Bell P-39 Airacobra: “Itik buruk rupa” Amerika yang berjaya di tangan Soviet.

P-39 Airacobra mungkin adalah pesawat tempur Amerika yang paling tidak disukai dalam Perang Dunia II (bisa jadi juga bersanding dengan Brewster Buffalo yang dianggap sebagai bencana di Perang Pasifik) karena dianggap tidak memadai digunakan pada saat digunakan di masa-masa awal perang dan dianggap tidak berguna oleh banyak sejarawan. Tentu saja, hal ini utamanya dikarenakan P-39 tidak dapat menyaingi performa tempur di ketinggian dari pesawat-pesawat tempur klasik Amerika yang Berjaya dalam Perang Dunia II seperti P-51 Mustang yang gesit, atau P-47 Thunderbolt yang tangguh. Namun uniknya pilot Airacobra lah, dan bukan Thunderbolt atau Mustang, yang berhasil mencapai skor “kill” tertinggi dari setiap penerbang yang menerbangkan pesawat tempur buatan Amerika selama Perang Dunia II. Bahwa fakta ini tidak banyak diketahui mungkin dikarenakan pilot-pilot Airacobra itu terbang dengan mengenakan emblem bintang Soviet berwarna merah di sayap pesawat mereka! Seperti juga Brewster Buffalo yang Berjaya di tangan pilot-pilot Finlandia, terkadang memang sukses tidaknya penggunaan alutsista tidak hanya bisa dinilai dari kualitas desainnya, namun juga dari sisi skill pengguna dan taktik penggelarannya.

Airacobra merupakan salah satu pesawat tempur yang tidak populer di Amerika saat Perang Dunia II.

Desain

Sebelum mendesain Airacobra, Bell terlebih dulu mendesain pesawat tempur berat YFM-1 Airacuda yang futuristik

Didirikan pada tahun 1935, Bell Aircraft Corporation dikenal dengan desain-desainnya yang tidak biasa seperti bomber-destroyer Airacuda yang mungkin lebih cocok dipajang menjadi cover majalah fiksi ilmiah kala itu. Pada tahun 1939, Bell menyelesaikan desain prototipe XP-39, pesawat tempur bermesin tunggal dengan konsep revolusioner: alih-alih merancang senjata agar sesuai dengan desain pesawat, Bell mendesain sebuah pesawat agar pas dengan senjatanya – yakni sebuah meriam otomatis T9 kaliber besar 37 milimeter yang menembak melalui poros baling-baling pesawat. Senjata ini memiliki kaliber yang umumnya ditemukan pada kanon tank di masa awal Perang Dunia II, meski kemudian terbukti bahwa kaliber ini tidak mampu menembus lapisan baja tank-tank terbaru, namun ketika digunakan di udara hanya perlu satu tembakan tepat ke pesawat musuh untuk menjatuhkan lawannya, selain itu P-39 juga membawa dua senapan mesin kaliber .50 di hidungnya dan empat senapan mesin kaliber .30 di sayap. Sebuah spesifikasi persenjataan yang cukup mengagumkan pada masanya.

Detail desain P-39 Airacobra

Untuk memberikan ruang bagi meriam yang terpasang di hidung dan 30 butir amunisinya, mesin inline P-39, 12-silinder V-1710 dipasang di belakang kokpit – Anda bahkan dapat melihat lubang knalpotnya tepat di bawah kanopi belakang – dengan poros baling-baling lewat tepat di antara kedua kaki pilot. Pesawat ini juga merupakan pesawat tempur satu kursi pertama yang memiliki konfigurasi roda pendaratan tricycle, dengan satu di bawah hidung, serta satu di setiap sisi badan pesawat dalam konfigurasi “roda tiga” yang lebih stabil, dimana sekarang menjadi standar roda pendarat pesawat (terutama sehabis PD II). Kokpit dilengkapi dengan Kanopi model “bubble” dan pintu akses yang terbuka di samping seperti mobil menawarkan visibilitas yang sangat baik bagi pilot. Pesawat ini juga dilengkapi dengan fitur tangki bahan bakar yang dapat menambal sendiri dan sekitar 200 pon lapisan baja yang ditambahkan pada model produksi P-39D awal meningkatkan ketahanan Airacobra.

Produksi Bell P-39 Airacobra selama perang mencapai 9.588 unit.

Prototipe XP-39 menunjukkan kecepatan tertinggi yang sangat baik, yaitu 380 mil per jam pada tahun 1938. Namun, Army Air Corps menuntut agar Bell meningkatkan kecepatan lebih jauh dengan mengurangi elemen-elemen penghasil drag. Pada akhirnya, para desainer memutuskan untuk menghilangkan scoop air-charger turbo Airacobra di bawah badan pesawat untuk mengatasi masalah drag. Keputusan ini terbukti fatal dan jadi kelemahan mendasar bagi Airacobra yang bertugas sebagai pesawat tempur garis depan, karena pesawat tanpa turbocharge sukar dikendalikan serasa seperti menerbangkan batu bata di atas ketinggian lebih dari 15.000 kaki. Dalam beberapa tahun kemudian, pembom AS akan melakukan serangan terhadap Nazi Jerman dari ketinggian 25.000 kaki, dan pesawat tempur Jerman akan terbang lebih tinggi lagi untuk bisa menyergap mereka. Selain itu, kecepatan menanjak Airacobra yang lambat membuatnya kedodoran dalam menjalankan peran aslinya mencegat pembom musuh yang terbang tinggi. Mesin P-39 yang dipasang di tengah juga mendorong pusat gravitasi ke belakang, membuatnya rentan terhadap putaran tak terkendali begitu amunisi meriam keluar dari hidungnya.

Low Altitude vs High Altitude Performance

P-39 memang tidak memiliki performa di ketinggian yang diperlukan sebagai pesawat pencegat, namun P-39 memiliki kelebihan lain yang membuatnya menjadi pesawat tempur yang sukses. Ketika Bell Aircraft merancang pesawat tempur bermesin tunggal, rencana pertahanan AS berpusat pada bagaimana menangkal serangan angkatan laut dan kemungkinan pendaratan di pantai Amerika. Sedikit perhatian diberikan pada performa di ketinggian yang dibutuhkan untuk mencegat formasi pembom musuh, karena Samudra Atlantik dan Pasifik yang luas dianggap menyediakan pertahanan terbaik bagi daratan Amerika. Pada tahun 1935 tidak ada negara yang memiliki kemampuan untuk melakukan serangan udara lintas samudera, dan Amerika Serikat juga belum secara serius mempertimbangkan kemungkinan terjun dalam pertempuran di Eropa atau di wilayah yang kemudian dikenal sebagai Lingkar Pasifik. Jelas saja pada saat itu juga tidak banyak yang berpikir bahwa suatu saat Amerika akan berperang melawan Jepang dan Jerman untuk menjalankan misi ofensif.

Desain P-39 memang lebih ditujukan untuk menangkal serangan ke daratan Amerika dan bukan untuk mendukung operasi udara ofensif dari ketinggian.

Akibatnya, Angkatan Darat AS menginginkan pesawat terbang yang lebih cocok untuk menyerang pasukan darat dan / atau pasukan pendarat angkatan laut daripada untuk mencegat formasi musuh di ketinggian. Jadi, Bell merancang pencegat barunya dengan menggunakan mesin Allison V-1710 tanpa turbocharger — walaupun mesin dalam prototipe itu dilengkapi turbocharged — dan lebih berkonsentrasi pada kemampuan manuver di ketinggian rendah dan daya tembak daripada performa di ketinggian atau kecepatan menanjak pesawat. Dengan demikian, Airacobra memiliki sayap pendek yang memungkinkannya untuk berbelok dengan mudah tetapi sangat mengurangi kinerja menanjak pesawat karena luas area sayap yang kecil mereka. Kecepatan terbaiknya adalah 368 mil per jam yang dicapai pada ketinggian 13.800 kaki. Pada ketinggian yang lebih tinggi, kinerja pesawat mulai menurun dengan cepat. Sayangnya, pengalaman di Eropa (Barat) segera menunjukkan bahwa pertempuran udara di sana bisa mencapai ketinggian di lebih dari 30.000 kaki.

Awal Karir yang mengecewakan

Meskipun P-39 tidak seluruhnya dibenci oleh para pilotnya, namun P-39 juga tidak pernah memiliki asosiasi pilot sendiri, seperti empat jenis pesawat tempur utama lainnya yang pernah digunakan oleh Korps Udara Angkatan Darat (Seperti Mustang, Thunderbolt, dkk). Sebelum A.S. masuk dalam Perang Dunia II, pada Oktober 1941 Inggris menerima lebih dari 200 Airacobras model ekspor yang dikenal sebagai P-400, yang meriam di poros baling-balingnya diturunkan kalibernya menjadi kaliber 20 milimeter. Pilot Angkatan Udara Kerajaan Inggris yang telah bertarung dalam banyak pertempuran di ketinggian tinggi dengan Luftwaffe, dengan segera membenci Airacobra. Hanya Skuadron 601 yang mengoperasikan Airacobra, menerbangkan pesawat tempur buatan Amerika ini hanya dalam satu misi tempur sebelum tipe itu ditarik dari dinas Inggris (meski sebenarnya beberapa pilot merasa P-39 cukup nyaman untuk diterbangkan). Ketika dua kelompok pesawat tempur Korps Udara Angkatan Darat Amerika pertama tiba di Inggris pada musim panas 1942, RAF membujuk orang-orang Amerika untuk mengganti P-39 mereka dan menggunakan Spitfires Mark V buatan Inggris sebagai gantinya.

Cuma butuh waktu singkat bagi RAF untuk meyakinkan diri bahwa P-39 buatan Amerika bukanlah pesawat yang mereka inginkan untuk bertempur melawan pesawat-pesawat tempur Luftwaffe.

Beberapa skuadron P-39 Korps Udara Angkatan Darat akhirnya beraksi di Afrika Utara dan Italia. Di sana, mereka sebagian besar menjalankan peran serang darat dengan memanfaatkan firepower nya yang kuat dan kemampuan pengendalian di ketinggian rendah yang baik dalam memberikan dukungan udara bagi pasukan darat Sekutu di Afrika Utara dan Italia, dan dalam pendaratan amfibi di Anzio dan di Prancis Selatan. Namun, awal penugasan Airacobra di sana mengalami problem karena hampir sejumlah pesawat tempur dari Grup Tempur ke-350 dan ke-81 saat terbang dari Inggris ke Maroko, melakukan pendaratan darurat di Portugal. Pihak Portugis (yang resminya netral) menyita pesawat itu untuk digunakan angkatan udara mereka sendiri, meskipun mereka dengan “sangat sopan” mau membayar pemerintah AS sebesar $ 20.000 untuk setiap pesawat.

Berdarah-darah di Pasifik

P-39 memainkan peran yang lebih singkat tetapi lebih menonjol di teater Pasifik. Pada tahun 1942, Airacobra dan P-40 Warhawk adalah tipe pesawat tempur paling modern dari Korps Udara Angkatan Darat yang tersedia untuk melawan serangan awal Jepang ke Pasifik Barat Daya. Segera setelah Pearl Harbor diserang, Korps Udara Angkatan Darat Amerika mulai mengirim skuadron yang dilengkapi Airacobra ke Australia. Grup Pursuit ke-35 sebenarnya telah berlayar ke Manila dua hari sebelum serangan di Pearl Harbor, dan orang-orang dari dua skuadronnya sudah ada di sana menerbangkan P-40, tetapi tidak ada satupun Airacobra yang sampai di Filipina sebelum serangan 8 Desember. Setelah serangan itu, markas besar Grup pemburu itu kembali ke AS selama beberapa minggu, tetapi segera pindah ke Australia tak lama setelah tahun pertama perang. Banyak pilot yang pernah pergi ke Filipina bergabung kembali dengan grup di sana. Skuadron Grup ke-35 mulai dilengkapi dengan P-400 yang telah dikirim dari Amerika Serikat dengan kapal dan mengikuti pelatihan untuk pertempuran. Grup Pursuit ke-8 juga pindah ke Australia dan P-39-nya segera beroperasi dari pangkalan-pangkalan di Papua. Kedua kelompok tersebut, bersama dengan Pursuit Group ke-49 yang dilengkapi dengan P-40, akan menjadi inti dari Komando Fighter V yang kemudian terkenal pada akhirnya akan mendapatkan keunggulan udara di Pasifik Barat Daya.

Bersama dengan P-40 Warhawk, P-39 merupakan 2 tipe pesawat paling modern yang dimiliki Amerika untuk melawan invasi Jepang di wilayah Filipina.

Airacobra terlibat dalam pertempuran udara yang intens dalam mendukung pasukan laut dan tentara darat di pulau-pulau Guadalcanal dan Papua Nugini. Pesawat-pesawat tempur yang dianggap kurang layak ini setidaknya bisa menghadirkan kill rasio 1: 1 terhadap pesawat Jepang yang lincah bermanuver dan didukung oleh pilot-pilot yang lebih berpengalaman (di medan China jauh sebelum PD II pecah), termasuk diantaranya menghadapi pesawat tempur A6M Zero yang ditakuti. Namun, P-39 berulang kali harus bersusah payah untuk naik cukup cepat guna mencegat pembom Jepang di atas ketinggian 20.000 kaki, dan jarak terbangnya yang pendeknya 500 mil telah membatasi efektivitasnya di Kepulauan Pasifik yang pulau-pulaunya saling berjauhan.

Dengan susah payah P-39 berhasil membukukan kill ratio 1:1 di Pasifik melawan pesawat Jepang yang lincah bermanuver, seperti A6M Zero.

Meskipun demikian, Airacobra memainkan peran penting dalam mencegat pembom Jepang yang terbang menukik ke ketinggian rendah untuk membom kapal-kapal Sekutu. Letnan Bill Fiedler menjadi satu-satunya pilot P-39 Amerika yang menjadi Ace setelah berhasil mencetak lima “kill” di atas langit New Guinea dan Kepulauan Solomon, termasuk tiga Zero secara berturut-turut, sebelum secara tragis tewas dalam tabrakan di landasan. Airacobra juga terlibat pertempuran dalam kampanye terlupakan untuk mengambil kembali Kepulauan Attu dan Kiska di Alaska dari pasukan Jepang, meskipun cuaca dingin dan basah akan membuktikan menjadi musuh yang lebih mematikan daripada peluru meriam Jepang. P-39 yang tersisa kemudian diserahkan untuk memperkuat Angkatan Udara Australia (mereka tidak pernah menggunakannya dalam pertempuran), Angkatan Udara Prancis Merdeka (yang terlibat dalam misi dukungan udara jarak dekat di Italia dan Prancis Selatan) dan Satuan udara Stormoof ke-4, Angkatan Udara Sekutu Italia (untuk menyerang sasaran di Balkan). Sayangnya, P-39 ini juga mengalami banyak kecelakaan, yang diantaranya menyebabkan kematian ace Italia Teresio Martinoli dan ace Prancis Pierre Le Gloan.

Pierre Le Gloan, Ace Prancis dengan 18 kemenangan udara gugur di dalam kokpit P-39.

Pesawat tempur paling top Amerika di Uni Soviet

Masih ingat P-400 yang dengan tidak sabar ingin “dibuang” oleh orang-orang Inggris? Nah, orang-orang Inggris kemudian mengangkut 212 pesawat tempur ini melalui konvoi Arktik yang penuh risiko ke Murmansk sebagai bagian dari bantuan militer yang diberikan kepada Uni Soviet yang sedang putus asa pada musim dingin 1941-42 melawan invasi Jerman. Dengan letih, pilot-pilot Soviet menghabiskan waktu beberapa bulan untuk menguji pesawat tempur yang punya reputasi buruk ini, mereka juga melakukan yang terbaik untuk memecahkan masalah spin dari pesawat yang tidak menyenangkan ini. Dan lucunya, orang-orang Soviet kemudian menyukai pesawat ini! Stalin bahkan menulis surat pribadi kepada Roosevelt untuk memintanya lebih banyak!

Dibuang Amerika dan Inggris, P-39 malah berjaya dan disukai oleh Pilot-pilot Soviet.

Kecocokan ini faktanya tidak berlaku untuk semua peralatan yang disuplai dalam skema Lend Lease. Tank medium M-3 Grant, misalnya, yang besar dijuluki sebagai “Peti Mati Tujuh Saudara” (merujuk pada jumlah crew nya) dan Spitfire dianggap terlalu sensitif terhadap cuaca dingin. Namun P-39 ternyata memenuhi persyaratan Soviet dengan sempurna. Dalam dua bulan pertama Airacobra di dinas Soviet, 20 Airacobra dari Resimen Pengawal elit ke-153 yang beroperasi dari Voronezh mampu menembak jatuh 18 pembom dan 45 pesawat tempur – kebanyakan tipe Junker 88 dan Messerschmitt 109 – sementara hanya kehilangan delapan pesawat. Tidak seperti pertempuran udara pada ketinggian tinggi dalam kampanye pemboman strategis di Eropa Barat, mayoritas operasi udara di Front Timur dilakukan pada ketinggian rendah dalam kaitannya mendukung pasukan di darat – sebuah domain di mana kekurangan P-39 nyaris tidak menjadi masalah.

Di tangan pilot-pilot Soviet P-39 sukses digunakan untuk melawan fighter-fighter Jerman seperti Bf-109.

Selain itu, lapangan terbang Soviet yang umumnya dekat dengan garis depan, menjadikan masalah jarak jangkau pendek Airacobra menjadi tidak relevan lagi. Selain itu setiap P-39 juga dilengkapi dengan perangkat radionya sendiri, sebuah fitur yang jarang dijumpai di antara pesawat tempur Soviet saat Perang Dunia II. Dikombinasikan dengan kursi pilot yang lebih nyaman dan berlapis baja yang lebih baik dibandingkan dengan desain Soviet, pesawat tempur Amerika itu segera mendapat julukan kesayangan Kobrukshka atau “Little Cobra.” Sekitar 5.000 P-39 dikirim ke Soviet, dimana 1.000 diantaranya hancur/rusak karena berbagai sebab. 2.500 pesawat tempur bermesin tunggal ini diangkut oleh pilot Amerika dan Rusia — banyak dari mereka perempuan — dari Buffalo, New York ke Alaska, dari sana melintasi selat Bering ke Rusia, dan kemudian menyelesaikan perjalanan berbahaya melintasi rantai lapangan terbang di Siberia ke unit garis depan di Eropa Timur. 2.000 lainnya dikirimkan dalam bentuk terurai melalui Iran yang diduduki Sekutu.

Soviet menggunakan P-39 untuk melindungi pasukan darat dari ancaman pesawat-pesawat musuh, termasuk pesawat pembom tukik Ju-87 Stuka.

Sebagian besar penulis Barat mengklaim bahwa Rusia memanfaatkan P-39 terutama dalam peran serangan darat. Meskipun pesawat ini memang kompeten dalam peran itu, namun peran serang darat bukanlah misi utama pilot Soviet Airacobra. Prioritas utama P-39 (dan pesawat tempur Soviet pada umumnya) di tangan Soviet adalah sebagai berikut:

  1. Melindungi unit darat dari ancaman pesawat musuh
  2. Melindungi pembom
  3. Menyerang situs AAA di area pemboman
  4. Pengintaian
  5. Perburuan bebas atas pesawat lawan
  6. Menyerang target ringan (mis. Pasukan darat, konvoi, tempat penimbunan pasokan, jalur kereta api, lapangan udara, tongkang atau kapal kecil angkatan laut lainnya)
  7. Melindungi aset bernilai tinggi milik pasukan kawan (mis. Jembatan, pasukan pendaratan amfibi, cadangan, komando dan kontrol, kota-kota besar, dll).

Setelah batch awal P-400, Soviet terutama mengoperasikan varian P-39N dengan mesin V1070-85 yang lebih kuat yang meningkatkan kecepatan maksimum pesawat hingga 390 mil per jam, dan P-39Q, yang mengganti senapan mesin underwing kaliber .30 yang kurang punya daya hantam (hingga disebut sebagai “paint scratching” atau penggores cat) dengan dua senapan mesin kaliber .50. Namun, mekanik Soviet sering kali melepaskan senapan mesin yang dipasang di sayap sepenuhnya untuk meningkatkan kinerja pesawat, karena pilot VVS lebih suka terbang dengan lebih sedikit senjata yang dipasang di badan pesawat (agar lebih ringan). Banyak catatan sejarah yang menyatakan bahwa kanon kaliber besar milik P-39 telah menjadikannya sebagai pesawat serang darat yang ideal. Tetapi pada kenyataannya, Soviet bahkan tidak memperoleh stok peluru anti-tank untuk meriam 37 milimeter Airacobra, dan mereka menugaskan Airacobra untuk misi menembak jatuh pembom musuh dan mengawal pesawat serangan darat Soviet Il-2 Sturmovik. Pilot Soviet Airacobra bersedia untuk menabrakkan pesawatnya untuk menjatuhkan pesawat musuh, dan satu Ace P-39, Mikhail Baronov (28 “kill”) bahkan pernah menabrak sebuah Me-109 Jerman dengan memotong ekornya dengan baling-baling  pesawatnya!

Ace nomor dua Soviet Alexander Pokryshin dengan catatan 59 “kill” membukukan 48 kemenangan dengan menggunakan P-39.
Grigory Rechkalov yang membukukan 56 kill, semuanya kecuali enam dengan Airacobra. Sebagai bandingan Ace terbaik Amerika dalam PD II, Richard Bong “hanya” membukukan 40 kill dalam karirnya.
Nikolai Dmitriyevich Gulayev membukukan 36 kill dengan menggunakan P-39 Airacobra.

Faktanya, lima dari 10 ace pesawat tempur terbesar Uni Soviet menerbangkan P-39, termasuk pencetak rekor nomor dua, Alexander Pokryshin dengan catatan 59 “kill” (48 dengan P-39) dan pencetak rekor nomor empat, Grigory Rechkalov (56 kill, semuanya kecuali enam dengan Airacobra). Kemudian diantara Ace Airacobra ada juga nama-nama seperti Nikolai D Gulayev (36 “kill”), Ivan I Babak, Aleksandr F Klubov, Andrei I Trud, serta dua bersaudara Boris B Glinka dan Dmitrii B Glinka, meskipun catatan tepat rekor-rekor mereka sedikit berbeda di berbagai sumber. Ace Soviet ini masing-masing secara individual mencetak lebih banyak catatan kill saat menggunakan P-39 daripada pilot Sekutu lainnya yang menerbangkan pesawat tempur buatan Amerika dalam Perang Dunia II – sebuah prestasi atas rancangan pesawat yang dinilai tidak memadai oleh Korps Udara Angkatan Darat AS. Pada akhirnya, peran utama yang dimainkan oleh P-39 dalam upaya perang Soviet ditutup oleh dua peristiwa yang terjadi pada Mei 1945 jelang penyerahan Jerman. Pesawat jet tempur German Me 262 menembak jatuh sebuah P-39 di atas Bohemia – pesawat terakhir yang ditembak jatuh oleh Luftwaffe dalam Perang Dunia II. Dan hari berikutnya, Airacobra Soviet menembak jatuh pesawat pengintai Focke-Wulf 189 bermesin ganda di atas Praha – pesawat Luftwaffe terakhir yang ditembak jatuh dalam konflik.

Bell akhirnya mengambil keputusan untuk membuat modifikasi pada desain P-39 dalam wujud P-63 Kingcobra yang lebih besar, yang memiliki baling-baling berbilah empat, laminar flow wings yang dibuat oleh NACA, dan – akhirnya – turbocharger yang memperkuat kinerja setiap pesawat saat terbang di atas ketinggian 10.000 kaki. Pihak Uni Soviet bahkan mengirim seorang pilot uji dan insinyur untuk memberi masukan atas desain pesawat ini. Meskipun Kingcobra dapat mencapai kecepatan 410 mil per jam, Korps Udara Angkatan Darat menilai kinerja pesawat itu lebih rendah daripada P-51 Mustang dan tidak pernah mengoperasikan jenis pesawat ini kecuali sejumlah kecil yang dicat oranye terang untuk dijadikan sebagai “Pinball” target latihan untuk crew senjata anti-pesawat. Akan tetapi, sekitar 2.400 pesawat sempat dikirimkan ke Uni Soviet, dengan perjanjian rahasia yang membatasi penggunaan tempur ini dalam kampanye militer Soviet yang meski singkat namun penting dalam melawan pasukan Jepang di Manchuria pada Agustus 1945. Pada saat perang berakhir masih ada sekitar 1.178 P-39 yang berdinas di kekuatan udara Soviet.

Akhir karier

Di tangan Amerika, karir keluarga P-39 tetap saja suram. Varian paling canggihnya P-63 Kingcobra mengakhiri karier sebagai target latihan tembak gunner pesawat.

Butuh beberapa tahun lagi sebelum pesawat tipe ini dipensiunkan. Skuadron P-63 Soviet yang bermarkas di dekat Vladivostok secara tidak sengaja ditembaki oleh jet Angkatan Udara AS P-80 selama Perang Korea. Sekitar waktu yang sama, 60 P-63 Angkatan Udara Perancis bertindak sebagai pembom tempur garis depan melawan pasukan Ho Chi Minh sampai pesawat itu dihapus dari inventaris pada tahun 1951. Ironisnya dari P-39 adalah bahwa para perancang di Bell telah menciptakan pesawat tempur yang tidak sesuai dengan kebutuhan operasional militer AS, tetapi desainnya itu terbukti bekerja dengan baik untuk perang udara taktis di ketinggian rendah yang banyak dilakukan oleh Uni Soviet. Kisah P-39 menunjukkan bahwa pengaplikasian sama pentingnya dengan desain pesawat tempur itu sendiri. Untung saja dalam case P-39, pesawat itu akhirnya digunakan oleh pilot Soviet yang berhasil memaksimalkan potensi pesawat tempur yang banyak dicela ini, seperti juga yang berlaku pada Brewster Buffalo di tangan pilot-pilot Finlandia.

General characteristics

• Crew: One

• Length: 30 ft 2 in (9.2 m)

• Wingspan: 34 ft 0 in (10.4 m)

• Height: 12 ft 5 in (3.8 m)

• Wing area: 213 sq ft (19.8 m2)

• Empty weight: 6,516 lb (2,955 kg)

• Loaded weight: 7,570 lb (3,433 kg)

• Max. takeoff weight: 8,400 lb (3,800 kg)

• Powerplant: 1 × Allison V-1710-85 liquid-cooled V-12, 1,200 hp (894 kW) at 9,000 ft (using emergency power)

Performance

• Never exceed speed: 525 mph (845 km/h)

• Maximum speed: 389 mph (626 km/h) at 10,000 ft (using emergency power)

• Stall speed: 95 mph (152 km/h) Power off Flaps & undercarriage down

• Range: 525 miles on internal fuel (840 km)

• Service ceiling: 35,000 ft (10,700 m)

• Rate of climb: 3805 ft/min (19,3 m/s) at 7,400 ft (using emergency power)

• Wing loading: 34.6 lb/sq ft (169 kg/m2)

• Power/mass: 0.16 hp/lb (0.27 kW/kg)

• Time to climb: 15,000 in 4.5 min at 160 mph (260 km/h).

Armament

• Guns:

◦ 1 × 37 mm M4 cannon in nose (firing through the propeller hub) with 30 rounds of HE-T ammunition.

◦ 2 × .50 cal (12.7 mm) synchronized Browning M2 machine guns, nose-mounted; 200 rounds per gun

◦ 2 × .50 cal (12.7 mm) Browning M2 machine guns (one each wing), 300 rounds per gun

• Bombs: Up to 500 lb (230 kg) of bombs under wings and belly

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

America’s Worst World War II Fighter Was the Star of the Soviet Air Force, September 11, 2017 by Sebastien Roblin

Meet the P-39 Airacobra “Peashooter”: The Most Underappreciated Fighter of World War II?

https://nationalinterest.org/blog/buzz/meet-p-39-airacobra-%E2%80%9Cpeashooter%E2%80%9D-most-underappreciated-fighter-world-war-ii-48742?page=0%2C1

Bell P-39 Airacobra in Soviet Service

http://www.historyofwar.org/articles/weapons_P-39_Airacobra_Soviet.html

Airacobras in the Soviet Union

http://www.joebaugher.com/usaf_fighters/p39_19.html

The Bell P-39 Airacobra & P-63 Kingcobra by Greg Goebel

http://www.airvectors.net/avp39.html

Airacobra or Iron Dog? The Obscure Career of Bell’s P-39 in the Soviet Union by Patrick Masell

https://www.chuckhawks.com/airacobra_iron_dog.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *