikan oleh tim dengan 3 kategori:

Kapal # 1 merapat di Ulithi dan dikosongkan dari persediaannya dan kemudian menuju dok untuk diistirahatkan.

Kapal # 2 yang berada di dermaga belakang dimuat dengan lebih banyak persediaan untuk dikirimkan ke tempat yang membutuhkan.

sementara

Kapal # 3 sedang dalam perjalanan ke Ulithi untuk menggantikan Kapal # 1.

Lebih dari setengah kapal harus ditarik dengan tug boat agar benar-benar berlabuh. Beberapa dari mereka tetap merapat untuk berfungsi sebagai gudang perbekalan sebagai bagian dari sistem pembekalan ulang, bongkar muat, dan mendistribusikan makanan dan barang kebutuhan lain bagi pangkalan dan personel yang ada di dalamnya.

Bombs were moved across the soft sand on trailers.

Ulithi Atol berfungsi terutama sebagai tempat berlabuh dan mengisi bahan bakar untuk kapal Angkatan Laut. Pasukan Amerika mendarat di sana pada bulan September 1944 dan mulai membangun salah satu pangkalan angkatan laut terbesar yang digunakan selama perang. Pada puncaknya, Atol Ulithi menampung 617 kapal, memiliki landasan terbang sendiri seluas 1.200 yard, dan menampung 20.000 tentara di pulau rekreasinya, Mogmog.

Pom Bensin terapung

Selain sebagai tempat perbaikan kapal, pasokan militer, dan tempat berlabuh yang aman, Ulithi juga menampung para tanker yang digunakan untuk memuaskan “dahaga” Armada Pasifik AS yang sangat besar akan bahan bakar minyak. Diperkirakan konsumsi bulanan lebih dari 6 juta barel harus dipenuhi oleh tanker komersial yang membawa minyak dari Pantai Barat ke Ulithi. Di sana, penyimpanan minyak mengambang yang bisa menampung lebih dari 100.000 barel selalu dipertahankan stok-nya. Layanan antar-jemput yang terdiri dari empat puluh buah kapal tanker dioperasikan antara Ulithi dan pangkalan Armada A.S. di Pasifik Barat. Selain itu, 900.000 barel cadangan bahan bakar dibagi antara Saipan, Guam, dan Kwajalein, ditambah cadangan 5 juta barel disimpan di Pearl Harbor.

Ulithi Atoll primarily served as a massive anchoring and refueling point for Navy ships.

Armada kapal minyak dikerahkan dari Ulithi untuk menemui satuan tugas di laut, mengisi bahan bakar kapal perang yang tidak jauh dari daerah operasi tempur mereka. Hasilnya adalah sesuatu yang tidak pernah terlihat sebelumnya: stasiun layanan terapung yang luas memungkinkan seluruh armada Pasifik untuk beroperasi tanpa batas pada jarak yang belum pernah terjadi sebelumnya dari pangkalan-pangkalan daratannya. Ulithi berada jauh dari pangkalan Angkatan Laut AS di San Francisco sama jauhnya seperti San Francisco dari London, Inggris.

F6F-5N Hellcat aircraft of VMF(N)-541, MAG-45, are on the ground at Falalop Island, Ulithi Atoll 1945.

Jepang telah mempertimbangkan bahwa luasnya Samudra Pasifik akan membuat sangat sulit bagi AS untuk mempertahankan operasi di Pasifik barat. Dengan pangkalan angkatan laut Ulithi yang digunakan untuk mereparasi, memperbaiki, dan memasok kembali, banyak kapal dapat dikerahkan dan beroperasi di Pasifik barat selama setahun atau lebih tanpa kembali ke pangkalan Angkatan Laut di Pearl Harbor.

Para perwira bersantai di pulau Mog Mog.

Jepang telah membangun landasan terbang di atas Falalop. Landasan itu kemudian diperluas dan diperbaiki lagi, yang panjangnya dibuat selebar pulau itu. Ujung timur landasan diperpanjang sekitar dua puluh kaki (6,1 meter) melewati garis pantai alami. Sejumlah landasan kecil untuk pesawat ringan dibangun di beberapa pulau kecil. Seabees menyelesaikan pusat rekreasi armada di pulau Mog Mog yang dapat menampung 8.000 pria dan 1.000 petugas setiap hari. Sebuah teater dengan 1.200 kursi, termasuk panggung berukuran 25 x 40 kaki (8 x 12 m) dengan atap pondok Quonset selesai dalam 20 hari. Pada saat yang sama, kapel berkapasitas 500 kursi dibangun. Sejumlah pulau besar digunakan sebagai pangkalan untuk mendukung kapal angkatan laut dan fasilitas di dalam laguna.

R4D Aircraft Used as a Projection Room for Movies, Ulithi, 1944.

Dalam sebulan pendudukannya, seluruh pangkalan terapung sudah beroperasi di Ulithi. Enam ribu tukang merawat kapal, pengrajin, tukang las, tukang kayu dan tukang listrik tiba di atas kapal perbaikan, destroyer tender, dan dermaga kering yang mengapung. USS Ajax memiliki bengkel ber-AC, dimana pasokan logam dasar dari mana saja bisa dibuat menjadi suku cadang apa pun. Banyak kapal berpendingin dan kapal dagang digabung untuk membentuk pusat pasokan yang tidak pernah berhenti beroperasi. Diperkirakan bahwa lebih dari separuh kapal tersebut tidak berpenggerak tetapi bisa ditarik. Mereka kemudian berfungsi sebagai gudang untuk seluruh sistem transportasi, yang membongkar muatan untuk didistribusikan. Rantai logistik yang berkelanjutan semacam ini bisa dirunut kembali awalnya dari Amerika Serikat.

Serangan Jepang

Pada 20 November 1944, pelabuhan di Ulithi diserang oleh torpedo berawak kaiten Jepang yang diluncurkan dari dua kapal selam didekatnya. Kapal perusak USS Case menabrak salah satu diantaranya dini hari. Pukul 5.47, sementara kapal tangki USS Mississinewa, yang berlabuh di pelabuhan, tertembak dan tenggelam. Destroyer-destroyer mulai menjatuhkan bom dalam di sekitar pelabuhan. Setelah perang, perwira angkatan laut Jepang mengatakan bahwa dua kapal selam mini, masing-masing membawa empat torpedo berawak, telah dikirim untuk menyerang armada di Ulithi. Tiga kaiten tidak dapat diluncurkan karena masalah mekanis dan satu lagi kandas di terumbu karang. Dua berhasil masuk ke laguna, salah satunya menenggelamkan USS Mississinewa. Serangan kaiten kedua terjadi pada Januari 1945 digagalkan ketika kapal selam I-48 yang membawanya ditenggelamkan oleh kapal perusak kawal USS Conklin. Tak satu pun dari 122 awak di dalam kapal selam Jepang itu yang selamat.

USS Randolph undergoing repairs following a kamikaze attack at Ulithi.

Pada tanggal 11 Maret 1945, dalam sebuah misi yang dikenal sebagai Operasi Tan No. 2, beberapa pesawat jarak jauh yang terbang dari Jepang selatan berusaha melakukan serangan kamikaze malam hari di pangkalan angkatan laut Ulithi. Salah satu pesawat menabrak kapal induk kelas Essex, USS Randolph, yang membiarkan lampu kargo menyala dalam kegelapan malam. Pesawat menabrak bagian kanan buritan kapal, merusak dek penerbangan dan menewaskan sejumlah awak. Satu lagi jatuh di Pulau Sorlen, mungkin karena mengira menara sinyal di sana sebagai superstruktur kapal induk.

USS Mississinewa burns while sinking following an attack by Japanese kaiten
Kaiten: The suicide torpedoes were a new Japanese weapon that was analyzed at the Ulithi facilities.
Kapal selam peluncur pesawat serang sebenarnya sempat akan diluncurkan Jepang untuk menyerang Ulithi, namun Jepang keburu kalah perang.

Pada akhir Juni 1945, sebuah rencana disusun yang melibatkan kapal selam raksasa Jepang I-400 dan I-401 dimana rencana serangan awal mereka ke Terusan Panama dialihkan untuk menyerang Atol Ulithi. Namun, misi ini tidak jadi terlaksana karena Nagasaki dan Hiroshima dibom atom yang kemudian diikuti dengan menyerahnya Jepang.

Puncak dan akhir riwayat Ulithi

Pada 13 Maret 1945, ada 647 kapal berlabuh di Ulithi, dan dengan kedatangan pasukan amfibi yang akan melancarkan serangan ke Okinawa. Pendaratan pasukan di Okinawa tidak didokumentasikan dengan baik, tetapi setidaknya, mereka melibatkan banyak kapal, persediaan, dan orang, – termasuk 600.000 galon bahan bakar minyak, 1.500 mobil amunisi, dan cukup makanan untuk menyediakan sejumlah besar personel dengan tiga kali makan per hari selama lima belas hari berturut-turut. Beberapa kapal yang lebih kecil menyediakan berbagai layanan, seperti menyediakan es krim – mampu membuat 500 galon setiap shift dan USS ABATAN tampak seperti kapal tanker besar walau fungsinya adalah menyuling air laut menjadi air tawar, serta membuat kue pai dan roti.

Foto terkenal “Murderer’s Row”, deretan kapan induk cepat Amerika kelas Essex. Tidak banyak yang sadar atau peduli bahwa foto ini diambil di Atol Ulithi. Gambar ini menujukkan betapa besarnya kapasitas muat Atol itu.

Pada puncaknya jumlah kapal yang berlabuh di Ulithi mencapai 722 kapal. Pada puncaknya, Ulithi sempat memiliki populasi yang seperti Kota besar AS dan menjadi “penguasa” di Pasifik. Setelah Teluk Leyte di Filipina diamankan, Armada Pasifik memindahkan area pangkalan ajunya ke Leyte, dan Ulithi direduksi menjadi sedikit lebih dari sekadar depot kapal tanker. Pada akhirnya, hanya ada sedikit warga sipil AS yang pernah mendengar tentang Ulithi. Pada saat keamanan Angkatan Laut membuka sensor informasi, sudah tidak ada lagi hal penting yang perlu diberitakan tentang keberadaan Ulithi. Area Perang memang telah berpindah, tetapi setidaknya selama kurun waktu tujuh bulan antara akhir 1944 dan awal 1945, laguna besar dari atol Ulithi sempat menjadi pelabuhan terbesar dan paling aktif di dunia. Kemudian tanpa dapat dihindari setelahnya, sama seperti sebelum perang, Ulithi kembali menjadi pulau karang yang sepi dan sunyi. Hari ini, tempat itu telah menjadi surga tropis bagi para penyelam.

Kalau tidak ada perang Ulithi tentu jadi objek wisata yang indah.

Diterjemahkan dan dilengkapi kembali dari:

https://usselmore.com/pacific_war/pacific_islands/ulithi/ulithi.html

https://m.warhistoryonline.com/world-war-ii/hidden-ulithi-naval-base.html

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Ulithi

https://www.google.com/amp/s/www.wearethemighty.com/articles/12-photos-island-city-navy-built-invade-japan/amp

5 thoughts on “Ulithi Atoll, senjata “Rahasia” Nimitz dalam Perang Pasifik

  • 15 September 2020 at 7:45 am
    Permalink

    @Victor Sanjaya: the great articel
    Alur cerita baik disertakan bersama foto historisnya. Trus berkarya dengan mahakarya tulisannya. Salam dari bumi Cenderawasih Papua Kab. Jayapura

    Reply
    • 15 September 2020 at 11:43 am
      Permalink

      Trims sama2 salam dari Jakarta

      Reply
  • 29 September 2020 at 3:45 pm
    Permalink

    Any chance you will expand this? Your arguments should be accepted without question…even so..I have extra points that synergize with this. Bless you- thanks for your consideration.

    Reply
    • 29 September 2020 at 3:52 pm
      Permalink

      Ok, no problem

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *