Operasi Starlite 18-21 Agustus 1965: Pertempuran darat terbesar pertama Amerika di Vietnam

Operasi ini merupakan pertempuran besar pertama yang dilakukan oleh unit militer resmi Amerika melawan kekuatan VietCong, sekitar 3 bulan sebelum Pertempuran Ia Drang (pertempuran yang paling familiar buat masyarakat kita lewat film “We Were Soldier”) pecah antara kavaleri udara Amerika melawan unit NVA-VC. Ketika akhirnya marinir meluncurkan Operasi Starlite, mereka memperoleh kemenangan dini, akan tetapi nampaknya justru VietCong yang memperoleh pelajaran paling berharga?

Aerial view of the U.S. Marine Corps Short Airfield for Tactical Support (SATS) Chu Lai, South Vietnam. Several Douglas A-4 Skyhawk aircraft from Marine Air Group 12 are visible in the foreground.

Waktu berlalu dengan sangat lambat bagi para marinir yang berpangkalan di Da Nang (mengenai pendaratan marinir di Danang 5 bulan sebelumnya bisa dibaca di postingan grup ini sebelumnya). Mereka melakukan pekerjaan rutin yang membosankan seperti mengisi kantung-kantung pasir untuk membuat bunker dan berpatroli di sekitar pangkalan. Panas di Vietnam amat menyengat bagi mereka yang kebagian tugas jaga, belum lagi serangan nyamuk-nyamuk tropis, akan tetapi yang terburuk adalah tidak ada sesuatupun yang terjadi disana. Di saat-saat itu seekor monyet dapat dengan tidak sengaja menginjak flare, atau ular menggoyang kaleng-kaleng bir yang digantung di perimeter, sebagai “alarm” jika ada VietCong berupaya menyusup masuk, memberi peringatan palsu. Ini semua amat membosankan dan membuat frustasi. Mereka membayangkan reputasi legendaris kesatuan mereka 20 tahun lalu, dimana pendahulu mereka menyerbu pantai-pantai di Tarawa, Pelelieu, dan Iwo Jima. “Leatherneck”, julukan lain mereka, adalah petarung bukan “babysitter”. Mereka dikirim ke NAM untuk berperang, akan tetapi tipe perang apa ini, jika tidak ada pertempuran sama sekali? Begitulah gerutu para marinir di Da Nang.

Marinir berpatroli dengan M-14 ditangan.

Melakukan patroli di perbukitan sebelah barat pangkalan, mencari gerilya VietCong juga merupakan pekerjaan berat dan membosankan. Membawa beban berat senjata perlengkapan, para prajurit bertumbangan seperti lalat karena lelah kepanasan. Terkadang kontak senjata kecil terjadi melawan VietCong, yang tidak lebih dari saling melepaskan tembakan, sebelum sosok-sosok berpakaian hitam itu menghilang masuk ke dalam pepohonan, dan kemudian suasana kembali sunyi lagi, VietCong adalah ahlinya menghilang setelah terlibat kontak senjata. Seperti pada tanggal 22 April 1965, patroli dari batalion pengintai 3rd Marine bertemu muka dengan sekitar 105 VC dekat Binh Thai, sekitar 9 mil barat daya Da Nang, hanya satu gerilya yang terbunuh. Seperti pendapat semua orang, Komandan Marinir, Jenderal Wallace M Greene juga menilai bahwa tugas marinir untuk hanya menjaga pangkalan terbukti buruk, kalau tidak mau dibilang tidak berguna. “You don’t defend a place by sitting on your ditty box, the Marine mission is to kill VietCong”, kata Jenderal Greene.

TOP: As contact is made with the Viet Cong and those entrenched in better-prepared positions elect to hold, a 105mm gun of the 3rd Marines pours in fire support at a rate of three rounds per minute.

ABOVE: A Marine drags a dead Viet Cong past a woman and her child during a village sweep near Chu Lai in 1965.

Dua hari sebelum kontak senjata di Binh Thai, sebuah konferensi tingkat tinggi di Honolulu merekomendasikan pertambahan perkuatan marinir dan dalam kesempatan ini Jenderal Westmoreland, komandan seluruh prajurit Amerika di Vietnam, memunculkan konsep operasinya. Meskipun tugas dasar mengamankan dan berpatroli tetap dilakukan, sekarang marinir dapat menjalankan misi untuk menghancurkan daerah yang dicurigai menjadi tempat konsentrasi musuh. Hal ini amat berlainan dengan ucapan kapten Lee Peterson dari kompi C, batalion 1/3rd marine pada tanggal 7 Maret 1965, sehari sebelum marinir pertama menginjakkan kaki ke Da nang sebulan berselang, “kita tidak akan pergi untuk berperang, akan tetapi membebaskan ARVN untuk berperang (sembari tentara Amerika mengambil tugas “pengamanan”), ini adalah perang mereka”. Perang terbukti bereskalasi dengan amat cepat.

A Marine from 1st Pit., Co. M, 3rd Battalion, 4th Marines, gets a helping hand out of the stream during a sweep-and-clear mission in the Hue-Phu Bai district along the Nong River on July 27, 1965.

Pergantian peran ini semakin dijustifikasi di bulan Juni, dimana serangan-serangan komunis ditujukan pada unit-unit ARVN yang memiliki semangat tempur rendah. Kekalahan demi kekalahan dialami oleh ARVN, kekalahan mereka amat besar hingga mencapai satu batalion (sekitar 400-an prajurit) per minggunya. Pada masa ini sepertinya kehancuran Vietnam Selatan tinggal menunggu waktunya. Presiden Johnson merasa bahwa ia tidak memiliki pilihan lain kecuali mengirimkan tambahan pasukan Amerika. Selama 5 bulan setelah marinir mendarat di Da Nang, Vietcong dengan sangat berhati-hati menghindarkan diri dari berkonfrontasi secara besar-besaran dengan musuh baru mereka itu. Mereka memperhatikan buildup kekuatan marinir yang membuat pangkalan-pangkalan dan landasan udara di Chu Lai dan Phu Bai. Namun pada pagi buta tanggal 1 Juli 1965, mereka memutuskan untuk “sedikit membangunkan” para marinir. Bersamaan waktunya dengan kekuatan tambahan pasukan marinir Amerika yang mendarat di Qui Nhon.

1965 Press Photo F102 Delta Dagger Jet Interceptor, Viet Cong Attack, Da Nang

Sekitar pulul 01.30, marinir yang bertugas jaga mendengar bunyi yang misterius di pagar kawat perimeter pangkalan Da Nang. Seorang prajurit melemparkan granat iluminasi pada jurusan suara tersebut berasal yang segera menerangi separuh pangkalan tersebut. Bersamaan dengan itu, tembakan mortir VC menyapu sepanjang landasan, sementara tim sapper mereka menyerbu masuk melalui lubang yang meraka buat di pagar kawar berduri yang melindungi pangkalan tersebut dan melemparkan peledak ke arah pesawat-pesawat yang diparkir. Secepat serangan secepat itu pula mereka mundur. Kerusakan yang ditimbulkan tidak sebegitu parah dan hanya menyebabkan satu marinir tewas selama serangan, namun serangan itu sangat spektakuler dan mendapat perhatian luas di seluruh dunia. Kejadian ini semakin menebalkan keyakinan para marinir bahwa mereka harus memburu dan menghancurkan VC sebelum mereka mengulang serangan semacam itu lagi.

A Marine patrol moves up a local highway, passed by a civilian bus. In accordance with General Westmoreland’s “Letter of Instruction,” the Marines were initially restricted to defensive and reactive activities around Chu Lai and DaNang.

Mereka tidak menunggu waktu lama, setelah pada tanggal 26 Juni 1965 Westmoreland mendapat lampu hijau untuk menjalankan aksi ofensif, pasukan Amerika siap beraksi. Pada awal mei sebelumnya pasukan marinir bergerak ke arah barat laut menguasai kompleks perdesaan bernama Le My, seperti pola pasukan khusus mereka membersihkan desa dari infiltrator VC dan menawarkan bantuan sosial kepada penduduk desa. Langkah ini kemudian diikuti dengan operasi yang sukses di bulan juni pada wilayah sebelah utara sungai Cu De dimana penduduk desa lainnya “setuju” untuk meninggalkan rumahnya dan menerima perlindungan dari marinir di Le My. Akan tetapi upaya semacam ini membutuhkan waktu lama, yang dibutuhkan saat itu adalah upaya ekspansif marinir atas wilayah di sekeliling pangkalan marinir yang didominasi oleh pasukan komunis.

H-34 menjadi elemen utama transportasi udara USMC menuju medan tempur, sekali lagi mereka masih ada di belakang Angkatan darat dalam melengkapi armada udaranya dengan heli Bell UH-1 Huey yg lebih cepat dan gesit.

Pada tanggal 3 agustus, sebagai bagian dari operasi Blastout I, pasukan dari 9th marine mendekati desa Cam Ne dengan bergerak melewati sungai Cau Do menggunakan LVTP menuju Landing Zone, sekitar 1200 yard dari sasaran mereka. Dengan dihujani tembakan gencar, mereka bergerak dengan hati-hati menuju desa, hanya untuk menghadapi jebakan, tembakan sniper, dan warga yang tidak ramah. Dalam pemeriksaan mereka menemukan jaringan “lubang laba-laba” dan terowongan. Ditengah perlawanan VC, beberapa marinir (dibawah perintah) mulai membakar gubuk-gubuk rumah warga sebagai upaya untuk menghancurkan persembunyian dan suplai VC, sebelum mereka dipaksa mundur. Saat itu ada beberapa crew TV disana, akibatnya pada tanggal 5 Agustus, pemirsa di seluruh dunia disuguhi tontonan prajurit Amerika membakari rumah warga sipil dengan “alasan yang tidak jelas”. Komentar pada tayangan tersebut menyatakan adanya perlawanan dari VC, menimbulkan image bahwa kondisi di Vietnam sudah genting. Ini adalah propaganda yang bagus buat VietCong.

Peta rencana serangan marinir atas resimen 1 VietCong pada Operasi Starlite 18-21 Agustus 1965.

Sementara itu sepanjang juli dan awal agustus tidak terhitung banyaknya laporan intelijen yang mengalir ke kantor Jenderal Westmoreland, yang menyatakan adanya buildup kekuatan VC di sekitar pangkalan Marinir. Berdasarkan intel lokal diketahui bahwa VC membangun kekuatan di Chu Lai, sekitar 60 mil sebelah selatan dari Da Nang. Hal ini semakin dikuatkan dari informasi yang diperoleh dari desertir VietCong pada tanggal 15 Agustus. Selama interogasi, defektor VC ini mengungkapkan bahwa Resimen ke-1 VietCong -sebuah kekuatan yang berkisar 1.500 personel – telah membangun kekuatan di desa Ap Van Thuong, hanya 12 mil dari pangkalan marinir di Chu Lai. Dan mereka sudah mempersiapkan serangan skala penuh ke markas marinir di Chu Lai. Bagi para marinir yang saat itu secara umum belum bertempur, ini adalah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan.

Pada saat operasi Starlite dilaksanakan tahun 1965, USMC masih menggunakan Battle Rifle M-14 sebagai senapan standarnya. Di tangan marinir Senapan klasik yg didominasi layout kayu ini baru digantikan oleh senapan serbu M-16 beberapa tahun kemudian saat Angkatan Darat Amerika di Vietnam telah menggunakan senapan karya Eugene Stoner beberapa tahun dimuka.

Hingga saat itu, marinir belum dapat menggunakan segenap potensi dan perlengkapan mereka ke dalam pertempuran-pertempuran “kecil” yang selama ini mereka alami. Sebuah batalion marinir normalnya merupakan unit yang dapat mencukupi kebutuhannya sendiri – mereka dapat dipindahkan dengan kecepatan tinggi, dengan menggunakan helikopter H-34 “Choctaw”, kemudian dapat memanggil artileri berat dan dan dukungan kekuatan udara jarak dekat jika mereka menghadapi kekuatan besar dan mendapati mereka ditekan oleh musuh. Dengan taktik semacam itulah mereka dilatih, dan dengan cara itulah mereka berencana untuk menghadapi VC di Van Tuong Peninsula.

They walk into the wall of fire.

Untuk kesuksesan operasi mereka harus bergerak dengan cepat. Para perwira marinir berencana mengepung resimen VC sebelum mereka sempat melakukan gerak mundur menghindari serangan marinir. Marinir merancang serangan dari 3 arah yang berbeda. Satu kompi marinir akan bergerak masuk daratan kemudian menggali pertahanan di sepanjang tepi sungai Tra Bong untuk memblok setiap VietCong yang mencoba mundur ke utara, sementara sebuah batalion akan mendarat dari laut di sebelah selatan semenanjung di An Cuong. Jurusan terakhir serangan akan dilakukan oleh pasukan yang diangkut dengan helikopter untuk didaratkan di sisi barat. Dengan sisi lautan dibelakang mereka VC diharapkan akan terjebak. Serangan itu diberi kode sebagai Operasi Starlite akan dimulai pada hari H, 18 Agustus 1965.

LVTP-5 yg berbobot hampir 40 ton menjadi moda transportasi utama marinir dalam menyerbu pantai Ap Van Tuong dalam operasi Starlite Agustus 1965.

Pada pagi hari tanggal 18 Agustus, Amtrac raksasa berbobot 40 ton mendaratkan Batalion ke-3. Para marinir bergerak kearah daratan dan merangkak menuju pasir lembut di tepi An Cuong. Setelah membuat pijakan mereka segera menuju gubuk-gubuk yang ada di desa terdekat. Tiba-tiba di tengah pergerakannya, pasukan marinir menjumpai tirai tembakan gencar dari senapan-senapan mesin dan mortir VietCong, pergerakan mereka langsung terhenti. Dari lautan lepas penjelajah ringan USS Galveston beraksi. Meriam 6 inchinya menghajar lerang perbukitan dan posisi VietCong tanpa ampun. Dari balik asap dan pepohonan yang hancur datanglah para marinir bergerak maju untuk kemudian menjumpai salvo tembakan VC. Pertempuran berat jarak dekat segera pecah dimana marinir bergerak maju merebut parit-parit pertahanan dan bunker VC dalam pertempuran hand-to-hand. Setelah beberapa jam pertarungan yang keras, sisi bukit berhasil diamankan.

A Marine Ontos patrols a beach area during Operation STARLITE. The South Vietnamese fishermen go about their business despite the war. (USMC Photo A185826)

Dari sisi barat dimana para marinir mendarat dari helikopter, pertempuran yang tidak kalah keras terjadi. Di LZ Blue kompi H dari batalion ke-4 marinir mendarat nyaris tepat diatas batalion ke-60 VC, yang menggali pertahanan di bukit kecil!!! VC mengerahkan tembakan gencar dari semua senjata yang mereka miliki saat helikopter pertama mulai mendarat. RPG dan senapan mesin menghujani marinir yang bertempur habis-habisan untuk mengamankan area tersebut. Helikopter-helikopter gunship UH-1B melakukan tugas mereka untuk menekan tembakan VC sementara sebuah pleton dikirimkan untuk menyapu musuh yang tersisa. Serangan pertama marinir dipukul mundur, kemudian dengan bala bantuan dan serangan masif dari udara beserta tank, infanteri marinir sukses mengambil alih bukit tersebut.

A Marine helicopter from HMM-361 brings ammunition to a howtar position during Operation STARLITE. The howtar is a 107mm mortar tube mounted on a pack howitzer chassis, hence the name howtar.
The U.S. Navy guided missile cruiser USS Galveston (CLG-3) underway in the Mediterranean Sea, 10 May 1967. Kapal penjelajah ini turut berperan penting memberi bantuan tembakan dari laut bagi marinir dalam Operasi Starlite.
A MAG-16 helicopter evacuates STARLITE casualties, while a Marine M-48 tank stands guard. The Marine on the left carries a M-79 grenade launcher.

Sedikit di utara di LZ White, kompi E menghadapi masalah yang sama. LZ White panjang dan datar menghadapi bukit yang mengawasi mereka di sebelah timur dimana VC telah menempatkan beberapa posisi tembak yanj ideal. Saat H-34 mendekat, helikopter tersebut segera ditembaki oleh tembakan gencar senapan dan senapan mesin. Marinir segera mendaki lereng dimana posisi VC bertahan yang segera mendapati perlawanan yang intens. Sekali lagi tembakan dari kekuatan laut mampu menundukkan VC, akan tetapi hal itu terjadi setelah VC berhasil menimbulkan korban yang cukup signifikan di pihak marinir yang berusaha keras mendaki lereng bukit. Medan tempur dipenuhi oleh mereka yang gugur dan terluka saat marinir akhirnya mengamankan wilayah tersebut.

Marines from Company E, 2d Battalion, 4th Marines move out from LZ WHITE during Operation STARLITE. Shortly after this picture was taken, the company met stiff resistance from Viet Cong entrenched to the right of the photograph. (USMC Photo A 184946)
Tank M-48 membuka jalan bagi pergerakan marinir dalam Operasi Starlite.
A six-man heli-team, including mortar and radioman, double-times it to the chopper.
The Sikorsky UH-34D helicopter was a Marine mainstay during Operation STARLITE,
but the Marines soon learned how hot the Viet Cong could make things.
Marines from the 2d Battalion, 4th Marines assemble near a small hamlet during Operation STARLITE, The unit pictured is a command group; note the number of radio antennas.
TOP: By 1965, the Viet Cong were equipped with such potent weaponry as American-built 75mm recoilless rifles. In 1963 and 1964, some 22,000 American-made weapons had been captured or otherwise found their way into Communist hands.

MIDDLE: Troops of H Co., 2nd Battalion, 3rd Marines, leave an LVT after crossing the Da De River, to conduct a sweep-and-clear operation in Pho Nam Thuong, 15 miles northwest of DaNang, on Aug. 13, 1965.

ABOVE: As Operation STARLITE gets under way, a Marine wades into it-and the river-above the waist.

Di sisa hari tersebut dimana panas sangat menyengat, kompi-kompi marinir bergerak dengan pasti, mendekati sisa dari resimen VC. Pertempuran amat sengi terutama di pedesaan Nam Yen dan An Cuong. 3 Amtrac yang bertujuan untuk mengirimkan logistik untuk kompi I, Batalion ke-3, 3rd marine, tersesat di tengah jalan dan terjebak dalam “ambush” VC. Sebuah pasukan dari kompi I yang dikirimkan untuk menyelamatkan mereka juga terjebak dalam ambush, pertempuran sengit segera terjadi. Dalam pertarungan hidup mati ini para marinir sedapat mungkin berada dekat amtrac yang terjebak, mereka bertarung dalam pertarungan brutal yang menggunakan “kuku dan gigi” dalam mencegah mereka disapu oleh VC yang datang dari arah pepohonan daqn posisi-posisi tersembunyi. Kedua pihak menderita banyak korban, akan tetapi para marinir mampu bertahan.

Menyapu sisa musuh

Hari berikutnya, kantung perlawanan VC terakhir berhasil disapu bersih. Operasi pembersihan yang mengikuti umumnya amat tidak menyenangkan bagi para marinir. Setiap VC yang tidak berhasil meloloskan diri dari jeratan kepungan marinir, bersembunyi di banyak bunker-bungker tersembunyi, gua-gua dan terowongan-terowongan yang tersebar di sekitar area. Saat para marinir bergerak maju membersihkan wilayah tersebut, terkadang mereka tertembak oleh sniper dari belakang. Terkadang mereka benar-benar perlu “menggali” keluar musuh dari lubang-lubang mereka. Akan tetapi menjelang malam tanggal 19 VietCong benar-benar dikalahkan.

Atas: marinir dan tangkapan mereka

Bawah: peta satuan marinir yg terlibat dalam Operasi Starlite.

Operasi Starlite adalah pertempuran besar pertama dalam perang, merupakan sebuah kesuksesan besar. Operasi ini diklaim berhasil menewaskan 614 VC dengan korban 45 prajurit Amerika tewas. Kunci kemenangan marinir terletak pada firepower yang mampu mereka hadirkan – artileri, mortir, meriam kapal, dan pesawat penyerang darat – sebuah cara yang akan memenangkan Amerika dalam pertempuran-pertempuran besar dimasa mendatang. Sementara Amerika merayakan kemenangan pertama mereka, apakah yang menyebabkan VietCong dapat dikalahkan?

Prajurit marinir menarik mayat komandannya yang gugur dalam operasi Starlite.
Viet Cong prisoners wait in front of a U.S. Marine Corps Sikorsky UH-34D Seahorse helicopter of Marine medium transport squadron HMM-161, during “Operation Starlight” south of Chu Lai, South Vietnam, on August 1965.

Mereka dipojokkan, pada kesempatan ini, mereka dipaksa untuk bertahan dan bertempur berhadap-hadapan di medan tempur yang dipilih oleh musuhnya. Terjebak di semenanjung Van Tuong, keahlian mereka dalam bergerilya tidak dapat diharapkan untuk bisa mengimbangi kekuatan teknologi Amerika yang menghancurkan. Akan tetapi di pedesaan, persawahan, dan jauh didalam hutan di central Highland Vietnam – tempat-tempat dimana VC dapat bergerak tanpa terdeteksi dan dengan kemauan mereka, mereka dapat melakukan melakukan ambush, memasang jebakan-mampukah teknologi Amerika mencapai kesuksesan yang sama dalam tipe peperangan khusus semacam ini? Jawabannya akan nyata dalam pertempuran-pertempuran selanjutnya dalam perang ini.

Sumber:

Nam The Vietnam Experience (1965-75), Tim Page & John Pimlott, 1995

Vietnam The Decisive Battles, John Pimlott, 1997

6 thoughts on “Operasi Starlite 18-21 Agustus 1965: Pertempuran darat terbesar pertama Amerika di Vietnam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *