Alutsista

Mengenal Kelas Moskva, Kapal “Induk” Pertama AL Soviet Dalam Sejarah

Setelah Perang Dunia II, tidak diragukan lagi bahwa kapal induk adalah aset tempur angkatan laut yang paling dominan. Peran kapal-kapal induk Amerika, Inggris, dan Jepang sangat menentukan dalam pertempuran angkatan laut terbesar dalam perang tersebut, dan dominasi AS dalam pengembangan kapal induk selama Perang Dingin memperkuat pentingnya kapal jenis ini. Kapal induk Soviet, di sisi lain, kurang mendapat perhatian. Secara keseluruhan, hanya ada tujuh kapal induk dari tiga kelas berbeda yang sempat bertugas di Angkatan Laut Soviet antara tahun 1967 dan 1991. Tidak seperti rekan-rekan mereka di Barat, kapal induk Soviet tidak dirancang untuk mendukung operasi ofensif jarak jauh. Sebaliknya, mereka dimaksudkan untuk menjadi kapal perang permukaan yang sifatnya defensif dan lebih mengandalkan persenjataan rudal-rudal besar mereka daripada pesawat-pesawat yang dibawanya. Kapal induk pertama AL Soviet mulai beroperasi pada tahun 1967, dengan hadirnya dua kapal induk kelas-Moskva, dimana kapal ini diklasifikasikan sebagai Kapal Penjelajah Pengangkut Helikopter Anti Kapal Selam.

Ilustrasi kapal induk USS Enterprise milik Amerika dalam Perang Dunia II. Perang Dunia II telah menunjukkan betapa krusialnya kapal induk sebagai pusat kekuatan armada sebuah Angkatan Laut. (Sumber: https://worldofwarships.com/)

LATAR BELAKANG PENGEMBANGAN

Kapal-kapal penjelajah kelas Moskva dari Proyek 1123 Condor dapat dikategorikan sebagai subkelas kapal induk helikopter penjelajah. Mereka pada dasarnya adalah kapal jenis baru dalam segala hal – dalam hal desain, komposisi senjata rudal, perangkat radio-elektronik, dan taktik penggunaannya – bagi AL Soviet. Mereka dimaksudkan untuk menjalankan misi pencarian dan penghancuran kapal selam nuklir berkecepatan tinggi-pembawa rudal jauh di luar zona pertahanan anti-kapal selam sebagai bagian dari kelompok kapal yang bekerja sama dengan pesawat-pesawat PLO/berkemampuan anti kapal selam. Kapal-kapal tersebut umumnya memiliki radar dan alat pendeteksi hidroakustik yang kuat, sistem rudal modern, dengan perlengkapan peperangan elektronik paling canggih di dunia, dan proses otomatisasi tingkat tinggi. Menurut kinerja pencarian dan pendeteksiannya, kapal penjelajah project.1123 memiliki kemampuan beberapa kali lebih tinggi dari kapal project. 61 (kapal perusak rudal kelas Kashin). Hingga saat itu, para pelaut Soviet selalu bermimpi memiliki kapal pengangkut pesawat. Dalam 30 tahun pertamanya, para pemimpin politik di Uni Soviet, yang tidak mau mendengar tentang pengadaan kapal jenis ini, senantiasa mengganggu realisasi dari mimpi para pelaut Soviet ini. Namun, Perang Patriotik Besar (sebutan Soviet untuk Perang Dunia II) menegaskan peran utama kekuatan udara dalam memecahkan berbagai masalah dasar di lautan selama perang. Sekitar setengah dari kapal-kapal besar yang ditenggelamkan dalam perang itu tercatat dihancurkan oleh pesawat-pesawat. 

Kapal Penjelajah dari Project 68 bis, Sverdlov Class. Selepas Perang Dunia II, para pemimpin Kremlin masih belum begitu tergerak untuk membangun armada kapal induk, mereka masih terpaku pada konsep kapal perang bermeriam era Perang Dunia II, seperti kapal penjelajah Sverdlov ini. (Sumber: https://en.topwar.ru/)

Oleh karena itu pada tahun 1953 sebuah studi tentang pembuatan kapal induk ringan diperbarui, dan pada tahun 1955 lahir desain awal nomor “263” – desain kapal induk yang bisa membawa sekitar 40 pesawat. Di saat yang sama pembangunan kapal-kapal Soviet pada tahun-tahun itu sedang mengalami peningkatan yang tajam, dan tampaknya realisasi pembangunan kapal-kapal kelas ini (kapal induk pengangkut pesawat) sudah dekat. Tetapi lagi-lagi manajemen politik di Soviet membunuh impian ini, dengan melakukan pengurangan kekuatan angkatan bersenjata yang belum pernah terjadi sebelumnya, termasuk di sisi armada kapal permukaannya. Pengurangan ini termasuk pembatalan pengoperasian kapal penjelajah kelas Sverdlovsk “Admiral Kornilov”, yang telah diluncurkan dan siap untuk dikirimkan. Pada saat itu segala pertanyaan tentang pentingnya perlindungan udara pada kapal-kapal permukaan dan pengawalan bahkan di kawasan pantai (apalagi mengenai krusialnya supremasi udara) dibungkam, kapal-kapal besar berhenti dibuat, dan hal-hal yang berkaitan dengan rencana pengadaan kapal induk dalam waktu yang lama dikritik sebagai rancangan “instrumen agresi dan perampokan”. Sementara itu adanya penempatan sistem rudal balistik strategis Polaris Amerika di kapal-kapal selam, kemudian bertindak sebagai katalis yang mempercepat pengembangan kapal induk pengangkut pesawat di Uni Soviet. Pendekatan terhadap peran dan tugas-tugas armada Angkatan Laut Soviet benar-benar berubah dengan munculnya armada kapal pembawa rudal nuklir bawah laut di negara-negara aliansi NATO. Perkembangan ini mendorong pembuatan armada kapal perang permukaan Soviet, yang sebagian besar berorientasi ke misi antikapal selam. Pada saat yang sama di tahun 1962, geladak kapal-kapal perang permukaan Soviet mulai dirancang untuk dapat menampung helikopter. Namun sebuah helikopter saja diatas kapal perang dinilai tidak memiliki kemampuan tempur yang cukup untuk menangani ancaman kapal-kapal selam NATO. Kemudian untuk dapat memungkinkan Angkatan Laut negara itu mampu menghadapi ancaman baru secara memadai, sebuah konsep kapal penjelajah yang dapat membawa beberapa helikopter antikapal selam untuk pertama kalinya mendapat dukungan dari pemerintah Soviet pada akhir tahun 1958. Kelompok-kelompok helikopter ini dipandang akan bisa menjalankan misi saling bergantian dan mampu mencakup area yang lebih luas dalam berburu kapal selam musuh.

Ilustrasi kapal selam meluncurkan rudal balistik di bawah permukaan air. Kehadiran kapal selam pembawa rudal balistik nuklir Polaris, memaksa AL Soviet untuk mempertimbangkan kembali konsep pertahanan anti kapal selam mereka. (Sumber: https://theleansubmariner.com/)

Proyek kompetitif yang diberi inisial “CNII VK” (tidak jelas apa artinya ini – akronim ini tampaknya tidak digunakan saat ini, meskipun mungkin dapat juga berarti singkatan dari Institut Penelitian Ilmiah Pusat untuk Konstruksi Militer), adalah apa yang disebut Kapal Antikapal Selam berkemampuan Jarak Jauh. Pada awal tahun 1960-an konsep armada kapal perang samudera mulai dikembangkan, dan desain “kapal anti kapal selam jarak jauh” yang mampu menampung helikopter mulai dikerjakan. Saat itu tidak ada tipe kapal seperti itu di armada laut Soviet. Biro Perencanaan dan Desain Nevskoye SKB-17 di St. Petersburg kemudian diarahkan untuk menerapkan konsep tersebut ke dalam kapal Proyek 1123. Pekerjaan ini diawasi oleh Chief Designer A.S. Savichev, dan pada tahun 1967 A. Marinich menggantikannya. Untuk asosiasi desainer di bawah Manajemen A.S. Savichev, mereka perlu menyempurnakan desain dari nol, mulai dari bentuk halauan yang runcing, buritan lebar, yang menyerupai pasak, untuk menyelesaikan masalah penataan kompleks hidroakustik yang kuat, masalah aerodinamis, untuk merancang jalur lepas landas dan pendaratan serta dalam membuat desain hanggar. Pada awalnya Laksamana Sergey Georgyevich Gorshkov (Bapak Armada Laut Soviet Modern) yang menginisialisasi spesifikasi kapal ini pada tahun 1959, bersikeras agar lambung kapal dibuat sesempit mungkin (untuk bisa mendapatkan kecepatan lebih besar), namun biro desain menjawab bahwa hal itu akan menimbulkan masalah stabilitas yang tak terpecahkan (Gorshkov sempat mengusulkan ide untuk me-rekonversi 7 lambung kapal penjelajah ringan kelas Sverdlov/Project 68-bis-ZIF yang belum selesai dibuat). Ironisnya masalah stabililtas ini nantinya akan tetap menjadi problem terbesar dari kapal hasil Project. 1123 ini. Dalam pengerjaannya, proyek ini dijalankan dengan kerja sama erat bersama OKB Nikamov, TsNIIVK, TsNII-45, TsKB-53. 

Kapal penjelajah pengangkut helikopter Kelas Moskva, perwujudan dari kapal anti kapal selam Project, 1123. (Sumber: https://daydaynews.cc/)

Versi pertama dari proyek ini memiliki bobot sekitar 4.500-5.000 ton, dengan hanggar di bagian tengah kapal untuk menampung 8 helikopter, sementara landasan udara dengan 3 posisi pendaratan ada di bagian belakangnya. Setelah melakukan penelitian tentang taktik pencarian dan penyerangan kapal selam secara berkelompok, para perancang TsBK-17 sampai pada kesimpulan bahwa 8 helikopter untuk menjalankan misi pencarian sepanjang waktu tidaklah mencukupi, sehingga jumlah helikopter yang direncanakan ditambah menjadi setidaknya 14 unit. Peningkatan jumlah helikopter pada akhirnya memperbesar dimensi kapal dan bobotnya, yang berkembang menjadi 8.000 ton. Konsep CBD-17 ini kemudian disetujui dan sifat taktis dan teknis penggelaran baru dari proyek ini disetujui pada tanggal 25 Januari 1960. TsBK-17 telah menyerahkan 8 versi layout kapal. Pemenangnya adalah versi keempat dari proyek ini, dengan pengembangan lebih lanjutnya dilakukan oleh TsBK-17. Pada prosesnya, AL Soviet menambahkan persyaratan baru, sehingga para perancang harus mengembangkan 16 opsi baru, dimana selama proses diskusi telah menimbulkan perdebatan yang panjang. Akhirnya ada 23 varian dikeluarkan selama pengerjaan desainnya. Bagian utama desain dikerjakan pada bulan Mei 1962 dan di bulan Juni, dokumentasi desain diserahkan ke pabrikan. Kapal pertama dari proyek ini (konstruksi nomor S -701) mulai dibangun pada tanggal 15 Desember 1962 (beberapa sumber lain melaporkan bahwa pembuatannya dimulai “pada awal tahun 1963”) di Nikolayev No.444, pabrik pembuatan kapal wilayah selatan (sekarang Laut Hitam). Setelah dua tahun proses pengerjaan, di tanggal 14 Januari 1965 kapal ini diluncurkan (“diapungkan ke air”) dan di tanggal 27 Januari kapal ini telah terdaftar dalam armada Soviet. Kru kapal mulai dibentuk pada tanggal 3 Maret 1965. Di akhir tahun 1966, pengujian dimulai, dan pada bulan Mei 1967 kapal yang diberi nama “Moskva” memasuki dinas operasional armada Laut Hitam. Penanggung jawab utama proyek pembangun kapal jenis ini diberikan kepada I.I. Vinnik, dengan diawasi oleh V.F. Fedin dan I.S. Platonov. Dalam waktu dua tahun (1967-1969) Angkatan Laut Soviet telah menerima dua kapal penjelajah antikapal selam Proyek 1123 yang diberi nama Moskva dan Leningrad. Dua kapal kelas Moskva ini diperkenalkan pada tahun 1967 dan ditugaskan di pangkalan Laut Hitam. Mereka kemudian dikerahkan ke kawasan Mediterania, Atlantik dan Samudra Hindia.

DESIGN

Proyek 1123 Moskva dan Leningrad dirancang dan dibangun terutama sebagai kapal perang anti-kapal selam (ASW), dimana senjata serta rangkaian perangkat sensor mereka dioptimalkan menghadapi ancaman kapal selam nuklir. Tidak seperti kapal perang besar antikapal selam Soviet pertama yang hanya bisa membawa satu unit helikopter, kapal Proyek 1123 memiliki hanggar di ruang bawah geladak dan bangunan utamanya untuk menampung beberapa helikopter. “Moskva” bagaimanapun bukanlah “kapal induk” sejati karena mereka tidak dapat membawa pesawat bersayap tetap. Wing udara yang dibawanya seluruhnya terdiri dari armada helikopter. Kapal itu dirancang untuk bisa membawa 18 helikopter perang antikapal selam Ka-25 yang dibangun sesuai dengan prinsip rotor koaksial tradisional dari Biro Desain Kamov yang tanpa menggunakan rotor ekor (sebuah fitur yang sangat penting untuk helikopter yang diangkut diatas kapal, dengan keterbatasan ruangnya). Dek penerbangan kelas Moskva yang lebar, dengan panjang sekitar 80 meter dan lebar 35 meter berada di belakang bangunan utamanya yang tinggi, memungkinkan untuk dioperasikannya dengan nyaman empat helikopter pada saat yang bersamaan. Dek penerbangan ini dihubungkan dengan hanggar melalui dua elevator sempit, dengan elevator ketiga berada di dalam super-strukturnya. Di dalam kapal terdapat ruang untuk menampung delapan belas helikopter antikapal selam Kamov Ka-25 atau delapan helikopter angkut Mil Mi-8. Area penyimpanan untuk menyimpan amunisi helikopter disediakan di bawah hanggar besar. Tempat ini dapat menampung sebanyak 30 torpedo AT-1, sebanyak 40 bom anti-kapal selam PLAB-250-120, dan 800 buoy detektor anti kapal selam.

Gambar tampak samping dan atas dari kapal penjelajah kelas Moskva, yang nampak seperti pasak. (Sumber: https://www.quora.com/)
Helikopter anti kapal selam Ka-25 Hormone yang menjadi andalan kekuatan udara dari kapal penjelajah kelas Moskva. Sebanyak 18 helikopter Ka-25 dapat diangkut oleh kapal kelas Moskva. (Sumber: https://www.reddit.com/)

Mereka secara resmi ditetapkan sebagai kelas kapal “penjelajah yang memiliki kemampuan mengangkut helikopter”. Setidaknya hal ini sebagian untuk menghindari masalah pelanggaran terhadap Konvensi Montreaux 1936, yang melarang pelayaran “kapal induk” melalui Selat Dardanella. Banyak analis Barat setuju dengan definisi anti-kapal selam dari kapal penjelajah Soviet ini. Kapal pengangkut pesawat Soviet yang pertama ini, desainnya semacam kapal perang hibrida, dengan fitur kapal penjelajah bersenjata rudal di bagian halauan, dan dek penerbangan di belakang super struktur-nya. Desain kapal-kapal ini tampaknya sangat dipengaruhi oleh desain kapal induk Prancis Jeanne d’Arc dan Vittorio Veneto dari Italia. Pada saat pembangunannya, Moskva adalah kapal perang terbesar yang pernah dibuat oleh Uni Soviet. Kapasitas antikapal selam dari kapal ini kemudian ditingkatkan dengan diperkenalkannya sistem rudal antikapal selam RPK-1 Vikhr (kode NATO SUW-N-1) buatan Soviet. Persenjataan anti kapal selam pada Moskva Class, kemudian termasuk peluncur SUW-N-1 kembar yang mampu mengirimkan proyektil rudal FRAS-1 yang membawa torpedo kaliber 450 mm (atau hulu ledak nuklir berkekuatan 10 kiloton) hingga jarak 24km/14.9 miles. Rudal ini bisa meledak sekitar 650 kaki (198 meter) di bawah permukaan laut. Mereka disimpan di magazine putar yang mampu menampung delapan rudal. Total ada 24 rudal FRAS-1 yang bisa dibawa kelas Moskva. Lalu terdapat juga dua dudukan tabung torpedo berformat lima kali kaliber 533mm, yang kemudian dihapuskan karena kerentanannya terhadap bahaya kebanjiran saat bergerak, dan dua peluncur roket mortir anti kapal selam RBU-6000.

Kapal penjelajah pengangkut helikopter milik italia, Vittorio Veneto. Kapal ini memiliki konsep yang hampir sama dengan Moskva Class. (Sumber: https://www.seaforces.org/)

Untuk mengintai situasi di bawah air dan mengakuisisi target, kapal ini dilengkapi (selain helikopter) dengan sonar jarak jauh frekuensi rendah Orion yang kuat, dengan antena yang dapat diatur dalam sonodome underkeel yang dapat ditarik. Sonar kedalaman variabel “Mare Tail” ini bekerja bersama dengan sensor pada helikopter untuk berburu kapal selam, juga dengan sonar tarik Vega. Kapal itu juga dilengkapi dengan persenjataan pertahanan udara yang dikembangkan dengan baik yang terdiri dari dua sistem rudal permukaan-ke-udara serbaguna M-11 Shtorm dan dua meriam otomatis kembar kaliber 57mm. Sistem rudal M-11 memiliki dua peluncur SAM SA-N-3 Goblet berformat kembar telah yang mampu diisi ulang dengan total 48 rudal permukaan-ke-udara yang tersimpan di magazine-nya. Goblet secara teoritis dapat menjangkau sasaran hingga jarak 30km/18.6 mile. Ketiadaan rudal antikapal pada kapal penjelajah kelas Moskva menunjukkan bahwa kapal-kapal ini tidak dimaksudkan untuk beroperasi secara mandiri, dimana dalam operasinya, kapal-kapal ini membutuhkan pengawalan dari kapal-kapal lainnya. Sayangnya ketika kapal-kapal dari projeck 1123 Moskva Class mulai beroperasi, mereka terbukti tidak mampu melawan kapal-kapal selam Amerika dengan baik karena peningkatan jumlah kapal selam tersebut maupun karena kemampuannya yang semakin meningkat. Kapal ini tidak mampu membawa pesawat sayap tetap, dan hanya bisa menerbangkan sekitar 18 helikopter anti-kapal selam tipe Ka-25 Hormone A. Dikembangkan untuk melawan kapal selam bersenjata rudal strategis milik Barat, mereka terbukti tidak efektif dan tidak dapat diandalkan. Oleh karena itu program pembangunan kapal pengangkut helikopter kemudian dihapuskan.

Pesawat VTOL Yak-38 Forger. Karena dipandang tidak memadai dalam menghadapi kapal-kapal selam negara NATO terbaru dengan hanya mengandalkan helikopter anti kapal selam, AL Soviet mengembangkan kapal induk yang mampu mengangkut pesawat seperti Yak-38. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Dek penerbangan Moskva lalu dimodifikasi, dan dimodernisasi, serta pada tanggal 18 November 1972 mulai muncul pesawat VTOL (mampu terbang dan mendarat secara vertikal, sehingga tidak memerlukan jalur lepas landas yang panjang) pertama Soviet, yakni Yak-38M. Jadi dengan kehadiran dari Yak-38M dalam armada kapal permukaan lahir profesi baru, yakni pilot pesawat tempur yang berpangkalan di kapal. Yak-38 kemudian akan dioperasikan di kapal induk Kelas Kiev, yang dimaksud untuk menggantikan kelas Moskva. Moskva Class memiliki bodi berkapasitas besar yang terbuat dari baja bersama dengan sistem set longitudinal yang memanjang dengan jarak 500 mm. Lokasi pendaratan pesawat udara dengan 4 posisi peluncuran terletak di bagian belakang (paling terlindung dari bahaya kebanjiran akibat gelombang). Semua sistem senjata kapal ini terletak di haluan. Di bagian tengahnya adalah superstruktur multi-tier, yang dikombinasikan dengan cerobong asap dan tiang seperti menara. Superstruktur-nya terbuat dari bahan aluminium-magnesium alloy. Pencegahan dari bahaya kebanjiran disediakan oleh 16 sekat utama kedap air, yang mencapai hingga dek hanggar. 

Foto tampak belakang kapal penjelajah kelas Moskva yang menunjukkan dek penerbangannya yang cukup luas. (Sumber: https://daydaynews.cc/)

Mesin turbin gas sempat dipertimbangkan  untuk digunakan pada kelas Moskva, tetapi karena belum pernah dicoba pada kapal sebesar itu, sebagai gantinya, mesin uap bertekanan tinggi yang serupa dengan yang digunakan oleh kapal penjelajah kelas Kynda digunakan. Mesin dari Moskva Class kemudian akan terdiri dari 2 mesin turbin GTZA TV-12 dan 4 ketel uap KVN-95/64 dengan economizer eksternal. Mesin turbin boiler dua shaft ini memiliki kekuatan sekitar 90.000 hp, yang mampu memberikan kecepatan puncak kapal hingga 28 knot (51,8 km/jam) dan daya jelajah dengan kecepatan ekonomis mencapai 6.000 mil (9.656 km). Pada prakteknya, kapal ini mampu bertahan berlayar dengan kecepatan 24 knot (44,5 km/jam) selama 3 jam, tetapi dengan mengambil risiko tinggi kapal ini dapat mencapai kecepatan pada 30 knot (55,56 km/jam), yang hanya dicapai pada saat uji coba. Kelas Moskva memiliki panjang 189 meter (620 kaki) dan bobot penuhnya bisa mencapai 19.200 ton – sedikit lebih kecil dari kapal perang amfibi kelas San Antonio. Sedangkan bobot kosong kapal itu sendiri adalah sekitar 13.000 ton. Untuk mengurangi medan hidroakustik di bagian sistem mekanisme utama dan tambahannya, peredam kejut (untuk pertama kalinya diaplikasikan di kapal perang besar) banyak digunakan. Untuk mengurangi medan termal, gas buang dari mesin didinginkan oleh perangkat elektrik yang terletak di dalam cerobong. Sementara itu untuk melindungi dari ancaman ranjau magnetik dan torpedo non-kontak, perangkat demagnetisasi yang terdiri dari 4 kumparan dipasang. Lambung kapal ini terhitung cukup tipis, berkat bentuk “Y” di bagian itu, yang memungkinkan mereka memiliki hidrodinamika yang baik, tetapi mengorbankan stabilitasnya saat berlayar dalam cuaca buruk. Kapal-kapal ini, yang menurut klasifikasi Soviet disebut sebagai PKR (penjelajah antikapal selam), kemudian terbukti tidak cukup bagus digunakan untuk berlayar dalam cuaca buruk.

Ilustrasi pengoperasian bersama kapal penjelajah Moskva Class dengan helikopter Ka-25 Hormone. Dalam pengoperasiannya kemudian diketahui bahwa kelas Moskva tidak cukup bagus digunakan berlayar di cuaca buruk. (Sumber: https://daydaynews.cc/)

Meskipun memiliki penampilan yang anggun, desain kapal ini dirusak oleh kecenderungannya untuk turun di bagian haluan saat berlayar. Kapal kerap berguncang saat menghadapi badai yang – sebuah indikasi yang menunjukkan bahwa bobot kapal tidak cukup seimbang dengan ukurannya. Pada akhirnya hanya dua kapal jenis ini yang dibangun (dari sekitar 12 yang sempat direncanakan), dan keduanya merupakan bagian dari Armada Laut Hitam Soviet. Keduanya pensiun pada tahun 1991, dan telah dihapus dari inventaris AL Russia pada akhir dekade 1990-an. Sebuah kapal tambahan (yang ketiga) sempat dibuat tetapi kemudian dibatalkan pada tahun 1969 dan diesituakan segera sesudahnya. Kapal ketiga ini, rencananya merupakan kapal perang untuk misi anti-permukaan, yang diberi nama “Kiev”. Dalam proses pembangunan kapal ketiga menjadi jelas bahwa helikopter yang digunakan secara teknis tidak cukup untuk bisa memenuhi tugas sepenuhnya, selain itu area dek penerbangan di Moskva Class terbukti terlalu kecil. Selanjutnya, pada tahun 1967 terjadi satu peristiwa tambahan, yang mempengaruhi kelanjutan pembuatan kapal penjelajah ketiga dari proyek “1123”. Pada pameran udara di Domodedovo diperlihatkan pesawat VTOL tipe Yak-38M. Dari sini muncul ide untuk menempatkan pesawat ini di dek kapal yang dibuat. Namun sayangnya upaya sederhana untuk memperpanjang kapal ketiga sebagai kapal induk tidak berhasil, “Kiev” kemudian dibongkar, dan pada tahun 1970 mereka menempatkan sebuah kapal baru dengan nama yang sama dari kelas yang berbeda sebagai penggantinya.

SISTEM SENSOR & PROSESING

Radar Udara/Permukaan MR-600 ‘Voskhod’/MR-310 ‘Angara-A’

MR-310 “Angara-A” (Sirilik: -310 «Ангара-А», Kode NATO: Head Net A) yang dipakai di kelas Moskva adalah radar pengawasan dan akuisisi target udara dan permukaan tipe L-Band 3D. Ini adalah sistem dua saluran dengan antena yang berlawanan secara diametris. Defleksi berkas elektron pada tampilan PPI juga diametris. Dengan salah satu antena dimiringkan, sudut elevasi dapat ditampilkan dengan bantuan metode V-Beam. Elevasi dari radar ini adalah 180 ° atau 0 °. Radar yang dikembangkan pada pertengahan tahun 1960-an ini memiliki kemampuan mencari target udara hingga jarak maksimum 148 km, sedangkan untuk target permukaan, radar ini memiliki jangkauan maksimum 46 km.

Radar Udara/Permukaan MR-600 ‘Voskhod’/MR-310 ‘Angara-A’. (Sumber: http://foto-i-mir.ru/)

‘Don’ navigation radar

Adalah radar navigasi dengan jangkauan antara 0,4 km hingga 56 km. Sama seperti radar Angara-A, radar ini dikembangkan di tahun 1960-an.

MG-342 ‘Orion’

Adalah hull sonar aktif/pasif dengan jangkauan maksimum 27,8 km. Sonar ini dikembangkan pada akhir dekade 1960-an.

Bagian halauan dari kelas Moskva yang dipenuhi dengan berbagai peralatan elektronik. (Sumber: https://daydaynews.cc/)

‘Kremniy-2M’ IFF

Kremniy-2 yang digunakan pada Moskva Class adalah sistem buatan Soviet untuk mengidentifikasi, teman atau musuh (IFF), yang mungkin dikembangkan pada dekade tahun 1950-an. Pada sistem IFF ini sinyal yang dilepaskan oleh stasiun interogasi harus dijawab dengan kode yang benar. Untuk kodenya, ada 12 kemungkinan yang dimodulasi ke sinyal respon. Keamanan sistem ini didasarkan pada kerahasiaan kode valid yang diubah dalam hitungan jam. Kremniy-2 menggunakan tiga rentang frekuensi, yaitu: 

  • Rentang frekuensi I: radar primer 8600..9700 Mcs 
  • Rentang Frekuensi II: Radar primer 2520..3380 Mcs 
  • Rentang Frekuensi III: Interogasi dan frekuensi respons 668 Mcs

PERSENJATAAN

M-11 Shtorm

M-11 Shtorm (Rusia: -11 «Шторм»; Inggris: Storm) adalah sistem rudal permukaan-ke-udara yang angkatan laut Rusia. Kode pelaporan NATO dari sistem rudal ini adalah SA-N-3 Goblet. Sistem ini pertama kali dipasang di kapal penjelajah kelas Moskva yang diluncurkan pada tahun 1967, tetapi sistem ini baru secara resmi diterima ke dalam dinas operasional pada tahun 1969. Tidak seperti sistem rudal pertahanan udara lainnya, sistem ini tidak memiliki versi berbasis daratnya. Sistem ini hanya dikerahkan di kapal-kapal perang Rusia, dan tidak pernah ditembakkan dalam pertempuran. Pada sistem ini rudal 4K60/41K65 dibawa secara berpasangan pada peluncur rel kembar yang dapat berputar. Rudal ini mampu terbang dengan kecepatan antara 2 sampai 3 Mach. Panjang dari rudal ini adalah 6,1 m (20 kaki), dengan berat masing-masing 845 kg (1.863 lb) dan hulu ledaknya berbobot 80 kg (180 lb). Ketinggian efektif dari rudal adalah sekitar 100–25.000 m (330–82.020 kaki). Varian awal rudal ini memiliki jarak tembak 3–30 km (1,9–18,6 mil) sedangkan varian 41K65 jangkauan maksimumnya meningkat hingga 55 km (34 mil). Rudal ini dipandu melalui perintah lewat radio. Radar yang digunakan pada sistem SA-N-3 dikenal sebagai “Head Lights”, yang sering ditemukan bekerja bersama dengan radar pencarian “Top Sail”. Versi awal dari sistem ini, 4K60 M-11 “Shtorm” dengan rudal V611 dikenal oleh Departemen Pertahanan AS sebagai SA-N-3A, sedangkan versi yang kemampuannya telah ditingkatkan adalah 4K65 “Shtorm-M” dengan rudal V611M diberi nama SA-N-3B. Sistem rudal ini hanya digunakan oleh Soviet dan tidak pernah diekspor ke negara-negara lain.

Sistem peluncur SA-N-3 Goblet. (Sumber: https://www.shapeways.com/)
SA-N-3 Goblet dalam dudukan peluncur gandanya. Sistem rudal ini secara eksklusif hanya dipakai oleh AL Soviet. (Sumber: https://weaponsystems.net/)

RPK-1 Vikhr

RPK-1 Vikhr (Rusia: -1 «Вихрь» – artinya Angin Puyuh) dengan nama pelaporan NATO SUW-N-1 adalah sistem rudal anti kapal selam berhulu ledak nuklir asal Soviet. FRAS-1 adalah kode pelaporan NATO untuk peluru kendali dari sistem itu sendiri. Pengembangan rudal ini dimulai pada tahun 1960 untuk memerangi kapal-kapal selam nuklir Amerika yang baru. Persyaratan pembuatan sistem senjata ini adalah bisa dioperasikan dalam segala cuaca yang mampu menjangkau sasaran hingga 20 km dengan kecepatan tinggi. Tes pertama sistem senjata ini dilakukan pada tahun 1964 dan sistem tersebut kemudian dipasang pada kapal penjelajah helikopter kelas Moskva pada tahun 1967. Sistem ini juga dipasang pada kapal induk kelas Kiev. Sistem rudal anti kapal selam ini dinonaktifkan pada tahun 1990-an. Terdapat dua model peluncur pada sistem ini, yaitu: 

  • MS-18 digunakan di kelas Moskva – dengan peluncur dua lengan, yang dilengkapi magazine putar yang mampu menampung 8 rudal. 
  • MS-32 digunakan di kelas Kiev – peluncur dua lengan dengan dua magazine putar yang bisa menampung 16 rudal.
RPK-1 Vikhr. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Prototipe peluncur sistem ini dipasang pada fregat kelas Petya SKR-1 untuk menjalani proses pengujian pada tahun 1964. Rudal FRAS-1 adalah roket dua tahap dengan panduan inersia, yang data panduannya tidak dapat diperbaiki setelah diluncurkan. Rudal itu bisa membawa hulu ledak bom dalam nuklir hingga kekuatan 10 kiloton. Hulu ledak ini dapat meledak pada kedalaman hingga 200 m dan memiliki radius mematikan 1,2 hingga 1,5 km terhadap target kapal selam. Bobot rudal ini 1800 kg, dengan panjang 6,0 m, Diameter 0,54 m. Dengan mesin motor roket propelan padat, rudal ini memiliki jangkauan operasional 10–24 km, dan kecepatan maksimumnya Mach 1,8.

Peluncur Roket RBU-6000

RBU-6000 Smerch-2 (Реактивно-Бомбовая Установка, Reaktivno-Bombovaja Ustanovka; instalasi bom mesin reaksi & Смерч; waterspout) adalah peluncur roket anti-kapal selam Soviet kaliber 213 mm. Sistem senjata ini pada prinsipnya mirip dengan sistem Hedgehog Royal Navy yang digunakan selama Perang Dunia Kedua. Sistem ini mulai beroperasi pada tahun 1960-61 dan dipasang ke berbagai kapal permukaan Rusia. Sistem ini terdiri dari susunan dua belas tabung peluncur berbentuk tapal kuda, yang diarahkan dari jarak jauh oleh sistem kendali tembakan Burya (yang juga dapat mengendalikan RBU-1000 yang jaraknya lebih pendek). Peluncur ini menembakkan bom dalam RGB-60 tanpa pemandu. Roket biasanya ditembakkan dalam salvo 1, 2, 4, 8 atau 12 peluru. Proses pengisian ulang dilakukan secara otomatis, dengan setiap munisi dimasukkan ke peluncur oleh sistem pemuatan 60UP dari magazine penyimpanan di dek bawah. Kapasitas magazine penyimpanan tipikalnya mampu menyimpan 72 atau 96 amunisi per peluncur. Sistem senjata ini juga dapat digunakan untuk tugas pemboman pantai.

Peluncur roket RBU-6000. (Sumber: https://www.flickriver.com/)

Type 53 Torpedo

Dari berbagai sumber tidak pernah disebutkan secara pasti mengenai tipe torpedo yang dipasang pada kapal penjelajah Kelas Moskva, namun jika melihat tahun penggelarannya sekitar akhir 1960-an, kemungkinan torpedo yang digunakan adalah torpedo tipe 53. Torpedo tipe 53 digunakan pada hampir semua kapal selam Soviet dan banyak kapal perang permukaannya. Kapal permukaan menggunakan varian anti-kapal selam, kecuali untuk kapal torpedo di awal Perang Dingin yang juga menggunakan varian anti-kapal. Kebanyakan Tipe 53 yang digunakan dalam peran anti-kapal permukaan menggunakan hulu ledak berbobot 200 hingga 300 kg. Varian anti-kapal selam memiliki ukuran hulu ledak lebih kecil antara 100 hingga 200 kg. Sistem peledakannya berdasarkan deteksi akustik, kontak atau peledakan berdasar waktu tertentu, atau kombinasi keduanya. Tipe 53 juga ada yang memiliki hulu ledak nuklir berkekuatan 20 kT yang akan meledak di lokasi yang telah ditentukan. Versi terakhir di kelas ini adalah torpedo laut berat UGST (Fizik-1) memiliki jangkauan hingga 60 km (versi ekspor dibatasi hingga 40 km).

Torpedo tipe 53 standar AL Soviet. (Sumber: https://navalpost.com/)

AK-725

Tipe senjata meriam ganda kaliber 57 mm pada kelas Moskva tidak terinformasi dengan jelas, namun jika dilihat dari masa pengoperasiannya, meriam yang digunakan adalah AK-725. AK-725 sendiri adalah senjata artileri angkatan laut berlaras ganda kaliber 57 mm yang umum digunakan oleh Soviet. Sistem artileri otomatis ini adalah sistem senjata generasi kedua di kelasnya pasca perang dunia II. Didesain oleh desainer A. I. Arefiev dan P. A. Tyurin, sistem senjata ini diperkenalkan ke dinas operasional pada tahun 1964. Pada 1960-an – 1970-an, sistem ini banyak digunakan pada berbagai jenis kapal perang Soviet, dan secara aktif diekspor ke luar negeri. Kelemahan yang signifikan dari sistem senjata ini adalah efektivitasnya yang tidak memadai untuk melindungi kapal dari ancaman rudal anti-kapal. Bobot amunisi yang terdiri satu kesatuan dengan peluru pelacak fragmentasi dengan sistem peledakan berdasar kontak adalah seberat 0,36 kg (berat total pelurunya sendiri adalah 2,8 kg) dengan sekitar 1000 peluru per sistem senjata. Jarak tembak dari kanon ini adalah hingga 13 kilometer (jarak tembak standarnya adalah 8,42 km), dengan kecepatan peluru sekitar 1020 m/s. Kecepatan tembak per laras meriam adalah 100 peluru/menit yang bisa ditembakkan dengan rentetan panjang per 100 peluru. Laras kanon punya sudut elevasi antara +85 °/−12 °. Laras senjata didinginkan oleh air laut. Berat total dari sistem senjata ini adalah 17,3 ton. 

Kanon kembar kaliber 57 mm AK-725. (Sumber: https://daydaynews.cc/)

DINAS OPERASIONAL 

Komandan pertama kapal penjelajah Moskva adalah Captain 2nd rank Kopylov Gennady Pavlovich, sementara wakil komandan untuk urusan politik adalah Captain 3rd rank Nikolai Nikolayevich Polyakov. Sebagai komandan skuadron helikopter adalah Captain Vladimir Bogdanov dan Captain 2nd rank Romanov Boris Sergeevich. Yang terakhir sebagai komandan unit tempur udara ke-6 (BC-6) adalah Mayor Tuly Pavel Mikhailovich. Pada tanggal 16 April 1967 diatas kapal dikibarkan bendera Angkatan Laut Soviet. Proses uji coba pelayaran kapal ini dilakukan dari tanggal 21 April hingga 3 November. Pada tanggal 10 Januari 1968, kapal ini tergabung dalam Unit Brigade Kapal Anti Kapal Selam ke-21 dari Armada Laut Hitam. Nama “Moskva” di lambung kapal baru tertulis di tahun 1968. Sebelumnya, dengan alasan kerahasiaan, kapal ini mendapat beberapa penomoran, yang sering diganti, utamanya sebelum menjalani misi militer. Kehadiran Moskva kemudian diikuti oleh kapal induk sekelas, yakni Leningrad, yang ditugaskan pada akhir tahun 1968. Kapal penjelajah kelas Moskva berlayar ke Laut Mediterania sebelas kali selama dinas militernya, dan dua kali pergi ke kawasan Samudra Atlantik. Kapal-kapal ini berpartisipasi dalam latihan besar “Spring” (1969), “Armor” (1969), “Ocean” (1970). Dalam latihan “Ocean” ini Soviet mengirimkan lebih dari 200 kapal perang dari berbagai jenis untuk memamerkan “otot” dari Angkatan Laut Soviet. Kapal induk “Moskva” yang baru ditugaskan, sebagai salah satu dari sedikit kapal jenis ini di dunia pada waktu itu, mengambil bagian dalam latihan ini sebagaimana mestinya. Dalam latihan ini, itu sepenuhnya diverifikasi keandalan misi anti-kapal selam dari kapal pengangkut helikopter dan kinerja superior dari kapal induk “Moskva” itu sendiri.

Kapal penjelajah Soviet Moskva di lepas pantai Maroko pada bulan Januari 1970. (Sumber: https://commons.wikimedia.org/)
Kapal penjelajah kelas Moskva berkunjung ke Aljazair tahun 1978. (Sumber: https://daydaynews.cc/)

Dari tanggal 8 hingga 13 April 1970 dan pada tanggal 26 hingga 29 April 1973, kapal penjelajah tersebut melakukan kunjungan ke Alexandria (Mesir), kemudian dari tanggal 5 hingga 10 Juni 1974 dan dari 12 hingga 19 April 1982 ke Rijeka (Yugoslavia), dari tanggal 8 hingga 13 April 1978, ke Aljazair. Kemudian dari tanggal 27 September hingga 5 Oktober 1979, ke Dubrovnik (Yugoslavia), 12 hingga 18 Juni 1982, ke Luanda (Angola), 25 Juni hingga 2 Juli 1982, ke Lagos (Nigeria), dari 10 hingga 11 Agustus 1991 , Ke Varna (Bulgaria), dan dari tanggal 20 hingga 25 November 1991 ke pangkalan Angkatan Laut Tartous di Suriah. Pada tahun 1973, kapal penjelajah “Moskva” mengambil bagian dalam pembuatan film “Ocean.” Sementara itu pada bulan Maret 1974, “Moskva”, saat berada di zona operasi militer, melakukan misi tempur untuk membantu angkatan bersenjata Mesir. Pada tahun 1974 atas permintaan pemerintah Mesir, Moskva bersama dengan kapal-kapal pukat armada Samudra Pasifik berpartisipasi dalam misi pembersihan ranjau di perairan Terusan Suez. Untuk ini menyelesaikan misi ini, armada ini dilengkapi dengan delapan vertolet – kapal pukat, yang biasa menjinakkan ranjau darat dan ranjau air di tempat-tempat di mana kapal biasa tidak dapat melakukannya.

Kapal penjelajah Soviet Leningrad, 1 April 1990. (Sumber: https://daydaynews.cc/)
Pemandangan tampak samping dari kapal penjelajah helikopter kelas Moskva, Leningrad saat sedang berlayar. (Sumber: https://commons.wikimedia.org/)

Keadaan darurat yang paling serius yang pernah dialami dalam sejarah pengoperasian penjelajah Moskva adalah saat terjadi peristiwa kebakaran yang berkobar pada tanggal 2 Februari 1975. Pada pukul 12.15, ketika sebagian besar kru sedang makan malam, terjadi korsleting di switchboard ruang akomodasi generator diesel di bagian haluan. Karena tidak ada personel yang bertugas di bagian itu, maka api dengan cepat meluas ke ruang kru nomor 3 yang berdekatan. Karena partisi pada kapal penjelajah itu, kecuali yang kedap air, dibuat dari bahan aluminium-magnesium alloy, partisi tersebut langsung terbakar, dan api menutupi semua ruang akomodasi lainnya. Karena fitur desain (sekat terbuat dari bahan alloy AMG), api mulai menyebar dengan cepat ke seluruh palka. Nyala api yang sangat cepat mencapai bagian ruang mesin nomor 1, yang ditempati perangkat boiler tambahan dan turbogenerator – menyebabkan kapal tidak memiliki tenaga listrik. Situasi diperparah oleh fakta bahwa sistem pemadam kebakaran otonom di bagian yang terbakar rusak, sistem pemadaman api utama tanpa mendapat energi listrik menjadi tidak berfungsi, dan generator diesel di bagian buritan tidak dapat diaktifkan karena kerusakan pada sistem oli-nya. Komandan kapal kemudian meminta bantuan kepada perwira operasi di pangkalan. Kira-kira satu jam setelah kebakaran pertama kali terjadi, di samping kapal penjelajah itu mulai mendekat kapal pemadam api, kapal tunda, kapal penyelamat “Kazbek”, “Beshtau”, PS-21, dan lain-lain. Di atas Moskva, total ada 16 kelompok penyelamat darurat yang datang membantu. Sehubungan dengan tidak adanya sumber tenaga diatas kapal (generator diesel di buritan tidak bisa bekerja), sistem pemadam kebakaran tidak berfungsi, kru terpaksa menggunakan bantuan dari kapal penyelamat yang mendekat, Beshtau, Kazbek, dan PS-21. Karena semua api semakin membesar, untuk menghindari ledakan amunisi, pertama-tama adalah perlu untuk membanjiri ruang bawah penyimpanan proyektil kaliber 57-mm, dan kemudian ruang penyimpanan rudal Sthorm. Api kemudian mengalir melalui  lubang saluran udara ke dek atas; oleh karena itu ancaman baru segera muncul: di geladak yang lebih tinggi dari garis air mulai dibanjiri dengan banyak air, yang menyebabkan kapal miring. Atas perintah Vice Admiral V.A.Samoylov pemadaman api dengan menggunakan air dihentikan, dan pemadaman api kini hanya dilakukan dengan menggunakan busa. Upaya melokalisir kobaran api baru dimungkinkan pada pukul 17.10, dan api benar-benar padam pada 19.15, sekitar 7 jam setelah kebakaran terjadi. Tiga awak Moskva – Warrant Officer D.N.Tkach, pelaut Lukashev dan Titov – tewas karena keracunan karbon monoksida. Sebanyak 26 orang lainnya juga keracunan (termasuk 11 yang kondisinya berat), tetapi mereka selamat. 

Pemandangan haluan kapal induk Kelas Kiev Soviet, Baku (CVHG-103) yang sedang berlayar di lepas pantai Italia selatan. Kelas KIev hadir untuk memperbaiki kelemahan dan keterbatasan dari kelas Moskva. (Sumber: https://commons.wikimedia.org/)
Pada pertengahan tahun 1990an, kapal penjelajah pengangkut helikopter kelas Moskva telah dipensiunkan setelah menjalani masa tugas 20-30 tahun. (Sumber: https://daydaynews.cc/)

Sejak tahun 1976, kapal penjelajah itu adalah bagian dari brigade ke-11/Divisi ke-30 Armada Laut Hitam. Antara tahun 1982-1989, kapal ini diperbaiki di Sevmorzavod. Pada tahun 1991, Leningrad ditarik dari dinas operasional dan dihapus dari daftar kapal perang AL Soviet, sedang Moskva secara administratif tetap aktif hingga tahun 1995. Pelayaran terakhir dari kapal penjelajah “Moskva” di lautan terjadi pada tanggal 26 Mei 1993. Pada tanggal 27 April 1994, kapal penjelajah ini kemudian ditempatkan di unit cadangan Angkatan Laut kategori ke-2. Dan pada tanggal 22 Juni 1995, itu direklasifikasi dan diganti namanya menjadi PKZ-108, yang siap untuk dibesituakan. Kapal induk-helikopter-anti-kapal selam proyek 1123 “Moskva” lalu mewariskan nama lamanya kepada salah satu kapal penjelajah rudal dari proyek 1164 (“Slava Class”). Pada tanggal 7 November 1996, Bendera Angkatan Laut Russia diturunkan di atas kapal (PKZ-108) dan kemudian dijual dan dibesituakan di India. Dan pada tanggal 27 Mei 1997 kapal ini ditarik dari Sevastopol menuju ke India untuk dibesituakan.

SPESIFIKASI MOSKVA CLASS

Type : Penjelajah Pengangkut Helikopter

Bobot : 

  • 11,920 tons (standar)
  • 15,280 tons (Bobot penuh)

Panjang : 189 m (620 ft)

Lebar : 34 m (112 ft)

Draught : 7.7 m (25 ft)

Mesin :

2 Mesin Turbin Uap × 45000 hp TV-12, 2 × fixed pitch propellers, 2 Turbin Generator × 1500 kW TD-1500, 2 Generator Diesel × 1500 kW

Kecepatan : 28.5 knots (53 km/h)

Jangkauan : 9,000 nautical miles (16,668 km) pada kecepatan 15 knots (28 km/h)

Daya tahan : 15 hari

Jumlah Awak : 850

Sistem Sensors dan Prosesing 

  • MR-600 ‘Voskhod’/MR-310 ‘Angara-A’ air/surface radar
  • ‘Don’ navigation radar
  • ‘Gurzuf’/’Gurzuf-1’ ESM radar system
  • MRP-11-16 ‘Zaliv’ ESM radar system
  • ‘Kremniy-2M’ IFF
  • ARP-50 radio direction finder
  • MG-342 ‘Orion’ or MG-325 ‘Vega’ sonar
  • MG-26 ‘Khosta’ underwater communication system
  • MVU-201 ‘Koren-1123’ combat information control system

Persenjataan

  • 2 × twin SA-N-3 ‘Goblet’ surface-to-air missile launchers
  • 2 × Meriam kaliber 57 mm (2.2 in)/80 guns
  • 1 × Peluncur SUW-N-1 untuk rudal anti kapal selam FRAS-1
  • 2 × peluncur roket anti kapal selam RBU-6000 ASW
  • 10 × tabung torpedo kaliber 553 mm (22 in) dalam format (2 × 5)
  • 2 × peluncur roket ZIF-121 (PK-2 decoy)

Jumlah Helikopter yang bisa diangkut:

18× helikopter Kamov Ka-25 ‘Hormone’ atau helikopter Mi-8

Fasilitas Penerbangan: Dek Hangar

 

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Project 1123 Kondor / Moskva class

https://www.globalsecurity.org/military/world/russia/1123.htm

Project 1123 Kondor / Moskva – Design

https://www.globalsecurity.org/military/world/russia/1123-design.htm

Project 1123 Kondor / Moskva – Program

https://www.globalsecurity.org/military/world/russia/1123-program.htm

Project 1123 Kondor / Moskva – In Service

https://www.globalsecurity.org/military/world/russia/1123-service.htm

IS THE MOSKVA-CLASS HELICOPTER CRUISER THE BEST NAVAL DESIGN FOR THE DRONE ERA? By Przemysław Ziemacki, July 9, 2021

Moskva (Project 1123 Kondor) Helicopter Cruiser Warship (1967)

https://www.militaryfactory.com/ships/detail.php?ship_id=Moskva-Project-1123-Kondor

The Soviet Union is long gone, but its aircraft carriers live on by Benjamin Brimelow; Dec 21, 2020, 5:58 PM

https://www.businessinsider.in/international/news/the-soviet-union-is-long-gone-but-its-aircraft-carriers-live-on/articleshow/79848463.cms

Moskva class Cruisers

https://naval-encyclopedia.com/cold-war/ussr/moskva-class-helicopter-cruisers.php

MOSKVA (1965)

https://sakhalianet.x10.mx/shippictures/ig_moskva.htm

Project 1123 Condor

https://thekristoffersuniverseinwar.fandom.com/wiki/Project_1123_Condor

MR-310 “Angara-A”

https://www.radartutorial.eu/19.kartei/11.ancient3/karte090.en.html

Smarter (and Simpler) Radar in Harpoon by Larry Bond

http://www.admiraltytrilogy.com/cic/Harpoon/Smarter_Radars_for_Hpn.pdf

Don Kay [Volga]

http://cmano-db.com/pdf/sensor/945/

Soviet IFF system Kremniy-2

https://www.mil-airfields.de/equipment/soviet-iff-kremniy.htm

Horse Jaw [MG-342 Orion] (Moskva, Kiev, Assoc w Mare Tail (Vega))

http://cmano-db.com/pdf/sensor/1287/

Korvet Kelas Parchim Bekas Jerman Timur Milik TNI AL, Kapal Perang Dengan Banyak Cerita

https://en.m.wikipedia.org/wiki/M-11_Shtorm

https://en.m.wikipedia.org/wiki/RPK-1_Vikhr

Mengenal kelas Krivak, kapal frigate anti kapal selam standar AL Soviet

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Moskva-class_helicopter_carrier

The Soviet helicopter carrier is a weird but powerful, the birthplace of carrier aviation

https://daydaynews.cc/en/military/353904.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *