T-72 Asal Russia, Tank Terbaik Dalam Perang Iran-Irak (1980-1988)

Selama perang Iran-Irak yang berdarah dan berkepanjangan (berlangsung antara tahun 1980 s.d 1988), Tank T-72 dianggap sebagai tank tempur utama terbaik yang digunakan dalam Perang itu. Para tentara Angkatan Darat Iran menyebut T-72 sebagai trofi paling berharga yang mampu mereka rebut dari pasukan Saddam Hussein. Tank-tank yang direbut ini, kemudian segera dikirimkan kembali ke medan perang, untuk digunakan melawan pemilik sebelumnya. Sementara itu, konflik bersenjata Irak-Iran yang menjadi ujian serius bagi bangsa Irak dan Iran, ironisnya sangat bermanfaat bagi “mitra” timur dan barat mereka, saat dua kekuatan di kawasan Timur Tengah itu berusaha mengklaim kepemimpinan di kawasan itu dalam perang berdarah yang mengikat dan menguras semua sumber daya mereka. Kedua belah pihak, diketahui pada awal perang banyak menggunakan pasukan lapis baja. Pada periode ini Angkatan bersenjata Irak terutama menggunakan tank-tank, kendaraan tempur infanteri dan pengangkut personel lapis baja buatan Soviet, sedangkan tentara Iran memulai perang terutama dengan mesin-mesin perang buatan Barat, dengan menggunakan tank-tank M60, M47 dan M48 buatan Amerika, serta tank Chieftain dan Scorpion buatan Inggris. Dalam perang ini, baik negara-negara barat maupun Soviet memiliki kesempatan untuk menyaksikan dan menilai performa persenjataan buatan mereka yang digunakan oleh kedua belah pihak. Salah satu persenjataan yang menarik untuk diamati performanya, adalah Tank T-72 Soviet, yang pada masa itu belum banyak digunakan di medan perang yang nyata.

Tank T-72. Dalam Perang Iran-Irak (1980-1988), performa tank T-72 yang masih tergolong baru digunakan di Timur Tengah, telah menarik perhatian berbagai pengamat, baik dari Blok Barat maupun Blok Timur. (Sumber: https://imgur.com/)

KARIR TEMPUR T-72 DALAM PERANG IRAN-IRAK

Sebelum revolusi tahun 1979, Iran sempat menerima sekitar 1000 tank “Chieftain” dari seri Mk 3 dan Mk 5, yang telah dimodifikasi. Meriam kaliber 120 mm dari tank ini diatas kertas dijamin akan mampu menangani semua tank buatan Soviet yang digunakan oleh tentara Irak saat itu. Tetapi setelah dimulainya perang, meskipun Irak adalah pihak yang melakukan agresi, namun negara-negara Barat tetap memutuskan hubungan dengan Republik Islam Iran. Tanpa pergantian dan suku cadang baru, armada tank “Chieftain” Angkatan Darat Iran dengan cepat menyusut. Pada akhir perang, diperkirakan hanya sekitar 200-300 unit tank “Chieftain” yang masih tersisa di tangan tentara Iran. Memang benar, selain tank “Chieftain” masih ada banyak tank buatan Soviet dan buatan China yang digunakan oleh pasukan Iran, yang disuplai dari China, Korea Utara, Libya dan Suriah, namun tank-tank ini adalah versi desain tank-tank Soviet lama, utamanya tank seri T-54/55 yang kualitasnya dibawah tank Chieftain. Pada fase pertama perang, dari bulan September hingga Desember 1980, ketika tentara Irak melancarkan serangan luas di garis depan yang panjangnya sekitar 700 km, militer rezim Bagdad menyerang dengan mengerahkan empat divisi lapis baja. Pada saat yang sama, para jenderal Irak membuat kesalahan perhitungan yang serius, sehingga unit-unit lapis baja Irak segera terjebak dalam upaya mereka menguasai kota-kota Iran, yang pada akhirnya menyebabkan kerugian besar dalam hal tank dan waktu yang hilang. Sebaliknya, karena hal ini, Tentara Iran mampu memulihkan diri dari kemunduran awal, serta lalu mengatur perlawanan yang alot. Meski demikian pada fase awal perang, sebuah batalion tank Irak yang dilengkapi dengan tank T-72, dalam pertempuran di wilayah Kesre-Shirin, dikabarkan berhasil mengalahkan sebagian kekuatan darat Iran yang dipersenjatai dengan tank “Chieftain” buatan Inggris.

Tank Chieftain buatan Inggris yang menjadi andalan Angkatan Darat Iran saat perang melawan Irak pecah tahun 1980. (Sumber: https://mannaismayaadventure.com/)
Tank M60A1 buatan Amerika, juga menjadi andalan Iran selain tank Chieftain. Namun putusnya hubungan antara negara-negara barat dengan Iran, telah memukul kesiapan armada lapis baja AD Iran saat perang pecah. (Sumber: http://www.theworldwars.net/)

Dari akhir tahun 1980 hingga bulan September 1981, keseimbangan kekuatan antara Irak dan Iran relatif terbentuk di garis depan medan perang. Namun kemudian inisiatif strategis mulai beralih ke Republik Islam Iran, dimana pasukan Iran lalu melancarkan serangan balasan pada militer Irak. Iran pada gilirannya mampu mengembalikan hampir semua wilayah mereka yang sebelumnya hilang di masa-masa awal perang dan kemudian ganti memindahkan pertempuran masuk ke dalam wilayah Irak. Selama serangan Iran pada tahun 1981, beberapa pertempuran tank yang signifikan terjadi. Salah satu pertempuran ini terjadi di lembah Harha dekat kota Susangerd. Pada bulan Januari 1981, Divisi Lapis Baja ke-16 Iran yang diperkuat oleh sekitar 300 tank Chieftain dan Patton, dengan didukung oleh sebuah brigade pasukan payung, menyiapkan serangan di dekat wilayah Susengerd Iran dengan tugas untuk membebaskan jalan menuju ke Ahvaz dan menembus pengepungan Irak di kota Abadan. Saat itu komando pada pasukan Irak telah mampu memprediksi manuver yang dilakukan pihak musuh, dan mengirimkan sebuah divisi tank, yang dilengkapi dengan 300 tank tipe T-62 dari Divisi ke-6 dan 9, serta tank T-72 dari unit Brigade Lapis Baja Independen ke-10. Pada tanggal 5 Januari, pihak intelijen Irak berhasil menemukan barisan tank Iran. Pasukan Irak saat itu, terkonsentrasi di dekat desa Ahmet-Abad di Lembah Kharhi.

Reruntuhan Tank Chieftain Iran dalam pertempuran melawan satuan Brigade Lapis Baja Independen ke-10 Irak, yang dilengkapi dengan tank T-72. (Sumber: https://www.reddit.com/)

Pada tanggal 6 Januari, brigade terdepan Iran yang bergerak maju memasuki posisi pasukan Irak. Orang-orang Iran dengan cepat merasa bahwa mereka sedang menghadapi kekuatan kecil. Divisi Iran yang sedang bergerak, dengan tanpa didukung data-data intelijen, terus melanjutkan serangan itu. Pasukan Irak kemudian sengaja mundur, untuk memancing musuh masuk ke dalam zona tembak yang telah disiapkan sebelumnya, dan lalu pasukan Irak lainnya yang telah siap sedia di posisinya menyerang dari arah kiri-kanannya pasukan Iran yang bergerak maju. Brigade Iran itu kemudian berhasil dikalahkan, dengan kehilangan ratusan kendaraan. Sementara itu, pada tanggal 7-8 Januari, dua brigade Iran lainnya juga berhasil dikalahkan. Mereka dianggap telah membuat kesalahan fatal, dengan beraksi secara terpisah, tanpa dukungan dari pasukan infanteri. Di samping itu, unit-unit kekuatan udara juga tidak dapat memberikan dukungan memadai, karena pihak lawan memancing pertempuran dalam jarak dekat. Akibatnya, pasukan Iran ini dapat dikalahkan dan dipukul mundur. Pihak Irak kemudian mengatakan bahwa mereka berhasil menghancurkan dan merampas lebih dari 200 tank Iran (sedang pihak Iran sendiri mengaku “hanya” kehilangan 88 kendaraan). Irak dalam pertempuran itu mengaku kehilangan 45 tank T-62 milik mereka, sedang dari armada tank T-72-nya dikabarkan tidak menderita korban. Meski terdapat silang pendapat mengenai jumlah korban sebenarnya Dalam pertempuran itu, namun secara keseluruhan dapat dikatakan keunggulan ada di pihak Irak.

Minimnya publikasi, menyebabkan penampilan tank T-72 Irak selama perang melawan Iran kurang begitu disorot. Nampak pada gambar, foto samar-samar T-72 dalam perang melawan Iran. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Selama pertempuran itu, menunjukkan bahwa tank-tank buatan Soviet memiliki penampilan yang lebih baik dari tank-tank buatan negara Barat, khususnya atas tank “Chieftain” buatan Inggris dan tank-tank Patton asal Amerika. Sebuah proyektil penembus lapis baja dari meriam  kaliber 115 mm dari tank T-62 Irak dengan handal bisa menembus lapisan baja frontal tank “Chieftain” Inggris. Setelah pertempuran ini, pihak Iran kemudian menghindari pertempuran frontal dengan pasukan lapis baja Irak. Namun demikian, keunggulan sumber daya manusia tetap memungkinkan pasukan Iran untuk melanjutkan serangan pada posisi-posisi pasukan Irak. Kini pada fase ini, giliran Irak yang beralih ke posisi bertahan. Setelah jatuhnya kota Khorramshahr pada bulan Mei tahun 1982, komando pasukan Irak berhenti untuk menggunakan pasukan lapis baja sebagai titik utama serangan militer mereka. Tank-tank tersebut sekarang kebanyakan ditempatkan pada eselon kedua, di tempat-tempat perlindungan. Untuk melindungi posisi mereka, parit atau gundukan pasir sering dibangun di sekitarnya. Dalam serangan balik, unit lapis baja kerap hanya digunakan sebagai pilihan terakhir, jika unit musuh tidak memiliki senjata anti-tank yang berat. Pada tahun 1982, penggunaan aktif tank T-72 juga mulai dicatat secara signifikan. Selama pertempuran pada bulan Juli di dekat kota Basra, Brigade ke-10 Irak melancarkan serangan pada posisi sayap-sayap dari sebuah divisi Iran. Akibatnya, tentara Iran kehilangan lebih dari 200 kendaraan lapis baja. Sementara itu, pertempuran ini juga menandai untuk pertama kali berhasil dirampas tank T-72 Irak oleh pasukan Iran. Dalam pertempuran ini, dilaporkan tentara Irak kehilangan 12 tank tipe ini. 

Tank T-72 yang banyak melengkapi unit-unit elit Pasukan Pengawal Republik, memegang peran kunci dalam kesuksesan ofensif terakhir Irak pada tahun 1988. Tidak lama setelah ofensif, Iran dan Irak sepakat untuk mengadakan gencatan senjata yang secara efektif mengakhiri perang 8 tahun yang menguras tenaga. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Penggunaan besar-besaran terakhir pasukan lapis baja oleh militer Irak dalam perang kemudian terjadi pada tahun 1988, ketika Irak, setelah memobilisasi ekonomi secara maksimal, menyiapkan serangan balik besar-besaran. Dengan menggunakan komunikasi internal yang canggih, dan dilindungi oleh kekuatan udara, militer Baghdad pada tanggal 17 April menggelar sekitar 200 ribu tentaranya dalam serangan mereka atas posisi-posisi Iran. Pukulan utama serangan-serangan itu diujung-tombaki oleh satuan elit Pengawal Republik Irak, yang dipersenjatai dengan tank-tank T-72. Sementara Angkatan Udara Irak memberikan pukulan kuat ke posisi-posisi Iran, militer Irak juga menggunakan senjata kimia. Sebelum penyerangan, pasukan khusus Irak telah memutus jalur komunikasi antara posisi pertahanan pasukan Iran. Kemudian tank-tank Irak melancarkan serangan yang didukung oleh helikopter-helikopter tempur dan pasukan infanteri. Selain itu, pesawat dan helikopter milik Irak menyerang jalur komunikasi serta menghalangi upaya kekuatan cadangan Iran mendekat ke medan pertempuran. Akibatnya, tentara Irak bisa benar-benar membebaskan wilayahnya dan kembali menginvasi wilayah Iran. Perlu dicatat bahwa dalam fase akhir perang ini, tank T-72 telah menjadi semacam tank penentu kemenangan Irak. Tank-tank T-72M dan T-72M1, yang dioperasikan oleh Pengawal Republik Irak, digunakan dalam titik utama serangan di daerah semenanjung Al Faw, yang kemudian menjadi pertempuran yang menentukan dalam perang delapan tahun melawan Iran. Namun, waktu itu sumber daya mereka untuk melanjutkan peperangan yang telah berlarut-larut hingga 8 tahun, sudah tidak tersedia. Setelah melihat betapa sia-sianya mereka jika terus melanjutkan peperangan, kedua belah pihak lalu setuju untuk mengadakan gencatan senjata. Secara garis besar, perang 8 tahun itu adalah perang yang sia-sia, dengan perbatasan kedua negara nyaris tidak berubah dibandingkan pada saat perang dimulai.

PERBANDINGAN TANK T-72 IRAK VS TANK IRAN

Sementara itu, sensor yang diberlakukan oleh Soviet sebelum tahun 1985 tidak memberikan banyak informasi tentang penggunaan tank T-72 dalam perang Iran-Irak. Dalam laporan yang muncul dari medan perang, dilarang menyebutkan keberadaan tank ini di tengah-tengah tentara Irak. Baru kemudian setelah pembatasan sensor tersebut dicabut, tank-tank buatan Soviet ini mulai sering terlihat di pemberitaan. 100 tank T-72 pertama buatan Soviet, diketahui diperoleh oleh pihak Baghdad antara tahun 1979-1980. Yang dikirimkan ini adalah versi ekspor dari tank T-72 “Ural-1” yang dilengkapi dengan perangkat optical sight-rangefinder tipe TPD-2-49. Dari tank T-72 yang telah digunakan oleh tentara Soviet, versi ini berbeda terutama dalam hal desain perlindungan lapis baja turret bagian depan dan dalam sistem perlindungan nubika (Nuklir-Biologi-Kimia) serta amunisi yang digunakan. Pemerintah Soviet, yang awalnya kesal dengan invasi tentara Irak ke Iran, untuk sementara waktu lalu melarang pengiriman senjata ke Irak pada tahun 1980. Namun, Uni Soviet, bertentangan dengan kepercayaan populer, tidak mengontrol penuh kebijakan sekutu-sekutunya di negara-negara blok sosialis lainnya. Tidak ada pembatasan nyata, terutama jika sudah menyangkut bisnis yang menguntungkan seperti penjualan senjata. Pada awal tahun 1982, Polandia mengirimkan 250 tank tipe T-72М ke Irak. Pada tahun yang sama, Moskow kemudian memutuskan untuk mencabut embargo penjualan senjata ke Irak. Secara total, selama tahun-tahun masa perang Iran-Irak, Baghdad sempat menerima 1.100 tank T-72, sebagian besar produksi Polandia. Setelah perang, Baghdad meluncurkan versi berlisensi dari T-72М1 Polandia yang disebut sebagai “Singa Babilonia”. Namun, kabarnya mereka gagal memproduksi dalam jumlah banyak (pihak Russia mengabarkan cuma 100 unit yang sempat diproduksi, sedangkan dari pihak Polandia malah menyatakan tidak ada satupun yang berhasil dibuat), karena Irak tidak dapat memulai produksi laras tank berkualitas tinggi. 

Tank T-72M Irak dalam Perang Iran-Irak tahun 1980an. Diketahui, Irak banyak mendapat bantuan dalam membeli dan membuat tank T-72 secara mandiri dari Polandia. (Sumber: https://tanks-encyclopedia.com/)

Dari aspek spesifikasi, turret dari tank T-72 “Ural” Object 172M (produksi tahun 1973) yang asli dibuat dari lapisan baja HHS cor konvensional tanpa sisipan laminasi. Dipercaya bahwa ketebalan maksimumnya adalah sekitar 280 mm (11 in) dan pada bagian depan tank memiliki lapisan setebal 80 mm (3.1 in). Berdasarkan catatan, T-72M yang digunakan Irak identik dengan model dasar T-72 Ural dalam hal perlindungan, dengan tetap mempertahankan turret baja monolitik. Sedangkan T-72M1 yang dimodernisasi lebih mirip dengan T-72A dalam hal perlindungan. Versi ini menampilkan tambahan setebal 16 mm (0,63 in) dari baja applique yang memiliki tingkat kekerasan tinggi pada pelat glacis, yang menghasilkan peningkatan ketebalan sebesar 43 mm (1,7 in). Versi ini juga merupakan varian ekspor pertama dengan lapisan baja komposit di bagian turret, yang mengandung pelat-pelat keramik, yang kadang-kadang disebut “lapis baja sandbar”. Komposisi lapis baja pada turret, dasarnya identik dengan T-72 “Ural-1” sedangkan T-72A khusus Soviet memiliki sedikit peningkatan perlindungan di bagian turret. Tank T-72 dilengkapi dengan meriam utama tipe 2A46 125 mm (4,9 in), sebuah kaliber meriam yang secara signifikan lebih besar (20-mm lebih besar) daripada meriam standar kaliber 105 mm (4,1 in) yang umumnya ditemukan pada MBT Barat di masanya, dan masih sedikit lebih besar dari meriam kaliber 120 mm / L44 yang banyak ditemukan di MBT Barat saat ini. Seperti tipikal meriam tank Soviet lainnya, meriam ini mampu menembakkan peluru kendali anti-tank, serta amunisi meriam tank standar, termasuk amunisi HEAT dan APFSDS. T-72 Object 172M (1973) asli menggunakan model meriam 2A26M2 yang pertama kali dipasang pada tank T-64. Meriam ini mampu menembakkan peluru 3VBM-3 dengan sabot proyektil peluru baja 3BM-9 dan peluru 3VBM-6 dengan proyektil 3BM-12 Tungsten sabot APFSDS. Munisi ini memungkinkan untuk menembus baja RHA masing-masing setebal 245 mm (9,6 in) dan 280 mm (11 in) pada jarak 2000m dan sudut 0 derajat. Selain peluru APFSDS, T-72 Object 172M juga bisa menembakkan peluru 3VBK-7 yang menggunakan hulu ledak 3BK-12 HEAT dan peluru 3VBK-10 yang menggunakan hulu ledak 3BK-14 HEAT. Peluru HEAT memungkinkan penetrasi baja RHA masing-masing setebal 420 mm (17 in) dan 450 mm (18 in) pada sudut 0 derajat. Tank T-72 didukung dengan mesin V12 berkekuatan 780 hp (580 kW) yang memiliki power to weight ratio 18.8 hp/tonne (14 kW/tonne), serta bisa membawa tank melaju hingga kecepatan puncak 60 km/h (37 mph) di jalan raya dan memiliki jangkauan maksimum 460 km (290 mi) atau 700 km (430 mi) dengan bahan bakar cadangan.

Diagram lapisan armor pada T-72 “Ural”. (Sumber: https://thesovietarmourblog.blogspot.com/)
Meriam tipe 2A46 kaliber 125 mm (4,9 in) yang digunakan pada tank T-72. Secara ukuran kaliber, meriam tank T-72 mengungguli meriam tank Chieftain dan Patton yang digunakan oleh Iran. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Sementara itu di medan perang melawan Iran, tank-tank T-72 Irak umumnya melawan tank-tank Iran dari tipe Chieftain buatan Inggris dan tank seri M47/48/60 Patton buatan Amerika. Untuk membandingkan performa tank T-72 Irak, secara singkat bisa dilihat spesifikasi teknis tank-tank asal barat dari sisi proteksi, daya tembak dan mobilitasnya. Desain tank Chieftain dengan lambung dan turret yang dibuat sangat miring sangat meningkatkan ketebalan efektif armor bagian depannya yang setebal 388 mm (15,3 in) pada  sudut glacis (dari ketebalan sebenarnya 120 mm (4,7 in)) dan 390 mm (15,4 in) in) pada bagian turret (dari aslinya 195 mm (7,7 in)), sementara untuk tank M60 (seri tank Patton paling akhir) memiliki ketebalan baja 4.29 in (109 mm) yang dengan sudut 65° setara dengan ketebalan 10.15 in (258 mm). Dari sisi persenjataan, tank Chieftain Iran menggunakan meriam Royal Ordnance L11A5. Meriam ini adalah versi perbaikan dari meriam L11 kaliber 120 mm yang bertipe rifled (laras beralur) dan sepenuhnya distabilisasi, yang dikembangkan untuk tank berat Conqueror. Penggunaan kaliber ini, secara teknis mengungguli kaliber meriam yang umumnya digunakan oleh tank-tank negara-negara NATO yang masih menggunakan meriam kaliber 105 mm (seperti tank M60, Leopard I, dan AMX-30) dan T-62 Pakta Warsawa yang masih memakai kaliber 115 mm (hingga hadirnya tank T-64/72 yang memakai meriam smoothbore kaliber 125 mm). Tank-tank asal Inggris ini menggunakan amunisi Armor-Piercing Discarding Sabot (APDS), Armor-Piercing Fin-Stabilized Discarding Sabot (APFSDS) dan amunisi High Explosive Squash Head (HESH) untuk melawan target-target lapis baja. Berbagai tipe amunisi meriam tank Chieftain secara umum dapat digunakan untuk menaklukkan lapisan armor setebal 115-150mm RHA pada sudut 60°, cukup ampuh Untuk menghancurkan tank sekelas T-62 Soviet. Dari data lain menuliskan bahwa meriam L11 mampu menembus lapisan baja hingga setebal 480 mm RHA.

Diagram proteksi armor pada tank Chieftain. (Sumber: http://forum.worldoftanks.com/)
Dari sisi kemampuan meriam utama, meriam L11 dengan ukuran kaliber 120 mm yang digunakan tank Chieftain mestinya cukup mampu untuk menangani tank-tank yang digunakan Irak. Masalah utama Chieftain adalah pada mesinnya yang tidak reliable. (Sumber: https://www.pinterest.co.uk/)

Sementara itu, tank M60 Patton menggunakan meriam tipe M68 kaliber 105 mm. Meskipun data kemampuan penetrasi dari amunisi meriam M68 jarang disebutkan, namun dari beberapa data yang tersedia, diyakini bahwa munisi meriam ini mampu menembus lapisan baja hingga diatas ketebalan 400 mm RHA. Dari sisi mobilitas, tank Chieftain buatan Inggris memiliki kelemahan fatal, dimana tank ini tergolong underpowered dengan mesin Leyland L60 berkekuatan 750 hp, mesin ini hanya menyediakan power to weight ratio sebesar 11.1 hp (8.3 kW)/ton dan kecepatan puncaknya di jalanan sebesar 40 km/jam. Sementara itu untuk tank M60 dengan menggunakannya mesin Continental AVDS-1790-2 V12, air-cooled Twin-turbo diesel engine berkekuatan 750 bhp (560 kW), tank ini memiliki power to weight ratio lebih baik dari tank Chieftain yang lebih berat dengan angka 15.08 bhp/st (12.4 kW/tonne), serta memiliki kecepatan puncak sebesar 48 km/jam. Dari sisi mobilitas, tank T-72 diatas kertas lebih baik dari tank Chieftain dan M60. Berdasar paparan singkat diatas, sebenarnya ketiga tank (T-72, Chieftain, dan M60) memiliki kemampuan yang tidak jauh berbeda. Ketiga tank memiliki daya tembak meriam utama yang mampu untuk saling mengalahkan satu sama lain, meski dalam hal ini meriam tank M60, tergolong paling kecil dari sisi kaliber senjatanya. Sementara itu dari sisi proteksi tank T-72 memang sedikit lebih superior, hal ini cukup dapat dimaklumi karena T-72 hadir lebih belakangan ketimbang Chieftain dan M60. Salah satu problem dimana tank Chieftain memiliki kelemahan nyata, adalah pada sisi mobilitasnya, yakni menggunakan mesin yang underpowered. Berdasar perbandingan-perbandingan diatas, cukup wajar bila dalam perang Iran-Irak, tank T-72 memiliki performa yang rata-rata lebih baik dibanding tank-tank buatan barat yang dipakai oleh Iran. Saat kedua pihak menggunakan taktik yang terhitung primitif dan tidak memanfaatkan fungsi tank secara maksimal, maka karakteristik spesifikasi dari tank yang mereka gunakan akan berperan penting dalam menentukan hasil pertempuran.

Diagram lapisan armor pada tank M60 Patton. (Sumber: http://forum.worldoftanks.com/)
Turret tank M60 dengan meriam M68 kaliber 105 mm. Diantara tank T-72 dan Chieftain, kaliber meriam tank M60 merupakan yang paling kecil. (Sumber: https://mapio.net/)

PERFORMA TANK T-72 DALAM PERANG MELAWAN IRAN

Secara keseluruhan efektivitas penggunaan tank dalam Perang Iran-Irak tergolong rendah, karena kurang baiknya komando dan taktik, serta pengalaman yang relevan dari kedua belah pihak. Kegagalan pihak Iran dan Irak dalam memanfaatkan tank disebabkan oleh faktor-faktor seperti mereka menggunakan taktik yang tidak sesuai dengan esensi pasukan lapis baja,  melibatkan unit lapis baja dan bagian-bagiannya untuk menangani tugas-tugas yang bukan misi utama mereka, pelatihan tempur dan pelatihan teknis personel yang rendah, dan sifat dari aksi tempur mereka sendiri. Tank-tank digunakan, sedikit demi sedikit, dan tidak digunakan secara besar-besara. Kedua belah pihak hanya sedikit menggunakan kemampuan manuver dan daya tembak dari armada tank mereka. Penembakan dari tank umumnya dilakukan terutama pada jarak dekat, berbeda dengan unit-unit tank dari negara-negara yang berpengalaman seperti Israel yang memanfaatkan dan ahli dalam melakukan penembakan jarak jauh dari tank-tank mereka. Penggunaan tank oleh Irak, sebagai elemen pertahanan statis guna menembaki posisi musuh menyebabkan kerusakan cepat pada meriam tank itu sendiri, disamping menyia-nyiakan keunggulan mobilitas dari armada tank mereka. Sementara itu, saat tank-tank digunakan dalam misi ofensif, mereka umumnya bergerak tanpa dukungan dari pasukan infanteri, yang pada akhirnya meningkatkan persentase kerugian mereka karena tembakan granat berpeluncur roket antitank pihak musuh. Kedua belah pihak juga diketahui mengalami kesulitan yang signifikan dalam melintasi rintangan air, serta kemampuan dalam memperbaiki kendaraan lapis baja yang rusak. Sebagai bandingan, dalam berbagai pertempuran melawan armada-armada lapis baja dari negara-negara Arab lawannya, banyak tank-tank Israel yang rusak dalam pertempuran, bisa diperbaiki dan kembali dioperasikan karena baiknya unit perbaikan dan perawatan Angkatan Darat Israel.

Tank Type 69 Irak dalam posisi bertahan statis. Seringnya penggelaran taktik semacam ini dalam perang Iran-Irak, membuat pasukan tank kedua belah pihak kehilangan keunggulan mobilitas dari kendaraan tempur mereka. (Sumber: http://fighting-vehicles.com/)

Meski demikian, selama perang, baik pihak Irak maupun Iran, sama-sama memuji performa dari tank-tank T-72. Di Irak, tank-tank T-72 umumnya melengkapi unit-unit elit yang berada di bawah komando Pengawal Republik Irak, yakni: divisi lapis baja ke-1 “Hammurabi”, divisi lapis baja ke-2 “Medina”, divisi mekanis ke-3 “Tawalkana”, divisi mekanis ke-6 “Nebuchadnezzar”. Selain itu, T-72 juga melengkapi satu divisi yang bukan bagian dari unit Pengawal Republik Irak, yaitu divisi lapis baja ke-3 “Saladin”. Tank-tank T-72 Irak dikabarkan mengambil bagian dalam semua fase konfrontasi antara Irak dan Iran selama perang. Pada saat yang sama, komando Irak memperlakukan tank-tank ini sebagai senjata terbaik dalam unit-unit pasukan darat mereka. Tank-tank T-72 yang ada hanya dikerahkan di area-area yang dianggap paling penting. Menurut beberapa laporan, Irak disebutkan kehilangan sekitar 60 tank T-72 dan sekitar 500 tank T-62 dalam pertempuran melawan pasukan Iran. Beberapa dari tank ini juga dikabarkan berhasil direbut dengan utuh atau rusak parah akibat aksi pasukan Iran. Tank-tank yang bisa dirampas utuh kemudian digunakan oleh tentara Iran. Tank-tank ini, menurut militer Iran memiliki kualitas jauh lebih baik daripada tank tempur utama “Chieftain” buatan Inggris. Meskipun meriam tank Inggris ini dapat menaklukkan lapisan baja tank-tank Soviet, namun mesin diesel dua tak-nya terbukti tidak dilengkapi perlengkapan yang cocok untuk dioperasi di wilayah gurun. Selain itu, tank-tank tempur utama Inggris yang berat ini, tidak memiliki power to weight ratio yang memadai, dimana hal ini secara signifikan mengurangi mobilitasnya dibanding tank-tank buatan Soviet. Mengenai problem tank Chieftain ini sendiri juga diakui oleh pihak Inggris sebagai pengguna utamanya, dimana tank ini sempat memiliki tingkat kesiapan rendah dan problem yang utamanya disebabkan oleh mesinnya yang memakai konfigurasi multifuel. Hal yang sama diperkirakan mendera armada tank Chieftain Iran selama perang. Salah satu Perwira Tinggi Iran, bernama Afzali pada bulan Juni 1981 memuji tank T-72 buatan Soviet yang dipakai Irak. “Tank T-72 memiliki kemampuan manuver dan daya tembak yang tidak dapat dibandingkan dengan tank” Chieftain ” buatan Inggris”. Dari pihak Iran mereka mengakui bahwa mereka tidak memiliki cara yang efektif untuk bisa menangani ancaman tank T -72. Dalam evaluasi kemudian berdasar hasil pertempuran di Basra pada bulan Juli 1982, para perwira Iran juga mencatat tentang keandalan yang tinggi dan kemudahan pemeliharaan tank-tank buatan Soviet milik Irak yang berhasil dirampas dengan dibandingkan tank-tank produksi Amerika dan Inggris yang mereka gunakan.

Banyak tank Chieftain Iran yang dihancurkan dalam perang karena kurang handal digunakan di medan gurun dan buruknya kualitas crew tank Iran sendiri. Dalam perang ini, performa tank T-72 Irak, secara keseluruhan diakui lebih baik daripada tank-tank buatan barat yang digunakan Iran. (Sumber: https://www.pinterest.com.au/)

Setelah perang, komandan sebuah kompi tank Chieftain Iran, Adar Froorian menyebut tank T-72 sebagai senjata paling berbahaya yang dimiliki Irak “Pasukan Irak sebagian dilengkapi dengan tank T-72 baru. Mereka memiliki kecepatan dan daya tembak yang baik, dan lapisan bajanya bisa melindungi dari tembakan RPG pasukan infanteri kami. Tank T-72 adalah ancaman yang sangat berbahaya bagi kami. ” Kemudian dia menceritakan kisah bentrokan pertamanya dengan tank T-72 selama permulaan ofensif Iran di wilayah dekat Dasht Abbas Dezful pada musim semi tahun 1982. Pasukan Irak kemudian melancarkan serangan balasan dengan menggunakan tank T-72, dan tank “Chieftain” Adar Forouzana langsung tertembak mesinnya: “Di tank saya, uap bahan bakar meledak di MTO, dan gelombang kejut yang dihasilkan menghancurkan headset miliknya. Kami semua kemudian melompat keluar dari tank dan lari dengan berjalan kaki.” Adar juga mencatat kemampuan manuver yang tinggi dari tank-tank T-72 Irak, sementara tank-tank “Chieftain” Iran harus menghabiskan banyak waktu untuk menjalani proses pendinginan karena tenaga mesin-nya tidak mencukupi. Para prajurit Iran ingat bahwa jika tank-tank Soviet yang lebih tua dari tipe T-55 dan T-62 bisa dilumpuhkan dengan tembakan senjata anti tank dari arah depan, maka untuk menghantam T-72, seorang prajurit harus “mengendap-endap”, untuk bisa mendapat kesempatan menyerang dan menghantamnya dari samping atau dari belakang. Menurut beberapa catatan, kabarnya meriam M68 kaliber 105 mm yang jadi senjata utama tank M-47/48/60 Patton serta Rudal Anti Tank TOW yang dipakai Iran tidak efektif untuk menaklukkan lapisan baja frontal dari tank T-72 Irak. Bisa merampas tank T-72 dianggap sukses besar oleh pasukan Iran. “Suatu prestasi yang nyata, ”kata prajurit-prajurit dari Garda Revolusi Islam Iran.

T-72 IRAK-IRAN SETELAH PERANG

Setelah perang, Teheran, yang masih mengingat kualitas tempur dari tank T-72 yang tinggi, memutuskan untuk membeli sejumlah besar tank asal Rusia ini. Di bawah lisensi pada 1993-2001, diketahui 300 tank T-72S dirakit di Iran. Mereka juga diketahui membeli sejumlah tank T-72 dari Polandia dan Belarusia. Selain itu, dengan menggunakan dasar tank T-72 (dikombinasi dengan beberapa teknologi Barat), tank tempur utama Zulfiqar buatan Iran diciptakan. Pada tahun 2021 sekitar 1.800 tank T-72 ada dalam inventaris Angkatan Darat Iran, termasuk 1.500 unit tipe T-72S, 150 unit tipe T-72 Khorramshahr / Rakhsh, dan 140 T-72M / M1 yang kurang begitu canggih. Sementara itu, di pihak Irak, tank-tank T-72 yang dinilai sukses selama Perang Iran-Irak ini terus aktif digunakan dalam konflik-konflik setelah perang, namun dengan beberapa catatan yang bertolak belakang dengan pengalaman mereka melawan Iran. Selama invasi ke Kuwait di bulan Agustus tahun 1990, Irak menggunakan 690 tank, terutama tank tipe T-55, T-62 dan T-72. Kuwait saat itu memiliki sekitar 281 tank, termasuk 15 tank M-84 buatan Yugoslavia, 165 tank Chieftain, dan 70 tank Vickers buatan Inggris. Pada pagi hari tanggal 2 Agustus, di dekat Mutla Pass, pertempuran tank terjadi antara tank-tank Vickers dari Brigade Mekanis Kuwait ke-6 dan tank-tank T-72 dari Brigade Lapis Baja ke-17, Divisi Lapis Baja Hammurabi ke-1, Pengawal Republik Irak. Tank-tank Kuwait dikabarkan mampu melumpuhkan satu tank T-72 selama penyergapan tersebut, tetapi satuan Kuwait itu berhasil dikalahkan dan komandan brigade ke-6  berhasil ditangkap. Hanya 20 tank Vickers yang selamat dan bisa mundur ke wilayah Arab Saudi. Beberapa bulan kemudian setelah pasukan koalisi pimpinan Amerika hadir di Teluk Persia dengan tujuan untuk membebaskan Kuwait yang diduduki Irak, tank-tank T-72 segera berhadapan dengan unit-unit lapis baja sekutu.

Kagum dengan performa tank T-72 yang digunakan Irak, pada dekade tahun 1990an, Iran banyak membeli dan meproduksi secara lisensi tank T-72. (Sumber: https://www.israeldefense.co.il/)
Selepas perang melawan Iran, tank T-72 Irak terus beraksi dalam konflik-konflik selanjutnya, terutama dalam perang teluk 1990-1991. (Sumber: https://www.militaryimages.net/)
Sebuah tank T-72 Irak hancur dalam serangan Pasukan Koalisi selama Operasi Badai Gurun dekat Pangkalan Udara Ali Al Salem. Berbeda dengan saat melawan Iran, ketika melawan pasukan koalisi pimpinan Amerika, tank T-72 Irak lebih banyak jadi pecundang ketimbang menjadi pemenang saat melawan pasukan yang jauh lebih terlatih baik dengan didukung peralatan yang superior. (Sumber: https://commons.wikimedia.org/)

Dalam Pertempuran 73 Easting tanggal 26 Februari 1991 yang terjadi selama badai pasir di gurun Irak, tank-tank M1A1 Abrams dan Kendaraan Tempur Bradley milik Amerika datang melawan tank-tank T-72M dan kendaraan tempur BMP Pengawal Republik Irak dan menimbulkan kerugian 113 kendaraan tempur pasukan lapis baja Irak, termasuk 37 tank T-72 sementara di pihak Amerika mereka hanya kehilangan satu kendaraan tempur Bradley karena tembakan musuh. Di tempat lain, pada hari itu juga, pasukan Irak yang menempatkan tank-tank T-72 dalam pertahanan statis berhasil menghentikan kemajuan sebuah kompi infanteri mekanis Amerika yang didukung oleh dua tank M1 Abrams di Irak selatan selama Pertempuran Phase Line Bullet, meski dengan ongkos 6 tank T-72 ditinggalkan para crew-nya. Selama perang tank-tank T-72M Irak diketahui menggunakan peluru tipe 3BM9 (yang telah dihapus dari dinas operasional Soviet pada tahun 1973), dengan penetrasi armor setebal 245 mm pada jarak hingga 2.500 meter (8.200 kaki). Jumlah total tank T-72 Irak yang hilang selama Operasi Badai Gurun sekitar 150 unit (yang tidak dapat diperbaiki). Pada tahun 1996, Irak diketahui masih memiliki 776 tank T-72 dalam dinas operasional dari 1.038 yang awalnya diterima. Sedangkan pada bulan Januari 2009, tank T-72M1 yang masih aktif dalam Angkatan Darat Irak tinggal 125 unit, menyusut jauh setelah invasi Amerika tahun 2003. Saat ini, AD Irak selain masih memakai tank T-72, juga mengoperasikan sekitar 146 tank M1 Abrams buatan Amerika dan 36 tank T-90S buatan Russia, dengan 37 T-90S lainnya masih dalam pesanan. Meski sudah belasan tahun semenjak rezim Saddam Hussein ditumbangkan, nampaknya militer Irak masih belum bisa lepas dari ketergantungan penggunaan senjata asal Russia yang dalam puluhan tahun menjadi kiblat persenjataan mereka.

Tank T-72 Irak dan Talha APC dari Divisi Mekanik ke-9 Angkatan Darat Irak melewati pos pemeriksaan jalan raya di Mushahada, Irak dalam perjalanan ke Kamp Pangkalan Operasi Maju Taji, Irak. Meski jumlahnya sudah jauh berkurang, namun tank T-72 hingga kini masih aktif digunakan oleh AD Irak. (Sumber: https://commons.wikimedia.org/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

T-72 were the best tanks of the Iran-Iraq war by Alexander Samsonov; 2 February 2015

https://en.topwar.ru/67993-t-72-byli-luchshimi-tankami-irano-irakskoy-voyny.html

T-72 Combat Experience – 1980s

https://web.archive.org/web/20161219174523/http://www.globalsecurity.org/military/world/russia/t-72-combat.htm

https://en.m.wikipedia.org/wiki/T-72

Victory Misunderstood: What the Gulf War Tells Us About the Future of Conflict By Stephen Biddle From International Security, Vol. 21, No. 2 (Fall 1996

http://www.comw.org/rma/fulltext/victory.html

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Phase_Line_Bullet

https://en.m.wikipedia.org/wiki/List_of_current_equipment_of_the_Iraqi_Army

https://en.m.wikipedia.org/wiki/List_of_equipment_of_the_Iranian_Army

https://en.m.wikipedia.org/wiki/M60_tank

Ammunition Data

http://www.steelbeasts.com/sbwiki/index.php?title=Ammunition_Data

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Chieftain_(tank)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *