Operasi Musketeer di Suez 1956: Kemenangan militer yang berujung pahit bagi Inggris dan Prancis.

Pada bulan Juli 1956, pemimpin Mesir, Kolonel Gamal Abdel Nasser, mengumumkan nasionalisasi Perusahaan Kanal Suez milik Perancis-Inggris. Tindakan ini dipandang sebagai cara untuk mendanai proyek Bendungan Aswan-nya, yang pembiayaannya telah ditolak oleh Amerika karena Mesir telah menandatangani kontrak besar pembelian senjata dari blok Soviet. Pihak Mesir percaya bahwa hanya dalam waktu lima tahun bea yang dikumpulkan dari kapal-kapal yang melewati Terusan Suez akan mampu membiayai pembangunan bendungan; yang menjadi elemen kunci dari industrialisasi yang direncanakan Mesir. Pada bulan Oktober 1954, Inggris dan Mesir telah mencapai kesepakatan tentang rencana evakuasi garnisun militer Zona Kanal Inggris. Perjanjian itu juga menyatakan bahwa Perusahaan Terusan Suez tidak akan mentransfer kendali pengelolaan ke pemerintah Mesir sampai tahun 1968. Tindakan Nasser yang berani menasionalisasi dipandang merupakan ancaman bagi kepentingan Inggris dan Prancis di wilayah tersebut. Kedua negara kemudian sepakat bahwa jika tidak ada kemajuan di meja perundingan, mereka akan mengirim pasukan untuk menduduki kanal dan, jika perlu, menggulingkan Nasser. Diluar faktor terusan Suez, Prancis juga ingin menyingkirkan Nasser karena ia dianggap mendukung pemberontak lokal yang berusaha menggulingkan pemerintah Kolonial Prancis di Aljazair.

Gamal Abdul Nasser, pemimpin kharismatik Mesir. Bagi Inggris-Prancis-Israel Nasser harus dienyahkan karena dianggap mengguncang stabilitas kawasan. (Sumber: http://dejournal.id/)
Terusan Suez yang strategis (Sumber: https://www.nam.ac.uk/)

Latar belakang konspirasi 3 negara

Krisis Suez yang berakhir dengan intervensi militer adalah contoh kisah klasik intrik internasional, yang awalnya dilakukan di sebuah villa beratap genteng terpencil di antara pohon-pohon yang ditutupi kabut di Prancis. Kelompok konspirator dalam persekongkolan ini pertama mendarat di lapangan terbang Prancis di luar Paris dan menuju vila yang tertutup tembok tinggi dengan menumpang mobil yang tidak bertanda pada dini hari 22 Oktober 1956. Kemudian pada Senin pagi itu, Menteri Luar Negeri Prancis Christian Pineau mengunjungi kantornya di Paris, kemudian diantar pulang untuk pindah ke mobil pribadinya. Tidak lama kemudian ia sudah berada di villa, berjabat tangan dengan Perdana Menteri Israel yang berusia 70 tahun David Ben-Gurion, Kepala Staf Moshe Dayan yang bermata satu dan Direktur Jenderal Kementerian Pertahanan Shimon Peres. Menteri Luar Negeri Inggris Selwyn Lloyd, tokoh kunci dari kelompok konspirator, menelepon dari kantornya di London untuk mengatakan dia masih tinggal di rumah karena flu. Dia meninggalkan Inggris tak lama setelah itu, untuk tiba di villa sore itu. Pada saat diskusi yang tegang – yang juga dihadiri oleh Perdana Menteri Prancis Guy Mollet dan Perdana Menteri Inggris Anthony Eden – yang berakhir dua hari kemudian di Prancis dan Inggris, kesepakatan rahasia akhirnya tercapai. Gelas champagne kemudian diangkat untuk merayakan janji ketiga negara untuk melaksanakan apa yang oleh seorang penulis sejarah disebut sebagai perang terpendek dan mungkin paling konyol dalam sejarah. ’Sasarannya adalah Mesir pimpinan Gamal Abdel Nasser, yang telah menjadi simbol nasionalisme Arab. Sementara itu, Israel yang masih merasa tidak aman secara teritorial setelah 8 1/2 tahun keberadaannya sebagai negara di antara tetangga-tetangga Arab yang bermusuhan dan terputus dari akses ke Laut Merah karena sebuah blokade, telah sepakat untuk meluncurkan invasi pendahuluan ke Semenanjung Sinai milik Mesir yang memiliki luas 24,000 mil persegi pada tanggal 29 Oktober.

PM Inggris Anthony Eden (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Menanggapi ‘ancaman’ terhadap Terusan Suez yang penting secara strategis, Inggris dan Prancis akan bertindak pada hari berikutnya untuk memberi waktu mereka yang bertempur 12 jam untuk berhenti bertempur, menarik diri dari jalur air strategis itu dimana Inggris dan Prancis “siap menerima” pekerjaan sementara untuk menjaga ‘posisi-posisi penting di Kanal ‘dan ‘ menjamin kebebasan lalu lintas di terusan. ‘Ultimatum itu, yang jelas menguntungkan bagi Israel, dan memang dirancang untuk pasti ditolak oleh Nasser. Kemudian, pada 31 Oktober – dengan ‘interval waktu yang pas’ menunggu penolakan Mesir atas ultimatum itu – Inggris dan Prancis akan melancarkan serangan udara terhadap posisi-posisi Mesir. Pasukan invasi kemudian akan mendarat cukup lama setelah itu untuk memberikan kesan skenario yang cukup masuk akal dan tidak menimbulkan kecurigaan.

PM Prancis, Guy Mollet (Sumber: https://www.britannica.com/)

Inggris sebelumnya terkesima ketika Nasser secara resmi menasionalisasi Terusan Suez pada 26 Juli 1956. Pengambilalihan itu telah memberi Mesir kemampuan untuk melakukan pengawasan jalur minyak utama antara sumur minyak di Timur Tengah dan Eropa Barat, serta jalur akses Inggris untuk mengamankan kepentingannya di wilayah timur dan selatan Suez. Dari luar, Perdana Menteri Inggris, Anthony Eden menampilkan sosok ideal pria Inggris yang tenang dan tampan, namun sebenarnya ia gugup dan pemarah, serta menolak untuk menerima kenyataan bahwa peran Inggris di dunia telah menurun. Perdana menteri Inggris itu juga menderita efek samping dari penyakit kronis hasil operasi saluran empedu yang kurang berhasil, dan terpaksa menggunakan amfetamin dan obat-obatan lain yang mungkin sedikit banyak memengaruhi caranya mengambil keputusan. Sementara itu, Prancis, yang telah memprakarsai pertemuan rahasia dengan Israel pada Juni 1956, dimotivasi oleh keyakinan mereka bahwa Nasser adalah dalang perang kaum nasionalis yang berkobar di Aljazair, wilayah koloninya di Afrika Utara. Satu hal yang sama-sama dimiliki oleh tiga negara konspirator adalah keyakinan bahwa Nasser yang menggoncang keseimbangan kekuasaan di Timur Tengah dengan menerima bantuan ekonomi dan militer Soviet, harus segera dienyahkan.

PM Israel Ben Gurion (Sumber: https://variety.com/)

Ketiganya tidak berharap Amerika Serikat, yang telah berselisih secara politik dengan Nasser atas pengakuannya terhadap Komunis China dan penerimaan senjata dari Blok Soviet, akan menimbulkan masalah besar. Lebih jauh, Presiden Dwight D. Eisenhower yang berusia 66 tahun sedang disibukkan oleh kampanye pemilu yang pastinya, menurut perkiraan mereka akan dipengaruhi oleh suara dan lobby orang-orang Yahudi di Amerika. Negara-negara konspirator telah mengabaikan fakta bahwa apapun yang diinginkan Eisenhower dari Nasser, dia mati-matian menentang penggunaan kekuatan militer secara langsung. Uni Soviet, sementara itu, sedang sibuk memadamkan konflik di negara-negara satelitnya. Polandia telah mengusir menteri pertahanan Soviet pada 19 Oktober dan memasang pilihan mereka sendiri di kursi perdana menteri. Pada 24 Oktober, tank-tank Soviet sudah berada di Budapest, berusaha menekan pemberontakan orang-orang Hongaria, tepat ketika ketiga negara yang bersekongkol menyusun rencana mereka di Sèvres, dimana mereka juga sekaligus menggerakkan persiapan militer.

Persiapan militer

Persiapan militer Inggris-Perancis adalah laksana kura-kura dibandingkan dengan Israel yang gesit seperti kelinci, yang mampu mengerahkan hampir 100.000 tentara dalam semalam dan bahkan mampu membuat gerak tipuan ke arah timur menuju Yordania. Meskipun Inggris memiliki 750.000 prajurit, banyak dari mereka yang dikerahkan untuk operasi militer di Timur Jauh, Afrika, dan Siprus. Kapal dan pesawat yang dibutuhkan untuk operasi besar juga tidak tersedia dalam jumlah yang cukup. Pada tanggal 2 Agustus, rencana mobilisasi darurat 25.000 personel telah diajukan ke Ratu Elizabeth II di arena balapan Goodwood. Sementara itu, Prancis agak lebih siap berperang setelah mereka sebelumnya terlibat dalam perang Indocina, namun mereka harus meminjam satuan Aljazair mereka. Pangkalan terdekat yang cocok untuk digunakan menumpuk pasukan invasi adalah di Valetta, Pulau Malta yang dikontrol Inggris, hampir 1.000 mil barat laut dari pantai pendaratan yang direncanakan.

Jenderal Keightley, Komandan tertinggi Operasi Musketeer (Sumber: https://www.naval-history.net/)

Pada awalnya Operasi ini diberi kode nama Hamilcar, namun segera diganti namanya menjadi Musketeer (Prancis: Opération Mousquetaire), mungkin untuk menghormati sosok tiga penembak senapan musket dari novel karya Alexandre Dumas (mungkin juga secara tidak langsung menunjukkan partisipasi 3 negara pada operasi ini, siapa tau?!), disamping itu nama Hamilcar diawali dengan huruf H di Inggris, sementara di Prancis menggunakan huruf A, yang nantinya dapat mengganggu komunikasi diantara keduanya. Meskipun skenario operasi terselubung tiga negara ini pada dasarnya adalah gagasan Perancis, Inggris akan menjadi kontributor utama invasi, dan mengambil alih komando Operasi militer Inggris-Perancis (Israel praktis beroperasi dalam komando sendiri). Jenderal Sir Charles Keightley diangkat sebagai panglima Operasi Musketeer, dengan Wakil Laksamana Prancis berbadan besar Pierre Barjot sebagai wakilnya. Kepala pasukan pendaratan adalah Jenderal Inggris Sir Hugh Stockwell, yang dibantu oleh Mayjen asal Prancis, André Beaufre, seorang veteran yang teruji dalam perang di Indocina dan Aljazair. Marsekal Udara Dennis Barnett dan Laksamana Robin Durnford-Slater ditugaskan masing-masing untuk mengomandani unit udara dan laut. Pasukan udara-laut-darat kedua negara terdiri dari sekitar 45.000 orang Inggris dan 34.000 orang Prancis; 200 kapal perang dari Inggris dan 30 asal Prancis, termasuk tujuh kapal induk (5 Inggris dan 2 Prancis); lebih dari 70 kapal dagang (Sungguh tragis karena mereka harus menyewa pada puncak musim turis, ‘tulis seorang pejabat Inggris); ratusan kapal pendarat; dan 12.000 kendaraan Inggris dan 9.000 kendaraan Prancis. Dalam Operasi ini, Royal Navy mengerahkan armadanya, setidaknya terdiri dari kapal-kapal sebagai berikut:

Kapal induk:

HMS Albion (Dengan unit udara: Seahawk Sqdns 800 & 802, Sea Venom Sqdn 809, Skyraider Flt from 849)   

HMS Albion (Sumber: Pinterest)

HMS Bulwark (dengan unit udara: Seahawk Sqdns 804, 810, 895)

HMS Bulwark (Sumber: http://www.rafmuseumphotos.com/)

HMS Eagle (dengan unit udara: Seahawks Sqdns 897  & 899, Sea Venom Sqdns 892 & 893, Wyvern Sqdn 830, Skyraider Flt from 849)

HMS Eagle (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Kapal induk pengangkut helikopter satuan Commando (845 RNAS, Whirlwind HAS.22 helicopters):

HMS Ocean

HMS Ocean (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

HMS Theseus

HMS Theseus (Sumber: https://uboat.net/)

Cruiser:

HMS Jamaica

HMS Newfoundland

HMS Newfoundland (Sumber: https://www.naval-history.net/)

Penyapu Ranjau:

HMS Manxman

Destroyer:

HMS Armada

HMS Chaplet

HMS Chevron

HMS Diana

HMS Duchess

Kapal Escort:

HMS Crane

Depot/HQ Ships:

HMS Forth

HMS Tyne

HMS Woodbridge Haven

Kapal Depot HMS Tyne (Sumber: https://www.naval-history.net/)

Landing Ship’s Tank:

HMS Bastion

HMS Lofoten

HMS Portcullis

HMS Sallyport

HMS Striker

Kapal penyelamat:

HMS Kingarth

Mengingat jauhnya jarak pangkalan dan unit pendukung dengan Kepulauan Inggris, lebih dari 100.000 personel Inggris-Perancis dikerahkan untuk operasi tersebut. Operasi Musketeer menyiapkan pendaratan di Aleksandria, di delta Sungai Nil, dan kemudian gerak maju ke ibu kota Kairo, sementara Israel akan menyerang sisi kanan posisi Mesir. Sesuai dengan ambivalensi yang mengaburkan seluruh operasi, lokasi pendaratan kemudian dialihkan ke arah timur – ke Port Said, target yang awalnya dipilih selama perencanaan sebelumnya. Rencana awalnya pendaratan dari laut akan dilakukan di Alexandria dan kemudian mengirim barisan satuan lapis baja menuju ke Kairo sebelum menuju kanal di Port Said, Ismailia dan Suez. Namun, karena kekurangan kapal-kapal pendarat menyebabkan rencana itu diubah menjadi serangan di Port Said yang kemudian diikuti dengan perjalanan menyusuri kanal. Sementara itu, menanggapi penumpukan militer ketiga negara, Nasser memindahkan setengah dari pasukan Sinai-nya ke barat kanal, meskipun ia masih tidak percaya bahwa invasi akan benar-benar terjadi. Menurut perkiraan, kekuatan Mesir pada saat itu adalah sebagai berikut (dengan tidak memperhitungkan kekuatan yang diketahui ditempatkan di Semenanjung Sinai untuk menghadapi Israel):

Peta Port Said (Sumber: https://www.naval-history.net/)

Angkatan Udara Mesir, setidaknya memiliki:

80 pesawat pemburu MIG 15

45 pembom IL 28

25 pesawat tempur Meteor

57 pesawat tempur Vampire

200 pesawat latih, komunikasi dan transport

Pemburu MiG-15 Fagot milik Mesir (Sumber: http://wp.scn.ru/)

Angkatan Darat Mesir memiliki sekitar 75.000 prajurit Infanteri dan 300 tank yang termasuk lebih dari 150 tank Rusia yang cukup modern (IS-3, T-34 dan T-34/85),serta Sejumlah senjata anti-tank yang tidak diketahui jumlahnya dan Tank Destroyer SU-100 buatan Rusia. Mesir juga memiliki sejumlah besar senjata anti-pesawat terbang dan perangkat radar modern.

Su-100 Tank Destroyer milik Mesir (Sumber: Pinterest)

Terdapat penundaan, pertemuan berkelanjutan, perubahan detail, masalah logistik dan lainnya, dan pertikaian internal-eksternal dalam operasi ini. Misalnya, perlu berminggu-minggu, menggunakan perusahaan pengangkutan komersial, untuk mengangkut 93 tank ke pelabuhan embarkasi di Selat Inggris mereka. Kemudian terdapat juga, perlengkapan yang paling dibutuhkan saat pendaratan malah ditempatkan di bagian bawah paling bawah kapal transport. Selain itu terdapat masalah keterbatasan sumber daya untuk pendaratan dan transportasi udara. Sekutu hanya memiliki total 18 LST dan 11 LCT. Untuk angkutan udara mereka mampu untuk mengangkut dua batalion tetapi untuk armada pasokan udara jumlahnya sangat terbatas. Dalam episode persekongkolan Prancis-Israel sebelum kesepakatan Sèvres disetujui, secara jelas menggambarkan beberapa kekurangan dari konspirasi ini. Sebagai bagian dari muslihat, Ben-Gurion menempatkan satuan lapis baja dekat Yordania yang menjadi pangkalan bagi banyak serangan Arab ke Israel. Menanggapi hal ini, Yordania mengaktifkan perjanjian pertahanannya dengan Inggris untuk melawan invasi Israel jika hal itu terjadi. Tapi tipuan yang terlalu cerdik itu hampir saja memicu perang yang tidak masuk akal dan tidak disukai yang bisa membuat Inggris bertempur melawan Israel di timur melawan Israel di barat. Bagaimanapun, Protokol Sèvres menandai momen dimana masing-masing pihak yang terlibat tidak bisa mundur lagi. Perintah invasi segera disampaikan ke para komandan militer.

Operasi Kadesh

Pada 28 Oktober, Operasi Tarnegol dilancarkan sebelum Operasi Kadesh dimulai, di mana pesawat tempur Gloster Meteor NF.13 Israel mencegat dan menghancurkan sebuah pesawat angkut Ilyushin Il-14 milik Mesir yang membawa perwira-perwira Mesir dalam perjalanan dari Suriah ke Mesir, menewaskan 16 perwira dan jurnalis Mesir serta dua awak pesawat. Awalnya Ilyushin itu diyakini membawa Field Marshal dan kepala Staf Umum militer Mesir Abdel Hakim Amer , namun ternyata Jenderal Mesir itu tidak ada di pesawat yang nahas itu. Israel mulai beraksi pada pukul 02:15 dan 02:35 pada 29 Oktober 1956. Dua buah pesawat tempur bermesin piston North American F-51 Mustang terbang ke arah barat melewati tanah gersang segitiga Semenanjung Sinai. Menukik sekitar selusin kaki di atas gurun, pesawat buatan Amerika itu menggunakan baling-baling dan ujung sayapnya untuk memutus saluran telepon yang menghubungkan 30.000 orang dari divisi ke-3 Mesir, Palestina ke-8 (Divisi dengan personel keturunan Palestina dan Perwira asal Mesir) dan unit bawahan mereka. Itu adalah pembukaan dari Kadesh, operasi Israel untuk mengancam wilayah Terusan Suez, untuk membuka Teluk Aqaba bagi jalur perkapalan mereka ke Laut Merah dan sekaligus menghancurkan kemampuan militer Mesir di Sinai. Sekitar satu jam kemudian, dua batalion dari Brigade Parasut ke-202 pimpinan Kolonel Ariel Sharon – kira-kira 3.000 orang mengendarai M3 Halftrack, tank AMX-13 buatan Prancis dan 100 truk yang diterima dari Prancis hanya tiga hari sebelumnya – menyerbu ke wilayah Mesir. Sementara itu enam belas pesawat angkut Douglas C-47 Dakota terbang rendah dari Israel dan pengawalnya 10 jet Gloster Meteor buatan Inggris bergemuruh di atas kepala. Setelah menghindari deteksi radar, Dakota yang disamarkan naik hingga 1.500 kaki sekitar 18 mil sebelah timur kanal. Pada pukul 4:59 malam, prajurit pertama dari 295 pasukan terjun payung dari Batalyon 1 Brigade ke-202 melompat ke luar angkasa untuk mendarat tanpa lawan di timur Mitla Pass yang strategis, penerjunan ini merupakan operasi pasukan payung terbesar Israel hingga saat itu (Operasi Streamroller). Para penyerang menggali perlindungan di pintu masuk timur yang diapit granit ke celah untuk menunggu kedatangan satuan Sharon, yang berputar melintasi lebih dari 105 mil gurun yang dibakar matahari ke arah mereka. Pertemuan diantara keduanya terjadi pada pukul 10:30 malam hari berikutnya.

F-51 Mustang milik AU Israel memotongi saluran telepon tentara Mesir di Sinai pada saat pembukaan Operasi Kadesh, 29 Oktober 1956. (Sumber: http://aces.safarikovi.org/)
Pasukan Payung Israel di Celah Mitla (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Di belakang brigade Sharon, unit-unit Israel lainnya beraksi. Selama minggu berikutnya, mereka menyerbu wilayah barat dan selatan – sepanjang garis pantai Mediterania Sinai sepanjang 134 mil, melintasi jantung semenanjung, menuruni sisi timur sepanjang Teluk Aqaba menuju ujung selatan di Laut Merah, dan akhirnya turun perimeter barat di sepanjang Teluk Suez. Israel telah mengejutkan Mesir dan memberikan alasan ‘pembenaranan’ bagi kedua konspirator (Inggris dan Prancis) untuk melakukan intervensi. Hampir seminggu sebelum Operasi Kadesh diluncurkan, yang bertentangan dengan himbauan menghindari perang dari Eisenhower ke Ben-Gurion, tiga skuadron pesawat Prancis diam-diam mendarat di Israel. Semua ditandai dengan garis-garis kuning dan hitam khas yang akan mengidentifikasi pesawat sekutu selama kampanye militer. Satu skuadron, terdiri dari jet tempur Dassault Mystère IVA, bertugas mencegah serangan udara Mesir atas kota-kota Israel. Skuadron kedua, dilengkapi dengan pesawat Republic F-84F Thunderstreak buatan Amerika, akan mendukung pesawat-pesawat Mystère dan memberikan dukungan operasi darat. Yang ketiga, terdiri dari pesawat angkut twin-boom Nord Aviation Noratlas, beraksi hanya empat jam setelah pendaratan parasut di Mitla Pass. Pesawat Prancis itu menderu di atas kepala untuk menurunkan delapan jip, senjata, dan persediaan lainnya. Sebagai tambahan, tiga kapal perusak Perancis melindungi pintu masuk ke pelabuhan Israel di Tel Aviv dan Haifa.

Tentara Israel melambai ke pesawat pengintai yang terbang rendah di Sinai, 1956 (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Tentara Israel membuat garis pertahanan di Sinai, 1956 (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Pada operasi ini IAF pertama kali menggunakan pesawat jet dalam Perang di Sinai. Sekitar 50 jet dikerahkan, di samping sejumlah pesawat mesin piston dengan jumlah yang hampir sama. Kampanye di Sinai ini membuat IAF menyadari bahwa teori pertempurannya dan prioritas yang telah ditetapkan oleh sendiri sebelumnya pada dasarnya sudah tepat. Sikap Staf Umum IDF terhadap IAF berubah setelah perang ini: menjadi jelas bahwa IAF yang kuat adalah salah satu prioritas utama IDF. Tujuh jet Mesir ditembak jatuh dalam pertempuran udara selama perang, sementara IAF kehilangan 15 pesawat dalam pertempuran itu. Dalam Operasi Kadesh Pesawat IAF turut melumpuhkan konvoi bala bantuan Mesir, mencegat pesawat musuh dan melindungi pasukan di darat dari serangan udara musuh. Pesawat-pesawat yang lebih ringan melakukan misi-misi pengintaian dan mengevakuasi korban. Dalam salah satu aksi dari misi pesawat ringan ini adalah saat pilot Piper Avraham Grinbaum menyelamatkan Benny Peled – yang kemudian menjadi Komandan IAF – di Ras Natzrani, setelah Mystere-nya ditembak jatuh.

Operasi Musketeer

Meskipun Presiden Eisenhower kemudian bersikukuh bahwa dia pertama kali mengetahui pecahnya konflik setelah ‘membacanya di surat kabar,’ dia tahu bahwa pesawat-pesawat dari Badan Intelijen Pusat (CIA) telah mengambil foto-foto dari ketinggian tinggi atas kegiatan sekutu-sekutunya. Meskipun para pemimpin ketiga negara dengan sengaja berupaya menyesatkan rekan-rekan Amerikanya, bagaimanapun, intelijen AS memiliki gambaran yang sangat jelas tentang perubahan disposisi pasukan Inggris, Prancis, dan Israel di wilayah tersebut. “Saya tidak suka melakukan ini kepada teman-teman saya, tetapi saya akan minta G-2 [memata-matai] mereka jika perlu,” kata Presiden Dwight Eisenhower, yang atas perintahnya pesawat U-2 milik CIA kemudian mulai melakukan penerbangan hampir setiap hari di atas wilayah tersebut lebih dari sebulan sebelum invasi. Pada 27 Oktober, sebuah U-2 memotret pangkalan-pangkalan Inggris di Siprus. Gambar itu mengungkapkan sejumlah besar pembom Inggris dan Prancis dan pesawat angkut diparkir di samping landasan pacu. Satu lagi U-2 terbang diatas lapangan terbang Israel setidaknya menunjukkan adanya satu skuadron pembom tempur milik Prancis. Informasi lebih lanjut datang dari sumber-sumber manusia di London, Paris dan Tel Aviv. Kepala mata-mata AS Allen Dulles kemudian mengklaim bahwa ‘intelijen menyediakan informasi dengan baik tentang apa yang mungkin dilakukan Israel dan kemudian Inggris dan Prancis …. Faktanya, intelijen Amerika Serikat telah memberi informasi kepada pemerintahnya.’ Pada pertemuan Departemen Luar Negeri 27 Oktober, CIA Wakil Direktur Robert Amory berkata, “Saya yakin orang Israel akan menyerang tak lama setelah tengah malam besok …. Saya siap untuk bertaruh dengan pekerjaan saya bahwa akan ada perang yang akan datang besok atau lusa.” Bukan kebetulan bahwa jika Pesawat mata-mata Lockheed U-2 berada 70.000 kaki di atas Sinai pada 29 Oktober. Pilot CIA-nya, Francis Gary Powers dari Detasemen 10-10 yang sangat rahasia, yang berbasis di Turki menceritakan, ‘melihat ke bawah saya melihat sesuatu. Kepulan asap hitam – itu pasti tembakan pertama yang ditembakkan … kampanye Sinai dimulai. ’ katanya, Powers sendiri kemudian akan menjadi berita utama pada tahun 1960, ketika U-2-nya ditembak jatuh di atas Uni Soviet.

Untuk memantau perkembangan Krisis Suez, Eisenhower secara pribadi memerintahkan CIA untuk menerbangkan pesawat mata-mata U-2. (Sumber: http://www.chronozoom.com/)

Pada akhir 30 Oktober, pernyataan ultimatum dari Inggris-Perancis diserahkan ke pihak Mesir dan Israel – untuk menghentikan tembak-menembak dan masing-masing mundur ke posisi 10 mil dari Terusan Suez. Ultimatum berakhir pada pukul 4:30 pagi hari berikutnya. Israel, masih bermil-mil dari kanal yang nampaknya tidak ada niatan untuk menghentikan ofensifnya, memainkan sandiwara dengan menerima ultimatum itu. Seperti yang diharapkan, Mesir menolaknya. Berjam-jam berlalu ketika orang-orang Israel, yang menghadapi perlawanan yang makin kuat dari Mesir, mulai bertanya-tanya apa yang terjadi dengan serangan Inggris yang dijanjikan terhadap lapangan udara musuh. Ben-Gurion yang dilanda flu, yang sudah lama tidak percaya pada sikap pro-Arabisme Inggris, mulai bersiap untuk menarik pasukannya. Sekutu-sekutunya belum memberi tahu dia bahwa mereka telah menunda serangan udara hingga langit gelap karena sejumlah alasan militer dan politik. Jauh di barat, pada malam 31 Oktober-1 November, armada invasi Inggris-Prancis berlayar dari Malta dan Aljazair. Sehari kemudian, sebuah kontingen yang lebih kecil dimuat di Siprus.

HMS Eagle bersama armada invasi lainnya menuju Suez (Sumber: https://www.naval-history.net/)
Kapal fregat Mesir Ibrahim al-Awal yang dirampas oleh Israel (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Bahkan sebelum ultimatum 12 jam berakhir, perang di laut sudah dimulai. Kapal fregat Mesir Ibrahim al-Awal, yang menembaki Haifa dengan meriam 4,5 inci, ditembakki balik oleh kapal perusak Prancis dan unit udara serta laut Israel. Berhasil direbut, fregat ini ditarik dan kemudian menjadi bagian dari armada angkatan laut Israel sebagai INS Haifa. Malam berikutnya, kapal penjelajah Inggris Newfoundland menenggelamkan kapal perang Mesir, Damietta di ujung selatan kanal, setelah kapal Mesir itu tidak membalas signal yang dikirimkan kapal Inggris, sebanyak 68 awak berhasil diselamatkan pihak Inggris, sementara 38 lainnya gugur. Kerugian Inggris dalam pertempuran itu adalah 1 tewas dan 5 lainnya luka-luka. Pada 3 November, empat jet Israel secara keliru menyerang kapal fregat Inggris di Teluk Suez. Kapal perang yang rusak itu berhasil menembak jatuh salah satu penyerang. Kapal penjelajah Perancis Georges Leygues berlayar dari Jalur Gaza untuk membombardir posisi Arab di garis pantai Mediterania. Pada 4 November, satu skuadron kapal motor torpedo Mesir menyerang kapal perusak Inggris di lepas pantai timur laut Delta Nil. Serangan itu berhasil dipukul mundur, dengan tiga kapal torpedo Mesir tenggelam dan sisanya mundur. Pada malam 31 Oktober, pesawat pembom Royal Air Force (RAF), English Electric Canberra dan Vickers Valiant dari Cyprus dan Malta menjatuhkan bom ke lapangan terbang Mesir. Serangan di hari Halloween ini mengejutkan Nasser untuk segera memerintahkan pasukannya di Sinai untuk mempercepat gerak mundur ke arah barat kanal untuk mempertahankan jantung negara itu. Pagi-pagi keesokan harinya, sebuah U-2 terbang di atas Bandara West Cairo, filmnya merekam pesawat-pesawat yang diparkir disitu nampak tidak terganggu. Pesawat CIA itu kemudian melakukan penerbangan melewati lapangan udara itu sekali lagi. Foto kedua, diambil 10 menit kemudian, memperlihatkan pesawat dan bangunan terbakar. Telefoto dengan serangkaian gambar segera disampaikan, RAF kemudian menjawab dengan, ‘Terima kasih untuk gambarnya. Ini adalah penilaian kerusakan pemboman tercepat yang pernah kami dapatkan. “

Foto U-2: Pangkalan Almaza sebelum serangan (Sumber: https://www.cia.gov/)
Foto U-2: Pangkalan Udara Almaza setelah serangan (Sumber: https://www.cia.gov/)

Pesawat tempur De Havilland Venoms dari RAF dan Thunderstreak Armée de l’Air melesat dari Siprus menyerang lapangan udara di zona kanal. Sementara itu pesawat tempur Hawker Sea Hawk dan de Havilland Sea Venom milik Royal Navy dari kapal induk Eagle, Bulwark dan Albion menukik di tiga lapangan udara di wilayah Kairo. Tembakan anti pesawat yang mereka hadapi hanya ringan saja, dan semua penyerang kembali dengan selamat. Menjelang sore, kapal-kapal induk yang berada 50 mil di lepas pantai Mesir meluncurkan serangan udara baru setiap beberapa menit. Di Siprus, pesawat lepas landas atau mendarat dengan kecepatan satu pesawat per menit. Jet-jet tersebut bergabung dengan pesawat-pesawat tempur turboprop Westland Wyvern dari kapal-kapal induk Inggris dan Vought F4U Corsair yang digerakkan baling-baling dari kapal induk Prancis Arromanches, yang disertai oleh kapal induk Lafayette, yang membawa pembom torpedo Grumman TBM Avenger dan helikopter. Corsairs Prancis menenggelamkan kapal torpedo Mesir dan merusak sebuah perusak di pelabuhan Alexandria. Satu Corsair Prancis ditembak jatuh oleh tembakan anti-pesawat Mesir. Pilot itu selamat dan kemudian ditangkap dan dieksekusi oleh orang Mesir, dilaporkan dibunuh dengan dilempari batu. Kapal Akka diserang oleh Sea Hawks saat sedang ditarik ke saluran utama di tengah-tengah kanal dan tenggelam. Kapal sepanjang 347 kaki, yang diisi dengan semen dan puing-puing untuk memblok terusan, adalah yang pertama dari banyak kapal yang tenggelam yang menyebabkan penyumbatan besar pertama kanal dalam 87 tahun sejarahnya. Bom Inggris juga merusak kunci Firdan Bridge di jalur pelayaran. Nasser dan Inggris dengan demikian malah turut menggagalkan rencana negara-negara konspirator untuk menjaga jalur terusan itu tetap terbuka.

Vought F4U Corsair AL Prancis menyerbu sasaran-sasaran Mesir dalam Perang Suez 1956 (Sumber: https://www.goodfon.com/)
Hawker Seahawk Inggris menyerang pangkalan udara Mesir yang dipenuhi pesawat-pesawat MiG-15 Fagot buatan Rusia (Sumber: Pinterest)

Mesir menerima seruan PBB untuk gencatan senjata pada 2 November. Israel, dengan asumsi bahwa negara itu dapat mencapai tujuannya sebelum gencatan diberlakukan, menerima keesokan harinya. Tetapi dibujuk oleh rekan-rekannya bahwa menerima gencatan senjata ini akan menggagalkan tujuan intervensi Inggris-Perancis, Ben-Gurion menarik keputusan gencatan senjata Israel dengan menetapkan syarat yang yang tidak mungkin dipenuhi. Serangan udara Sekutu terus berlanjut. Mesir telah mengevakuasi sebagian besar pesawat tempur mereka yang baru dikirimkan oleh Soviet – Mikoyan-Gurevich MiG-15 ke Suriah dan Arab Saudi, dan pembom jet Ilyushin Il-28 jauh di Sungai Nil atas menuju kota Luxor yang bersejarah. Pesawat-pesawat tempur Thunderstreak Prancis dari Siprus berhenti untuk mengisi bahan bakar di Bandara Lydda di Tel Aviv, lalu melaju ke selatan untuk melumpuhkan ke-18 pembom Il-28. Sementara itu dua pembom Boeing B-17 “Flying Fortress” kuno milik Israel menerbangkan serangan udara pengganggu terhadap Kairo sementara pesawat lainnya menjaga langit tetap aman di atas Sinai. Karena perlawanan udara Mesir hampir tidak ada, kerugian pihak sekutu hanya terdiri dari tujuh pesawat dan tiga pilot oleh karena tembakan anti pesawat dan kecelakaan pesawat. Menariknya, butuh 44 skuadron pesawat sekutu, yang menjatuhkan 1.962 bom dalam 18 serangan terhadap 13 target, sebagian besar dalam waktu dua hari untuk menghancurkan 260 pesawat, dibandingkan dengan tiga jam yang dibutuhkan angkatan udara Israel sendiri untuk menghancurkan sekitar 300 pesawat Mesir selama Perang Enam Hari Juni 1967.

Lukisan karya David Pentland saat pesawat Handley Page Hastings menerjunkan pasukan payung di pangkalan udara El Gamil, 5 November 1956. (Sumber: https://www.regimental-art.com/)

Aktivitas serangan udara, yang dipadu dengan propaganda sekutu yang rumit namun penuh kesalahan, malah hanya memperkuat penolakan penduduk sipil Mesir, yang kemudian dipersenjatai untuk menjawab seruan Nasser lewat radio untuk ‘berperanglah dengan sengit, oh rekan senegaraku.’ Fase berikutnya dari Operasi Musketeer yang awalnya direncanakan untuk melaksanakan secara simultan penerjunan pasukan payung dan pendaratan amfibi, kemudian direvisi lagi ketika Prancis bersikeras mempercepat operasi. Sekarang, pasukan terjun payung akan mendarat di depan pasukan yang mendarat dari laut. Dalam kegelapan awal 5 November, Batalion ke-3 dari Grup Brigade Parasut Independen Inggris ke-16, ‘Setan Merah’ – terdiri dari lebih dari 600 personel dengan senjata anti-tank recoilless, mortir, senapan mesin, dan jip yang sudah usang naik dalam pesawat transport tua Handley Page Hasting dan Vickers Valetta yang akan mengangkut mereka dari Siprus. Zona penerjunan mereka adalah di lapangan udara Gamil, yang terletak di sebidang tanah sempit yang diapit perairan tiga mil sebelah barat Port Said. Pasukan payung itu akan bergerak ke kota untuk bergabung dengan pasukan amfibi pada hari berikutnya.

Pasukan Batalion Parasut ke-3 Inggris mengawal tawanan tentara Mesir di Port Said. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Di lapangan terbang Siprus yang lain, 487 prajurit dari satuan Coloniale Divisi Parachutiste ke-10 pimpinan Jenderal Jacques Massu dan 100 prajurit dari 11th Demi-Brigade Parachutiste de Choc (Shock Demi-Brigade) pimpinan Brig. Jenderal Jean Gilles, ditambah oleh sebuah kompi Inggris, naik ke 17 pesawat angkut. Pasukan Prancis ini adalah veteran perang Indocina dan Aljazair. Gilles akan mengoordinasikan komunikasi taktis antara medan perang, kapal perang, pesawat pendukung, dan kantor pusat Jenderal Keightley di Siprus dari pos komando udara yang terbang di udara. Prancis memiliki dua zona pendaratan. Salah satunya adalah wilayah sempit berpasir di antara Terusan Suez dan kanal buntu di sisi selatan dua jembatan yang membentang diatas Saluran Raswa di selatan Port Said. Zona kedua terletak di sisi timur Terusan Suez di atas lapangan golf yang diapit perairan di sebelah selatan kota kembar dari Port Said di Port Fuad.

Peta serbuan Inggris-Prancis-Israel dalam Perang Suez tahun 1956. (Sumber: https://upload.wikimedia.org/)

Sementara pertempuran darat untuk merebut kanal akan segera dimulai, perang antara Israel dan Mesir segera berakhir 265 mil ke arah tenggara di ujung Semenanjung Sinai. Serbuan pasukan payung terbesar pertama sejak berakhirnya perang dunia II dimulai dengan serangan udara. Pesawat-pesawat bermuatan penerjun payung berkeliaran di atas konvoi yang membawa prajurit-prajurit yang dijadwalkan mendarat pada hari berikutnya. Pada pukul 7:15 pagi, penerjun payung pertama melompat di langit yang cerah, hampir tak berangin, 600 kaki di atas pangkalan udara Gamil. Penerjunan selesai dalam waktu 15 menit. Setelah menggangi helm terjun mereka dengan baret merah, pasukan payung Inggris segera mengepung batalion National Guard dan satu kompi cadangan Mesir yang bertahan dalam waktu 30 hingga 45 menit. Pada pukul 7.30 pagi, dua jalur pesawat angkut Noratlas, yang hanya berjarak 75-90 kaki, berdengung 300-400 kaki di atas perahu nelayan berlayar putih di Danau Manzala. Mereka menjatuhkan empat baris penerjun ke zona pendaratan Prancis pertama tepat dalam waktu hanya empat menit. Pasukan payung Perancis segera menembak ketika mereka mendarat di posisi pasukan Mesir. Setelah menyerbu dengan cepat, mereka mengamankan jalan utama Raswa dan jembatan kereta api, satu-satunya penghubung darat dari Port Said ke selatan, pada pukul 9 pagi. Jembatan Raswa kedua, sebuah struktur ponton yang lebih kecil, telah diledakkan oleh prajurit Mesir setengah jam sebelumnya. Dalam waktu sekitar satu jam atau lebih, Port Said sudah terputus dari bala bantuan Mesir. Pertahanan kota, yang dipimpin oleh Brig. Jenderal Salah ed-Din Moguy, terdiri dari tiga batalion cadangan dan 600 prajurit senapan yang dibentuk menjadi batalyon national guard. Sebuah kereta api bermuatan senjata ada di sana untuk dibagikan kepada penduduk setempat. Moguy memusatkan pertahanannya di Manakh, dengan diperkuat oleh empat senjata Tank Destroyer buatan Soviet SU-100 kaliber 100mm sebagai senjata perlawanan yang mobile. Serangan udara Prancis kedua, yang terdiri dari 506 personel dari Paras ke-10, mendarat pada sore hari di Port Fuad di seberang kanal dan dengan cepat menumpas hampir semua perlawanan.

Tank Destroyer Su-100 mesir direbut pasukan para Inggris (Sumber: https://www.naval-history.net/)

Penerjunan Inggris kedua di Gamil memperkuat “Setan Merah” dengan 100 personel dan peralatan tambahan. Prancis, dengan tujuan-tujuan mereka telah tercapai, mengirim patroli yang mengendarai mobil sejauh enam mil ke arah selatan melakukan perjalanan yang rencananya dilakukan pada hari berikutnya menuju Qantara dan Suez. Perundingan yang diminta oleh Jenderal Moguy menghasilkan gencatan senjata sementara, tetapi pertempuran berlanjut pada pukul 10:30 malam. Meskipun posisi Uni Soviet dalam krisis Suez sama tidak berdayanya seperti Amerika Serikat saat terjadi pemberontakan di Hongaria, Perdana Menteri Nikolai Bulganin mengirim pesan tertulis dari Kremlin ke London, Paris dan Tel Aviv. Pesan pemimpin Komunis itu menggunakan frasa-frasa yang mengancam seperti ‘senjata roket,’ ‘perang dunia ketiga,’ ‘penggunaan kekuatan’ dan ancaman terhadap ‘keberadaan Israel,’ semuanya cukup terbuka untuk ditafsirkan sebagai gertak sambal yang efektif. Soviet telah diberitahu tentang adanya konspirasi tripartit Prancis-Inggris-Israel oleh agen-agen mereka di Perancis, Mesir dan Israel. Yang paling penting di antara agen-agen itu adalah seorang personel tentara cadangan Angkatan Darat Israel, Kolonel Beer, yang menjadi sekretaris pribadi Ben-Gurion, dan Ze’ev Goldstein, seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Israel dan veteran jaringan mata-mata Red Orchestra yang terkenal dalam Perang Dunia II. Soviet juga memiliki mata-mata Mesir, Sami Sharif, Chief Secretary Nasser di masa depan. Namun, tidak seperti Washington, Moskow tidak berusaha untuk mencegah krisis. Intervensi Inggris-Perancis malah memberi Uni Soviet peran yang lebih kuat di Timur Tengah sebagai teman orang Arab dan mengalihkan perhatian dunia dari penindasan brutal mereka terhadap pemberontakan di Hongaria. Bagaimanapun, Amerika Serikat berjanji untuk bergabung dengan Inggris dan Prancis jika Soviet benar-benar melakukan intervensi.

LST Inggris mendaratkan tank Centurion di Suez (Sumber: https://alchetron.com/)

Pada saat armada invasi ada di lepas pantai Port Said, perubahan rencana disiarkan melalui radio dari London. Pertama, ‘tidak ada senjata kaliber lebih besar dari 4,5 inci yang akan ditembakkan.’ Ini menghilangkan daya tembak dahsyat dari kapal penjelajah dan meriam 15 inci kapal tempur Prancis Jean Bart, yang berfungsi ganda sebagai transportasi, membawa sebagian besar dari dua divisi pasukan dari Aljazair. Perintah kedua adalah membatalkan sepenuhnya pemboman pra-penerjunan udara dan laut. Para komandan lapangan dengan bijak memutuskan untuk membedakan antara ‘pemboman’ dan ‘dukungan tembakan’ yang krusial pada operasi amfibi. Fase amfibi Musketeer dimulai pada 6 November dengan serangan udara singkat 10 menit di pantai pendaratan dan tembakan meriam 45 menit oleh kapal-kapal perusak. Kapal pendarat berputar ke arah darat dari kapal-kapal yang berbaris lima mil di lepas pantai – Komando Nomor 40 dan 42 Brigade Komando Marinir Kerajaan Inggris ke-3 dan Skuadron C dari Resimen Tank ke-6 menuju dermaga kasino Said; sementara Resimen 1 Legion Asing Prancis Étranger de Parachutistes dengan dilengkapi sebuah skuadron tank AMX-13 dan tiga resimen Divisi 7 Méchanique Rapide (Divisi Mekanis Mobile), menuju Port Fuad.

Prajurit Legiun Asing Prancis di depan tank ringan AMX-13 saat Perang Suez tahun 1956. (Sumber: Pinterest)

Lima belas kendaraan amfibi yang beroda rantai, masing-masing membawa 30 prajurit, bergoyang-goyang seperti serangga logam yang marah keluar dari pintu-pintu menganga kapal pengangkut tank Inggris ke laut berombak pada pukul 4:30 pagi ketika kapal penyapu ranjau bergerak ke samping. Kapal pendaratan lainnya menurunkan muatan mereka di jalur selancar. Empat belas tank Centurion kedap air mendarat di tepi pantai di sebelah barat pemecah gelombang. Satuan Commandos mendarat di kedua sisi dermaga kasino untuk maju ke Port Said di belakang kendaraan lapis baja beroda rantai melawan tembakan gencar penembak jitu. Selama duel unik antara kapal-kapal perusak dan Tank Destroyer SU-100, bangunan kumuh di Port Fuad terbakar. Menjelang sore, batalion 1 dan 2 Brigade Parasut ke-16 dan regu tank A Squadron telah turun di pelabuhan utama. Sementara itu Prancis, mendarat tanpa hambatan di sisi lain pemecah gelombang timur kanal. Perlawanan minimal yang mereka temui di Port Fuad sebagian disebabkan oleh serbuan tanpa ampun yang dilakukan oleh pasukan terjun payung sehari sebelumnya.

Westland Whirlwind Mark 2 bersiap mengangkut prajurit Royal Marine Commando di Suez. (Sumber: https://alchetron.com/)
OIL PAINTING TO COMMEMORATE SUEZ LANDING. SEPTEMBER 1957. A PAINTING IN OILS TO COMMEMORATE THE LANDING OF NO 45 ROYAL MARINE COMMANDO AT SUEZ ON 6 NOVEMBER 1956, WAS SENT TO MALTA WHERE NO 45 COMMANDO IS SERVING. THE PAINTING WAS DONE BY MR WILLIAM HERBERT LANE, A TECHNICAL ARTIST IN THE CENTRAL ILLUSTRATIONS OFFICE WITH THE ADMIRALTY. (A 33868) Copyright: © IWM. Original Source: http://www.iwm.org.uk/collections/item/object/205164148

Di atas kapal induk Inggris, Theseus dan Ocean, Royal Marine No. 45 Commando bersiap untuk melakukan pendaratan serbu helikopter pertama dalam sejarah. Satu jam setelah pendaratan awal, Letnan Kolonel Komando No. 45 Norman Tailyour meninggalkan dek penerbangan Theseus untuk meninjau kembali situs pendaratan unitnya. Helikopter turun ke Port Said yang diselimuti asap untuk mendarat di stadion olahraga. Tailyour baru saja berhasil naik ke kapal ketika tembakan Mesir menghujani helikopter. Kembali terbang ke udara, ia menetapkan pintu masuk kanal dekat pemecah gelombang barat sebagai zona pendaratan yang lebih aman. Beberapa menit setelah pukul 8 pagi, gelombang pertama Westland Whirlwind Mark 2, masing-masing membawa lima marinir berberet hijau, bergerak menjauh dari HMS Ocean. Penerbangan itu segera diikuti oleh penerbangan helikopter yang lebih kecil, masing-masing dengan tiga tentara di dalamnya. Whirlwind dari Theseus bergabung dengan mereka. Helikopter-helikopter itu melewati lengan dari patung raksasa pembangun kanal Suez, Ferdinand de Lesseps dalam gelombang demi gelombang melayang tepat di atas tanah ketika pasukan diatasnya melompat keluar. Dalam 83 menit, 22 helikopter mendaratkan 415 marinir dan 23 ton perlengkapan ke darat. Helikopter-helikopter itu kemudian membawa bala bantuan dan perbekalan, dan mengangkut yang terluka, termasuk 18 marinir yang telah ditembaki karena kesalahan yang dilakukan oleh seorang pilot pembom tempur Fleet Air Arm.

Kota Port Said hancur karena bombardemen dari AL Inggris & Prancis (Sumber: https://www.nam.ac.uk/)

Para Inggris sering harus bertarung dari rumah ke rumah. Penangkapan Jenderal Moguy hanya membuat sedikit perbedaan karena perlawanan Mesir menjadi semakin ganas dan tidak terorganisir. Pasukan Para Batalyon 3 berhasil membuat kontak dengan Komando No. 45 di malam hari. Seandainya mereka tidak terlalu impulsif, orang-orang Mesir dapat saja menangkap banyak pasukan komando sekutu. Diberi informasi yang salah bahwa musuh siap untuk menyerah di gedung Canal Company di Port Said, Jenderal Stockwell dan Beaufre, Laksamana Durnford-Slater dan Air Marshal Barnett meluncur dengan perahu motor melewati patung de Lesseps di dalam kanal. Kapal kecil itu hanya berjarak 100 meter dari gedung Canal Company ketika penembak-penembak Mesir menembaki mereka dari bangunan tiga kubah yang mengesankan. Peluru menghantam kapal saat ia membelok. Ketika peluru-peluru yang ditembakkan jatuh di antara mereka, Durnford-Slater berkata kepada Stockwell, “Saya kira, secara umum, bahwa mereka belum siap untuk menyambut kita.” Sebuah Tank Destroyer SU-100 mendukung serangan Mesir terhadap saluran air yang direbut telah kemudian dipatahkan oleh Pesawat tempur Prancis. Dua kontainer tangki minyak di dekatnya terbakar, mengirimkan asap hitam berminyak ke udara yang bertahan selama berhari-hari. Segera setelah itu, pasukan para Prancis dan Commando No. 42 terhubung di jembatan Raswa.

Lieutenant General Sir Hugh Stockwell, komandan satuan darat Inggris-Prancis di Suez, 1956 (Sumber: https://www.nam.ac.uk/)

Ketika pertempuran berkecamuk di Mesir, ribuan mil di arah barat, orang Amerika mulai memberikan 57 persen suara mereka untuk Eisenhower dalam pemilu, menimbulkan tekanan politik dan ekonomi yang kuat pada London dan Paris untuk segera menghentikan pertempuran dan mundur. Eden, yang sakit dan terguncang oleh tekanan yang tumbuh di dalam dan luar negeri, akhirnya menyerah. Prancis, yang masih ingin menyelesaikan kampanye militer, diberitahu tentang keputusan Inggris melalui telepon. Perintah untuk melakukan ‘gencatan senjata pada tengah malam’ diterima Jenderal Stockwell setelah pukul 7:30 malam. Serasa digagalkan di tengah-tengah kesuksesan,’ dia beralasan bahwa tengah malam di London adalah pukul 2 pagi di zona perangnya. Jenderal Stockwell kemudian memerintahkan Brigjen. M.A.H. Butler, komandan brigade “Setan Merah” asal Irlandia, untuk ‘pergi sejauh mungkin menusuk ke kanal.’ Butler memimpin Batalion Parasut ke-2 yang didukung tank melaju di jalan aspal selebar 300 yard antara kanal dan Danau Manzala. Musketeer, yang dimaksudkan untuk menggulingkan si ‘Mussolini Muslim’ Nasser dan mengendalikan seluruh saluran air Suez, berakhir secara prematur setelah kurang dari 43 jam perang darat. Pada pukul 02.20 pagi tanggal 7 november, pasukan Butler tiba-tiba berhenti di Al Cap, sekitar seperempat dari jalan menyusuri kanal dan hanya 23 mil selatan Port Said. Reaksi militer sekutu terhadap campur tangan politik disimpulkan dalam sebuah kabel yang dikirim Stockwell ke London: “Kami sekarang telah mencapai hal yang mustahil. Kami bergerak dalam dua arah sekaligus. “

Reaksi dan Dampak Krisis Suez

Dari sudut pandang militer, operasi sekutu di Suez berjalan sangat baik. Namun, Inggris dan Prancis tidak siap menghadapi badai diplomatik yang dipicu oleh tindakan mereka. Tekanan internasional – terutama dari Amerika Serikat, yang takut akan meningkatnya konflik dan intervensi Soviet – membuat operasi ini berakhir dini. Presiden AS Dwight Eisenhower percaya bahwa jika AS ikut serta dengan serangan terhadap Mesir, serangan balasan yang dihasilkannya mungkin juga akan mendorong negara-negara Arab masuk ke dalam pengaruh Soviet (prediksi yang terbukti benar). Ekonomi Inggris juga berada di bawah tekanan, nilai mata uangnya terus menurun selama krisis dan pasokan minyak ke Inggris terganggu oleh penutupan kanal. Inggris meminta pinjaman dari Dana Moneter Internasional, tetapi Amerika menolaknya kecuali gencatan senjata disetujui. Amerika juga mengancam untuk menjual kepemilikan obligasi dengan mata uang pound sterling yang dimilikinya, yang pada akhirnya dapat mendevaluasi pound dan merusak cadangan devisa Inggris. Selain tekanan keuangan ini, pemerintah Inggris menghadapi protes publik besar-besaran yang menentang konflik. Dari negara-negara di Persemakmuran, hanya Australia, Afrika Selatan, dan Selandia Baru yang mendukung operasi militer, sedangkan Kanada sangat menentangnya. Inggris dan Prancis kemudian dipaksa untuk menyetujui gencatan senjata, yang mulai berlaku pada tengah malam 6-7 November 1956. Hal yang sama juga berlaku untuk Israel, Eisenhower dan Menteri Luar Negeri John Foster Dulles mengancam akan menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Israel jika tidak mau menarik diri dari Sinai. Pasukan Perdamaian PBB kemudian menggantikan pasukan mereka.

Ancaman Presiden Amerika, Eisenhower terhadap sekutu-sekutunya terbukti menjadi faktor krusial dalam mengakhiri krisis Suez. (Sumber: https://www.history.com/)

Pada pertengahan November, unsur-unsur pertama Pasukan Perdamaian Darurat Perserikatan Bangsa-Bangsa yang baru dibuat, dari setengah lusin negara netral (termasuk asal Indonesia dalam Kontingen Garuda I), mencapai zona kanal. Sehari sebelumnya, Soviet telah menyelesaikan penindasan mereka terhadap pemberontakan Hongaria. Pasukan Inggris-Prancis terakhir keluar dari Port Said tepat sebelum Natal. Israel mencoba bertahan, tetapi juga akhirnya menyerah pada tekanan militer dan ekonomi yang tak tertahankan untuk mengevakuasi daerah terakhir yang ditaklukkannya pada awal Maret 1957. Bulan berikutnya, Terusan Suez dibuka kembali setelah menyingkirkan 51 penghalang mulai dari kapal yang dikaramkan hingga jembatan-jembatan yang hancur. Selama perang dua front itu, Mesir menerjunkan sekitar 150.000 orang, sekitar 50.000 di antaranya bertempur melawan Israel. Korban diantara pasukan Mesir diperkirakan sekitar 1.650 tewas, 4.900 terluka dan 6.185 ditangkap atau hilang, sebagian besar dalam bentrokan Sinai. Israel, yang mengerahkan sekitar 45.000 dari 100.000 pasukan daratnya terlibat dalam lebih dari 100 jam pertempuran, kehilangan 189 tewas, 899 terluka dan empat ditangkap. Pasukan tempur darat Inggris berjumlah sekitar 13.500, Perancis sekitar 8.500. Secara keseluruhan, mereka kehilangan antara 23 dan 33 yang terbunuh (beberapa sumber tidak setuju dengan jumlah tersebut), dan 129 lainnya terluka. Menurut sebuah catatan lain Inggris kehilangan 16 prajurit tewas sementara 96 lainnya luka-luka sedangkan Prancis kehilangan 10 prajurit tewas dan 33 lainnya luka-luka.

Marinir Inggris mundur dari Suez, November 1956. (Sumber: https://www.nam.ac.uk/)

Inggris, menggunakan diplomasi kapal perang ala abad ke-19 dengan harapan sia-sia untuk mempertahankan prestise imperium mereka dengan persetujuan Amerika tetapi tanpa menyinggung negara-negara Arab lainnya, adalah pecundang terbesar dalam kegagalan di Suez. Krisis ini menandai titik terendah pada abad ini dalam hubungan Inggris dengan AS. Persemakmuran terguncang dan aset Inggris di Mesir disita. Pada Januari 1957, sakit dan sakit hati, Eden memutuskan mengundurkan diri. Sebagai buntut dari krisis, Sir Anthony Eden digantikan sebagai perdana menteri oleh Harold Macmillan, yang sebelumnya menjabat sebagai menteri pertahanan dan menteri keuangan. Kegagalan di Suez memperkuat tekad Macmillan untuk mengurangi ukuran dan anggaran Angkatan Bersenjata Inggris dan untuk menghapus wajib militer. Suez terbukti merupakan sumbu bom waktu yang berjalan lambat untuk Prancis. Prajuritnya kembali ke perang Aljazair dengan kemarahan karena ‘pengkhianatan politik. ’Pada tahun 1958, melihat kesuksesan perang lain mereka sepertinya akan “kembali digagalkan” oleh para politisi, mereka bergabung dengan orang-orang Eropa di Aljazair dalam menjatuhkan Republik Keempat Prancis dan membawa Charles de Gaulle ke tampuk kekuasaan. Hilangnya Aljazair mengikuti setelah itu. Suez juga meyakinkan Prancis untuk menjadi independen secara militer dan politik. Krisis Suez telah menyebabkan Prancis meragukan keandalan dan kepercayaannya terhadap sekutu-sekutu mereka. Beberapa bulan kemudian, Presiden Prancis René Coty memerintahkan pembuatan fasilitas eksperimen militer baru C.S.E.M. di Sahara. Hal ini kemudian digunakan oleh penggantinya, Charles de Gaulle untuk mengembangkan senjata nuklir otonom sebagai penggentar terhadap potensi ancaman dari lawan-lawan Prancis. Bom atom Prancis, Gerboise Bleue pertama diuji pada bulan Februari 1960. Pada 1966, de Gaulle semakin merenggangkan ikatannya dengan Sekutu-sekutu Baratnya dengan meninggalkan NATO. Musketeer membuktikan kepada dunia bahwa Inggris dan Prancis bukan lagi negara adikuasa. Hasilnya adalah kekosongan kekuasaan Timur Tengah yang hanya bisa diisi oleh Amerika Serikat dan Uni Soviet. Sementara itu Israel, di samping menunjukkan kecakapan militernya yang semakin besar, memperoleh akses ke Laut Merah, memungkinkan pengembangan secara bertahap pelabuhan Eilat. Dengan masuknya pasukan PBB di perbatasan barat daya, Israel juga bisa tenang beberapa saat dari ancaman serangan gerilya yang berbasis di Mesir. Ironisnya, hanya setelah Suez, orang-orang Arab di Israel mulai menunjukkan tanda-tanda perlawanan pertama yang jelas, pertanda dari kekerasan yang akan terjadi di bertahun-tahun kemudian. Nasser tetap berkuasa, dan keretakan muncul di Organisasi Perjanjian Atlantik Utara (NATO), diiringi dengan permusuhan dan kecurigaan diantara Inggris-Perancis.

Orang-orang Mesir merobohkan patung Ferdinand de Lesseps, inisiator pembangunan terusan Suez, menandai runtuhnya simbol kolonialisme di Mesir. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Pemenang utama perang adalah Mesir dan Uni Soviet. Nasser muncul sebagai pahlawan dunia Muslim. Kepemilikan Mesir atas Terusan Suez ditegaskan dan diperkuat. Uni Soviet, setelah lama mengincar pada apa yang selama dianggapnya sebagai lingkup pengaruh Barat di Timur Tengah, sekarang mendapati dirinya diundang sebagai teman orang-orang Arab. Tak lama setelah dibuka kembali, kanal itu dilintasi oleh kapal perang Soviet pertama sejak Perang Dunia I. Pengaruh Soviet yang berkembang di Timur Tengah, meskipun tidak bertahan lama, memungkinkan mereka mengakuisisi pangkalan-pangkalan di tepi Mediterania, memperkenalkan proyek multiguna, mendukung gerakan pembebasan Palestina yang sedang tumbuh dan menembus lingkaran dalam politik negara-negara Arab. Mungkin gambaran paling dramatis dari akhir supremasi Eropa atas kanal Suez dan semangat nasionalisme Arab yang marah datang pada Malam Natal 1956. Orang Mesir mengepung patung de Lesseps setinggi 40 kaki di Port Said. Mereka memasang tangga dan meletakkan bahan peledak di antara alas batu dan patung perunggu pembangun kanal itu. Ketika orang banyak bersorak, letusan api dan asap menumbangkan simbol dominasi kolonial yang telah berusia 57 tahun itu.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Suez Crisis: Operation Musketeer By Wilfred P. Deac originally published in the April 2001 issue of Military History magazine.

Suez Crisis

https://www.nam.ac.uk/explore/suez-crisis

SUEZ CAMPAIGN, OPERATION MUSKETEER, November to December 1956

https://www.naval-history.net/WXLG-Suez.htm

Millions Would Have Died: In 1956, Russia Threatened to Nuke Three Different Nations by Michael Peck; 11 Apr 2019

https://nationalinterest.org/blog/buzz/millions-would-have-died-1956-russia-threatened-nuke-three-different-nations-51917

Operation Musketeer (1956)

https://alchetron.com/Operation-Musketeer-(1956)

Sinai Campaign

https://www.iaf.org.il/2557-30103-en/IAF.aspx

A Look Back … U-2 Monitors Suez Crisis

https://www.cia.gov/news-information/featured-story-archive/u-2-monitors-suez-crisis.html

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Operation_Musketeer_(1956)

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Suez_Crisis

6 thoughts on “Operasi Musketeer di Suez 1956: Kemenangan militer yang berujung pahit bagi Inggris dan Prancis.

  • 26 October 2020 at 6:19 pm
    Permalink

    I would like to thank you for the efforts you have put in penning this website. I’m hoping to view the same high-grade content from you later on as well. In fact, your creative writing abilities has motivated me to get my own site now 😉

    Reply
  • 30 October 2020 at 5:34 am
    Permalink

    I’m amazed, I must say. Seldom do I come across a blog that’s equally educative and amusing, and let me tell you, you have hit the nail on the head. The problem is something which not enough folks are speaking intelligently about. I’m very happy I came across this during my search for something regarding this.

    Reply
    • 30 October 2020 at 10:20 am
      Permalink

      Tks, I really appreciate if you can share this blog to the others

      Best Regard,
      Victor Sanjaya

      Reply
  • 31 October 2020 at 5:43 am
    Permalink

    You made some really good points there. I looked on the internet for more information about the issue and found most people will go along with your views on this web site.

    Reply
  • 9 November 2020 at 1:36 am
    Permalink

    I just want to say I’m very new to blogging and truly savored your web-site. Most likely I’m planning to bookmark your site . You amazingly come with excellent well written articles. Appreciate it for revealing your webpage.

    Reply
    • 9 November 2020 at 9:20 am
      Permalink

      Tks, I really appreciate if you can share this blog to the others

      Best Regard,
      Victor Sanjaya

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *